lokal

Jalan-Jalan : Air Terjun & Danau Cumberland

pano_20170219_104320

Minggu, 19 Februari 2017.

Sambil sarapan di rumah makan di hotel, kami lihat-lihat mau kemana lagi hari ini….Tadinya mau ke Cumberland Gap, tapi koq balik ke Louisvillenya jauh ya? 3 jam-an…ya sudah jadi diputuskan kami akan ke danau Cumberland saja setelah nengok air terjun Cumberland.

Resto di hotel ini sebetulnya saya kurang demen sama makanannya…tapi pemandangannya okeh banget…dan juga praktis saja sih..sarapan di hotel…ini pemandangan kami selama makan pagi :

tiff infomation

Selesai makan, kami mulai jalan ke air terjun. Jarak dari tempat menginap ke air terjun, tidak jauh, cuma 0.75 mil, total 1.5 mil bolak balik. Trailnya tidak sulit, cuma menuju ke air terjun jalan nya menurun, pas balik ke tempat parkir…banyak tanjakan deh..lumayan ngos-ngosan…he…he..he

Kami sudah pernah ke air terjun Cumberland sebelumnya, di akhir musim panas tahun 2012. Saat itu, kami mah niat liburan, dan memang kami tinggal lebih lama dan berkemping ria. Ini foto kami waktu pertama kali ke air terjun Cumberland.

cumberland12_collage

Air terjun Cumberland  ini air terjun terbesar di Kentucky, karena ukurannya, air terjun Cumberland diberi nama  Niagara of the South. Di tahun 2012, kami juga pergi ke lokasi air terjun lainnya di sekitar lokasi Cumberland, tapi baru kali ini kami menginap dan menggunakan trail dari hotel untuk ke air terjun.

Cuaca hari ini bagus banget, cerah dan tidak banyak angin… Tidak terlalu banyak pengunjung di lokasi air terjun, mungkin karena bukan musim turis ya. Lokasi air terjun juga banyak yang di tutup, sepertinya ada limpahan air besar sehingga pemerintah kudu memperbaiki ini dan itu di lokasi.

Untung juga kami sudah pernah kunjungi air terjun ini pas musim panas, karena lebih banyak yang bisa dilakoni, kalau berkunjung pas akhir musim dingin seperti sekarang, pengunjung cuma bisa lihat air terjun saja.

Dari lokasi ini, kami mampir ke danau Cumberland, lokasinya sekitar 1.5 jam ke arah barat.  Danau Cumberland seru buat mereka yang suka boating , karena ya luas dan ada marinanya. Di sini kami makan siang di tempat piknik – enaknya ya di taman-taman nasional di seantero Amrik, boleh dibilang selalu ada meja piknik, yang memang disediakan untuk pengunjung memasak sendiri untuk makan mereka tanpa harus mampir ke rumah makan yang harganya tidak murah.

pano_20170219_125906

Danau Cumberland dari teras hotel

Selesai melihat-lihat danau Cumberland dan bendungannya, balliklah kami ke Louisville, sampai jalan-jalan berikutnya ya!

Akhir Pekan : Main di Holiday World

 

Hari Sabtu tanggal 2 Oktober lalu, kami sekeluarga menyempatkan diri pelisir ke ‘Dunia Fantasi’ versi Indiana, yaitu Holiday World.

Kebetulan memang anak lagi jeda sekolah – Fall Break istilahnya, dan dia sudah lama minta main ke tempat seperti ini, tapi sebelumnya kami tidak berani, karena si kecil takutnya belum bisa main di semua atraksi.

Tahun ini, sepertinya si anak (dan ibu, bapak) sudah siap mental dan fisik…ha…ha…ha jadilah kami sempatkan pergi.

Holiday World lokasinya di kota Santa Claus, Indiana, sekitar 1 jam dari tempat kami tinggal, Louisville, Kentucky. Kami pergi pagi-pagi, jam 9 sudah berangkat, untuk menghindari antrian dan kesulitan parkir. Kami juga beli tiket sambil di jalan, biar hemat waktu. Untuk bulan Oktober, harga tiket dewasa itu $34.99, dan tiket untuk si kecil $24.99.

Hari Sabtu taman ini buka jam 11, yang saya lupa, ternyata HW sudah masuk waktu bagian tengah, jadi lebih lambat satu jam dari kota saya.

Sampai di HW itu jam 10:30 am waktu setempat, gerbang sudah dibuka tapi atraksi masih ditutup, jadi kami ya jalan-jalan saja lihat ini itu. Sambil menunggu, si kecil sempat berfoto kocak sebagai body builder

1002161042.jpg

Jam 11 tepat, atraksi dibuka, saya maunya si kecil main yang ringan-ringan dulu lah..pemanasan istilahnya…jadilah dia naik perahu kano – yang mengingatkan saya waktu kita berdua mudik ke Jakarta tahun lalu, ada tempat main anak-anak di Grand Indo yang juga menyediakan atraksi yang sama.

1002161103_burst02_1477527522464.jpg

Dari naik kano, dilanjutkan dengan naik mobil kuno, yang ternyata tidak semudah yang kami kira…agak berat untuk menggenjot si mobil…yang ada anak saya ngos-ngosan..ha…ha..ha.

Setelah dua atraksi adem ayem ini , anak saya sudah tidak sabar lagi buat naik roller coaster. Di HW ada 4 roller coaster : Voyage, Raven, Legend dan Thunderbird.

Sementara saya belum siap mental, jadilah si bapak yang menemani si kecil naik roller coaster.

1002161111.jpg

 

Waktu yang dihabiskan untuk satu putaran roller coaster sih tidak lama ya, cuma waktu mereka berdua balik, suami saya yang ada puyeng kepala…….sementara si kecil lonjak lonjak kegirangan. (Wah, gawat saya pikir, masih ada 3 roller coaster lainnya…berarti saya dong yang harus menemani????)

Sambil memberanikan diri, kita main atraksi lainnya dulu sebelum ke roller coaster berikutnya.

Saya perhatikan hampir semua atraksi di HW sama seperti atraksi di Dufan. Ada perahu Kora-Kora, ada bangku ontang anting, rumah miring, arung jeram, Niagara-gara.

Di atraksi yang mirip dengan Niagara-gara (disini namanya Frightful Falls) saya masih juga menjerit waktu perahu terjun ke air….(bikin malu ya?)

wp-1477529638737.jpg

Waktu naik Kora-kora, saya juga masih terasa kedernya….ha….ha…ha..kirain tambah umur tambah berani..ternyata enggak!!!

 

Setelah berusaha menghindar selama mungkin untuk naik roller coaster lagi, akhirnya tiba juga giliran saya untuk menemani si kecil naik roller coaster. Roller coaster yang kami naiki kali ini namanya The Voyage, konon di pilih sebagai roller coaster terasik.

 

Aduuuuh…tobaaaaaaaaaaaaaatt…..remuk redam badan saya naik roller coaster ini!!!! Saya bahkan terasa hampir mau mun**** uggghhh!!! selesai naik roller coaster, paha saya terasa lebam tidak karuan. Kapok dewh!!! si kecil? cekikikan kegirangan!!

Ogah. Ogah. Ogah. Tidak mau lagi naik roller coaster. HUH!

Setelah The Voyage, si kecil tadinya mau naik Thunderbird, tapi koq ya waktu dia nyoba duduk, saya tidak PD membolehkan , habis koq ya, badan dia masih kekurusan buat si kursi, takut dia ‘melambung’…..(ya tidak mungkin sih, cuma namanya ortu, jadi ya khawatir saja)

Jadilah kita lewati si Thunderbird. Yang paling si kecil hobi naik itu atraksi yang mirip Ombang Ombing. Jadi dia masuk ke mesin berbentuk piring bundar yang nantinya di putar ke sana ke mari. Saya cukup melihat dari bangku penonton. Anak saya naik atraksi ini ada kali 10 kali bolak balik…euw..saya mah pusing wae.

 

Hari itu kita menghabiskan waktu sekitar 5 jam di HW.

Kita main di permainan jeram (Raging Rapids) – yang sayangnya kurang seru kalau saya (dan anak saya bilang), main berburu ayam turki (Gobbler Getaway),  main kursi seperti ontang anting (Hallow Swings), naik kereta api Holidog Express, main perahu ala Kora Kora (Mayflower), main di Frightful Falls, masuk Mummy Maze, remuk redam di Voyage, Raven, Legend, dan naik Turkey Whirl.

Dari segi udara yang tidak terlalu panas, dan keramaian dan antrian tidak terlalu panjang, boleh dibilang kita pilih waktu yang tepat. Cuma memang kita tidak bisa menikmati area taman berenang, Splashin Safari- yang satu lokasi dengan rides –yang saat kami berkunjung, sudah tutup karena habis musimnya.

Dari segi kebersihan HW amat bersih dan teratur, disini pengunjung juga bisa ambil minuman soda/ air gratis! (saat musim panas, dipelosok taman disediakan pemulas penahan matahari gratis)

Yang jelas kata suami saya, kalau suatu saat kita ke sini lagi, kayaknya kita musti bawa teman yang agak mudaan, karena saya dan suami sama-sama ngerasa sudah terlalu uzur untuk beroller coaster ria….;-)

Roller coater yang terakhir kami naiki itu Raven, coba deh lihat ekspresinya si kecil, girang-girang saja!

 

2016fatherdayetc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengintip Proyek Rumah Ramah Lingkungan

Hari Kamis tanggal 13 Oktober lalu, saya mendapat undangan ‘private viewing’ rumah yang dibangun oleh salah satu kenalan saya di sini.

2222.jpeg

Ini pengalaman pertama saya mengunjungi proyek rumah baru sebelum di pasarkan ke publik.

Saya tidak tahu juga apakah setiap perusahaan perumahan selalu mengadakan private viewing untuk proyek yang mereka kerjakan atau tidak, yang jelas di kota tempat saya tinggal memang setiap tahunnya ada acara Homearama, dimana pengunjung membeli tiket untuk melihat rumah-rumah baru di lingkungan perumahan tertentu, dari pameran rumah ini, pengunjung bisa mendapat ide untuk rumah yang akan mereka bangun, memilih kontraktor rumah ataupun langsung membeli rumah yang bersangkutan. Biasanya Homearama di selenggarakan di bulan Juli, sayangnya tahun ini saya kelewatan, padahal saya punya tiket gratis. 😦 Mudah-mudahan tahun depan saya bisa datangi dan cerita disini ya!

Anyway, waktu saya di beri undangan untuk melihat rumah baru ini, ya jelas saja saya senang! Maklum latar belakang pendidikan saya kan sarjana teknik sipil, dan saya sempat kerja lama di riset properti, dimana saya menyantroni berbagai macam proyek properti, termasuk proyek perumahan. Mengunjungi proyek rumah seperti nostalgia rasanya…ha…ha…ha..meskipun saya kurang suka dengan teknik sipil sendiri, tapi kalau subyeknya rumah dan material bangunan saya masih tertarik. (my soft spot istilahnya)

Yuk…kita lihat rumahnya……

Rumah ini lokasinya di lingkungan Norton Commons yang notabene lingkungan perumahan elit bagian timur kota Louisville, Kentucky.

Seperti kebanyakan rumah lainnya, rumah ini terdiri dari basement, lantai dasar, lantai satu dan lantai atap.

Di lantai dasar ada ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar utama, ruang cuci, dan toilet.

 

wp-1476920522610.jpg

Ruang TV/Keluarga/Tamu, Perhatikan meja kayu dan bangku kayu yang penampilannya tidak beraturan

 

wp-1476920502840.jpg

Tempat Tidur di Kamar Utama, saya naksir papan kepala, cukup $6,200 saja

 

Di lantai satu ada 2 kamar tidur, kamar mandi, teras, ruang kerja dan balkon.

wp-1476920482357.jpg1017161757a.jpg

wp-1476920491068.jpg

Pojokan Untuk Bekerja, semua material dari reclaimed wood

Di lantai atap, ruang terbuka.

wp-1476920474181.jpg

Lantai Atap

 

Yang membedakan proyek rumah ini dengan proyek rumah lainnya adalah, perusahaan di belakang proyek ini , yaitu UberGreen Spaces. Si pemilik UberGreen Space, Sy Safi ,boleh dibilang ahlinya membangun rumah yang bersertifikat  ‘hijau’ atau ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan energi.

Proyek ini oleh Sy diberi nama Su Verde (Bahasa Italinya atau ‘About Green’ Bahasa Inggrisnya)

 

 

Tampak Muka Su Verde (Foto Kredit : Bret Knight)

 

 

Semua material yang digunakan dia pertimbangkan masak-masak fungsinya buat si pemilik rumah , dari mulai fondasi, dinding, jendela, lantai, atap, interior sampai kompor semuanya berkonsep hijau.

Sy juga semaksimal mungkin menggunakan barang-barang / artis-artis lokal untuk interior rumahnya sebagai wujud dia mendukung sesama pebisnis seperti dia.

Contoh : material lantai yang digunakan adalah kayu-kayu daur ulang (reclaimed wood) dari bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. Pengunjung bisa lihat ‘cacat-cacat’ kayu di lantai yang memang sengaja dibiarkan apa adanya.

Untuk lantai-lantai kamar mandi, ada tambahan penghangat lantai, keren ya? jadi kalau pas musim dingin, setelah mandi tidak usah sengsara kedinginan kaki kita…ha…ha…ha..;-)

wp-1476920511569.jpg

Demikian juga bentangan kayu di ruang tamu, juga dari reclaimed wood ; yang uniknya lagi bentangan kayu ini mengalami proses pengawetan ramah lingkungan dengan cara pembakaran yang di kenal dengan teknik Shou Sugi Ban, sehingga warnanya menjadi hitam legam alami. Asli keren!

 

blackbeam

Kredit Foto : Bret Knight

 

 

blackbeam2

Ruang Tamu/TV dengan latar belakang si bentang kayu hitam yang membingkai ruang makan (Kredit Foto : Bret Knight)

Saya yang ada jadi banyak belajar tentang bahan-bahan bangunan tercanggih dan ramah lingkungan dari Sy.

 

Jelas banyak bengongnya…ha…ha..ha..wong saya sudah tidak berkecimpung di dunia sipil bertahun-tahun! Tapi seru juga, karena ya jadi tahu ternyata tersedia pilihan yang ramah lingkungan dan efisien di pasaran.

Yang saya senang dari rumah ini adalah lantai atapnya (roof top)

wp-1476920474181.jpg

Lantai Atap- buat tempat kongkow kongkow

rooftop

Kredit Foto : Bret Knight

dan pojokan (nook) yang nyaman dekat balkon lantai dua.

Kredit Foto : Bret Knight

 

Harganya? Konon rumah ini akan dipasarkan sekitar $1,000,0000 haaaaa…mahal yaaaaa…yang jelas saya bukan pembeli potensial rumah ini….ha….ha…ha..tapi for what it’s made of, I think it’s worth it.

O iya, kalau ada teman-teman pembaca yang kebetulan arsitek, atau teknik sipil atau juga senang dengan proyek-proyek seperti ini, bisa buka situs -situs dibawah ini untuk belajar lebih banyak tentang material-material terbaru :

http://www.proudgreenhome.com/videos/a-high-performance-thermal-envelope-starts-at-the-foundation/

http://www.proudgreenhome.com/videos/drywall-options-deliver-better-living-in-in-proud-green-home-of-louisville/

http://www.proudgreenhome.com/videos/sustainable-exterior-options-wrap-the-proud-green-home-of-louisville/

Untuk pembaca yang mau melihat foto-foto Su Verde lebih banyak lagi bisa buka link dibawah ini:

Foto Su Verde 1

Foto Su Verde 2

Foto Su Verde 3

 

Catatan :

Semua situs yang saya tautkan di tulisan saya ini sudah saya dapat ijin untuk membagi dari pihak Sy Safi sebagai pembangun proyek Su Verde. Harap tidak menggunakan tautan tanpa ijin tertulis dari pemilik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhir Pekan : Menyusuri Sungai Ohio Bersama Belle of Louisville

Halo! Sudah lama ya saya tidak menulis…maklum sudah sebulan lebih saya resmi jadi pekerja penuh, yang ada sulit sekali mencari waktu luang yang santai, apalagi saya juga ada kerja tambahan yang biasanya kerja di hari Sabtu, tambah saja ribet nyari waktu luang baik untuk menulis atau untuk pelesir pendek.

Belum lagi cuaca tidak mendukung, secara akhir-akhir ini Louisville koq diguyur hujan melulu??!! Akhirnya hari Minggu lalu, kami nekatin saja pesan tiket buat menyusuri sungai Ohio dengan kapal uap Belle of Louisville. Sudah lama kami ingin berlayar dengan si Belle, tapi tidak jadi jadi, padahal kapal uap Belle of Louisville ini salah satu atraksi turis yang cukup beken di kota Louisville. Sejak kami pindah tahun 2012, kami cuma sempat mengunjungi keramaian ulang tahun Belle of Louisville ke 100 tahun 2014 lalu (bisa baca ceritanya disini)

Saya beli tiket online di situ Belle of Louisville, setelah saya perhatikan, beli tiket online sedikit lebih murah dibanding beli tiket langsung di lokasi, contohnya topi kapten untuk anak-anak, pesan online itu $7.55 di lokasi $8.00. Selain itu juga menghemat waktu, karena waktu tiba di lokasi kami tinggal tunjukkan surat pemesanan. O iya, saya juga ketemu kupon potongan $3 untuk tiket orang dewasa dari situ Pin Point.

Total tiket untuk 2 orang dewasa dan satu anak itu $54 (2x$20+1x$11+ fuel surcharge $3 = $54) , tapi karena kami dapat kupon $3 untuk tiket dewasa, total kami cuma $48. Lumayan ngirit $6!!

Hari Minggu, kami berangkat sekitar jam 11:30 AM dari apartemen, kapal dijadwalkan berangkat jam 1:00 siang, penumpang boleh masuk ke kapal jam 12:30 PM.

2016-08-07 12.06.56

 

Waktu kami tiba di lokasi, antrian di tiket belum terlalu panjang, di sini kami cukup tunjukkan bukti pemesanan untuk kemudian kami di berikan tiket masuk.

0813162256.jpg

Sekitar jam 12:30 PM, penumpang dipersilahkan masuk ke kapal, disini setiap penumpang akan diperiksa bawaannya, kami tidak ngeh kalau penumpang sama sekali tidak dibolehkan membawa makanan atau minuman, suami saya yang bawa botol air, terpaksa harus meninggalkan botol air di koridor pelabuhan.

Sebelum masuk ke kapal, penumpang di foto dulu – biasalah foto kenang-kenangan turis. 😉

Foto turis ini bisa dibeli $6 atau $10 untuk 2. Sebagai turis lokal ya saya belilah untuk kenang-kenangan..

2016-08-07 13.42.17

Masuk ke kapal, pengunjung naik tangga ke dek pertama, dek ini adalah untuk mereka yang mengambil paket makan siang, semntara kami yang tidak ambil paket makan siang, langsung ke dek teratas, ambil tempat duduk di dek. Pengunjung bisa pilih untuk duduk di tepi kapal, yang notabene terbuka atau duduk di dalam bagian yang beratap. Kami pilih duduk di bagian yang beratap (takut item ceritanya!).  Pengunjung boleh pindah dari satu bagian ke bagian yang lain, kami saja yang ogah riweh dan tetap duduk di tempat yang sama dari awal hingga akhir perjalanan.

 

 

Cuaca hari itu cerah sekali, untung ‘peralatan’ saya komplit : kaca mata hitam dan topi bundar ;-), cuma agak-agak kepanasan karena pakai celana jeans…tip untuk teman-teman : mending pakai celana pendek atau rok deh..biar agak adem!

2016-08-072

 

Jam 1 lewat sedikit, kapal mulai bergerak menyusuri sungai Ohio ke arah timur……dari kapal kita bisa melihat kota Louisville dan jembatan-jembatan yang menghubungkan kota Louisville di negara bagian Kentucky dengan kota Clarksville di negara bagian Indiana. Ada 3 jembatan yang kami lalui, jembatan pertama , yaitu jembatan mobil John F. Kennedy,  jembatan kedua yang baru dibuka tahun ini, jembatanan Abraham Lincoln dan jembatan pejalan kaki, Big Four Bridge.

 

2016-08-07

Jembatan Abraham Lincoln

 

Kapal terus berlayar hingga mendekati pulau kecil bernama Six mil, lalu kapal berputar balik ke pelabuhan. Waktu berbalik, kami bisa melihat dengan jelas, gedung-gedung di pusat kota Louisville.  Seru juga melihat pusat kota Louisville dari arah sungai Ohio.

Sepanjang perjalanan, kami lumayan haus, jadilah beli soda di bar di lantai bawah, nah tip lagi ni, mending beli soda sekalian waktu beli tiket online, dihargainya lebih murah, meskipun cuma $0.25 tapi tetap saja lebih murah!

Secara umum, acara berlayar dengan Belle lumayan relaxing…air sungai tidak heboh, pemandangan kota cukup menarik. Mungkin lain kali, kami bisa mencoba paket prasmanan atau paket malam hari….

Ini foto-foto yang saya ambil dari kapal, selamat menikmati!

2016-08-073

Menara Air Louisville (Louisville Historic Water Tower)

Toko Bumbu, Minyak dan Rempah-Rempah

Saya mengaku saja kalau tidak suka masak, anehnya saya suka melihat (dan beli) bumbu-bumbu ataupun rempah-rempah ini itu.

Maksudnya mau cari gampang, daripada bingung harus beli bumbu 7 rupa untuk buat satu masakan, mending cari paket yang sudah jadi, tinggal taburin ke daging, wis beres. Gitu kali ya?

Nah, di Amrik banyak lah yang namanya bumbu botolan tinggal jadi. Bumbu botolan, maupun bumbu lepasan bisa dibeli di supermarket, toko kelontong, online, maupun toko khusus bumbu dan rempah. Rasanya cocok-cocokan juga sih, tidak selalu dijamin enak. 😦

Tapi saya tetap semangat untuk selalu mencoba!

Kebetulan hari Minggu (4 April 2016), waktu kami kelayapan di kota Madison, Indiana, ada toko namanya Galena. Dari luar kelihatannya toko ini cuma jualan minyak zaitun / balsamic, yang sebetulnya saya kurang suka – karena masih bingung memakainya. Tapi karena dasarnya saya ya itu, suka dan selalu ingin tahu hal-hal yang berkaitan dengan masak memasak, jadilah kami masuk ke toko ini.

Wah, ternyata toko ini bukan cuma jualan minyak zaitu dengan berbagai rasa! tapi juga jualan berbagai bumbu racikan, bumbu satuan, acar, manisan buah (reserve), kopi, selai bumbu buat colekan (dipping), paket sup , pasta dengan berbagai rasa. Dan semuanya buatan rumahan!

Saya banyak tanya masalah si minyak zaitun dengan  rasa bermacam-macam. Ada rasa daun ketumbar dan jeruk nipis, ada rasa kopi, ada rasa habanero, ada rasa chipotle, jeruk, dan banyaaaaaaaaaaak lagi!

Gimana gitu memakainya? Ternyata bisa dipakai apa adanya sebagai bumbu salad, dicampur dengan minyak zaitun rasa yang berbeda dan digunakan untuk merendam masakan. Usahakan mencampur 2 rasa yang bertolak belakang. Misalnya, minyak zaitun rasa madu dan jahe dicampurnya dengan minyak zaitun jeruk, supaya rasa manis dari madu di kombinasi dengan rasa asam dari jeruk.

Yang enaknya kalau belanja di toko lokal seperti ini, pengunjung bisa mencicipi dulu baik minyak zaitun ataupun bumbu racikan yang dijual ( di supermarket tidak bisa lah ya!)

Saya agak-agak terserang panik belanja mau beli bumbu racikan macam-macam, terutama karena ada bagian internasional yang jual racikan bumbu Tangine Maroko, bumbu kari Jepang, bumbu Korea, bumbu Tandori, dan banyak lagi deh! (sayang tidak ada bumbu masakan Indonesia)

Akhirnya saya pilih minyak zaitun dengan rasa madu dan jahe, jadi ada rasa manisnya dan sedikit ‘pedas’ dari si jahe. Untuk bumbu racikan, saya pilih piri-piri, bumbu untuk domba, dan bumbu racikan

Apakah saya jadi hobi masak setelah punya bumbu-bumbu ini? Ha. 😉

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan di Pusat Kota Louisville

Hore hari Sabtu lagi! Setelah minggu lalu cuaca kurang bersahabat, Sabtu ini matahari tidak malu-malu mengeluarkan cahayanya. Berhubung hari Sabtu minggu depan dan minggu berikutnya saya harus kerja, saya paksa suami dan anak untuk jalan-jalan, tidak usah jauh-jauh, cukup ke pusat kota (downtown) saja,pinta saya.

Jadilah kami bertiga berangkat ke pusat kota, kebetulan hari Jumat sebelumnya saya sempat ke pusat kota juga untuk urusan imigrasi dan saya sempat lihat ada ‘keriaan’ di jalan keempat (4th Street), ya sudah kami menyusuri koridor jalan utama untuk menuju 4th st, sambil celingukan kiri dan kanan melihat hal-hal yang bisa diabadikan dengan kamera.

Pusat kota Louisville boleh dibilang di belah oleh 2 jalan utama : Main St dan Market St.  Ibarat koridor Sudirman di Jakarta, di dua koridor ini, kita bisa temukan restoran, gedung kantor, gedung pemerintahan, lapangan terbuka, teater, hotel lengkap lah pokoknya.

Di Main St ada satu bagian yang disebut dengan Museum Row  dimana ada 10 museum/atraksi yang berdekatan satu dengan yang lainnya :

1. Louisiville Slugger Museum,

 

 

2.Frazier Museum,

3. Kentucky Science Center,

4. Muhammad Ali,

5. Glasswork,

6. Kentucky Museum Art & Craft,

7. The Kentucky Center for the Performing Art,

DSCN4168

8. 21C Museum Hotel,

This slideshow requires JavaScript.

 

9. Kentucky Show,

10. Evan Williams Bourbon Experience.

Saya sendiri belum mengunjungi kesepuluh tempat tersebut, yang sudah pernah saya kunjungi itu Louisville Slugger Museum (tidak masuk ke dalam lokasi pembuatan), Kentucky Science Cnter, The Kentucky Center for the Performing Art Kentucky Museum Art & Craft dan Evan Williams Bourbon Experience. Kebanyakan juga karena saya ikutan acara kunjungan sekolah anak saya. 😉

Selain atraksi dan museum, pusat kota juga dihiasi berbagai macam dekorasi artistik, dan seperti yang saya pernah tulis sebelumnya Louisville ini kotanya balapan kuda, jadi jangan heran kalau ketemu berbagai patung kuda warna warni di sudut kota Louisville.

This slideshow requires JavaScript.

4th Street itu sendiri oleh pemerintah setempat dijadikan koridor hiburan (entertainment) yang artinya jalan ini bisa ditutup saat ada konser musik jalan ataupun acara musiman lainnya.

Sehari-harinya 4th St penuh dengan rumah makan-rumah makan, baik lokal maupun chain : Hard Rock Cafe, Kentucky Fried Chicken, Taco Bell, QDoba, Dunkin Donut, dan sebagainya.

Berhubung sudah masuk bulan Desember, kota Louisville saat ini sibuk berdandan untuk menghadapi Natal : pohon natal, Sinterklas dll. Waktu kita turun dari gedung parkir dan lewat koridor salah satu museum, eh ada Sinterklas yang ‘minta’ di foto bareng A. Ya jadilah si A berfoto dengan Santa…ha..ha..ha…(padahal kami lagi mau nyoba tongkat narsis yang baru kami dapat dari pesta natal di tempat saya kerja di hari sebelumnya!)

Benar saja, waktu kita sampai di  4th st sendiri, 3 blok ditutup dari akses kendaraan untuk acara ‘Santa House‘. Pemda membangun kedai berjualan dengan nuansa gubuk di jalan yang ditutup, juga membangun arena sepatu es. Kedai-kedai yang dibuka jualannya bermacam-macam, dari mulai wiski, kopi, hiasan natal, sampai makanan.  Sayangnya ‘rumah Santa’ masih ditutup , jadi kami tidak bisa melihat isi rumah si Sinterklas.

Di blok selatan 4th st ada toko kesukaan saya, toko coklat isi bourbon…hi..hi..hi…namanya Art Eatables. Ada kali 2 tahun lalu saya nyasar di sini, baru kemarin mampir lagi…jadilah beli 2 kotak coklat bourbon.

 

 

Yang saya selalu senangi saat berjalan-jalan di pusat kota skala Louisville adalah melihat arsitektur gedung-gedung tua. Dan sebagian besar kota-kota di Amerika, pemerintah lokalnya lumayan perhatian dengan pelestarian gedung-gedung bersejarah.

 

 

Ala Amerika : Cuci Mata di Toko Barang Bekas

Di Amrik yang namanya toko barang bekas (bukan baru) itu dimana-mana. Judulnya bisa toko antik, toko hemat(thrift), dikelola sendiri atau bagian dari chain : Goodwill, Salvation Army, Clothes Mentor, Plato Closet dll.

Dari sekian banyak tempat jual barang bekas pakai , di kota saya ada yang namanya Peddler Mall – kalau terjemahan bebasnya sih Mal Kelontong ya..tapi yang saya lihat di sini PM itu ibaratnya ‘garage sale‘ sepanjang tahun deh, karena barang-barang  yang dijual di PM rata-rata barang bekas pakai, meskipun ada PM yang penjajanya menjual makanan ringan.

PM penataannya mengingatkan saya dengan penataan Pasar Senen…he…he..he di mana ya ada lapak-lapak terbuka di sana sini, bedanya di PM ya tidak ada penjual di lapak, pengunjung tinggal ambil barang yang mereka tertarik untuk di bayar di kasir di  pintu masuk.

Di PM, kita ibarat menemukan ‘harta karun’ yang tidak disangka-sangka.

Hari ini karena hujan seharian, saya yang tadinya dijadwalkan untuk kerja di tempat kedua setelah pagi kerja di tempat pertama, ternyata boleh diliburkan. Nah lo? Kemana dong?

Jadilah kita iseng-iseng mampir ke PM setempat.

Saya pribadi bisa habis waktu berjam-jam cuma melihat-lihat ‘harta karun’ di PM, sementara suami biasanya cuma sekilas wae.

Di PM ini kamu bisa membeli furnitur dari mulai antik sampai relatif baru, peralatan olah raga, peralatan pertukangan, baju, benang-benang rajutan, perhiasan antik, mainan, buku, makanan ringan, kamera, mata uang, piring-piring makan, gelas-gelas, dekorasi rumah dan panjaaaaaaaang lagi lah daftarnya.

Harta karun yang hari ini kami temukan adalah jaket bulu imitasi seharga $10 yang kebetulan muat buat saya!  Saya memang sudah lama kepingin punya jaket bulu, cuma selalu cekikikan karena tergelitik bulu-bulu pas memakainya, jadi mau beli jaket bulu mahal koq sayang uangnya, karena ya bisa jadi tidak terpakai karena ‘kegelian’. Kalau $10 ya boleh lah…

IMG_20151128_174141

 

Si kecil menemukan lebih banyak lagi harta karun : sekantong plastik penuh dengan potongan-potongan acak Lego, mainan senjata Nerf, mobil-mobilan….ha! bisa bokek lah kalau nurutin kemauannya!

Saya juga terpekik kegirangan waktu ketemu lapak yang  menjual rok-rok ala Scottish! Karena jadi ingat waktu kecil, Tante saya membelikan saya oleh-oleh rok ini waktu beliau habis pulang liburan di Inggris. Nostalgia lah istilahnya. Sayang saya kegendutan, jadi tidak ada rok yang muat 😦 (namanya bukan rejeki kali yaaaaaa…)

Tapi itulah serunya menengok tempat-tempat seperti ini, kita seperti dibawa ke masa lalu karena kita menemukan barang-barang yang pernah kita miliki sebelumnya.

Ini beberapa foto dari PM yang saya ambil hari ini:

This slideshow requires JavaScript.

 

Jalan-Jalan : Melanjutkan Perjalanan Menyusuri KY Bourboun Trail

20151122_164422

Halagh!

Setelah nyasar di Jim Beam, saya ‘kecanduan’ ingin melihat tempat-tempat penyulingan lainnya di KY Bourbon Trail! Sekali lagi bukan kecanduan dengan bourbonnya, tapi saya penasaran dengan cara pemasaran mereka : dari sekian banyak tempat penyulingan di KY, bagaimana masing-masing merek membedakan diri mereka dengan pesaingnya? Itu yang lebih membuat rasa ingin tahu saya membuncah, kalau masalah rasa, blaaaaaaaaaaaahhhhh tetap saya tidak doyan. 😉

Minggu, tanggal 24 November 2015, saya loncat-loncat kegirangan karena matahari bersinar cerah dan suhu udara lumayan bersahabat.

Maklum, di Amerika, kalau sudah masuk bulan November itu artinya sudah harus bersiap-siap menghadapi suhu dingin bahkan salju. Setiap kali ada hari dimana udara lumayan hangat dan matahari bersinar, sebagian besar orang sini langsung memanfaatkan dengan pergi ke luar menikmati udara bagus sebisanya. Demikian juga saya.

Jadilah kami ngacir menuju lokasi Maker’s Mark. Saya pilih MM karena botol-botol MM itu ditutup dengan menggunakan lilin merah – yang saya ingat pernah saya lakoni waktu kerja di perusahaan Jepang tahun 1997 dimana bos saya mengelem amplop berisi dokumen penting dengan lilin merah – kesannya ‘keren’ dan aristrokat gitu…ha….ha….ha.

MM lokasinya di selatan kota Louisville, untuk menuju MM, kami melewati 2 tempat penyulingan lainnya : Jim Beam dan Four Roses – yang lokasinya di jalan utama. Saya pikir dong lokasi MM juga di jalan besar, ternyata salah besar. Untuk ke lokasi MM, kami masuk ke ‘pedesaan’ , istilahnya di tempat ‘jin buang anak’ atau out of nowhere gitu.

Seperti juga lokasi Jim Beam and Woodford Reserve, kampus MM juga apik dan asri (dan tidak bau!!)

Seperti halnya Jim Beam, di MM juga tersedia tur, di MM harga tiket untuk dewasa itu $9, anak-anak dibawah usia 21 tahun gratis.

Kampus MM relatif lebih kecil dibanding Woodford Reserve, tapi itu karena MM punya kampus lebih dari 1 lokasi. Tur kami kali ini , seorang wanita dan kita tidak dibekali radio, tapi cukup mendengarkan suara si pemandu tur.

MM konon menggunakan tipe gandum yang berbeda dengan merek lainnya, disamping itu seperti juga Woodford yang mempunyai produk ‘khas’ disamping produk utama mereka, MM punya Maker’s Mark 46, bourbon untuk produk ini menyerap tambahan kayu tertentu disamping tong kayu yang digunakan untuk produk utama. Warnanya menjadi lebih gelap dan konon rasanya lebih ‘dalam’.

Dibanding Woodford, tempat penyimpanan tong kayu MM lebih kecil dan juga di MM, tong-tong kayu ini diputar dengan tangan untuk menjamin ‘kematangan’ merata dari si borbon. (di Woodford mereka mengandalkan perubahan musim untuk pematangan borbon mereka)

Yang beda lagi, di MM, pengunjung dibolehkan menco’el jari mereka untuk mencicipi si borbon saat dalam proses fermentasi – dimana semua bahan-bahan setelah selesai ditumpuk, dituang ke tong kayu raksasa terbuka. Ewwwwwwww!!

Ruang icip-icip di MM juga terlihat lebih ‘mewah’, karena dindingnya kaca. Pengunjung mencicipi 4 jenis borbon : dari tipe pertama yang warnanya sangat terang (hampir bening) hingga tipe nomor 4 yang warnanya paling gelap.

Beda dengan kunjungan di Woodford dimana ada 2 ibu-ibu yang juga ‘memble’ setelah menegak borbon, disini cuma saya yang mukanya berkerut-kerut setelah mencicipi borbon, pengunjung lainnya sepertinya semua penggemar borbon, karena saya mendengar suara ‘aaaaaahhhhhh’ dari mereka.

O iya, kalau di Woodford coklat disediakan saat pencicipan, di MM, coklat bisa diambil setelah pencicipan. (Jelas, saya ambil sebanyak mungkin!! 😉

Setelah pencicipan, pengunjung masuk ke toko suvenir, dimana pengunjung bisa me’wax botol ataupun gelas pilihan mereka.

Saya tidak ‘ngeh’ kalau boleh memilih me-wax gelas, jadilah saya pilih borbon paling kecil untuk di lilinkan. (kalau boleh milih, saya mending ‘melilin’ gelas daripada botol borbon, karena lebih murah dan juga saya tidak tahu mau dikemanakan si borbon itu yak???)

Pengunjung harus memakai celemek, kacamata pengaman, sarung tangan dan sarung lengan sebelum masuk ke tempat waxing.(waxing bahasa Indonesianya apa ya????)

Proses waxing ini di MM sepenuhnya dilakukan dengan tangan – bukan mesin. Konon pemilik MM sempat berargumen untuk mengubah proses ini dengan menggunakan mesin, tapi sang istri berketetapan untuk melanjutkan tradisi dan dia menang. Jadilah hingga detik ini semua botol-botol MM di tutup dengan lilin merah yang tidak ada satupun yang sama.

Proses pelilinan dengan tangan ini lucunya membuat beberapa botol menjadi bahan koleksi – karena sifatnya yang unik. Ada beberapa botol yang ‘kebanyakan’ lilin hingga meleleh ke label – yang tidak seharusnya’- tapi oleh MM dibuat menjadi ‘one of a kind‘.  Semakin ‘ngawur’ lelehan si lilin, semakin ‘keren’ si botol jadinya. Ada-ada saja ya??

Di akhir tur, penunjung boleh berjalan kaki kembali ke gedung utama atau naik troli ke tempat parkir. Saya dan si kecil pilih naik troli, karena si kecil hobi naik troli!

20151122_163526

Jadi apa dong perbedaan antara satu penyulingan dengan yang lainnya?

  • Strategi pemasaran jelas memegang peranan penting dalam pembedaan masing-masing penyulingan
  • Jim Beam satu-satunya tempat penyulingan (diantara 2 lainnya : Woodford dan Maker’s Mark) yang punya tempat makan yang cukup mengenyangkan (bukan cuma makanan ringan)
  • Jim Beam dan Woodford menjual coklat, tapi tidak di MM
  • Jim Beam juga satu-satunya tempat penyulingan yang melakukan pencicipan dengan cara ‘dispenser’. Pencicipan di Jim Beam itu lucu, ada kira-kira 5 stasiun dispenser bourbon dengan berbagai rasa dimana pengunjung tinggal menggunakan kartu yang mereka dapat dari pembelian tiket untuk mencicipi borbon. Seperti dispenser soda di tempat makan cepat saji.
  • Cuma di MM pengunjung bisa melakoni pelilinan botol untuk dibeli.
  • Di MM yang saya senang itu di gedung pembelian tiket ada dinding bergambar menggunakan ubin-ubin kecil warna warni. Cantik sekali, jadilah saya ngeceng di dinding tersebut berkali-kali 😉
  • Juga di gedung terakhir sebelum masuk ke toko suvenir, di langit-langit mereka buat keramik warna-warni yang masing-masing warna melambangkan proses pembuatan borbon : merah -warna kayu, biru warna air, kuning warna saat peragian.

Puaskah saya jalan-jalan ke tempat penyulingan borbon?

You’ll never know! ;-))

 

 

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Mengunjungi Tempat Penyulingan Bourbon

Negara bagian Kentucky, tempat saya tinggal sekarang, boleh dibilang terkenal akan dua hal :

  • Balapan Kuda dan
  • Minuman Bourbon (sejenis wiski)

Waktu pertama kali pindah ke Louisville, Kentucky saya bingung karena melihat patung kuda dimana-mana, diberitahu suami kalau di Kentucky balapan kuda itu tradisi orang sini. Di kota Louisville sendiri, setiap tahun ada festival Kentucky Derby, acara tahunan yang heboh dan ditunggu-tunggu kalangan elit di sini.

Selain kuda, KY juga terkenal akan bourbon-nya. Bourbon itu sejenis wiski, boleh dibilang wiskinya Amerika lah, karena pakemnya bourbon hanya boleh di produksi di Amerika. Konon sumber air alam di KY membuat bourbon lebih khas rasanya dibanding di tempat lain.

Nah di KY, saking banyaknya tempat penyulingan bourbon di sini, pemda setempat membuat atraksi turis, namanya Kentucky Bourbon Trail. Saya yang meskipun bukan penggemar minuman beralkohol;berhubung bukan penduduk asli Kentucky terus terang penasaran dengan si bourbon ini.

Setelah minggu lalu tidak sengaja melewati salah satu tempat penyulingan bourbon, Jim Beam, saya bernegosiasi dengan suami untuk melakoni KY bourbon trail tanpa dia tergoda ingin minum melampau batas.

wpid-wp-1447896474236.jpeg

Jadilah hari ini, Minggu tanggal 15 November 2015, kami memulai petualangan kami menyelusuri KY bourbon trail.

Dari 9 tempat penyulingan di Kentucky, kami pilih penyulingan di timur Louisville, yaitu di kota Lawrenceburg, dimana ada 4 tempat penyulingan yang lokasinya berdekatan ; Four Roses, Wild Turkey, Woodford Reserve dan Town Branch.

Bukan jadi mau singgah ke-empat-empatnya, tapi paling tidak kami ada rencana cadangan lah, karena siapa tahu kami ternyata tidak suka yang satu, bisa pergi ke tempat yang lain.

Pilihan pertama kami adalah Wild Turkey, eh alah waktu sampai di lokasi, ternyata tutup (padahal waktu di cari di Google, tertulis jam operasi untuk hari Minggu). Tu kan?!! Untung kita pilih jalur yang ada 3 pilihan lainnya. Setelah mengecek lewat telpon kami putuskan untuk ke Woodford Reserve.

Seperti halnya lokasi Jim Beam, Woodford Reserve ini lokasinya juga apik, bersih dan ‘tenteram’.

Di gedung utama, pengunjung bisa duduk di lobi yang luas untuk menunggu bus tur berikutnya, sambil melihat-lihat toko suvenir yang menjual produk Woodford Reserve, dari mulai bourbonnya sendiri, bumbu-bumbu dapur, gelas-gelas, sampai pernak-pernik khas Woodford Reserve.

Di gedung utama ini, pengunjung juga bisa membeli tiket untuk tur : $10 per orang, anak-anak dibawah 18 tahun gratis dan mengambil paspor KY Bourbon Trail.

20151115_145855

Jeda antara tur yang satu dengan yang berikutnya itu sekitar 30 menit, tidak terlalu lama. Setiap pengunjung diberikan radio pendengar lengkap dengan ear set jadi si pemandu turis tidak perlu berbicara dengan suara keras tapi masing-masing pengunjung bisa mendengar penjelasan dengan baik.

Dari gedung utama, kami naik ke bis untuk pergi ke lokasi penyulingan.

wpid-wp-1447639431035.jpeg

Gedung pertama yang kami kunjungi adalah gedung dimana awal pembuatan bourbon dimulai. Ada 5 hal penting dalam pembuatan bourbon, seperti yang tercantum dalam diagram ini :

IMG_20151115_141903

Di gedung ini juga, bahan-bahan utama di campur dan di giling bersama-sama untuk kemudian di fermentasi di dalam tong kayu (barrel) raksasa.

Proses selanjutnya adalah proses penyulingan, di ruang penyulingan ada 3 ‘botol’ ukuran besar yang mengingatkan saya dengan botol si jin ‘Jinnie’.

20151115_142526

Selesai penyuingan, tahap berikutnya adalah tahap yang paling penting dalam pembuatan bourbon : yaitu tahap pematangan (aging). Bourbon yang sudah disuling, dituang kedalam tong-tong kayu, lalu di simpan di dalam gedung khusus untuk menyimpan si tong kayu ini.

Masing-masing tong kayu tertera tanggal awal penyimpanan. Untuk mencapai rasa yang diinginkan rata-rata bourbon disimpan tidak kurang dari 6 tahunan.

Untuk mengetes apakah bourbon sudah siap untuk dipasarkan, dalam waktu tertentu, crafter akan mencicipi bourbon yang bersangkutan dari masing-masing tong. Bisa di lihat di beberapa tong, ada bagian yang terbuka, yang tandanya crafter sudah pernah cicipi tong tersebut.

Selesai penyulingan, semua bourbon yang sudah jadi sekarang siap untuk dibotolkan dan dikirim ke pemasok di seluruh penjuru Amerika.

Tur di tutup dengan pencicipan bourbon. Masing-masing pengunjung di beri 2 gelas kecil (shot) bourbon : satu bourbon biasa dan satu lagi bourbon double oak (bourbon yang mengalami proses lanjutan setelah proses utama selesai) dengan satu coklat isi bourbon.

Pengunjung diminta mencicip masing-masing 3 kali. Setiap selesai mencicipi, kami diminta untuk membayangkan rasa ‘awal’ yang kami rasakan. Bourbon, seperti halnya parfum, memiliki 3 tahap perasaan yang berbeda. Perasaan awal, menengah dan akhir.

Rasa awal yang lazim dirasakan oleh pengunjung itu adalah rasa ‘buah’, rasa tengah mulai dari kayu manis, daun mint, sedangkan rasa akhir itu mulai terasa aroma kayu oak, coklat, tembakau, kopi dsb. Diagram ‘rasa’ ini berbeda dimasing-masing bourbon, bisa dilihat di bawah ini.

WDF_Flavor-Wheel_RYE

Waktu saya cicip si bourbon, mblllaaaaaaaaaaaaaaah…..lidah ini langsung protes, dan ternyata bukan saya saja yang tidak bisa ‘menikmati’ rasa bourbon, ada 2 pengunjung wanita lainnya yang juga mengernyitkan dahi seusai mencicipi. Terus terang saya koq lebih senang membaui si wiski dibanding menegaknya. Hi..hi..hi..

Buat saya pribadi, menengok dengan kepala sendiri bagaimana proses pembuatan wiski memberi wacana sendiri buat saya. Dari mulai terkagum-kagum melihat tong setinggi rumah, tumpukan tong kayu setinggi langit dan ‘njelimetnya’ ‘merasakan’ aroma dan rasa si bourbon, saya lumayanlah jadi mengerti apa itu ‘bourbon‘ tanpa harus jadi penikmat ataupun pecandu. 😉

 2015-11-152

2015-11-151

2015-11-15

Turis Lokal : Berkayak Ria Menyusuri Sungai Harrods

Yay, hari Sabtu lagi! Setelah berhasil mengalihkan jadwal kerja ke teman kerja lain, saya jadi cuma kerja hingempaga pukul 12:30 siang hari Sabtu lalu.

Setelah minggu lalu kami telat datang ke tempat kayak, kali ini kami lebih siap!

Jam 3 sore, kami meluncur ke river road, di salah satu tempat makan di sepanjang jalan river road ada satu tempat yang juga menyewakan kayak dan canoe.

Untuk ber-canoe (cukup untuk 3 orang), ongkosnya $50, sementara untuk berkayak satu penumpang itu $30, untuk kayak ganda $50.

Kami pilih satu kayak tunggal dan satu kayak ganda, total ongkos yang kami harus bayar $80 selama 4 jam.

Saya baru sekali ini berkayak ria, pertama-tama bingung bagaimana mengarahkan si perahu, tapi lama-lama bisa juga. Di perjalanan kita melihat groundhog, kura-kura, burung heron dan rusa liar.

Kami menghabiskan waktu kira-kira 1.5 jam an saja, selain tangan pegal mendayung, si kecil mulai ngambek karena lapar!

2015-08-011

2015-08-022

Kalau mau jujur saya tidak merekomendasi tempat ini, pertama karena mereka tidak terima kartu kredit atau kartu debit, semua harus dibayar tunai. Kedua koq tidak ada formulir yang harus ditanda tangani gitu tentang keselamatan (waiver istilahnya). Ketiga haduh……jaket pelampungnya ada yang bau apek…….Keempat kalau ada masalah di tengah sungai – misalnya dayung hanyut, atau kayak terbalik, mereka tidak menyediakan sarana penolong apapun. Kelima waktu kita balik, lah tidak ada petugas yang menolong kami menepi ke darat.

Untuk harga yang kita bayar, yang kita sarana terima koq ya minim sekali.

Ya gak apa-apa, direlakan saja…yang penting sudah pernah mencoba…;-)