suka duka

Malaikat Nyinyir

Hari Rabu kemarin (10/16/2019) saya nangis sesegukan.Kenapa?Saya nangis pertama kali karena saya dikasih tahu komentar gak logis dari seseorang. Saya nangis karena saya gak ngerti kenapa orang yang tidak pernah tanya-tanya ke saya koq bisa-bisanya bilang sesuatu tentang saya yang bukan berdasarkan fakta. Saya nangis karena saya merasa capek hati sekali selalu digambarkan sebagai anak yang durhaka, saudara yang tidak tahu diri, kerabat yang hilang, entah dimana.Sementara saya sendiri tidak pernah ditanya apa kabar saya, bagaimana hidup saya disini, bagaimana anak saya.Saya bingung kenapa keharusan akan mengunjungi kerabat hanya dibebankan kepada saya? Apakah karena saya semata-mata yang tinggal di luar negeri? Padahal yang bertanya bukan orang miskin yang tinggal di gubuk 4×4, tapi banyak dari mereka yang paspornya juga sudah penuh dengan cap-cap negara-negara Eropa, Asia, Amerika.Kenapa mereka-mereka tidak pernah menawarkan mau mengunjungi saya di sini? Ngerti banget ya, saya kan cuma tinggal di kota Louisvillle, KY, bukan San Francisco, DC, Los Angeles, Seattle, Denver, Salt Lake City, Chicago, New York, Dallas, Orlando yang layak dikunjungi. #siapaelo #gakpentingMakanya memang saya ya pribadi tidak pernah minta dikunjungi , karena ya itu saya tahu diri dan untuk patokan saya , ongkos ke luar negeri itu besar secara saya sendiri tidak mampu dengan seenak jidatnya angkat koper, pesan tiket begitu saja – which , jangan salah ya, banyak koq teman-teman Indo di sini yang bisa seperti itu, karena mereka memang mampu, tapi bukan saya.Jangankan buat hura-hura, lari di Michigan Avenue di Chicago, untuk datang waktu ayah atau ibu meninggal saja saya cuma bisa gigit jari.(dan nangis saat tahu- yang coba saya rekam di video ya, tapi buat apa juga,karena tidak ada yang bisa bantu saya kan, secara saya bukan orang beken, gak mungkin lah bikin video viral di IG nangis2 trus ada yang nawarin tiket pulang, itu mah dream comes true banget)Capek nangis sepagian, saya coba konsentrasi ke kerja.Lalu, bel apartemen saya bunyi.Siapa ya? Rasanya saya tidak mengharapkan tamu?“Halo”“Hi. Uber eats here?”You must have wrong address, I did not order anything.”This is 10*** apartment 303?”Yes?”Bingung, saya turun ke bawah, buat kasih tahu si mbak Uber alamat yang benar….Pas sampai di bawah, mbak Uber kasih lihat saya orderannya….Astaga.Ternyata memang benar itu makanan untuk saya, kiriman teman saya di LA.Mbak Uber bilang “iya, ini kiriman teman kamu, dia bilang kamu lagi gak feeling well”Saya lagi-lagi nangis sesegukan, tapi kali ini karena saya terharu.Teman saya ini, Ida Ayu Yogeswary namanya, dia sama saya belum pernah ketemu muka sama sekali.Tapi entah gimana kita cocok saja, yang ada kita selalu cerita2 (more like saya selalu cerita-cerita), dia selalu kasih nasihat ke saya buat lihat sisi baik dari segala yang jelek-jelek yang saya hadapi.Dia pesankan saya makanan steak, komplit.Dia sengaja pesankan makanan ini pas tahu saya nangis dan tahu saya sedang sedih dari kemarin.Saya lagi-lagi bingung, ada ya orang seperti Ary yang saudara bukan, pernah ketemu saja belum, tapi tidak sungkan-sungkan memberi saya dukungan moral. Bilang ke saya kalau ‘You are going to be OK’ atau sekedar bilang ‘You are not alone“Saya bersyukur sekali saya bukan cuma kenal dengan Ary seorang, ada banyak Ary-Ary lain yang sudah membantu saya survived selama tinggal di Amerika. Teman-teman yang bawakan makanan waktu saya sakit bronchitis dan pneumonia, teman-teman yang adakan pembacaan Quran setelah orang tua saya wafat, teman-teman yang bantu saya waktu pindahan ke OH tanpa pasangan saya, teman-teman yang mengundang saya makan Thanksgiving bareng-bareng , teman-teman yang mengajak saya mencoba hal-hal baru, teman-teman yang menghubungi saya lewat pesan FB sekedar untuk bilang ‘Day, are you OK?”, teman-teman yang mengajak saya ketemuan baik di Jakarta maupun di Amrik, teman-teman yang dengan senang hati menghadiahkan anak saya saat dia ulang tahun jauh dari rumah.Hari itu emosi dan energi saya terkuras habis. Tapi saya tetap harus kerja di 2 tempat, tetap harus jemput anak di sekolah, tetap harus jadi ibu.Waktu jemput anak saya, saya bilang ke dia kalau saya sedang sedih.Dia tanya “Why do you care of what she said Mom?. You know what she is saying is not true”Saya selesaikan tulisan ini di hari berikutnya. Saya putuskan fokus hidup saya adalah untuk mereka-mereka yang memberikan energi positif untuk saya. Hidup terlalu singkat untuk para penyinyir-penyinyir yang merasa paling benar sendiri.

Silahkan anda pakai jaket malaikat anda, tapi coba berkaca dulu,

apa yang anda lihat di kepala anda?

Halo atau Tanduk Merah?

Belajar Yuk Biar Tidak Goblok (2): Apa Itu Women Shelter

Waktu saya hijrah ke Amrik tahun 2005, saya boleh dibilang clueless banget ya.

Meskipun saya anak Jakarta dan pas mendarat di Amriknya , mendarat di kota cilik, tetap saja banyak hal-hal baru, hal-hal berbeda yang saya temui.

Saya ingat suatu sore kami jalan2 keliling kota pakai mobil. Lihat thrift store, pawn shop, youth center dan segambreng istilah asing lainnya yang saya baru dengar saat itu.

Lalu di jalan rindang di daerah tertua di kota saya, saya melihat ada rumah kecil dengan papan “help center”.

Apa itu ya? Pikir saya.

Sekilas saya baca informasi di depan rumah itu : crisis counseling.

Saya tidak kepikiran tentang rumah kecil itu lagi sampai beberapa bulan kemudian saya ada masalah dengan pasangan, saya nekat kabur. Maklum saya kan agak2 dramatis lah. Baru umur 30 an gitu deh….

Saya waktu itu tidak punya mobil ya, jadilah saya jalan kaki. Mau kemana? Pikir saya?

Yang jelas saya tahu saya harus ke tempat aman (safe place istilahnya disini).

Lalu saya ingat ke rumah kecil yang saya lewati beberapa waktu lalu. Saya putuskan untuk pergi ke tempat itu.

Jarak dari tempat saya tinggal ke rumah kecil itu 2.4 mil atau 3.8 kilo.

Jaman itu belum ada telpon pintar ya, jadi saya tahu lokasi semata2 karena saya perhatikan jalan ini dan itu.

Setelah saya sampai disitu, petugas langsung terima saya, tanyakan apa masalah saya dan tanpa banyak bla bla bla lagi saya di transpor ke ‘rumah rahasia’.

Intinya rumah kecil yang saya datangi itu adalah tempat dimana penduduk bisa mencari pertolongan : baik itu makanan, rumah, perlindungan dari pasangan yang pengguna obat, alkohol, abusive, saat merasa putus asa dan lain2nya.

Karena kasus saya saat itu (verbally abused/controlling saya diancam akan dicabut akses ke rekening bank-padahal saat itu saya tidak kerja), dan saya tidak mau balik ke rumah, oleh petugas saya dikirim ke women shelter.

Apa itu sih women shelter?

Women shelter pada dasarnya rumah yang disediakan untuk wanita2 yang mengalami penyiksaan (abused) , terutama fisik.

Women Shelter (WS) ini lokasinya dirahasiakan. Sangat tertutup dari luarnya. Tidak boleh ada yang tahu alamat WS ini dengan alasan keamanan. Cuma petugas dan polisi yang tahu dimana WS ini.

Karena kecenderungan si penganiaya, mereka biasanya terus mengejar si korban sampai mereka temukan. (Ada filem mbak JLo deh kalau tidak salah)

WS ini dibuat sedemikan menjadi tempat aman buat penghuninya. Pintu pagar ada kunci tertentu. Tidak boleh ada pengunjung. Penghuni juga tidak diperkenankan keluar.

Petugas bekerja sama dengan polisi dimana kalau si penganiaya mengadukan si korban, polisi sudah mendapat laporan dari petugas tentang kondisi abused. Jadi polisi tidak akan memberikan informasi apapun ke si pelapor.

Intinya women shelter adalah fasilitas yang tersedia di kota untuk perempuan saat mereka butuh perlindungan dari perlakuan buruk pasangan.

Saya merasa sangat aman dan terlindungi di WS. Dan juga saya bisa tenangkan diri disini.

WS tidak mengenakan biaya apapun. Dan kalau kita minta bantuan tambahan, misalnya menelpon kedutaan, saudara, teman, mereka akan bantu kita.

Saya (dan anak) diberikan kamar sendiri. Kamar mandi, dapur, ruang bersantai. ruang cuci baju ya digunakan bersama penghuni lainnya.

Sabun, sampo, sikat gigi. sisir disediakan, kalau memang kita tidak bawa baju ganti, mereka akan carikan. (Karena kan..kebanyakan penghuni WS kabur tho..sebagian besar mana sempat ngepakin barang2 pribadi…)

Kita boleh tinggal maksimum 7 hari di WS.

Intinya di Amrik, banyak fasilitas untuk penduduknya yang mencari bantuan.

Semoga tidak ada yang menggunakan fasilitas WS ini ya. Tapi kalau pun ada, jangan malu atau ragu. Fasilitas ini ada untuk menolong kita.

Kalau mau cari fasilitas2 seperti WS gunakan kata2 dibawah ini waktu lakukan pencarian.

  • Abuse
  • Domestic violence
  • Abusive
  • Battered
  • Molested
  • Crisis
  • Counseling
  • Help
  • Hotline crisis

C50BC91B-3256-4358-B049-29CF70575A05

 

Eh..pembaca tahu kan ya bagaimana menggunakan mesin pencari?

#belajarbiartidakgoblok

#mypeoplegoblokkatanya

Hidup Glamorku di Amrik

Tinggal di Amerika buat banyak orang itu ibarat mimpi jadi kenyataan, menang lotere milyaran lah.

Banyak orang-orang yang bela-belain akan melakukan apa saja buat bisa hijrah ke sini.

Konon nih..hidup di luar negeri itu serba enak….

Benar atau tidak siiih??

Mau tahu keglamoran hidup di Amrik?

  • Tinggal di Amrik, artinya kita harus bisa berbahasa Inggris. Keren dooongggg…. halah…siap2 untuk dipandang sebelah mata, dicemooh karena aksen kita yang terdengar asing. Jadi coba buang mental “bahasa Inggris saya jelek”, mending langsung ikutan kursus bahasa Inggris kalau memang niat tinggal disini
  • Jangan selalu harapkan kalau kita bisa mudik setiap tahun (meskipun pengharapan orang-orang ke kita, kita seharusnya mudik setiap tahun). Kalau kebetulan Mas bulenya wis royal, banyak duit ya bisa -bisa saja mudik tiap tahun. Atau kita pribadi kelebihan uang yang bisa disisihkan until ongkos mydik. Tapi pada kenyataannya tidak semua pendatang bisa dengan manisnya mudik ke Indo setiap tahun. Saya termasuk contoh imigran kere. Sejak hijrah 2005, baru 2x balik ke Indo.

Kalau ada yang gatel nanya “emang situ gak kerja apa?” Jawabnya, Memang kalau saya kerja kamu pikir gaji saya berapa gitu.

Ini termasuk juga saat ada musibah di tanah air, 2x saya cuma bisa nangis waktu ortu meninggal, karena saya di sini dan GAK MAMPU pulang. Sedih? Banget. Cuma mau gimana lagi, gak mungkin kan bayar ongkos pesawat pakai bulu ketek?

  • Jauh dari sanak saudara dan jangan mengharapkan bakalan dikunjungi. Saya orangnya ternyata tipe “gak apa-apa dan gak minta apa-apa”. Selamat pindah, saya tidak merengek-rengek minta dikunjungi sanak saudara, secara tidak murah ya. Lagian juga saya orangnya males ngerepotin…kalau ada yang punya rejeki lebih pas main ke Amrik, kebetulan “lewat” tempat saya, kalau mau ketemuan ya monggo. Pernah beberapa kali saya koq bego nya ngarep dikunjungi, sempet minta dikunjungi pula…tapi ternyata saya tidak masuk daftar “penting untuk ditengok” …ya wis. Gak apa-apa.
  • Jangan harapkan bantuan dari tanah air…(jauh aja!!) Dulu di Indo, duit kurang minta ortu. Sakit minta dikelonin ortu. Di sini siapin mental buat MANDIRI. Saya ngelahirin ya berdua sama laki, setelah melahirkan kalau temen2 di Indo dikelonin sejuta helpers saya ya do it yourself Anak sakit ya ditungguin sendiri, suami di operasi ya ditungguin sendiri, mobil mogok di tengah jalan, suami di negara lain, ya dorong.

Tapi…jangan keder ya…gak usah terlalu dipikirin juga.

Bantuan datang dari berbagai bentuk lah. Gak ada saudara, selalu ada orang-orang di sekitar kita yang gak akan sungkan-sungkan akan menolong kita.

Kayak waktu mobil saya di tabrak lari, untuk ngebenerin saya harus punya $500. Buat ukuran keluarga saya saat itu, uang segitu gak kecil ya…

Dilalah dapat sumbangan dari strangers….

Ada kebakaran di rumah, tetangga punya alat pemadam kebakaran, sehingga api bisa dipadamkan sebelum unit pemadam kebakaran datang

Gak ada mobil, ya naik sepeda, atau jalan kaki, atau naik bis

Gak ada ortu ato mertua, atau kakak, adik buat jagain anak, ya bayar daycare atau sitter atau teman/tetangga yang baik hati.

Ngomong-ngomong, kondisi “glamor” yang saya paparkan di atas gak selalu berlaku untuk semua imigran loh ya.

Banyak juga koq teman-teman Indo yang Alhamdulillah rejeki mereka bagus dan berlimpah, bolak balik Indo-Amrik mah gak masalah…

Yang sering dikunjungi keluarga dari Indo.

Tulisan di atas sebagian besar ya hal-hal yang saya alami sendiri, yang saya pikir2 gak apa2 lah dibagi,

Dengan harapan bisa membuat pembaca yang berminat hijrah ke Amrik agak membumi dan gak selalu melayang di negeri kayangan atau berangan-angan setinggi langit ketujuh ☺

Gimana? Siap mental?

Pertama Kali : Dilukis dan Melukis

Dulu waktu tinggal di Indo, pas jalan-jalan ke Pasar Seni Ancol sering lihat artis yang sedang melukis modelnya atau pengunjung di publik.

Lucu juga.

Cuma saya tidak PD. Mahal juga kali…

Di Amrik, pemandangan yang sama cukup sering saya lihat. Ada rasa kepingin, cuma koq ya keder ya…gimana gitu…

Nah, bulan Oktober lalu, di kota tempat saya tinggal ada festival seni tahunan, St.James Art Festival namanya.

Saya dan teman saya, yang anak Indo juga jalan-jalan lah ke lokasi St. James.

Teman saya sehari sebelumnya sudah mampir dan dia niat banget untuk dilukis sama artis ini.

Saya mah hayoo saja. Cari punya cari, kita ketemu juga artis ybs.

Saya mengamati si artis melukis teman saya.

Ternyata keren loh…dari mulai kanvas kosong, coret sana coret sini, campurkan warna-warna cat, hingga jadi potret wajah itu kira-kira 30 menit.

Teman saya selesai dilukis, saya koq jadi kepengen juga? Latah ya?

Jadilah saya gantian duduk manis di kursi…

30 menit kemudian lukisan wajah saya jadi deh…

Puas gak? Puas.

Apalagi si artis, namanya Ali membolehkan saya memilih warna latar belakang di lukisan saya ( ungu lah😊)

Si artis mematok harga $94 untuk lukisan wajah ini.

Mau dilukis lagi lain kali? Gak solo kali ya..berdua sama anak lucu juga kali…he..he..he…

Mirip gak lukisannya sama aslinya?

Kata anak saya sik mirip 😍

Setelah punya lukisan diri, beberapa bulan kemudian, teman saya yang lainnya mengajak saya ikutan kelas lukis singkat di Uptown.

Saya pernah diajak sebelumnya, tapi tidak ikutan, di tempat yang berbeda.

Nyesel juga tidak ikut, karena pas lihat hasil lukisan teman saya, low lucu juga…

Ya sudah..kesempatan belum tentu datang 2 kali kan?

Biaya kelas singkat ini $40, tapi saya dapat diskon, jadi saya cuma bayar $37.

Sampai di lokasi, peserta sudah disediakan celemek, 4 ukuran kuas, kanvas yang sudah bersketsa sesuai dengan pilihan kelas.

Tema lukisan itu beda setiap bulannya, tema kali ini adalah pemandangan di kanal Venice, Itali.

Saat itu ada total 7 peserta di kelas, 2 laki-laki dan 5 perempuan.

Instrukturnya perempuan masih muda.

Kelas dimulai sesuai waktu, pertama-tama peserta menuangkan cat 6 warna berbeda di kertas di area masing-masing.

Lalu instruktur memberi tahu peserta warna apa yang akan dicampur dan bagian mana dari sketsa yang akan diwarnai.

Setelah 1.5 jam, akhirnya lukisan saya jadi!

Yang uniknya , meskipun kita semua melukis obyek yang sama, hasil akhir beda loh!

Dan yang saya baru sadari, ternyata melukis itu relaxing banget!

Saya sangat menikmati perasaan saat saya mencampur warna dan bermain dengan kuas di kanvas.

Dan waktu lukisan akhirnya selesai, ada rasa puas melihat hasil karya sendiri.

Mau ikutan kelas lukis lagi?

Most likely I will!

Pertama Kali : Nonton Penari Seksi Laki-laki

Baru bikin seri baru ah..judulnya Pertama Kali.

Alias cerita saya saat pertama kali melakukan sesuatu yang baru, yang belum pernah saya lakoni sebelumnya.

Tidak selalu harus yang heboh ya, dari mulai hal kecil seperti masak siomay misalnya, sampai jalan-jalan ke tempat tertentu.

Karena ini tulisan pertama, saya pilih obyek yang agak-agak “Astaga!”

Kalau pembaca merasa tulisan ini tidak pantas dibaca, ya silahkan tidak dibaca.

Kalau memutuskan untuk teruskan membaca, monggo dan terima kasih.

Eng. Ing.Eng.

Male Dancer atau Male Entertainer, begitu mereka menyebut mereka sendiri.

Pernah nonton filem Magic Mike?

Pada dasarnya ya itu yang saya tonton, cuma bukan film, tapi di panggung langsung.

Gara-garanya ada teman yang hobi cari kegiatan ini itu. Dia ajak saya nonton The New Fifty Shades of Male Revue.

Pikir-pikir, ah ayo saja..kebetulan dapat tiket murah $9 dari Groupon, dibanding beli tiket dari agent $23.

What the heck? If it sucks, I’d only be losing $9

Lokasi acara di klub namanya Headliners…waktu sampai di lokasi, kami agak-agak gimana gitu, secara tempatnya gak asik banget….

Oh well. $9. Just enjoy the show

Acara di mulai tepat waktu, jam 8…penari lelaki satu persatu keluar panggung.

Penari pertama, jangkung berwajah Hispanik, namanya Mike.

Penari kedua berwajah Asia Pacific, orang Hawaii ternyata, namanya Kai.

Penari ketiga bule, namanya Sean

Penari keempat dari Jamaika, lupa says namanya

Mulailah mereka berlagak dipanggung….

Tidak berapa lama, satu persatu mulai melucuti pakaian mereka…..

Dan penonton yang 100% perempuan menjerit-jerit histeris.

Ya gimana tidak histeris, wong pemuda-pemuda di panggung ini badannya aduhai semua!! Kekar Dan seksi!!

Tambah histeris waktu semua penari cuma bercelana kolor doang!🤣🤣🤣🤣😊😊

Saya dan teman ya ikutan cekikikan dan histeris lah..

Lah..kapan lagi boleh lihat, nyolek langsung mas-mas berbadan aduhai ini tanpa khawatir dipelototin??

Selain berlagak dipanggung, ternyata tipe acara beginian sangat kuat partisipasi penontonnya.

Yang saya baru tahu , penonton boleh membeli “kartu” kalau tidak salah $20. Nanti grup kartu tertentu dipanggil ke panggung …

Dan masing-masing akan di”hibur” oleh si penari lelaki..one on one.

Asli. Disini penonton ngakak, jejeritan habis-habisan!!

Si penari berlagak seakan-akan melakukan adegan ranjang di panggung.

Saya terperangah antara takjub- kuat sekali ya si Mas ini menggendong penonton A dan “melayani” penonton B – dan penasaran….pegimana ya rasanya di panggung di ajak ” beradegan”???

Selain penonton diajak berpartisipasi di panggung, penari juga turun ke lantai..penonton boleh membeli lap dance $5 minimum untuk penari yang penonton suka, “melayani” di lantai.

Saya dasar norak..cuma bisa terpana tengok sana sini menonton si mas sibuk “menghibur” penonton, sampai-sampai says tidak ngeh kalau teman saya mereka ke-melongo- an saya…..

Teman saya membelikan $5 lap dance dong….

Astaga…si Mas ini berdiri dekat sekali dengan saya, berlegak legok….

Saya asli panik..tidak tahu musti gimana…sama si Mas, tangan saya di pegang trus disuruh mengelus bahu terus ke dada si mas..ya saya pasrah…ha…ha..ha…

Acara ditutup dengan penonton diberi kesempatan berfoto dengan para penari dengan membayar bayar $10.

Kami ya ikut lah..kapan lagi dipangku mas-mas kekar dan seksi???

Pendapat saya tentang acara seperti ini?

Sangat menghibur!

Paling seru ya nonton bareng-bareng teman perempuan lainnya ya…

Semakin banyak, semakin rame deh.

Mau nonton lagi?

Mungkin, tapi gak dalam waktu dekat dan acara begini memang buat saya bukan sesuatu yang dilakoni sering2 ya..karena ya bosen juga….

Seru untuk girls night out, bachelorette party.

Maksiat?.

Ih. Serius amat.

Cantik Untuk Siapa?

Hampir semua perempuan pasti mau dianggap cantik, iya kan?

Makanya ada beribu-ribu merek kosmetik, perawatan kulit, sampo, salon, masker dan sejuta tetek bengek lainnya yang bisa membantu kita terlihat cantik.

Termasuk saya lah.

Saya pengen lah punya kulit mulus, alis rapi, bulu mata lentik, pipi merah merona, bibir plump pengen dikecup, dada montok, pinggang kecil, pinggul enak dibonceng, dan sebagainya…

Boleh-boleh….

Yang saya cuma mau ingetin… kita, perempuan, itu BERHARGA dengan atau tanpa hiasan ya.

Kalau kita memilih untuk mempercantik diri, itu adalah pilihan kita untuk diri kita sendiri.

Bukan untuk orang lain, termasuk bukan untuk pasangan. Bukan untuk membahagiakan orang lain.

Dan kalau kita memilih untuk apa adanya ya itu juga buat kita sendiri juga.

Saya sempat dicela “Jelek”. Bukan cuma sekali.

Sakit hati rasanya. Ya iyalah, meskipun tahu sik..muka saya ya standard aja…

Memang setelah dicela, saya jadi tergugah pengen terlihat lebih apik, pengen kurangi ekstra lemak di perut…

Bukan karena saya merasa bersalah karena saya “jelek” dan ybs melakoni hal-hal yang tidak mengenakkan, tapi karena saya sadar kalau saya sendirilah yang bertanggung jawab akan “kecantikan” saya.

Kalau tho saya gembrot, yang “kalah” saya, karena yang tidak sehat saya tho? Yang sudah bergerak, sesak nafas kan saya tho…,Bukan orang lain?!

Kata orang bulenya nih..

We are worth it

Our body deserves our care because we love ourselves enough to take care of it

Jadi teman-teman pembaca semua , terutama yang perempuan, cuma mengingatkan

Kita semua cantik.

Kalau ada laki yang semena-mena dengan kita, itu bukan karena kita kurang cantik, harus lebih dandan dsb, tapi karena si lelakilah yang tidak tahu nilai kita sebagai perempuan.

Jangan nasehati teman perempuan kita untuk berdandan demi lelaki pilihannya, tapi bantu dia untuk kenali nilainya…..

Ingat ya.

Peluk dari tanah seberang,

Aku Punya Anjing Kecil

Ingat lagu anak-anak diatas? Kalau pembaca sekalian seumuran saya, kayaknya pasti ingat ya..lagunya tenar sekali .

Waktu saya di Indonesia, saya takut sama anjing, karena somehow diajarin kalau anjing adalah BUKAN binatang yang favorable, ditambah lagi memang say pernah di kejar-kejar anjing tetangga pas main sepeda, tambahkah saya sungkan gaul dengan anjing.

Pindah ke Amrik, ke kota kecil yang boleh dibilang ramah anjing, hampir semua penduduk punya anjing, jalan kemana-mana bawa anjing mereka. Pasangan sendiri suka anjing (dan pernah punya anjing waktu kecil)

Saya mulai tumbuh rasa senang dengan anjing, bahkan saya berani jaga anjing kecil teman saya sekali dua kali…

Dilanjutkan dengan main dengan anjing tetangga yang ukurannya lebih gedean…

Saya mulai nyaman berinteraksi dengan anjing.

Pindah ke KY, lagi-lagi saya jagain anjing kecil teman kantor saya, kali ini bukan cuma beberapa jam, tapi seminggu, dan ternyata baik-baik saja.

Lama-kelamaan saya mulai merengek mau punya anjing sendiri, tidak dibolehkan sama pasangan karena kami tinggal di apartemen. Boleh punya anjing kalau kita punya rumah, katanya….

Sampai satu hari…..kita tidak berencana makan di resto, di sebelah resto ini ada penampungan anjing dan kucing yang memang saya sudah lama kepengen lihat.

Kelar pesan makanan, saya dan si kecil kabur ke penampungan untuk lihat-lihat anjing yang ada. Pertama-tama staf ybs kasih kita lihat-lihat anjing ukuran besar, waktu saya kasih tahu kalau saya tinggal di apartemen, dia lalu bawa kita ke anjing-anjing kecil….(termasuk anjing-anjing yang masih bayi)

Waduh..lucu-lucu banget!!

Ada satu anjing yang saya dan si kecil suka, anjing campuran Chihuahua dan Daschund, dengan bulu warna coklat krim dan putih. Anak anjing ini umur 4 bulanan dan ramah sekali.

Senangnya menjilat-jilat dan ekornya tidak berhenti bergoyang-goyang. Kalau anak-anak anjing lainnya sibuk menggonggong, anjing ini tidak.

 

 

 

Balik ke resto, dan selesai makan saya dan kecil merengek-rengek minta si ayah lihat. Tadinya dia tidak mau, tapi akhirnya ngalah dan kita semua balik ke penampungan untuk melihat si anak anjing.

Setelah melihat si anjing kecil, si ayah luluh juga membolehkan saya untuk mengajukan permohonan adopsi.

Sesampainya Kami di rumah, saya langsung kirim aplikasi online. BOOM.

Dengar dari staf, sudah ada pengaju lamaran sebelum kita yang sudah disetujui. Mereka akan bawa anjing mereka untuk ketemu si anjing kecil ini hari Sabtu jam 11. Kalau ternyata tidak cocok, maka lamaran kita akan dipertimbangkan.

Sempat kecut hati ini….jadi ada kemungkinan kita tidak bisa adopsi si anak anjing dong……

Hari Sabtu saya kebetulan kerja sampai jam 12. Sampai rumah saya langsung telpon tempat penampungan.

“Halo. Saya mau tanya..apa Oxford-nama si anjing- sudah punya orang tua baru?

“Oh ini Irus ya? Oxford batal dengan pengaju pertama, sekarang kita lagi lihat lamaranmu!”

Awwww!! Asli saya girang dan deg-degan sekali..

Mereka lalu bertanya beberapa hal tentang kondisi hidup keluarga saya: apakah pengelola apartemen saya membolehkan anjing, apa saya akan membiarkan anjing saya tinggal di luar rumah, apa yang membuat saya tidak lagi mau memelihara anjing.

Setelah itu mereka akan menelpon referensi yang saya tulis di applikasi.

Tunggu 2 jam lagi untuk hasilnya kata mereka.

Waduuuh..2 jam rasanya lamaaaaa sekali!!

Sekitar jam 3…saya di telpon lagi.

“Halo Irus. Kami sudah selesai dengan lamaranmu. Kapan kamu mau ambil Oxford???”

Awwwww..saya langsung nangis saking senangnya!!

Saya punya anjing kecil!

Hari itu juga kita sekeluarga jemput si anjing kecil.

Sejak itu hari-hari saya direcoki dengan goyangan ekor, loncat sana loncat sini, jilat pipi kiri dan kanan, jalan-jalan bersama si anjing kecil.

S

 

ampai sekarang si anjing kecil ini lengket sekali dengan saya…

Dia gak mau poopy kalau bukan saya yang ajak jalan…haduuuuh..coba deh ya..

Tapi ya gak apa-apa..artinya dia kan mau nunjukkin kalau dia mau nyenengin saya….hi..hi..hi

Dan sepertinya benar deh kata pepatah..anjing adalah kawan setia manusia…

Kalau saya tinggal kerja Ox nangis di depan pintu,  kalau saya sedih, Ox langsung jilatin saya, pas saya ngomel,  Ox kabuuur!!!! Ha..ha..ha..ha

 

 

Celoteh di Awal Tahun 2018

Halo Tahun 2018!

Ah tahun baru euy…biasanya orang-orang repot bikin resolusi. Saya pilih nulis saja ah.

Beberapa waktu lalu ada pembaca blog aku yang komentar “ penuh perjuangan juga ya MBA, WNI cewe nikah ma WNAmerika cowo”

Baca komentar itu saya jadi ‘geli’ sendiri..andaikan perjuangan kita cuma dimasalah imigrasi saja……kenyataannya perjuangan perempuan WNI menikah dengan WN Amrik itu bukan semata di masalah imigrasi loh.

Nah di tulisan kali ini saya mau blak-blakan buka-bukaan tantangan , perjuangan menikah dengan WN Amrik

  1. Menikah itu sendiri bukan hal yang sederhana, jangankan menikah dengan bangsa lain, menikah dengan bangsa sendiri pun pasti ada bentrokan.  Saya sendiri agak ‘telmi’  alias telat mikir tentang apa itu pernikahan.  Waktu menikah saya boleh dibilang tidak ‘ngerti’ apa sih artinya menikah itu? Untunglah saya menikah di umur yang sudah lumayan tinggi, tidak terpikir deh kalau saya menikah muda…

    Kalau anda menikah berarti ada kemungkinan bercerai.

    idih koq gitu sih? masa nikah trus langsung mikirin bercerai.

    Bukan begitu, ini kenyataan koq. Selalu siapkan diri untuk menghadapi hal yang (ter) buruk……

    Tidak usah malu, tidak usah gengsi, shit happens.

    Itu bagian dari hidup koq. Jangan putus asa. Jangan malu minta pertolongan orang lain ya.

  2. Kendala bahasa : memang sebagian besar orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dan kenyataan kalau si bule mau nikah dengan kita, si bule sudah ‘ngerti’ apa yang kita omongin? gitu? Well…….Kendala bahasa bukan cuma masalah tata bahasa, kosa kata, struktur atau pelajaran bahasa lainnya ; kendala bahasa disini lebih ke cara kita mengekspresikan diri sehari-hari.

    Saya pribadi bahasa Inggrisnya tidak bego-bego amat, tetap di mata suami, dia banyak ‘tidak mengerti’ apa yang saya katakan.

    Bukan cuma di mata suami saja loh, namanya kita tinggal di Amrik, ya berarti kita harus bercakap-cakap dengan masyarakat umum kan? Salah mengerti, atau di pandang rendah itu salah satu hal yang kita akan hadapi.

  3. Kendala makanan : menikah dengan bule, makanan yang disajikan artinya akan beda dengan makanan yang kita terbiasa. Sebagian besar dari kita mudah beradaptasi , bisa suaminya yang mulai suka masakan Indo atau perempuannya yang jadi fasih memasak meatloaf, chicken pot pie (dan pie-pie lainnya) broccoli cheddar soup, you name it, the Indonesian wife will cook it.  Idealnya begitu, tapi tidak semua kasus sama. Saya contohnya, paling tidak suka masak (dan tidak ‘ngeh’ kalau menikah itu berarti harus SELALU masak buat pasangan?), janjinya pasangan karena saya kerja penuh waktu kita akan bergantian masak. Cuma koq yang dia masak cuma terbatas : spaghetti with marinara sauce, hamburger, chili, fried chicken as in KFC not as in Ayam Suharti, Plain Steak, mac and cheese (with or without tuna), canned bake beans with hot dogs.Bosen gila! Jadi ya saya yang lebih sering memasak supaya lebih ada variasi. Mudah-mudahan kalian pada senang masak ya? (#sayatidaksukamasak)

    Belum lagi masalah jenis makanan yang kita pantang (terutama untuk Muslim).

    Beberapa dari pasangan sangat menghormati pantangan kita, dan ikutan tidak makan, tapi tidak jarang ada pasangan yang tetap mengkonsumsi si ekor keriting seperti biasa baik itu diluar rumah maupun di dalam rumah.

    Kalau kamu tipe yang santai ya tidak masalah, tapi hal kecil seperti bisa jadi beban loh….

  4. Kendala Budaya : yang paling gampang deh, merayakan natal. Di Indonesia kita terbiasa ‘tahu’ kalau tidak semua orang merayakan natal dan kalau kita termasuk yang tidak merayakan natal ya kita tenang-tenang saja, tidak harus kan?Di sini, kecuali suami kita tipe ‘sangat’ memahami perbedaan, boleh dibilang jadinya kita ‘diharuskan’ ikutan merayakan natal.  Mungkin hal kecil sih ya, tapi buat saya terus terang agak melelahkan, karena saya merasa pe-er pressure sekali . Saya lebih suka suasana di Indonesia deh, saya merasa ‘bebas’ tidak bernatalan, tidak ada ‘paksaan’ atau dipertanyakan.

    Contoh lainnya minum alkohol, suami saya ternyata pecandu alkohol, ini menyiksa sekali loh, karena saya yang menganggap alkohol itu barang terlarang, sekarang harus melihat pasangan setiap malam minum.

  5. Kendala Keuangan : tidak semua dari kita dapat suami bule tajir tho? atau jadi Sugar Daddy; idealnya suami adalah sumber penghasilan keluarga. IDEALNYA. Dan jangan salah, banyak juga pria bule yang menganut faham kalau istri tugasnya di rumah, tidak perlu kerja.Terus terang buat saya, karena merasa ‘sendiri’ tanpa keluarga, saya terpacu untuk jadi mandiri dan tidak semata-mata mengantungkan diri dari penghasilan suami.

    Tahun-tahun pertama tinggal di Amrik memang saya tidak kerja , lebih banyak di rumah, beradaptasi dan merawat si anak, tapi kemudian saya KEJEDUG kenyataan waktu suami kehilangan kerja.

    Detik itu juga saya langsung teringat nasehat ibu saya : sebagai perempuan harus punya penghasilan sendiri dan tabungan sendiri……

    Disitulah saya merasa bersyukur sekali kalau saya bisa berpenghasilan – meskipun tidak besar- ta[i cukup bisa menolong keluarga saya bertahan hidup selama setahun lebih hingga suami mendapat pekerjaan baru.

    Belum lagi masalah kebiasaan pasangan membelanjakan uang. Ini juga bisa bikin berabe.

    Saya tipenya yang ogah minta duit, jadi ya saya pilih kerja sik.  Dan juga ya untuk itu, untuk menjaga diri saya sendiri, memastikan kalau ada hal-hal yang tidak diharapkan , saya bisa menghidupi diri sendiri.

  6. Kendala Pertemanan: support system istilah bulenya. Kalau di Indo kita ada orang tua, ada sanak keluarga, ada sohib sejak SD, sejak SMP, sejak SMA,’sejak kuliah…..Kesel sama pacar, curhat sama sohib, telpon-telponan, kabur ke rumah ortu, ke rumah oom, ke rumah teman.  Enak. (saya pernah koq kabur dan ngaso di rumah teman, jadi ya saya tahu laaah)

    Pindah ke Amrik, kita balik ke nol lagi.

    Mencari teman, gampang-gampang susah sih, bukannya tidak mungkin kita dapat sohib baru disini, bisa sesama orang Indo, bisa orang bule juga. Tapi ya itu , kita juga musti pinter-pinter bersosialisasi.

    Tidak selalu kita akan tinggal di kota yang banyak orang Indonesianya, mungkin salah satu dari kita tinggal di kota cilik mintik…yang semuanya bule dan manula, sosialisasi jadi tantangan kan?

    Ternyata setelah saya perhatikan saya agak-agak anti sosial..ha..ha..ha.

    Dan kalau kita jadi tidak ada support systemnya, ya bukan berarti dunia kiamat ya! Ya kita tetap akan survive lah – Insha ALLAH, cuma road will be bit rougher.

    Kesimpulannya?

    Menikah dengan bule tidak selalu indah, gemerlap, happy ending, pasang foto ciuman di Facebook, pasang status berbahasa Inggris , pasang foto-foto jalan-jalan dengan mas bulenya di media sosial

    Menikah dengan bule artinya banyak beradaptasi – setiap saat boleh dibilang-, otak dipicu untuk terus belajar, karena harus mikir dalam bahasa Indonesia, tapi ngomong dalam bahasa Inggris, kemandirian kita akan lebih di uji.

    Jadi…jangan lihat buku dari sampulnya yaaaaa!!!!

 

 

 

 

Seminggu Sudah Berpuasa

Hari ini genap sudah seminggu lamanya umat Islam mulai berpuasa di bulan Ramadan 2017. Kebetulan saya termasuk salah satu yang berpuasa.

Gimana hasilnya? lumayanlah…masih sanggup…

Godaan? Jelas ada. Capek. Ngantuk. Pasti.

Di sisi lain, takjub juga akan kekuatan tubuh sendiri yang ternyata sanggup tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam…….

Iseng-iseng mau mengkaji gimana puasa saya selama minggu pertama :

Hari Sabtu (27 Mei) – pagi-pagi kerja dari jam 9 sampai jam 12, cuci mata di toko-toko lainnya, balik ke rumah jam 2 an, lumayan, setengah hari sudah terbuang….

Hari Minggu (28 Mei) lupa..ngapain ya?? istirahat saja kayaknya sih…o iya…pas jam 8 an gitu, lagi lihat-lihat Instagram..tiba-tiba koq pengen siomay…nemu resep di Youtube…eh koq gampang ya…jadilah ngacir ke Kroger supermarket buat beli daging ayam giling dan udang buat siomay…..Eng ing eng…hari ini pertama kalinya saya buat siomay!

Hari Senin (29 Mei) -hari libur Memorial Day di Amrik – ternyata kuat bersepeda ria sama anak dan suami…pendek sih rutenya, tapi hari pas lumayan panas…gleg…haus bisa ditahan juga kalau niat….

Hari Selasa (30 Mei)- hari pertama kerja pas puasa, waduh ngantuknya minta ampun, pekerjaan jadi agak sembrono! Duh malu deh! langsung dalam hati janji tidak mau sembrono lagi besok besok. Malamnya iseng bikin sate padang karena ada sisa lidah sapi dari semur yang dibuat sebelumnya…eh ternyata saya bisa bikin sate padang!!

Hari Rabu, (31 Mei)-hari ini saya kerja dari rumah, karena harus ke dokter ini itu… entah bagaimana setelah di dokter THT hidung saya disemprot obat bius lokal, maksudnya untuk si dokter swap tenggorokan saya, tapi yang ada dari jam 9 sampai jam 4 saya non stop bersin-bersin dan ingusan. Asli sengsara. Waktu ambil obat yang disarankan dokter, hampir mau buka – karena capek sekali bersin tidak berhenti-henti…lah..obatnya ternyata bikin ngantuk! padahal saya masih harus kerja jam 6 hingga jam 9 hari itu..ya sudah tidak jadi minum obat, eh Alhamdulillah ingusannya berhenti.

Hari Kamis (1 Juni) ditabrak pas lagi mau ketemuan teman 😦

Hari Jumat (2 Juni) – sehabis sahur, mandi, langsung berangkat ke tempat kerja, untungnya memang saya jam kerjanya bisa mulai jam 6:30 pagi. Eh ternyata kerjaan segudang, yang ada baru pulang jam 5! phew! Sampai rumah, istirahat bentar…hadduuh…koq malas masak ya?? jadilah cuma bikin mie rebus, pakai kangkung dan daging suwir ala Korea. O iya…sempat pergi ke Walmart, nemu es krim rasa mangga – iih enak juga!! rasa mangganya ketara !

Hari Sabtu (3 Juni) – kerja dari jam 9-12! balik ke rumah, bobo …trus jalan-jalan ke taman Charlestown …hua…….pilih trail pendek – cuma 0.9 mil..cuma tanjakannya ajegileeeeeeee….ini kaki rasanya ogah diangkat!! ha…ha…ha…susah deh out of shape! Ini foto-foto dibawah masih bisa cengengesan karena diambil sebelum jalan di tanjakan yang bikin ngos-ngosan…;-)

Waktu balik ke mobil..hua..langsung pasang AC…buat menghilangkan haus! kik..kik..kik..

(more…)

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya adalah seorang imigran

Setelah lahir dan besar di Jakarta, untuk ukuran Jakarta, Indonesia ya saya penduduk super lokal. Bukan cuma lokal orang Indonesia aka pribumi tapi juga lokal Jakarta.

Ada lah rasa ‘belagu’, karena saya anak Ibukota gitu loh.

Pindah lah si 100% pribumi dan 100% anak ibukota ini ke Amerika.

Dari situ status saya ya berubah menjadi seorang imigran. Tidak bohong kalau saya merasa ‘turun kelas’….

Tapi sebetulnya yaaa…berstatus imigran ya tidak ada yang salah, atau tidak bernotasi buruk ya.

Memang faktanya koq saya berimigrasi ke Amerika, ya jadinya saya seorang imigran.

Apa arti jadi seorang imigran bagi saya?

Saya punya kampung halaman. Hi..hi…hi…kata mudik sekarang menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

Saya belajar budaya dan sejarah negara baru saya. Ih, sumpah, saya paling malas belajar sejarah. Cuma koq ya rasanya tidak ‘sopan’ kalau saya buta sekali tentang sejarah negara yang saya adopsi jadi negara saya.

Saya merasa (merasa loh yaaaaaa…ini opini bukan fakta!!!- catat!) saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sesuai – terutama yang berkaitan dengan pekerjaan. Benar atau tidak , saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya sehari-harinya constantly berusaha amat sangat patuh dengan aturan pekerjaan (dulu waktu jadi pribumi sih saya biasa saja) .

Entah apa karena saya merasa ‘orang luar’ jadi saya harus bangun kepercayaan dulu? Mbuh…

Saya jadi suka memperhatikan sesama imigran lainnya, merasa ada ‘koneksi’ gitu – padahal ya belum tentu…kik..kik…kik..

Tapi benar loh, saya senang jadi imigran, karena saya jadi ingin tahu tentang ras lainnya, kenalan-kenalan saya jadi lebih ‘ramai’ : dari Bosnia, Jepang, India, Pakistan, Iran, Iraq, Mesir, Turki, Palestina, Malaysia, Thailan, Ukrania, Rusia, Bulgaria, Korea, Nepal, Maroko dan seterusnya….

Mana saya tahu gitu kalau wanita-wanita Bosnia cuantik nya minta ampun! seperti boneka! atau ngobrol langsung dengan penganut agama Sikh atau diundang ke pura Hindu orang India.

Melihat sesama imigran berprestasi terus terang saya ikut bangga! Mereka adalah bukti kalau imigran bukan warga negara kelas 2.

Yang jelas mau tidak mau banyak yang masih memandang sebelah mata ke imigran.

Tapi justru karena mereka2 yang picik ini, saya malah terpacu buat mematahkan strereotip mereka!

Dan saya juga jadi selalu “mawas diri” karena boleh dibilang saya bawa nama negara loh. Kalau kelakuan saya nyebelin, yang kena celaan bukan cuma saya, tapi bisa2 ya sebangsa saja, bahkan ras saya.