suka duka

Pertama Kali : Dilukis dan Melukis

Dulu waktu tinggal di Indo, pas jalan-jalan ke Pasar Seni Ancol sering lihat artis yang sedang melukis modelnya atau pengunjung di publik.

Lucu juga.

Cuma saya tidak PD. Mahal juga kali…

Di Amrik, pemandangan yang sama cukup sering saya lihat. Ada rasa kepingin, cuma koq ya keder ya…gimana gitu…

Nah, bulan Oktober lalu, di kota tempat saya tinggal ada festival seni tahunan, St.James Art Festival namanya.

Saya dan teman saya, yang anak Indo juga jalan-jalan lah ke lokasi St. James.

Teman saya sehari sebelumnya sudah mampir dan dia niat banget untuk dilukis sama artis ini.

Saya mah hayoo saja. Cari punya cari, kita ketemu juga artis ybs.

Saya mengamati si artis melukis teman saya.

Ternyata keren loh…dari mulai kanvas kosong, coret sana coret sini, campurkan warna-warna cat, hingga jadi potret wajah itu kira-kira 30 menit.

Teman saya selesai dilukis, saya koq jadi kepengen juga? Latah ya?

Jadilah saya gantian duduk manis di kursi…

30 menit kemudian lukisan wajah saya jadi deh…

Puas gak? Puas.

Apalagi si artis, namanya Ali membolehkan saya memilih warna latar belakang di lukisan saya ( ungu lahūüėä)

Si artis mematok harga $94 untuk lukisan wajah ini.

Mau dilukis lagi lain kali? Gak solo kali ya..berdua sama anak lucu juga kali…he..he..he…

Mirip gak lukisannya sama aslinya?

Kata anak saya sik mirip ūüėć

Setelah punya lukisan diri, beberapa bulan kemudian, teman saya yang lainnya mengajak saya ikutan kelas lukis singkat di Uptown.

Saya pernah diajak sebelumnya, tapi tidak ikutan, di tempat yang berbeda.

Nyesel juga tidak ikut, karena pas lihat hasil lukisan teman saya, low lucu juga…

Ya sudah..kesempatan belum tentu datang 2 kali kan?

Biaya kelas singkat ini $40, tapi saya dapat diskon, jadi saya cuma bayar $37.

Sampai di lokasi, peserta sudah disediakan celemek, 4 ukuran kuas, kanvas yang sudah bersketsa sesuai dengan pilihan kelas.

Tema lukisan itu beda setiap bulannya, tema kali ini adalah pemandangan di kanal Venice, Itali.

Saat itu ada total 7 peserta di kelas, 2 laki-laki dan 5 perempuan.

Instrukturnya perempuan masih muda.

Kelas dimulai sesuai waktu, pertama-tama peserta menuangkan cat 6 warna berbeda di kertas di area masing-masing.

Lalu instruktur memberi tahu peserta warna apa yang akan dicampur dan bagian mana dari sketsa yang akan diwarnai.

Setelah 1.5 jam, akhirnya lukisan saya jadi!

Yang uniknya , meskipun kita semua melukis obyek yang sama, hasil akhir beda loh!

Dan yang saya baru sadari, ternyata melukis itu relaxing banget!

Saya sangat menikmati perasaan saat saya mencampur warna dan bermain dengan kuas di kanvas.

Dan waktu lukisan akhirnya selesai, ada rasa puas melihat hasil karya sendiri.

Mau ikutan kelas lukis lagi?

Most likely I will!

Advertisements

Pertama Kali : Nonton Penari Seksi Laki-laki

Baru bikin seri baru ah..judulnya Pertama Kali.

Alias cerita saya saat pertama kali melakukan sesuatu yang baru, yang belum pernah saya lakoni sebelumnya.

Tidak selalu harus yang heboh ya, dari mulai hal kecil seperti masak siomay misalnya, sampai jalan-jalan ke tempat tertentu.

Karena ini tulisan pertama, saya pilih obyek yang agak-agak “Astaga!”

Kalau pembaca merasa tulisan ini tidak pantas dibaca, ya silahkan tidak dibaca.

Kalau memutuskan untuk teruskan membaca, monggo dan terima kasih.

Eng. Ing.Eng.

Male Dancer atau Male Entertainer, begitu mereka menyebut mereka sendiri.

Pernah nonton filem Magic Mike?

Pada dasarnya ya itu yang saya tonton, cuma bukan film, tapi di panggung langsung.

Gara-garanya ada teman yang hobi cari kegiatan ini itu. Dia ajak saya nonton The New Fifty Shades of Male Revue.

Pikir-pikir, ah ayo saja..kebetulan dapat tiket murah $9 dari Groupon, dibanding beli tiket dari agent $23.

What the heck? If it sucks, I’d only be losing $9

Lokasi acara di klub namanya Headliners…waktu sampai di lokasi, kami agak-agak gimana gitu, secara tempatnya gak asik banget….

Oh well. $9. Just enjoy the show

Acara di mulai tepat waktu, jam 8…penari lelaki satu persatu keluar panggung.

Penari pertama, jangkung berwajah Hispanik, namanya Mike.

Penari kedua berwajah Asia Pacific, orang Hawaii ternyata, namanya Kai.

Penari ketiga bule, namanya Sean

Penari keempat dari Jamaika, lupa says namanya

Mulailah mereka berlagak dipanggung….

Tidak berapa lama, satu persatu mulai melucuti pakaian mereka…..

Dan penonton yang 100% perempuan menjerit-jerit histeris.

Ya gimana tidak histeris, wong pemuda-pemuda di panggung ini badannya aduhai semua!! Kekar Dan seksi!!

Tambah histeris waktu semua penari cuma bercelana kolor doang!ūü§£ūü§£ūü§£ūü§£ūüėäūüėä

Saya dan teman ya ikutan cekikikan dan histeris lah..

Lah..kapan lagi boleh lihat, nyolek langsung mas-mas berbadan aduhai ini tanpa khawatir dipelototin??

Selain berlagak dipanggung, ternyata tipe acara beginian sangat kuat partisipasi penontonnya.

Yang saya baru tahu , penonton boleh membeli “kartu” kalau tidak salah $20. Nanti grup kartu tertentu dipanggil ke panggung …

Dan masing-masing akan di”hibur” oleh si penari lelaki..one on one.

Asli. Disini penonton ngakak, jejeritan habis-habisan!!

Si penari berlagak seakan-akan melakukan adegan ranjang di panggung.

Saya terperangah antara takjub- kuat sekali ya si Mas ini menggendong penonton A dan “melayani” penonton B – dan penasaran….pegimana ya rasanya di panggung di ajak ” beradegan”???

Selain penonton diajak berpartisipasi di panggung, penari juga turun ke lantai..penonton boleh membeli lap dance $5 minimum untuk penari yang penonton suka, “melayani” di lantai.

Saya dasar norak..cuma bisa terpana tengok sana sini menonton si mas sibuk “menghibur” penonton, sampai-sampai says tidak ngeh kalau teman saya mereka ke-melongo- an saya…..

Teman saya membelikan $5 lap dance dong….

Astaga…si Mas ini berdiri dekat sekali dengan saya, berlegak legok….

Saya asli panik..tidak tahu musti gimana…sama si Mas, tangan saya di pegang trus disuruh mengelus bahu terus ke dada si mas..ya saya pasrah…ha…ha..ha…

Acara ditutup dengan penonton diberi kesempatan berfoto dengan para penari dengan membayar bayar $10.

Kami ya ikut lah..kapan lagi dipangku mas-mas kekar dan seksi???

Pendapat saya tentang acara seperti ini?

Sangat menghibur!

Paling seru ya nonton bareng-bareng teman perempuan lainnya ya…

Semakin banyak, semakin rame deh.

Mau nonton lagi?

Mungkin, tapi gak dalam waktu dekat dan acara begini memang buat saya bukan sesuatu yang dilakoni sering2 ya..karena ya bosen juga….

Seru untuk girls night out, bachelorette party.

Maksiat?.

Ih. Serius amat.

Cantik Untuk Siapa?

Hampir semua perempuan pasti mau dianggap cantik, iya kan?

Makanya ada beribu-ribu merek kosmetik, perawatan kulit, sampo, salon, masker dan sejuta tetek bengek lainnya yang bisa membantu kita terlihat cantik.

Termasuk saya lah.

Saya pengen lah punya kulit mulus, alis rapi, bulu mata lentik, pipi merah merona, bibir plump pengen dikecup, dada montok, pinggang kecil, pinggul enak dibonceng, dan sebagainya…

Boleh-boleh….

Yang saya cuma mau ingetin… kita, perempuan, itu BERHARGA dengan atau tanpa hiasan ya.

Kalau kita memilih untuk mempercantik diri, itu adalah pilihan kita untuk diri kita sendiri.

Bukan untuk orang lain, termasuk bukan untuk pasangan. Bukan untuk membahagiakan orang lain.

Dan kalau kita memilih untuk apa adanya ya itu juga buat kita sendiri juga.

Saya sempat dicela “Jelek”. Bukan cuma sekali.

Sakit hati rasanya. Ya iyalah, meskipun tahu sik..muka saya ya standard aja…

Memang setelah dicela, saya jadi tergugah pengen terlihat lebih apik, pengen kurangi ekstra lemak di perut…

Bukan karena saya merasa bersalah karena saya “jelek” dan ybs melakoni hal-hal yang tidak mengenakkan, tapi karena saya sadar kalau saya sendirilah yang bertanggung jawab akan “kecantikan” saya.

Kalau tho saya gembrot, yang “kalah” saya, karena yang tidak sehat saya tho? Yang sudah bergerak, sesak nafas kan saya tho…,Bukan orang lain?!

Kata orang bulenya nih..

We are worth it

Our body deserves our care because we love ourselves enough to take care of it

Jadi teman-teman pembaca semua , terutama yang perempuan, cuma mengingatkan

Kita semua cantik.

Kalau ada laki yang semena-mena dengan kita, itu bukan karena kita kurang cantik, harus lebih dandan dsb, tapi karena si lelakilah yang tidak tahu nilai kita sebagai perempuan.

Jangan nasehati teman perempuan kita untuk berdandan demi lelaki pilihannya, tapi bantu dia untuk kenali nilainya…..

Ingat ya.

Peluk dari tanah seberang,

‚̧

Aku Punya Anjing Kecil

Ingat lagu anak-anak diatas? Kalau pembaca sekalian seumuran saya, kayaknya pasti ingat ya..lagunya tenar sekali .

Waktu saya di Indonesia, saya takut sama anjing, karena somehow diajarin kalau anjing adalah BUKAN binatang yang favorable, ditambah lagi memang say pernah di kejar-kejar anjing tetangga pas main sepeda, tambahkah saya sungkan gaul dengan anjing.

Pindah ke Amrik, ke kota kecil yang boleh dibilang ramah anjing, hampir semua penduduk punya anjing, jalan kemana-mana bawa anjing mereka. Pasangan sendiri suka anjing (dan pernah punya anjing waktu kecil)

Saya mulai tumbuh rasa senang dengan anjing, bahkan saya berani jaga anjing kecil teman saya sekali dua kali…

Dilanjutkan dengan main dengan anjing tetangga yang ukurannya lebih gedean…

Saya mulai nyaman berinteraksi dengan anjing.

Pindah ke KY, lagi-lagi saya jagain anjing kecil teman kantor saya, kali ini bukan cuma beberapa jam, tapi seminggu, dan ternyata baik-baik saja.

Lama-kelamaan saya mulai merengek mau punya anjing sendiri, tidak dibolehkan sama pasangan karena kami tinggal di apartemen. Boleh punya anjing kalau kita punya rumah, katanya….

Sampai satu hari…..kita tidak berencana makan di resto, di sebelah resto ini ada penampungan anjing dan kucing yang memang saya sudah lama kepengen lihat.

Kelar pesan makanan, saya dan si kecil kabur ke penampungan untuk lihat-lihat anjing yang ada. Pertama-tama staf ybs kasih kita lihat-lihat anjing ukuran besar, waktu saya kasih tahu kalau saya tinggal di apartemen, dia lalu bawa kita ke anjing-anjing kecil….(termasuk anjing-anjing yang masih bayi)

Waduh..lucu-lucu banget!!

Ada satu anjing yang saya dan si kecil suka, anjing campuran Chihuahua dan Daschund, dengan bulu warna coklat krim dan putih. Anak anjing ini umur 4 bulanan dan ramah sekali.

Senangnya menjilat-jilat dan ekornya tidak berhenti bergoyang-goyang. Kalau anak-anak anjing lainnya sibuk menggonggong, anjing ini tidak.

 

 

 

Balik ke resto, dan selesai makan saya dan kecil merengek-rengek minta si ayah lihat. Tadinya dia tidak mau, tapi akhirnya ngalah dan kita semua balik ke penampungan untuk melihat si anak anjing.

Setelah melihat si anjing kecil, si ayah luluh juga membolehkan saya untuk mengajukan permohonan adopsi.

Sesampainya Kami di rumah, saya langsung kirim aplikasi online. BOOM.

Dengar dari staf, sudah ada pengaju lamaran sebelum kita yang sudah disetujui. Mereka akan bawa anjing mereka untuk ketemu si anjing kecil ini hari Sabtu jam 11. Kalau ternyata tidak cocok, maka lamaran kita akan dipertimbangkan.

Sempat kecut hati ini….jadi ada kemungkinan kita tidak bisa adopsi si anak anjing dong……

Hari Sabtu saya kebetulan kerja sampai jam 12. Sampai rumah saya langsung telpon tempat penampungan.

“Halo. Saya mau tanya..apa Oxford-nama si anjing- sudah punya orang tua baru?

“Oh ini Irus ya? Oxford batal dengan pengaju pertama, sekarang kita lagi lihat lamaranmu!”

Awwww!! Asli saya girang dan deg-degan sekali..

Mereka lalu bertanya beberapa hal tentang kondisi hidup keluarga saya: apakah pengelola apartemen saya membolehkan anjing, apa saya akan membiarkan anjing saya tinggal di luar rumah, apa yang membuat saya tidak lagi mau memelihara anjing.

Setelah itu mereka akan menelpon referensi yang saya tulis di applikasi.

Tunggu 2 jam lagi untuk hasilnya kata mereka.

Waduuuh..2 jam rasanya lamaaaaa sekali!!

Sekitar jam 3…saya di telpon lagi.

“Halo Irus. Kami sudah selesai dengan lamaranmu. Kapan kamu mau ambil Oxford???”

Awwwww..saya langsung nangis saking senangnya!!

Saya punya anjing kecil!

Hari itu juga kita sekeluarga jemput si anjing kecil.

Sejak itu hari-hari saya direcoki dengan goyangan ekor, loncat sana loncat sini, jilat pipi kiri dan kanan, jalan-jalan bersama si anjing kecil.

S

 

ampai sekarang si anjing kecil ini lengket sekali dengan saya…

Dia gak mau poopy kalau bukan saya yang ajak jalan…haduuuuh..coba deh ya..

Tapi ya gak apa-apa..artinya dia kan mau nunjukkin kalau dia mau nyenengin saya….hi..hi..hi

Dan sepertinya benar deh kata pepatah..anjing adalah kawan setia manusia…

Kalau saya tinggal kerja Ox nangis di depan pintu,  kalau saya sedih, Ox langsung jilatin saya, pas saya ngomel,  Ox kabuuur!!!! Ha..ha..ha..ha

 

 

Celoteh di Awal Tahun 2018

Halo Tahun 2018!

Ah tahun baru euy…biasanya orang-orang repot bikin resolusi. Saya pilih nulis saja ah.

Beberapa waktu lalu ada pembaca blog aku yang komentar “ penuh perjuangan juga ya MBA, WNI cewe nikah ma WNAmerika cowo”

Baca komentar itu saya jadi ‘geli’ sendiri..andaikan perjuangan kita cuma dimasalah imigrasi saja……kenyataannya perjuangan perempuan WNI menikah dengan WN Amrik itu bukan semata di masalah imigrasi loh.

Nah di tulisan kali ini saya mau blak-blakan buka-bukaan tantangan , perjuangan menikah dengan WN Amrik

  1. Menikah itu sendiri bukan hal yang sederhana, jangankan menikah dengan bangsa lain, menikah dengan bangsa sendiri pun pasti ada bentrokan. ¬†Saya sendiri agak ‘telmi’ ¬†alias telat mikir tentang apa itu pernikahan. ¬†Waktu menikah saya boleh dibilang tidak ‘ngerti’ apa sih artinya menikah itu? Untunglah saya menikah di umur yang sudah lumayan tinggi, tidak terpikir deh kalau saya menikah muda…

    Kalau anda menikah berarti ada kemungkinan bercerai.

    idih koq gitu sih? masa nikah trus langsung mikirin bercerai.

    Bukan begitu, ini kenyataan koq. Selalu siapkan diri untuk menghadapi hal yang (ter) buruk……

    Tidak usah malu, tidak usah gengsi, shit happens.

    Itu bagian dari hidup koq. Jangan putus asa. Jangan malu minta pertolongan orang lain ya.

  2. Kendala bahasa : memang sebagian besar orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dan kenyataan kalau si bule mau nikah dengan kita, si bule sudah ‘ngerti’ apa yang kita omongin? gitu? Well…….Kendala bahasa bukan cuma masalah tata bahasa, kosa kata, struktur atau pelajaran bahasa lainnya ; kendala bahasa disini lebih ke cara kita mengekspresikan diri sehari-hari.

    Saya pribadi bahasa Inggrisnya tidak bego-bego amat, tetap di mata suami, dia banyak ‘tidak mengerti’ apa yang saya katakan.

    Bukan cuma di mata suami saja loh, namanya kita tinggal di Amrik, ya berarti kita harus bercakap-cakap dengan masyarakat umum kan? Salah mengerti, atau di pandang rendah itu salah satu hal yang kita akan hadapi.

  3. Kendala makanan : menikah dengan bule, makanan yang disajikan artinya akan beda dengan makanan yang kita terbiasa. Sebagian besar dari kita mudah beradaptasi , bisa suaminya yang mulai suka masakan Indo atau perempuannya yang jadi fasih memasak meatloaf, chicken pot pie (dan pie-pie lainnya) broccoli¬†cheddar soup, you name it, the Indonesian wife will cook it.¬†¬†Idealnya begitu, tapi tidak semua kasus sama. Saya contohnya, paling tidak suka masak (dan tidak ‘ngeh’ kalau menikah itu berarti harus SELALU masak buat pasangan?), janjinya pasangan karena saya kerja penuh waktu kita akan bergantian masak. Cuma koq yang dia masak cuma terbatas : spaghetti with marinara sauce, hamburger, chili, fried chicken as in KFC not as in Ayam Suharti, Plain Steak, mac and cheese (with or without tuna), canned bake beans with hot dogs.Bosen gila! Jadi ya saya yang lebih sering memasak supaya lebih ada variasi. Mudah-mudahan kalian pada senang masak ya? (#sayatidaksukamasak)

    Belum lagi masalah jenis makanan yang kita pantang (terutama untuk Muslim).

    Beberapa dari pasangan sangat menghormati pantangan kita, dan ikutan tidak makan, tapi tidak jarang ada pasangan yang tetap mengkonsumsi si ekor keriting seperti biasa baik itu diluar rumah maupun di dalam rumah.

    Kalau kamu tipe yang santai ya tidak masalah, tapi hal kecil seperti bisa jadi beban loh….

  4. Kendala Budaya : yang paling gampang deh, merayakan natal. Di Indonesia kita terbiasa ‘tahu’ kalau tidak semua orang merayakan natal dan kalau kita termasuk yang tidak merayakan natal ya kita tenang-tenang saja, tidak harus kan?Di sini, kecuali suami kita tipe ‘sangat’ memahami perbedaan, boleh dibilang jadinya kita ‘diharuskan’ ikutan merayakan natal. ¬†Mungkin hal kecil sih ya, tapi buat saya terus terang agak melelahkan, karena saya merasa pe-er pressure sekali . Saya lebih suka suasana di Indonesia deh, saya merasa ‘bebas’ tidak bernatalan, tidak ada ‘paksaan’ atau dipertanyakan.

    Contoh lainnya minum alkohol, suami saya ternyata pecandu alkohol, ini menyiksa sekali loh, karena saya yang menganggap alkohol itu barang terlarang, sekarang harus melihat pasangan setiap malam minum.

  5. Kendala Keuangan : tidak semua dari kita dapat suami bule tajir tho? atau jadi Sugar Daddy;¬†idealnya suami adalah sumber penghasilan keluarga. IDEALNYA. Dan jangan salah, banyak juga pria bule yang menganut faham kalau istri tugasnya di rumah, tidak perlu kerja.Terus terang buat saya, karena merasa ‘sendiri’ tanpa keluarga, saya terpacu untuk jadi mandiri dan tidak semata-mata mengantungkan diri dari penghasilan suami.

    Tahun-tahun pertama tinggal di Amrik memang saya tidak kerja , lebih banyak di rumah, beradaptasi dan merawat si anak, tapi kemudian saya KEJEDUG kenyataan waktu suami kehilangan kerja.

    Detik itu juga saya langsung teringat nasehat ibu saya : sebagai perempuan harus punya penghasilan sendiri dan tabungan sendiri……

    Disitulah saya merasa bersyukur sekali kalau saya bisa berpenghasilan – meskipun tidak besar- ta[i cukup bisa menolong keluarga saya bertahan hidup selama setahun lebih hingga suami mendapat pekerjaan baru.

    Belum lagi masalah kebiasaan pasangan membelanjakan uang. Ini juga bisa bikin berabe.

    Saya tipenya yang ogah minta duit, jadi ya saya pilih kerja sik.  Dan juga ya untuk itu, untuk menjaga diri saya sendiri, memastikan kalau ada hal-hal yang tidak diharapkan , saya bisa menghidupi diri sendiri.

  6. Kendala Pertemanan: support system istilah bulenya. Kalau di Indo kita ada orang tua, ada sanak keluarga, ada sohib sejak SD, sejak SMP, sejak SMA,’sejak kuliah…..Kesel sama pacar, curhat sama sohib, telpon-telponan, kabur ke rumah ortu, ke rumah oom, ke rumah teman. ¬†Enak. (saya pernah koq kabur dan ngaso di rumah teman, jadi ya saya tahu laaah)

    Pindah ke Amrik, kita balik ke nol lagi.

    Mencari teman, gampang-gampang susah sih, bukannya tidak mungkin kita dapat sohib baru disini, bisa sesama orang Indo, bisa orang bule juga. Tapi ya itu , kita juga musti pinter-pinter bersosialisasi.

    Tidak selalu kita akan tinggal di kota yang banyak orang Indonesianya, mungkin salah satu dari kita tinggal di kota cilik mintik…yang semuanya bule dan manula, sosialisasi jadi tantangan kan?

    Ternyata setelah saya perhatikan saya agak-agak anti sosial..ha..ha..ha.

    Dan kalau kita jadi tidak ada support systemnya, ya bukan berarti dunia kiamat ya! Ya kita tetap akan survive lah – Insha ALLAH, cuma road will be bit rougher.

    Kesimpulannya?

    Menikah dengan bule tidak selalu indah, gemerlap, happy ending, pasang foto ciuman di Facebook, pasang status berbahasa Inggris , pasang foto-foto jalan-jalan dengan mas bulenya di media sosial

    Menikah dengan bule artinya banyak beradaptasi – setiap saat boleh dibilang-, otak dipicu untuk terus belajar, karena harus mikir dalam bahasa Indonesia, tapi ngomong dalam bahasa Inggris, kemandirian kita akan lebih di uji.

    Jadi…jangan lihat buku dari sampulnya yaaaaa!!!!

 

 

 

 

Seminggu Sudah Berpuasa

Hari ini genap sudah seminggu lamanya umat Islam mulai berpuasa di bulan Ramadan 2017. Kebetulan saya termasuk salah satu yang berpuasa.

Gimana hasilnya? lumayanlah…masih sanggup…

Godaan? Jelas ada. Capek. Ngantuk. Pasti.

Di sisi lain, takjub juga akan kekuatan tubuh sendiri yang ternyata sanggup tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam…….

Iseng-iseng mau mengkaji gimana puasa saya selama minggu pertama :

Hari Sabtu (27 Mei) – pagi-pagi kerja dari jam 9 sampai jam 12, cuci mata di toko-toko lainnya, balik ke rumah jam 2 an, lumayan, setengah hari sudah terbuang….

Hari Minggu (28 Mei) lupa..ngapain ya?? istirahat saja kayaknya sih…o iya…pas jam 8 an gitu, lagi lihat-lihat Instagram..tiba-tiba koq pengen siomay…nemu resep di Youtube…eh koq gampang ya…jadilah ngacir ke Kroger supermarket buat beli daging ayam giling dan udang buat siomay…..Eng ing eng…hari ini pertama kalinya saya buat siomay!

Hari Senin (29 Mei) -hari libur Memorial Day di Amrik – ternyata kuat bersepeda ria sama anak dan suami…pendek sih rutenya, tapi hari pas lumayan panas…gleg…haus bisa ditahan juga kalau niat….

Hari Selasa (30 Mei)- hari pertama kerja pas puasa, waduh ngantuknya minta ampun, pekerjaan jadi agak sembrono! Duh malu deh! langsung dalam hati janji tidak mau sembrono lagi besok besok. Malamnya iseng bikin sate padang karena ada sisa lidah sapi dari semur yang dibuat sebelumnya…eh ternyata saya bisa bikin sate padang!!

Hari Rabu, (31 Mei)-hari ini saya kerja dari rumah, karena harus ke dokter ini itu… entah bagaimana setelah di dokter THT hidung saya disemprot obat bius lokal, maksudnya untuk si dokter swap tenggorokan saya, tapi yang ada dari jam 9 sampai jam 4 saya non stop bersin-bersin dan ingusan. Asli sengsara. Waktu ambil obat yang disarankan dokter, hampir mau buka – karena capek sekali bersin tidak berhenti-henti…lah..obatnya ternyata bikin ngantuk! padahal saya masih harus kerja jam 6 hingga jam 9 hari itu..ya sudah tidak jadi minum obat, eh Alhamdulillah ingusannya berhenti.

Hari Kamis (1 Juni) ditabrak pas lagi mau ketemuan teman ūüė¶

Hari Jumat (2 Juni) – sehabis sahur, mandi, langsung berangkat ke tempat kerja, untungnya memang saya jam kerjanya bisa mulai jam 6:30 pagi. Eh ternyata kerjaan segudang, yang ada baru pulang jam 5! phew! Sampai rumah, istirahat bentar…hadduuh…koq malas masak ya?? jadilah cuma bikin mie rebus, pakai kangkung dan daging suwir ala Korea. O iya…sempat pergi ke Walmart, nemu es krim rasa mangga – iih enak juga!! rasa mangganya ketara !

Hari Sabtu (3 Juni) – kerja dari jam 9-12! balik ke rumah, bobo …trus jalan-jalan ke taman Charlestown …hua…….pilih trail pendek – cuma 0.9 mil..cuma tanjakannya ajegileeeeeeee….ini kaki rasanya ogah diangkat!! ha…ha…ha…susah deh out of shape! Ini foto-foto dibawah masih bisa cengengesan karena diambil sebelum jalan di tanjakan yang bikin ngos-ngosan…;-)

Waktu balik ke mobil..hua..langsung pasang AC…buat menghilangkan haus! kik..kik..kik..

(more…)

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya adalah seorang imigran

Setelah lahir dan besar di Jakarta, untuk ukuran Jakarta,  Indonesia ya saya penduduk super lokal. Bukan cuma lokal orang Indonesia aka pribumi tapi juga lokal Jakarta.

Ada lah rasa ‘belagu’, karena saya anak Ibukota gitu loh.

Pindah lah si 100% pribumi dan 100% anak ibukota ini ke Amerika.

Dari situ status saya ya berubah menjadi seorang imigran. Tidak bohong kalau saya merasa ‘turun kelas’….

Tapi sebetulnya yaaa…berstatus imigran ya tidak ada yang salah, atau tidak bernotasi buruk ya.

Memang faktanya koq saya berimigrasi ke Amerika, ya jadinya saya seorang imigran.

Apa arti jadi seorang imigran bagi saya?

Saya punya kampung halaman. ¬†Hi..hi…hi…kata mudik sekarang menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

Saya belajar budaya dan sejarah negara baru saya. Ih, sumpah, saya paling malas belajar sejarah. Cuma koq ya rasanya tidak ‘sopan’ kalau saya buta sekali tentang sejarah negara yang saya adopsi jadi negara saya.

Saya merasa (merasa loh yaaaaaa…ini opini bukan fakta!!!- catat!) saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sesuai – terutama yang berkaitan dengan pekerjaan. ¬†Benar atau tidak , saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya sehari-harinya¬†constantly¬†berusaha amat sangat patuh dengan aturan pekerjaan (dulu waktu jadi pribumi sih saya biasa saja) .

Entah apa karena saya merasa ‘orang luar’ jadi saya harus bangun kepercayaan dulu? ¬†Mbuh…

Saya jadi suka memperhatikan sesama imigran lainnya, merasa ada ‘koneksi’ gitu – padahal ya belum tentu…kik..kik…kik..

Tapi benar loh, saya senang jadi imigran, karena saya jadi ingin tahu tentang ras lainnya, kenalan-kenalan saya jadi lebih ‘ramai’ : dari Bosnia, Jepang, India, Pakistan, Iran, Iraq, Mesir, Turki, Palestina, Malaysia, Thailan, Ukrania, Rusia, Bulgaria, Korea, Nepal, Maroko dan seterusnya….

Mana saya tahu gitu kalau wanita-wanita Bosnia cuantik nya minta ampun! seperti boneka! atau ngobrol langsung dengan penganut agama Sikh atau diundang ke pura Hindu orang India.

Melihat sesama imigran berprestasi terus terang saya ikut bangga! Mereka adalah bukti kalau imigran bukan warga negara kelas 2.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

NOL

Saya harus mulai dari NOL lagi.

Pendidikan : NOL (well, sederajat dengan lulusan SMA Amrik lah).

Pengalaman kerja : NOL.

Teman-teman : NOL

Sanak Keluarga Indo : NOL

Materi : NOL – uang suami ya saya tidak masukkan ya..secara saya kan dulu kerja gitu loh.

Tidak seperti kerabat-kerabat dan banyak teman-teman saya yang sungguh pintar ¬†dan berkarir tinggi waktu di Jakarta, saya ini pas-pasan dan kurang ‘hoki’.

Latar pendidikan saya memang sarjana teknik sipil tapi wis saya tidak mengerti satu pun ilmu sipil yang saya pelajari. Jadi ya tidak bisa dipakai.

Universitas tempat saya lulus di Jakarta sih memang keren, tapi di Amrik ya tidak ada bunyinya.

Pengalaman kerja, mungkin bisa di daya gunakan, tapi waktu saya pertama hijrah tidak terpikir sejauh itu.

Jadilah waktu akhirnya saya mulai coba cari kerja, saya baru sadar kalau saya harus mulai dari NOL lagi.

Waduh…pedih juga lah hati ini setelah berpuluh puluh lamaran kerja tidak ada yang balik.

Atau waktu basah kuyup kehujanan tidak punya mobil tidak ada teman yang bisa di mintai tolong.

Melahirkan dan merawat anak, dijalani berduaan saja dengan suami. Sungguh super iri melihat teman-teman yang ada ibu atau bapaknya datang waktu anak-anak lahiran.

 Ya sudah, daripada mewek, mulailah saya kerja apa saja. Mulailah saya coba berteman. Mulailah saya mengumpulkan uang sendiri.

Terus terang saya salut sekali dengan teman-teman imigran Indonesia yang melanjutkan sekolah lagi di Amrik (mereka hijrah ke sini bukan untuk melanjutkan kuliah ya).

Saya pernah coba sekolah lagi..hadewweh..ini otak sudah karatan..yang ada malessss…..- parah kan?! jangan dicontoh ya!!

Intinya dari tulisan saya ini….

Jangan putus asa kalau apa-apa yang sudah kita rintis, eh…ternyata tidak ada artinya di tempat lain….

Kalau ada kesempatan sekolah, atau ambil kursus ya…monggo deh dilakoni…

Jangan malu untuk kerja di tempat kurang ‘mentereng’, yang penting kita tidak nyolong, tidak jualan yang terlarang, hasil kerja kita lama-lama bisa jadi bukit juga lah…

Hidup dari NOL lagi….kadang memang sesuatu yang harus kita lakoni….

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya sekarang keren karena suaminya bule

HA!

Aduh..enggak lah! suami bule tidak jadi buat saya jadi keren…yang serius ni :

Saya sekarang adalah kaum minoritas

Bukan cuma secara ras – Asia atau lebih mikronya Indonesia, saya juga minoritas dalam hal kepercayaan.

Tidak enak ya?

Tidak juga sih.  Tapi kalau mau jujur ya memang lebih mudah dan nyaman  jadi kaum mayoritas lah.

Dalam masalah makanan misalnya.

Dimana-mana harus ngecek tabel isi makanan, ada babinya atau tidak. Entah bagaimana, pernah kami salah beli daging…pas mau dimasak baru lihat label..lho koq babi ternyata?? ha…ha..ha..yang ada tetangga dapat daging babi gratis! hi..hi..hi….

Atau juga waktu pesan pizza, ¬†perasaan pas order sudah pilih daging sapi, pas mas antar pizza sampai di depan pintu dan kami buka si kotak pizza…lho..koq pepperoni?? lagi-lagi tetangga dapat rejeki…kik..kik..kii

Minuman, pilihannya cuma air putih, es teh pahit, es teh manis, soda dan alkohol. Tidak ada es kelapa muda atau es teler misalnya.

Ada pesta kantor, haruslah isi bagian ‘dietary prohibition’ . Kadang kalau perusahaannya perhatian, ya makanan buat saya dibuat tersendiri, kadang bos suka lupa jadi saya cuma bisa gigit jari sementara semua rekan-rekan sibuk makan. Nasib….;-)

Eh tapi ya..masalah dietary prohibition ini bukan semata-mata religius sih, banyak orang-orang yang alergi jenis makanan tertentu, alergi gluten misalnya, atau alergi kacang. Jadi dietary prohibition ini saya perhatikan lebih ke masalah keselamatan, bukan semata-mata ‘penghormatan’ kepada pemilik agama tertentu.

Atau pas hari Natalan, rasanya saya harus adakan konfrensi pers untuk menjelaskan kenapa saya pilih untuk tidak merayakan hari Natal. Karena sebagian besar orang-orang disini seakan-akan jengah sekali kalau kita tidak merayakan natal.

Yang enaknya (atau tidak enaknya – terserah pembaca deh)…banyak orang-orang yang penasaran akan latar belakang saya karena saya minoritas. Kadang jadi pemancing pembicaraan gitu. Memang pas lagi tidak mood ngobrol ya capek sih…hi..hi..hi..

Yang jelas saya belajar menghargai ‘keterbatasan’ menjadi kaum minoritas. Belajar simpatik, toleransi, empati.

Lalu juga saya juga jadi lebih banyak bersyukur.

Bersyukur kalau saya ternyata lebih mengerti akan ketidakseragaman dan MENGHARGAI ketidakseragaman. Dan TIDAK NGOYO.

Idul Fitri jarang ada yang tahu, tidak libur, tidak ada yang kasih selamat, ya tidak masalah. Kalau mau libur ya tinggal minta ijin – kalau saya tidak salah ada aturannya untuk pegawai meminta libur berdasarkan hari besar, tapi saya pribadi tidak pernah minta.

Puasa, tidak ada teman senasib, tidak ada yang pedulikan, ya wong ibadah buat Tuhan kan…ya tidak masalah. Yang jelas harus celingukan ke jendela buat ngecek matahari tenggelam dan matahari terbit….atau mau cara lebih modern ya pakai app.

Menjadi minoritas bukan berarti menjadi tertindas, tapi menjadi minoritas adalah berkah untuk menghargai hal-hal kecil yang lebih berarti, misalnya waktu pesta natal perusahaan pertama saya kerja, saya lagi hamil bulet, seumur-umur belum pernah hadiri pesta natal ala bule kan. Eh ternyata saya dipesankan makanan yang tidak mengandung si ekor keriting. Jelas salut lah saya..apalagi perusahaan tempat saya kerja itu  perusahaan lokal, tho bos mau repot-repot order makanan cuma buat saya dan suami.

Atau waktu salah satu manajer saya mengingatkan manajer lainnya untuk pesan makanan yang saya bisa makan – sementara saya cuma satu-satunya staf yang tidak bisa makan si pinky kan, repot amat gitu. Terharu sekali saya, senang karena ada yang ingat.

Kalau tho bos-bos ‘lupa’ ya saya sih tidak marah..biasa saja..wong di Indonesia juga saya pernah harus duduk makan di restoran yang menunya babi semua, cuma karena bos besar pesan dan saya harus duduk bareng ya wis.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya harus bisa berbahasa Inggris lebih baik.

Untuk saya pernyataan diatas itu mutlak. Sebagai imigran, saya ngeh konsekuensi berimigrasi ke negara yang tidak berbahasa ibu saya, artinya saya harus belajar bahasa lokal di negara yang akan saya tinggal.

Untungnya saya cuma berimigrasi ke Amerika dimana bahasa mayoritas yang digunakan adalah bahasa Inggris. Kalau saya berimigrasi ke Jepang, atau ke Jerman atau ke Finlandia misalnya, kemungkinan besar saya akan nangis darah, karena harus belajar bahasa baru dari nol.

Saya memang sudah belajar bahasa Inggris dari mulai SMP – SMP negeri – dan ortu memasukkan saya ke kursus bahasa Inggris LIA – meskipun saya waktu itu belum cukup umur (masih SMP dan persyaratan masuk LIA jama itu, harus SMA), tapi saya ‘pura-pura bego’ ngaku anak SMA. Saya juga kerja di perusahaan yang bosnya orang Amrik, klien-klien juga banyak yang bule.

Jadi kemampuan bahasa Inggris saya tidak apa adanya.

Kenapa gitu saya merasa harus memperbaiki berbahasa Inggris saya setelah di Amrik?

Di sini ada stereotipe kalo imigran itu bloon, tidak bisa berbahasa Inggris, tidak punya kemampuan kerja , dan kelakuannya seperti parasit.

Saya mau mematahkan stereotipe itu.  Tidak rela deh di remehkan orang cuma karena saya imigran dan bahasa ibu saya bukan bahasa Inggris.

Lagipula menurut saya memang sudah adabnya lah kalau kita tinggal di negara lain, kita harus belajar budaya lokal.

Tul tidak?

Secara pribadi saya juga malu kalau kalimat bahasa Inggris saya cuma terbatas :

  • I love you
  • I love my husband
  • I have the best husband
  • I miss my husband
  • Honey
  • You are the best
  • dan kalimat-kalimat lain yang agak-agak mirip

Lagian kan, kita berinteraksi bukan cuma sama suami kita saja…

Jadi yuk…kalau mau tinggal di Amrik, belajarlah bahasa Inggris!