gaya hidup

Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – bagian 2

Hari Kamis, tanggal 20 Juli 2017, kita sekeluarga keluar dari hotel untuk menuju ke Blackwater Falls State Park. ┬áDari hotel tempat kita menginap ke lokasi itu sekitar 1.5 jam, kita diberitahu oleh petugas di Cass rute yang tercepat dari hotel. Dia bilang, jangan ikuti GPS, karena kalian akan dikasih rute ‘ngawur’. ­čśë

Sampai di lokasi, kita coba ganti lokasi kemah, karena waktu pesan pertama kali saya diberitahu kalau lokasi kemah kita itu gersang, tidak ada pepohonan. Ternyata di lokasi perkemahan masih ada beberapa spot yang tersedia. Ya sudah kita mutar lokasi untuk memilih tempat yang cocok : nah, untuk memilih lokasi dimana kita akan dirikan tenda ini, ada dua hal utama yang kita pertimbangkan :

  1. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat dengan kamar mandi – tidak mau jelas-jelas di sebelah kamar mandi karena akan terlalu ribut mendengar orang keluar masuk kamar mandi
  2. Dikelilingi pepohonan, selain teduh, pohon juga bisa berfungsi untuk menggantung hammock, atau mengkaitkan tali terpal.

Pilih sana pilih sini, kita putuskan ambil lokasi tenda nomor 58.  Setelah selesai dirikan tenda, kita pergi mengeksplorasi taman : ketemu petting zoo, melihat babi super gendut, kelinci, llama, keledai, ayam, turki, domba.

Collage 2017-07-24 01_04_32

Dari situ, kita sempatkan untuk melihat air terjun Blackwater.

Selesai melihat air terjun, kita ke danau Pendelton

PANO_20170720_171428_1500872790119

dimana pengunjung bisa berkayak ria, bersepeda perahu, atau berpapan dayung (paddle boarding). Saya dan si kecil pilih bersepeda perahu….lumayan pegel…ha….ha….ha… Ongkos untuk masing-masing aktifitas $5 per 1/5 jam.

Habis mendayung, kita pergi ke hotel (lodge) untuk makan di restorannya, o iya..di taman ini, pengunjung tidak harus kemping ya..ada pilihan untuk menginap di kamar hotel atau vila (cabin)

Yang seru ni…saya senang banget waktu melihat menu bufet di restoran, saya bisa makan semua jenis makanan yang di sediakan! ada pasta dengan daging sapi, ikan tilapia, ayam panggang, keju makaroni, kentang goreng, salad. Hore!! Jarang-jarang euy bisa makan semua pilihan yang ada! (catatan : saya tidak mengkonsumsi daging babi). ­čśë

Selesai makan, kita kembali ke tenda, membuat api unggun hingga malam tiba lalu tidur deh! Besok mau berarung jeram ni!

 

 

 

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya harus bisa berbahasa Inggris lebih baik.

Untuk saya pernyataan diatas itu mutlak. Sebagai imigran, saya ngeh konsekuensi berimigrasi ke negara yang tidak berbahasa ibu saya, artinya saya harus belajar bahasa lokal di negara yang akan saya tinggal.

Untungnya saya cuma berimigrasi ke Amerika dimana bahasa mayoritas yang digunakan adalah bahasa Inggris. Kalau saya berimigrasi ke Jepang, atau ke Jerman atau ke Finlandia misalnya, kemungkinan besar saya akan nangis darah, karena harus belajar bahasa baru dari nol.

Saya memang sudah belajar bahasa Inggris dari mulai SMP – SMP negeri – dan ortu memasukkan saya ke kursus bahasa Inggris LIA – meskipun saya waktu itu belum cukup umur (masih SMP dan persyaratan masuk LIA jama itu, harus SMA), tapi saya ‘pura-pura bego’ ngaku anak SMA. Saya juga kerja di perusahaan yang bosnya orang Amrik, klien-klien juga banyak yang bule.

Jadi kemampuan bahasa Inggris saya tidak apa adanya.

Kenapa gitu saya merasa harus memperbaiki berbahasa Inggris saya setelah di Amrik?

Di sini ada stereotipe kalo imigran itu bloon, tidak bisa berbahasa Inggris, tidak punya kemampuan kerja , dan kelakuannya seperti parasit.

Saya mau mematahkan stereotipe itu.  Tidak rela deh di remehkan orang cuma karena saya imigran dan bahasa ibu saya bukan bahasa Inggris.

Lagipula menurut saya memang sudah adabnya lah kalau kita tinggal di negara lain, kita harus belajar budaya lokal.

Tul tidak?

Secara pribadi saya juga malu kalau kalimat bahasa Inggris saya cuma terbatas :

  • I love you
  • I love my husband
  • I have the best husband
  • I miss my husband
  • Honey
  • You are the best
  • dan kalimat-kalimat lain yang agak-agak mirip

Lagian kan, kita berinteraksi bukan cuma sama suami kita saja…

Jadi yuk…kalau mau tinggal di Amrik, belajarlah bahasa Inggris!

 

Icip -Icip Truk Makanan

Sekitar pertengahan bulan Maret lalu, saya pindah posisi di perusahaan. Dari bekerja di kantor cabang, saya pilih bekerja di operasional.

Salah satu konsekuensi dari pergantian posisi adalah saya sekarang balik kerja ‘kantoran’ alias kerja di gedung tinggi di pusat kota Louisville, Kentucky.

Kerja kantoran bukan hal yang baru buat saya. Jaman waktu saya masih muda belia di Indonesia, saya selalu kerja di perusahaan yang kantornya berlokasi di pusat kota Jakarta (kawasan segitiga emas istilahnya).

Dulu itu yang mananya kerja di ‘segitiga emas’ artinya makan siang bareng-bareng di Amigos (agak minggir got sedikit) atau kalau setelah gajian, lumayan sanggup makan di food court – atau kantin lah di gedung tempat bekerja.

Di Amrik gimana dong? ada gitu amigos?

Ha!

The closest thing to Amigos is……………food truck!

Yup. Truk makanan boleh dibilang ya makanan kaki limanya Amrik.

Saya belum ngeh tentang truk makanan di hari pertama saya kerja di kantor – maklum, stres karena baru pindah kan.

Baru hari kedua saya perhatikan dari jendela…eh…ada truk makanan parkir!

Nah sejak itu saya sibuk memperhatikan berbagai jenis truk makanan yang parkir disisi gedung saya.

Wuidih…tiap hari truk makanan yang parkir di gedung saya itu selalu berbeda. Minimal ada 2 truk makanan yang ngetem, paling banyak 3.

Si truk makanan ini biasanya ngetem di gedung-gedung yang banyak penyewanya lah – termasuk gedung tempat saya kerja. Intinya si truk ini selalu wara wiri, pindah tempat dari hari yang satu ke hari yang lain. Kalau kamu mau cari truk makanan tertentu, kamu bisa cari dimanan si truk ngendon hari itu lewat app “Where the food trucks at

Jenis-jenis makanan yang disajikan di truk makanan ini juga berbeda-beda. Ini yang pernah saya lihat mampir di gedung saya:

  1. Dakshin – makanan India
  2. Travelling Kitchen – taco Korea
  3. Boss Hogs BBQ – apapun panggang – babi, sapi, ayam
  4. Boo Boo Smoke Shack – idem
  5. LouSushi – sushi lah!
  6. Germany#1Food – sandwich Jerman katanya
  7. Black Rock Grille- hamburger
  8. Smok’N Cantina – taco Mexico
  9. Asian Modern Nomad – masakan Asia (mi goreng, nasi goreng gitu deh)

img_2017-03-21_20-45-33.jpg

wp-1491607196876.jpg

Yang saya sudah pernah cicipi itu Dakshin dan Travelling Kitchen.

Dakhsin sendiri ada restorannya di kota Louisville, tapi koq makanan dari truknya agak mengecewakan yak…hambar gitu..cuma pedas doang.

Hari ini saya nyoba Travelling Kitchen lumayan oke, konon taco bulgoginya yang beken, cuma karena saya minggu itu sudah makan bulgogi, jadi saya pesan taco ikan..lumayan! (cuma kurang nasi!! ha…ha..ha..perut Indonesia susah di’tenangkan’ cuma pakai taco)

 

0407171227.jpg

Pengennya sih saya coba semua makanan dari truk makanan yang berbeda-beda ya….cuma kantong ini gak kuat euy! Rata-rata harga makanannya $10, kalo setiap hari makan , habis $50! hi..hi..hi..mending buat beli baju atau sepatu deh! ha..ha….ha..

Mungkin nantinya saya berhasil nyoba semua truk makanan, tapi satu minggu sekali saja ya….;-)

O iya…yang enak ni ya…di pusat kota di Amrik banyak ruangan terbuka yang memang sengaja dibuat untuk pekerja-pekerja kantoran untuk ngaso, ┬ábaik untuk istirahat ataupun ya makan. ┬áDi gedung saya, juga disediakan ruangan terbuka, cuma berhubung cuaca masih dingin dan berangin, tidak banyak pekerja yang memanfaatkan ruangan terbuka ini.

Ini saya foto dari lantai enam, tempat saya bekerja, kebetulan shrubnya lagi pas berbunga..cantik ya!

0407171316b.jpg

 

 

 

 

 

 

Sudah Bergaya Amerika kah Saya?

Dulu waktu belum hijrah ke Amrik,┬ásaya kebetulan kerja di perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri, yang oleh rekan-rekan kerja, jahil kami kasih istilah ‘Tante Amerika’ lah….ha….ha…ha.

Ciri-cirinya┬ási Tante Amerika: ┬ákalau ngomong┬áselalu diselipin bahasa Inggris, dikit-dikit bilang ‘waktu┬ásaya di Amerika’ , pakai┬ásepatu boots, rambut diwarna ,pokoke wis ‘bule’ lah. ­čśë

saya ingat bagaimana┬ásaya┬ásering terpana melihat gaya┬ási ibu yang ‘Amrik’ bangget.

Ndilalah…saya┬ásendiri hijrah ke negeri Paman sam. (dan┬ásudah resmi jadi warga negara Amerika pula). ┬áLagi menelaah diri..apa┬ásaya juga┬ásudah jadi Tante Amerika ya?

Coba di cek :

Makanan favorit :

Masih nasi putih, boleh dibilang┬ásaya pecandu nasi, kalau tidak ketemu nasi lebih dari 3 hari, yang ada┬ásaya deprived…..atau┬ásakau…ha….ha….ha..Paling panik kalau pas lagi ‘road trip‘,┬ásering kali untuk menghemat waktu, kami cukup makan cepat┬ásaji, hamburger lagi, hamburger lagi. Hari pertama masih kuat, hari kedua, mulai panik, hari ketiga…..kelimpungan cari rumah makan cina buat beli nasi putih tok!!!

Rambut :

Hitam enggak, coklat mungkin tapi bukan gara-gara di cat, gara-gara gak diurus! ha…ha…ha. Ternyata┬ásaya ini tidak betah duduk berlama-lama untuk dicat rambutnya. Haduuuh…pernah nyoba 3 kali….wis kapok!┬áselain┬ási warna tidak nempel, tidak betah nongkrong di┬ásalon dan tidak betah untuk re-do lagi……

Cara Bicara :

Kalau ketemu teman-teman Indonesia, terus terang memang saya paksakan berbahasa Indonesia..bukan kenapa-kenapa..karena pengin tetap nulis di blog ini!!

Memang kadang terselip kata-kata dalam bahasa Inggris, tapi┬ásungguh bukan┬ások bule..karena┬ásudah kebiasaan ngomong dalam bahasa Inggris,┬ásering lupa padanan bahasa Indonesianya….

Yang memang berubah….saya┬ásumpah┬áserapahnya┬ásudah ala Amrik! hi….hi..hi…

Cara Masak :

Meskipun masakan orang Indonesia itu bumbunya njelimet, tapi┬ásaya tetap lebih rela masak makanan Indonesia….padahal orang┬ásini cukup pakai garam , merica,┬ásudah jadi deh itu masakan….

Warna Pakaian :

Kebanyakan orang Amerika itu riweh sama yang namanya memakai baju sesuai musim. Ibaratnya kita musti kayak bunglon, menyesuaikan warna pakaian dengan warna alam sekitar.

Warna putih konon tidak boleh dipakai setelah hari Buruh. Warna koneng (aka mustard) , warna merah anggur, identik dengan musim gugur.

Di musim dingin, ekspektasinya makai baju hitam, abu-abu. Cuma di musim┬ásemi atau panas ‘boleh’ pakai baju bunga-bungan atau warna warna cerah.

yaaaaaaaah bosaaaaaan!!

Ternyata dalam soal memilih warna, saya masih sangat tropikal sekali.

Dulu┬ásaya tidak ngeh┬ásering dikomentari ‘You like color‘ -ternyata ya , ya itu,┬ásebagian besar orang Amrik kurang ‘embrace‘ warna….tidak┬áseperti orang Indonesia yang┬áselalu cerah dalam berpakaian ­čśë

Cara Berkendara :

Jelas lebih tertib…bukan kenapa-kenapa, bayar tiketnya mahaaaaaaaaaaal!! belum lagi urus asuransi. malas deh! ┬áDulu┬ásaya tergolong┬ásuka ngebut di jalan tol,┬ásekarang mah mana berani…(meskipun kepingiiiiiiiiiiin banggett!!! ),

Cara Belanja :

Ini jelas saya Amrik banget! Yang pasti nunggu diskon! pakai kupon atau cari perbandingan harga yang lebih murah! Keluar masuk toko barang bekas, nyantai┬ásaja. Harus bermerek? Tidak mampu..ha…ha….ha..

O iya..disini kan konsumen dibolehkan mengembalikan barang yang mereka beli, ini jelas jadi kebiasaan┬ásaya…kik..kik..kik.┬ásering kali┬ásaya beli barang, tidak mikir, cuma bawaan mau,┬ásampai di rumah..ya koq tidak┬ásreg ya…ya┬ásudah balikin┬ásaja. Coba kalau di Indonesia…mana bisa????!!!

 

 

 

 

 

Belanja Belanji ala Amrik

Belanja di Amrik itu buat saya lebih murah dibanding belanja di Indo. Waktu mudik tahun 2015 lalu, yang ada saya bingung pas belanja di toko-toko di Jakarta, Indonesia….koq tidak ada diskon yak??? Jadilah saya beli ini itu harga ‘retail’…Duh gak rela banget rasanya!

Kenapa gitu? di Amrik, ada pepatah ‘Never buy things full price‘ – karena konsumen tahu kalau barang-barang di toko PASTI akan ada promosi di kemudian hari, jadi kita ‘pantang’ yang namanya beli barang tanpa potongan

Saya sendiri, yang kebetulan juga kerja di toko pakaian, mengerti sekali pernyataan ini dan memang benar kalau nantinya, barang-barang yang baru datang (new arrival), pasti akan dikenakan promosi cepat atau lambat.

Di Amrik, sebagian besar hari libur kalender boleh dibilang identik dengan promosi : dimulai di bulan Januari, hari peringatan Martin Luther King, Februari :  hari Presiden dan Valentin, Maret hari Paskah, Mei: hari Ibu, Memorial, Juni hari Bapak; Juli hari Kemerdekaan, September : hari Buruh, October : Halloween, November : Thanksgiving, December : Natal.

Dari hari-hari tersebut, yang boleh dibilang hari potongan besar-besaran itu :

  • Hari Memorial : hari Senin terakhir di bulan Mei – kalau mau cari barang-barang musim dingin dengan hari paling murah
  • Hari Kemerdekaaan : 4 Juli – dimana toko-toko boleh dibilang harus menghabiskan produk-produk musim semi mereka
  • Hari Buruh : hari Senin pertama di bulan September – peralihan ke musim gugur, waktu terbaik untuk beli barang-barang musim panas, seperti baju renang, perabotan taman
  • Thanksgiving : buat yang merayakan Natal, pasti tahulah!
  • Setelah Natal : buat yang tidak merayakan natal, toko-toko biasanya mengadakan potongan besar-besaran karena musim ‘belanja’ boleh dibilang sudah berakhir

Selain menunggu hari-hari ‘besar’ di atas, kalau diperhatikan, hampir setiap saat, toko-toko di Amrik selalu saja pasang iklan potongan ini itu :

2016-07-19

Trus, gimana kita tahu dong, potongan mana yang paling OK?

Saya pribadi, kalau mau beli baju terkini, ya tunggu potongan, paling tidak 30%, beberapa toko seperti Ann Taylor, LOFT, The Limited malah berani kasih potongan hingga 50% untuk koleksi terbaru mereka.

Kalau anda tipe penyabar, ya tunggu saja sampai koleksi berikutnya datang, karena itu berarti koleksi sebelumnya harus di korting harga (clearance istilahnya).

Hati-hati juga dengan barang-barang clearance ini, tidak jamin harga selalu lebih murah….Dari pengamatan saya sih, harga barang-barang clerance benar-benar lebih murah kalau ada potongan lagi , extra 60% itu paling TOP deh.

Lagi-lagi saya yang biasa memperhatikan promosi toko-toko yang berbeda-beda, mending tunggu sampai potongan 60% deh.

Itu kalau toko-toko individu ya, kalau toko tipe tipe department store,┬áseperti Macy’s, Dillard, JC Penney, tunggu sampai mereka promosi dan selalu gunakan kupon yang bisa berlaku setelah harga promosi

Selain promosi, kupon, ya kita sebagai pembeli juga harus tahu harga ya.

Kira-kira, mau gak beli kalung seharga $60 misalnya?! Kalau saya sih ogah….ha…..ha…..ha..

Selamat belanja!

 

Mari Belajar Berkemah : Tempat Perkemahan

Tempat Perkemahan atau camping ground secara umum bisa dibagi dua :

  • Yang di kelola pemerintah : US Forest Service, US National Park
  • Yang dikelola swasta : KOA, Yogi Bear, Black Forest dll

Yang dikelola pemerintah biasanya berada di dalam taman/hutan itu sendiri, sementara yang di kelola swasta biasanya berada di luar taman/hutam alam , sekitar 15 mil – 30 mil.

Harga antara kedua tempat perkemahan tidak terlalu beda, terakhir kami pesan tempat untuk dua malam di tempat perkemahan pemerintah itu $58, sementara di perkemahan swasta $64.

Dua-duanya bisa di pesan online.

Tempat perkemahan yang dikelola swasta biasanya lebih banyak pilihan : tenda, mobil kemping pribadi, kabin, atau sewa camper dari mereka. Dan kemungkinan tersedia lebih banyak fasilitas tambahan seperti kolam berenang, ruang bermain, lapangan rumput terbuka, tempat cuci baju, kamar mandi lengkap (bukan cuma WC tapi ada buat mandi juga)

Semenara tempat perkemahan pemerintah biasanya cuma dua pilihan : tenda atau camper. Kalau pilih tenda siap-siap tidak ada listrik dan air di lokasi kemah.

Dan tidak semua perkemahan pemerintah ada kamar mandi lengkap, lebih sering perkemahan pemerintah tidak tersedia fasilitas untuk mandi. Untuk mandi kita harus pergi ke lokasi lain. Jadi siap-siap untuk tidak mandi selama kemping!

Pertama-tama, saya kaget juga ya…gimana tho tidak mandi 2 hari???? yang ada saya pakai bandana untuk sembunyikan rambut saya yang sudah tidak karuan bentuknya! ­čśë

Kalau tidak tahan untuk tidak mandi lebih dari satu hari, bisa pakai sampo khusus kemping – sampo tanpa bilas. 

Saya sendiri pernah memakainya, lumayan, agak ‘segar’ sedikit…..;-)

Di perkemahan pemerintah, ada istilah perkemahan primitif – nah, kalau ada kata ‘primitif’ itu artinya kamar mandinya kamar mandi tipe cemplung, bablas langsung tanpa air (baik untuk cuci tangan atau air untuk bilas kotoran!!). Kalau yang tipe ini mah terus terang saya ogah, yang ada stres duluan karena tidak akan bisa lakukan #2. Dan kalau toh harus memakai fasilitas primitif, saya yang ada bawa semprotan ruang yang berbau netral, jadi saya kudu semprot dulu itu toilet sebelum masuk.

Di setiap negara bagian, aturan tempat perkemahan bisa berbeda-beda, tergantung bagaimana pemerintah lokal mau menanganinya.

Contoh : di perkemahan di propinsi-propinsi bagian barat Amrik, sudah umum terlihat larangan untuk tidak meninggalkan sisa makanan di lokasi tenda. Pemakai tenda di haruskan membersihkan meja piknik tempat makan sebersih mungkin!

Kami bahkan pernah kemah di mana pengunjung harus menggunakan shelter tertentu untuk makan – tidak boleh sama sekali makan di lokasi tenda kita berada. Alasannya sama, yaitu untuk menghindari binatang-binatang liar (beruang terutama) berkunjung dan sibuk mengendus-ngendus tenda anda.

Dan sampah makanan harus disimpan dimobil atau di buang ke tempat sampah yang sudah ditentukan – dan si tempat sampah ini boleh dibilang ‘terkunci’ – untuk mencegah binatang liar membuka dan mengambil sisa makanan.

Jangankan sisa makanan, tidak usah heran kalau melihat ada larangan untuk tidak meninggalkan benda-benda yang memiliki aroma harum seperti : bedak, penghalus kulit, parfum, deodoran di tenda- karena kemungkinan binatang-binatang liar bisa mencium barang-barang tersebut dan tertarik untuk mengambilnya.

Tempat perkemahan terakhir itu kita tidak boleh mencuci peralatan masak di lokasi. Sebetulnya aturan ini tidak baru sih, cuma kalau dibanding dengan tempat perkemahan lainnya yang pernah kita inapi, perkemahan ini ‘kelihatannya’ cukup ‘memadai’ fasilitasnya : bisa beli kayu api unggun di pintu masuk lokasi, bisa beli es (jarang-jarang perkemahan pemerintah ada fasilitas ini!!!)

Tapi ternyata dalam hal pembuangan sisa makanan, perkemahan ini tetap tidak ‘modern’. Padahal saya sudah bawa sabun cuci biodegrable! jadilah terpaksa air cucian ditampung dulu, untuk kemudian dibuang di tempat sampah. Berabe juga ya?

Intinya memang kalau kita berkemah itu, kita meminimalkan menggunakan bahan-bahan modern, selain untuk ‘mempertahankan’ keaslian dan keasrian lingkungan alami juga untuk meminimalkan efek kimia ke alam dan binatang-binatang liar di lokasi dan mengurangi polusi.

Gimana? Masih mau kemping? ­čśë

 

 

 

Mari Belajar Berkemah : Barang-Barang Yang Harus Dibawa

Berkemah sebetulnya kata relatif baru buat saya, baru dalam arti baru 10 tahunan….yaitu sejak saya pindah ke Amerika.

Sebelumnya saya tidak pernah berkemah sama sekali, jangankan kemah di alam, kemah di belakang sekolah sebagai pramuka saja tidak pernah! ­čśë

Eh…bentar…pernah sih kemah sekali, waktu SMA, itu juga karena mau ngecengin kakak kelas yang anggota pencinta alam, sehabis itu kapok wae!

Saya mengkategorikan diri sebagai anak kota – senangnya nangkring di mal, kafe, rumpi-rumpi, belanja- belanji. Suami kebalikan 180 derajat! Dia alergi dengan mal, ataupun hiruk pikuk kota, maklum, dia besar di taman propinsi gitu loh.

Jadilah setelah imigrasi ke Amrik, saya dididik untuk berkemah ria.

Di tulisan saya kali ini, saya mau berbagi tip dalam hal berkemah, terutama untuk pembaca yang masih amatir dalam hal perkemahan. ­čśë

Yang jelas ni..saya sudah lebih dari 10 kali berkemah ria, tetap saja tiap kali berkemah, adaaaaaaaa saja yang ketinggalan!! ­čśë

Dari mulai ketinggalan atap tenda (ini parah!), grill kompor, pemantik api, selimut dan seterusnya.

Tidak usah panik, jalani saja!

Mari mulai dengan

Perlengkapan Dasar Utama Berkemah :

  1. Tenda – hari gini, berbagai jenis tenda tersedia di banyak toko, dari mulai Walmart, Target, sampai toko-toko khusus kemping : ProBass, Cabellas, REI. Quest, dsb. Merek tenda juga amat beragam, punya kami kebetulan mereknya COLEMAN – yang memang nama yang berakar di dalam hal perkemahan. Tenda juga tersedia berbagai ukuran : satu hingga 10 orang plus hewan peliharaan! ­čśë
  2. Kompor – mau pilih kompor satu atau kompor 2. Punya kami kompor dengan 2 tempat memasak. Nah, yang harus di perhatikan, kompor seperti kami ini ada bagian lepasan : grill, penyambung gas dan gas nya sendiri. Pastikan kompor anda , komplit semua bagiannya. Saya pernah bawa kompor, tapi lupa grill, sekali lagi lupa penyambung gas, lain kali lupa beli gas! halagh! ­čśë
  3. Kantong tidur (sleeping bags) , tipenya juga beragam, dari yang mahal sampai yang murah. Yang membedakan harga itu kehangatan si kantong tidur. Terus terang saya tidak terlalu ‘pusing’ karena kita selalu usahakan kemping di musim panas dan sering kali juga kami selalu bawa selimut tambahan. Tapi memang harus di akui, merek tertentu kualitasnya lebih OK (dan lebih hangat!)

sleepingbags

Kayaknya 3 hal di atas itu the must bring items ya, karena kalau tidak bawa salah satu dari 3 barang di atas yah..pulang saja deh….;-)

Setelah 3 barang utama di atas, dibawah ini adalah barang-barang keperluan kedua (secondary)  tapi juga lumayan penting untuk di bawa saat kemah :

  • Matras – kami sendiri pernah melakoni tanpa matras (hanya kantong tidur), pernah dengan alas foam tipis, pernah juga dengan matras tiup dan terakhir dengan matras ‘memory foam’.┬áSetelah melakoni semuanya, kesimpulan saya, kalau ada ruang di mobil bawalah matras tiup plus alas tipis untuk melapisi matras dengan tenda di kala hujan. Agak-agak capek memang untuk meniup si matras kalau tidak punya pompa elektrik, tapi matras tiup paling nyaman dan paling tidak makan tempat.
  • Sepatu : tergantung kemahnya dimana? kami kebanyakan kemah di daerah dimana banyak kontak dengan air, saya pilih pakai sepatu ‘mesh‘, tetap tertutup (bukan sandal), tapi cepat kering. Memang di pasaran ada sandal outdoor┬á– merek Teva contohnya, cuma saya paranoid kalau kaki terinjak lumpur atau binatang, jadi saya selalu pilih sepatu tertutup. Sepatu yang saya contohkan disini sepatu lama, tapi favorit saya , karena ya itu, mudah kering dan kaki tetap terlindung.wp-1468063545793.jpg

Sementara suami selalu pilih pakai hiking boots. Sekali lagi tergantung terrain yang akan dilakoni. Merek sepatu outdoor yang bagus itu biasanya Merrel, Columbia, North Face, J-41, Teva. 

  • Obat nyamuk : ini sudah pasti! dan jangan pilih yang imut-imut – yang berupa gelang misalnya. Pilih yang ‘hardcore‘ karena serangga di hutan ganas!Pilih yang┬áDeep Wood istilahnya. Memang beberapa orang takut akan ‘racun’ dari si obat nyamuk, jadi pilih yang tanpa DEET, tapi berdasarkan pengalaman, saya dan anak selalu kena gigit serangga, karena kami berdua bermain di air dan malas untuk mengoles si obat nyamuk lagi. Mau yang semprot atau oles, sama saja, tapi jangan cuma pilih yang di klip, kalau mau pilih yang klip, itu tambahan, tetap pakai juga yang semprot.Dua kali sudah saya dan anak kena gigitan serangga setelah pulang kemping…weleeeeeeh….BT banget deh kalau sudah begini…gatelnya tidak kelar berhari-hari! Ini salah foto salah satu bekas gigitan serangga di dekat siku saya…ini cuma satu dari 5 tempat gigitan lainnya di kaki dan tangan saya!!0717161608.jpg
  • Plastik Terpal – setelah kehujanan lebih dari satu kali, saya sarankan kalau selalu bawa terpal deh. Kenapa gitu? Karena bahan tenda kebanyakan dibuat dari plastik ringan – untuk kesejukan tenda, supaya adem istilahnya, tapi juga yang artinya kalau kena hujan, terutama hujan deras, bukan tidak mungkin akan merembes. Kalau mau bawa plastik terpal, jangan lupa bawa tali atau bungee rope untuk menyangkutkan si terpal ke pohon atau ke tanah.

0709160724b.jpg

  • Peralatan makan : piring kertas, sendok, garpu (dan pisau). Mangkuk dan gelas kurang perlu, karena selalu minum langsung dari botol.
  • Peralatan masak : panci, penggorengan, pembuka kaleng, pisau, talenan, sendok pengaduk masakan.
  • Obat-obatan : plester, antibiotik, pembersih luka, obat turun panas, obat setelah digigit serangga
  • Senter! perlu sekali untuk penerangan ke kamar mandi dan di sekitar kemah, ingat loh, perkemahan biasanya minim fasilitas penerangan alias lampu.
  • Lighter & Fire starter┬á– kemah tanpa menyalakan api unggun, ibarat ke outlet tapi tidak belanja ;-). Kadang tidak selalu gampang menyalakan api dengan modal lighter dan kayu, dengan pakai fire starter, api jadi lebih mudah dinyalakan.
  • Kursi lipat – secara umum, di kebanyakan lokasi perkemahan selalu ada meja dan bangku piknik, nah kursi lipat ini biasanya untuk dekat dengan api unggun. ┬áTidak penting-penting amat, tapi enak untuk dipakai ngeriung di api unggun
  • Tisu alias paper towel – buat ngelap ini itu
  • Selimut tambahan
  • Bantal
  • Taplak meja lipat – buat melapisi si meja piknik
  • Sandal jepit – buat bolak balik ke kamar mandi kan! ­čśë

wp-1468063541126.jpg

Sudah selesai daftar diatas, ada lagi ni daftar barang-barang tambahan lainnya, yang tidak perlu-perlu amat, tapi nice to bring

  • Hammock –┬ábuat nyantai di antara pohon…;-) .

Kalau jaman awal-awal kemping, hammock yang tersedia selalu yang jala-jala, yang riweh buat di pasang dan riweh buat disimpan; sekarang ini, ada hammock baru yang terbuat dari bahan dan mudah dibongkar pasang.

  • Lentera – tidak perlu-perlu amat, tapi menambah efek romantis – lah apa coba?? Eh serius deh, lentera tidak selalu perlu, tapi bisa dipakai untuk penerangan di sekitar tenda – selain api unggun dan senter.
  • Tongkat jalan alias walking stick :┬ásilahkan diketawain, masih muda begene koq sudah pakai tongkat gitu? ha…ha…ha..tapi bener deh, tongkat jalan ini menolong sekali saat naik turun trail. Tongkat ini juga merekanya banyaaaaak dan harganya bisa diatas $100!! saya pilih yang harga tengah-tengah, yang penting fungsinya lah!
  • Biogradeable Camp Soap : untuk nyuci peralatan dapur tapi tidak meninggalkan bau wangi – yang di banyak tempat kemah dilarang keras.
  • Funky Flames : ini mah beneran buat lucu-lucuan , bisa buat si api berwarna – warni, seru saja gitu ­čśë

funkyflames (2)

  • Peralatan masak tambahan: pembungkus aluminum, pemanggang roti, tusukan buat masak hotdog

Gimana? Riweh? Tidak lah. Asik dan seru koq!

Yuk kemping yuk!

Jalan-Jalan : Madison, Wisconsin (bagian 2)

Hari Kamis, 7 April 2016.

Berhubung mobil saya itu cuma muat untuk 2 orang, saya sewa mobil dari Enterprise untuk bisa jalan-jalan dengan sepupu saya. Enaknya,  lokasi hotel saya Best Western West Towne Suite, itu berdekatan dengan lokasi penyewaan mobil Enterprise. Jadi saya tinggal minta jemput,  5 menit kemudian mobil jemputan datang, 10 menit kemudian saya, si kecil dan sepupu sudah melaju ke arah pusat kota Madison.

O iya, lupa bilang kalau Madison itu ibukota negara bagian Wisconsin, dimana di sini juga ada universitas besar, yaitu Universitas Wisconsin Madison. Kota Madison boleh dibilang diapit 2 danau besar, yaitu Mendota dan Monona.

Karena letaknya di utara, ada perbedaan cuaca yang cukup jauh antara tempat saya tinggal, Louisville, KY dan Madison, WI. Waktu saya berangkat, cuaca di Louisville sudah mulai hangat, sepatu boots sudah saya masukkan ke lemari, cukup pakai baju hangat ala kadarnya tapi di Madison, temperatur lebih rendah. Jadilah saya pakai baju hangat, rompi dan jaket kulit.

Kami sengaja parkir agak jauh supaya bisa jalan kaki melihat ini itu di pusat kota. Sama sepupu, dipilih untuk menyelusuri jalan State, di jalan ini bisa ditemui berbagai toko-toko unik, rumah makan, bar dan lain sebagainya.

Nah, State Capitol Building atau Balai Kota gitu ya? lokasinya di pusat kota Madison, sedikit berbeda dengan gedung-gedung balai kota yang pernah saya kunjungi, balai kota di Madison letaknya di tengah-tengah square. 

Selain itu juga, balai kota Madison itu strukturnya kalau dilihat dari atas seperti huruf X, di tengah-tengah ada kubah, dimana di puncak kubah ada patung perempuan bernama Wisconsin, sementara di salah satu sisinya ada lagi patung wanita bernama Forward.

Kami juga sempat masuk ke dalam gedung balai kota. Waduh, interiornya mewah sekali! tangga-tangga dihiasi dengan batu marbel (konon dari Itali) besar-besar. Langit-langit di dalam dihiasi dengan lukisan besar.

Malahan di salah satu ruangan, yaitu ruang konfrensi gubernur, seluruh langit-langitnya selain lukisan juga dihias dengan ukiran-ukiran yang semuanya menggunakan emas. Di ruangan ini juga ada tempat perapian terbesar.

Di ruangan lain, seluruh dindingnya menggunakan batuan alami, dimana pengunjung bisa melihat fosil yang tercetak di batu itu sendiri.

Pengunjung bisa ikutan tur keliling balai kota dengan pemandu tur,  kami pilih kelayapan sendiri saja dengan bekal buklet dan peta dari meja tamu.

 

Setelah selesai di balai kota, kami sempat mampir di Children Museum, biar si kecil tidak bosan, bisa main-main biar cuma sebentar. Children Museum di Madison ini boleh dibilang lebih di tujukan untuk anak-anak dibawah usia 5 tahun, untuk anak saya yang 10 tahun, tidak terlalu banyak hal menarik yang dia bisa lakoni. Yang jelas dia bisa manjat-manjat.

 

Dan juga kalau mampir di sini, jangan lupa ke atap, pemandangannya bagus, karena bisa melihat si danau dari kejauhan!

Yang saya sangat senangi dari perjalanan saya ke Wisconsin ini adalah kesempatan untuk makan di restoran Indonesia sebanyak dua kali!! Betapa senangnya hati ini bisa makan makanan tanah air tanpa perlu repot-repot masak!

Restoran Indonesia pertama yang saya kunjungi itu namanya Bandung, lokasinya di jalan Williamson. Kalap? Jelas! Tahu, tempe, otak-otak, lumpia, martabak, saya pesan untuk makanan pembuka!! Untuk masakan utamanya saya pesan nasi goreng untuk anak saya, gulai kambing untuk saya dan sepupu saya pesan udang goreng mentega.

 

 

 

Restoran Indonesia kedua yang saya kunjungi itu namanya JavaWarung, lokasinya di Appleton, Wisconsin. Saya makan disini waktu saya kunjungi teman saya yang orang Jepang, setelah kunjungan saya di Madison.

Disini sistemnya bufet, ketemu juga dengan pemilik resto, Jeng Enny. Yang saya tidak habis-habis comot disini itu lapis surabayanya dan kue gulung mocha…lembut dan enak!!

 

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Mengunjungi Tempat Penyulingan Bourbon

Negara bagian Kentucky, tempat saya tinggal sekarang, boleh dibilang terkenal akan dua hal :

  • Balapan Kuda dan
  • Minuman Bourbon (sejenis wiski)

Waktu pertama kali pindah ke Louisville, Kentucky saya bingung karena melihat patung kuda dimana-mana, diberitahu suami kalau di Kentucky balapan kuda itu tradisi orang sini. Di kota Louisville sendiri, setiap tahun ada festival Kentucky Derby, acara tahunan yang heboh dan ditunggu-tunggu kalangan elit di sini.

Selain kuda, KY juga terkenal akan bourbon-nya. Bourbon itu sejenis wiski, boleh dibilang wiskinya Amerika lah, karena pakemnya bourbon hanya boleh di produksi di Amerika. Konon sumber air alam di KY membuat bourbon lebih khas rasanya dibanding di tempat lain.

Nah di KY, saking banyaknya tempat penyulingan bourbon di sini, pemda setempat membuat atraksi turis, namanya Kentucky Bourbon Trail. Saya yang meskipun bukan penggemar minuman beralkohol;berhubung bukan penduduk asli Kentucky terus terang penasaran dengan si bourbon ini.

Setelah minggu lalu tidak sengaja melewati salah satu tempat penyulingan bourbon, Jim Beam, saya bernegosiasi dengan suami untuk melakoni KY bourbon trail tanpa dia tergoda ingin minum melampau batas.

wpid-wp-1447896474236.jpeg

Jadilah hari ini, Minggu tanggal 15 November 2015, kami memulai petualangan kami menyelusuri KY bourbon trail.

Dari 9 tempat penyulingan di Kentucky, kami pilih penyulingan di timur Louisville, yaitu di kota Lawrenceburg, dimana ada 4 tempat penyulingan yang lokasinya berdekatan ; Four Roses, Wild Turkey, Woodford Reserve dan Town Branch.

Bukan jadi mau singgah ke-empat-empatnya, tapi paling tidak kami ada rencana cadangan lah, karena siapa tahu kami ternyata tidak suka yang satu, bisa pergi ke tempat yang lain.

Pilihan pertama kami adalah Wild Turkey, eh alah waktu sampai di lokasi, ternyata tutup (padahal waktu di cari di Google, tertulis jam operasi untuk hari Minggu). Tu kan?!! Untung kita pilih jalur yang ada 3 pilihan lainnya. Setelah mengecek lewat telpon kami putuskan untuk ke Woodford Reserve.

Seperti halnya lokasi Jim Beam, Woodford Reserve ini lokasinya juga apik, bersih dan ‘tenteram’.

Di gedung utama, pengunjung bisa duduk di lobi yang luas untuk menunggu bus tur berikutnya, sambil melihat-lihat toko suvenir yang menjual produk Woodford Reserve, dari mulai bourbonnya sendiri, bumbu-bumbu dapur, gelas-gelas, sampai pernak-pernik khas Woodford Reserve.

Di gedung utama ini, pengunjung juga bisa membeli tiket untuk tur : $10 per orang, anak-anak dibawah 18 tahun gratis dan mengambil paspor KY Bourbon Trail.

20151115_145855

Jeda antara tur yang satu dengan yang berikutnya itu sekitar 30 menit, tidak terlalu lama. Setiap pengunjung diberikan radio pendengar lengkap dengan ear set jadi si pemandu turis tidak perlu berbicara dengan suara keras tapi masing-masing pengunjung bisa mendengar penjelasan dengan baik.

Dari gedung utama, kami naik ke bis untuk pergi ke lokasi penyulingan.

wpid-wp-1447639431035.jpeg

Gedung pertama yang kami kunjungi adalah gedung dimana awal pembuatan bourbon dimulai. Ada 5 hal penting dalam pembuatan bourbon, seperti yang tercantum dalam diagram ini :

IMG_20151115_141903

Di gedung ini juga, bahan-bahan utama di campur dan di giling bersama-sama untuk kemudian di fermentasi di dalam tong kayu (barrel) raksasa.

Proses selanjutnya adalah proses penyulingan, di ruang penyulingan ada 3 ‘botol’ ukuran besar yang mengingatkan saya dengan botol si jin ‘Jinnie’.

20151115_142526

Selesai penyuingan, tahap berikutnya adalah tahap yang paling penting dalam pembuatan bourbon : yaitu tahap pematangan (aging). Bourbon yang sudah disuling, dituang kedalam tong-tong kayu, lalu di simpan di dalam gedung khusus untuk menyimpan si tong kayu ini.

Masing-masing tong kayu tertera tanggal awal penyimpanan. Untuk mencapai rasa yang diinginkan rata-rata bourbon disimpan tidak kurang dari 6 tahunan.

Untuk mengetes apakah bourbon sudah siap untuk dipasarkan, dalam waktu tertentu, crafter akan mencicipi bourbon yang bersangkutan dari masing-masing tong. Bisa di lihat di beberapa tong, ada bagian yang terbuka, yang tandanya crafter sudah pernah cicipi tong tersebut.

Selesai penyulingan, semua bourbon yang sudah jadi sekarang siap untuk dibotolkan dan dikirim ke pemasok di seluruh penjuru Amerika.

Tur di tutup dengan pencicipan bourbon. Masing-masing pengunjung di beri 2 gelas kecil (shot) bourbon : satu bourbon biasa dan satu lagi bourbon double oak (bourbon yang mengalami proses lanjutan setelah proses utama selesai) dengan satu coklat isi bourbon.

Pengunjung diminta mencicip masing-masing 3 kali. Setiap selesai mencicipi, kami diminta untuk membayangkan rasa ‘awal’ yang kami rasakan. Bourbon, seperti halnya parfum, memiliki 3 tahap perasaan yang berbeda. Perasaan awal, menengah dan akhir.

Rasa awal yang lazim dirasakan oleh pengunjung itu adalah rasa ‘buah’, rasa tengah mulai dari kayu manis, daun mint, sedangkan rasa akhir itu mulai terasa aroma kayu oak, coklat, tembakau, kopi dsb.┬áDiagram ‘rasa’ ini berbeda dimasing-masing bourbon, bisa dilihat di bawah ini.

WDF_Flavor-Wheel_RYE

Waktu saya cicip si bourbon, mblllaaaaaaaaaaaaaaah…..lidah ini langsung protes, dan ternyata bukan saya saja yang tidak bisa ‘menikmati’ rasa bourbon, ada 2 pengunjung wanita lainnya yang juga mengernyitkan dahi seusai mencicipi. Terus terang saya koq lebih senang membaui si wiski dibanding menegaknya. Hi..hi..hi..

Buat saya pribadi, menengok dengan kepala sendiri bagaimana proses pembuatan wiski memberi wacana sendiri buat saya. Dari mulai terkagum-kagum melihat tong setinggi rumah, tumpukan tong kayu setinggi langit dan ‘njelimetnya’ ‘merasakan’ aroma dan rasa si┬ábourbon,┬ásaya lumayanlah jadi mengerti apa itu ‘bourbon‘ tanpa harus jadi penikmat ataupun pecandu. ­čśë

 2015-11-152

2015-11-151

2015-11-15

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Hutan Bernheim

Halo!

Sudah lama ya saya tidak cerita jalan-jalan, memang boleh di bilang bulan Oktober, kami tidak jalan-jalan kemana-mana, antara kerja dan acara pramuka si kecil, yang ada hari Sabtu dan Minggu cuma digunakan untuk beres-beres rumah, padahal bulan Oktober itu banyak acara Fall Festival yang seru-seru. Sedih juga karena kelewatan ikutan acara-acara seperti itu.

Hari ini, boleh dibilang satu-satunya hari Sabtu bebas untuk saya di bulan November. Saya wanti-wanti bilang ke suami untuk jalan-jalan ke hutan Bernheim. Kami terakhir ke Bernheim itu dua tahun lalu waktu ada acara Color of Leaf di bulan Oktober. Kenapa saya pilih jalan-jalan di alam? selain dipaksa berolah raga, juga relatif lebih murah dan juga saya tidak cuma jalan-jalan ke mal (dan yang ada belanja tidak karuan!!)

Hutan Bernheim itu lokasinya di selatan tempat kami tinggal, sekitar 30 menitan. Ongkos masuk kendaraan $5 per mobil, tidak mahal kan?!

Sampai di Bernheim, kami ke lokasi menara pengawas kebakaran, haduh..waktu naik ke atas menara, saya lumayan deg-degan juga..sepanjang menaiki tangga, saya dalam komat kamit ‘jangan lihat ke bawah! jangan lihat ke bawah!’

Meskipun tidak tinggi-tinggi amat, perasaan strukturnya ringkih gitu! (padahal enggak juga sih!!) dan agak-agak sempit (ternyata saya punya ketakutan terjebak di tempat terkukung). Setelah sampai diatas, DUH! leganya!

IMG_20151107_133601-001

Dari lokasi menara kami balik ke tempat pengunjung untuk makan siang di kafe Isaac. Selesai makan, kami ke jalan lagi ke Canopy Tree Walk dimana ada jembatan yang menjulur ke arah ngarai. Keren untuk tempat foto-foto yang jelas!

IMG_20151107_153657

2015-11-07

Selesai jalan di Canopy Tree Walk, kita coba satu jalan alam lagi : Rock Run Loop.┬áYang agak beda di jalur pendakian ini, di tengah-tengah jalur ada sungai kecil – yang karena musim, sungainya kering, hampir tidak ada airnya – tapi berarti kita bisa jalan di tengah-tengah ‘sungai’. Entah kenapa saya hobi jalan di sungai kecil, kecipak kecipuk.

Jadi buat saya jalur ini paling menarik! (tidak bohong kalau saya banyak berselfie ria disini…he…he…he)

2015-11-071

2015-11-073

Cukup 3 pendakian saja kami lakoni hari ini, bukan kenapa-kenapa, cuaca agak kurang mendukung dan juga karena pergantian musim, hari-hari di bulan November memang jadi lebih pendek, baru jam 4:30 pm, hari sudah agak gelap.

Tapi yang jelas, kami senang. Berjalan-jalan di alam itu memang menyenangkan hati (dan kantong!), menghirup udara segar, melihat daun-daun berjatuhan, melihat pemandangan indah, adem hati rasanya. ­čśë