Author: Irus

Pemakaman Indo vs Amrik

Akhir-akhir ini timeline Facebook saya (sayangnya) diramaikan dengan berita kematian seseorang.

Ngomong-ngomong soal kematian, saya jadi pengen cerita tentang budaya pemakaman Indo dan Amrik.

Yang jelas saya paling canggung yang namanya menghadiri pemakaman
baik itu pas shalat jenazah, atau pelayanan di gereja, maupun saat di kuburan.

Canggung karena ya suasana pemakaman itu sendiri kan berarti ada orang yang meninggal ya? Secara umum mana ada gitu orang yang gembira menghadiri pemakaman?

Yang membuat bertambah canggung itu adalah interaksi dengan tamu-tamu lainnya.

Pemakaman seseorang adalah satu peristiwa ‘penting’ (sekali seumur hidup – harfiah!), dimana rekan-rekan, sanak saudara, teman-teman yang sudah sekian lama tidak bertemu, tiba-tiba berkumpul lagi untuk menghantarkan si jenazah ke perhentian abadinya, untuk ‘bertemu’ terakhir kalinya.

Nah…adegan bertemu teman-teman ataupun saudara-saudara yang sudah lama tidak berjumpa tentunya adalah ‘adegan’ yang membahagiakan!  Ibaratnya reuni lah.  Kalau dengar kata reuni kan , seru ya?

Tapi koq…reuni di acara pemakaman yang notabene peristiwa kurang mengenakkan.

Disitulah letak kecanggungan saya, mau bahagia melihat teman-teman/saudara-saudara yang sudah sekian lama tidak berjumpa atau sedih karena melihat keluarga yang ditinggalkan? 😦

Yang ada saya bawaannya mau cepat-cepat pulang, karena ya itu canggung.

Sejak hijrah ke Amrik, saya 2 kali menghadiri pemakaman, yang pertama di tahun 2010, saat adik suami meninggal dan yang kedua di tahun 2016 saat tante suami meninggal dunia.

Terus terang suasana pemakaman ala Amrik vs ala Indo beda banget.

Di Amrik itu boleh dibilang tabu memotret sana sini. Jangankan motret jenazah, motret tamu, memotret peti mati, taman pemakaman pun enggak! (jangan bandingin dengan film-film Hollywood yak! ini pemakaman rakyat biasa)

Inget banget waktu kami ke Minnesota untuk mengurus pemakaman adik suami, saya yang masih kebawa budaya Indo bawa kamera dong.

Pas mau motret, bareng keluarga adik suami yang lainnya saya sempat bingung koq mereka tidak ‘semangat’ ya? tapi ‘dongonya’ saya, saya tidak ngeh, jadi saya teuteup foto-foto sendiri.

Pas di gereja, saya bawa tuh kamera, pikir saya mau jadi seksi dokumentasi.  Mau motret jenazah di peti, eh yang ada suami melotot, hah? saya tanya, Lha kamu gak mau foto adikmu terakhir kalinya? NO. Jawabnya. Bingung.

Masih saya gatel mau motret memorabilia yang dipasang, dipelototin lagi. Pas ceramah dari pendeta selesai, ada pemain bagpipe ala Irlandia menghantarkan tamu-tamu keluar, saya dah keder tidak berani merekam dengan kamera. Padahal bagus banget prosesinya.

Selesai dari gereja, kami pergi ke rumah salah satu keluarga – boleh dibilang rumah duka lah,  disitu disediakan jamuan kecil untuk tamu-temu setelah pemakaman. Di situ ya pada ngobrol sih, cuma ngobrolnya santun sekali, suasana berkabung terasa banget.

Sekali lagi, tidak ada foto-fotoan!

Di hari penguburan, saya masih ngotot bawa kamera, tadinya mau ngerekam dari A sampai Z gitu….lagi-lagi tidak dibolehin sama suami. Jadilah saya ngedumel, tapi ya apa boleh buat, harus hormati permintaan suamilah, wong ini keluarga dia gitu kan.

Kedua kali acara pemakaman saya wis fasih, tidak bawa kamera sama sekali.  Tapi saya perhatikan apakah budaya tidak memotret memang budaya barat atau bawaan suami.  Tidak ada yang bawa kamera. (bawa telpon seluler berkamera ya hampir semua tamu, tapi tidak ada yang sibuk motret sana sini)

Waktu saya bilang ke suami kalau di budaya Indo, sudah biasa kita memotret si jenazah (dan memajang di media sosial!!), suami saya dengernya ibarat denger ada zombie jalan-jalan di mal.

Why? why would you want to take picture of the dead??? tanya nya.

Saya jawab sambil kebingungan juga…Well, now that I thought about it, I am not sure.  I guess we just want to capture the last image of the dead?

Is that weird?

Ha. Disini saya terbelah.

Di satu sisi, saya akui kalau budaya Indo ‘eksentrik’ dalam hal kematian, selain memotret jenazah, kita juga senang foto-foto (dan tidak jarang sambil cengengesan pula)- which you would never find in most American funerals in general.

Di sisi lain, kalau budaya Indo tidak ada potret memotret jenazah, kuburan dan lain-lain, saya tidak akan punya dokumentasi  disaat ayah saya dikuburkan  – yang buat saya adalah hal yang penting, karena saya tidak bisa menghadiri langsung prosesi pemakaman ayah (dan saudara-saudara ataupun rekan-rekan lainnya yang telah mendahului saya).

*menghela nafas* (nasib imgran pas-pasan)

Ah.

Sepertinya untuk hal ini saya adaptasi kedua budaya, budaya Indo dalam hal dokumentasi dan budaya Amrik dalam hal pembawaan diri.

Ashes to Ashes, Dust to Dust

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Jalan-Jalan : Menyeberang Danau Michigan – bagian 3

Selesai berdune buggy ria , kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah kota Ludington dimana kami akan menyeberang danau Michigan menggunan ferry.

Ferry yang akan kami tumpangi namanya SS Badger, di negara Michigan, ferry ini berangkat dari kota Ludington dan berlabuh di kota Manitoc di negara bagian Wisconsin.

 

Saya sendiri selama tinggal di Amrik sudah beberapa kali naik ferry, sewaktu di Seattle, dan waktu menyeberang dari Indiana ke Illionois. Tapi ferry ferry yang saya lakoni sebelumnya, itu kategori ferry cilik, dan waktu tempuhnya juga kurang dari 1 jam.

Ferry kali ini membutuhkan waktu 4 jam!

Ferry dijadwalkan berangkat jam 9 pagi hari Minggu tanggal 8 Oktober 2017. Kami sekeluarga sampai di pelabuhan Ludington jam 8 pagi. Mobil dengan kuncinya ditinggal di depan ferry,  penumpang harus antri masuk ke ferry tanpa akses ke mobil selama menyeberang.

pano_20171008_075142-1893220492.jpg

Wuih…besar juga euy si ferry ini, sudah begitu fasilitasnya komplit! yang jelas ada ruang makan, ada bioskop, ada tempat buat main anak-anak, ada tempat main Xbox (tidak termasuk di harga tiket), ada toko suvenir ,  toilet laki-laki dan perempuan dan  beberapa pilihan ruang tunggu untuk para penumpang selama di perjalanan.

 

Tempat makan ada bagian makanan ringan seperti nachos, sayap ayam, burger dan ada bagian makanan utama (Upper Deck Cafe) : dipagi hari hingga jam 10:30 AM mereka menyajikan sarapan, jam 11:30 AM mulai makan siang yang saat itu menunya adalah taco.

img_20171008_0959091378771309

Kami tadinya cuma pesan tiket saja, tapi setelah di ferry, kami tambahkan sewa ‘Stateroom’ yang notabene kabin dengan dua tempat tidur berikut toilet sendiri.  Harga sewa kabin ini $49. Kuncinya antik loh!

Selama menunggu ferry berangkat saya kongkow-kongkow di dek terbuka…udaranya sejuk dan sinar matahari pagi membuat penumpang tidak terlalu kedinginan.

pano_20171008_082804282177413.jpg

IMG_20171008_073737-COLLAGE.jpg

Eh alah….waktu ferrynya mulai jalan………………ternyata saya itu orangnya mabok laut!! yang ada mual dan pengen muntah!!! 😦

Ugggh…jadilah terpaksa saya ngendon selama di perjalanan!!! sebel banget!! tapi mau gimana lagi??!! dari pada muntah kan??!!ih untung banget kita sewa kamar buat si eneng ini, kalau tidak, tidak kebayang saya dengan muka tidak berbentuk harus tiduran di  tempat umum!

Memang sih ada toko yang jual obat anti mabok, tapi terakhir saya mengalami kondisi seperti ini , obat anti maboknya tidak mempan!! jadi saya pikir daripada ngabisin uang, mending merem saja deh dikamar!!

 

Untungnya cuma saya yang norak kena mabok laut, si kecil dan suami bisa menikmati perjalanan ferry menyeberang dari awal hingga akhir.

Kami tiba di kota Manitoc, Wisconsin jam 3:30 PM waktu setempat.


Si eneng norak ini baru pulih dari mabok laut setelah pantai Wisconsin sudah terlihat dari ferry!! yang ada saya ditertawakan sama si kecil dan suami karena tidur sepanjang perjalanan bukannya mengeksplorasi ferry sepuasnya!

Ya wis, lain kali kalau ada jadwal naik kapal, saya ternyata harus minum obat mabuk laut sebelumnya!!! 😉

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Menelusuri Danau Michigan – bagian 2

Kalau baca dari Wikipedia, danau Michigan itu salah satu dari 5 danau besar di Amerika Utara.  Pantai danau Michigan terbentang dari barat ke timur di negara bagian Wisconsin, Illinois, Indiana dan Michigan.  Danau Michigan ini satu-satunya danau yang semuanya terletak di negara Amrik, 4 danau lainnya terbagi dengan negara lain (Kanada).

Kamu sempat mampir di pantai danau Michigan waktu masih di negara bagian Indiana, yaitu di Michigan City.

Di pantai sepanjang negara Michigan, banyak taman-taman propinsi (state park) yang pelancong bisa mampir. Tapi kami pilih untuk mampir di taman Silver Lake untuk ber dune-buggy!

Operator untuk dune buggy di lokasi Silver Lake ini namanya MacWood’s Dune Ride. Konon operator ini sudah beroperasi dari jaman bahela, dari jaman si babe, masih kecil! ha!

Kami sampai di lokasi MacWood’s sekitar jam 2 an, mereka tutup jam 4 dan hari Minggu nya adalah hari terakhir mereka beroperasi di tahun ini!

Cuaca saat kami di sana itu mendung dan sangat berangin, sempat cemas juga apakah si operator buka untuk umum atau tidak di hari itu, untungnya mereka masih buka meskipun angin bertiup lumayan heboh.

Untuk berkendara di padang pasir ini , saya rekomendasikan memakai kacamata hitam, celana panjang, bandana atau selendang, jaket ringan dan sepatu tipe kasa (mesh).

Setelah menunggu sekitar 20 menit, giliran kami naik si dune buggy!

IMG_20171007_142147-COLLAGE.jpg

si kecil pilih duduk dibagian paling belakang jip. Jip yang digunakan adalah jip merah terbuka degan kapasitas  5 baris tempat duduk untuk pengunjung lainnya termasuk supir.

PANO_20171007_145211.jpg

Wooohooo!! pengemudi buggy kami tidak sungkan-sungkan untuk ngebut dan ngepot! ha!!! seru!!! berhubung ngebut, saya cuma berani pegang telpon seluler, karena saya bawaannya pegangan bar takut jatuh!ha….ha….ha

Jip berhenti di beberapa tempat, di pemberhentian terakhir itu di tepi danau Silver, dimana kita bisa melihat danau di satu sisi dan bentangan pasir di sisi yang lain.

PANO_20171007_145532.jpg

 

Waktu kami berhenti itu, yang namanya angin bertiup kencang sekali!! saya yang pakai celana pendek harus menderita di terpa pasir yang cukup pedih juga rasanya pas kena kulit!!

Pemandangan Danau Silver dari Sisi Lautan Pasir

PANO_20171007_150118.jpg

tiff infomation

tiff infomation


Selendang dan kacamata super berguna untuk melindungi mata dan muka dari tiupan pasir!!

Perhentian di danau Silver ini adalah perhentian terakhir sebelum buggy kembali ke lokasi awal . Siap-siap tidak berpegangan ya karena akan ada turunan yang lumayan terjal di akhir perjalanan!

Turunan terakhir  Yang Paling Berasa Anjolknya!

Yuhuuu! anjlok euy!

Seru?

Banget! Asik!

Cuma rasanya koq kurang lama ya ber dune buggy ria nya!??!! he…he….he

Tapi yang jelas, kalau pembaca ada yang berminat ke danau Michigan, berdune buggy ria itu kudu dilakoni lah!!! 😉

IMG_20171007_144521-COLLAGE.jpg

IMG_20171007_144501-COLLAGE.jpg

Jalan-Jalan : Menelusuri Danau Michigan – bagian 1

Halo. Halo.

Sudah lama ya tidak menulis, terutama tidak menulis tentang jalan-jalan.

Pengennya sih menulis secara berkala ya, cuma kadang memang tidak ada cerita baru, kadang tidak mood, kadang tidak ada waktu! He…he…he

Kali ini mau cerita tentang liburan mini kami tanggal 8 Oktober lalu, dimana si kecil tidak ada jadwal sekolah dari hari Jumat tanggal 8 Oktober hingga hari Selasa tanggal 10 Oktober.

Kami memang sudah berencana mau pergi keluar kotalah, cari penyegaran istilahnya.

Waku mau memutuskan tujuan, kami bingung juga mau pilih jalan ke mana? Indianapolis, Indiana? Cincinnati, Ohio? Chicago, Illinois? Mobile, Alabama? Atlanta, Georgia? Kalamazoo, Michigan?

Dua kota pertama kami sudah sering mampir,  Chicago berhubung banyak tempat yang akan dikunjungi, si babe bilang kami tidak punya cukup waktu, Mobile, AL, kejauhan dan si babe khawatir bahaya angin kencang yang lagi musim  saat ini, Atlanta, si babe tidak tertarik, Kalamazoo, saya punya teman yang memang sudah lama saya pengen kunjungi….

Jadilah kami pilih Kalamazoo…lah waktu saya tanya teman saya, ternyata di waktu yang sama, dia akan mudik ke negaranya, Pakistan…hampir saja rencana batal, tapi akhirnya kami putuskan untuk tetap pergi ke Michigan, suami tahu 2  hal yang menarik untuk kami lakoni : melihat Sand Dunes dan menyeberang danau Michigan dengan ferry.

Hari Jumat tanggal 8 Oktober kami mulai perjalanan ke Michigan! Dari tempat kami, untuk ke Michigan tinggal ambil arah utara, melalu jalan antara negara nomor 65.

Kami  meginap di kota di perbatasan Indiana dan Michigan.

Hari Sabtu, kami teruskan perjalanan, dari peta saya lihat ada kota bernama Holland, saya bilang mampir yuk di kota ini, kayaknya koq menarik.

Kota Holland di Michigan ini memang terlihat ‘meniru’ suasana Holland di Eropa, saya lihat ada sepatu ala Holland, bangunan kincir angin di pelbagai sudut kota.

tiff infomation

 

Kami mampir di pusat kota (down town) nya. Kebetulah sedang ada ‘farmer’s market’ juga.

Saya sudah sering ke Farmer’s Market sebelumnya dan memang saya selalu suka suasana Farmers Market ini – yang istilah Indonesianya pasar kaget lah. Pedagang-pedagang lokal membuka tenda berjualan bermacam-macam produk mereka : dari mulai keju, sayur-sayuran, bunga petik, roti, coklat, bumbu-bumbu dan lain sebagainya.

Yang saya senang di pasar kaget kali ini adalah buncahan warna-warna sayuran dan bunga yang dipajang. Asli meriah sekali dan cantik! Tomatnya terlihat merah segar, sayuran hijaunya juga terlihat hijau merona, bunga-bunga petiknya besar-besar dan warna warni!! waduh…saya jadi pengen beli semua rasanya!!!

IMG_20171007_103807-COLLAGE.jpg

Selesai melihat pasar kaget , kami jalan menyelusuri downtown Holland. Pusat kota Holland ini tipikal pusat kota kecil di Amrik, apik dan menarik.

Pengunjung bisa melihat toko-toko baju lokal, toko buku, tempat ngopi, toko pernak pernaik, galeri seni dan banyak lagi!

Saya betah sekali jalan-jalan ‘tanpa tujuan’ di tempat-tempat seperti ini!!!  Di sini kami makan siang di resto namanya ……. Yang bikin ngiler di tempat ini adalah bagian toko rotinya, yang notabene memajang berbagai jenis kue-kue coklat…..

IMG_20171007_110724.jpg

Saya bingung mau milih yang mana, akhirnya pilih cream puff coklat…..wuihh…enaaaaaaakkkk!! sangat direkomendasikan !

tiff infomation

Selesai ngayap di kota Holland, kami teruskan perjalanan ke taman Silver Lake di tepi danau Michigan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahasa Inggris Itu Susah

Koreksi : bahasa diluar bahasa ibu saya (bahasa Indonesia) itu (buat saya) susah!

Saya sih jujur saja ya kalau yang namanya belajar bahasa asing, baik menulis atau berbicara untuk saya itu tidak gampang, malah boleh dibilang susah.

Belum lagi masalah umur,  yang konon saya baca di internet, sekin tua seseorang semakin sulit mereka menyerap bahasa baru.

Tambah ganda lah susahnya.

Kalau boleh milih, saya sih pilih nyerocos , menulis, membaca dalam bahasa Indonesia saja, mau belepotan, pakai bahasa pergaulan , percaya diri, wong bahasa sendiri gitu loh.  Itu juga pasti ada salahnya lah,…apalagi sudah lama tidak belajar tata bahasa Indonesia.

Berhubung saya tinggal di Amerika dimana bahasa Inggris adalah bahasa sehari-hari ya mau tidak mau saya memakai bahasa Inggris.   Selain karena suami saya suka curigaan kalau saya pasang judul status pakai bahasa Indonesia,  saya kudu terus belajar memperbaiki bahasa Inggris saya karena diperlukan sehari-hari untuk kerja dan untuk rumpi sehari-hari dengan rekan-rekan bule disini.

Yang saya tidak mengerti ni ya…kenapa sih orang-orang Indonesia yang tidak harus berbahasa Inggris, doyan sekali memakai bahasa Inggris dalam ‘setiap nafas’ pembicaraan????

Yang bikin saya tambah tidak mengerti……sudah nekat berbahasa Inggris (yang tidak perlu-perlu amat), kalimat bahasa Inggrisnya ya wis…..kacau dan salah di sana sini, baik itu salah pemakaian kata atau salah tata bahasanya.

Saya bukan bilang tidak boleh memakai bahasa Inggris, itu sih pilihan individu masing-masing ya, tapi kalau mau memakai bahasa Inggris atau bahasa lainnya (termasuk bahasa ibu), mbok ya hormati bahasa itu sendiri.

Hormati disini maksudnya, pelajarilah bahasa yang mau digunakan secara benar, jangan setengah-setengah. Jangan cuma makai bahasa tertentu karena  mau petantang petenteng biar dianggap keren, biar dianggap lebih beriman.

Satu lagi….kalau mengaku orang Indonesia, ayo dong, pakai bahasa Indonesia, perkaya bahasa Indonesia, tidak usah malu! tidak perlu diselip istilah-istilah yang jelas-jelas ada padanannya dalam bahasa Indonesia (kasihan deh ‘Selamat Ulang Tahun’ entah kenapa kamu jadi kurang ‘afdol digunakan akhir-akhir ini…..)

Saya juga tidak yakin kalau sumber daya manusia Indonesia dianggap kalah bersaing dengan SDM India, Korea semata-mata karena kita menggunakan istilah yang telah di terjemahkan ke bahasa Indonesia bukan menggunakan bahasa aslinya (yang sebagian bahasa Inggris).

Buat saya semakin otak kita di biasakan menggunakan dua (atau lebih) bahasa, itu artinya kita semakin mengasah otak kita!

Coba tantang dirimu sendiri, untuk menggunakan bahasa apapun dari A ke Z!

Mau pakai bahasa Inggris? boleh,  pelajarilah bahasa Inggris sebaik-baiknya, pengejaan, tata bahasa, penggunaan dalam kalimat dan aturan lainnya

Mau pakai bahasa Arab? monggo, pelajarilah bahasa Arab sebaik-baiknya, termasuk penulisan, jangan cuma comot milad, ummi, mubarak, jazakalah.

Sekian uneg-uneg saya yang patah hati melihat perkembangan bahasa Indonesia yang dicuekin dengan pengguna utamanya….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Icip-icip : Rumah Makan Indonesia di Lexington

Sebagai imigran, bisa dipastikan salah satu ngidamnya kita itu adalah nemu rumah makan ala negara kita. Benar tidak?

Dari sejak pindah, saya selalu ngincer yang namanya warung makan indo. Seingat saya, kita pernah makan di Seattle, Washington, di San Franscisco, California , Plano, Texas, Columbus, Ohio, Madison, Wisconsin.

Sejak pindah ke Kentucky, saya baru sekali makan di warung makan Indo, yaitu pas jalan-jalan ke Madison, Wisconsin. Dengar-dengar ada warung makan Indo di Greenburg, Indiana, Mayasari Indonesian Grill namanya, tapi koq jauh yak? kudu niat suniat kalo mau mampir ke situ deh..(maksudnya menginap di hotel gitu..). Yah…repots juga ya…jadilah kami belum mampir ke warung makan Indo lagi…

Nah, Sekitar bulan Juli lalu pas lagi rumpi-rumpi dengan ibu-ibu Indonesia di sini, dengar kabar kalau ada keluarga Indonesia di Lexington yang akan buka ‘warung makan’ Indonesia….wuuiiiih  langsung deh hati berdebar-debar!

Akhirnya ada rumah makan Indo yang lumayan dekat kampung ni!!

 

Jadilah hari ini kami pergi ke Lexington khusus buat icip-icip si warung makan yang buka di bulan Agustus 2017 lalu.

Nama rumah makannya itu Utomo Kitchen, alamatnya di 3334 Clays Mills Road, Lexington Kentucky.

tiff infomation

Dari jauh-jauh hari saya sudah bolak balik baca menu…ha…ha….ha..jadi pas sampai di tempat , sudah tahu mau pesan apa.

Si kecil pesan nasi goreng ayam, saya pesan ayam goreng Indo dan nasi putih, plus semangkok mie bakso (rakus!!), misua tadinya mau pesan Bistik Solo, tapi habis, jadi ya saya pesan Meat Loaf saja, karena itu tipe makanan yang dia suka yang saya ogah bikin…kik..kik..ki

Ketemu sama Mas Utomo dan Mbak Yuni pemilik warung makannya. Senang karena masakannya cepat jadi, kami tidak menunggu lama.  Sambil menunggu pesanan makanan kami disajikan sushi.

Pesanan pertama yang datang itu mie bakso, komplit pakai pangsit. Lalu ayam goreng saya dan terakhir meat loaf si bule.

 

Porsinya lumayan besar ya, yang ada kita minta bungkus buat dibawa pulang.

Terus terang saya selalu salut dengan rekan-rekan Indonesia yang berwiraswasta seperti Mas Utomo dan Mbak Yuni di Lexy, atau Bapak Mochammad Sjachrani pemilik ‘Bandung Indonesian Restaurant, Mbak Enny Pickett pemilik rumah makan Java Warung di Madison dan teman-teman Indonesia lainnya.

Acung jempol deh untuk mereka! dan terima kasih banget sudah bersusah-susah masak masakan Indonesia sehingga kita-kita, para imigran bisa melepas rindu masakan kampung di Amrik! Iya gak??!!

Buat teman-teman di Kentucky, sok atuh mampir di warung makan Mas Utomo dan Mbak Yuni!

 

 

 

 

 

 

Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – bagian 3

Hari Jumat, 21 Juli 2017.

Bangun pagi-pagi sarapan steak – ha….borju?! bukan bukan..ini mah harus, karena es di cooler sudah mencair kalau tidak dimakan si steak ini ya harus dibuang..sayang kan??!!

Selesai sarapan, saya mengepak baju ganti untuk semua. Yang jelas saya sendiri pakai baju renang sebagai dalaman kaos dan celana pendek yang saya pakai. Kita juga semua bawa sepatu air, handuk dan peralatan mandi (sabun paling tidak).

Untuk berarung jeram, jelas harus siap basah ya! Kita sempat ditelpon oleh tempat berarung jeram…nah lo…apa ada penundaan ya saya pikir? karena memang cuaca diperkirakan akan hujan.  Waktu saya telpon balik, ternyata bukan penundaan, tapi mereka mau mengecek apa kita mau ber-rafting atau mau ber’duckie alias berkayak. Saya yang penakut, pilih ber-rafting lah! hi…hi…hi….Si kecil malah mau berkayak, tapi tidak saya ijinkan, karena dia belum ada pengalaman berdayung ria di sungai alam.

Dari tempat kemping, kita ambil rute 32 melewati kota Thomas, lalu ambil rute 72 arah utara menuju kota Parsons, lokasi tempat pertemuan arung jeram.

Sampai di lokasi, karena masih banyak waktu, kita sempat makan di kota Parsons, supaya tidak kelaparan pas berarung jeram.

Sebelum berangkat, semua peserta di haruskan menandatanganin waiver, lalu memakai life jacket, helmet dan diberi dayung.  Di lokasi peserta bisa menyewa wet body suit dan menyewa atau membeli sepatu air. Tapi mahal euy! untuk sewa/beli sepatu air itu $10.00. Wet suit tidak keharusan, lebih diperlukan kalau peserta memilih aktifitas ini di musim semi atau musim gugur dimana cuaca lebih dingin, supaya tidak mengigil di perjalanan.

Jam 1 lewat semua peserta diangkut dengan bis ke lokasi sekitar 20 mil. Tiba dilokasi , kita semua diberikan instruksi keselamatan : kalau jatuh, bagaimana menolong orang di air dan sebagainya. Saya agak keder juga….maklum tidak bisa berenang gitu loh…dalam hati saya juga sibuk berdoa…semoga tidak jatuh ke air…semoga tidak jatuh ke air…kik…kik…kik…

Ada 3 rakit dan 9 kayak, di rakit selain kita, ada ibu dan anak laki-lakinya yang kebetulan seumuran dengan anak saya, mereka berdua langsung akrab seperti teman lama. Si anak laki ini pilih duduk di depan perahu, ibunya dibelakang dia, anak saya disamping si ibu. Saya duduk dibelakan si ibu, suami saya disebelah saya, dibelakan anak kita. Pemandu perahu duduk dibagian belakang rakit.

Ada 9 jeram  yang akan kita lalui sepanjang total 6 mil aliran sungai, kelas jeram tertinggi yang akan kita lalui adalah kelas 3 (dari total 5 kelas jeram untuk aktifitas seperti ini). Jeram pertama, jeram kelas 1, tidak terlalu sulitlah…..

Nah waktu melalui jeram kelas 3, memang berasa ‘bedanya’….rakit terasa sekali di mainkan ombak….saya dan anak saya yang ada jejeritan. Waktu akhirnya rakit melewati jeram ini..duh lega rasanya….ha…ha…ha..

Jeram terakhir,  dinamai Rock Garden… Haduh…batu-batu sebesar mobil saya ada di kiri dan kanan sungai. Selain batuan besar, di jeram ini memang kesulitannya terletak di maneuver antara batu. Saya sempat tanya ke pemandu…How are we going to go through? ???

Haduhhhh….rakit kita sempat nyangkut di batu! Pemandu kudu menggoyang-goyang si rakit. …yang ada saya sempat panik…Karena waktu digoyang, rakit rasanya akan terbalik disisi dimana saya duduk…..huaaaaaa…..takut!!!!!

Tapi akhirnya rakit kita bisa lolos dengan selamat! 😅😅😅😅

Di beberapa tempat antara jeram,peserta diberi kesempatan untuk loncat dari tebing batu ke sungai. Anak saya nyemplung ada kali 3 kali. Di lokasi lainnya pemandu rakit kita membolehkan anak-anak nyemplung dan berenang di sungai. Sayang saya tidak bawa camera untuk memotret keceriaan si kecil saat nyemplung…..

Untung air sungainya sendiri tidak terlalu dingin, jadi meskipun hujan rintik-rintik, kita tidak kedinginan.

Rock Garden adalah jeram terakhir yang harus kita lampaui. Seluruh peserta balik ke lokasi dengan bis….

Seru? Yep!

Mau lakukan lagi? Pasti! !!😏

Selesai berarung jeram, usailah liburan musim panas kita tahun 2017 ini…

Mudah-mudahan kita semua bisa ketemu di petualangan selanjutnya!

 

 

 

 

Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – bagian 2

Hari Kamis, tanggal 20 Juli 2017, kita sekeluarga keluar dari hotel untuk menuju ke Blackwater Falls State Park.  Dari hotel tempat kita menginap ke lokasi itu sekitar 1.5 jam, kita diberitahu oleh petugas di Cass rute yang tercepat dari hotel. Dia bilang, jangan ikuti GPS, karena kalian akan dikasih rute ‘ngawur’. 😉

Sampai di lokasi, kita coba ganti lokasi kemah, karena waktu pesan pertama kali saya diberitahu kalau lokasi kemah kita itu gersang, tidak ada pepohonan. Ternyata di lokasi perkemahan masih ada beberapa spot yang tersedia. Ya sudah kita mutar lokasi untuk memilih tempat yang cocok : nah, untuk memilih lokasi dimana kita akan dirikan tenda ini, ada dua hal utama yang kita pertimbangkan :

  1. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat dengan kamar mandi – tidak mau jelas-jelas di sebelah kamar mandi karena akan terlalu ribut mendengar orang keluar masuk kamar mandi
  2. Dikelilingi pepohonan, selain teduh, pohon juga bisa berfungsi untuk menggantung hammock, atau mengkaitkan tali terpal.

Pilih sana pilih sini, kita putuskan ambil lokasi tenda nomor 58.  Setelah selesai dirikan tenda, kita pergi mengeksplorasi taman : ketemu petting zoo, melihat babi super gendut, kelinci, llama, keledai, ayam, turki, domba.

Collage 2017-07-24 01_04_32

Dari situ, kita sempatkan untuk melihat air terjun Blackwater.

Selesai melihat air terjun, kita ke danau Pendelton

PANO_20170720_171428_1500872790119

dimana pengunjung bisa berkayak ria, bersepeda perahu, atau berpapan dayung (paddle boarding). Saya dan si kecil pilih bersepeda perahu….lumayan pegel…ha….ha….ha… Ongkos untuk masing-masing aktifitas $5 per 1/5 jam.

Habis mendayung, kita pergi ke hotel (lodge) untuk makan di restorannya, o iya..di taman ini, pengunjung tidak harus kemping ya..ada pilihan untuk menginap di kamar hotel atau vila (cabin)

Yang seru ni…saya senang banget waktu melihat menu bufet di restoran, saya bisa makan semua jenis makanan yang di sediakan! ada pasta dengan daging sapi, ikan tilapia, ayam panggang, keju makaroni, kentang goreng, salad. Hore!! Jarang-jarang euy bisa makan semua pilihan yang ada! (catatan : saya tidak mengkonsumsi daging babi). 😉

Selesai makan, kita kembali ke tenda, membuat api unggun hingga malam tiba lalu tidur deh! Besok mau berarung jeram ni!

 

 

 

Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – Bagian 1

Liburan musim panas kali ini saya ‘relakan’ aktifitas pilihan suami karena dia ulang tahun tanggal 19 Juli.  Berhubung dia hobi kereta api, dia pilih pelesir naik kereta api uap di kota kecil bernama Cass, negara bagian West Virginia (WV).  Jadilah hari Selasa lalu, 18 Juli 2017, kita sekeluarga memulai perjalanan kendara kita ke negara bagian West Virginia .

Kita sebelumnya sudah pernah mampir di WW di tahun 2015, tapi cuma  mampir di Charleston, ibukota negara WV dan daerah New River Gorge, ibaratnya cuma di ‘ujung’  perbatasan dengan negara bagian kita, Kentucky dan juga cuma akhir pekan. Nah, waktu itu kita sempat lihat aktifitas arung jeram, cuma karena tidak ada waktu, tidak kita lakoni, padahal si anak mau sekali ikutan berarung jeram.  Saya sempat janji ke si kecil kalau satu saat kita akan kembali ke WV dan berarung jeram ria.

Nah, ingat janji saya dulu,  sekalianlah saya cari-cari aktifitas arung jeram di lokasi sekitar CASS, ketemu Blackwater Falls Outdoor, yang juga dekat dengan hutan nasional Blackwater Falls yang ada air terjun cantik.  Tahu dong saya kan hobi nyari air terjun! Saya pikir ya cocok lah, semua anggota keluarga kebagian jatah : si suami dapat naik kereta api pilihannya, si anak dapat berarung jeram yang dijanjikan, dan saya dapat melihat air terjun.

Untuk tidur, saya pilih menginap di Inn at Snowshoe untuk 2 malam pertama dan kemping di area Blackwater Falls State Park untuk 2 malam selanjutnya. Terus terang pilihan saya semata-mata berdasarkan harga. Si hotel ini boleh dibilang yang termurah yang saya bisa temui/pesan lewat internet diantara tempat penginapan disekitarnya.

Jarak dari tempat kita tinggal ke lokasi hotel di Snowshoe lumayan jauh, kita berangkat sekitar jam 9 an, dan sampai di lokasi jam 6 sore.  Hotelnya biasa saja ya, dibanding dengan harga $153  untuk 2 malam, ya worth it lah :  jangan harap super mewah ya..yang jelas ada kolam renang, ada sarapan ala kadarnya. Tidak ada wi-fi di kamar, cuma ada di lobi dan tidak ada microwave di kamar.

Yang saya tidak ‘ngeh’ itu ternyata daerah Snowshoe itu daerah ‘elit’ , susah sekali mencari kamar hotel, karena daerah Snowshoe yang notabene daerah resort untuk bermain ski ternyata juga lokasi balapan sepeda gunung seantero US dan segambreng acara-acara lainnya!

Untung juga kita bisa dapat hotel lumayan murah dan mepet pula pesan kamarnya!

Dari Inn ke lokasi CASS kereta api itu sekitar 30 menit, sebetulnya diukur dari jarak, tidak terlalu jauh, cuma jalan antara 2 tempat itu super berliku-liku, maklum di pegunungan ya….untuk kita yang tidak familiar, ya tidak bisa ngebut lah.

Kereta api kita masuk stasiun jam 11:15 am, berangkat jam 11:45 AM ke perberhentian Bald Knob. O iya, kereta api yang kita naiki ini bukan kereta api seperti kereta Parahyangan ya…tapi kereta api turis, total ada 5 gerbong, semuanya gerbong terbuka alias tidak ada pendingin udara, bangkunya model bangku kayu, kamar mandi cuma 1 di tengah-tengah gerbong. Yang ‘dijual’ di kereta api model seperti ni adalah lokomotifnya, lokomotif yang digunakan adalah lokomotif uap tipe “SHAY”, yang umurnya sudah 150 tahun!

Collage 2017-07-23 20_46_59

Dari stasiun utama ke stasiun tujuan di Bald Knob dan kembali ke stasiun awal , itu menghabiskan waktu sekitar 4 +jam. Harga tiket kereta tergantung tujuan atau tema yang kita pilih, untuk detail harga kereta bisa di lihat di situs CASS disini.

Negara bagian WV dilewati pegunungan Apalachian, dimana-mana terlihat rentang pegunungan, termasuk waktu kita naik kereta api ini. Yang jelas memang cantik dan sejuk ya…di beberapa lokasi malah terasa sekali temperaturnya lebih sejuk dibanding lokasi lainnya.

Collage 2017-07-23 22_33_01

PANO_20170719_144943

Tempat Pemberhentian di Bald Knob

O iya, kita juga diberi sangon…roti dengan irisan daging, ada turki dan babi, kue coklat, kripik kentang- begitu lihat menunya yah..yang ada saya males makan ya? coba ada nasi bungkus gitu…..jadi ya cuma ngemil kripik saja…he…..he…..he..

Selesai naik kereta api, kita balik ke hotel, besok jalan ke lokasi lain, sekitar 1.5 jam-an untuk mulai kemping dan berarung jeram!

 

 

 

 

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Nashville, Indiana

Suntukkkk di rumah melulu tiap akhir pekan! Sejak saya tidak lagi kerja dua tempat di hari Sabtu, saya ‘gatelan’ kepengen explorasi ke sana ke mari. Bersepeda ke rute baru sudah, jalan-jalan ke bekas taman hiburan jaman 1900 sudah…kemana lagi dong??!!

Jadilah hari Sabtu kemarin kami kabur ke kota Nashville di negara bagian tetangga, Indiana. Saya sudah sering mendengar tentang kota Nashville ini, tapi belum pernah melihat sendiri, konon kota ini apik dan seru untuk akhir pekan.

Berhubung dana terbatas, kami tidak pesan hotel, tapi kami pesan tenda Tipi atau tenda ala Indian di Rawhide ranch dan juga mau ikutan ber-zip lining ria di tempat yang sama.

Jarak dari tempat kami tinggal ke lokasi kemah itu 1 jam 40 menitan. Kami berangkat jam 3, sampai di lokasi jam 4.30 PM.

Saat tiba di lokasi, masih ada petugas yang mengantarkan kami ke lokasi Tipi. Catatan : di Amrik, tempat-tempat seperti ini (sewa kabin), tamu yang datang setelah kantor registrasi tutup, biasanya oleh petugas disisipkan amplop berisi kunci dan lokasi kabin/kemah. Jadi tamu tetap bisa datang kapan saja, tanpa harus bingung dimana kabin/tenda mereka.

Tipi yang kami sewa pada dasarnya ya tenda, kantong tidur, peralatan masak, harus kami bawa sendiri. Harga sewa Tipi ini $45 per malam.

Yang lucu, di dalam Tipi ternyata boleh buat api unggun – kalau bawa tenda sendiri ya tidak mungkin lah pasang api dalam tenda- tapi suam tidak mau ambil resiko masang api dalam tempat tertutup yang terbuat dari kain pula.

Anak saya misuh-misuh tidak mau tidur di Tipi karena lantainya pasir – kalau pakai tenda sendiri, kan lantainya terpal si tenda.  Setelah ada kali 1 jam-an dia ngomel, akhirnya tertidur juga.

Kalau saya cuma takut tidur kemasukan pasir, tapi ternyata kami semua bisa tidur tanpa ‘kebanjiran’ pasir koq…he….he…he…

Collage 2017-06-11 22_25_36

Karena hari masih ‘siang’, kami jalan-jalan ke taman Brown County  (Brown County State Park)  sempat hiking ke danau Sthral, cuma 1 mil pulang pergi sih..cuma trailnya banyak tangga, dan menurun, jadi waktu balik ya banyak naik tangganya……wadduhh…asli keringetan, mana si kecil mengeluh minta di gendong, jadilah saya sempat gendong dia..lumayan 27 kilo…..

Collage 2017-06-11 22_22_54

Hari Minggu, kami sarapan – pilihan sarapan ini terserah tamu hotel. Tidak termasuk dalam harga Tipi. Berhubung ini kemping kilat, suami malas repot-repot masang api, kompor dan lain-lain, jadi ya kami pesan sarapan.

Sarapannya standar Amrik lah : telor orak arik, roti, sosis dan martabak manis Amrik alias pancake.

Setelah sarapan kami menunggu giliran untuk berzip lining jam 11.

Selain kami ada 2 keluarga lainnya dalam grup yang sama. Total peserta 9 orang – maksimum 10 orang dalam 1 grup. Ada 2 instruktur, Joe dan Paula yang pergi bareng-barang kami.

Kami sebelumnya sudah pernah ber-zip lining ria, yaitu waktu ultah saya, jadi kami sudah ‘pro’ lah…he…he..he.’

Seperti biasa, kami di lengkapi dengan helmet dan tali pengaman ini dan itu. Salah satu instruktur akan ‘menangkap’ peserta di tempat mendarat , sementara instruktur yang lainnya memandu peserta untuk meluncur.

Total kita meluncur di 6 kabel, kabel ke-enam sama dengan kabel ke-empat cuma ya kebalikan arah.

Dibanding dengan pengalaman kami berzip lining pertama kali  (baca di sini), zip lining kali ini boleh dibilang amat mudah (kata anak saya malah kurang seru!), karena jarak antar point yang satu dengan yang lain tidak terlalu jauh bentangnnya dan juga tidak terlalu tinggi – ibaratnya kalau tho jatuh, tidak akan patah kaki atau luka parah, paling beset-beset atau keseleo.

Collage 2017-06-11 22_15_02

Tapi ya tetap seru lah, karena kan bukan sesuatu yang kami lakoni setiap tahunnya!

Harga untuk bermain zip line $25 karena kami menginap di lokasi, kalau tamu luar harganya $35 per orang.  Peserta harus berumur diatas 7 tahun dan berat badan tidak boleh kurang dari 60 lbs juga tidak boleh lebih dari 200 lbs.

Selain wara-wiri di lokasi Tipi, kami sempat mampir ke kota Nashville, yang jaraknya 3 mil dari tempat kami menginap. Kota Nashville ini, kota yang penuh dengan toko-toko lokal, dari mulai butik baju, tempat ngopi, ngeteh, es krim (ada 3!!) , resto-resto ini itu, studio foto, kereta api turis, toko lilin, toko permen, toko coklat dan banyak lagi!…ibarat jalan-jalan ke Kuta atau jalan Cihampelas Bandung.

Saya sih bisa betah berjam-jam cuma jalan-jalan keliling kota dan keluar masuk toko lihat ini itu, cuma anak dan suami saya cranky, jadi kami tidak lama-lama di sini.

Cuma sempat foto ala koboy jaman bahela….

Collage 2017-06-11 23_01_16

Setelah saya lihat-lihat, banyak alternatif penginapan di sekitar kota Nashville, ada hotel-hotel chain, kemping di state park, ataupun penginapan-penginapan  kecil di pusat kota Nashvillenya sendiri.

Secara umum kota Nashville, enak untuk dikunjungi sekali-kali kalau pas lagi bosan, pengen jalan-jalan tapi tidak mau ke mal misalnya.

Kalau kamu tipenya senang window shopping, kota Nashville lumayan seru buat diintip. Kalau kamu tipenya petualang, selain zip lining, kamu bisa juga naik kuda, bersepeda di hutan, berkayak ria atau berenang.

Buat saya, kalau tho mau berakhir pekan lagi di sini, mungkin saya akan coba tempat penginapan lain atau kalau tho kami mau kemping, kayaknya kami akan pilih kemping di dalam Brown County State Park – karena untuk masuk ke taman ini harus bayar $9 per kendaraan luar kota.