turis lokal

Festival Derby 2

Masih bagian dari keriaan Kentucky Derby Festival, hari Sabtu tanggal 18 April 2018, saya diajak teman untuk nonton air show dan kembang api, kebetulan dia punya tiket extra…asikkk..rejeki nomplok!

Acara ini biasa disebut dengan Thunder Over Louisville.

Jam 2 saya dan anak di jemput teman saya dan suaminya, kita langsung cabut ke pusat kota dengan berbekal kursi lipat dan selimut.

Sampai di pusat kota, setelah parkir kami berempat berjalan kaki sekitar 4 blok ke lokasi Belvedere yang sudah dipesan khusus untuk pemegang tiket dari perusahaan ini.

Sampai di Belvedere, Kami diberi gelang untuk keluar masuk dan beberapa glowing sticks.

Setelah mengetek tempat menonton, Kami pergi ke lokasi makan yang juga disediakan dari perusahaan. Makanan ringan seperti hotdog, nachos, cotton candy, ice cream, soda, botol air mengalir tidak henti-henti.

Jam 3, air show dimulai, jam 4 pengunjung boleh mulai makan malam.

Acara kembang api dimulai setelah matahari terbenam, dan pengunjung mulai keluarkan glowing stick mereka

Sekitar jam 10, acara selesai.

Saya sendiri baru kali ini nonton acara Thunder Over Louisville dari awal hingga akhir.

Seru? Pasti. Yang jelas tahun ini, cuaca sangat mendukung, matahari bersinar cerah, tapi tidak kepanasan.

Cuma ni…pas pulangnya..haduh..mandeq dimana-mana.

Kami terjebak di kemacetan tidak kurang dari 2 jam, 1 jamnya habis di gedung garasi!!!

Mungkin besok-besok mending parkir jauhan kali yaaaa…….tapi harus rela jalan jauhan juga!ūüėĀ

Advertisements

Festival Derby 1

Bulan April Dan Mei di kota saya, Louisville, itu bulan sibuk, karena ada acara tahunan yaitu Festival Derby, dimana atraksi utama adalah balap kuda di Churchill Down.

Sebelum acara balap kuda dimulai yaitu hari Sabtu pertama di bulan Mei, Festival Derby dibuka dengan acara air show dan kembang api atau dikenal dengan Thunder Over Louisville.

Tahun ini ada tambahan atraksi baru, mulai tanggal 13 Maret sampai 1 Mei di tengah kota ada Ferris Wheel atau bianglala raksasa yang dibawa oleh operator Sky Star.

Waktu saya lihat-lihat di IG, ih kayaknya seru juga naik bianglala di malam hari melihat lampu-lampu.

Jadilah saya sekeluarga beli tiket untuk naik kincir raksasa.

Harga tiket untuk pembeli diatas 12 tahun itu $14.15.

Kami pergi dari rumah jam 8 malam supaya waktu sampai di lokasi hari sudah gelap.

Untung cuaca tidak terlalu dingin, jadi waktu kami mengantri kami tidak mengigil kedinginan.

Waktu mengantri dibanding dengan Kami berada di kincir lumayan seimbang lah…

Ternyata karena kincirnya tertutup tidak terlalu keder ya waktu kita berada di puncak.

Dari atas kita bisa melihat jembatan penyebrangan kaki Big Four Bridge, sungai Ohio dan gedung-gedung kantor di pusat kota.

Kota terlihat cantik dengan mampu mampu warna warninya.

Yang jelas adanya kincir ini, memang membuat kota jadi lebih menarik baik untuk penduduk lokal seperti saya maupun turis pendatang.

Tidak harus naik kincir,  cukup berjalan-jalan sekitar area pun jadi terasa berbeda.

 

 

 

Jalan-Jalan : Cincy

Kota Cincinnati atau Cincy di negara bagian Ohio, adalah kota besar di luar negara bagian Kentucky yang jaraknya relatif dekat dari tempat kami tinggal.

Kami sekeluarga sudah sering ke Cincy, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh, sekitar 1.5 jam, dan juga banyak acara-acara ‘heboh’ di Cincy yang menarik, seperti PNC Festival of Lights di bonbin Cincy, Taste of Asia pas hari ibu, Oktoberfest dan lain lain.

Selain acara, di Cincy juga banyak toko-toko tertentu yang di Louisville tidak ada, contohnya toko Lego favorit si anak, toko Container Store, toko LL Bean dst. Yang jelas di Cincy ada supermarket Asia yang lumayan komplit alias jual krupuk putih kampung kesayanganku!

Di liburan akhir tahun ini, kami pilih Cincy lagi untuk buang kepenatan sejenak.

Kami pilih menginap di hotel Hyatt Regency di pusat kota Cincy, sengaja pilih daerah pusat kota karena rencananya kami mau sigh seeing downtown wae kayak turis.

Enaknya di hotel di pusat kota, untuk berjalan dari lokasi yang satu ke yang lain, pejalan kaki bisa  pakai jembatan penyeberangan antar gedung atau Skywalk istilahnya.  Skywalk ini berasa sekali gunanya kalau pas musim dingin, dibanding jalan di ruang terbuka, mending jalan dalam ruang tertutup kan? ūüėČ

Kami berangkat ke Cincy hari Kamis pagi (28 Desember 2017), tujuan pertama adalah ke Pusat Museum Cincy atau Cincinnati Museum Center untuk melihat ‘Holiday Junction Brickopolis’.

Kami sudah beberapa kali ke museum ini, museum ini salah satu tempat favorit kami di Cincy, karena selalu ada pameran yang menarik, tapi sejak bulan April lalu, museum ini sedang di renovasi, jadi sebagian besar ruangan-ruangannya dalam masa konstruksi, pameran yang ada ya cuma Holiday Junction Brickopolis saja.

20171228_132609.jpg

Tema pameran kali ini adalah kereta api ; di ruang pertama ada 3 meja model kereta api skala G, di ruangan kedua, isinya suasana kota, termasuk kereta api yang terbuat dari Lego.

Saya iseng nyariin ‘Scavenger Hunt’ di salah satu pajangan model Lego : lumayan kali ini nemu hampir semuanya kecuali si jam 13.20171228_132703.jpg

wp-1514594120489..jpg

Dari museum, kami lanjutkan perjalanan ke Krohn Conservatory yang juga ada acara bertema kereta api juga.  Krohn Conversvatory ini ibarat rumah hijau, memang sengaja kami cari tempat yang dalam ruangan, karena cuaca yang kurang mendukung untuk jalan-jalan di luar.

Waduh…ramainya minta ampun ini Krohn Conservatory!! buat masuk antri, parkir antri, beli tiket antri………..huaaaaaaaaaaa…ya mau gimana lagi..di lakoni saja.

Di Krohn ini saya juga iseng ikutan #krohnelfieselfie, dimana saya kudu temukan si elfie dan foto bareng dengan elfie plus pagi tag diatas…harapannya sih dapat kartu belanja $100 di Macy…ya namanya juga iseng kan !? Jadilah saya sibuk berselfie ria, sampai-sampai anak saya geleng-geleng kepala…kik..kik..kik..

wp-1514594551557..jpg

Dari Krohn kami makan di Montgemory Inn. Enak? biasa saja sih ya…mungkin karena spesial mereka itu panggangan babi yang saya tidak makan, jadi masakan yang lainnya kurang ‘greget’… saya pesan beef brisket..saos BBQ kurang pas kalau saya bilang….

Selesai makan kami masuk ke hotel, enak kamarnya besar….yang tidak enak, mm…harga kamar tidak termasuk parkir, untuk parkir, bisa pilih pakai valet parking $35 per hari atau parkir di garasi umum seberang jalan $17, ya kami pilih $17 lah yaw…kik..kik..ki…

Di lokasi yang sama dengan hotel kami itu toko Saks Fifth Avenue, di seberang jalan toko Macy, enak lah kalau ada lupa bawa bisa beli ke dua toko itu.

Selesai masukin koper, kami jalan ke menara Carew untuk ke lihat kota Cincy dari atapnya.  Menara Carew ini gedung tertinggi di pusat kota Cincy, dari lantai dasar kita naik ke lantai 45, lalu diteruskan naik lift ke lantai 48, dari situ naik tangga untuk ke atap. Tiketnya $4 untuk orang dewasa dan $2 untuk anak-anak dibawah usia 11 tahun. Bayarnya harus tunai.

20171229_1018511903544824.jpg

Dari Carew kami sempat jalan-jalan sebentar  melihat Fountain Square . Fountain Square ini kayak iconnya pusat kota Cincy lah…pas kami disana, ada arena selancar es sementara (ice rink), kepengen nyoba sih..tapi gak PD..karena pasti jatuh deh…jadi ya cuma liatin orang-orang berselancar saja.

20171228_174618631053030.jpg

Maunya terus keliling-keliling, eh koq tambah lama, tambah dingin ya??? jadilah balik ke hotel, besok lagi diteruskan yaaa….

Jumat, 29 Desember 2017.

Hari ini mau jadi turis asli! ūüėČ

Kami tinggal mobil di garasi,  mau keliling-keliling pusat kota pakai Cincinnati Bell Connector alias street car.  Rencana hari ini adalah makan di Taste of Belgium.

Tiket untuk naik streetcar bisa di beli di kios otomatis di halte. Kami pilih tiket sehari seharga $2 per orang.  Streetcar berhenti di halte setiap 15 menit.  Pas kami sampai di halte, streetcar baru saja lewat, jadilah kudu menunggu 15 menit di udara yang lumayan menggigit!! hua….si kecil dan suami yang ada harus beli topi kupluk dan sarung tangan di Macy karena mereka kedinginan. Saya mah sudah komplit perlengkapan! ha…ha…ha

Streetcarnya enak, bersih dan tidak sumpek, daripada pusing cari parkir kalau pakai mobil sendiri, mending naik streetcar kan?

Streetcar ini rutenya melewati tempat-tempat asik lainnya yang bisa dikunjungi, seperti Music Hall, Findlay Market, Brewery District, Vine Street . 

Dari hotel ke tempat makan itu cuma memakan waktu 20 menit dengan streetcar, tidak terlalu lama kan?

Tempat makan yang kami pilih, Taste of Belgium, bukan tempat baru buat kami. Kami sudah pernah makan disini sebelumnya. Saya yang jelas kesengsem dengan wafel ala Belgianya dan kue-kue lainnya yang aduhai menggoda iman…

Berhubung timbangan sudah menukik tajam ke atas, jadi cuma bisa foto-foto doang lah dan ngiler dalam hati…ha…ha..ha

 

Selesai makan, kami balik ke garasi dengan streetcar lagi. Dari pusat kota, kami sempatkan mampir di toko Lego di kompleks mal Kenwood Towne Center untuk si kecil dan mampir di supermarket asia CAM.

Supermarket CAM ini lumayan banyak jual produk-produk Indonesia. Yang jelas ada Indomie : mi goreng, mi rasa BBQ, rasa ayam , rasa sapi, rasa kari, sambel botol ABC, kecap manis ABC, krupuk udang dan krupuk ACI.

20171229_145310517338513.jpg

Saya jelas beli sambal botol dan indomie, dan o iya..disini juga jual tempe yang rasanya lebih enak dibanding tempe yang di jual di Kroger atau Whole Foods.

Tadinya dari Cincy kami mau teruskan ke rumah makan Mayasari di Greenburg Indiana, tapi koq prakiraan cuaca bilang akan ada badai salju…jadilah kami putuskan untuk balik ke Louisville…

Ya tidak apa-apa, berarti suatu waktu nanti kami akan ke Cincy lagi dan mampir ke Mayasari waktu pulangnya!

Sampai ketemu lagi !!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Menyeberang Danau Michigan – bagian 3

Selesai berdune buggy ria , kami kembali melanjutkan perjalanan ke arah kota Ludington dimana kami akan menyeberang danau Michigan menggunan ferry.

Ferry yang akan kami tumpangi namanya SS Badger, di negara Michigan, ferry ini berangkat dari kota Ludington dan berlabuh di kota Manitoc di negara bagian Wisconsin.

 

Saya sendiri selama tinggal di Amrik sudah beberapa kali naik ferry, sewaktu di Seattle, dan waktu menyeberang dari Indiana ke Illionois. Tapi ferry ferry yang saya lakoni sebelumnya, itu kategori ferry cilik, dan waktu tempuhnya juga kurang dari 1 jam.

Ferry kali ini membutuhkan waktu 4 jam!

Ferry dijadwalkan berangkat jam 9 pagi hari Minggu tanggal 8 Oktober 2017. Kami sekeluarga sampai di pelabuhan Ludington jam 8 pagi. Mobil dengan kuncinya ditinggal di depan ferry,  penumpang harus antri masuk ke ferry tanpa akses ke mobil selama menyeberang.

pano_20171008_075142-1893220492.jpg

Wuih…besar juga euy si ferry ini, sudah begitu fasilitasnya komplit! yang jelas ada ruang makan, ada bioskop, ada tempat buat main anak-anak, ada tempat main Xbox (tidak termasuk di harga tiket), ada toko suvenir ,  toilet laki-laki dan perempuan dan  beberapa pilihan ruang tunggu untuk para penumpang selama di perjalanan.

 

Tempat makan ada bagian makanan ringan seperti nachos, sayap ayam, burger dan ada bagian makanan utama (Upper Deck Cafe) : dipagi hari hingga jam 10:30 AM mereka menyajikan sarapan, jam 11:30 AM mulai makan siang yang saat itu menunya adalah taco.

img_20171008_0959091378771309

Kami tadinya cuma pesan tiket saja, tapi setelah di ferry, kami tambahkan sewa ‘Stateroom’ yang notabene kabin dengan dua tempat tidur berikut toilet sendiri.  Harga sewa kabin ini $49. Kuncinya antik loh!

Selama menunggu ferry berangkat saya kongkow-kongkow di dek terbuka…udaranya sejuk dan sinar matahari pagi membuat penumpang tidak terlalu kedinginan.

pano_20171008_082804282177413.jpg

IMG_20171008_073737-COLLAGE.jpg

Eh alah….waktu ferrynya mulai jalan………………ternyata saya itu orangnya mabok laut!! yang ada mual dan pengen muntah!!! ūüė¶

Ugggh…jadilah terpaksa saya ngendon selama di perjalanan!!! sebel banget!! tapi mau gimana lagi??!! dari pada muntah kan??!!ih untung banget kita sewa kamar buat si eneng ini, kalau tidak, tidak kebayang saya dengan muka tidak berbentuk harus tiduran di  tempat umum!

Memang sih ada toko yang jual obat anti mabok, tapi terakhir saya mengalami kondisi seperti ini , obat anti maboknya tidak mempan!! jadi saya pikir daripada ngabisin uang, mending merem saja deh dikamar!!

 

Untungnya cuma saya yang norak kena mabok laut, si kecil dan suami bisa menikmati perjalanan ferry menyeberang dari awal hingga akhir.

Kami tiba di kota Manitoc, Wisconsin jam 3:30 PM waktu setempat.


Si eneng norak ini baru pulih dari mabok laut setelah pantai Wisconsin sudah terlihat dari ferry!! yang ada saya ditertawakan sama si kecil dan suami karena tidur sepanjang perjalanan bukannya mengeksplorasi ferry sepuasnya!

Ya wis, lain kali kalau ada jadwal naik kapal, saya ternyata harus minum obat mabuk laut sebelumnya!!! ūüėČ

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Air Terjun & Danau Cumberland

pano_20170219_104320

Minggu, 19 Februari 2017.

Sambil sarapan di rumah makan di hotel, kami lihat-lihat mau kemana lagi hari ini….Tadinya mau ke Cumberland Gap, tapi koq balik ke Louisvillenya jauh ya? 3 jam-an…ya sudah jadi diputuskan kami akan ke danau Cumberland saja setelah nengok air terjun Cumberland.

Resto di hotel ini sebetulnya saya kurang demen sama makanannya…tapi pemandangannya okeh banget…dan juga praktis saja sih..sarapan di hotel…ini pemandangan kami selama makan pagi :

tiff infomation

Selesai makan, kami mulai jalan ke air terjun. Jarak dari tempat menginap ke air terjun, tidak jauh, cuma 0.75 mil, total 1.5 mil bolak balik. Trailnya tidak sulit, cuma menuju ke air terjun jalan nya menurun, pas balik ke tempat parkir…banyak tanjakan deh..lumayan ngos-ngosan…he…he..he

Kami sudah pernah ke air terjun Cumberland sebelumnya, di akhir musim panas tahun 2012. Saat itu, kami mah niat liburan, dan memang kami tinggal lebih lama dan berkemping ria. Ini foto kami waktu pertama kali ke air terjun Cumberland.

cumberland12_collage

Air terjun Cumberland  ini air terjun terbesar di Kentucky, karena ukurannya, air terjun Cumberland diberi nama  Niagara of the South. Di tahun 2012, kami juga pergi ke lokasi air terjun lainnya di sekitar lokasi Cumberland, tapi baru kali ini kami menginap dan menggunakan trail dari hotel untuk ke air terjun.

Cuaca hari ini bagus banget, cerah dan tidak banyak angin… Tidak terlalu banyak pengunjung di lokasi air terjun, mungkin karena bukan musim turis ya. Lokasi air terjun juga banyak yang di tutup, sepertinya ada limpahan air besar sehingga pemerintah kudu memperbaiki ini dan itu di lokasi.

Untung juga kami sudah pernah kunjungi air terjun ini pas musim panas, karena lebih banyak yang bisa dilakoni, kalau berkunjung pas akhir musim dingin seperti sekarang, pengunjung cuma bisa lihat air terjun saja.

Dari lokasi ini, kami mampir ke danau Cumberland, lokasinya sekitar 1.5 jam ke arah barat.  Danau Cumberland seru buat mereka yang suka boating , karena ya luas dan ada marinanya. Di sini kami makan siang di tempat piknik Рenaknya ya di taman-taman nasional di seantero Amrik, boleh dibilang selalu ada meja piknik, yang memang disediakan untuk pengunjung memasak sendiri untuk makan mereka tanpa harus mampir ke rumah makan yang harganya tidak murah.

pano_20170219_125906

Danau Cumberland dari teras hotel

Selesai melihat-lihat danau Cumberland dan bendungannya, balliklah kami ke Louisville, sampai jalan-jalan berikutnya ya!

Hadiah Kecil Dari Nasabah

Bulan Desember di Amerika itu identik dengan perayaan Natal, meskipun banyak hari-hari libur lainnya, tidak dipungkiri kalau bukan Desember ya orang-orang fokusnya ke perayaan Natal.

Hiasan pohon Natal, lampu-lampu warna warni ditemui di Sudut kota.

Saya kebetulan memilih untuk tidak merayakan hari Natal, tapi Saya tidak keberatan mengucapkan Selamat hari Natal ke teman-teman ataupun saudara-saudara yang merayakan Natal, datang ke pesta Natal, menyumbang hadiah Natal untuk yang tidak punya dan lain sebagainya.

Hari ini Saya mendapat hadiah Natal kecil dari salah satu nasabah. Sekotak coklat dan 1 pak kaos kaki lembut. Si nasabah ini seorang ibu yang sudah cukup berumur, saya sering membantu beliau untuk urusan perbankannya. Kalau beliau datang, saya tidak sungkan-sungkan memeluk beliau.

Yang lucu, rekan-rekan lainnya juga mendapat hadiah coklat, tapi cuma Saya yang dapat ekstra kaos kaki!

 

 

Buat Saya yang tidak merayakan Natal secara pribadi, hadiah kecil seperti ini membuat Saya terharu dan diingatkan bahwa berbagi itu indah dan membahagiakan.

Kalau ditanya apa arti Natal buat Saya, terus terang Saya jawab, tidak ada artinya. Tapi tetap Saya senang dengan adanya hari Natal ini (atau hari-hari besar religi lainnya), karena kita semua diingatkan untuk berbagi.

Memang berbagi tidak harus¬†menunggu hari Natal atau Lebaran ya…kapan saja bisa, tapi tahulah sebagai manusia, kita sering ‘lupa’ (dan harus¬†diingatkan!!)

Untuk teman-teman yang merayakan hari Natal , Selamat Hari Natal ya! Semoga semangat berbagi di hari Natal ini diteruskan di hari-hari selanjutnya!!

 

Akhir Pekan : Main di Holiday World

 

Hari Sabtu tanggal 2 Oktober lalu, kami sekeluarga menyempatkan diri pelisir ke ‘Dunia Fantasi’ versi Indiana, yaitu Holiday World.

Kebetulan memang anak lagi jeda sekolah –¬†Fall Break istilahnya, dan dia sudah lama minta main ke tempat seperti ini, tapi sebelumnya kami tidak berani, karena si kecil takutnya belum bisa main di semua atraksi.

Tahun ini, sepertinya si anak (dan ibu, bapak) sudah siap mental dan fisik…ha…ha…ha jadilah kami sempatkan pergi.

Holiday World lokasinya di kota Santa Claus, Indiana, sekitar 1 jam dari tempat kami tinggal, Louisville, Kentucky. Kami pergi pagi-pagi, jam 9 sudah berangkat, untuk menghindari antrian dan kesulitan parkir. Kami juga beli tiket sambil di jalan, biar hemat waktu. Untuk bulan Oktober, harga tiket dewasa itu $34.99, dan tiket untuk si kecil $24.99.

Hari Sabtu taman ini buka jam 11, yang saya lupa, ternyata HW sudah masuk waktu bagian tengah, jadi lebih lambat satu jam dari kota saya.

Sampai di HW itu jam 10:30 am waktu setempat, gerbang sudah dibuka tapi atraksi masih ditutup, jadi kami ya jalan-jalan saja lihat ini itu. Sambil menunggu, si kecil sempat berfoto kocak sebagai body builder

1002161042.jpg

Jam 11 tepat, atraksi dibuka, saya maunya si kecil main yang ringan-ringan dulu lah..pemanasan istilahnya…jadilah dia naik perahu kano – yang mengingatkan saya waktu kita berdua mudik ke Jakarta tahun lalu, ada tempat main anak-anak di Grand Indo yang juga menyediakan atraksi yang sama.

1002161103_burst02_1477527522464.jpg

Dari naik kano, dilanjutkan dengan naik mobil kuno, yang ternyata tidak semudah yang kami kira…agak berat untuk menggenjot si mobil…yang ada anak saya ngos-ngosan..ha…ha..ha.

Setelah dua atraksi adem ayem ini , anak saya sudah tidak sabar lagi buat naik roller coaster. Di HW ada 4 roller coaster : Voyage, Raven, Legend dan Thunderbird.

Sementara saya belum siap mental, jadilah si bapak yang menemani si kecil naik roller coaster.

1002161111.jpg

 

Waktu yang dihabiskan untuk satu putaran roller coaster sih tidak lama ya, cuma waktu mereka berdua balik, suami saya yang ada puyeng kepala…….sementara si kecil lonjak lonjak kegirangan. (Wah, gawat saya pikir, masih ada 3 roller coaster lainnya…berarti saya dong yang harus menemani????)

Sambil memberanikan diri, kita main atraksi lainnya dulu sebelum ke roller coaster berikutnya.

Saya perhatikan hampir semua atraksi di HW sama seperti atraksi di Dufan. Ada perahu Kora-Kora, ada bangku ontang anting, rumah miring, arung jeram, Niagara-gara.

Di atraksi yang mirip dengan Niagara-gara (disini namanya Frightful Falls)¬†saya masih juga menjerit waktu perahu terjun ke air….(bikin malu ya?)

wp-1477529638737.jpg

Waktu naik Kora-kora, saya juga masih terasa kedernya….ha….ha…ha..kirain tambah umur tambah berani..ternyata enggak!!!

 

Setelah berusaha menghindar selama mungkin untuk naik roller coaster lagi, akhirnya tiba juga giliran saya untuk menemani si kecil naik roller coaster. Roller coaster yang kami naiki kali ini namanya The Voyage, konon di pilih sebagai roller coaster terasik.

 

Aduuuuh…tobaaaaaaaaaaaaaatt…..remuk redam badan saya naik roller coaster ini!!!! Saya bahkan terasa hampir mau mun**** uggghhh!!! selesai naik roller coaster, paha saya terasa lebam tidak karuan. Kapok dewh!!! si kecil? cekikikan kegirangan!!

Ogah. Ogah. Ogah. Tidak mau lagi naik roller coaster. HUH!

Setelah The Voyage, si kecil tadinya mau naik Thunderbird, tapi koq ya waktu dia nyoba duduk, saya tidak PD membolehkan , habis koq ya, badan dia masih kekurusan buat si kursi, takut dia ‘melambung’…..(ya tidak mungkin sih, cuma namanya ortu, jadi ya khawatir saja)

Jadilah kita lewati si Thunderbird. Yang paling si kecil hobi naik itu atraksi yang mirip Ombang Ombing. Jadi dia masuk ke mesin berbentuk piring bundar yang nantinya di putar ke sana ke mari. Saya cukup melihat dari bangku penonton. Anak saya¬†naik atraksi ini ada kali 10 kali bolak balik…euw..saya mah pusing wae.

 

Hari itu kita menghabiskan waktu sekitar 5 jam di HW.

Kita main di permainan jeram (Raging Rapids) Рyang sayangnya kurang seru kalau saya (dan anak saya bilang), main berburu ayam turki (Gobbler Getaway),  main kursi seperti ontang anting (Hallow Swings), naik kereta api Holidog Express, main perahu ala Kora Kora (Mayflower), main di Frightful Falls, masuk Mummy Maze, remuk redam di Voyage, Raven, Legend, dan naik Turkey Whirl.

Dari segi udara yang tidak terlalu panas, dan keramaian dan antrian tidak terlalu panjang, boleh dibilang kita pilih waktu yang tepat. Cuma memang kita tidak bisa menikmati area taman berenang, Splashin Safari- yang satu lokasi dengan rides –yang saat kami berkunjung, sudah tutup karena habis musimnya.

Dari segi kebersihan HW amat bersih dan teratur, disini pengunjung juga bisa ambil minuman soda/ air gratis! (saat musim panas, dipelosok taman disediakan pemulas penahan matahari gratis)

Yang jelas kata suami saya, kalau suatu saat kita ke sini lagi, kayaknya kita musti bawa teman yang agak mudaan, karena saya dan suami sama-sama ngerasa sudah terlalu uzur untuk beroller coaster ria….;-)

Roller coater yang terakhir kami naiki itu Raven, coba deh lihat ekspresinya si kecil, girang-girang saja!

 

2016fatherdayetc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Madison, Wisconsin (bagian 2)

Hari Kamis, 7 April 2016.

Berhubung mobil saya itu cuma muat untuk 2 orang, saya sewa mobil dari Enterprise untuk bisa jalan-jalan dengan sepupu saya. Enaknya,  lokasi hotel saya Best Western West Towne Suite, itu berdekatan dengan lokasi penyewaan mobil Enterprise. Jadi saya tinggal minta jemput,  5 menit kemudian mobil jemputan datang, 10 menit kemudian saya, si kecil dan sepupu sudah melaju ke arah pusat kota Madison.

O iya, lupa bilang kalau Madison itu ibukota negara bagian Wisconsin, dimana di sini juga ada universitas besar, yaitu Universitas Wisconsin Madison. Kota Madison boleh dibilang diapit 2 danau besar, yaitu Mendota dan Monona.

Karena letaknya di utara, ada perbedaan cuaca yang cukup jauh antara tempat saya tinggal, Louisville, KY dan Madison, WI. Waktu saya berangkat, cuaca di Louisville sudah mulai hangat, sepatu boots sudah saya masukkan ke lemari, cukup pakai baju hangat ala kadarnya tapi di Madison, temperatur lebih rendah. Jadilah saya pakai baju hangat, rompi dan jaket kulit.

Kami sengaja parkir agak jauh supaya bisa jalan kaki melihat ini itu di pusat kota. Sama sepupu, dipilih untuk menyelusuri jalan State, di jalan ini bisa ditemui berbagai toko-toko unik, rumah makan, bar dan lain sebagainya.

Nah, State Capitol Building atau Balai Kota gitu ya? lokasinya di pusat kota Madison, sedikit berbeda dengan gedung-gedung balai kota yang pernah saya kunjungi, balai kota di Madison letaknya di tengah-tengah square. 

Selain itu juga, balai kota Madison itu strukturnya kalau dilihat dari atas seperti huruf X, di tengah-tengah ada kubah, dimana di puncak kubah ada patung perempuan bernama Wisconsin, sementara di salah satu sisinya ada lagi patung wanita bernama Forward.

Kami juga sempat masuk ke dalam gedung balai kota. Waduh, interiornya mewah sekali! tangga-tangga dihiasi dengan batu marbel (konon dari Itali) besar-besar. Langit-langit di dalam dihiasi dengan lukisan besar.

Malahan di salah satu ruangan, yaitu ruang konfrensi gubernur, seluruh langit-langitnya selain lukisan juga dihias dengan ukiran-ukiran yang semuanya menggunakan emas. Di ruangan ini juga ada tempat perapian terbesar.

Di ruangan lain, seluruh dindingnya menggunakan batuan alami, dimana pengunjung bisa melihat fosil yang tercetak di batu itu sendiri.

Pengunjung bisa ikutan tur keliling balai kota dengan pemandu tur,  kami pilih kelayapan sendiri saja dengan bekal buklet dan peta dari meja tamu.

 

Setelah selesai di balai kota, kami sempat mampir di Children Museum, biar si kecil tidak bosan, bisa main-main biar cuma sebentar. Children Museum di Madison ini boleh dibilang lebih di tujukan untuk anak-anak dibawah usia 5 tahun, untuk anak saya yang 10 tahun, tidak terlalu banyak hal menarik yang dia bisa lakoni. Yang jelas dia bisa manjat-manjat.

 

Dan juga kalau mampir di sini, jangan lupa ke atap, pemandangannya bagus, karena bisa melihat si danau dari kejauhan!

Yang saya sangat senangi dari perjalanan saya ke Wisconsin ini adalah kesempatan untuk makan di restoran Indonesia sebanyak dua kali!! Betapa senangnya hati ini bisa makan makanan tanah air tanpa perlu repot-repot masak!

Restoran Indonesia pertama yang saya kunjungi itu namanya Bandung, lokasinya di jalan Williamson. Kalap? Jelas! Tahu, tempe, otak-otak, lumpia, martabak, saya pesan untuk makanan pembuka!! Untuk masakan utamanya saya pesan nasi goreng untuk anak saya, gulai kambing untuk saya dan sepupu saya pesan udang goreng mentega.

 

 

 

Restoran Indonesia kedua yang saya kunjungi itu namanya JavaWarung, lokasinya di Appleton, Wisconsin. Saya makan disini waktu saya kunjungi teman saya yang orang Jepang, setelah kunjungan saya di Madison.

Disini sistemnya bufet, ketemu juga dengan pemilik resto, Jeng Enny. Yang saya tidak habis-habis comot disini itu lapis surabayanya dan kue gulung mocha…lembut dan enak!!

 

Jalan-Jalan di Pusat Kota Louisville

Hore hari Sabtu lagi! Setelah minggu lalu cuaca kurang bersahabat, Sabtu ini matahari tidak malu-malu mengeluarkan cahayanya. Berhubung hari Sabtu minggu depan dan minggu berikutnya saya harus kerja, saya paksa suami dan anak untuk jalan-jalan, tidak usah jauh-jauh, cukup ke pusat kota (downtown) saja,pinta saya.

Jadilah kami bertiga berangkat ke pusat kota, kebetulan hari Jumat sebelumnya saya sempat ke pusat kota juga untuk urusan imigrasi dan saya sempat lihat ada ‘keriaan’ di jalan keempat (4th Street), ya sudah kami menyusuri koridor jalan utama untuk menuju 4th st, sambil celingukan kiri dan kanan melihat hal-hal yang bisa diabadikan dengan kamera.

Pusat kota Louisville boleh dibilang di belah oleh 2 jalan utama : Main St dan Market St.  Ibarat koridor Sudirman di Jakarta, di dua koridor ini, kita bisa temukan restoran, gedung kantor, gedung pemerintahan, lapangan terbuka, teater, hotel lengkap lah pokoknya.

Di Main St ada satu bagian yang disebut dengan Museum Row  dimana ada 10 museum/atraksi yang berdekatan satu dengan yang lainnya :

1. Louisiville Slugger Museum,

 

 

2.Frazier Museum,

3. Kentucky Science Center,

4. Muhammad Ali,

5. Glasswork,

6. Kentucky Museum Art & Craft,

7. The Kentucky Center for the Performing Art,

DSCN4168

8. 21C Museum Hotel,

This slideshow requires JavaScript.

 

9. Kentucky Show,

10. Evan Williams Bourbon Experience.

Saya sendiri belum mengunjungi kesepuluh tempat tersebut, yang sudah pernah saya kunjungi itu Louisville Slugger Museum (tidak masuk ke dalam lokasi pembuatan), Kentucky Science Cnter, The Kentucky Center for the Performing Art Kentucky Museum Art & Craft dan Evan Williams Bourbon Experience. Kebanyakan juga karena saya ikutan acara kunjungan sekolah anak saya. ūüėČ

Selain atraksi dan museum, pusat kota juga dihiasi berbagai macam dekorasi artistik, dan seperti yang saya pernah tulis sebelumnya Louisville ini kotanya balapan kuda, jadi jangan heran kalau ketemu berbagai patung kuda warna warni di sudut kota Louisville.

This slideshow requires JavaScript.

4th Street itu sendiri oleh pemerintah setempat dijadikan koridor hiburan (entertainment) yang artinya jalan ini bisa ditutup saat ada konser musik jalan ataupun acara musiman lainnya.

Sehari-harinya 4th St penuh dengan rumah makan-rumah makan, baik lokal maupun chain : Hard Rock Cafe, Kentucky Fried Chicken, Taco Bell, QDoba, Dunkin Donut, dan sebagainya.

Berhubung sudah masuk bulan Desember, kota Louisville saat ini sibuk berdandan untuk menghadapi Natal : pohon natal, Sinterklas dll. Waktu kita turun dari gedung parkir dan lewat koridor salah satu museum, eh ada Sinterklas yang ‘minta’ di foto bareng A. Ya jadilah si A berfoto dengan Santa…ha..ha..ha…(padahal kami lagi mau nyoba tongkat narsis yang baru kami dapat dari pesta natal di tempat saya kerja di hari sebelumnya!)

Benar saja, waktu kita sampai di ¬†4th st sendiri, 3 blok ditutup dari akses kendaraan untuk acara ‘Santa House‘. Pemda membangun kedai berjualan dengan nuansa gubuk di jalan yang ditutup, juga membangun arena sepatu es. Kedai-kedai yang dibuka jualannya bermacam-macam, dari mulai wiski, kopi, hiasan natal, sampai makanan. ¬†Sayangnya ‘rumah Santa’ masih ditutup , jadi kami tidak bisa melihat isi rumah si Sinterklas.

Di blok selatan 4th st ada toko kesukaan saya, toko coklat isi bourbon…hi..hi..hi…namanya Art Eatables. Ada kali 2 tahun lalu saya nyasar di sini, baru kemarin mampir lagi…jadilah beli 2 kotak coklat bourbon.

 

 

Yang saya selalu senangi saat berjalan-jalan di pusat kota skala Louisville adalah melihat arsitektur gedung-gedung tua. Dan sebagian besar kota-kota di Amerika, pemerintah lokalnya lumayan perhatian dengan pelestarian gedung-gedung bersejarah.

 

 

Jalan-Jalan : Melanjutkan Perjalanan Menyusuri KY Bourboun Trail

20151122_164422

Halagh!

Setelah nyasar di Jim Beam, saya ‘kecanduan’ ingin melihat tempat-tempat penyulingan lainnya di KY Bourbon Trail! Sekali lagi bukan kecanduan dengan bourbonnya, tapi saya penasaran dengan cara pemasaran mereka : dari sekian banyak tempat penyulingan di KY, bagaimana masing-masing merek membedakan diri mereka dengan pesaingnya? Itu yang lebih membuat rasa ingin tahu saya membuncah, kalau masalah rasa, blaaaaaaaaaaaahhhhh tetap saya tidak doyan. ūüėČ

Minggu, tanggal 24 November 2015, saya loncat-loncat kegirangan karena matahari bersinar cerah dan suhu udara lumayan bersahabat.

Maklum, di Amerika, kalau sudah masuk bulan November itu artinya sudah harus bersiap-siap menghadapi suhu dingin bahkan salju. Setiap kali ada hari dimana udara lumayan hangat dan matahari bersinar, sebagian besar orang sini langsung memanfaatkan dengan pergi ke luar menikmati udara bagus sebisanya. Demikian juga saya.

Jadilah kami ngacir menuju lokasi Maker’s Mark. Saya pilih MM karena botol-botol MM itu ditutup dengan menggunakan lilin merah – yang saya ingat pernah saya lakoni waktu kerja di perusahaan Jepang tahun 1997 dimana bos saya mengelem amplop berisi dokumen penting dengan lilin merah – kesannya ‘keren’ dan aristrokat gitu…ha….ha….ha.

MM lokasinya di selatan kota Louisville, untuk menuju MM, kami melewati 2 tempat penyulingan lainnya : Jim Beam dan Four Roses – yang lokasinya di jalan utama. Saya pikir dong lokasi MM juga di jalan besar, ternyata salah besar. Untuk ke lokasi MM, kami masuk ke ‘pedesaan’ , istilahnya di tempat ‘jin buang anak’ atau out of nowhere gitu.

Seperti juga lokasi Jim Beam and Woodford Reserve, kampus MM juga apik dan asri (dan tidak bau!!)

Seperti halnya Jim Beam, di MM juga tersedia tur, di MM harga tiket untuk dewasa itu $9, anak-anak dibawah usia 21 tahun gratis.

Kampus MM relatif lebih kecil dibanding Woodford Reserve, tapi itu karena MM punya kampus lebih dari 1 lokasi. Tur kami kali ini , seorang wanita dan kita tidak dibekali radio, tapi cukup mendengarkan suara si pemandu tur.

MM konon menggunakan tipe gandum yang berbeda dengan merek lainnya, disamping itu seperti juga Woodford yang mempunyai produk ‘khas’ disamping produk utama mereka, MM punya Maker’s Mark 46, bourbon untuk produk ini menyerap tambahan kayu tertentu disamping tong kayu yang digunakan untuk produk utama. Warnanya menjadi lebih gelap dan konon rasanya lebih ‘dalam’.

Dibanding Woodford, tempat penyimpanan tong kayu MM lebih kecil dan juga di MM, tong-tong kayu ini diputar dengan tangan untuk menjamin ‘kematangan’ merata dari si borbon. (di Woodford mereka mengandalkan perubahan musim untuk pematangan borbon mereka)

Yang beda lagi, di MM, pengunjung dibolehkan menco’el jari mereka untuk mencicipi si borbon saat dalam proses fermentasi – dimana semua bahan-bahan setelah selesai ditumpuk, dituang ke tong kayu raksasa terbuka. Ewwwwwwww!!

Ruang icip-icip di MM juga terlihat lebih ‘mewah’, karena dindingnya kaca. Pengunjung mencicipi 4 jenis borbon : dari tipe pertama yang warnanya sangat terang (hampir bening) hingga tipe nomor 4 yang warnanya paling gelap.

Beda dengan kunjungan di Woodford dimana ada 2 ibu-ibu yang juga ‘memble’ setelah menegak borbon, disini cuma saya yang mukanya berkerut-kerut setelah mencicipi borbon, pengunjung lainnya sepertinya semua penggemar borbon, karena saya mendengar suara ‘aaaaaahhhhhh’ dari mereka.

O iya, kalau di Woodford coklat disediakan saat pencicipan, di MM, coklat bisa diambil setelah pencicipan. (Jelas, saya ambil sebanyak mungkin!! ūüėČ

Setelah pencicipan, pengunjung masuk ke toko suvenir, dimana pengunjung bisa me’wax botol ataupun gelas pilihan mereka.

Saya tidak ‘ngeh’ kalau boleh memilih me-wax gelas, jadilah saya pilih borbon paling kecil untuk di lilinkan. (kalau boleh milih, saya mending ‘melilin’ gelas daripada botol borbon, karena lebih murah dan juga saya tidak tahu mau dikemanakan si borbon itu yak???)

Pengunjung harus memakai celemek, kacamata pengaman, sarung tangan dan sarung lengan sebelum masuk ke tempat waxing.(waxing bahasa Indonesianya apa ya????)

Proses waxing ini di MM sepenuhnya dilakukan dengan tangan – bukan mesin. Konon pemilik MM sempat berargumen untuk mengubah proses ini dengan menggunakan mesin, tapi sang istri berketetapan untuk melanjutkan tradisi dan dia menang. Jadilah hingga detik ini semua botol-botol MM di tutup dengan lilin merah yang tidak ada satupun yang sama.

Proses pelilinan dengan tangan ini lucunya membuat beberapa botol menjadi bahan koleksi – karena sifatnya yang unik. Ada beberapa botol yang ‘kebanyakan’ lilin hingga meleleh ke label – yang tidak seharusnya’- tapi oleh MM dibuat menjadi ‘one of a kind‘. ¬†Semakin ‘ngawur’ lelehan si lilin, semakin ‘keren’ si botol jadinya. Ada-ada saja ya??

Di akhir tur, penunjung boleh berjalan kaki kembali ke gedung utama atau naik troli ke tempat parkir. Saya dan si kecil pilih naik troli, karena si kecil hobi naik troli!

20151122_163526

Jadi apa dong perbedaan antara satu penyulingan dengan yang lainnya?

  • Strategi pemasaran jelas memegang peranan penting dalam pembedaan masing-masing penyulingan
  • Jim Beam satu-satunya tempat penyulingan (diantara 2 lainnya : Woodford dan Maker’s Mark) yang punya tempat makan yang cukup mengenyangkan (bukan cuma makanan ringan)
  • Jim Beam dan Woodford menjual coklat, tapi tidak di MM
  • Jim Beam juga satu-satunya tempat penyulingan yang melakukan pencicipan dengan cara ‘dispenser’. Pencicipan di Jim Beam itu lucu, ada kira-kira 5 stasiun dispenser bourbon dengan berbagai rasa dimana pengunjung tinggal menggunakan kartu yang mereka dapat dari pembelian tiket untuk mencicipi borbon. Seperti dispenser soda di tempat makan cepat saji.
  • Cuma di MM pengunjung bisa melakoni pelilinan botol untuk dibeli.
  • Di MM yang saya senang itu di gedung pembelian tiket ada dinding bergambar menggunakan ubin-ubin kecil warna warni. Cantik sekali, jadilah saya ngeceng di dinding tersebut berkali-kali ūüėČ
  • Juga di gedung terakhir sebelum masuk ke toko suvenir, di langit-langit mereka buat keramik warna-warni yang masing-masing warna melambangkan proses pembuatan borbon : merah -warna kayu, biru warna air, kuning warna saat peragian.

Puaskah saya jalan-jalan ke tempat penyulingan borbon?

You’ll never know! ;-))