suka duka

Cerita Suka Duka Saya Sebagai Kurir Shipt

Haloooo teman2…sudah lama ya gak nulis..maklum lagi so sibuk…ceile..padahal banyak juga yang mau saya ceritain…

Salah satunya suka duka nge Shipt. Saya cerita kan ya kalau saya ambil kerjaan sampingan sebagai kurir belanja.

Nah..Saya sudah dikategorikan “veteran” loh, karena sudah ambil 50 order…

Kemarin pas saya masuk ke 30 order saya dapat hadiah dari Shipt…2 Kaos dan satu cooler bag. Seneng? Ya seneng aja, karena kan tasnya kepake banget, meskipun saya nanti sudah gak kerja di Shipt lagi.

Kemaren sempet saya di tanya sama temen kerja saya di tempat kerja kedua.

“Kamu nerusin kerjaan kurir kamu?”

Memang sering sik, saya ditanya ngapain sik kerja sampai 3 kerjaan?

Ih..gak oke banget ya kerja jadi “pembantu” orang lain. Gengsi

Ya gak apa2 sik..setiap orang kan boleh punya opini lah.

Buat saya kerjaan Shipt ini bikin saya grounded. (Well balance, sensible). Apa ya? Tahu diri. Sadar diri. Diingatkan biar gak blagu. Diingatkan akan kuasa Yang Maha Kuasa. Diingatkan biar gak lupa diri.

Misalnya ni..Ada satu waktu yang saya sudah ngoyo banget ambil orderan…masih juga gak dapat kena target yang saya mau..($150 per minggu). Sediiihhh banget..karena hari sudah larut malam, maunya sik saya gak amb order lagi..mana hari itu hari terakhir sebelum masuk minggu baru). Setelah saya nelongso karena gak kena target…

Beberapa jam sesudahnya, ternyata ada orderan yang kasih saya tip…jadilah bayaran saya di atas $150 seperti yang saya harapkan…❤❤❤

Atau hari ini saya papasan sama Shipt lain, saya tahu karena si mbak pake kaos berlogo perusahaan. Saya tegur kan. Hi! Saya juga kurir Shipt!

Aduh..si mbak cantiiiikkkk banget. Dandan tapi gak songong gayanya. Dia malah cerita gimana dia lagi nguber bonus hari itu. Saya masih ternganga liat cantik nya si mbak…ternyata orang cantik kayak si mbak gak gengsi an ya kerja “cuma jadi kurir belanja”.

Dia cerita kalau dia biasanya belanja di daerah lain (di Indiana!), tapi karena ada bonus, dia rela ambil order di wilayah lain. Gila! Salut ih!

Atau pas saya antar belanjaan ke rumah manula…beliau untuk bergerak harus pakai walker. Dia minta saya bawa masuk belanjaan ke dalam rumahnya karena beliau akan susah naik turun tangga. Saya mah oke2 aja. Lalu beliau bilang. Maaf ya, anak saya ternyata pulang telat, dia jadi gak bisa belanja buat saya…

Saya yang langsung mikir almarhum orangtua saya yang saya gak sempet nolong apa2 saat mereka butuh bantuan. Ada terselip rasa senang knowing somehow I helped another person in need.

Atau saya jadi sering kali terharu biru sama kemurahan pelanggan yang memberi tip, terutama tip diatas $10. Karena saya pribadi ya itu gede ya. They have no idea how much it makes a difference for me.

Dan seperti juga 2 pekerjaan saya lainnya…Saya tetap sumringah loh kalau dapat shoutout seperti ini

Kesimpulannya?

Saya bersyukur banget jadi kurir Shipt.

Saya bersyukur sama ortu Saya gak diajarin gengsi. Ortu Saya gak pernah memandang jelek pekerjaan apapun, asal itu gak melanggar hukum

Gak nyangka juga kalau Covid, cuaca jelek bisa buka peluang cari uang tambahan.

Yuk, kerja Yuk!

Belajar Mengelola Uang Yuk!

Kawin sama bule ganteng sudah.

Tinggal di luar negeri sudah.

Tampak keren pakai sepatu boots dengan latar belakang salju di musim dingin atau foto cipokan di pantai, sudah.

Ngomong “ke-Inggris-inggrisan sudah.

Punya anak wajah pemain sinetron sudah.

Halan-halan ke Disneyland, ke outlet sambil nenteng tas belanjaan segabruk, sudah.

Nenteng tas minimal Coach, Kate Spade, Tory Burch, sudah. Sukur2 punya Louis Vuitton, Channel, Gucci, Prada.

Nyetir mobil lambang bintang 3 dalam lingkaran, Be-eM-We, Tesla, Audi, sudah.

Selamat ya. Impian sudah tercapai ya?

Nah sekarang coba lihat.

Tabungan atas nama kamu pribadi berapa?

Investasi atas nama kamu pribadi berapa?

Aset atas nama kamu pribadi berapa?

Kalau situ sudah bisa menjawab pertanyaan2 diatas dengan angka2.

Selamat. Anda di jalan yang “benar”

Kalau situ jawabnya:

“Idih..ngapain saya mikirin hal2 diatas? Suami saya kan bule. (Gak ada hubungannya)

Suami saya kan kasih saya semua yang saya mau.

Ah..beruntung sekali dikau, selamat yaaa…. tapi sekali lagi. Pertanyaan2 di atas valid loh.

Saya orangnya bukan tipe perencana ya. Gak ada tuh ceritanya dari awal saya punya rencana 5 tahunan, 10 tahunan dst.

Jadi amat wajar kalau banyak teman2 yang gak ngeh ya, kalau pertanyaan2 diatas itu penting.

Gini. Saya nulis ini bukan nakut2 in teman2, terutama teman2 yang baru mau mulai proses pernikahan dengan mas bule nya.

Tapi semata2 mau berbagi topik yang faktual banget dan nyata.

Inget gak heboh si neng celeb di IG live tahun 2019?

Intinya kita sebagai imigran sangatlah mungkin berada dalam kondisi “susah”: suami bule impian kita ternyata gak seindah harapan. Ada yang segera terlihat di awal2 hubungan, ada yang baru terlihat setelah sekian lama…

Masalahnya macem2 ya. Dari mulai kdrt, pecandu, suka main dan buanyaak lagi.

Saran saya cuma satu: Persiapkan diri untuk menghadapi musibah.

Ada beberapa saran yang saya mau tulis disini. Ini cuma saran loh ya, berdasarkan pengalaman saya pribadi dan dengar cerita teman2.

1. Sekaya apapun mas bule kamu, coba deh kamu cari penghasilan sendiri. Punya penghasilan sendiri itu membanggakan loh. Seberapun gajinya.

2. Kalau kamu punya penghasilan sendiri, dan mas bule tetap mau bayarin hura-hura kamu, coba tabung saja penghasilanmu itu.

3. Mas bulemu super baik? Super kaya? Pastikan kalian punya asuransi jiwa yang cukup buat bayar KPR rumah (kalau ada rumah yg belum lunas) ongkos pemakaman, hutang2.

4. Bangun angka kreditmu. Terutama di Amerika, angka kredit ini hubungannya bisa ke tempat tinggal, cari kerja.

Almarhum ibu sempat menasehati saya untuk buka rekening atas nama saya sendiri.

Kenapa gitu?

Sering kali pasangan kita ceroboh dalam mengelola uang atau cara mengelola uang mereka gak klop sama cara kita.

Juga kata beliau, dengan punya rekening sendiri, kita tahu kalau kita ada cadangan di luar penghasilan mas bule. Dan kita juga gak harus merengek-rengek kalau kita mau beli sesuatu.

Dengan punya uang sendiri yang kita sisihkan, kita tahu kalau kita harus bercerai misalnya, kita ada uang, baik itu uang untuk sewa pengacara dan memulai hidup sendiri, atau uang buat “kabur”

Kata teman saya yang notabene orangnya sangat planned ahead, paling enggak kita punya simpanan yang cukup buat ongkos pulang ke Indo right away dan ongkos hidup di Indo tanpa kerja selama 3-6 bulan.

Saya pribadi sadarnya belakangan ya. Baru belakangan ini, saya “beberes” keuangan.

Mudah2an lain kali saya bisa berbagi lebih detail tentang gono gini keuangan sebagai imigran, istri bule yang gak the haves 😘

Jalan-Jalan : Ke French Lick, Indiana

Hadewhhhh…pandemi bikin saya “gatel” pengen keluar.  Masalah Covid-19, saya pribadi orangnya lebih relaks dibanding anak dan si bapak. Dalam arti, saya gak paranoid kalau ke tempat umum, tapi anak dan si bapak lebih milih buat gak ke tempat umum sebisa mungkin. Beberapa kali saya ajak pelisir, mereka berdua gak mau.

Saya kan ambil cuti akhir tahun, setelah maksa, akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan ke French Lick, Indiana dan nginap di West Baden Springs hotel.

Kami sebelumnya sudah sering mampir di hotel ini, tapi gak pernah nloginap. Dan kami jatuh cinta banget sama ini hotel ini. Jadi keputusan untuk menginap disini, boleh dibilang win-win lah.

Hotelnya hotel tua ya, tapi keren abis. Karena atriumnya itu atrium terbuka dengan kubah raksasa, yang pas jaman ini hotel dibangun, sekitar 1900, struktur seperti ini langka.

Atrium lobi hotel West Baden Springs

Yang bikin saya tambah senang, pas saya baca2 situs hotel, hotel ini ternyata pet friendly hotel. Jadi saya bisa bawa anjing saya !!

Kami berangkat hari Minggu, tanggal 27 Desember 2020.  sekitar jam 2 an. Perjalanan ke French Lick dari tempat tinggal kami itu kira2 1.5 hingga 2 jam an.

Sampai di lokasi, kami langsung bisa masuk kamar. Karena kami bawa anjing, kamar kami di lantai 2, yang memang khusus untuk tamu2 yang bawa binatang peliharaan mereka.

Jendela kamar kami dari lobi, itu anjingku lagi nyariin aku dari kamar

Dari hotel, anjing kami di beri mangkok air/makanan, treat dan kantong 💩.

Kunci kamar bergambar foto hotel

Hari ini, kami niatnya cuma leha2 dikamar dan nikmati alunan musik piano di lobi.

Senangnya dengerin alunan piano dan pergantian lampu di lobi

Untuk makan malam, kami makan di rumah makan, Ohana, pusat kota French Lick. Karena masih suasana Natal, baik di kota maupun di hotel banyak hiasan lampu2.

Pas balik, si anak laper lagi, jadilah kami pesan makanan dari room service, sup bawang dan coklat brownie.

Supnya enak, brownie nya juga enak, gak terlalu manis -saya makan tanpa frosting.

O iya, kamar kami menghadap ke atrium,  jadi kami bisa lihat atrium kapan saya, bahkan bisa nikmati alunan musik dari pemain piano di lobi.

Hari Senin, 28 Desember 2020

Setelah mandi, kami pesan makanan dari resto di lobi hotel. Karena kami bawa anjing, kami tidak bisa duduk makan di tempat yang disediakan resto, tapi bisa makan di tempat duduk yang tersebar di lobi.

Semalam kami putuskan, kalau hari ini kami akan lihat stables di belakang hotel dan akan hiking ke Hemlock Cliffs.

Saya sebenarnya pengen banget horse back riding ya ($45 per orang. 45 menit), cuma anak saya gak mau..ya sudahlah..jadi kami cuma lihat2 kuda saja.

Sebelum ke lokasi hiking, kami sempatkan mampir ke French Lick Wine Distillery .  Karena gak niat2 amat, saya iseng wine tasting , saya pilih $4 buat icip 5 jenis minuman anggur.

Saya sudah pernah wine tasting sebelumnya, jadi agak2 ngeh gitu. Saya bilang kalau saya senangnya minuman anggur yang “manis”. Waktu dikasih daftar minumannya, si mbak kasih tahu mana kira2 yang saya suka.

Dari 30 jenis minuman anggur di daftar saya pilih: French Tickle, Pretty in Pink, French Lick Red, Blueberry dan Mon Cheri.

Tapi sama bartendernya, saya dikasih tambahan 2 :Moscato dan Tropical Frost.

Ternyata,  saya suka sama French Tickle , anggur dari jenis anggur Catawba dan berkarbon, alias fizzy dan Blueberry, anggur dengan rasa blueberry….

jadilah beli making satu botol. Mahal juga ih. Ya gpp lah, sekali setahun….

Hasil icip2 minuman anggur

Setelah icip2, kami menuju ke Hemlock Cliffs. Dari app All Trails, trail yang saya pilih ini dikategorikan cocok buat anak2, boleh bawa anjing, ada air terjun dan jaraknya cuma 1.2 mil.

Hasilnya?! Ini boleh dibilang salah satu trail favorit saya! Gak terlalu terjal, meskipun ada beberapa bagian trail  yang kami harus ekstra hati2 , biar gak jatuh, gak terlalu berbatu atau berlumpur. Banyak tebing2 unik yang kita bisa explorasi.

Selesai hiking, kami balik ke hotel.

Leha2 lagi di lobi sama anak saya…

Selasa, 29 Desember 2020.

Hari ini kami check out ya. Nah, saya pikir, masa sik, sudah nginap di hotel yang pet friendly yang bahkan ada menu makanan khusus buat si anjing, saya gak pesan? Jadilah saya pesan daging gulung ala Mosses (Mosses Meatloaf) untuk sarapan anjing saya di hari terakhir kami disini.

Anjingku makan dengan rakusnya

Setelah check out, kami mampir di indoor go karting. Sebelumnya kami sudah pernah main gokart di sini, dan anak saya selalu suka. Jadi ya mumpung disini, kami sempatkan main.

Selesai main go-kart, kami lanjutkan ke Wilsten drive thru safari . Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena mereka tidak memperbolehkan anjing selama di DT.

Nah..pas saya dan anjing saya nunggu si anak dan bapak ber DT, kami nongkrong depan kandang kanguru. Lucu banget sih kanguru ini, saya pikir.

Selfie sama kanguru dari luar kandang

Pas si anak dan bapak balik dari DT ria, saya bilang kalau saya mau ‘main’ dengan kanguru dan kasih makan jerapah.

Untuk main dengan kanguru, pengunjung cukup bayar $7.50. Di kandang kanguru, selain kanguru, ada Llama Hiram bernama Pacman, 2 rusa, satu laki namanya Guy dan satu cewek, Naomi. Dan ternyata si Guy ini asalnya dari Indonesia!

Si Guy ini anteng banget, gak keberatan di elus2. Kalau si Pacman jahil. Sementara kanguru2 yang bersliweran, ada satu, Sydney yang memang demen dielus2.

Jadilah saya selfie an dong sama Sydney dan Guy…

Buat kasih makan jerapah, pengunjung tinggal beli wortel $2. Saya tadinya gak yakin bakal bisa kasih makan si jerapah, habis saya berasa pendek banget. Tapi ternyata si jerapah bisa nyamperin wortel di tangan saya tanpa masalah…🤩

Setelah wortel ditangan habis, kami kembali ke Louisville, KY.

Meskipun singkat, kami cukup senang dengan pelisiran pendek kami kali ini.

Covid-19 jelas membuat banyak hal2 yang berubah ya. Contoh : kamar kami tidak di bersihkan setiap harinya. Kalau minta ganti handuk, sampo, sabun, botol air, tamu harus minta. Hotel hanya untuk tamu hotel (sebelum Covid-19, bukan tamu hotel boleh masuk). Pas masuk ke area hotel, temperatur kami dicek, nama kami di lihat di daftar kamar mereka, lalu kami diberikan gelang kertas untuk keluar masuk hotel. Gelang kertas ini harus diganti setiap harinya. Masker jelas harus dipakai selama tamu2 wara wiri di ruang umum. Masuk lift, disarankan satu grup. Ribet ya?

Memang sik..tapi kebanyakan tamu2 mentaati aturan koq. Jadi ya saya pribadi gak terlalu khawatir.

Teman2 ada yang pelisir saat Covid-19?

Bermesraan dengan Guy, rusa dari Indonesia

Kamu Punya Terapis Mental?

Saya punya.

Idih. Ngapain pakai ketemuan sama terapis?

Nggak percaya Tuhan ya?

Gak suka shalat sik?!

Makanya berdoa!

Masak gitu aja butuh terapis?

Begitu kali ya komentar kebanyakan teman2. Ya gak apa2 juga sik. Pilihan kalian buat berkomentar.

Jujur saya disini merasa sangat kewalahan karena semua2nya harus saya lakoni sendiri. Dalam arti, saya tidak ada ortu atau sanak saudara yang saya bisa datangi / hubungi sesegera mungkin.

Teman2? Ya ada sik. Cuma pernah saya curhat gitu, tapi reaksinya nyakitin aja, yang ada saya ciut hati.

“Apa susahnya cerai?” (Memang situ mau bayarin ya?)

“Namanya lelaki, nafsunya lebih gede”

“Itu kan memang tugas kamu sebagai istri” (si suami make piring , tempat tidur, kamar mandi dsb juga kan??!)

Ya udah sabar aja…(beli dimana ya si sabar ini?)

Dan…seterusnya…

Yang ada saya tambah emosi. Tambah marah. Kheki.

Saya butuh “orang ketiga” tempat saya cerita apa adanya. Orang ketiga yang “waras”, tidak bias, punya latar belakang/pengetahuan ilmiah tentang mental, perilaku manusia atau istilahnya psikologi.

Orang ketiga yang tujuannya membantu saya menjadi versi yang lebih baik, tanpa menghakimi saya.

Orang ketiga yang saya tahu tidak akan comel sama cerita saya atau sibuk nyebar gossip.

Setelah capek dicela sama teman sendiri, dan curhatan saya dijadikan bahan gunjingan sedap, dan juga menyadari kalau kesehatan mental saya menurun drastis. saya putuskan untuk cari terapis.

Dari terapis, saya belajar meluangkan waktu untuk saya sendiri. Dari terapis saya belajar untuk menyibukkan diri dengan hal2 yang positif . Dan yang paling penting, saya belajar mengenali diri saya sendiri.

Buat saya punya terapis itu perlu banget, terutama buat mental saya.

Teman2 pembaca ada yang punya terapis?

Warisanku Kenanganku

Beberapa bulan setelah ibu meninggal bulan April tahun 2019, salah satu kenalan nyeletuk “Ngomong2 lo dah dapat jatah warisan blom?”

Saya dengernya cengengesan…

Warisan? Haduh sepertinya kata ini sudah lama gak nongol di kosa kata saya ya. Bukan kenapa2, sejak pindah ke Amrik, boleh dibilang saya harus “ngerelain” meninggalkan dunia Indonesia saya.

Dari masalah makanan, ngobrol pakai bahasa Indonesia, cara beberes tempat tidur, cara bab, cara masak, berkunjung ke kerabat, bersapa ke kerabat kapan saja, menghadiri hajatan, baik itu hajatan hura2 ataupun hajatan duka cita. Termasuk juga mikirin warisan.

Saya sih tahu diri sekali ya kalau saya tidak turun tangan saat orang tua sakit hingga beliau2 meninggal. Jadi saya juga amat sangat tahu diri gak usik2 masalah warisan tetek bengek.

Harapan saya cuma semoga warisan ayah ibu berguna buat orang2 yang memang butuh.

Lagipula kalau tho saya dikasih warisan..tetek bengeknya lebih bikin pusing.

Kalau ditanya, “Memang kamu gak mau gitu “harta” ayah atau ibumu?”.

Jujur, ada beberapa barang ayah ibu yang pengen saya bawa ke sini. Kebanyakan bukan masalah nilai nominal, tapi lebih ke masalah kenangan, lebih masalah ke ‘sesuatu yang mengingatkan saya kepada almarhum ayah dan ibu’.

Untungnya ya, sewaktu beliau2 masih hidup, saya beberapa kali dikirimkan barang2 dari Indo. Yang sampai saat ini saya simpan baik2, apakah itu perhiasan berharga maupun boneka panda dari Cina.

Mungkin saya satu2nya orang dewasa yang masih suka memeluk boneka panda ya? Ya gak apa2.

Nah ngomong masalah kenang2 an. Berhubung saya orangnya praktis, saya pikir daripada ngarep yang gak jelas, mending saya create sendiri kenang2 an dari ayah ibu sebagai warisan mereka kepada saya.

Mau tahu apa yang lekat di ingatan saya tentang “harta almarhun ayah ibu” dan sukur banget saya berhasil “jadikan” warisan / kenang2 an buat saya?

1. Pemisah ruangan / tirai kerang

Saya ingat antara wastafel dan ruang TV, ibu taruh pemisah ruangan terbuat dari kayu yang ada kaca warna warni (stained glass). Entah kenapa saya senang sekali dengan pemisah ruangan tersebut.

Saya juga ingat kalau suatu waktu di depan pintu kamar saya, saya gantung hiasan kerang jadi seperti tirai.

Untuk kenangan ini saya kebetulan nemu pemisah ruang yang makai kerang di toko World Market beberapa tahun lalu. Pas lihat ini saya langsung ingat rumah Cibubur. Jadilah saya beli.

2. Lampu stained glass

Di ruang makan kami, saya ingat banget, ibu pasang lampu stained glass. Kalau tidak salah warnanya dasarnya putih, ada burung biru. Seperti juga pemisah ruang, lampu ini salah satu favorit saya.

Dilalah, saya nemu lampu stained glass di garage sale. Kalau tidak salah, saya beli $10 , tapi rasanya seperti punya harta karun loh!

Saat ini lampu cantik ini belum punya tempat yang cocok, tapi saya akan selalu bawa lampu ini kemana pun saya pergi

3. Tanaman

Almarhum ibu itu, setiap Sabtu/Minggu pagi rajin keluar, untuk ngurus tanaman2 beliau. Beberapa tanaman yang saya kengenin dari halaman rumah kita yaitu bunga melati, kembang sepatu, bunga kenanga, bunga sedap malam dan banyaakkk lagi.

Berhubung saya tinggal di negara 4 musim, gak mungkinlah saya bisa nanam pohon2 tersebut. Tapi pas saya pindah ke KY yang notabene cuacanya lebih banyak panasnya dibanding pas tinggal di MT, tahun lalu, saya nekatkan beli bunga melati (baca cerita saya disini).

Tahun ini saya lagi2 nekatkan beli tanaman kembang sepatu. Sengaja saya pilih warna kuning, karena saya ingat almarhum ibu punya bunga sepatu campuran merah/kuning. Kelopaknya kuning, tapi bagian tengahnya merah merona. Cantik banget.

Ada banyak lagi sik ya kenang2an yang saya pengen create. Misalnya koleksi kristal2 ibu, sabun2 wangi ibu.

Yang saya sekarang sedang cari untuk menjadikan kenang2 an saat tinggal sama ortu menjadi kenyataan adalah sendok teh yang cantik2.

Saya ingat koleksi sendok2 teh ibu. Imut2 dan cantik. Di sini yang namanya sendok teh ya cuma stainless steel saja gitu. Saya sempat lihat di toko asia di tempat saya jual sendok2 teh cantik..tapi belum ada yang saya sreg.

Mudah2 an satu hari saya ketemu ya.

Ada gak teman2 yang punya sentimen saya seperti saya? Yuk berbagi

Selingan Ringan: Makan Martabak Yuk!

Sebagai orang Indonesia kebanyakan, satu hal yang saya paling kangeni dari tanah air adalah makanan.

Sudah 15 tahun di Indonesia, saya tetep lebih milih makan siomay di banding cheese poppers, martabak terang bulan dibanding crepes.

Saya juga orangnya tidak hobi masak, jadi masalah kangen sama makanan Indonesia itu lebih dalem lagi.

Salah satu jajanan Indo yang saya kangen adalah martabak manis. Dulu pas di Indo saya lumayan sering beli dari abang2 yang dijualan di sekitar tempat saya tinggal.

Beda dengan martabak asin yang saya sudah PD bikin sendiri, martabak manis saya gak berani buatnya….

Disamping itu juga saya perhatikan, beberapa kali saya icip2 martabak manis homemade, rasanya kurang pas buat saya. Entah itu ketebelan, atau menteganya gak berasa, atau rasa tepungnya terlalu dominan.

Tapi kemarin itu..sakkkkiing pengennya saya nekat nyoba bikin dong. Iih…dua kali gagal. Keki banget rasanya.

Pertama kayaknya salah komposisi tepung, percobaan kedua, matangnya koq gak rata sik??

Setelah gagal dua kali, saya tanya ke teman saya yang hobi masak. Kata dia komposis tepung, tipe kompor, udara tempat kita tinggal berpengaruh…haaaalaahh..mau repot ya?!!

Manyun lah saya. Ternyata susah yaaaaa…(dan memang ya saya paling sebel bikin penganan yang bahannya tepung)

Nah, gak sengaja dengar ada toko khusus jualan martabak di Philadelphia, PA. Denger2 sik enak…cuma belum sempat2 juga ke sana.🙄

Nama warungnya MartabakOK. Pas liat di Google, kayaknya oke banget memang.

Setelah ngobrol sama teman yang juga hobi makan, ternyata MartabakOK terima pesanan untuk kirim ke seantero Amrik.

Ya sudahlah saya akhirnya menyerah. Sekitar dua minggu lalu, saya hubungi MartabakOK lewat WhatsApp. (pakai nomor telpon di bawah ini ya)

Responnya cepet lagi! Saya bilang saya lagi mikir2 mau pesan. Dikirimlah menu ke saya.

Biar gak usah bayar ongkir, saya pesan 4 loyang:

Setelah MartabakOK terima pesanan saya, mereka kirim tagihan yang jelas rinciannya. Saya lalu bayar via Zel.

Dasar saya pembeli yang bawel, saya minta kotak martabak dimasukkan ke paket juga. (Soalnya saya lihat, kotak mereka koq lucu gitu)

Pembayaran beres, beberapa hari kemudian saya di kirimkan foto nomor pengiriman paket.

Wuahhh..senangnya hati waktu lihat kalau paket on the way

Hari ini pas saya kebetulan keluar rumah, voila ada paket di kotak pos saya! Gak sabaran dong..saya langsung buka..mana juga pas sampai pas waktunya saya break dari tempat kerja.

Masing2 loyang dibungkus dalam plastik kedap udara, yang saya langsung masukkan ke freezer.

Saya cuma buka martabak manis komplit dan martabak asinnya.

Coba lihat …alangkah sedapnya penampilan si martabak?!!

Martabak Manis Coklat, Kacang, Keju

Martabak asinnya juga bolehlah…

Si martabak manis cukup dipanaskan di microwave selama 1-2 menit.

Waduh….enaaaaakkk banget! Menteganya berasa (jarum timbangan langsung goyang2), coklatnya, kejunya!!

Kalau martabak asinnya, saya tidak panaskan, karena saya malah senang makan kalau dingin. O iya, martabak asinnya ada 2 jenis saus. Kalau saya bilang, sausnya kurang pedas dan kurang cuko istilahnya, tapi si bule suka.

Jadi masa karantina terasa sedikit lebih manis (dan gembul) dengan adanya persediaan martabak di kulkas

Kalau ada teman2 yang seperti saya, doyan martabak manis tapi ogah masak, pesen deh ke MartabakOK. Dijamin gak nyesel!

Sebagai imigran, nemu yang kayak gini saya bersyukur banget! Bisa menikmati makanan Indo tanpa mudik!

(tulisan ini bukan promosi loh, cuma murni saking senengnya saya sama pelayanan dan produk martabak dari MartabakOK )

Selingan Ringan : Senangnya Apartemen di Renovasi

Hari ini cerita ringan dulu ya..bukan tentang Covid-19, bukan tentang etika jadi perempuan, ,mau berbagi kebahagian dikit…

Awal tahun ini ,kami diberitahu oleh pengelola apartemen kalau mereka akan melakukan renovasi di semua unit2 apartemen. Renovasinya itu sik cuma ganti tipe lantai dari karpet ke hardwood di dapur, kamar mandi, ruang makan, beberapa bagian hallway seperti pintu masuk, ruang cuci, ganti kabinet dapur, ganti tipe wastafel dan kabinet di seluruh kamar mandi, ganti lampu2 di dapur, ruang makan, patio, kloset.

Sebulan sebelum renovasi di gedung kami dimulai, kami dikasih surat pengingat, dua minggu selanjutnya kami terima surat yang intinya memberi tahu apa-apa yang harus dilakukan dan tanggal berapa hari renovasi kami. Dari surat itu, kami tahu kalau hari renovasi itu tanggal 2 Maret, hari Senin. Kami harus memindahkan mobil yang diparkir di depan gedung untuk tenda para pekerja.

Repot? jelas, karena ruangan yang akan di renovasi itu dapur, ruang makan, 2 kamar mandi, dan satu wastafel. Dapur dan ruang makan kami itu ruang yang paling penuh barang2…ya sudahlah kami jadi ibarat pindahan, semua barang-barang di tumpuk sana sini, ya di ruang TV, ya di kamar-kamar tidur. Kami jadinya juga mengungsi ke hotel dari hari Minggu hingga hari Rabu.

Saya sama sekali tidak nangkringin saat renovasi dikerjakan, berisik juga, lagian saya juga harus kerja.

Jreng-jreng-jreng..pas balik…wuih…ternyata keren banget euy hasilnya. Lemari-lemari dapur dari warna coklat jadi warna hitam, tipe sink juga di ganti, dari dua sink jadi hanya satu tapi lebih deep. Trus lemari nya juga dibuat lebih tinggi, kami jadi ada nambah ruang penyimpanan dengan lemari baru ini. Lemari es, mesin pencuci piring dan kompor diganti dengan yang lebih up to date, ditambah lagi sekarang ada microwave. Kami mah senang banget ya, secara lemari es juga mesin pembuat esnya sudah rusak, dan microwave kami juga mulai ngadat, jadi dapat ganti seperti ini ya pas banget waktunya!

Ruang makan jadi terlihat lebih ‘luas’ dan sleek. Jadilah saya mutar otak buat mengatur ruangan, habis kan gak mau dong, sudah direnovasi jadi keren, masa gak di manfaatin buat di atur lebih apik?

Sebelum renovasi di dekat pintu ada dua tumpuk rak sepatu plus kotak-kotak isi selendang dll, sekarang kotak-kotak saya pindahkan ke ruang cuci, di atas rak sepatu saya cuma taruh nampan dan vas bunga yang sebisa mungkin saya selalu isi dengan bunga , biar siapapun yang datang, langsung disambut dengan bunga gitu…

Senang lainnya,, saya jadi punya ruang kerja lebih luas , kemarin sebelum renovasi, ruang kerja saja mepet banget..tapi sekarang lebih lega’an…

Yang saya senang, saya bisa buat tea station buat saya, coffee station buat yang suka ngopi,

bahkan anjing dan kucing saya pun punya pojokan sendiri sendiri…he…he..he. Itu pernak pernik anjing yang saya selama ini beli dan tersebar dimana-mana sekarang semua bisa ngumpul deh.

Untungnya lagi ya, renovasi unit kami selesai sebelum apa2 ditutup karena Covid-19. Karena setelah renovasi di jalan kami selesai, manajemen menunda renovasi ke gedung berikutnya.

Yang jelas saya sekarang yang ada selalu repot ngebersihin wilayah dapur …ha…ha..ha..karena baru siiik!!

Saya kurang tahu apakah renovasi apartemen itu hal biasa? Kami sudah tinggal di komplek apartemen yang sama sejak 2014, ini pertama kalinya kami mengalami renovasi. Kalau teman-teman pernah mengalami cerita renovasi pas tinggal di apartemen , monggo di bagi kalau mau.

Kilas Balik Singkat 2019

Halo -halo!

Waduh sudah lama sekali ya tidak menulis di sini. Maklum sok sibuk …ha..ha..ha..

Yuk mari menulis lagi.

Mumpung masih bulan Januari 2020 , saya mau buka tulisan pertama di tahun 2020 kilas balik tahun 2019 tentang hal-hal yang saya pertama kali lakoni….

Coba kita lihat, apa saja sih yang ‘pertama kalinya’ di tahun 2019?.

Di tahun 2019 saya mulai bergabung dengan klub sehat dimana saya usahakan ikutan kelas olah raga, baik itu yoga, barre, atau senam di air. Tujuannya ?Kekinian?? Tidak juga sik..yang jelas ya biar badan tetap aktif saja sih, habis kerjaan saya sehari-hari ya nangkring di depan komputer 7-8 jam an…perasaan gak sehat saja gitu. Dan juga biar otak di ‘paksa’ buat melakoni hal-hal baru.  Apalagi kan hari gini jaman perawatan diri ya? self care istilahnya.

Tahun 2019 pertama kalinya saya mengunjungi negara bagian Alabama (AL),  Missisippi (MS), Louisiana (LA),  Georgia (GA) dan New York (NY). Total saya sudah kunjungi 35 negara-negara bagian di US , jadi masih ada 15 negara bagian lagi!  Asikk..mudah-mudahan kalau saya sempat saya ceritakan juga hari-hari saya di 4 negara bagian baru tersebut ya.

Tahun 2019, pertama kalinya sejak saya hijrah ke Amrik tahun 2005, saya di kunjungi teman sebangku saya di SMA. Kami ketemuan di New York, ini boleh di bilang perjalanan solo saya pertama tanpa keluarga. Asik juga ternyata…

 

Tahun 2019 saya pertama kali ikutan kelas belajar bikin coklat,belajar melukits dan dilukis, belajar merawat kaktus, nonton komedi JoKoy, mencoba pengalaman Escape’ dan mendonorkan darah, nonton stripper laki-laki, icip2 minuman anggur di tempat pembuatan anggur lokal

Pelisir ke Dayton, Ohio, naik gondola di Indianapolis, Indiana,menginap dan ikutan main di luncuran air di Great Wolf Lodge, di Mason, Ohio, nyobain rel kereta inclined di Chatanooga, Tennesse

Tahun 2019, saya pertama kalinya menang door prize di tempat kerja…lumayan dapat Roomba….

Di tahun 2019, saya kehilangan ibu saya……. saya resmi yatim piatu………..

Sudah, segitu saja seperti nya ‘pengalaman pertama kali’ di tahun 2019.

Mudah-mudahan di tahun 2020, ada banyak lagi pengalaman pertama kali yang saya bisa lakukan ya!

Sampai ketemu lagi!

 

 

 

 

 

Malaikat Nyinyir

Hari Rabu kemarin (10/16/2019) saya nangis sesegukan.Kenapa?Saya nangis pertama kali karena saya dikasih tahu komentar gak logis dari seseorang. Saya nangis karena saya gak ngerti kenapa orang yang tidak pernah tanya-tanya ke saya koq bisa-bisanya bilang sesuatu tentang saya yang bukan berdasarkan fakta. Saya nangis karena saya merasa capek hati sekali selalu digambarkan sebagai anak yang durhaka, saudara yang tidak tahu diri, kerabat yang hilang, entah dimana.Sementara saya sendiri tidak pernah ditanya apa kabar saya, bagaimana hidup saya disini, bagaimana anak saya.Saya bingung kenapa keharusan akan mengunjungi kerabat hanya dibebankan kepada saya? Apakah karena saya semata-mata yang tinggal di luar negeri? Padahal yang bertanya bukan orang miskin yang tinggal di gubuk 4×4, tapi banyak dari mereka yang paspornya juga sudah penuh dengan cap-cap negara-negara Eropa, Asia, Amerika.Kenapa mereka-mereka tidak pernah menawarkan mau mengunjungi saya di sini? Ngerti banget ya, saya kan cuma tinggal di kota Louisvillle, KY, bukan San Francisco, DC, Los Angeles, Seattle, Denver, Salt Lake City, Chicago, New York, Dallas, Orlando yang layak dikunjungi. #siapaelo #gakpentingMakanya memang saya ya pribadi tidak pernah minta dikunjungi , karena ya itu saya tahu diri dan untuk patokan saya , ongkos ke luar negeri itu besar secara saya sendiri tidak mampu dengan seenak jidatnya angkat koper, pesan tiket begitu saja – which , jangan salah ya, banyak koq teman-teman Indo di sini yang bisa seperti itu, karena mereka memang mampu, tapi bukan saya.Jangankan buat hura-hura, lari di Michigan Avenue di Chicago, untuk datang waktu ayah atau ibu meninggal saja saya cuma bisa gigit jari.(dan nangis saat tahu- yang coba saya rekam di video ya, tapi buat apa juga,karena tidak ada yang bisa bantu saya kan, secara saya bukan orang beken, gak mungkin lah bikin video viral di IG nangis2 trus ada yang nawarin tiket pulang, itu mah dream comes true banget)Capek nangis sepagian, saya coba konsentrasi ke kerja.Lalu, bel apartemen saya bunyi.Siapa ya? Rasanya saya tidak mengharapkan tamu?“Halo”“Hi. Uber eats here?”You must have wrong address, I did not order anything.”This is 10*** apartment 303?”Yes?”Bingung, saya turun ke bawah, buat kasih tahu si mbak Uber alamat yang benar….Pas sampai di bawah, mbak Uber kasih lihat saya orderannya….Astaga.Ternyata memang benar itu makanan untuk saya, kiriman teman saya di LA.Mbak Uber bilang “iya, ini kiriman teman kamu, dia bilang kamu lagi gak feeling well”Saya lagi-lagi nangis sesegukan, tapi kali ini karena saya terharu.Teman saya ini, Ida Ayu Yogeswary namanya, dia sama saya belum pernah ketemu muka sama sekali.Tapi entah gimana kita cocok saja, yang ada kita selalu cerita2 (more like saya selalu cerita-cerita), dia selalu kasih nasihat ke saya buat lihat sisi baik dari segala yang jelek-jelek yang saya hadapi.Dia pesankan saya makanan steak, komplit.Dia sengaja pesankan makanan ini pas tahu saya nangis dan tahu saya sedang sedih dari kemarin.Saya lagi-lagi bingung, ada ya orang seperti Ary yang saudara bukan, pernah ketemu saja belum, tapi tidak sungkan-sungkan memberi saya dukungan moral. Bilang ke saya kalau ‘You are going to be OK’ atau sekedar bilang ‘You are not alone“Saya bersyukur sekali saya bukan cuma kenal dengan Ary seorang, ada banyak Ary-Ary lain yang sudah membantu saya survived selama tinggal di Amerika. Teman-teman yang bawakan makanan waktu saya sakit bronchitis dan pneumonia, teman-teman yang adakan pembacaan Quran setelah orang tua saya wafat, teman-teman yang bantu saya waktu pindahan ke OH tanpa pasangan saya, teman-teman yang mengundang saya makan Thanksgiving bareng-bareng , teman-teman yang mengajak saya mencoba hal-hal baru, teman-teman yang menghubungi saya lewat pesan FB sekedar untuk bilang ‘Day, are you OK?”, teman-teman yang mengajak saya ketemuan baik di Jakarta maupun di Amrik, teman-teman yang dengan senang hati menghadiahkan anak saya saat dia ulang tahun jauh dari rumah.Hari itu emosi dan energi saya terkuras habis. Tapi saya tetap harus kerja di 2 tempat, tetap harus jemput anak di sekolah, tetap harus jadi ibu.Waktu jemput anak saya, saya bilang ke dia kalau saya sedang sedih.Dia tanya “Why do you care of what she said Mom?. You know what she is saying is not true”Saya selesaikan tulisan ini di hari berikutnya. Saya putuskan fokus hidup saya adalah untuk mereka-mereka yang memberikan energi positif untuk saya. Hidup terlalu singkat untuk para penyinyir-penyinyir yang merasa paling benar sendiri.

Silahkan anda pakai jaket malaikat anda, tapi coba berkaca dulu,

apa yang anda lihat di kepala anda?

Halo atau Tanduk Merah?

Belajar Yuk Biar Tidak Goblok (2): Apa Itu Women Shelter

Waktu saya hijrah ke Amrik tahun 2005, saya boleh dibilang clueless banget ya.

Meskipun saya anak Jakarta dan pas mendarat di Amriknya , mendarat di kota cilik, tetap saja banyak hal-hal baru, hal-hal berbeda yang saya temui.

Saya ingat suatu sore kami jalan2 keliling kota pakai mobil. Lihat thrift store, pawn shop, youth center dan segambreng istilah asing lainnya yang saya baru dengar saat itu.

Lalu di jalan rindang di daerah tertua di kota saya, saya melihat ada rumah kecil dengan papan “help center”.

Apa itu ya? Pikir saya.

Sekilas saya baca informasi di depan rumah itu : crisis counseling.

Saya tidak kepikiran tentang rumah kecil itu lagi sampai beberapa bulan kemudian saya ada masalah dengan pasangan, saya nekat kabur. Maklum saya kan agak2 dramatis lah. Baru umur 30 an gitu deh….

Saya waktu itu tidak punya mobil ya, jadilah saya jalan kaki. Mau kemana? Pikir saya?

Yang jelas saya tahu saya harus ke tempat aman (safe place istilahnya disini).

Lalu saya ingat ke rumah kecil yang saya lewati beberapa waktu lalu. Saya putuskan untuk pergi ke tempat itu.

Jarak dari tempat saya tinggal ke rumah kecil itu 2.4 mil atau 3.8 kilo.

Jaman itu belum ada telpon pintar ya, jadi saya tahu lokasi semata2 karena saya perhatikan jalan ini dan itu.

Setelah saya sampai disitu, petugas langsung terima saya, tanyakan apa masalah saya dan tanpa banyak bla bla bla lagi saya di transpor ke ‘rumah rahasia’.

Intinya rumah kecil yang saya datangi itu adalah tempat dimana penduduk bisa mencari pertolongan : baik itu makanan, rumah, perlindungan dari pasangan yang pengguna obat, alkohol, abusive, saat merasa putus asa dan lain2nya.

Karena kasus saya saat itu (verbally abused/controlling saya diancam akan dicabut akses ke rekening bank-padahal saat itu saya tidak kerja), dan saya tidak mau balik ke rumah, oleh petugas saya dikirim ke women shelter.

Apa itu sih women shelter?

Women shelter pada dasarnya rumah yang disediakan untuk wanita2 yang mengalami penyiksaan (abused) , terutama fisik.

Women Shelter (WS) ini lokasinya dirahasiakan. Sangat tertutup dari luarnya. Tidak boleh ada yang tahu alamat WS ini dengan alasan keamanan. Cuma petugas dan polisi yang tahu dimana WS ini.

Karena kecenderungan si penganiaya, mereka biasanya terus mengejar si korban sampai mereka temukan. (Ada filem mbak JLo deh kalau tidak salah)

WS ini dibuat sedemikan menjadi tempat aman buat penghuninya. Pintu pagar ada kunci tertentu. Tidak boleh ada pengunjung. Penghuni juga tidak diperkenankan keluar.

Petugas bekerja sama dengan polisi dimana kalau si penganiaya mengadukan si korban, polisi sudah mendapat laporan dari petugas tentang kondisi abused. Jadi polisi tidak akan memberikan informasi apapun ke si pelapor.

Intinya women shelter adalah fasilitas yang tersedia di kota untuk perempuan saat mereka butuh perlindungan dari perlakuan buruk pasangan.

Saya merasa sangat aman dan terlindungi di WS. Dan juga saya bisa tenangkan diri disini.

WS tidak mengenakan biaya apapun. Dan kalau kita minta bantuan tambahan, misalnya menelpon kedutaan, saudara, teman, mereka akan bantu kita.

Saya (dan anak) diberikan kamar sendiri. Kamar mandi, dapur, ruang bersantai. ruang cuci baju ya digunakan bersama penghuni lainnya.

Sabun, sampo, sikat gigi. sisir disediakan, kalau memang kita tidak bawa baju ganti, mereka akan carikan. (Karena kan..kebanyakan penghuni WS kabur tho..sebagian besar mana sempat ngepakin barang2 pribadi…)

Kita boleh tinggal maksimum 7 hari di WS.

Intinya di Amrik, banyak fasilitas untuk penduduknya yang mencari bantuan.

Semoga tidak ada yang menggunakan fasilitas WS ini ya. Tapi kalau pun ada, jangan malu atau ragu. Fasilitas ini ada untuk menolong kita.

Kalau mau cari fasilitas2 seperti WS gunakan kata2 dibawah ini waktu lakukan pencarian.

  • Abuse
  • Domestic violence
  • Abusive
  • Battered
  • Molested
  • Crisis
  • Counseling
  • Help
  • Hotline crisis

C50BC91B-3256-4358-B049-29CF70575A05

 

Eh..pembaca tahu kan ya bagaimana menggunakan mesin pencari?

#belajarbiartidakgoblok

#mypeoplegoblokkatanya