Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – bagian 3

Hari Jumat, 21 Juli 2017.

Bangun pagi-pagi sarapan steak – ha….borju?! bukan bukan..ini mah harus, karena es di cooler sudah mencair kalau tidak dimakan si steak ini ya harus dibuang..sayang kan??!!

Selesai sarapan, saya mengepak baju ganti untuk semua. Yang jelas saya sendiri pakai baju renang sebagai dalaman kaos dan celana pendek yang saya pakai. Kita juga semua bawa sepatu air, handuk dan peralatan mandi (sabun paling tidak).

Untuk berarung jeram, jelas harus siap basah ya! Kita sempat ditelpon oleh tempat berarung jeram…nah lo…apa ada penundaan ya saya pikir? karena memang cuaca diperkirakan akan hujan.  Waktu saya telpon balik, ternyata bukan penundaan, tapi mereka mau mengecek apa kita mau ber-rafting atau mau ber’duckie alias berkayak. Saya yang penakut, pilih ber-rafting lah! hi…hi…hi….Si kecil malah mau berkayak, tapi tidak saya ijinkan, karena dia belum ada pengalaman berdayung ria di sungai alam.

Dari tempat kemping, kita ambil rute 32 melewati kota Thomas, lalu ambil rute 72 arah utara menuju kota Parsons, lokasi tempat pertemuan arung jeram.

Sampai di lokasi, karena masih banyak waktu, kita sempat makan di kota Parsons, supaya tidak kelaparan pas berarung jeram.

Sebelum berangkat, semua peserta di haruskan menandatanganin waiver, lalu memakai life jacket, helmet dan diberi dayung.  Di lokasi peserta bisa menyewa wet body suit dan menyewa atau membeli sepatu air. Tapi mahal euy! untuk sewa/beli sepatu air itu $10.00. Wet suit tidak keharusan, lebih diperlukan kalau peserta memilih aktifitas ini di musim semi atau musim gugur dimana cuaca lebih dingin, supaya tidak mengigil di perjalanan.

Jam 1 lewat semua peserta diangkut dengan bis ke lokasi sekitar 20 mil. Tiba dilokasi , kita semua diberikan instruksi keselamatan : kalau jatuh, bagaimana menolong orang di air dan sebagainya. Saya agak keder juga….maklum tidak bisa berenang gitu loh…dalam hati saya juga sibuk berdoa…semoga tidak jatuh ke air…semoga tidak jatuh ke air…kik…kik…kik…

Ada 3 rakit dan 9 kayak, di rakit selain kita, ada ibu dan anak laki-lakinya yang kebetulan seumuran dengan anak saya, mereka berdua langsung akrab seperti teman lama. Si anak laki ini pilih duduk di depan perahu, ibunya dibelakang dia, anak saya disamping si ibu. Saya duduk dibelakan si ibu, suami saya disebelah saya, dibelakan anak kita. Pemandu perahu duduk dibagian belakang rakit.

Ada 9 jeram  yang akan kita lalui sepanjang total 6 mil aliran sungai, kelas jeram tertinggi yang akan kita lalui adalah kelas 3 (dari total 5 kelas jeram untuk aktifitas seperti ini). Jeram pertama, jeram kelas 1, tidak terlalu sulitlah…..

Nah waktu melalui jeram kelas 3, memang berasa ‘bedanya’….rakit terasa sekali di mainkan ombak….saya dan anak saya yang ada jejeritan. Waktu akhirnya rakit melewati jeram ini..duh lega rasanya….ha…ha…ha..

Jeram terakhir,  dinamai Rock Garden… Haduh…batu-batu sebesar mobil saya ada di kiri dan kanan sungai. Selain batuan besar, di jeram ini memang kesulitannya terletak di maneuver antara batu. Saya sempat tanya ke pemandu…How are we going to go through? ???

Haduhhhh….rakit kita sempat nyangkut di batu! Pemandu kudu menggoyang-goyang si rakit. …yang ada saya sempat panik…Karena waktu digoyang, rakit rasanya akan terbalik disisi dimana saya duduk…..huaaaaaa…..takut!!!!!

Tapi akhirnya rakit kita bisa lolos dengan selamat! 😅😅😅😅

Di beberapa tempat antara jeram,peserta diberi kesempatan untuk loncat dari tebing batu ke sungai. Anak saya nyemplung ada kali 3 kali. Di lokasi lainnya pemandu rakit kita membolehkan anak-anak nyemplung dan berenang di sungai. Sayang saya tidak bawa camera untuk memotret keceriaan si kecil saat nyemplung…..

Untung air sungainya sendiri tidak terlalu dingin, jadi meskipun hujan rintik-rintik, kita tidak kedinginan.

Rock Garden adalah jeram terakhir yang harus kita lampaui. Seluruh peserta balik ke lokasi dengan bis….

Seru? Yep!

Mau lakukan lagi? Pasti! !!😏

Selesai berarung jeram, usailah liburan musim panas kita tahun 2017 ini…

Mudah-mudahan kita semua bisa ketemu di petualangan selanjutnya!

 

 

 

 

Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – bagian 2

Hari Kamis, tanggal 20 Juli 2017, kita sekeluarga keluar dari hotel untuk menuju ke Blackwater Falls State Park.  Dari hotel tempat kita menginap ke lokasi itu sekitar 1.5 jam, kita diberitahu oleh petugas di Cass rute yang tercepat dari hotel. Dia bilang, jangan ikuti GPS, karena kalian akan dikasih rute ‘ngawur’. 😉

Sampai di lokasi, kita coba ganti lokasi kemah, karena waktu pesan pertama kali saya diberitahu kalau lokasi kemah kita itu gersang, tidak ada pepohonan. Ternyata di lokasi perkemahan masih ada beberapa spot yang tersedia. Ya sudah kita mutar lokasi untuk memilih tempat yang cocok : nah, untuk memilih lokasi dimana kita akan dirikan tenda ini, ada dua hal utama yang kita pertimbangkan :

  1. Tidak terlalu jauh, tapi juga tidak terlalu dekat dengan kamar mandi – tidak mau jelas-jelas di sebelah kamar mandi karena akan terlalu ribut mendengar orang keluar masuk kamar mandi
  2. Dikelilingi pepohonan, selain teduh, pohon juga bisa berfungsi untuk menggantung hammock, atau mengkaitkan tali terpal.

Pilih sana pilih sini, kita putuskan ambil lokasi tenda nomor 58.  Setelah selesai dirikan tenda, kita pergi mengeksplorasi taman : ketemu petting zoo, melihat babi super gendut, kelinci, llama, keledai, ayam, turki, domba.

Collage 2017-07-24 01_04_32

Dari situ, kita sempatkan untuk melihat air terjun Blackwater.

Selesai melihat air terjun, kita ke danau Pendelton

PANO_20170720_171428_1500872790119

dimana pengunjung bisa berkayak ria, bersepeda perahu, atau berpapan dayung (paddle boarding). Saya dan si kecil pilih bersepeda perahu….lumayan pegel…ha….ha….ha… Ongkos untuk masing-masing aktifitas $5 per 1/5 jam.

Habis mendayung, kita pergi ke hotel (lodge) untuk makan di restorannya, o iya..di taman ini, pengunjung tidak harus kemping ya..ada pilihan untuk menginap di kamar hotel atau vila (cabin)

Yang seru ni…saya senang banget waktu melihat menu bufet di restoran, saya bisa makan semua jenis makanan yang di sediakan! ada pasta dengan daging sapi, ikan tilapia, ayam panggang, keju makaroni, kentang goreng, salad. Hore!! Jarang-jarang euy bisa makan semua pilihan yang ada! (catatan : saya tidak mengkonsumsi daging babi). 😉

Selesai makan, kita kembali ke tenda, membuat api unggun hingga malam tiba lalu tidur deh! Besok mau berarung jeram ni!

 

 

 

Liburan Musim Panas 2017 : Kereta Api, Kemping dan Arung Jeram – Bagian 1

Liburan musim panas kali ini saya ‘relakan’ aktifitas pilihan suami karena dia ulang tahun tanggal 19 Juli.  Berhubung dia hobi kereta api, dia pilih pelesir naik kereta api uap di kota kecil bernama Cass, negara bagian West Virginia (WV).  Jadilah hari Selasa lalu, 18 Juli 2017, kita sekeluarga memulai perjalanan kendara kita ke negara bagian West Virginia .

Kita sebelumnya sudah pernah mampir di WW di tahun 2015, tapi cuma  mampir di Charleston, ibukota negara WV dan daerah New River Gorge, ibaratnya cuma di ‘ujung’  perbatasan dengan negara bagian kita, Kentucky dan juga cuma akhir pekan. Nah, waktu itu kita sempat lihat aktifitas arung jeram, cuma karena tidak ada waktu, tidak kita lakoni, padahal si anak mau sekali ikutan berarung jeram.  Saya sempat janji ke si kecil kalau satu saat kita akan kembali ke WV dan berarung jeram ria.

Nah, ingat janji saya dulu,  sekalianlah saya cari-cari aktifitas arung jeram di lokasi sekitar CASS, ketemu Blackwater Falls Outdoor, yang juga dekat dengan hutan nasional Blackwater Falls yang ada air terjun cantik.  Tahu dong saya kan hobi nyari air terjun! Saya pikir ya cocok lah, semua anggota keluarga kebagian jatah : si suami dapat naik kereta api pilihannya, si anak dapat berarung jeram yang dijanjikan, dan saya dapat melihat air terjun.

Untuk tidur, saya pilih menginap di Inn at Snowshoe untuk 2 malam pertama dan kemping di area Blackwater Falls State Park untuk 2 malam selanjutnya. Terus terang pilihan saya semata-mata berdasarkan harga. Si hotel ini boleh dibilang yang termurah yang saya bisa temui/pesan lewat internet diantara tempat penginapan disekitarnya.

Jarak dari tempat kita tinggal ke lokasi hotel di Snowshoe lumayan jauh, kita berangkat sekitar jam 9 an, dan sampai di lokasi jam 6 sore.  Hotelnya biasa saja ya, dibanding dengan harga $153  untuk 2 malam, ya worth it lah :  jangan harap super mewah ya..yang jelas ada kolam renang, ada sarapan ala kadarnya. Tidak ada wi-fi di kamar, cuma ada di lobi dan tidak ada microwave di kamar.

Yang saya tidak ‘ngeh’ itu ternyata daerah Snowshoe itu daerah ‘elit’ , susah sekali mencari kamar hotel, karena daerah Snowshoe yang notabene daerah resort untuk bermain ski ternyata juga lokasi balapan sepeda gunung seantero US dan segambreng acara-acara lainnya!

Untung juga kita bisa dapat hotel lumayan murah dan mepet pula pesan kamarnya!

Dari Inn ke lokasi CASS kereta api itu sekitar 30 menit, sebetulnya diukur dari jarak, tidak terlalu jauh, cuma jalan antara 2 tempat itu super berliku-liku, maklum di pegunungan ya….untuk kita yang tidak familiar, ya tidak bisa ngebut lah.

Kereta api kita masuk stasiun jam 11:15 am, berangkat jam 11:45 AM ke perberhentian Bald Knob. O iya, kereta api yang kita naiki ini bukan kereta api seperti kereta Parahyangan ya…tapi kereta api turis, total ada 5 gerbong, semuanya gerbong terbuka alias tidak ada pendingin udara, bangkunya model bangku kayu, kamar mandi cuma 1 di tengah-tengah gerbong. Yang ‘dijual’ di kereta api model seperti ni adalah lokomotifnya, lokomotif yang digunakan adalah lokomotif uap tipe “SHAY”, yang umurnya sudah 150 tahun!

Collage 2017-07-23 20_46_59

Dari stasiun utama ke stasiun tujuan di Bald Knob dan kembali ke stasiun awal , itu menghabiskan waktu sekitar 4 +jam. Harga tiket kereta tergantung tujuan atau tema yang kita pilih, untuk detail harga kereta bisa di lihat di situs CASS disini.

Negara bagian WV dilewati pegunungan Apalachian, dimana-mana terlihat rentang pegunungan, termasuk waktu kita naik kereta api ini. Yang jelas memang cantik dan sejuk ya…di beberapa lokasi malah terasa sekali temperaturnya lebih sejuk dibanding lokasi lainnya.

Collage 2017-07-23 22_33_01

PANO_20170719_144943

Tempat Pemberhentian di Bald Knob

O iya, kita juga diberi sangon…roti dengan irisan daging, ada turki dan babi, kue coklat, kripik kentang- begitu lihat menunya yah..yang ada saya males makan ya? coba ada nasi bungkus gitu…..jadi ya cuma ngemil kripik saja…he…..he…..he..

Selesai naik kereta api, kita balik ke hotel, besok jalan ke lokasi lain, sekitar 1.5 jam-an untuk mulai kemping dan berarung jeram!

 

 

 

 

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Nashville, Indiana

Suntukkkk di rumah melulu tiap akhir pekan! Sejak saya tidak lagi kerja dua tempat di hari Sabtu, saya ‘gatelan’ kepengen explorasi ke sana ke mari. Bersepeda ke rute baru sudah, jalan-jalan ke bekas taman hiburan jaman 1900 sudah…kemana lagi dong??!!

Jadilah hari Sabtu kemarin kami kabur ke kota Nashville di negara bagian tetangga, Indiana. Saya sudah sering mendengar tentang kota Nashville ini, tapi belum pernah melihat sendiri, konon kota ini apik dan seru untuk akhir pekan.

Berhubung dana terbatas, kami tidak pesan hotel, tapi kami pesan tenda Tipi atau tenda ala Indian di Rawhide ranch dan juga mau ikutan ber-zip lining ria di tempat yang sama.

Jarak dari tempat kami tinggal ke lokasi kemah itu 1 jam 40 menitan. Kami berangkat jam 3, sampai di lokasi jam 4.30 PM.

Saat tiba di lokasi, masih ada petugas yang mengantarkan kami ke lokasi Tipi. Catatan : di Amrik, tempat-tempat seperti ini (sewa kabin), tamu yang datang setelah kantor registrasi tutup, biasanya oleh petugas disisipkan amplop berisi kunci dan lokasi kabin/kemah. Jadi tamu tetap bisa datang kapan saja, tanpa harus bingung dimana kabin/tenda mereka.

Tipi yang kami sewa pada dasarnya ya tenda, kantong tidur, peralatan masak, harus kami bawa sendiri. Harga sewa Tipi ini $45 per malam.

Yang lucu, di dalam Tipi ternyata boleh buat api unggun – kalau bawa tenda sendiri ya tidak mungkin lah pasang api dalam tenda- tapi suam tidak mau ambil resiko masang api dalam tempat tertutup yang terbuat dari kain pula.

Anak saya misuh-misuh tidak mau tidur di Tipi karena lantainya pasir – kalau pakai tenda sendiri, kan lantainya terpal si tenda.  Setelah ada kali 1 jam-an dia ngomel, akhirnya tertidur juga.

Kalau saya cuma takut tidur kemasukan pasir, tapi ternyata kami semua bisa tidur tanpa ‘kebanjiran’ pasir koq…he….he…he…

Collage 2017-06-11 22_25_36

Karena hari masih ‘siang’, kami jalan-jalan ke taman Brown County  (Brown County State Park)  sempat hiking ke danau Sthral, cuma 1 mil pulang pergi sih..cuma trailnya banyak tangga, dan menurun, jadi waktu balik ya banyak naik tangganya……wadduhh…asli keringetan, mana si kecil mengeluh minta di gendong, jadilah saya sempat gendong dia..lumayan 27 kilo…..

Collage 2017-06-11 22_22_54

Hari Minggu, kami sarapan – pilihan sarapan ini terserah tamu hotel. Tidak termasuk dalam harga Tipi. Berhubung ini kemping kilat, suami malas repot-repot masang api, kompor dan lain-lain, jadi ya kami pesan sarapan.

Sarapannya standar Amrik lah : telor orak arik, roti, sosis dan martabak manis Amrik alias pancake.

Setelah sarapan kami menunggu giliran untuk berzip lining jam 11.

Selain kami ada 2 keluarga lainnya dalam grup yang sama. Total peserta 9 orang – maksimum 10 orang dalam 1 grup. Ada 2 instruktur, Joe dan Paula yang pergi bareng-barang kami.

Kami sebelumnya sudah pernah ber-zip lining ria, yaitu waktu ultah saya, jadi kami sudah ‘pro’ lah…he…he..he.’

Seperti biasa, kami di lengkapi dengan helmet dan tali pengaman ini dan itu. Salah satu instruktur akan ‘menangkap’ peserta di tempat mendarat , sementara instruktur yang lainnya memandu peserta untuk meluncur.

Total kita meluncur di 6 kabel, kabel ke-enam sama dengan kabel ke-empat cuma ya kebalikan arah.

Dibanding dengan pengalaman kami berzip lining pertama kali  (baca di sini), zip lining kali ini boleh dibilang amat mudah (kata anak saya malah kurang seru!), karena jarak antar point yang satu dengan yang lain tidak terlalu jauh bentangnnya dan juga tidak terlalu tinggi – ibaratnya kalau tho jatuh, tidak akan patah kaki atau luka parah, paling beset-beset atau keseleo.

Collage 2017-06-11 22_15_02

Tapi ya tetap seru lah, karena kan bukan sesuatu yang kami lakoni setiap tahunnya!

Harga untuk bermain zip line $25 karena kami menginap di lokasi, kalau tamu luar harganya $35 per orang.  Peserta harus berumur diatas 7 tahun dan berat badan tidak boleh kurang dari 60 lbs juga tidak boleh lebih dari 200 lbs.

Selain wara-wiri di lokasi Tipi, kami sempat mampir ke kota Nashville, yang jaraknya 3 mil dari tempat kami menginap. Kota Nashville ini, kota yang penuh dengan toko-toko lokal, dari mulai butik baju, tempat ngopi, ngeteh, es krim (ada 3!!) , resto-resto ini itu, studio foto, kereta api turis, toko lilin, toko permen, toko coklat dan banyak lagi!…ibarat jalan-jalan ke Kuta atau jalan Cihampelas Bandung.

Saya sih bisa betah berjam-jam cuma jalan-jalan keliling kota dan keluar masuk toko lihat ini itu, cuma anak dan suami saya cranky, jadi kami tidak lama-lama di sini.

Cuma sempat foto ala koboy jaman bahela….

Collage 2017-06-11 23_01_16

Setelah saya lihat-lihat, banyak alternatif penginapan di sekitar kota Nashville, ada hotel-hotel chain, kemping di state park, ataupun penginapan-penginapan  kecil di pusat kota Nashvillenya sendiri.

Secara umum kota Nashville, enak untuk dikunjungi sekali-kali kalau pas lagi bosan, pengen jalan-jalan tapi tidak mau ke mal misalnya.

Kalau kamu tipenya senang window shopping, kota Nashville lumayan seru buat diintip. Kalau kamu tipenya petualang, selain zip lining, kamu bisa juga naik kuda, bersepeda di hutan, berkayak ria atau berenang.

Buat saya, kalau tho mau berakhir pekan lagi di sini, mungkin saya akan coba tempat penginapan lain atau kalau tho kami mau kemping, kayaknya kami akan pilih kemping di dalam Brown County State Park – karena untuk masuk ke taman ini harus bayar $9 per kendaraan luar kota.

 

 

 

 

 

Seminggu Sudah Berpuasa

Hari ini genap sudah seminggu lamanya umat Islam mulai berpuasa di bulan Ramadan 2017. Kebetulan saya termasuk salah satu yang berpuasa.

Gimana hasilnya? lumayanlah…masih sanggup…

Godaan? Jelas ada. Capek. Ngantuk. Pasti.

Di sisi lain, takjub juga akan kekuatan tubuh sendiri yang ternyata sanggup tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam…….

Iseng-iseng mau mengkaji gimana puasa saya selama minggu pertama :

Hari Sabtu (27 Mei) – pagi-pagi kerja dari jam 9 sampai jam 12, cuci mata di toko-toko lainnya, balik ke rumah jam 2 an, lumayan, setengah hari sudah terbuang….

Hari Minggu (28 Mei) lupa..ngapain ya?? istirahat saja kayaknya sih…o iya…pas jam 8 an gitu, lagi lihat-lihat Instagram..tiba-tiba koq pengen siomay…nemu resep di Youtube…eh koq gampang ya…jadilah ngacir ke Kroger supermarket buat beli daging ayam giling dan udang buat siomay…..Eng ing eng…hari ini pertama kalinya saya buat siomay!

Hari Senin (29 Mei) -hari libur Memorial Day di Amrik – ternyata kuat bersepeda ria sama anak dan suami…pendek sih rutenya, tapi hari pas lumayan panas…gleg…haus bisa ditahan juga kalau niat….

Hari Selasa (30 Mei)- hari pertama kerja pas puasa, waduh ngantuknya minta ampun, pekerjaan jadi agak sembrono! Duh malu deh! langsung dalam hati janji tidak mau sembrono lagi besok besok. Malamnya iseng bikin sate padang karena ada sisa lidah sapi dari semur yang dibuat sebelumnya…eh ternyata saya bisa bikin sate padang!!

Hari Rabu, (31 Mei)-hari ini saya kerja dari rumah, karena harus ke dokter ini itu… entah bagaimana setelah di dokter THT hidung saya disemprot obat bius lokal, maksudnya untuk si dokter swap tenggorokan saya, tapi yang ada dari jam 9 sampai jam 4 saya non stop bersin-bersin dan ingusan. Asli sengsara. Waktu ambil obat yang disarankan dokter, hampir mau buka – karena capek sekali bersin tidak berhenti-henti…lah..obatnya ternyata bikin ngantuk! padahal saya masih harus kerja jam 6 hingga jam 9 hari itu..ya sudah tidak jadi minum obat, eh Alhamdulillah ingusannya berhenti.

Hari Kamis (1 Juni) ditabrak pas lagi mau ketemuan teman 😦

Hari Jumat (2 Juni) – sehabis sahur, mandi, langsung berangkat ke tempat kerja, untungnya memang saya jam kerjanya bisa mulai jam 6:30 pagi. Eh ternyata kerjaan segudang, yang ada baru pulang jam 5! phew! Sampai rumah, istirahat bentar…hadduuh…koq malas masak ya?? jadilah cuma bikin mie rebus, pakai kangkung dan daging suwir ala Korea. O iya…sempat pergi ke Walmart, nemu es krim rasa mangga – iih enak juga!! rasa mangganya ketara !

Hari Sabtu (3 Juni) – kerja dari jam 9-12! balik ke rumah, bobo …trus jalan-jalan ke taman Charlestown …hua…….pilih trail pendek – cuma 0.9 mil..cuma tanjakannya ajegileeeeeeee….ini kaki rasanya ogah diangkat!! ha…ha…ha…susah deh out of shape! Ini foto-foto dibawah masih bisa cengengesan karena diambil sebelum jalan di tanjakan yang bikin ngos-ngosan…;-)

Waktu balik ke mobil..hua..langsung pasang AC…buat menghilangkan haus! kik..kik..kik..

(more…)

Yah..Ditabrak Lagi…

Kemarin sore sekitar jam 7 malam, mobil saya ditabrak waktu saya lagi berhenti di lampu merah. Gubrak! Asli suaranya kencang sekali dan saya langsung lemas rasanya!

Setiap kali ditabrak – saya 3 kali ditabrak dari belakang, sekali di Indonesia, dua kali di Amrik – reaksi saya langsung deg-degan dan gemetaran….meskipun saya tidak luka dan mobil saya juga tidak ringsek – Alhamdulillah, tapi saat kejadian itu saya selalu jadi shaking dan panik.

Mbak yang nabrak saya masih muda, mungkin 19 atau 20 tahun, dia bilangnya tidak sengaja menginjak pedal gas pas meraih telponnya yang bunyi….

Yang saya gemas dari kejadian kemarin itu, si mbak koq ya diam saja di mobilnya ya? saya harus mengetok jendela dia untuk keluar dan melihat kondisi mobil saya.  Dia tidak langsung minta maaf, entah apa karena negara bagian tempat saya tinggal ini menganut prinsip no fault – yang terus terang menurut saya adalah prinsip yang tolol, karena dalam kecelakaan jelas lah ada pihak yang salah- jadi reaksi si mbak seperti robot gitu ya?

Saking kesalnya melihat reaksi si mbak yang datar, saya sampai harus bilang ke dia ‘You know, I am shaking here, right?. Baru dia dengan ringannya bilang ‘sorry, I did not mean to hit you’ Well DUH??!!!

Tidak bohong kalau saya juga pernah tidak sengaja nabrak bemper mobil (fender bender istilahnya), tapi reaksi saya selalu spontan dan meminta maaf.

Sebetulnya saya malas memperpanjang masalah , bemper saya cuma scuff dan sedikit dent, cuma melihat reaksi si mbak, saya pilih untuk mengajukan klaim resmi ke asuransi dia.

Ada kali 1/2 jam-an setelah kecelakaan, saya melirik dari kaca spion saya dari dalam mobil sambil menelpon asuransi, saya lihat si mbak baru terisak-isak…entah karena dia diomelin ortunya – saya lihat dia menelpon atau karena hal lain. Yang jelas tidak berapa lama bapak si mbak datang ke lokasi kecelakaan.

Baru setelah satu jam saya habiskan di telpon urus asuransi, si mbak sambil segugukan bilang ‘I am so sorry’ – dalam hati saya bilang..kemana aja reaksi lu yak??

Anyway…inti cerita saya gini…kalau lagi nyetir, sudah dong itu telpon ditangguhkan dulu deh, kecuali situ dokter yang harus dipanggil ke kondisi darurat, atau suami yang istrinya lagi mau brojol, atau kondisi-kondisi lain yang mengharuskan situ ‘waspada’ telpon, TOLOOOOOOOOOOOOOOONG deh, konsentrasi ke jalan saja!

Karena keteledoran kamu, orang lain bisa celaka loh!

 

 

 

 

Imigran Ilegal

Ugh. Topik sensitif deh.

Dari mana ya saya mau mulai.

Jujur, bukan sekali dua kali saya mendapat email dari pembaca yang minta bantuan supaya bisa masuk ke Amerika ‘dengan cara apapun, yang penting saya bisa masuk di Amrik.

Di pesawat dari Jakarta ke Seattle tahun 2005,  ngobrol dengan anak Indo, jelas-jelas dia bilang ‘Saya pakai visa turis ni, Oom saya mau nampung saya sementara, tapi nanti saya mau menetap, tidak mau pulang’

Terus terang saya bingung dan malas menjawab pertanyaan ‘Bagaimana ya Mbak -caranya saya supaya bisa masuk ke Amerika, ilegal juga tidak apa-apa?’

Malas karena saya pribadi tidak suka ‘menghalalkan segala cara’ dalam urusan apapun.

Yang ada saya selalu harus menolak kalau ada yang minta ‘tolong’ tipe seperti ini.

Bingung karena saya tidak merasa Indonesia itu kondisinya amat sangat tidak mengenakkan sehingga penduduknya HARUS keluar dari Indonesia. Dan Amerika tidak selalu menjanjikan mimpi-mimpi indah gitu loh.

Saya tidak mengerti ‘keharusan’ pindah ke Amerika sehingga ibarat penyelundup, rela lompat dari kapal misalnya, atau memalsukan paspor…dan entah cara apalagi yang dicoba ….

Buat saya koq rasanya itu tidak menghormati negara yang akan ditinggali ya?

Ada memang beberapa kondisi ekstrim yang membuat seseorang rela melakukan hal apapun untuk pindah ke negara lain tanpa dokumen-dokumen resmi. Perang misalnya. Kelaparan. Bencana alam.

Atau memang situasi yang membuat status jadi berubah dari legal menjadi ilegal. Ditinggal tunangan, tidak punya uang buat balik ke tanah air, misalnya.

Hal-hal seperti itu saya masih bisa mengerti lah.

Tapi kalau semata-mata “bagaimana ya mbak caranya saya bisa tinggal di Amerika. Yang penting di Amerika”

Ya JANGAN LAH.

Bukan saya sok patuh hukum dan tidak pernah melanggar hukum ya…cuma saya sebagai imigran juga ‘kena getahnya’ loh dengan keberadaan imigran ilegal.

Sering kita (imigran) ya jadinya disamaratakan : semuanya ilegal. Semuanya tidak bayar pajak. Semuanya nyolong pekerjaan buat orang pribumi.  Semuanya tidak bisa bahasa Inggris, semuanya tidak berpendidikan.  Sama saja seperti menyamaratakan si A agamanya X artinya B.

Kesal juga kan?!

Mau tinggal di Amrik?

Belajar bahasa Inggris! Jangan terus beralasan bahasa Inggris saya belepotan. Basi ah.

Belajar punya keahlian tertentu : montir, mekanik,  tukang kayu (carpenter), penjahit (seamstress), dandanin orang, memasak (culinary, chef).

Coba ikutan lotere Green Card.

Dan…mmm..jangan lagi tanya saya Bagaimana cara masuk ke Amrik secara ilegal ya!

 

 

 

 

 

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya adalah seorang imigran

Setelah lahir dan besar di Jakarta, untuk ukuran Jakarta,  Indonesia ya saya penduduk super lokal. Bukan cuma lokal orang Indonesia aka pribumi tapi juga lokal Jakarta.

Ada lah rasa ‘belagu’, karena saya anak Ibukota gitu loh.

Pindah lah si 100% pribumi dan 100% anak ibukota ini ke Amerika.

Dari situ status saya ya berubah menjadi seorang imigran. Tidak bohong kalau saya merasa ‘turun kelas’….

Tapi sebetulnya yaaa…berstatus imigran ya tidak ada yang salah, atau tidak bernotasi buruk ya.

Memang faktanya koq saya berimigrasi ke Amerika, ya jadinya saya seorang imigran.

Apa arti jadi seorang imigran bagi saya?

Saya punya kampung halaman.  Hi..hi…hi…kata mudik sekarang menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

Saya belajar budaya dan sejarah negara baru saya. Ih, sumpah, saya paling malas belajar sejarah. Cuma koq ya rasanya tidak ‘sopan’ kalau saya buta sekali tentang sejarah negara yang saya adopsi jadi negara saya.

Saya merasa (merasa loh yaaaaaa…ini opini bukan fakta!!!- catat!) saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sesuai – terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.  Benar atau tidak , saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya sehari-harinya constantly berusaha amat sangat patuh dengan aturan pekerjaan (dulu waktu jadi pribumi sih saya biasa saja) .

Entah apa karena saya merasa ‘orang luar’ jadi saya harus bangun kepercayaan dulu?  Mbuh…

Saya jadi suka memperhatikan sesama imigran lainnya, merasa ada ‘koneksi’ gitu – padahal ya belum tentu…kik..kik…kik..

Tapi benar loh, saya senang jadi imigran, karena saya jadi ingin tahu tentang ras lainnya, kenalan-kenalan saya jadi lebih ‘ramai’ : dari Bosnia, Jepang, India, Pakistan, Iran, Iraq, Mesir, Turki, Palestina, Malaysia, Thailan, Ukrania, Rusia, Bulgaria, Korea, Nepal, Maroko dan seterusnya….

Mana saya tahu gitu kalau wanita-wanita Bosnia cuantik nya minta ampun! seperti boneka! atau ngobrol langsung dengan penganut agama Sikh atau diundang ke pura Hindu orang India.

Melihat sesama imigran berprestasi terus terang saya ikut bangga! Mereka adalah bukti kalau imigran bukan warga negara kelas 2.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

NOL

Saya harus mulai dari NOL lagi.

Pendidikan : NOL (well, sederajat dengan lulusan SMA Amrik lah).

Pengalaman kerja : NOL.

Teman-teman : NOL

Sanak Keluarga Indo : NOL

Materi : NOL – uang suami ya saya tidak masukkan ya..secara saya kan dulu kerja gitu loh.

Tidak seperti kerabat-kerabat dan banyak teman-teman saya yang sungguh pintar  dan berkarir tinggi waktu di Jakarta, saya ini pas-pasan dan kurang ‘hoki’.

Latar pendidikan saya memang sarjana teknik sipil tapi wis saya tidak mengerti satu pun ilmu sipil yang saya pelajari. Jadi ya tidak bisa dipakai.

Universitas tempat saya lulus di Jakarta sih memang keren, tapi di Amrik ya tidak ada bunyinya.

Pengalaman kerja, mungkin bisa di daya gunakan, tapi waktu saya pertama hijrah tidak terpikir sejauh itu.

Jadilah waktu akhirnya saya mulai coba cari kerja, saya baru sadar kalau saya harus mulai dari NOL lagi.

Waduh…pedih juga lah hati ini setelah berpuluh puluh lamaran kerja tidak ada yang balik.

Atau waktu basah kuyup kehujanan tidak punya mobil tidak ada teman yang bisa di mintai tolong.

Melahirkan dan merawat anak, dijalani berduaan saja dengan suami. Sungguh super iri melihat teman-teman yang ada ibu atau bapaknya datang waktu anak-anak lahiran.

 Ya sudah, daripada mewek, mulailah saya kerja apa saja. Mulailah saya coba berteman. Mulailah saya mengumpulkan uang sendiri.

Terus terang saya salut sekali dengan teman-teman imigran Indonesia yang melanjutkan sekolah lagi di Amrik (mereka hijrah ke sini bukan untuk melanjutkan kuliah ya).

Saya pernah coba sekolah lagi..hadewweh..ini otak sudah karatan..yang ada malessss…..- parah kan?! jangan dicontoh ya!!

Intinya dari tulisan saya ini….

Jangan putus asa kalau apa-apa yang sudah kita rintis, eh…ternyata tidak ada artinya di tempat lain….

Kalau ada kesempatan sekolah, atau ambil kursus ya…monggo deh dilakoni…

Jangan malu untuk kerja di tempat kurang ‘mentereng’, yang penting kita tidak nyolong, tidak jualan yang terlarang, hasil kerja kita lama-lama bisa jadi bukit juga lah…

Hidup dari NOL lagi….kadang memang sesuatu yang harus kita lakoni….

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya sekarang keren karena suaminya bule

HA!

Aduh..enggak lah! suami bule tidak jadi buat saya jadi keren…yang serius ni :

Saya sekarang adalah kaum minoritas

Bukan cuma secara ras – Asia atau lebih mikronya Indonesia, saya juga minoritas dalam hal kepercayaan.

Tidak enak ya?

Tidak juga sih.  Tapi kalau mau jujur ya memang lebih mudah dan nyaman  jadi kaum mayoritas lah.

Dalam masalah makanan misalnya.

Dimana-mana harus ngecek tabel isi makanan, ada babinya atau tidak. Entah bagaimana, pernah kami salah beli daging…pas mau dimasak baru lihat label..lho koq babi ternyata?? ha…ha..ha..yang ada tetangga dapat daging babi gratis! hi..hi..hi….

Atau juga waktu pesan pizza,  perasaan pas order sudah pilih daging sapi, pas mas antar pizza sampai di depan pintu dan kami buka si kotak pizza…lho..koq pepperoni?? lagi-lagi tetangga dapat rejeki…kik..kik..kii

Minuman, pilihannya cuma air putih, es teh pahit, es teh manis, soda dan alkohol. Tidak ada es kelapa muda atau es teler misalnya.

Ada pesta kantor, haruslah isi bagian ‘dietary prohibition’ . Kadang kalau perusahaannya perhatian, ya makanan buat saya dibuat tersendiri, kadang bos suka lupa jadi saya cuma bisa gigit jari sementara semua rekan-rekan sibuk makan. Nasib….;-)

Eh tapi ya..masalah dietary prohibition ini bukan semata-mata religius sih, banyak orang-orang yang alergi jenis makanan tertentu, alergi gluten misalnya, atau alergi kacang. Jadi dietary prohibition ini saya perhatikan lebih ke masalah keselamatan, bukan semata-mata ‘penghormatan’ kepada pemilik agama tertentu.

Atau pas hari Natalan, rasanya saya harus adakan konfrensi pers untuk menjelaskan kenapa saya pilih untuk tidak merayakan hari Natal. Karena sebagian besar orang-orang disini seakan-akan jengah sekali kalau kita tidak merayakan natal.

Yang enaknya (atau tidak enaknya – terserah pembaca deh)…banyak orang-orang yang penasaran akan latar belakang saya karena saya minoritas. Kadang jadi pemancing pembicaraan gitu. Memang pas lagi tidak mood ngobrol ya capek sih…hi..hi..hi..

Yang jelas saya belajar menghargai ‘keterbatasan’ menjadi kaum minoritas. Belajar simpatik, toleransi, empati.

Lalu juga saya juga jadi lebih banyak bersyukur.

Bersyukur kalau saya ternyata lebih mengerti akan ketidakseragaman dan MENGHARGAI ketidakseragaman. Dan TIDAK NGOYO.

Idul Fitri jarang ada yang tahu, tidak libur, tidak ada yang kasih selamat, ya tidak masalah. Kalau mau libur ya tinggal minta ijin – kalau saya tidak salah ada aturannya untuk pegawai meminta libur berdasarkan hari besar, tapi saya pribadi tidak pernah minta.

Puasa, tidak ada teman senasib, tidak ada yang pedulikan, ya wong ibadah buat Tuhan kan…ya tidak masalah. Yang jelas harus celingukan ke jendela buat ngecek matahari tenggelam dan matahari terbit….atau mau cara lebih modern ya pakai app.

Menjadi minoritas bukan berarti menjadi tertindas, tapi menjadi minoritas adalah berkah untuk menghargai hal-hal kecil yang lebih berarti, misalnya waktu pesta natal perusahaan pertama saya kerja, saya lagi hamil bulet, seumur-umur belum pernah hadiri pesta natal ala bule kan. Eh ternyata saya dipesankan makanan yang tidak mengandung si ekor keriting. Jelas salut lah saya..apalagi perusahaan tempat saya kerja itu  perusahaan lokal, tho bos mau repot-repot order makanan cuma buat saya dan suami.

Atau waktu salah satu manajer saya mengingatkan manajer lainnya untuk pesan makanan yang saya bisa makan – sementara saya cuma satu-satunya staf yang tidak bisa makan si pinky kan, repot amat gitu. Terharu sekali saya, senang karena ada yang ingat.

Kalau tho bos-bos ‘lupa’ ya saya sih tidak marah..biasa saja..wong di Indonesia juga saya pernah harus duduk makan di restoran yang menunya babi semua, cuma karena bos besar pesan dan saya harus duduk bareng ya wis.