ateist

Ateist Tidak Selalu Jelek

Untuk sebagian besar dari masyarakat, kata ateist sungguh tabu diucapkan, diperbincangkan.

Ya wajar, karena sebagian besar ajaran agama, memandang seseorang yang ateist, tidak bertuhan, tidak percaya akan keberadaan tuhan adalah seseorang yang sesat. Orang yang tidak mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.

Ateist intinya cuma menjelek-jelekan agama dan pemeluknya. Ini stereotype tentang ateist.

Saya pernah sedang berbincang2 dengan salah satu kenalan. “Pokoknya saya paling tidak akan bisa memaafkan anak saya, kalau dia bilang dia tidak lagi percaya Tuhan”, celetuknya.

Saya sempat tertegun. Koq?

Waktu saya mau coba lanjut berdiskusi, dia mengangkat tangannya. Yang saya artikan sebagai ini hal yang mutlak dan dia gak mau berdiskusi tentang masalah ini.

Alasan seseorang meninggalkan agamanya dan memilih untuk tidak bertuhan itu bermacam-macam. Dan bukannya terjadi begitu saja. Ada proses. Ada banyak hal yg dipertanyakan dalam pikiran mereka.

Buat saya itu adalah sesuatu yang sangat pribadi & tidak perlu “dipertanyakan”.

Saya sendiri tidak melihat seseorang yang ateist sebagai akhir dari ybs. (The end of them). Seakan2 hidup mereka akan menjadi tak bermakna. Atau mereka adalah musuh kaum beragama.

Saya melihat mereka sebagai seseorang yang punya pandangan berbeda di masalah ketuhanan.

Seseorang yang ateist bukan berarti mereka kehilangan moralnya. Bukan berarti mereka tidak lagi bisa atau tidak lagi mau menghormati kaum beragama. Bukan berarti mereka tidak ada bermanfaat untuk dunia. Bukan berarti mereka tidak punya aturan, tidak berhati nurani. Bukan berarti hidup mereka jadi tidak bermakna atau sia-sia.

Seseorang yang memilih menjadi ateist tidak hatus dikucilkan, dicibir, dicela, dicemooh, dinistakan.

Sebaliknya , coba dengar pandangan mereka dengan hati terbuka, lapang dan lurus2 saja.

Kalau tho pada akhirnya anda tetap tidak setuju dengan pilihan mereka , ya tidak usah menjadi masalah.

Koreksilah perilaku seseorang, bukan pilihan keyakinan mereka.

Setiap orang ada jalannya masing-masing. Kalau dengan menjadi ateist mereka lebih berprestasi, lebih baik sebagai individu di masyarat, bukanlah itu yang lebih penting?

Gak semua orang ateist pembenci kaum beragama.

Dua pihak semata2 punya pemikiran yang berbeda tentang hidup di dunia, tentang ketuhanan.

Jadikan keberadaan mereka sebagai tantangan untuk perbaikii keagamaan kita pribadi, untuk memperdalamlah ketuhanan kita.  Tanyakan ke diri kita sendiri. Apa iya kita sudah berbuat jauh lebih baik dari penganut ateist ini?

Setiap orang ada jalan masing-masing.

Damai itu adem

❤️❤️❤️❤️