Realita

Selingan Ringan : Senangnya Apartemen di Renovasi

Hari ini cerita ringan dulu ya..bukan tentang Covid-19, bukan tentang etika jadi perempuan, ,mau berbagi kebahagian dikit…

Awal tahun ini ,kami diberitahu oleh pengelola apartemen kalau mereka akan melakukan renovasi di semua unit2 apartemen. Renovasinya itu sik cuma ganti tipe lantai dari karpet ke hardwood di dapur, kamar mandi, ruang makan, beberapa bagian hallway seperti pintu masuk, ruang cuci, ganti kabinet dapur, ganti tipe wastafel dan kabinet di seluruh kamar mandi, ganti lampu2 di dapur, ruang makan, patio, kloset.

Sebulan sebelum renovasi di gedung kami dimulai, kami dikasih surat pengingat, dua minggu selanjutnya kami terima surat yang intinya memberi tahu apa-apa yang harus dilakukan dan tanggal berapa hari renovasi kami. Dari surat itu, kami tahu kalau hari renovasi itu tanggal 2 Maret, hari Senin. Kami harus memindahkan mobil yang diparkir di depan gedung untuk tenda para pekerja.

Repot? jelas, karena ruangan yang akan di renovasi itu dapur, ruang makan, 2 kamar mandi, dan satu wastafel. Dapur dan ruang makan kami itu ruang yang paling penuh barang2…ya sudahlah kami jadi ibarat pindahan, semua barang-barang di tumpuk sana sini, ya di ruang TV, ya di kamar-kamar tidur. Kami jadinya juga mengungsi ke hotel dari hari Minggu hingga hari Rabu.

Saya sama sekali tidak nangkringin saat renovasi dikerjakan, berisik juga, lagian saya juga harus kerja.

Jreng-jreng-jreng..pas balik…wuih…ternyata keren banget euy hasilnya. Lemari-lemari dapur dari warna coklat jadi warna hitam, tipe sink juga di ganti, dari dua sink jadi hanya satu tapi lebih deep. Trus lemari nya juga dibuat lebih tinggi, kami jadi ada nambah ruang penyimpanan dengan lemari baru ini. Lemari es, mesin pencuci piring dan kompor diganti dengan yang lebih up to date, ditambah lagi sekarang ada microwave. Kami mah senang banget ya, secara lemari es juga mesin pembuat esnya sudah rusak, dan microwave kami juga mulai ngadat, jadi dapat ganti seperti ini ya pas banget waktunya!

Ruang makan jadi terlihat lebih ‘luas’ dan sleek. Jadilah saya mutar otak buat mengatur ruangan, habis kan gak mau dong, sudah direnovasi jadi keren, masa gak di manfaatin buat di atur lebih apik?

Sebelum renovasi di dekat pintu ada dua tumpuk rak sepatu plus kotak-kotak isi selendang dll, sekarang kotak-kotak saya pindahkan ke ruang cuci, di atas rak sepatu saya cuma taruh nampan dan vas bunga yang sebisa mungkin saya selalu isi dengan bunga , biar siapapun yang datang, langsung disambut dengan bunga gitu…

Senang lainnya,, saya jadi punya ruang kerja lebih luas , kemarin sebelum renovasi, ruang kerja saja mepet banget..tapi sekarang lebih lega’an…

Yang saya senang, saya bisa buat tea station buat saya, coffee station buat yang suka ngopi,

bahkan anjing dan kucing saya pun punya pojokan sendiri sendiri…he…he..he. Itu pernak pernik anjing yang saya selama ini beli dan tersebar dimana-mana sekarang semua bisa ngumpul deh.

Untungnya lagi ya, renovasi unit kami selesai sebelum apa2 ditutup karena Covid-19. Karena setelah renovasi di jalan kami selesai, manajemen menunda renovasi ke gedung berikutnya.

Yang jelas saya sekarang yang ada selalu repot ngebersihin wilayah dapur …ha…ha..ha..karena baru siiik!!

Saya kurang tahu apakah renovasi apartemen itu hal biasa? Kami sudah tinggal di komplek apartemen yang sama sejak 2014, ini pertama kalinya kami mengalami renovasi. Kalau teman-teman pernah mengalami cerita renovasi pas tinggal di apartemen , monggo di bagi kalau mau.

15/20 : Negara-Negara Bagian Yang Saya Sudah Kunjungi – Bagian 4

31. Maryland (MD)

Kayaknya MD boleh dibilang baru numpang lewat doang deh…

32. Alabama (AL)

Salah satu negara bagian yang baru kami kunjungi di tahun 2019.

Entah kenapa sejujurnya saya kurang tertarik untuk mengexplorasi AL dilain kali.

AL-statecapcollage

33. Louisiana (LA) :

Mampir di New Orleans, kota jazz nya Amrik deh. Creole, jambalaya, voodo, bau pesing dimana-mana.

Mungkin saya sudah ketuaan ya, jadi kurang tertarik dengan bar-bar yang buanyaaak banget di New Orleans..apalagi di French Quarternya. Bisingnyaaa minta ampun!

34.  Mississippi (MS):

Cuma numpang lewat sik..tapi karena sempat makan di resto setempat,minum kopi dan ngaso bentar di pantai Biloxi, boleh dong diaku….

MS-biloxi35. Georgia (GA) :

Kami mampir di Atlanta,ibukota GA waktu liburan musim semi 2019. Entah gimana, saya langsung kepincut sama Atlanta, mungkin karena resto Indo banyak ya? atau mungkin juga karena Atlanta kesannya bersih dan modern, dibanding ibukota-ibukota lainnya.

Kami cuma semalam di Atlanta, jadi cuma mampir di musium Coca Cola dan resto Indo.

Yang jelas saya mah gak nolak deh kalau ke Atlanta lagi!

+1 adalah District of Coumbia atau DC

DC sebagai ibukotanya Amrik, adalah tempat yang kudu dikunjungi deh. Kayaknya belum resmi jadi orang Amrik kalau belum ke DC. Yang jelas kalau ke DC ya kudu kunjungin monumen-monumen yang tersebar di seantero kota ya.

Terus terang kami di DC itu ‘ngepot’ alias cepat-cepat, maklum kan barengan anak-anak SD segambreng, pas anak kami di kelas 5.

Mungkin suatu saat kami akan ke DC lagi, mudah2 an agak lebih luang waktunya…

2020 : 15 Tahun di Amerika

Masuk tahun 2020, berarti saya sudah 15 tahun menetap di Amerika. Banyak hal-hal yang saya alami selama 15 tahun disini, saya mau coba rangkum di tulisan berseri saya 15/20.

Saya mendarat di Amerika bulan Maret tahun 2015, setelah 1 tahun-an menunggu visa pasangan keluar.

Selama 15 tahun di Amerika, saya tinggal di 3 negara bagian : Montana, Ohio dan Kentucky. Saya bekerja di 6 tempat kerja yang berbeda, dari retail hingga perbankan.

Saya belajar buat hidup ‘sendiri’ , tanpa ada keluarga Indonesia yang bisa datang kalau saya ada kesulitan.

Coba lihat yuk per 5 tahunnya, apa saja yang saya lakoni

2005-2010 : Tahun-tahun penyesuaian

Boleh dibilang periode ini periode penuh tangisan, kekhawatiran, kesepian, penyesuaian, pembelajaran dan tahun penuh kejadian ‘pertama kali’…

Pertama kali tinggal jauh jauh dan sendiri dari keluarga. Dari Jakarta, Indonesia ke Bozeman, Montana itu sekitar 8,888 mil menurut hitungan google.

Pertama kali merasakan salju, dibikinkan acara baby shower oleh rekan kantor

Pertama kali hamil, punya anak dan melahirkan.

Pertama kali tinggal di apartemen, lalu tinggal di rumah yang dibeli pasangan.

Pertama kali kerja di retail, yang notabene di Indo adalah pekerjaan yang ‘rendah’ tapi syukurnya bisa menghidupi 3 kepala saat resesi menimpa. Dan juga dari pekerjaan ini pertama kalinya saya mendapat kpenghargaan dari tempat kerja, harus pergi ke Salt Lake City untuk mendapatkan penghargaan. Cukup bangga yang jelas ya, saya satu-satunya pekerja Asia di tempat saya kerja, dan saya baru bekerja selama kurang lebih 2 tahun

Pertama kali melakoni jalan-jalan kendara dan pertama kalinya mampir di negara bagian Wyoming, Idaho, California, Nevada, Colorado, Utah, South Dakota, North Dakota, Washington, Oregon, Ohio, New York, Iowa.

Pertama jalan-jalan ke Yellow Stone National Park, Mount Rushmore, Mt Rainier, Mt. Helena, Olympic National Park, naik feri di Seattle, Space Needle, Denver, Carson City, Des Moines, air terjun Niagara.

Pertama kali mampir di Edmonton, Banff, Jasper National Park, Kanada.

Anak saya pertama kali masuk TK subsidi pemerintah. Anak saya jadi pemenang Baby Gerber.

Pertama kali ngerasain kemping di alam dan jadi kepincut.

Pertama kali mengalami resesi dimana saya merasakan sendiri harus bisa ngirit dengan pengeluaran, karena pasangan kehilangan pekerjaan.

Pertama kali mudik ke Indo cuma berdua doang dengan anak.

Pertama kali harus pindah ke negara lain karena pasangan dapat kerja sebagai kontraktor di negara bagian lain.

Pertama kali nyetir truk pindahan antar negara bagian berduaan dengan si kecil yang waktu itu baru 3.5 tahunan.

Pertama kali ngerasain kerja dibayar upah minimum $7.25 per jam , dimana membuat saya sadar, kalau upah segitu tidak akan cukup untuk menghidupi diri sendiri.

Kebakaran di rumah gara-gara lupa angkat penggorengan dari kompor meskipun kompor sudah dimatikan. Ngungsi ke women shelter. Nelpon 911 karena KDRT.

Pertama kali ngeh kalau kecanduan alkohol itu menyakitan bukan hanya yang melakoni tapi juga yang hidup dengan si pecandu.

Di periode ini saya tinggal di Montana dan Ohio.

2010-2015 : Tahun-tahun transisi

Dapat kabar kalau ibu kena stroke. Sedih karena tidak bisa pulang, secara kami baru mulai membereskan kondisi keuangan sejak resesi. Apa boleh buat, meskipun gara-gara saya tidak bisa pulang ini, saya dimaki-maki sama anak umur remaja.

Pertama kali menghadiri pemakaman ala bule, adik ipar meninggal dunia karena livernya berhenti berfungsi akibat konsumsi alkohol.

Lagi-lagi sempat ketar-ketir karena kontrak kerja pasangan tiba-tiba putus. Di tahun ini kami sempat harus pindahan dari satu negara bagian ke negara bagian lain 3 kali dalam setahun. Jelas itu bikin keuangan morat marit.

Pindah tempat tinggal lagi untuk ketiga kalinya, kali ini di negara bagian Kentucky.

Pertama kali nya saya ‘kuliah’ lagi dan kerja di perbankan. Ternyata kuliah lagi umur segini susah loh! Saya ngaku saja kalau kewalahan.

Saya kerja di dua tempat, satu di retail satu di perbankan. Alhamdulillah, saya di promosikan di tempat kerja karena prestasi kerja saya.

Pertama kalinya punya mobil sendiri. Mobil kecil ya, merek Smart. Yang jelas cukup buat saya untuk wara-wari ke tempat kerja tanpa harus tergantung dari pasangan. Asli saya bayar sendiri mobil ini, dari mulai masih sewa dari dealer sampai saya angsuran untuk beli si mobil.

Pertama kali kehilangan orang tua. Ayah meninggal. Saya tahu pas saya di tempat kerja. Dan saya tahu kalau saya tidak mungkin bisa pulang saat itu, karena kami baru mulai membayar hutang ini itu setelah pindah berkali-kali.

Anak saya sekolah di 3 tempat di periode ini, TK di sekolah ED di Bozeman, MT, kelas 1 dan 2 di sekolah ZT dan kelas 3 hingga 5 di sekolah dasar B.

Pertama kalinya bisa mudik sejak 2006 sama anak saya. Disini saya sadar kalau ternyata saya boleh dibilang tidak ada support lagi di Indonesia.

Anak saya merayakan ulang tahun ke 9-nya di Indo. Beruntung sekali dia karena teman-teman saya membanjiri dia dengan hadiah bermacam-macam.

Saya masuk umur 40 tahun di tahun ini. Sudah tua ya…

Di tahun ini saya pertama kalinya melancong ke Texas, Tennessee, North Carolina, Missouri, West Virginia.

2015-2020 : Tahun-tahun Sadar Diri

Mengadopsi bayi kucing warna abu-abu tua.

Pertama kali mendapat penghargaan tertinggi di tempat kerja di perbankan dan terbang ke Tampa, Florida untuk penganugerahan plakat. Bangga? banget!

Giaman gak bangga, wong saya waktu itu cuma kerja paruh waktu, tapi nilai saya ngalah-ngalahin mereka yang kerja penuh.

Dari tempat kerja yang sama , saya dapat penghargaan kedua kalinya di tahun 2017.

Diangkat sumpah menjadi warga negara Amerika.

Pertama kali ke DC, Virginia , karena ikutan jalan-jalan lulus SD si kecil.

Gettysburg, Gedung Putih, teater tempat Lincoln dibunuh, makam pahlawan di Virginia.

Anak saya mulai masuk usia pra remaja…haduh….tobat rasanya……’.

Ibu meninggal. Di bulan yang sama ayah meninggal. Berakhir penderitaan beliau dan juga penderitaan mereka-mereka yang merasa direcoki sama ibu.

Pertama kali jalan-jalan ke Madison, Wisconsin ngunjungin sepupu dan teman lama, naik jip di gurun pasir di Michigan, reunian sama temen SMA dan ketemu sepupu di New York, jalan-jalan ke Chicago, Illinois, naik ke Gateway Arch di Missouri, liburan Alabama, merasakan hiruk pikuknya New Orleans, Louisiana, main ke museum Coca Cola di Atlanta, Georgia, melihat pasir putih diMississippi.

Pertama kalinya terbang dewe,an ke New York. Ternyata enak juga jalan-jalan sendiri

Bolak-balik ke rumah sakit karena anggota keluarga didiagnosa dengan depresi dan gelisah

Mengadopsi anjing.

Pertama kali nonton pertunjukan Broadway, asli keren abis!

Pertama kali nonton Stand Up Comedy show seru banget ternyata ketawa ngakak barengan….

Pertama kali nonton aksi penari eksotis laki-laki. Astaga…lebih banyak ketawa ha..ha..hi..hi..dibanding ngeres….

Pertama kali ikutan kelas melukis, dilukis, bikin coklat, belajar tentang kaktus, nyobain atraksi escape, mendoronorkan darah.

45 tahun umur saya di periode ini

Di periode ini saya belajar untuk lebih hati-hati dalam mengelola uang, menjaga kesehatan dengan mulai ikutan yoga, barre, erobik di air.

Liburan Musim Semi 2019 : Alabama

Tulisan ini telat banget deh. Secara ini cerita pas liburan musim semi tahun 2019.

Gak apa2 ya…mending telat di banding enggak sama sekali kan.

Jadi, kalau kami liburan itu, seringnya ya pas anak liburan sekolah. Dan kalau orang sini, biasanya kalau jalan-jalan di bulan Januari hingga Mei, pilih ke negara-negara bagian di sisi selatan, karena udaranya lebih hangat dibanding kalau pergi ke negara-negara bagian di utara. Saya sendiri memang pernah ngerasain pergi ke negara-negara bagian utara (Wisconsin, New York, Illinois) di bulan Maret/April …weleeeh…dinginnya masih berasa banget!  Dan juga jadi aktifitas agak terbatas ya, karena ya itu temperatur masih rendah.

Kali ini kami pilih ke Alabama, Louisiana dan Florida. Alabama karena ayah si kecil mau lihat musim kapal perang di Mobile, di Louisiana kami mau mampir di New Orleans, Florida karena si kecil belum pernah ke negara bagian Florida dan sekalian ‘lewat’ juga pas balik ke Kentucky.

Ceritanya bersambung ya..biar tidak capai membacanya.

Dimulai dari Alabama,

ALstatesign

Mobile itu lokasinya di pantai Gulf, untuk ke Mobile, kami harus lewat Birmingham, yaitu ibukota negara AL. Saya kan hobinya motret gedung-gedung pemerintahan setiap negara bagian, jadi harus mampir dong..

Puas motret-motret dan bergaya ala turis, kami teruskan perjalanan ke Mobile. Untuk penginapan di Mobile, kami sewa dari Airbnb karena relatif lebih murah, terutama karena jalan-jalan kami kali ni , kami bawa anjing kecil kami.

Kami sewa rumah 2 kamar tidur, satu kamar mandi yang membolehkan anjing, lokasi dekat dengan pusat kota Mobile. Rumahnya wis apik. Enaknya sewa dari Airbnb, kita bisa masak ya, jadi tidak harus makan luar terus, dan kami merasa lebih ‘aman’ kalau memang harus meninggalkan si anjing, tidak akan mengganggu tetangga seperti layaknya di kamar hotel.

Hari pertama kami di Mobile, kami cuma jalan-jalan sekitar pusat kota saja, yang jelas kalau mampir ke daerah sini, pilihan makanannya pilih makanan seafood ya! Karena ya ini tempatnya!

Di Mobile, kami habiskan waktu di musium kapal perang – saya tidak ikut, cuma si ayah dan anak saya. Saya cuma jalan-jalan di luar musium , foto-fotoan sama anjing saya yang super nurut….;-)

lalu coba mampir di pantai di Gulf Shores, yang ternyata amat sangat berangin dan dingin!!! jadi kami tidak bisa lama-lama di pantai…

hari terakhir kami mengunjungi peternakan buaya di Summerdale, AL.

O iya, AL terkenal sebagai negara bagian yang banyak lokasi rawa-rawa alias swamp.

Tadinya kami mau ambil tiket buat ke pelesir ke rawa, tapi sayangnya cuaca tidak mendukung. Cukuplah kasih makan buaya, gendong bayi buaya dan melihat rawa buatan di peternakan ini.’

Asli buaya-buaya di peternakan ini gede-gede…dan bayi-bayi buayanya juga super rakus euy. Pas anak saya lempar makanannya, itu bayi-bayi langsung deh ramai-ramai berebutan makanan.

Hari terakhir di Mobile, kami makan di resto Spot of Tea di pusat kota Mobile, haduh, enak banget! kalau sempat ke Mobile, kudu deh mampir disini, saya pesan grit udang dan french toast.  Enaaaaaaaaaaakkk!!

Kami juga sempat mampir di museum sejarah Alabama, dan jalan-jalan di square di tengah kota yang banyak patung-patung mardi gras.  Kalau waktu terbatas, kayaknya enak juga ikutan tur pakai troli ya.

Satu hal yang saya perhatikan di Mobile, AL ,pohon-pohon disini koq cabang-cabangnya unik , seperti berbulu gitu, kayak tangan raksasa..he..he..he.coba deh lihat sendiri….Saya takjub saja, gak pernah lihat pohon seperti ini di negara bagian lain kayaknya….

Dari Mobile, kami lanjutkan perjalanan ke Louisiana! Sampai di cerita selanjutnya!

Kilas Balik Singkat 2019

Halo -halo!

Waduh sudah lama sekali ya tidak menulis di sini. Maklum sok sibuk …ha..ha..ha..

Yuk mari menulis lagi.

Mumpung masih bulan Januari 2020 , saya mau buka tulisan pertama di tahun 2020 kilas balik tahun 2019 tentang hal-hal yang saya pertama kali lakoni….

Coba kita lihat, apa saja sih yang ‘pertama kalinya’ di tahun 2019?.

Di tahun 2019 saya mulai bergabung dengan klub sehat dimana saya usahakan ikutan kelas olah raga, baik itu yoga, barre, atau senam di air. Tujuannya ?Kekinian?? Tidak juga sik..yang jelas ya biar badan tetap aktif saja sih, habis kerjaan saya sehari-hari ya nangkring di depan komputer 7-8 jam an…perasaan gak sehat saja gitu. Dan juga biar otak di ‘paksa’ buat melakoni hal-hal baru.  Apalagi kan hari gini jaman perawatan diri ya? self care istilahnya.

Tahun 2019 pertama kalinya saya mengunjungi negara bagian Alabama (AL),  Missisippi (MS), Louisiana (LA),  Georgia (GA) dan New York (NY). Total saya sudah kunjungi 35 negara-negara bagian di US , jadi masih ada 15 negara bagian lagi!  Asikk..mudah-mudahan kalau saya sempat saya ceritakan juga hari-hari saya di 4 negara bagian baru tersebut ya.

Tahun 2019, pertama kalinya sejak saya hijrah ke Amrik tahun 2005, saya di kunjungi teman sebangku saya di SMA. Kami ketemuan di New York, ini boleh di bilang perjalanan solo saya pertama tanpa keluarga. Asik juga ternyata…

 

Tahun 2019 saya pertama kali ikutan kelas belajar bikin coklat,belajar melukits dan dilukis, belajar merawat kaktus, nonton komedi JoKoy, mencoba pengalaman Escape’ dan mendonorkan darah, nonton stripper laki-laki, icip2 minuman anggur di tempat pembuatan anggur lokal

Pelisir ke Dayton, Ohio, naik gondola di Indianapolis, Indiana,menginap dan ikutan main di luncuran air di Great Wolf Lodge, di Mason, Ohio, nyobain rel kereta inclined di Chatanooga, Tennesse

Tahun 2019, saya pertama kalinya menang door prize di tempat kerja…lumayan dapat Roomba….

Di tahun 2019, saya kehilangan ibu saya……. saya resmi yatim piatu………..

Sudah, segitu saja seperti nya ‘pengalaman pertama kali’ di tahun 2019.

Mudah-mudahan di tahun 2020, ada banyak lagi pengalaman pertama kali yang saya bisa lakukan ya!

Sampai ketemu lagi!

 

 

 

 

 

Menguber Warna Warninya Pepohonan di Alam di Musim Gugur

Sejak pindah ke negara bagian Kentucky, dari beberapa tahun lalu, saya itu gregetan banget pengen melihat perubahan warna daun-daun di musim gugur. Karena pertama kali saya tinggal di Amrik, saya tinggal di bagian barat utara yang pepohonannya kebanyakan pohon cemara. Jadi waktu musim gugur, tidak terlalu terasa pergantian warna daun. Di KY, yang jelas jenis-jenis pepohonan disini lebih beragam, meskipun tidak sesumringah negara-negara bagian New England yang konon cantik sekali di saat musim gugur.Setiap kali masuk bulan Oktober, saya ngeh kalau sudah masuk musim gugur, cuma koq lupa melulu buat jalan-jalan??!! Memang saya kalau akhir pekan kerja jadi agak susah mau mencari waktu luang. Pas ingat dan ada waktu, sering kali sudah terlambat, udara sudah terlalu dingin, pohon-pohon sudah pada gundul.Nah, tahun ini udara baru terasa semilir itu pas masuk bulan Oktober, saya juga tidak lagi kerja hari Minggu dan kalau tho kerja di hari Sabtu, saya biasanya selesai jam 1 siang.Masuk minggu kedua di bulan Oktober saya sudah celingukan memperhatikan pohon-pohon di sekeliling saya. Di hutan kota Bernheim mereka baru selesai selenggarakan acara Colorfest yang saya jadikan indikasi kalau pepohonan sudah banyak yang berubah warnanya. Jadilah saya bilang sama keluarga kalau kita akan pergi ke Natural Bridge/Red River Gorge akhir pekan lalu. Kenapa pilih ke situ?Kami sekeluarga sudah pernah mengunjungai Natural Bridge/Red River Gorge di tahun 2003 kalau tidak salah, pas musim panas. Kami senang ke situ karena pemandangannya bagus. Natural Bridge itu pada dasarnya jembatan alam , lokasi nya di 2135 Natural Bridge Rd, Slade, KY 40376 kira-kira 2 jam-an dari tempat tinggal kami.Setelah mengecek cuaca, kami putuskan untuk berangkat hari Sabtu setelah saya selesai kerja. Kami cuma menginap di hotel cilik karena kami tahu hari Sabtu itu selain kami akan diperjalanan juga akan hujan seharian, Jadi kami tidak butuh hotel yang keren lah.Sampai di Slade, kami cuma makan di restoran di Natural Bridge State Resort Park, lalu tidur. Hari minggunya, langit terlihat jernih, suhu semilir! ah cocok sekali buat hiking! Kami sarapan pagi di resto local, makanannya enak – saya pesan telur pakai croissant, wuih croissantnnya lembut dan flaky banget! Resto ini lokasi nya dekat dengan motel tempat kami menginap juga.Dari situ kami langsung menuju ke lokasi Natural Bridge. Pertama kita coba di trail di tempat parkiran dekat fasilitas kolam renang. Trail nya seru karena melewati jembatan goyang aka suspension bridge.Tapi setelah kami baca, trail ini agak-agak panjang, jadilah kita balik ke tempat parkir dan mulai hiking kita dari trail yang lokasinya dibelakang Hemlock Lodge.Di awal trail di tulisnya ini trail terpendek dan termudah.Kenyataannya…haduh..naik-naik ke puncak gunung deh! Mana lupa bawa tongkat jalan ! Tapi paling enggak, pemandangan sepanjang trail itu apik lah..Pas sudah sampai di bawah jembatan alam..legaaaaaaaaaa rasanya! Puih!Jadi trail ini akan membawa kita di bawah bentangan jembatan. Untuk berada di atas jembatan, kita harus melewati ‘gang’ sempit diantara batuan, lalu diteruskan dengan naik tangga dan gak terlalu banyak lah anak tangganya.And it is sooo worth it !Sampai di atas jembatan, rasanya sejuk, dan teduh melihat warna warni pepohonan di kejauhan.Dari atas jembatan pengunjung bisa hiking ke beberapa trail lainnya untuk balik ke parkiran. Anak saya dan bapaknya pilih naik sky lift buat turun, saya pilih jalan yang sama. Waktu pertama kali kami ke tempat ini, kami semua naik sky lift naik dan turun. Cuma kali ini karena saya bawa si anjing kecil, saya tidak bisa gunakan sky lift .Sampai di tempat parkir , kami lanjutkan perjalanan dengan mengeksplorasi Natural Bridge/Red River Gorge :berhenti di danau Mill Creek,berhenti di jembatan alam lainnya,menyeberang jembatan goyang Sheltowee,ngecek lokasi tree house yang disewakan oleh Red River Gorgeoussampai anak merengek minta pulang..ha..ha…ha…Yang jelas kami sekeluarga sangat senang dengan Natural Bridge/Red River Gorge. Seperti memang lokasi ini lebih cantik untuk dikunjungi saat musim gugur, karena udara lebih sejuk, tidak banyak serangga dan pemandangan juga lebih warna warni.

Pertama Kali : Jadi Pendonor Darah

Hari Kamis tanggal 24 Oktober 2019, saya pertama kalinya menyumbangkan darah.

Norak dan telat ya? He..he..he..

Memang saya akui koq kalau dalam masalah ini saya telat banget. Sudah sering lihat teman2 baik di Indo maupun Amrik berdonor ria.

Alasannya? Sok sibuk sama kerjaan dan saya paling malas kalau harus pergi ke tempat A cuma mau nyumbang darah wae.

Tapi koq tahun ini saya dapat ‘panggilan’ ..ceileee…

Pas baru saja ngobrol ngalor ngidul dengan teman kantor yang hobi mendonor dan dia menceramahi saya karena tidak pernah mendonor, seminggu kemudian waktu saya ke tempat olah raga, eh lihat pengumuman ini..

Wah..masih sempat daftar dong? Pikir saya.

Dan juga waktunya tidak mengganggu jadwal saya dan lokasi juga cuma 5 menit dari rumah.

Jadilah malam itu saya mendaftarkan diri. Besok harinya saya tanya2 lagi ke teman saya yang sudah “pakar” dalam mendonorkan darahnya.

Dia bilang banyak-banyak minum air, usahakan tidak minum obat apapun malam sebelumnya.

Pas hari H, saya sudah menegak 2 botol air dan makan pagi komplit..(mie goreng dong!😜)

Datang ke lokasi, saya di cari di pendaftar dan kartu identitas saya di cek. Setelah masalah administrasi selesai, suster nya mengecek kadar haemoglobin saya dengan mengambil darah saya beberapa tetes.

Kadar Hm saya bagus, di atas 12.

Selanjutnya saya diminta untuk menjawab 50 pertanyaan Ya/Tidak.

Pertanyaan2 ini untuk mengecek kebiasaan dan gaya hidup pendonor , mngecek resiko kesehatan kita lah intinya. Apakah kita pernah tinggal di negara tertentu, melakukan aktifitas tertentu, ada penyakit tertentu dsb.

Setelah selesai menjawab pertanyaan, saya diminta berbaring di kasur periksa. Di situ si suster mulai mencari pembuluh darah saya.

Saya diberikan semacam busa yang saya bisa remas-remas. Setelah ketemu , suster lagi mrmbersihkan bagian itu dengan alkohol.

Lalu?

Ya disuntik jarumlah saya…he..he..he..

Sakit? Sakit dikit lah..tapi gak sampai meringis lama2.

Selama darah saya diambil, saya harus meremas-remas si squeezer supaya si pembuluh tetap memompa darah saya.

Total darah yang diambil itu 1 pint.

Selain darah yang diambil di kantong, darah saya juga diambil dalam tabung-tabung kecil. Darah ditabung-tabung ini adalah darah saya yang akan dites: apa golongannya, apakah ada penyakit tertentu dsb.

Setelah jarum dicopot, dan bekas tempat pencoblosan jarum ditutup 2 jenis plester- satu kain kasa yang bolrh dicopot setelah 5 jam dan satu lagi plester silang warna jingga yang boleh dilepas setelah satu jam.

Setelah itu suster minta saya mengangkat tangan saya selama beberapa menit. Intinya mencegah si darah tidak “bocor”.

Selesai deh!

Sebelum pulang saya boleh pilih makanan ringan :ada oreo, cheez it, kismis, dll, dan jus apel atau fruit punch dan juga dikasih kaos gratis.

Mudah ya?!

Saya juga dikasih tahu sama si suster, kalau suatu saat darah saya dipilih menjadi donor, saya akan di kirim email pemberitahuan.

Wah..terharu juga kalau saya dapat pemberitahuan seperti itu..karena artinya darah saya dipakai untuk menyelamatkan seseorang kan?

Waktu saya tanya lagi ke teman saya yang pakar donor (64 kali!!), dia ternyata baru-baru ini dapat email pemberitahuan yang si suster bilang.

Darahnya dipakai untuk tranfusi seseorang. Asli terharu kan?!

Ada satu hal yang saya mau ingatkan..setelah kita mendonorkan darah, ada efek sampingnya.

Bisa mual, lelah, tidak punya energi dan ngantuk.

Pendonor juga tidak disarankan melakukan aktifitas yang terlalu menguras tenaga.

Jadilah saya batalkan kelas olah raga saya malam itu dan besok malamnya.

Masalah efek samping….saya ternyata kena ngantuk….

Dan ngantuknya itu buanngggeet!!!

Jam 7 malam hari itu, saya sudah ngorok di kamar….zzzzz

Jadi kesimpulannya gimana?

Jadi pendonor itu bikin hati senang ternyata. Mudah, tidak bertele-tele, gratis pula! Dan, darah kita mungkin bisa menyelamatkan seseorang loh!

Kalau teman-teman belum pernah melakukannya, mudah-mudahan setelah baca tulisan ini, jadi ikutan ya?

Yang jelas, menurut suster, minimum umur pendonor tanpa ijin orang tua itu 17 tahun. Maksimum? Tidak ada batasan, asalkan sehat dan berat badan mencukupi. (Ada batas minimum , tapi saya tidak tanya, yang jelas tidak boleh terlalu kurus ya.)

#pertamakali

#donordarah

Malaikat Nyinyir

Hari Rabu kemarin (10/16/2019) saya nangis sesegukan.Kenapa?Saya nangis pertama kali karena saya dikasih tahu komentar gak logis dari seseorang. Saya nangis karena saya gak ngerti kenapa orang yang tidak pernah tanya-tanya ke saya koq bisa-bisanya bilang sesuatu tentang saya yang bukan berdasarkan fakta. Saya nangis karena saya merasa capek hati sekali selalu digambarkan sebagai anak yang durhaka, saudara yang tidak tahu diri, kerabat yang hilang, entah dimana.Sementara saya sendiri tidak pernah ditanya apa kabar saya, bagaimana hidup saya disini, bagaimana anak saya.Saya bingung kenapa keharusan akan mengunjungi kerabat hanya dibebankan kepada saya? Apakah karena saya semata-mata yang tinggal di luar negeri? Padahal yang bertanya bukan orang miskin yang tinggal di gubuk 4×4, tapi banyak dari mereka yang paspornya juga sudah penuh dengan cap-cap negara-negara Eropa, Asia, Amerika.Kenapa mereka-mereka tidak pernah menawarkan mau mengunjungi saya di sini? Ngerti banget ya, saya kan cuma tinggal di kota Louisvillle, KY, bukan San Francisco, DC, Los Angeles, Seattle, Denver, Salt Lake City, Chicago, New York, Dallas, Orlando yang layak dikunjungi. #siapaelo #gakpentingMakanya memang saya ya pribadi tidak pernah minta dikunjungi , karena ya itu saya tahu diri dan untuk patokan saya , ongkos ke luar negeri itu besar secara saya sendiri tidak mampu dengan seenak jidatnya angkat koper, pesan tiket begitu saja – which , jangan salah ya, banyak koq teman-teman Indo di sini yang bisa seperti itu, karena mereka memang mampu, tapi bukan saya.Jangankan buat hura-hura, lari di Michigan Avenue di Chicago, untuk datang waktu ayah atau ibu meninggal saja saya cuma bisa gigit jari.(dan nangis saat tahu- yang coba saya rekam di video ya, tapi buat apa juga,karena tidak ada yang bisa bantu saya kan, secara saya bukan orang beken, gak mungkin lah bikin video viral di IG nangis2 trus ada yang nawarin tiket pulang, itu mah dream comes true banget)Capek nangis sepagian, saya coba konsentrasi ke kerja.Lalu, bel apartemen saya bunyi.Siapa ya? Rasanya saya tidak mengharapkan tamu?“Halo”“Hi. Uber eats here?”You must have wrong address, I did not order anything.”This is 10*** apartment 303?”Yes?”Bingung, saya turun ke bawah, buat kasih tahu si mbak Uber alamat yang benar….Pas sampai di bawah, mbak Uber kasih lihat saya orderannya….Astaga.Ternyata memang benar itu makanan untuk saya, kiriman teman saya di LA.Mbak Uber bilang “iya, ini kiriman teman kamu, dia bilang kamu lagi gak feeling well”Saya lagi-lagi nangis sesegukan, tapi kali ini karena saya terharu.Teman saya ini, Ida Ayu Yogeswary namanya, dia sama saya belum pernah ketemu muka sama sekali.Tapi entah gimana kita cocok saja, yang ada kita selalu cerita2 (more like saya selalu cerita-cerita), dia selalu kasih nasihat ke saya buat lihat sisi baik dari segala yang jelek-jelek yang saya hadapi.Dia pesankan saya makanan steak, komplit.Dia sengaja pesankan makanan ini pas tahu saya nangis dan tahu saya sedang sedih dari kemarin.Saya lagi-lagi bingung, ada ya orang seperti Ary yang saudara bukan, pernah ketemu saja belum, tapi tidak sungkan-sungkan memberi saya dukungan moral. Bilang ke saya kalau ‘You are going to be OK’ atau sekedar bilang ‘You are not alone“Saya bersyukur sekali saya bukan cuma kenal dengan Ary seorang, ada banyak Ary-Ary lain yang sudah membantu saya survived selama tinggal di Amerika. Teman-teman yang bawakan makanan waktu saya sakit bronchitis dan pneumonia, teman-teman yang adakan pembacaan Quran setelah orang tua saya wafat, teman-teman yang bantu saya waktu pindahan ke OH tanpa pasangan saya, teman-teman yang mengundang saya makan Thanksgiving bareng-bareng , teman-teman yang mengajak saya mencoba hal-hal baru, teman-teman yang menghubungi saya lewat pesan FB sekedar untuk bilang ‘Day, are you OK?”, teman-teman yang mengajak saya ketemuan baik di Jakarta maupun di Amrik, teman-teman yang dengan senang hati menghadiahkan anak saya saat dia ulang tahun jauh dari rumah.Hari itu emosi dan energi saya terkuras habis. Tapi saya tetap harus kerja di 2 tempat, tetap harus jemput anak di sekolah, tetap harus jadi ibu.Waktu jemput anak saya, saya bilang ke dia kalau saya sedang sedih.Dia tanya “Why do you care of what she said Mom?. You know what she is saying is not true”Saya selesaikan tulisan ini di hari berikutnya. Saya putuskan fokus hidup saya adalah untuk mereka-mereka yang memberikan energi positif untuk saya. Hidup terlalu singkat untuk para penyinyir-penyinyir yang merasa paling benar sendiri.

Silahkan anda pakai jaket malaikat anda, tapi coba berkaca dulu,

apa yang anda lihat di kepala anda?

Halo atau Tanduk Merah?

Belajar Yuk Biar Tidak Goblok (2): Apa Itu Women Shelter

Waktu saya hijrah ke Amrik tahun 2005, saya boleh dibilang clueless banget ya.

Meskipun saya anak Jakarta dan pas mendarat di Amriknya , mendarat di kota cilik, tetap saja banyak hal-hal baru, hal-hal berbeda yang saya temui.

Saya ingat suatu sore kami jalan2 keliling kota pakai mobil. Lihat thrift store, pawn shop, youth center dan segambreng istilah asing lainnya yang saya baru dengar saat itu.

Lalu di jalan rindang di daerah tertua di kota saya, saya melihat ada rumah kecil dengan papan “help center”.

Apa itu ya? Pikir saya.

Sekilas saya baca informasi di depan rumah itu : crisis counseling.

Saya tidak kepikiran tentang rumah kecil itu lagi sampai beberapa bulan kemudian saya ada masalah dengan pasangan, saya nekat kabur. Maklum saya kan agak2 dramatis lah. Baru umur 30 an gitu deh….

Saya waktu itu tidak punya mobil ya, jadilah saya jalan kaki. Mau kemana? Pikir saya?

Yang jelas saya tahu saya harus ke tempat aman (safe place istilahnya disini).

Lalu saya ingat ke rumah kecil yang saya lewati beberapa waktu lalu. Saya putuskan untuk pergi ke tempat itu.

Jarak dari tempat saya tinggal ke rumah kecil itu 2.4 mil atau 3.8 kilo.

Jaman itu belum ada telpon pintar ya, jadi saya tahu lokasi semata2 karena saya perhatikan jalan ini dan itu.

Setelah saya sampai disitu, petugas langsung terima saya, tanyakan apa masalah saya dan tanpa banyak bla bla bla lagi saya di transpor ke ‘rumah rahasia’.

Intinya rumah kecil yang saya datangi itu adalah tempat dimana penduduk bisa mencari pertolongan : baik itu makanan, rumah, perlindungan dari pasangan yang pengguna obat, alkohol, abusive, saat merasa putus asa dan lain2nya.

Karena kasus saya saat itu (verbally abused/controlling saya diancam akan dicabut akses ke rekening bank-padahal saat itu saya tidak kerja), dan saya tidak mau balik ke rumah, oleh petugas saya dikirim ke women shelter.

Apa itu sih women shelter?

Women shelter pada dasarnya rumah yang disediakan untuk wanita2 yang mengalami penyiksaan (abused) , terutama fisik.

Women Shelter (WS) ini lokasinya dirahasiakan. Sangat tertutup dari luarnya. Tidak boleh ada yang tahu alamat WS ini dengan alasan keamanan. Cuma petugas dan polisi yang tahu dimana WS ini.

Karena kecenderungan si penganiaya, mereka biasanya terus mengejar si korban sampai mereka temukan. (Ada filem mbak JLo deh kalau tidak salah)

WS ini dibuat sedemikan menjadi tempat aman buat penghuninya. Pintu pagar ada kunci tertentu. Tidak boleh ada pengunjung. Penghuni juga tidak diperkenankan keluar.

Petugas bekerja sama dengan polisi dimana kalau si penganiaya mengadukan si korban, polisi sudah mendapat laporan dari petugas tentang kondisi abused. Jadi polisi tidak akan memberikan informasi apapun ke si pelapor.

Intinya women shelter adalah fasilitas yang tersedia di kota untuk perempuan saat mereka butuh perlindungan dari perlakuan buruk pasangan.

Saya merasa sangat aman dan terlindungi di WS. Dan juga saya bisa tenangkan diri disini.

WS tidak mengenakan biaya apapun. Dan kalau kita minta bantuan tambahan, misalnya menelpon kedutaan, saudara, teman, mereka akan bantu kita.

Saya (dan anak) diberikan kamar sendiri. Kamar mandi, dapur, ruang bersantai. ruang cuci baju ya digunakan bersama penghuni lainnya.

Sabun, sampo, sikat gigi. sisir disediakan, kalau memang kita tidak bawa baju ganti, mereka akan carikan. (Karena kan..kebanyakan penghuni WS kabur tho..sebagian besar mana sempat ngepakin barang2 pribadi…)

Kita boleh tinggal maksimum 7 hari di WS.

Intinya di Amrik, banyak fasilitas untuk penduduknya yang mencari bantuan.

Semoga tidak ada yang menggunakan fasilitas WS ini ya. Tapi kalau pun ada, jangan malu atau ragu. Fasilitas ini ada untuk menolong kita.

Kalau mau cari fasilitas2 seperti WS gunakan kata2 dibawah ini waktu lakukan pencarian.

  • Abuse
  • Domestic violence
  • Abusive
  • Battered
  • Molested
  • Crisis
  • Counseling
  • Help
  • Hotline crisis

C50BC91B-3256-4358-B049-29CF70575A05

 

Eh..pembaca tahu kan ya bagaimana menggunakan mesin pencari?

#belajarbiartidakgoblok

#mypeoplegoblokkatanya

Belajar Yuk Biar Tidak Goblok

Saya mau tulis beberapa tips buat teman-teman yang baru pindah ke Amrik (atau yang relatif baru tinggal di sini kurang dari 2 tahun).

Yang mudah-mudahan menolong teman-teman untuk mengerti tata cara hidup di sini yang notabene pastilah berbeda dengan hidup di Indonesia dan pastinya ya biar tidak dibilang “Goblok” gitu….😊

  • Sadarilah kalau kita imigran alias pendatang. Sopan santun tetap harus dijaga. Rasis? Bukan cuma di Amrik, di mana2 orang2 rasis itu ada. Jadi gimana dong? Ya buktikan kalau kita imigran yang sopan, yang patuhi aturan, yang tahu tata krama lokal. Bukan berarti karena bule2 demen minum beralkohol , kita juga ikutan ya. Atau langsung ngecet rambut jadi pirang. Stereotip imigran, kita dianggap tidak bisa berbahasa Inggris dengan benar, ya patahkan itu dengan belajar bahasa Inggris untuk perbaiki bahasa Inggris kita yang masih belepotan. Imigran tidak berpendidikan? Ayo sekolah lagi! (Silahkan baca tulisan saya mengenai seorang imigran disini
  • Mengerti kita itu tinggal di bagian mana di Amrik. Di barat? Di selatan? Di utara? Di midwest? Bisa bedakan antara kota dengan negara bagian, apa bedanya. Kenapa gitu penting amat? Biar kalau kita ada keadaan darurat, kita bisa dengan jelaskan dimana lokasi kita. Misalnya ni, jangan cuma bilang “Saya tinggal di Kentucky”. Kentucky itu negara bagian, ada berpuluh2 kota ya di Kentucky. Tolong belajar geografi lagi, baca peta Amerika ya.
  • Sebagai warga negara Indoensia, mengerti kita itu harus lapor ke perwakilan Indonesia yang mana? Ada KJRI California, KJRI Los Angeles, KJRI Chicago, KJRI Houston, KJRI New York dan Kedubes di DC.
  • Belajar menggunakan mesin pencari Google untuk cari tahu informasi-informasi publik: kantor polisi lokal, kantor bikin SIM, kantor bayar pajak, court house, rumah sakit, women’s shelter, tornado shelter. Google kalau saya bilang sudah cukup canggih untuk membaca kebiasaan kita. Jadi kalaupun kita pakai bahasa Indonesia misalnya, Google bisa deteksi kalau kita di Amrik, Google akan kasih kita informasi di Amrik.
  • Milikilah telpon seluler abad kini, yet tidak perlu yang tercanggih, cukup untuk akses ke internet, peta, foto, dan telpon. Bayar tagihan tepat waktu ya dan tahu bagaimana mengakses wifi gratis kalau pas data habis. Bikin video boleh banget, asal tahu buka internet juga kaliiii….
  • Simpan dokumen di satu tas, biar kalau ada apa2, seperti bencana alam, bencana RT, bencana tidak jelas lainnya, itu tas langsung bisa disambet dan kabuuuurrr ke tempat aman. Definisi dokumen penting : paspor negara kita. Kartu identifikasi lain. Akte kelahiran, ijazah sekolah. Dari sekian dokumen penting ini yang paling penting buat imigran, ya PASPOR. Istilahnya kalau kita punya paspor di tangan, dokumen2 lain can be left out.
  • Selalu sisihkan uang untuk diri kita sendiri, minimal cukup untuk tiket pulang (sendiri atau sama anak), atau untuk bisa hidup sendiri tanpa pasangan. Biarpun kita tidak kerja misalnya, sisihkan uang belanja sedikit demi sedikit untuk darurat. Simpan uang ini bersama2 dengan dokumen penting yang saya jelaskan diatas. Mau angka yang pakem? Minimal $1000. Dan..oh…Uang tunai masih diterima koq buat alat pembayaran di SEMUA tempat.😊
  • Perhatikan kota tempat kamu tinggal. Dimana bisa nemu polisi, dimana rumah sakit, dimana pemadam kebakaran. Tahu rute jalan utama, rute bis, rute kereta (kalau ada). Cara nelpon taksi tradisional gimana. Jangan cuma tahu mal doang. Please deh.
  • Selalu tanamkan di diri, kalau kita sendirilah yang harus bisa menolong diri kita. Minta bantuan boleh banget, tapi coba jangan membiasakan bikin heboh atau panik orang lain.
  • Polisi, aparat keamanan lainnya tugasnya menolong dan melindungi kita. Hormati mereka.
  • Jangan menyalahgunakan sistem deh alias nge- abuse. Karma loh!

Tinggal di negara baru jelas bikin keder ya.

Tapi bukan berarti kita jadi goblok.

Eh maaf duh kasar amat yaa bahasanya. Jadi malu deh saya…

Orang Indonesia konon santun perkataan dan perbuatannya, ayo tunjukkan dong!

Apalagi kita di negeri orang.

Setuju kan?!

Sekedar mengingatkan, cara kita berbicara, pilihan kata2 yang kita pakai itu cerminan diri kita sendiri loh. 😊

Catatan : bukan belagu, hal2 yang saya tulis diatas itu karena kebetulan saya baru tinggal disini 14 tahunan, punya pengalaman lumayan lah: pernah nelpon 911, 3 kali, sekali karena minta tolong, takut karena pas pasangan lagi mabok, takut salah satu dari kita jadi gelap mata. Pas polisi datang, mereka baik sekali dan menolong menengahi argumen kami berdua.

Saya juga pernah kabur ke tempat aman karena merasa di verbally abuse. Abuse itu macam2 ya, ada fisik, ada perkataan, ada keuangan, bahkan seks. Apapun bentuknya, namanya ya tetap abuse.

Masalah kabur bermodal paspor negara asli (dan tiket lah), saya tahu itu bukan mustahil karena saya punya kenalan yang melakukannya. Hari ini saya masih ketemu dia, besoknya dia sudah lenyap. Dan dia minggat bersama anaknya.

Yang jelas secara umum, saya selalu merasa aman melapor ke polisi.

Meskipun saya tidak pernah memakai layanan kedutaan Indo untuk hal2 lain selain urusan paspor, saya merasa aman karena saya tahu mereka ada.

Jangan takut bertanya sana sini, karena dengan bertanya kita jadi tidak goblok. 😜