suka duka

Aku Punya Anjing Kecil

Ingat lagu anak-anak diatas? Kalau pembaca sekalian seumuran saya, kayaknya pasti ingat ya..lagunya tenar sekali .

Waktu saya di Indonesia, saya takut sama anjing, karena somehow diajarin kalau anjing adalah BUKAN binatang yang favorable, ditambah lagi memang say pernah di kejar-kejar anjing tetangga pas main sepeda, tambahkah saya sungkan gaul dengan anjing.

Pindah ke Amrik, ke kota kecil yang boleh dibilang ramah anjing, hampir semua penduduk punya anjing, jalan kemana-mana bawa anjing mereka. Pasangan sendiri suka anjing (dan pernah punya anjing waktu kecil)

Saya mulai tumbuh rasa senang dengan anjing, bahkan saya berani jaga anjing kecil teman saya sekali dua kali…

Dilanjutkan dengan main dengan anjing tetangga yang ukurannya lebih gedean…

Saya mulai nyaman berinteraksi dengan anjing.

Pindah ke KY, lagi-lagi saya jagain anjing kecil teman kantor saya, kali ini bukan cuma beberapa jam, tapi seminggu, dan ternyata baik-baik saja.

Lama-kelamaan saya mulai merengek mau punya anjing sendiri, tidak dibolehkan sama pasangan karena kami tinggal di apartemen. Boleh punya anjing kalau kita punya rumah, katanya….

Sampai satu hari…..kita tidak berencana makan di resto, di sebelah resto ini ada penampungan anjing dan kucing yang memang saya sudah lama kepengen lihat.

Kelar pesan makanan, saya dan si kecil kabur ke penampungan untuk lihat-lihat anjing yang ada. Pertama-tama staf ybs kasih kita lihat-lihat anjing ukuran besar, waktu saya kasih tahu kalau saya tinggal di apartemen, dia lalu bawa kita ke anjing-anjing kecil….(termasuk anjing-anjing yang masih bayi)

Waduh..lucu-lucu banget!!

Ada satu anjing yang saya dan si kecil suka, anjing campuran Chihuahua dan Daschund, dengan bulu warna coklat krim dan putih. Anak anjing ini umur 4 bulanan dan ramah sekali.

Senangnya menjilat-jilat dan ekornya tidak berhenti bergoyang-goyang. Kalau anak-anak anjing lainnya sibuk menggonggong, anjing ini tidak.

 

 

 

Balik ke resto, dan selesai makan saya dan kecil merengek-rengek minta si ayah lihat. Tadinya dia tidak mau, tapi akhirnya ngalah dan kita semua balik ke penampungan untuk melihat si anak anjing.

Setelah melihat si anjing kecil, si ayah luluh juga membolehkan saya untuk mengajukan permohonan adopsi.

Sesampainya Kami di rumah, saya langsung kirim aplikasi online. BOOM.

Dengar dari staf, sudah ada pengaju lamaran sebelum kita yang sudah disetujui. Mereka akan bawa anjing mereka untuk ketemu si anjing kecil ini hari Sabtu jam 11. Kalau ternyata tidak cocok, maka lamaran kita akan dipertimbangkan.

Sempat kecut hati ini….jadi ada kemungkinan kita tidak bisa adopsi si anak anjing dong……

Hari Sabtu saya kebetulan kerja sampai jam 12. Sampai rumah saya langsung telpon tempat penampungan.

“Halo. Saya mau tanya..apa Oxford-nama si anjing- sudah punya orang tua baru?

“Oh ini Irus ya? Oxford batal dengan pengaju pertama, sekarang kita lagi lihat lamaranmu!”

Awwww!! Asli saya girang dan deg-degan sekali..

Mereka lalu bertanya beberapa hal tentang kondisi hidup keluarga saya: apakah pengelola apartemen saya membolehkan anjing, apa saya akan membiarkan anjing saya tinggal di luar rumah, apa yang membuat saya tidak lagi mau memelihara anjing.

Setelah itu mereka akan menelpon referensi yang saya tulis di applikasi.

Tunggu 2 jam lagi untuk hasilnya kata mereka.

Waduuuh..2 jam rasanya lamaaaaa sekali!!

Sekitar jam 3…saya di telpon lagi.

“Halo Irus. Kami sudah selesai dengan lamaranmu. Kapan kamu mau ambil Oxford???”

Awwwww..saya langsung nangis saking senangnya!!

Saya punya anjing kecil!

Hari itu juga kita sekeluarga jemput si anjing kecil.

Sejak itu hari-hari saya direcoki dengan goyangan ekor, loncat sana loncat sini, jilat pipi kiri dan kanan, jalan-jalan bersama si anjing kecil.

S

 

ampai sekarang si anjing kecil ini lengket sekali dengan saya…

Dia gak mau poopy kalau bukan saya yang ajak jalan…haduuuuh..coba deh ya..

Tapi ya gak apa-apa..artinya dia kan mau nunjukkin kalau dia mau nyenengin saya….hi..hi..hi

Dan sepertinya benar deh kata pepatah..anjing adalah kawan setia manusia…

Kalau saya tinggal kerja Ox nangis di depan pintu,  kalau saya sedih, Ox langsung jilatin saya, pas saya ngomel,  Ox kabuuur!!!! Ha..ha..ha..ha

 

 

Advertisements

Celoteh di Awal Tahun 2018

Halo Tahun 2018!

Ah tahun baru euy…biasanya orang-orang repot bikin resolusi. Saya pilih nulis saja ah.

Beberapa waktu lalu ada pembaca blog aku yang komentar “ penuh perjuangan juga ya MBA, WNI cewe nikah ma WNAmerika cowo”

Baca komentar itu saya jadi ‘geli’ sendiri..andaikan perjuangan kita cuma dimasalah imigrasi saja……kenyataannya perjuangan perempuan WNI menikah dengan WN Amrik itu bukan semata di masalah imigrasi loh.

Nah di tulisan kali ini saya mau blak-blakan buka-bukaan tantangan , perjuangan menikah dengan WN Amrik

  1. Menikah itu sendiri bukan hal yang sederhana, jangankan menikah dengan bangsa lain, menikah dengan bangsa sendiri pun pasti ada bentrokan.  Saya sendiri agak ‘telmi’  alias telat mikir tentang apa itu pernikahan.  Waktu menikah saya boleh dibilang tidak ‘ngerti’ apa sih artinya menikah itu? Untunglah saya menikah di umur yang sudah lumayan tinggi, tidak terpikir deh kalau saya menikah muda…

    Kalau anda menikah berarti ada kemungkinan bercerai.

    idih koq gitu sih? masa nikah trus langsung mikirin bercerai.

    Bukan begitu, ini kenyataan koq. Selalu siapkan diri untuk menghadapi hal yang (ter) buruk……

    Tidak usah malu, tidak usah gengsi, shit happens.

    Itu bagian dari hidup koq. Jangan putus asa. Jangan malu minta pertolongan orang lain ya.

  2. Kendala bahasa : memang sebagian besar orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dan kenyataan kalau si bule mau nikah dengan kita, si bule sudah ‘ngerti’ apa yang kita omongin? gitu? Well…….Kendala bahasa bukan cuma masalah tata bahasa, kosa kata, struktur atau pelajaran bahasa lainnya ; kendala bahasa disini lebih ke cara kita mengekspresikan diri sehari-hari.

    Saya pribadi bahasa Inggrisnya tidak bego-bego amat, tetap di mata suami, dia banyak ‘tidak mengerti’ apa yang saya katakan.

    Bukan cuma di mata suami saja loh, namanya kita tinggal di Amrik, ya berarti kita harus bercakap-cakap dengan masyarakat umum kan? Salah mengerti, atau di pandang rendah itu salah satu hal yang kita akan hadapi.

  3. Kendala makanan : menikah dengan bule, makanan yang disajikan artinya akan beda dengan makanan yang kita terbiasa. Sebagian besar dari kita mudah beradaptasi , bisa suaminya yang mulai suka masakan Indo atau perempuannya yang jadi fasih memasak meatloaf, chicken pot pie (dan pie-pie lainnya) broccoli cheddar soup, you name it, the Indonesian wife will cook it.  Idealnya begitu, tapi tidak semua kasus sama. Saya contohnya, paling tidak suka masak (dan tidak ‘ngeh’ kalau menikah itu berarti harus SELALU masak buat pasangan?), janjinya pasangan karena saya kerja penuh waktu kita akan bergantian masak. Cuma koq yang dia masak cuma terbatas : spaghetti with marinara sauce, hamburger, chili, fried chicken as in KFC not as in Ayam Suharti, Plain Steak, mac and cheese (with or without tuna), canned bake beans with hot dogs.Bosen gila! Jadi ya saya yang lebih sering memasak supaya lebih ada variasi. Mudah-mudahan kalian pada senang masak ya? (#sayatidaksukamasak)

    Belum lagi masalah jenis makanan yang kita pantang (terutama untuk Muslim).

    Beberapa dari pasangan sangat menghormati pantangan kita, dan ikutan tidak makan, tapi tidak jarang ada pasangan yang tetap mengkonsumsi si ekor keriting seperti biasa baik itu diluar rumah maupun di dalam rumah.

    Kalau kamu tipe yang santai ya tidak masalah, tapi hal kecil seperti bisa jadi beban loh….

  4. Kendala Budaya : yang paling gampang deh, merayakan natal. Di Indonesia kita terbiasa ‘tahu’ kalau tidak semua orang merayakan natal dan kalau kita termasuk yang tidak merayakan natal ya kita tenang-tenang saja, tidak harus kan?Di sini, kecuali suami kita tipe ‘sangat’ memahami perbedaan, boleh dibilang jadinya kita ‘diharuskan’ ikutan merayakan natal.  Mungkin hal kecil sih ya, tapi buat saya terus terang agak melelahkan, karena saya merasa pe-er pressure sekali . Saya lebih suka suasana di Indonesia deh, saya merasa ‘bebas’ tidak bernatalan, tidak ada ‘paksaan’ atau dipertanyakan.

    Contoh lainnya minum alkohol, suami saya ternyata pecandu alkohol, ini menyiksa sekali loh, karena saya yang menganggap alkohol itu barang terlarang, sekarang harus melihat pasangan setiap malam minum.

  5. Kendala Keuangan : tidak semua dari kita dapat suami bule tajir tho? atau jadi Sugar Daddy; idealnya suami adalah sumber penghasilan keluarga. IDEALNYA. Dan jangan salah, banyak juga pria bule yang menganut faham kalau istri tugasnya di rumah, tidak perlu kerja.Terus terang buat saya, karena merasa ‘sendiri’ tanpa keluarga, saya terpacu untuk jadi mandiri dan tidak semata-mata mengantungkan diri dari penghasilan suami.

    Tahun-tahun pertama tinggal di Amrik memang saya tidak kerja , lebih banyak di rumah, beradaptasi dan merawat si anak, tapi kemudian saya KEJEDUG kenyataan waktu suami kehilangan kerja.

    Detik itu juga saya langsung teringat nasehat ibu saya : sebagai perempuan harus punya penghasilan sendiri dan tabungan sendiri……

    Disitulah saya merasa bersyukur sekali kalau saya bisa berpenghasilan – meskipun tidak besar- ta[i cukup bisa menolong keluarga saya bertahan hidup selama setahun lebih hingga suami mendapat pekerjaan baru.

    Belum lagi masalah kebiasaan pasangan membelanjakan uang. Ini juga bisa bikin berabe.

    Saya tipenya yang ogah minta duit, jadi ya saya pilih kerja sik.  Dan juga ya untuk itu, untuk menjaga diri saya sendiri, memastikan kalau ada hal-hal yang tidak diharapkan , saya bisa menghidupi diri sendiri.

  6. Kendala Pertemanan: support system istilah bulenya. Kalau di Indo kita ada orang tua, ada sanak keluarga, ada sohib sejak SD, sejak SMP, sejak SMA,’sejak kuliah…..Kesel sama pacar, curhat sama sohib, telpon-telponan, kabur ke rumah ortu, ke rumah oom, ke rumah teman.  Enak. (saya pernah koq kabur dan ngaso di rumah teman, jadi ya saya tahu laaah)

    Pindah ke Amrik, kita balik ke nol lagi.

    Mencari teman, gampang-gampang susah sih, bukannya tidak mungkin kita dapat sohib baru disini, bisa sesama orang Indo, bisa orang bule juga. Tapi ya itu , kita juga musti pinter-pinter bersosialisasi.

    Tidak selalu kita akan tinggal di kota yang banyak orang Indonesianya, mungkin salah satu dari kita tinggal di kota cilik mintik…yang semuanya bule dan manula, sosialisasi jadi tantangan kan?

    Ternyata setelah saya perhatikan saya agak-agak anti sosial..ha..ha..ha.

    Dan kalau kita jadi tidak ada support systemnya, ya bukan berarti dunia kiamat ya! Ya kita tetap akan survive lah – Insha ALLAH, cuma road will be bit rougher.

    Kesimpulannya?

    Menikah dengan bule tidak selalu indah, gemerlap, happy ending, pasang foto ciuman di Facebook, pasang status berbahasa Inggris , pasang foto-foto jalan-jalan dengan mas bulenya di media sosial

    Menikah dengan bule artinya banyak beradaptasi – setiap saat boleh dibilang-, otak dipicu untuk terus belajar, karena harus mikir dalam bahasa Indonesia, tapi ngomong dalam bahasa Inggris, kemandirian kita akan lebih di uji.

    Jadi…jangan lihat buku dari sampulnya yaaaaa!!!!

 

 

 

 

Seminggu Sudah Berpuasa

Hari ini genap sudah seminggu lamanya umat Islam mulai berpuasa di bulan Ramadan 2017. Kebetulan saya termasuk salah satu yang berpuasa.

Gimana hasilnya? lumayanlah…masih sanggup…

Godaan? Jelas ada. Capek. Ngantuk. Pasti.

Di sisi lain, takjub juga akan kekuatan tubuh sendiri yang ternyata sanggup tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam…….

Iseng-iseng mau mengkaji gimana puasa saya selama minggu pertama :

Hari Sabtu (27 Mei) – pagi-pagi kerja dari jam 9 sampai jam 12, cuci mata di toko-toko lainnya, balik ke rumah jam 2 an, lumayan, setengah hari sudah terbuang….

Hari Minggu (28 Mei) lupa..ngapain ya?? istirahat saja kayaknya sih…o iya…pas jam 8 an gitu, lagi lihat-lihat Instagram..tiba-tiba koq pengen siomay…nemu resep di Youtube…eh koq gampang ya…jadilah ngacir ke Kroger supermarket buat beli daging ayam giling dan udang buat siomay…..Eng ing eng…hari ini pertama kalinya saya buat siomay!

Hari Senin (29 Mei) -hari libur Memorial Day di Amrik – ternyata kuat bersepeda ria sama anak dan suami…pendek sih rutenya, tapi hari pas lumayan panas…gleg…haus bisa ditahan juga kalau niat….

Hari Selasa (30 Mei)- hari pertama kerja pas puasa, waduh ngantuknya minta ampun, pekerjaan jadi agak sembrono! Duh malu deh! langsung dalam hati janji tidak mau sembrono lagi besok besok. Malamnya iseng bikin sate padang karena ada sisa lidah sapi dari semur yang dibuat sebelumnya…eh ternyata saya bisa bikin sate padang!!

Hari Rabu, (31 Mei)-hari ini saya kerja dari rumah, karena harus ke dokter ini itu… entah bagaimana setelah di dokter THT hidung saya disemprot obat bius lokal, maksudnya untuk si dokter swap tenggorokan saya, tapi yang ada dari jam 9 sampai jam 4 saya non stop bersin-bersin dan ingusan. Asli sengsara. Waktu ambil obat yang disarankan dokter, hampir mau buka – karena capek sekali bersin tidak berhenti-henti…lah..obatnya ternyata bikin ngantuk! padahal saya masih harus kerja jam 6 hingga jam 9 hari itu..ya sudah tidak jadi minum obat, eh Alhamdulillah ingusannya berhenti.

Hari Kamis (1 Juni) ditabrak pas lagi mau ketemuan teman 😦

Hari Jumat (2 Juni) – sehabis sahur, mandi, langsung berangkat ke tempat kerja, untungnya memang saya jam kerjanya bisa mulai jam 6:30 pagi. Eh ternyata kerjaan segudang, yang ada baru pulang jam 5! phew! Sampai rumah, istirahat bentar…hadduuh…koq malas masak ya?? jadilah cuma bikin mie rebus, pakai kangkung dan daging suwir ala Korea. O iya…sempat pergi ke Walmart, nemu es krim rasa mangga – iih enak juga!! rasa mangganya ketara !

Hari Sabtu (3 Juni) – kerja dari jam 9-12! balik ke rumah, bobo …trus jalan-jalan ke taman Charlestown …hua…….pilih trail pendek – cuma 0.9 mil..cuma tanjakannya ajegileeeeeeee….ini kaki rasanya ogah diangkat!! ha…ha…ha…susah deh out of shape! Ini foto-foto dibawah masih bisa cengengesan karena diambil sebelum jalan di tanjakan yang bikin ngos-ngosan…;-)

Waktu balik ke mobil..hua..langsung pasang AC…buat menghilangkan haus! kik..kik..kik..

(more…)

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya adalah seorang imigran

Setelah lahir dan besar di Jakarta, untuk ukuran Jakarta,  Indonesia ya saya penduduk super lokal. Bukan cuma lokal orang Indonesia aka pribumi tapi juga lokal Jakarta.

Ada lah rasa ‘belagu’, karena saya anak Ibukota gitu loh.

Pindah lah si 100% pribumi dan 100% anak ibukota ini ke Amerika.

Dari situ status saya ya berubah menjadi seorang imigran. Tidak bohong kalau saya merasa ‘turun kelas’….

Tapi sebetulnya yaaa…berstatus imigran ya tidak ada yang salah, atau tidak bernotasi buruk ya.

Memang faktanya koq saya berimigrasi ke Amerika, ya jadinya saya seorang imigran.

Apa arti jadi seorang imigran bagi saya?

Saya punya kampung halaman.  Hi..hi…hi…kata mudik sekarang menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

Saya belajar budaya dan sejarah negara baru saya. Ih, sumpah, saya paling malas belajar sejarah. Cuma koq ya rasanya tidak ‘sopan’ kalau saya buta sekali tentang sejarah negara yang saya adopsi jadi negara saya.

Saya merasa (merasa loh yaaaaaa…ini opini bukan fakta!!!- catat!) saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sesuai – terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.  Benar atau tidak , saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya sehari-harinya constantly berusaha amat sangat patuh dengan aturan pekerjaan (dulu waktu jadi pribumi sih saya biasa saja) .

Entah apa karena saya merasa ‘orang luar’ jadi saya harus bangun kepercayaan dulu?  Mbuh…

Saya jadi suka memperhatikan sesama imigran lainnya, merasa ada ‘koneksi’ gitu – padahal ya belum tentu…kik..kik…kik..

Tapi benar loh, saya senang jadi imigran, karena saya jadi ingin tahu tentang ras lainnya, kenalan-kenalan saya jadi lebih ‘ramai’ : dari Bosnia, Jepang, India, Pakistan, Iran, Iraq, Mesir, Turki, Palestina, Malaysia, Thailan, Ukrania, Rusia, Bulgaria, Korea, Nepal, Maroko dan seterusnya….

Mana saya tahu gitu kalau wanita-wanita Bosnia cuantik nya minta ampun! seperti boneka! atau ngobrol langsung dengan penganut agama Sikh atau diundang ke pura Hindu orang India.

Melihat sesama imigran berprestasi terus terang saya ikut bangga! Mereka adalah bukti kalau imigran bukan warga negara kelas 2.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

NOL

Saya harus mulai dari NOL lagi.

Pendidikan : NOL (well, sederajat dengan lulusan SMA Amrik lah).

Pengalaman kerja : NOL.

Teman-teman : NOL

Sanak Keluarga Indo : NOL

Materi : NOL – uang suami ya saya tidak masukkan ya..secara saya kan dulu kerja gitu loh.

Tidak seperti kerabat-kerabat dan banyak teman-teman saya yang sungguh pintar  dan berkarir tinggi waktu di Jakarta, saya ini pas-pasan dan kurang ‘hoki’.

Latar pendidikan saya memang sarjana teknik sipil tapi wis saya tidak mengerti satu pun ilmu sipil yang saya pelajari. Jadi ya tidak bisa dipakai.

Universitas tempat saya lulus di Jakarta sih memang keren, tapi di Amrik ya tidak ada bunyinya.

Pengalaman kerja, mungkin bisa di daya gunakan, tapi waktu saya pertama hijrah tidak terpikir sejauh itu.

Jadilah waktu akhirnya saya mulai coba cari kerja, saya baru sadar kalau saya harus mulai dari NOL lagi.

Waduh…pedih juga lah hati ini setelah berpuluh puluh lamaran kerja tidak ada yang balik.

Atau waktu basah kuyup kehujanan tidak punya mobil tidak ada teman yang bisa di mintai tolong.

Melahirkan dan merawat anak, dijalani berduaan saja dengan suami. Sungguh super iri melihat teman-teman yang ada ibu atau bapaknya datang waktu anak-anak lahiran.

 Ya sudah, daripada mewek, mulailah saya kerja apa saja. Mulailah saya coba berteman. Mulailah saya mengumpulkan uang sendiri.

Terus terang saya salut sekali dengan teman-teman imigran Indonesia yang melanjutkan sekolah lagi di Amrik (mereka hijrah ke sini bukan untuk melanjutkan kuliah ya).

Saya pernah coba sekolah lagi..hadewweh..ini otak sudah karatan..yang ada malessss…..- parah kan?! jangan dicontoh ya!!

Intinya dari tulisan saya ini….

Jangan putus asa kalau apa-apa yang sudah kita rintis, eh…ternyata tidak ada artinya di tempat lain….

Kalau ada kesempatan sekolah, atau ambil kursus ya…monggo deh dilakoni…

Jangan malu untuk kerja di tempat kurang ‘mentereng’, yang penting kita tidak nyolong, tidak jualan yang terlarang, hasil kerja kita lama-lama bisa jadi bukit juga lah…

Hidup dari NOL lagi….kadang memang sesuatu yang harus kita lakoni….

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya sekarang keren karena suaminya bule

HA!

Aduh..enggak lah! suami bule tidak jadi buat saya jadi keren…yang serius ni :

Saya sekarang adalah kaum minoritas

Bukan cuma secara ras – Asia atau lebih mikronya Indonesia, saya juga minoritas dalam hal kepercayaan.

Tidak enak ya?

Tidak juga sih.  Tapi kalau mau jujur ya memang lebih mudah dan nyaman  jadi kaum mayoritas lah.

Dalam masalah makanan misalnya.

Dimana-mana harus ngecek tabel isi makanan, ada babinya atau tidak. Entah bagaimana, pernah kami salah beli daging…pas mau dimasak baru lihat label..lho koq babi ternyata?? ha…ha..ha..yang ada tetangga dapat daging babi gratis! hi..hi..hi….

Atau juga waktu pesan pizza,  perasaan pas order sudah pilih daging sapi, pas mas antar pizza sampai di depan pintu dan kami buka si kotak pizza…lho..koq pepperoni?? lagi-lagi tetangga dapat rejeki…kik..kik..kii

Minuman, pilihannya cuma air putih, es teh pahit, es teh manis, soda dan alkohol. Tidak ada es kelapa muda atau es teler misalnya.

Ada pesta kantor, haruslah isi bagian ‘dietary prohibition’ . Kadang kalau perusahaannya perhatian, ya makanan buat saya dibuat tersendiri, kadang bos suka lupa jadi saya cuma bisa gigit jari sementara semua rekan-rekan sibuk makan. Nasib….;-)

Eh tapi ya..masalah dietary prohibition ini bukan semata-mata religius sih, banyak orang-orang yang alergi jenis makanan tertentu, alergi gluten misalnya, atau alergi kacang. Jadi dietary prohibition ini saya perhatikan lebih ke masalah keselamatan, bukan semata-mata ‘penghormatan’ kepada pemilik agama tertentu.

Atau pas hari Natalan, rasanya saya harus adakan konfrensi pers untuk menjelaskan kenapa saya pilih untuk tidak merayakan hari Natal. Karena sebagian besar orang-orang disini seakan-akan jengah sekali kalau kita tidak merayakan natal.

Yang enaknya (atau tidak enaknya – terserah pembaca deh)…banyak orang-orang yang penasaran akan latar belakang saya karena saya minoritas. Kadang jadi pemancing pembicaraan gitu. Memang pas lagi tidak mood ngobrol ya capek sih…hi..hi..hi..

Yang jelas saya belajar menghargai ‘keterbatasan’ menjadi kaum minoritas. Belajar simpatik, toleransi, empati.

Lalu juga saya juga jadi lebih banyak bersyukur.

Bersyukur kalau saya ternyata lebih mengerti akan ketidakseragaman dan MENGHARGAI ketidakseragaman. Dan TIDAK NGOYO.

Idul Fitri jarang ada yang tahu, tidak libur, tidak ada yang kasih selamat, ya tidak masalah. Kalau mau libur ya tinggal minta ijin – kalau saya tidak salah ada aturannya untuk pegawai meminta libur berdasarkan hari besar, tapi saya pribadi tidak pernah minta.

Puasa, tidak ada teman senasib, tidak ada yang pedulikan, ya wong ibadah buat Tuhan kan…ya tidak masalah. Yang jelas harus celingukan ke jendela buat ngecek matahari tenggelam dan matahari terbit….atau mau cara lebih modern ya pakai app.

Menjadi minoritas bukan berarti menjadi tertindas, tapi menjadi minoritas adalah berkah untuk menghargai hal-hal kecil yang lebih berarti, misalnya waktu pesta natal perusahaan pertama saya kerja, saya lagi hamil bulet, seumur-umur belum pernah hadiri pesta natal ala bule kan. Eh ternyata saya dipesankan makanan yang tidak mengandung si ekor keriting. Jelas salut lah saya..apalagi perusahaan tempat saya kerja itu  perusahaan lokal, tho bos mau repot-repot order makanan cuma buat saya dan suami.

Atau waktu salah satu manajer saya mengingatkan manajer lainnya untuk pesan makanan yang saya bisa makan – sementara saya cuma satu-satunya staf yang tidak bisa makan si pinky kan, repot amat gitu. Terharu sekali saya, senang karena ada yang ingat.

Kalau tho bos-bos ‘lupa’ ya saya sih tidak marah..biasa saja..wong di Indonesia juga saya pernah harus duduk makan di restoran yang menunya babi semua, cuma karena bos besar pesan dan saya harus duduk bareng ya wis.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya harus bisa berbahasa Inggris lebih baik.

Untuk saya pernyataan diatas itu mutlak. Sebagai imigran, saya ngeh konsekuensi berimigrasi ke negara yang tidak berbahasa ibu saya, artinya saya harus belajar bahasa lokal di negara yang akan saya tinggal.

Untungnya saya cuma berimigrasi ke Amerika dimana bahasa mayoritas yang digunakan adalah bahasa Inggris. Kalau saya berimigrasi ke Jepang, atau ke Jerman atau ke Finlandia misalnya, kemungkinan besar saya akan nangis darah, karena harus belajar bahasa baru dari nol.

Saya memang sudah belajar bahasa Inggris dari mulai SMP – SMP negeri – dan ortu memasukkan saya ke kursus bahasa Inggris LIA – meskipun saya waktu itu belum cukup umur (masih SMP dan persyaratan masuk LIA jama itu, harus SMA), tapi saya ‘pura-pura bego’ ngaku anak SMA. Saya juga kerja di perusahaan yang bosnya orang Amrik, klien-klien juga banyak yang bule.

Jadi kemampuan bahasa Inggris saya tidak apa adanya.

Kenapa gitu saya merasa harus memperbaiki berbahasa Inggris saya setelah di Amrik?

Di sini ada stereotipe kalo imigran itu bloon, tidak bisa berbahasa Inggris, tidak punya kemampuan kerja , dan kelakuannya seperti parasit.

Saya mau mematahkan stereotipe itu.  Tidak rela deh di remehkan orang cuma karena saya imigran dan bahasa ibu saya bukan bahasa Inggris.

Lagipula menurut saya memang sudah adabnya lah kalau kita tinggal di negara lain, kita harus belajar budaya lokal.

Tul tidak?

Secara pribadi saya juga malu kalau kalimat bahasa Inggris saya cuma terbatas :

  • I love you
  • I love my husband
  • I have the best husband
  • I miss my husband
  • Honey
  • You are the best
  • dan kalimat-kalimat lain yang agak-agak mirip

Lagian kan, kita berinteraksi bukan cuma sama suami kita saja…

Jadi yuk…kalau mau tinggal di Amrik, belajarlah bahasa Inggris!

 

Icip -Icip Truk Makanan

Sekitar pertengahan bulan Maret lalu, saya pindah posisi di perusahaan. Dari bekerja di kantor cabang, saya pilih bekerja di operasional.

Salah satu konsekuensi dari pergantian posisi adalah saya sekarang balik kerja ‘kantoran’ alias kerja di gedung tinggi di pusat kota Louisville, Kentucky.

Kerja kantoran bukan hal yang baru buat saya. Jaman waktu saya masih muda belia di Indonesia, saya selalu kerja di perusahaan yang kantornya berlokasi di pusat kota Jakarta (kawasan segitiga emas istilahnya).

Dulu itu yang mananya kerja di ‘segitiga emas’ artinya makan siang bareng-bareng di Amigos (agak minggir got sedikit) atau kalau setelah gajian, lumayan sanggup makan di food court – atau kantin lah di gedung tempat bekerja.

Di Amrik gimana dong? ada gitu amigos?

Ha!

The closest thing to Amigos is……………food truck!

Yup. Truk makanan boleh dibilang ya makanan kaki limanya Amrik.

Saya belum ngeh tentang truk makanan di hari pertama saya kerja di kantor – maklum, stres karena baru pindah kan.

Baru hari kedua saya perhatikan dari jendela…eh…ada truk makanan parkir!

Nah sejak itu saya sibuk memperhatikan berbagai jenis truk makanan yang parkir disisi gedung saya.

Wuidih…tiap hari truk makanan yang parkir di gedung saya itu selalu berbeda. Minimal ada 2 truk makanan yang ngetem, paling banyak 3.

Si truk makanan ini biasanya ngetem di gedung-gedung yang banyak penyewanya lah – termasuk gedung tempat saya kerja. Intinya si truk ini selalu wara wiri, pindah tempat dari hari yang satu ke hari yang lain. Kalau kamu mau cari truk makanan tertentu, kamu bisa cari dimanan si truk ngendon hari itu lewat app “Where the food trucks at

Jenis-jenis makanan yang disajikan di truk makanan ini juga berbeda-beda. Ini yang pernah saya lihat mampir di gedung saya:

  1. Dakshin – makanan India
  2. Travelling Kitchen – taco Korea
  3. Boss Hogs BBQ – apapun panggang – babi, sapi, ayam
  4. Boo Boo Smoke Shack – idem
  5. LouSushi – sushi lah!
  6. Germany#1Food – sandwich Jerman katanya
  7. Black Rock Grille- hamburger
  8. Smok’N Cantina – taco Mexico
  9. Asian Modern Nomad – masakan Asia (mi goreng, nasi goreng gitu deh)

img_2017-03-21_20-45-33.jpg

wp-1491607196876.jpg

Yang saya sudah pernah cicipi itu Dakshin dan Travelling Kitchen.

Dakhsin sendiri ada restorannya di kota Louisville, tapi koq makanan dari truknya agak mengecewakan yak…hambar gitu..cuma pedas doang.

Hari ini saya nyoba Travelling Kitchen lumayan oke, konon taco bulgoginya yang beken, cuma karena saya minggu itu sudah makan bulgogi, jadi saya pesan taco ikan..lumayan! (cuma kurang nasi!! ha…ha..ha..perut Indonesia susah di’tenangkan’ cuma pakai taco)

 

0407171227.jpg

Pengennya sih saya coba semua makanan dari truk makanan yang berbeda-beda ya….cuma kantong ini gak kuat euy! Rata-rata harga makanannya $10, kalo setiap hari makan , habis $50! hi..hi..hi..mending buat beli baju atau sepatu deh! ha..ha….ha..

Mungkin nantinya saya berhasil nyoba semua truk makanan, tapi satu minggu sekali saja ya….;-)

O iya…yang enak ni ya…di pusat kota di Amrik banyak ruangan terbuka yang memang sengaja dibuat untuk pekerja-pekerja kantoran untuk ngaso,  baik untuk istirahat ataupun ya makan.  Di gedung saya, juga disediakan ruangan terbuka, cuma berhubung cuaca masih dingin dan berangin, tidak banyak pekerja yang memanfaatkan ruangan terbuka ini.

Ini saya foto dari lantai enam, tempat saya bekerja, kebetulan shrubnya lagi pas berbunga..cantik ya!

0407171316b.jpg

 

 

 

 

 

 

Tabrak Lari

Kalau dengar kata Amerika, sebagian besar dari kita merasa semua-muanya pasti lebih OKEH dibanding negara sendiri, bukan tidak mungkin kita anggap Amrik itu negara hampir tanpa cacat kali ya.

Teratur. Nyaman. Tidak ada polusi. Tertib. Mewah. Serba ada dan lain lain.

Kenyataannya Amrik, sama saja seperti negara-negara lainnya, sama seperti negara berkembang, terutama dalam hal : TABRAK LARI.

Saya pribadi pernah mengalaminya, 2 kali. Alhamdulillah tidak serius ya, tapi tetap saja jengkel, apalagi kalau akibat tabrakan mobil harus masuk bengkel.

Pertama kali saya mengalami tabrak lari itu tahun 2010, waktu masih tinggal di Bozeman, MT.

Saya baru balik dari mengunjungi suami di Texas, waktu tiba di Bozeman itu salju berat. Saya dijemput oleh teman saya dan di drop di rumah. Mobil terparkir di driveway tertutup salju.

Keesokan harinya saya kerja, karena pagi-pagi saya bersihkan salju secepat mungkin. Sampai di tempat kerja ya saya parkir seperti biasa.

Selesai kerja, sekitar jam 3 an, menuju ke mobil, deg, jantung saya berhenti. Bagian depan kiri depan mobil ringsek. Meskipun kerusakan tidak seberapa, tapi perasaan ini campur aduk antara kaget dan marah.

Koq tega banget ya orang nabrak mobil terparkir, terus tidak pakai basa basi cuek saja?

Ongkos perbaikan itu sekitar $800! Dengan asuransi, kami harus merogoh kantong sendiri $500. Kondisi kami saat itu tidak terlalu baik, suami baru saja kerja di tempat baru selama 3 bulan eh ternyata ada restrukturisasi, departemen dia ditutup, jadilah dia kehilangan pekerjaan, ditambah kami baru saja pindah dari Ohio dan sudah harus pindah lagi ke Kentucky.  $500 buat kami itu tidak sedikit. 😦

Alhamdulillah kami banyak mendapat donasi dari masyarakat kota Bozeman – saya tulis pengalaman saya di ‘surat untuk redaksi’ di koran setempat, eh malah di wawancara jadi masuk koran segala, dan orang-orang menyumbang!

Kejadian kedua, saya alami minggu ini, lagi-lagi waktu parkir di tempat kerja!!

Sebeeeeeeeeeeeeeeeeel banget!!!

Kali ini memang kerusakan tidak seberapa, hanya baret di pintu, tapi tetap saja hati mangkel.

0307171801.jpg

Saya ngerti sekali kalau mungkin si penabrak tidak punya asuransi untuk menutup ongkos kerusakan – terutama kasus pertama yang saya alami,  tapi ya bukan berarti lari dari tanggung jawab kan?? jangan jadi pengecut gitu dong!

Tidak mampu vs. Tidak bertanggung jawab tidak ada hubungannya kan?!

Apa salahnya sih menulis memo ‘Maaf Bu/Pak, saya tidak sengaja membaret mobilnya. Saya harus pergi, ini nomor telpon saya untuk Ibu/Bapak hubungi’

Gitu loh!

Mudah-mudahan teman-teman tidak ada yang seperti ini ya!

Masalahnya bukan besar atau kecil kerusakan ya…masalahnya kalau kita berbuat salah, mbok ya berani bertanggung jawab!

Kalau kata Ibu/Bapakku : Berani berbuat, berani bertanggung jawab!

Yuk, mari kita semua jadi orang yang bertanggung jawab!!

(tu kan ternyata orang-orang Amrik tidak semuanya patuh aturan!)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya Itu Pramuniaga Toko Baju

Iya benar. Saya itu kerja sebagai pelayan toko pakaian. Loh? Jauh-jauh tinggal di Amrik, kerjanya koq cuma jadi pelayan toko sih? Begitu kali ya komentar teman-teman di Indonesia….

Waktu hijrah ke Amrik terus terang saya tidak mikir mau kerja apa. Maklum saya itu orangnya memang bukan pemikir panjang ini dan itu. Hijrah ya hijrah saja, namanya juga ikut suami yang orang Amrik, begitu pikir saya.

Tahun pertama di Amrik, setelah 6 bulan bengong, saya gregetan, jadilah saya mulai cari-cari kerja, Alhamdulillah diterima di kantor jual beli Time Share. Saya kerja selama 3 bulan di situ, si bos kebetulan pernah jalan-jalan di Indonesia, pas wawancara yang ada kita cuma cerita ngalor ngidul tentang Indonesia. Itu kerja saya pertama di Amrik.

Karena di Amrik saya tidak ada famili atau kerabat ya setelah lahiran saya jadi ibu rumah tangga lah, sampai si kecil satu tahun lebih, saya mulai gregetan lagi…alias bosen.

Suami menyarankan untuk lamar ke department store di mal, karena pas lagi musim liburan, toko-toko buka lowongan untuk pekerja musiman. Ya wis, saya ajukan lamaran…eh diterima!!

Terus terang tidak terbayang sebelumnya kalau saya akan kerja sebagai pramuniaga! Cemen sekali ya….susah susah sekolah jadi insinyur teknik sipil, koq jadi pramuniaga?

Tapi saya jalani saja, bayarannya tidak jelek, jadwal kerja bisa diatur dan kerjanya ringan.

Malah saya dapat penghargaan sebagai pramuniaga terbaik di tahun 2007, cukup bangga, karena saya tidak ada pengalaman kerja jualan.

Percaya atau tidak, kerja saya sebagai pramuniaga toko ini menolong keluarga kami saat pasangan kehilangan kerja di tahun 2009. Alhamdulillah, kami tidak harus hengkang dari rumah yang baru kami beli di tahun 2006 dan tagihan-tagihan sehari-hari terbayar dari hasil penghasilan saya sebagai pramuniaga.

Sejak dari situ, saya tetap hobi kerja sebagai pramuniaga, saya pernah jadi pramuniaga di department store, di toko sepatu, dan di toko baju.

Sampai sekarang saya masih pramuniaga di salah satu toko baju merek Amrik , Banana Republic.

Kalau ditanya apa saya tidak malu jadi pramuniaga wae..jawab saya, Memang situ mau bayar tagihan ini itu ya? 😉