Uncategorized

Jalan-Jalan : Menelusuri Danau Michigan – bagian 1

Halo. Halo.

Sudah lama ya tidak menulis, terutama tidak menulis tentang jalan-jalan.

Pengennya sih menulis secara berkala ya, cuma kadang memang tidak ada cerita baru, kadang tidak mood, kadang tidak ada waktu! He…he…he

Kali ini mau cerita tentang liburan mini kami tanggal 8 Oktober lalu, dimana si kecil tidak ada jadwal sekolah dari hari Jumat tanggal 8 Oktober hingga hari Selasa tanggal 10 Oktober.

Kami memang sudah berencana mau pergi keluar kotalah, cari penyegaran istilahnya.

Waku mau memutuskan tujuan, kami bingung juga mau pilih jalan ke mana? Indianapolis, Indiana? Cincinnati, Ohio? Chicago, Illinois? Mobile, Alabama? Atlanta, Georgia? Kalamazoo, Michigan?

Dua kota pertama kami sudah sering mampir,  Chicago berhubung banyak tempat yang akan dikunjungi, si babe bilang kami tidak punya cukup waktu, Mobile, AL, kejauhan dan si babe khawatir bahaya angin kencang yang lagi musim  saat ini, Atlanta, si babe tidak tertarik, Kalamazoo, saya punya teman yang memang sudah lama saya pengen kunjungi….

Jadilah kami pilih Kalamazoo…lah waktu saya tanya teman saya, ternyata di waktu yang sama, dia akan mudik ke negaranya, Pakistan…hampir saja rencana batal, tapi akhirnya kami putuskan untuk tetap pergi ke Michigan, suami tahu 2  hal yang menarik untuk kami lakoni : melihat Sand Dunes dan menyeberang danau Michigan dengan ferry.

Hari Jumat tanggal 8 Oktober kami mulai perjalanan ke Michigan! Dari tempat kami, untuk ke Michigan tinggal ambil arah utara, melalu jalan antara negara nomor 65.

Kami  meginap di kota di perbatasan Indiana dan Michigan.

Hari Sabtu, kami teruskan perjalanan, dari peta saya lihat ada kota bernama Holland, saya bilang mampir yuk di kota ini, kayaknya koq menarik.

Kota Holland di Michigan ini memang terlihat ‘meniru’ suasana Holland di Eropa, saya lihat ada sepatu ala Holland, bangunan kincir angin di pelbagai sudut kota.

tiff infomation

 

Kami mampir di pusat kota (down town) nya. Kebetulah sedang ada ‘farmer’s market’ juga.

Saya sudah sering ke Farmer’s Market sebelumnya dan memang saya selalu suka suasana Farmers Market ini – yang istilah Indonesianya pasar kaget lah. Pedagang-pedagang lokal membuka tenda berjualan bermacam-macam produk mereka : dari mulai keju, sayur-sayuran, bunga petik, roti, coklat, bumbu-bumbu dan lain sebagainya.

Yang saya senang di pasar kaget kali ini adalah buncahan warna-warna sayuran dan bunga yang dipajang. Asli meriah sekali dan cantik! Tomatnya terlihat merah segar, sayuran hijaunya juga terlihat hijau merona, bunga-bunga petiknya besar-besar dan warna warni!! waduh…saya jadi pengen beli semua rasanya!!!

IMG_20171007_103807-COLLAGE.jpg

Selesai melihat pasar kaget , kami jalan menyelusuri downtown Holland. Pusat kota Holland ini tipikal pusat kota kecil di Amrik, apik dan menarik.

Pengunjung bisa melihat toko-toko baju lokal, toko buku, tempat ngopi, toko pernak pernaik, galeri seni dan banyak lagi!

Saya betah sekali jalan-jalan ‘tanpa tujuan’ di tempat-tempat seperti ini!!!  Di sini kami makan siang di resto namanya ……. Yang bikin ngiler di tempat ini adalah bagian toko rotinya, yang notabene memajang berbagai jenis kue-kue coklat…..

IMG_20171007_110724.jpg

Saya bingung mau milih yang mana, akhirnya pilih cream puff coklat…..wuihh…enaaaaaaakkkk!! sangat direkomendasikan !

tiff infomation

Selesai ngayap di kota Holland, kami teruskan perjalanan ke taman Silver Lake di tepi danau Michigan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Icip-icip : Rumah Makan Indonesia di Lexington

Sebagai imigran, bisa dipastikan salah satu ngidamnya kita itu adalah nemu rumah makan ala negara kita. Benar tidak?

Dari sejak pindah, saya selalu ngincer yang namanya warung makan indo. Seingat saya, kita pernah makan di Seattle, Washington, di San Franscisco, California , Plano, Texas, Columbus, Ohio, Madison, Wisconsin.

Sejak pindah ke Kentucky, saya baru sekali makan di warung makan Indo, yaitu pas jalan-jalan ke Madison, Wisconsin. Dengar-dengar ada warung makan Indo di Greenburg, Indiana, Mayasari Indonesian Grill namanya, tapi koq jauh yak? kudu niat suniat kalo mau mampir ke situ deh..(maksudnya menginap di hotel gitu..). Yah…repots juga ya…jadilah kami belum mampir ke warung makan Indo lagi…

Nah, Sekitar bulan Juli lalu pas lagi rumpi-rumpi dengan ibu-ibu Indonesia di sini, dengar kabar kalau ada keluarga Indonesia di Lexington yang akan buka ‘warung makan’ Indonesia….wuuiiiih  langsung deh hati berdebar-debar!

Akhirnya ada rumah makan Indo yang lumayan dekat kampung ni!!

 

Jadilah hari ini kami pergi ke Lexington khusus buat icip-icip si warung makan yang buka di bulan Agustus 2017 lalu.

Nama rumah makannya itu Utomo Kitchen, alamatnya di 3334 Clays Mills Road, Lexington Kentucky.

tiff infomation

Dari jauh-jauh hari saya sudah bolak balik baca menu…ha…ha….ha..jadi pas sampai di tempat , sudah tahu mau pesan apa.

Si kecil pesan nasi goreng ayam, saya pesan ayam goreng Indo dan nasi putih, plus semangkok mie bakso (rakus!!), misua tadinya mau pesan Bistik Solo, tapi habis, jadi ya saya pesan Meat Loaf saja, karena itu tipe makanan yang dia suka yang saya ogah bikin…kik..kik..ki

Ketemu sama Mas Utomo dan Mbak Yuni pemilik warung makannya. Senang karena masakannya cepat jadi, kami tidak menunggu lama.  Sambil menunggu pesanan makanan kami disajikan sushi.

Pesanan pertama yang datang itu mie bakso, komplit pakai pangsit. Lalu ayam goreng saya dan terakhir meat loaf si bule.

 

Porsinya lumayan besar ya, yang ada kita minta bungkus buat dibawa pulang.

Terus terang saya selalu salut dengan rekan-rekan Indonesia yang berwiraswasta seperti Mas Utomo dan Mbak Yuni di Lexy, atau Bapak Mochammad Sjachrani pemilik ‘Bandung Indonesian Restaurant, Mbak Enny Pickett pemilik rumah makan Java Warung di Madison dan teman-teman Indonesia lainnya.

Acung jempol deh untuk mereka! dan terima kasih banget sudah bersusah-susah masak masakan Indonesia sehingga kita-kita, para imigran bisa melepas rindu masakan kampung di Amrik! Iya gak??!!

Buat teman-teman di Kentucky, sok atuh mampir di warung makan Mas Utomo dan Mbak Yuni!

 

 

 

 

 

 

Yah..Ditabrak Lagi…

Kemarin sore sekitar jam 7 malam, mobil saya ditabrak waktu saya lagi berhenti di lampu merah. Gubrak! Asli suaranya kencang sekali dan saya langsung lemas rasanya!

Setiap kali ditabrak – saya 3 kali ditabrak dari belakang, sekali di Indonesia, dua kali di Amrik – reaksi saya langsung deg-degan dan gemetaran….meskipun saya tidak luka dan mobil saya juga tidak ringsek – Alhamdulillah, tapi saat kejadian itu saya selalu jadi shaking dan panik.

Mbak yang nabrak saya masih muda, mungkin 19 atau 20 tahun, dia bilangnya tidak sengaja menginjak pedal gas pas meraih telponnya yang bunyi….

Yang saya gemas dari kejadian kemarin itu, si mbak koq ya diam saja di mobilnya ya? saya harus mengetok jendela dia untuk keluar dan melihat kondisi mobil saya.  Dia tidak langsung minta maaf, entah apa karena negara bagian tempat saya tinggal ini menganut prinsip no fault – yang terus terang menurut saya adalah prinsip yang tolol, karena dalam kecelakaan jelas lah ada pihak yang salah- jadi reaksi si mbak seperti robot gitu ya?

Saking kesalnya melihat reaksi si mbak yang datar, saya sampai harus bilang ke dia ‘You know, I am shaking here, right?. Baru dia dengan ringannya bilang ‘sorry, I did not mean to hit you’ Well DUH??!!!

Tidak bohong kalau saya juga pernah tidak sengaja nabrak bemper mobil (fender bender istilahnya), tapi reaksi saya selalu spontan dan meminta maaf.

Sebetulnya saya malas memperpanjang masalah , bemper saya cuma scuff dan sedikit dent, cuma melihat reaksi si mbak, saya pilih untuk mengajukan klaim resmi ke asuransi dia.

Ada kali 1/2 jam-an setelah kecelakaan, saya melirik dari kaca spion saya dari dalam mobil sambil menelpon asuransi, saya lihat si mbak baru terisak-isak…entah karena dia diomelin ortunya – saya lihat dia menelpon atau karena hal lain. Yang jelas tidak berapa lama bapak si mbak datang ke lokasi kecelakaan.

Baru setelah satu jam saya habiskan di telpon urus asuransi, si mbak sambil segugukan bilang ‘I am so sorry’ – dalam hati saya bilang..kemana aja reaksi lu yak??

Anyway…inti cerita saya gini…kalau lagi nyetir, sudah dong itu telpon ditangguhkan dulu deh, kecuali situ dokter yang harus dipanggil ke kondisi darurat, atau suami yang istrinya lagi mau brojol, atau kondisi-kondisi lain yang mengharuskan situ ‘waspada’ telpon, TOLOOOOOOOOOOOOOOONG deh, konsentrasi ke jalan saja!

Karena keteledoran kamu, orang lain bisa celaka loh!

 

 

 

 

Imigran Ilegal

Ugh. Topik sensitif deh.

Dari mana ya saya mau mulai.

Jujur, bukan sekali dua kali saya mendapat email dari pembaca yang minta bantuan supaya bisa masuk ke Amerika ‘dengan cara apapun, yang penting saya bisa masuk di Amrik.

Di pesawat dari Jakarta ke Seattle tahun 2005,  ngobrol dengan anak Indo, jelas-jelas dia bilang ‘Saya pakai visa turis ni, Oom saya mau nampung saya sementara, tapi nanti saya mau menetap, tidak mau pulang’

Terus terang saya bingung dan malas menjawab pertanyaan ‘Bagaimana ya Mbak -caranya saya supaya bisa masuk ke Amerika, ilegal juga tidak apa-apa?’

Malas karena saya pribadi tidak suka ‘menghalalkan segala cara’ dalam urusan apapun.

Yang ada saya selalu harus menolak kalau ada yang minta ‘tolong’ tipe seperti ini.

Bingung karena saya tidak merasa Indonesia itu kondisinya amat sangat tidak mengenakkan sehingga penduduknya HARUS keluar dari Indonesia. Dan Amerika tidak selalu menjanjikan mimpi-mimpi indah gitu loh.

Saya tidak mengerti ‘keharusan’ pindah ke Amerika sehingga ibarat penyelundup, rela lompat dari kapal misalnya, atau memalsukan paspor…dan entah cara apalagi yang dicoba ….

Buat saya koq rasanya itu tidak menghormati negara yang akan ditinggali ya?

Ada memang beberapa kondisi ekstrim yang membuat seseorang rela melakukan hal apapun untuk pindah ke negara lain tanpa dokumen-dokumen resmi. Perang misalnya. Kelaparan. Bencana alam.

Atau memang situasi yang membuat status jadi berubah dari legal menjadi ilegal. Ditinggal tunangan, tidak punya uang buat balik ke tanah air, misalnya.

Hal-hal seperti itu saya masih bisa mengerti lah.

Tapi kalau semata-mata “bagaimana ya mbak caranya saya bisa tinggal di Amerika. Yang penting di Amerika”

Ya JANGAN LAH.

Bukan saya sok patuh hukum dan tidak pernah melanggar hukum ya…cuma saya sebagai imigran juga ‘kena getahnya’ loh dengan keberadaan imigran ilegal.

Sering kita (imigran) ya jadinya disamaratakan : semuanya ilegal. Semuanya tidak bayar pajak. Semuanya nyolong pekerjaan buat orang pribumi.  Semuanya tidak bisa bahasa Inggris, semuanya tidak berpendidikan.  Sama saja seperti menyamaratakan si A agamanya X artinya B.

Kesal juga kan?!

Mau tinggal di Amrik?

Belajar bahasa Inggris! Jangan terus beralasan bahasa Inggris saya belepotan. Basi ah.

Belajar punya keahlian tertentu : montir, mekanik,  tukang kayu (carpenter), penjahit (seamstress), dandanin orang, memasak (culinary, chef).

Coba ikutan lotere Green Card.

Dan…mmm..jangan lagi tanya saya Bagaimana cara masuk ke Amrik secara ilegal ya!

 

 

 

 

 

Pemilu Oh Pemilu

DKI Jakarta punya gubernur baru ceritanya. Saya sendiri yang sudah bukan penduduk Jakarta lagi, cuma bisa memantau berita dari postingan FB teman-teman. Kalau tidak salah ada 3 calon ya? Tapi yang ‘angot’ itu 2 calon, Ahok/Djarot dan Anies/Sandi.

Kalau saya perhatikan pilkada DKI ini koq ya ada mirip juga dengan pemilihan presiden Amrik tahun lalu. Calon yang kontroversi.

Kalau DT dan Ahok kayaknya mulutnya sama-sama ‘cablak’.  DT di tuduh anti agama tertentu, begitu juga Ahok.

Teman-teman di FB ramai posting status tentang pasangan favorit mereka, sama juga waktu pemilu Hillary/Trump. Masing-masing belain pilihannya sampai tetes darah penghabisan lah istilahnya.

Saya sendiri ikutan pemilu Amrik. Saya tidak pilih DT, bukan semata-mata karena dia digambarkan sangat anti agama tertentu, tapi karena menurut saya dia tidak berbobot.

Saya juga semangat sekali untuk memilih karena ini pemilu pertama saya sejak jadi WNA.

Tapi ada daya….hasil pemilu, DT menang. DT adalah presiden saya.

Bingung kenapa koq ya ada yang milih DT? Jelas. Setelah pencoblosan, saya ketar ketir mendengarkan berita di TV, siapa yang akan jadi presiden terpilih.

Waktu mendengar kalau DT adalah presiden terpilih, saya bengong……terselip rasa takut…terselip rasa ragu (dan jengkel itu pasti!! mau maki-maki? banget!!!!).

Hadweeeeh??!!!

Tapi ya mau gimana lagi? kenyataannya dia menang.

Lalu gimana dong? Imigrasi ke Kanada?

Well, dari situ saya belajar legowo. Saya yakinkan diri kalau warga negara Amerika lainnya tidak ada berdiam diri kalau presiden ybs melenceng dari konstitusi. Saya yakinkan diri kalau sistem Amerika akan mampu untuk memantau presiden terpilih untuk tidak semena-mena.

Saya yakinkan diri  kalau sebagian besar warga negara Amerika masih ‘waras’, kalaupun mereka memilih DT, bukan berarti mereka rasis, bukan berarti mereka anti agama tertentu, bahwa mereka tidak buta kenyataan.

Saya yakinkan diri kalau pemilih DT tetap akan berpegang pada konstitusi dan bukan bertindak berlandaskan kebencian.

Sama juga dengan hasil pemilihan gubernur DKI kali ini. Anies/Sandi yang menang. Saya tahu banyak teman-teman yang tidak sehati dengan hasil ini. Dan banyak teman-teman yang amat sangat bersyukur dengan tidak terpilihnya Ahok.

Seperti juga halnya dengan DT, saya yakinkan diri kalau teman-teman saya yang penduduk DKI baik yang memilih Ahok ataupun yang memilih Anies, memilih karena rasional.

Saya yakinkan diri kalau teman-teman akan tetap berpihak pada kebenaran bukan pada kekuasaan.

Saya yakinkan diri kalau teman-teman akan membela teman-teman lainnya yang tertindas bukan semata-mata karena kesamaan agama.

Beri pemimpin baru waktu untuk membuktikan kapasitas dan kualitas mereka,

Jangan terlena, terbuai cuma karena kesamaan ras, suku, agama

Jangan mengolok pihak yang kalah, buat apa? mending kritis terhadap pihak yang menang

Amerika punya DT, Jakarta punya A/S.

Let’s Move On. 

 

Fuzzy Yang Berguna

Waktu kecil saya suka sekali dengan boneka binatang berbulu, senang memeluk dan mengelus elus si boneka bulu.

Berhubung saya tidak pernah punya hewan piaraan seperti anjing atau kucing, hubungan kontak saya dengan bulu-buluan ya cuma sama boneka boneka saya.

Pertama kali saya merasakan musim dingin, saya belum “ngeh” kenapa sih orang-orang senang memakai mantel bulu, topi bulu, selendang dan lain lain. Pikir saya cuma karena bulu “gemesin” dan si pemakai kelihatan “mewah”.

Sebetulnya aksesoris bulu ini bukan cuma untuk terlihat mentereng, seperti halnya bulu pada hewan, aksesoris bulu ini memberikan kehangatan untuk si pemakai.

Kalau sudah mau masuk bulan December, toko- toko di Amrik sudah dibanjiri dengan perlengkapan musim dingin, termasuk aksesori bulu-bulu.

Dari mulai topi, selendang panjang ataupun pendek,rompi, mantel, penghangat tangan, selimut,bantal, sarung botol anggur…..semuanya ada versi bulu-bulu.

Yang jelas , sebagian besar barang- barang bulu ini bukan dibuat dari bulu asli, selain karena mahal,  juga karena aturan tentang pemakaian bulu binatang asli.

Saya sendiri mulai suka dengan aksesori bulu-bulu..yang saya kepengen sekali itu selendang bulu……cuma sayangnya saya kegelian!!!! Jadilah saya cuma bisa mengelus-elus si selendang bulu. ….

Sudah Bergaya Amerika kah Saya?

Dulu waktu belum hijrah ke Amrik, saya kebetulan kerja di perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri, yang oleh rekan-rekan kerja, jahil kami kasih istilah ‘Tante Amerika’ lah….ha….ha…ha.

Ciri-cirinya si Tante Amerika:  kalau ngomong selalu diselipin bahasa Inggris, dikit-dikit bilang ‘waktu saya di Amerika’ , pakai sepatu boots, rambut diwarna ,pokoke wis ‘bule’ lah. 😉

saya ingat bagaimana saya sering terpana melihat gaya si ibu yang ‘Amrik’ bangget.

Ndilalah…saya sendiri hijrah ke negeri Paman sam. (dan sudah resmi jadi warga negara Amerika pula).  Lagi menelaah diri..apa saya juga sudah jadi Tante Amerika ya?

Coba di cek :

Makanan favorit :

Masih nasi putih, boleh dibilang saya pecandu nasi, kalau tidak ketemu nasi lebih dari 3 hari, yang ada saya deprived…..atau sakau…ha….ha….ha..Paling panik kalau pas lagi ‘road trip‘, sering kali untuk menghemat waktu, kami cukup makan cepat saji, hamburger lagi, hamburger lagi. Hari pertama masih kuat, hari kedua, mulai panik, hari ketiga…..kelimpungan cari rumah makan cina buat beli nasi putih tok!!!

Rambut :

Hitam enggak, coklat mungkin tapi bukan gara-gara di cat, gara-gara gak diurus! ha…ha…ha. Ternyata saya ini tidak betah duduk berlama-lama untuk dicat rambutnya. Haduuuh…pernah nyoba 3 kali….wis kapok! selain si warna tidak nempel, tidak betah nongkrong di salon dan tidak betah untuk re-do lagi……

Cara Bicara :

Kalau ketemu teman-teman Indonesia, terus terang memang saya paksakan berbahasa Indonesia..bukan kenapa-kenapa..karena pengin tetap nulis di blog ini!!

Memang kadang terselip kata-kata dalam bahasa Inggris, tapi sungguh bukan sok bule..karena sudah kebiasaan ngomong dalam bahasa Inggris, sering lupa padanan bahasa Indonesianya….

Yang memang berubah….saya sumpah serapahnya sudah ala Amrik! hi….hi..hi…

Cara Masak :

Meskipun masakan orang Indonesia itu bumbunya njelimet, tapi saya tetap lebih rela masak makanan Indonesia….padahal orang sini cukup pakai garam , merica, sudah jadi deh itu masakan….

Warna Pakaian :

Kebanyakan orang Amerika itu riweh sama yang namanya memakai baju sesuai musim. Ibaratnya kita musti kayak bunglon, menyesuaikan warna pakaian dengan warna alam sekitar.

Warna putih konon tidak boleh dipakai setelah hari Buruh. Warna koneng (aka mustard) , warna merah anggur, identik dengan musim gugur.

Di musim dingin, ekspektasinya makai baju hitam, abu-abu. Cuma di musim semi atau panas ‘boleh’ pakai baju bunga-bungan atau warna warna cerah.

yaaaaaaaah bosaaaaaan!!

Ternyata dalam soal memilih warna, saya masih sangat tropikal sekali.

Dulu saya tidak ngeh sering dikomentari ‘You like color‘ -ternyata ya , ya itu, sebagian besar orang Amrik kurang ‘embrace‘ warna….tidak seperti orang Indonesia yang selalu cerah dalam berpakaian 😉

Cara Berkendara :

Jelas lebih tertib…bukan kenapa-kenapa, bayar tiketnya mahaaaaaaaaaaal!! belum lagi urus asuransi. malas deh!  Dulu saya tergolong suka ngebut di jalan tol, sekarang mah mana berani…(meskipun kepingiiiiiiiiiiin banggett!!! ),

Cara Belanja :

Ini jelas saya Amrik banget! Yang pasti nunggu diskon! pakai kupon atau cari perbandingan harga yang lebih murah! Keluar masuk toko barang bekas, nyantai saja. Harus bermerek? Tidak mampu..ha…ha….ha..

O iya..disini kan konsumen dibolehkan mengembalikan barang yang mereka beli, ini jelas jadi kebiasaan saya…kik..kik..kik. sering kali saya beli barang, tidak mikir, cuma bawaan mau, sampai di rumah..ya koq tidak sreg ya…ya sudah balikin saja. Coba kalau di Indonesia…mana bisa????!!!

 

 

 

 

 

Kring Kring Kring Ada Sepeda

Sejak sebelum pindah ke Amrik, saya sudah senang bersepeda, meskipun bukan hobi seperti layaknya teman-teman di Indo saat ini – yaitu bersepeda ramai-ramai ke pelosok komplit dengan peralatan sepeda terkini – saya senang bersepeda di lingkungan tempat tinggal.

Malah waktu saya kelas 5 SD saya pernah jatuh dari sepeda dan tanggal dua gigi di depan dari kecelakaan itu.

Pindah ke Amrik, waktu masih berduaan saja dengan suami, langsung dibelikan sepeda gunung, dan diajak bersepeda ke trail di pegunungan. Itu pertama kalinya saya bersepeda di jalan setapak – bukan aspal. Senang-senang saja.

Bersepeda juga kami lakoni setelah kami punya anak, waktu anak kami masih cilik, kami beli trailer untuk si kecil dimana kami bisa bersepeda dengan dia di bonceng di trailernya. Transportasi sepeda ini saya gunakan cukup sering sehari-hari, secara kami cuma punya satu kendaraan – dan waktu itu saya tidak bekerja- kalau saya mau belanja kebutuhan sehari-hari cukup ngacir dengan sepeda.

Selain jalan-jalan di lingkungan, saya juga terbiasa bersepeda ke sekolah dengan anak saya. Dari mulai dia pra TK, sampai TK, kita biasa bersepeda bersama.

Kadang juga kita semua bersepeda ke pusat kota Bozeman di hari Minggu. Kota tempat kita tinggal itu juga bicycle friendly lah, di jalan ada jalur khusus sepeda, rak sepeda itu dimana-mana tersedia dan trail di penjuru kota itu hampir semuanya boleh dilewati pengendara sepeda.

Berabenya bersepeda ini kalau cuaca kurang mendukung – dan waktu kami tinggal di kota kecil di Bozeman, cuaca lebih sering tidak memungkinkan untuk ke sana ke mari dengan sepeda (Bozeman itu negara bagian Montana, di arah barat utara USA – secara umum kita alami musim dingin yang relatif lebih lama dan musim panas yang sebentar).

Pindah ke Kentucky, kita agak-agak jarang bersepeda, satu karena kita tinggal di apartemen, kedua karena kota tempat kita tinggal lebih besar skalanya dari Bozeman, lalu lintasnya kurang bicycle friendly, pengemudi mobil di sini agak-agak ngeri cara menyetirnya, ketiga karena kita ganti mobil dan belum punya rak sepeda di mobil yang baru ini.

Tapi minggu ini kami sudah mulai bisa bersepeda lagi! karena suami akhirnya beli rak sepeda untuk mobil kami.

0717161443a.jpg

Tadi kita ‘test drive‘ ke salah satu tempat jalan yang boleh untuk bersepeda juga. Catatan, di kota Louisiville, tidak semua taman kota, jalur pejalan kakinya boleh di lalui sepeda. Saat ini saya cuma tahu dua taman kota yang boleh untuk bersepeda, satu di Anchrage Trail dan satu lagi di Beckley Park.

Kita pilih trail yang pendek, Anchorage trail, ah..senangnya bisa bersepeda dengan aman lagi!

 

wp-1468800085411.jpg

 

Liburan Musim Panas 2016 : Kemping di Hutan Alam Pisgah (Bagian 3)

7 Juli 2016

Hari terakhir di perkemahan Davidson River. Kita kudu pindah ke lokasi perkemahan kedua.   Apa rencana hari ini?

Setelah hari sebelumnya, kami belajar kalau ternyata ada beberapa lokasi ‘swimming holes‘ yang kelihatannya cukup seru untuk si kecil bermain. Juga ada 2 lokasi air terjun lainnya yang berdekatan dengan lokasi swimming holes. Jadi hari ini kita putuskan untuk bergantian antara hiking ke air terjun dan main di swimming holes.

Tujuan pertama itu ke swimming holes di tempat piknik Coontree. Lokasi Coontree itu sejalan dengan pusat informasi Pisgah, di sebelah kiri jalan dari perkemahan kita.

Di sini, anak-anak bisa memanjat tebing disisi sungai untuk kemudian loncat ke sungai – ada lokasi yang dalam di mana anak-anak aman untuk meloncat.

Yang kita paling ingat di sini adalah, si kecil berdiri di bagian sungai yang sangat bening dan ada seekor ikan melewati dia. 😉

Dari Coontree kita ke air terjun Slick Rock. Yah, kecewa, karena ini tipe air terjun tetesan wae…

SlickRockFalls

Bergegaslah kita ke tujuan selanjutnya yaitu lokasi perkemahan Cove Creek untuk melihat air terjun Cove Creek. Untuk mencapai lumayan jauh, tapi ada bagian dimana kita bisa lihat air terjun kecil yang lumayan cantik. Jadi kalau kamu ogah lihat ke air terjun utama – yang volume airnya tidak terlalu spektakuler, saya bilang sih, cukup jalan hingga ke air terjun kecil ini.

2016-07-57

Air Terjun Mini di Cove Creek

0707161144b.jpg

Air Terjun Mini di Cove Creek

Perjalanan ke air terjun utama, memakan waktu kira-kira 30 menitan, pertama kita sampai di atas air terjun, lalu, kita harus turun lagi untuk mencapai di bagian bawah air terjun. Air terjun Cove Creek punya bentangan yang lebar, tapi volume airnya tidak terlalu banyak dan banyak rubuhan pohon.

0707161233b.jpg

Selesai Cove Creek, kita menyeberang ke tempat parkir, karena di belakang tempat parkir ada swimming holes lainnya untuk si kecil bermain air.

Swimming holes Cove creek lumayan seru, karena ada bagian dangkal dimana pengunjung seperti saya yang takut tenggelam (atau malas basah kuyup) bisa berkecipuk di air, ada bagian dimana pengunjung bisa loncat ke air dari tebing, dan ada bagian dimana pengunjung bisa merosot dari ‘air terjun’ dan ada bagian dimana kita bisa duduk saja ibarat di kolam jacuzi. Komplit ya??

2016-07-58

Puas main air, kita pergi lagi menuju tujuan terakhir, air terjun Courthouse. Untuk mencapai air terjun ini, dari jalan 475, harus cari jalan kecil 140. Masuk di 140, terus saja hingga melewati 4 jembatan kecil, akan terlihat mobil-mobil parkir di pinggir jalan. Disisi kiri akan terlihat tanda trail ke Courthouse.

Air terjun Courthouse sendiri tidak terlalu besar, tapi cukup cantik dan pengunjung bisa berenang di bawah air terjun (kalau mau).

0707161611a.jpg

Air Terjun Courthouse

DSCN4434

Selesai di air terjun Courhouse berarti selesai juga explorasi kita di Pisgah, karena sekarang kami akan pindah lokasi kemah ke DuPont!

 

Puasa Yuk….

Puasa. Buat orang Indonesia, kata puasa itu kata yang lumrah, kita semua tahu arti kata puasa.

Buat orang Amerika, kata puasa itu cenderung asing dan aneh, apalagi yang namanya puasa sebulan penuh. Kecuali di kota-kota besar yang lebih beragam penduduknya, orang-orang Amerika boleh dibilang ‘buta’ tentang puasa di bulan Ramadan.

Saya kebetulan orang Islam, yang memilih untuk berpuasa di bulan Ramadan. Bedanya dengan puasa di Indonesia, puasa di negara 4 musim seperti Amerika itu bikin berpuasa sedikit lebih unik, karena perbedaan musim….yang artinya perbedaan kapan terbitnya matahari dan tenggelamnya matahari.

Di musim panas, dimana matahari terbit sejak jam 5 pagi misalnya dan tenggelam jam 9 malam , jelas waktu berpuasa jadi lebih lamaaaaaaaaaaaaa…….

Kuat gitu? kuat-kuat saja sih, banyak teman-teman yang sesama muslim yang saya kenal, nyantai-nyantai saja puasa lebih dari 12 jam.

Kalau buat saya, yang jelas saya tidak lagi menghitung sekian jam…dilakoni saja, dan untungnya saya kerja dan lingkungan kerja saya, pegawai tidak bisa ngemil, jadi ya lempeng-lempeng saja puasa saya.

Yang agak lebih riweh buat saya itu, karena pasangan dan anak tidak berpuasa, saya harus tetap menyediakan makan malam untuk mereka sebelum saya sendiri makan. Agak-agak BT memang…tapi ya itu, dilakoni saja lah….

Kalau pas tinggal di Indo, saya ngabuburit di mal, di sini jam 8 malam, saya ngacir ke kolam renang untuk olah raga menunggu waktu berbuka. Lumayan menghabiskan 1 jam tidak terasa karena adem dan juga sehat!

Berhubung saya orangnya tidak religius (dan agak anti sosial), saya tidak pernah ikutan berbuka puasa di mesjid setempat, tapi dekat saya ada 2 mesjid yang menyelenggarakan acara berbuka bersama setiap akhir pekan.

Yang anehnya lagi, waktunya berbuka saya tidak terlalu lapar juga (mungkin karena saya banyak simpanan lemak ya?????)….cukup panaskan nasi dan makanan apa adanya di kulkas.

Enaknya puasa di Amrik itu, tidak banyak godaan makanan minuman….tergiur makan hamburger gitu? yah enggak deh…atau pizza? atau sandwich? NOPE.

Kecuali ada yang nawarin ayam goreng Mbok Berek atau sop buntuk Borobudur tuh atau es teler Sari Ratu..baru deh saya kelimpungan!!! ha…ha…ha..

Buat saya benar sekali kalau dibilang puasa itu untuk menahan nafsu….jadi tidak ‘kalap’ mau makan di luar terus misalnya…atau ‘kalap’ mau beli makanan ini itu…termasuk juga menahan nafsu untuk belanja baju! he….he….he…

Kemarin itu ada wartawan Resty Armenia dari CNN Indonesia sempat mewawancarai saya via Facebook, bisa dibaca disini ya!

Kalau ada pembaca yang mau berbagi cerita tentang berpuasa, sok atuh cerita di komentar!

..