Jalan-jalan ke Boston: Musium Tea Party

Boston boleh dibilang salah satu kota yang penuh dengan sejarahnya Amerika, selain Philadelphia dan DC.

Hari pertama tempat bersejarah yang kami kunjungi adalah Boston Tea Party Museum.

Saya beli tiket untuk tur online untuk jam 4 sore dan karena saya ambil tur trolley saya dapat potongan $6.

Kami ke lokasi pakai trolley hop on and off. O iya, lupa, saya ambil tiket troli untuk 2 hari, karena waktu saya lihat2, perhentian si troli ini boleh dibilang ya lokasi2 yang kami akan lewati, termasuk Tea Pary Museum ini.

Tempat stop si troli ini juga dekat banget sama hotel kami. Jadi gampang lah.

Dengan ikutan tur, pengunjung dijelaskan lah ya latar belakang istilah tea party.

Seru sik, saya jadi belajar juga tentang sejarah Amerika.

Awal masuk, setiap pengunjung dibkasih kartu “karakter” , nama orang2 yang terlibat di insiden pembuangan teh dari kapal.

Di utasan saya di IG di bawah teman2 bisa lihat prototype kapal, dan kotak2 teh yang di lempar ke laut (biasalah saya , maubikutan ngelempar juga, harap maklum ya pembaca🤭).

Di lokasi ada musium, ada tempat buat ngeteh dan ngemil. Di mana pengunjung bisa icip2 teh yang dibuang ke laut. Total ada 5 jenis teh yang dibuang ke laut pada saat peristiwa bersejarah itu.

Daur Ulang

Dulu sebelum saya pindah ke Amrik, saya pikir, ini negara maju pisanlah. Salah satunya dalam hal mengelola sampah. Saya pikir pastilah program daur ulang di Amrik canggih.

Canggih dalam arti sampah2 diharuskan untuk dibuat terpisah, ada tempat sampah masing-masing : yang organik, plastik, kertas, kaca, batere. Lalu juga masyarakat dibiasakan memisahkan sampah2 mereka, lokasi daur ulang ada di mana-mana.

Waktu saya tinggal di kota lumayan besar di negara bagian Ohio, ada rekan kerja yang cerita, kalau dia rajin mengumpulkan sampah kaleng. Karena dari sampah2 kalengan/logam ini, dia bisa bawa ke tempat daur ulang dekat dia tinggal, dan dapat uang, yang lumayan bisa dibelikan bensin.

Wah lumayan banget dong?

Nah waktu saya pindah ke kota tempat saya tinggal sekarang, saya cari-carilah tempat daur ulang sejenis. Memang ketemu, ada yang lumayan dekat dengan tempat tinggal saya. Semangat dong?

Waktu itu saya masih tinggal dengan suami yang suka minum. Jadi yang namanya kaleng2 bir, ya banyak banget. Jadilah saya bawa ke tempat Daru ulang. Halagh! Sebanyak2nya saya bawa material logam, saya ingat, yang tertinggi yang saya dapat itu cuma $7.

Duh. Pedih amat, sementara 6 kaleng bir ya harganya sama , segitu juga. Gak balik modal banget dong ya? Jangankan beli bensin.

Dah dari situ, saya baru ngeh, jadi ternyata program daur ulang itu gak semua dijalankan pemerintah setempat. Negara bagian seperti CA, NY, lebih banyak program daur ulangnya.

Sementara di kota saya, yang namanya pembuangan daur ulang makin lama makin sedikit lokasinya. Dulu ada 3 lokasi di area kode pos saya +/- 5 mil, satu lokasi malah ada asisten yang bantu penduduk unloading, sekarang cuma ada 1.

Dan juga, si sampah itu gak dipisah-pisah loh. Asli wis saya bingung. Jadi tempat daur ulang disini ya cuma kotak-kotak sampah raksasa , di mana penduduk bisa buang karton, plastik, kaca, kertas.

Asli tiap kali saya ke lokasi, saya koq miris, ini nanti siapa gitu yang akan memilah-pilah?

Dengar-dengar juga, banyak program daur ulang itu cuma cuap-cuap doang. Kampanye lah. Green Washing istilah disini.

Maksudnya? Ya sampah2 gak di daur ulang. Jatuh-jatuhnya ke tempat pembuangan sampah biasa. Bingung kan?

Kota saya sendiri sediakan tempat sampah khusus daur ulang, yang sama Pemda diambilnya beda hari dengan sampah biasa. Tapi ya itu, tetap gak dipilah-pilah.

Saya pribadi tetap coba memilah sampah sik, antara sampah organik dan sampah non organik. Idealnya sampah organik mau dijadikan kompos, tapi berhubung tinggal di apartemen, ya gak ada terlalu maksimal fungsinya.

Di dekat tempat saya tinggal ada supermarket yang sediakan tiga tempat sampah berbeda untuk pengunjung nya : foam, kantong-kantong plastik dan kertas.

Saya ya usahakan kalau ada sampah plastik bawa ke situ. Kalau kertas, saya bawa ke tempat kerja untuk di shred. Masalah apa benar didaur ulang..nah itu gak tahu deh……

Berita Duka Dari Tanah Air

Lagi lagi saya melihat utasan duka dari tanah air. Suaminya teman kerja pas kerja di perusahaan properti di Jakarta .

Teman saya yang cantik, dulu anak gaul banget, sekarang pakai jilbab dan jadi pengusaha. Saya pun datang pas perkawinan mereka. Anak2 mereka dua orang, laki-laki dan perempuan, both young adults.

Gak kebayang rasanya ditinggal pasangan yang kita cintai ya.

Saya nulis ini bukan mau click bait atau cari engagement. Tapi lebih ke cara saya untuk menyalurkan kesedihan.

Ditinggal pasti sakit rasanya.

Mudah-mudahan teman saya diberikan ketabahan dan kekuatan untuk melanjutkan hidup dan tetek bengek yang harus diurus setelah kematian terjadi.

Saya lihat utasan dia di IG, lha, jadi ikutan nangis.

Saya gak bisa menghadiri pemakaman baik bapak maupun ibu saya.

Saya lupa pemakaman siapa, tapi saya ingat bagaimana realita menghantam saya saat tanah terakhir diayunkan dan sekop digotong oleh penggali makam.

Tandanya selesai sudah.

Kematian entah kenapa seringkali ‘menyakitkan’, seakan-akan kita gak percaya kalau kematian akan terjadi pada kita. Padahal kita tahu sekali kalau ‘apa-apa yang hidup pasti akan mati’

MEMENTO MORI.

Saya cuma bisa kirim doa dan peluk dari jauh untuk teman saya di Indonesia.

Xoxo

Hidup Sendiri Itu

Ternyata enak sekali!

Saya gak pernah mengira kalau ternyata, saya jadinya lebih milih hidup sendiri dibandingkan dengan hidup bersama seseorang.

Dan ternyata saya gak sendiri! Saya ketemu banyak utasan-utasan di IG yang berbagi sentimen yang serupa dengan saya.

Yang jelas saya merasa sangat bebas untuk mendekorasi tempat saya sesuka hati. Karena ternyata yang saya alami setelah dua kali hidup bersama seseorang, meskipun mereka bilang ‘Do whatever you like’ itu ternyata….bohong. Dalam arti mereka sebetulnya gak suka pilihan dekorasi kita dan itu lama-lama ya akan jadi resentment.

Hal lain yang saya sukai adalah saya bisa seenak dewe mau ngapain. Gak mau beberes? Ya gak apa2, gak ada yang marah. Gak ada yang rolling eyes. Berantakan pun ya berantakan karena saya seorang, bukan karena orang lain. Gak perlu marah dengan orang lain kalau ada jaket di lantai, cucian piring gak langsung dicuci.

Saya bukan tipe yang HARUS BERBERSIH saat itu juga, dan juga bukan tipe yang teratur. Tapi ya gak apa2, karena berantakan di tempat saya ya berantakan ya saya. Yang saya bisa toleransi. Saya tetap berbersih, karena saya juga bukan tipe yang bisa cuek lama-lama lihat cucian numpuk segunung, atau lihat lantai kotor. Ya pasti saya akan ngepel, nyapu, gosok-gosok bak mandi, dapur, kulkas dan lain lain.

Apalagi yang namanya masalah berbagi kamar tidur dan kamar mandi. 1000000% pilih sendiri! Betapa bahagianya saya, tidur di kasur ukuran Queen gak harus mepet2 (kecuali sama anjing saya), gak harus denger orang lain ngorok, gak harus ngungsi saat saya ngorok terlalu kencang, atau pas saya restless terbangun jam 4 pagi karena gejala perimenapos.

Kamar mandi? Bodo amat, makeup ini itu di sekitar sink, nanti juga saya akan bereskan. Itu 🚽saya gak perlu ‘geli’ bersihin 💩, wong yang pakai kan cuma saya sendiri. Gak perlu kegelian ada bekas cukuran jenggot misalnya. Atau bercak-bercak di cermin, ya saya langsung lap secepatnya.

Honestly it’s glorious.

Kepikiran misalnya saya harus tinggal sama orang lain lagi terus terang membuat saya mengernyitkan dahi. Ewww…ogah banget.

Kalau tho saya misalnya punya pasangan lagi, saya lebih pilih konsep together separately.

Aneh? Ternyata gak!? Banyak perempuan2 yang sepemikiran dengan saya.

Dan juga ternyata saya betah di apartmen saya.

Yang ada saya kayak utasan ini

Hidup Sendiri Itu……

Buat saya, konsep yang relatif baru. Malu-maluin ya. Sudah umur lebih dari setengah abad, baru 4 tahun terakhir hidup sendiri.

Padahal sepupu-sepupu saya ada dua, dua2 nya perempuan dan lajang dan mereka sudah tinggal sendiri sejak masih umur 20 tahunan, tinggal sendirinya pun itu di rumah sendiri loh, bukan cuma kos-kosan. Hebat ya sepupu2 aku.

Jadi kalau pakai standar mereka, saya ketinggalan banget dan apa ya ..cemen mungkin? Telat mandiri? Ha.

Sebetulnya ini bukan saya yang rencanakan ya. Memang dari pas muda, sama ortu, boleh dibilang saya dipingit. Gak boleh ini itu. Dan memang ya gak ada alasan buat kos?

Karena pas kuliah di Jakarta juga. Sempat minta kos, tapi ya gak boleh, gak tahu apa karena kekhawatiran atau mungkin ortu gak ada uang juga ya? Karena ya pas kuliah saya kan gak kerja, jadi pastinya yang bayar kos ya ortu lah.

Pas kerja, saya sempat minta kos lagi, karena macetnya pulang pergi dari pinggiran Jakarta Timur ke Sudirman. Tapi gak dibolehin juga.

Fast forward 30 tahun kemudian. Saya gak cuma hidup sendiri, tapi hidup sendiri di bukan negara asal tanpa ada dukungan keluarga.

Rasanya?

BERAAAAAAAT GILAAAA!!!!

Keuangan? Jelas berat. Semuanya ya kita yang tanggung sendiri kan? Pengeluaran hidup sehari-hari dari mulai sewa apartemen, bayar listrik, internet, telpon.

Trus belanja makanan, beli bensin, kelihatannya sedikit ya? Tapi kalau gak hati-hati, atau pas ada ‘kebocoran’, asli harus putar otak.

Ini saya jabarkan ya tagihan sehari-hari saya, bukan mau nampang, tapi supaya teman-teman tahu saja.

Sewa apartemen di kota saya itu untuk 1 kamar tidur rata-rata mulai dari $949 ke $1500. Luasnya kira2 tipe rumah 45 m2 deh sampai 75m2. Sewa apartemen saya termasuk air ya, dan ini gak semua apartemen seperti ini. Apartemen2 yang model terbaru, tagihan air tersendiri. Belum lagi kalau punya binatang peliharaan, itu rata-rata $25/binatang/bulan.

Tagihan internet mulai $50 sampai $100

Tagihan telpon saya cuma bayar $60 untuk 2 telpon , ini gak bisa di bandingin karena tagihan saya oke banget. Kebetulan saya beruntung. Rata2 pasaran sekarang $50.

Tagihan listrik, kalau musim dingin, karena pakai pemanas ruangan, itu bisa $100+ tapi gak sampai $200, kalau musim panas, saya jarang pakai pendingin, jadi tagihan cuma $50 ish deh.

Bensin? Saat ini saya bekerja dari rumah, jadi jarang banget pakai mobil. Biasanya isi bensin cuma $25-$35 tiap dua minggu tergantung harga bensin. Total 8 galon aja.

Belanja bahan2 makanan, biasanya saya habis $100/dua minggu. Kalau belanja bahan2 ini itu seperti pel lantai, sabun cuci baju, sabun cuci piring dll, saya bisa habis $300 tapi ya per 6 bulan minimal ya ini juga karena saya anggota Costco, saya bisa beli ukuran besar, lumayan ngirit sih.

Apalagi?? Belum servis mobil, belum ongkos ke dokter, ongkos makanan anjing saya, $50/3 bulan, vaksinasi dan lain2 bisa habis $300.

Yang jelas sejak hidup sendiri, saya sangat biasakan untuk habiskan makanan di kulkas dulu, sebelum beli bahan makanan baru.

Belanja barang-barang tersier, in kelemahan saya deh. Susah banget nahannya. Tapi sudah mulai insaf. ;-*

Selain kurangi belanja, saya juga sibuk jualin barang-barang, terutama baju-baju di Resale App , namanya DEPOP. Lumayan lah sudah banyak baju-baju dan sepatu-sepatu yang terjual. Selain dapat uang receh , juga bikin ruang lega kan?!

Nanti suka dukanya hidup sendiri saya ceritakan dari sisi lain lagi yaa.

Duit. Duit. Dimanakah Kamu?

Wuih, saya hari ini berasa jadi orang dewasa sekali.

Dengan “gagah” pergi ke penyedia internet baru untuk mulai berlangganan. Beberapa tahun lalu saya sudah pernah tanya2.  Saat itu harganya cuma beda $10 kalau gak salah dengan harga yang saya bayar dengan operator.  Pikir saya, lha cuma beda $10.

Minggu ini saya lihat tagihan internet.. lha..dinaikkin lagi??!! Total jadi $100/bulan.

Sementara saya juga gak akan kerja dari rumah lagi, jadi internet paling dipakai malam hari saja.

Makanya saya bulatkan tekad untuk pindah operator.

Phew! Dengan operator baru, tagihan saya $50/bulan untuk 5 tahun. Sementara dengan operator sekarang saya bayar $100/bulan dan cenderung akan naik terus tiap bulannya. (Minimal tiap tahun)

Jadi saya irit $50×12×5 = $3000 untuk 5 tahun le depan!

Setelah buanyak pengeluaran, keberhasilan mengirit berasa legaaa banget!

Ini masih mutar otak buat cari $ tambahan untuk menutup pengeluaran2 sejak November 2025 yang saya cerita sebelumnya.

Saya juga minta tempat kerja kedua untuk menambah jadwal saya kerja 2.5 jam hingga akgir bulan April ini. Dari sini saya akan terima extra $400.

Bulan  lalu saya dapat promosi buka rekening di bank  A, kalau saya pindahkan gaji  total $2000/bulan, dapat bonus $450. Barusan saya cek, gaji saya sudah masuk ke rekening baru ini, setengah selesai.

Kalau saya bisa deposit $15K, mereka akan kasih bonus  tambahan $400. Mudah2an kedua bonus bisa saya dapatkan.

Gilaaa yaaa . Beginilah hidup di Amrik seorang diri. ❤️❤️❤️

Prakarya Bulan Februari

Halo pembaca!

Coba tebak si Ibu FOMO (Fear Of Missing Out) ikutan apa lagi bulan Februari ini?

Latihan otak kali ini , saya ikutan kelas bikin gantungan pot macrame.
Kenapa pilih kelas ini?

Karena memang saya sendiri sudah punya beberapa gantungan pot macrame yang saya pajang di pojokan tenang saya saat musim dingin, saya memang suka dengan gantungan pot ini.

Nah, kenapa juga gak sekalian ‘tahu’ gimana sik proses membuatnya?

Jadi kelas ini diadakan di toko tanaman Mahonia yang juga baru pindah lokasi dari pusat kota ke bagian timur kota yang notabene lebih dekat dengan tempat tinggal saya.

Harga kelas ini $52 , rata-rata harga kelas2 seni disini memang berkisaran di harga segitu sik. Durasinya biasanya 2 jam an. Kebetulan juga jadwal kelasnya di hari Minggu, di mana saya libur, jadi seneng banget lah ada kegiatan asah otak.

Ada 4 peserta total dan satu pengarah. Si gantungan macrame digantung di struktur yang seperti rak jaket gitu, kreatif juga memakai gantungan jaket jadi buat kegiatan seperti ini.

Ada total 16 tali yang panjangnya kira-kira 2 meter ya. Pertama-tama kita ambil 4 tali, dan dari 4 tali ini kita mulai membuat knot, jumlah knot nya 10. Setelah selesai 10 knot, kita ambil 4 tali berikutnya, buat 10 knot sampai semua tali terangkai dengan jumlah yang sama.

Setelah itu, ambil jarak kira-kira 8 inci ke bawah, mulai rangkaian baru. Setelah selesai 4 rangkaian, ambil jarak 4 inci ke bawah lagi, kali ini cukup buat satu knot. Di sini kita akan membuat ruang untuk meletakkan pot yang bersangkutan.

Dari tali yang terikat dengan 1 knot tadi, kita lalu akan menyambung semua tali menjadi satu kesatuan, tidak lagi, terpisah empat bagian. Kita sambunglah tali yang satu ke samping ke tali lainnya, juga cukup dengan 1 knot.

Setelah selesai semua tali tersambung, instruktur melilit bagian bawah tali-tali, tandanya gantungan kita selesai!

Peserta juga di kasih satu pot keramik untuk gantungan ini.

Seru gak?

Saya sih senang ya. Pertama , karena saya gak pernah belajar macam-macam jenis ikatan (knot) , kedua ya karena saya punya rumah baru untuk tanaman saya di musim semi besok!

Selain mengasah otak dengan hal baru, saya juga mendapat barang yang pastinya akan saya pakai!

1 Februari 2026

Sudah masuk bulan kedua di tahun 2026 ni, apa kabar teman2 semua?

Sebetulnya saya banyak cerita, cuma belum ada si mood. Sabar ya, mudah2 an nanti saya bisa cerita ramai lagi.

Saya gak tahu ni, apa teman2 tahu.
Buat saya, menulis adalah bagian dari coping mechanism saya baik itu saat saya sedang sedih, bahagia, putus asa atau senang.

Dengan menulis saya ibaratnya mencurahkan perasaan dengan cara aman? At least saya pikir aman? Ha…ha…ha ternyata ada yang menuduh kalau saya cari click bait, likes & engagement.

Anyway,

Tulisan kali ini saya cuma mau cerita kalau saya sungguh sedang kewalahan akan pengeluaran2 besar yang lumayan bertubi2.

Awalnya di bulan November 2025, beli mesin cuci dan mesin pengering baju, habis $750

Lalu di bulan Desember 2025, anjing saya makan brownies coklat, saya harus bawa ke rumah sakit darurat, habis $1,000.

Masih di bulan Desember 2025, saya ganti 2 ban mobil yang sudah menipis tread nya, keluar $380

Eh bulan Januari, telpon saya jatuh ke toilet, rusak. Harus beli telpon baru, keluar $450

Dan sekarang……kayaknya saya salah makan sesuatu yang keras, yang ada gigi palsu saya goyah…hadweh…..kayaknya bisa kena $2000 ini…

Gileeee….apa saya harus buka Go Fund Me yak??

Kematian

Sebetulnya kematian bukan hal yang baru buat saya

Saat di Indonesia saya menghadiri pemakaman oma, oom dan tante. 

Di Amerika saya terpaksa cuma bisa gigit jari waktu dengar kematian ayah, ibu, sepupu saya dan suami sahabat saya.

Pemakaman yang saya pernah hadiri langsung saat di Amrik itu adalah saat kematian adik ipar, kenalan suami (saat itu) dan kucing saya.

Dimanapun dan siapapun yang meninggal , berita kematian selalu menohok..mengagetkan, terhenyak.

Saya nangis jelas.

Masih teringat jelas pas saya terima kabar ayah meninggal. Saya sedang bekerja. Langsung nangis di tempat, atasan bolehkan saya pulang. Saya teruskan nangis di rumah.

Berbulan-bulan saya masih gak bisa percaya kalau ayah sudah tidak ada. Sering saya terpikir. Ah telpon ayah ah…. tiba2 teringat. Ah..ayah sudah meninggal?!?

Ini kondisinya saya beribu2 kilometer dari ayah ya. Rasa hampa itu tetap terasakan.

Saat dengar sepupu saya meninggal tiba2, saya bemgong berhari2.  Gak kebayang si istri.

Saat suami teman saya meninggal, saya marah. Karena buat saya mereka itu soul mate.. kenapa koq Tuhan pisahkan mereka.

Tapi dari sekian berita2 kematian yang saya alami, kematian pasangan kenalan baru2 ini entah kenapa lebih menyakitkan dan membuat saya……..depresi

Kenapa?

Karena saya baru sadar kalau saya gak siap untu mati  dan kalau tho saya “siap”, mereka yang harus mengurus kematian saya belum tentu siap dan meskipun mereka siap, tetap saja berat.

Di Amrik ada yang namanya cuti bereavement, yang rata2 cuma dikasih 3 hari.

Selama ini saya gak mikir, apa artinya 3 hari?

3 hari untuk mereka yang melayat, mungkin cukup. 3 hari untuk yang ditinggalkan?  Sangat gak cukup.

Kebayang gak perasaan hampa, perasaan kehilangan, tapi tetap harus urus tetek bengek. Dari mulai hari penguburan, urusan administrasi, keuangan dan hal2 lainnya yang baru kita sadari harus diurus juga.

Entah kenapa  emosi saya crumbled kayak gedung didemolisi. Saya nangis berhari2. Mungkin karena saya disini sendiri?

Gak kebayang gimana anak saya harus urus ini itu saat saya atau bapaknya meninggal.

Saya telpon ayahnya anak saya. Minta dia urus gono gini. Dia dengar nada saya “aneh”.

“Kamu kenapa?”

“Ada suami kenalan meninggal. Saya sedih untuk kenalan saya dan panik dengan kondisi saya”

Dia mengerti. “Baik. Saya coba urus”

We grieve differently

Cara kita berduka berbeda-beda. 

Saya dengan menulis. Bukan untuk menghina, ngomongin kematian orang tertentu tapi untuk refleksi dan menyadari kematian lebih real ..

Hidup dengan kematian itu terasa lebih kejam, karena kita dituntut untuk terus berjalan sementara hati kita remuk redam….