selingan

Jalan-Jalan Ultah 2021. Bagian 3 : 711, Skyline, Virginia

Yay! 711 atau 11 Juli!

Hari saya dilahirkan ke dunia! Bersyukur banget sudah di kasih hidup selama ini yaaa…Alhamdulillah selalu sehat, selalu berusaha untuk berguna dan berfaedah, berpenghasilan diatas UMR, berpendidikan, terus belajar tentang hidup!

Hari ini saya memutuskan untuk memulai perjalanan balik ke KY, karena pas lihat2 peta, iih..capek kali nyetir 8 jam langsung ke KY? Dan juga ternyata koq dekat dengan taman nasional SHENANDOAH yang saya memang sudah kepengen intip?!

Ya sudah..mampir ah ke Shenandoah, meskipun cuma sekedar nyetir di Skyline Drive nya. Lagian juga sudah beli tiket..sayang kalau gak dipakai…

Ya wis..sekitar jam 1, kami cabutlah..

2 jam kemudian, sampailah kami di gerbang Shenandoah, ya wajib foto2 dong..namanya juga turis kan.

Jadi Skyline Drive ini pada dasarnya ya jalan utama di taman nasional Shenandoah. Di sepanjang jalan ya nanti ada pusat kunjungan, tempat kemping, tempat hiking dan overlook dimana pengendara bisa melihat pemandangan pengunungan Appalachian. Saya tahu kami gak bakal sempet hiking atau eksplorais ya, tapi gak apa2 yang penting saya got the feel kayak apa sik Shenandoah ini.

Saya terus terang sangat menikmati jalan berliku Skyline Drive, gak terlalu curam dan cukup lebar. Apa lagi pemandangan sekitar bikin mata adem…

Kalau mau nurutin saya, saya mau terusin Skyline dari ujung ke ujung, cuma karena waktu gak cukup, kita keluar di pintu Thorp.

Di jalan, saya keluar bandel dan adventurous nya. Saya baca kalau Virginia itu kan slogan ya Virginia Is For Lovers dan sama pemda ada proyek VirginiaLoveWorks dimana kita bisa temui tanda LOVE di seantero negara bagian Virginia. Saya lihat2..ih koq lucu2 sik ? Pengen deh nemuin tanda tsb.

Pas saya lihat di peta, ternyata ada beberapa Love yang saya bisa lewati. Jadilah saya bilang ke anak saya kalau kami akan ber scavenger hunt cari tanda Love .

Saat itu kami di tengah2 jalan I64, saya belokin ke I80 buat dapetin tanda LOVE pertama. Lokasinya di resto lokal yang tutup…

Selesai foto2 kami lanjutkan ke LOVE berikutnya yang ternyata lokasinya di Natural Bridge State Park.

Setelah foto2, saya perhatikan..eh..koq orang2 pada pergi ke bawah gitu ya? Ada apa sih? Yuk lihat yuk? Saya ajaklah su bujang dan si guguk…

Ternyata ada trail, bagian dari Natural Bridge State Park. Ya sudah..yuk..kita jalani?! Kebetulan bareng kami ada grup orang2 dewasa. Jadi saya minta tag bareng mereka..karena hari sudah mau gelap..saya agak2 keder juga kalau cuma kami ber3.

Aiiih…keren loh ternyata! Gak nyesel deh ambil trail ini. Jadi trail yang kita jalani ini dibawah jembatan batu alami..yang diatasnya ya di lalui kendaraan2 sebagai bagian dari jalan lokal. Dan..ternyata trail berakhir di air terjun. Bonus kan!

Selesai hiking koq sudah gelap ya..ya sudah kami putuskan untuk bermalam di hotel Natural Bridge State Park. Rencananya ya besok pagi teruskan perjalanan pulang sambil cari tanda LOVE lagi

Cerita Pendek Dari Tempat Kerja

Di tempat kerja pertama saya itu, ada beberapa grup yang tugasnya serupa tapi tak sama. Nah, hasil kerja grup2 ini akan di kaji sama grup pengecekan kualitas istilahnya, atau Quality Assurance gitu…

Nah kebanyakan kita2 yg di grup ini sebel sama orang2 QA, karena kita ngerasa org2 QA ini kerjanya cari2 salah kita yang gak neko2 istilahnya. Pokoknya kita sebel dan sering kheki lah, istilahnya…

Apalagi QA ini boleh dibilang punya hak veto akan hasil kerja kita dan mereka boleh dibilang have the last words to say lah.

Nah , hari Jumat kemarin, giliran saya kena kritik orang QA. Saya lirik email yg dikirim ybs, namanya saya gak familiar. “Orang baru pasti ” pikir saya.

Saya baca email nya..waduuuhh banyak amat salah saya ya? Ya sudah saya balas emailnya , saya bilang kalau saya akan perbaiki salah2 saya.

Gak berapa lama dia kirim chat ke saya. Saya bilang. Telpon saya aja. Jadilah dia telpon.

“Halo. Hi kita belum pernah kenal ya, nama saya “xxxx” . Saya baru di departmen ini, jadi maklum kalau saya banyak salahnya. Salam kenal.

Dia jawab agak2 gelagapan yang saya tangkap…

“Oh ya. Ya. Salam kenal juga. Nama saya “xxxx”. Saya juga baru di department ini. Jadi saya baru belajar juga”

“Senang ketemu Anda walaupun cuma di Skype”

Lalu kita ngebahas satu hal saya masih error dan akhirnya kita setuju bagaimana kita mau lanjutkan.

Saya bilang, terima kasih ya sudah kasih tahu error saya dan mau ngertiin dan kompromi.

Si orang QA ini bilang, terima kasih juga, kamu receptive sekali, karena gak semua orang reaksi nya seperti kamu.

Saya lagi2 perhatikan nada bicaranya…..

Terdengar ada “kelegaan” di nada suaranya.

Saya jadi sempat “kaget” juga, karena ya itu, QA boleh dibilang punya “kuasa” loh atas kita2. Bisa saja dia songong kan?!

Saya jadi malu juga karena sempat berasumsi kalau si mbak ini akan blagu, akan sok kuasa dsb. Ternyata enggak.

Ternyata bereaksi postitif itu menyenangkan loh!?

Ternyata mengakui kesalahan itu gak apa2 loh…

Ternyata berbuat baik itu sederhana.

Salam!

Belajar Mengelola Uang Yuk!

Kawin sama bule ganteng sudah.

Tinggal di luar negeri sudah.

Tampak keren pakai sepatu boots dengan latar belakang salju di musim dingin atau foto cipokan di pantai, sudah.

Ngomong “ke-Inggris-inggrisan sudah.

Punya anak wajah pemain sinetron sudah.

Halan-halan ke Disneyland, ke outlet sambil nenteng tas belanjaan segabruk, sudah.

Nenteng tas minimal Coach, Kate Spade, Tory Burch, sudah. Sukur2 punya Louis Vuitton, Channel, Gucci, Prada.

Nyetir mobil lambang bintang 3 dalam lingkaran, Be-eM-We, Tesla, Audi, sudah.

Selamat ya. Impian sudah tercapai ya?

Nah sekarang coba lihat.

Tabungan atas nama kamu pribadi berapa?

Investasi atas nama kamu pribadi berapa?

Aset atas nama kamu pribadi berapa?

Kalau situ sudah bisa menjawab pertanyaan2 diatas dengan angka2.

Selamat. Anda di jalan yang “benar”

Kalau situ jawabnya:

“Idih..ngapain saya mikirin hal2 diatas? Suami saya kan bule. (Gak ada hubungannya)

Suami saya kan kasih saya semua yang saya mau.

Ah..beruntung sekali dikau, selamat yaaa…. tapi sekali lagi. Pertanyaan2 di atas valid loh.

Saya orangnya bukan tipe perencana ya. Gak ada tuh ceritanya dari awal saya punya rencana 5 tahunan, 10 tahunan dst.

Jadi amat wajar kalau banyak teman2 yang gak ngeh ya, kalau pertanyaan2 diatas itu penting.

Gini. Saya nulis ini bukan nakut2 in teman2, terutama teman2 yang baru mau mulai proses pernikahan dengan mas bule nya.

Tapi semata2 mau berbagi topik yang faktual banget dan nyata.

Inget gak heboh si neng celeb di IG live tahun 2019?

Intinya kita sebagai imigran sangatlah mungkin berada dalam kondisi “susah”: suami bule impian kita ternyata gak seindah harapan. Ada yang segera terlihat di awal2 hubungan, ada yang baru terlihat setelah sekian lama…

Masalahnya macem2 ya. Dari mulai kdrt, pecandu, suka main dan buanyaak lagi.

Saran saya cuma satu: Persiapkan diri untuk menghadapi musibah.

Ada beberapa saran yang saya mau tulis disini. Ini cuma saran loh ya, berdasarkan pengalaman saya pribadi dan dengar cerita teman2.

1. Sekaya apapun mas bule kamu, coba deh kamu cari penghasilan sendiri. Punya penghasilan sendiri itu membanggakan loh. Seberapun gajinya.

2. Kalau kamu punya penghasilan sendiri, dan mas bule tetap mau bayarin hura-hura kamu, coba tabung saja penghasilanmu itu.

3. Mas bulemu super baik? Super kaya? Pastikan kalian punya asuransi jiwa yang cukup buat bayar KPR rumah (kalau ada rumah yg belum lunas) ongkos pemakaman, hutang2.

4. Bangun angka kreditmu. Terutama di Amerika, angka kredit ini hubungannya bisa ke tempat tinggal, cari kerja.

Almarhum ibu sempat menasehati saya untuk buka rekening atas nama saya sendiri.

Kenapa gitu?

Sering kali pasangan kita ceroboh dalam mengelola uang atau cara mengelola uang mereka gak klop sama cara kita.

Juga kata beliau, dengan punya rekening sendiri, kita tahu kalau kita ada cadangan di luar penghasilan mas bule. Dan kita juga gak harus merengek-rengek kalau kita mau beli sesuatu.

Dengan punya uang sendiri yang kita sisihkan, kita tahu kalau kita harus bercerai misalnya, kita ada uang, baik itu uang untuk sewa pengacara dan memulai hidup sendiri, atau uang buat “kabur”

Kata teman saya yang notabene orangnya sangat planned ahead, paling enggak kita punya simpanan yang cukup buat ongkos pulang ke Indo right away dan ongkos hidup di Indo tanpa kerja selama 3-6 bulan.

Saya pribadi sadarnya belakangan ya. Baru belakangan ini, saya “beberes” keuangan.

Mudah2an lain kali saya bisa berbagi lebih detail tentang gono gini keuangan sebagai imigran, istri bule yang gak the haves 😘

Jalan-Jalan : Ke French Lick, Indiana

Hadewhhhh…pandemi bikin saya “gatel” pengen keluar.  Masalah Covid-19, saya pribadi orangnya lebih relaks dibanding anak dan si bapak. Dalam arti, saya gak paranoid kalau ke tempat umum, tapi anak dan si bapak lebih milih buat gak ke tempat umum sebisa mungkin. Beberapa kali saya ajak pelisir, mereka berdua gak mau.

Saya kan ambil cuti akhir tahun, setelah maksa, akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan ke French Lick, Indiana dan nginap di West Baden Springs hotel.

Kami sebelumnya sudah sering mampir di hotel ini, tapi gak pernah nloginap. Dan kami jatuh cinta banget sama ini hotel ini. Jadi keputusan untuk menginap disini, boleh dibilang win-win lah.

Hotelnya hotel tua ya, tapi keren abis. Karena atriumnya itu atrium terbuka dengan kubah raksasa, yang pas jaman ini hotel dibangun, sekitar 1900, struktur seperti ini langka.

Atrium lobi hotel West Baden Springs

Yang bikin saya tambah senang, pas saya baca2 situs hotel, hotel ini ternyata pet friendly hotel. Jadi saya bisa bawa anjing saya !!

Kami berangkat hari Minggu, tanggal 27 Desember 2020.  sekitar jam 2 an. Perjalanan ke French Lick dari tempat tinggal kami itu kira2 1.5 hingga 2 jam an.

Sampai di lokasi, kami langsung bisa masuk kamar. Karena kami bawa anjing, kamar kami di lantai 2, yang memang khusus untuk tamu2 yang bawa binatang peliharaan mereka.

Jendela kamar kami dari lobi, itu anjingku lagi nyariin aku dari kamar

Dari hotel, anjing kami di beri mangkok air/makanan, treat dan kantong 💩.

Kunci kamar bergambar foto hotel

Hari ini, kami niatnya cuma leha2 dikamar dan nikmati alunan musik piano di lobi.

Senangnya dengerin alunan piano dan pergantian lampu di lobi

Untuk makan malam, kami makan di rumah makan, Ohana, pusat kota French Lick. Karena masih suasana Natal, baik di kota maupun di hotel banyak hiasan lampu2.

Pas balik, si anak laper lagi, jadilah kami pesan makanan dari room service, sup bawang dan coklat brownie.

Supnya enak, brownie nya juga enak, gak terlalu manis -saya makan tanpa frosting.

O iya, kamar kami menghadap ke atrium,  jadi kami bisa lihat atrium kapan saya, bahkan bisa nikmati alunan musik dari pemain piano di lobi.

Hari Senin, 28 Desember 2020

Setelah mandi, kami pesan makanan dari resto di lobi hotel. Karena kami bawa anjing, kami tidak bisa duduk makan di tempat yang disediakan resto, tapi bisa makan di tempat duduk yang tersebar di lobi.

Semalam kami putuskan, kalau hari ini kami akan lihat stables di belakang hotel dan akan hiking ke Hemlock Cliffs.

Saya sebenarnya pengen banget horse back riding ya ($45 per orang. 45 menit), cuma anak saya gak mau..ya sudahlah..jadi kami cuma lihat2 kuda saja.

Sebelum ke lokasi hiking, kami sempatkan mampir ke French Lick Wine Distillery .  Karena gak niat2 amat, saya iseng wine tasting , saya pilih $4 buat icip 5 jenis minuman anggur.

Saya sudah pernah wine tasting sebelumnya, jadi agak2 ngeh gitu. Saya bilang kalau saya senangnya minuman anggur yang “manis”. Waktu dikasih daftar minumannya, si mbak kasih tahu mana kira2 yang saya suka.

Dari 30 jenis minuman anggur di daftar saya pilih: French Tickle, Pretty in Pink, French Lick Red, Blueberry dan Mon Cheri.

Tapi sama bartendernya, saya dikasih tambahan 2 :Moscato dan Tropical Frost.

Ternyata,  saya suka sama French Tickle , anggur dari jenis anggur Catawba dan berkarbon, alias fizzy dan Blueberry, anggur dengan rasa blueberry….

jadilah beli making satu botol. Mahal juga ih. Ya gpp lah, sekali setahun….

Hasil icip2 minuman anggur

Setelah icip2, kami menuju ke Hemlock Cliffs. Dari app All Trails, trail yang saya pilih ini dikategorikan cocok buat anak2, boleh bawa anjing, ada air terjun dan jaraknya cuma 1.2 mil.

Hasilnya?! Ini boleh dibilang salah satu trail favorit saya! Gak terlalu terjal, meskipun ada beberapa bagian trail  yang kami harus ekstra hati2 , biar gak jatuh, gak terlalu berbatu atau berlumpur. Banyak tebing2 unik yang kita bisa explorasi.

Selesai hiking, kami balik ke hotel.

Leha2 lagi di lobi sama anak saya…

Selasa, 29 Desember 2020.

Hari ini kami check out ya. Nah, saya pikir, masa sik, sudah nginap di hotel yang pet friendly yang bahkan ada menu makanan khusus buat si anjing, saya gak pesan? Jadilah saya pesan daging gulung ala Mosses (Mosses Meatloaf) untuk sarapan anjing saya di hari terakhir kami disini.

Anjingku makan dengan rakusnya

Setelah check out, kami mampir di indoor go karting. Sebelumnya kami sudah pernah main gokart di sini, dan anak saya selalu suka. Jadi ya mumpung disini, kami sempatkan main.

Selesai main go-kart, kami lanjutkan ke Wilsten drive thru safari . Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena mereka tidak memperbolehkan anjing selama di DT.

Nah..pas saya dan anjing saya nunggu si anak dan bapak ber DT, kami nongkrong depan kandang kanguru. Lucu banget sih kanguru ini, saya pikir.

Selfie sama kanguru dari luar kandang

Pas si anak dan bapak balik dari DT ria, saya bilang kalau saya mau ‘main’ dengan kanguru dan kasih makan jerapah.

Untuk main dengan kanguru, pengunjung cukup bayar $7.50. Di kandang kanguru, selain kanguru, ada Llama Hiram bernama Pacman, 2 rusa, satu laki namanya Guy dan satu cewek, Naomi. Dan ternyata si Guy ini asalnya dari Indonesia!

Si Guy ini anteng banget, gak keberatan di elus2. Kalau si Pacman jahil. Sementara kanguru2 yang bersliweran, ada satu, Sydney yang memang demen dielus2.

Jadilah saya selfie an dong sama Sydney dan Guy…

Buat kasih makan jerapah, pengunjung tinggal beli wortel $2. Saya tadinya gak yakin bakal bisa kasih makan si jerapah, habis saya berasa pendek banget. Tapi ternyata si jerapah bisa nyamperin wortel di tangan saya tanpa masalah…🤩

Setelah wortel ditangan habis, kami kembali ke Louisville, KY.

Meskipun singkat, kami cukup senang dengan pelisiran pendek kami kali ini.

Covid-19 jelas membuat banyak hal2 yang berubah ya. Contoh : kamar kami tidak di bersihkan setiap harinya. Kalau minta ganti handuk, sampo, sabun, botol air, tamu harus minta. Hotel hanya untuk tamu hotel (sebelum Covid-19, bukan tamu hotel boleh masuk). Pas masuk ke area hotel, temperatur kami dicek, nama kami di lihat di daftar kamar mereka, lalu kami diberikan gelang kertas untuk keluar masuk hotel. Gelang kertas ini harus diganti setiap harinya. Masker jelas harus dipakai selama tamu2 wara wiri di ruang umum. Masuk lift, disarankan satu grup. Ribet ya?

Memang sik..tapi kebanyakan tamu2 mentaati aturan koq. Jadi ya saya pribadi gak terlalu khawatir.

Teman2 ada yang pelisir saat Covid-19?

Bermesraan dengan Guy, rusa dari Indonesia

Kecintaan Baru : Sukulen

Tahun 2019, saya diajak teman ikutan kelas bikin terrarium. Dari hasil kelas yang saya ikuti, saya bawa pulang gelas berisi 3 tanaman jenis sukulen.

Saya benernya skeptis banget tanaman saya akan terus hidup,  soalnya saya boleh dibilang pembunuh tanaman.

Eh. Ndilalah,  tanaman2 di terrarium ini tetap hidup, tumbuh jadi besar malah!

Secara saya taruh di ambai jendela pas musim dingin dan boleh dibilang saya cuekin.

Lihat deh foto dibawah ini, tanamannya sampai mencuat keluar toples.

Saya jadi semangat! Ternyata sukulen ini “bebal” sama saya!!

Nah, sejak itu saya jadi kesengsem sama tanaman sukulen ini. Mulailah saya beli ini, itu, nyobain media yang berbeda2 buat pot tanaman2 sukulen saya.

Pot tanah liat, pot keramik, pot kaca, pot metal, pot gantung pakai sabut kelapa, pot rotan,  terrarium.

Jadi sukulen2 ini yang saya perhatikan,  penampilannya berubah tergantung : suhu, pengairan, kadar matahari yang didapat dan juga media.

Contohnya si kiwi, pas pertama beli, saya taruh di pot tanah liat, wuih sumringah dia. Trus, saya sempat pindahkan ke pot lain…loh koq “sekarat”? Daun2nya mengurus gitu?!

Jadi saya pindahkan lagi, sekarang dia kembali sumringah. Meskipun belum balik membara lagi..

Satu tanaman sukulen bisa berubah warnanya, ada yang jadi “membara” kalau kena banyak sinat matahari, ada juga yang merona malah di musim dingin.

Saya paling demen sama sukulen yang di ujung daunnya atau pinggir daunnya berwarna merah jambu atau bertitik merah jambu. Imut banget!

Saya juga belajar nama2 mereka. Ada sedum, ada crassulla, aloe, aeonium dll. Saya belum berhasil menumbuhkan tipe crassula. dan sedum.

Kiwi, yang saya sebut sebelumnya itu tipe aeonium. Lidah buaya tipe aloe.

Tipe Crassulla

Sejauh ini favorit saya adalah Echeveria, yang banyaaaak jenisnya. Echeveria ini mudah dikenali karena bentuknya yang seperti bunga mawar.  Dan banyak Echeveria yang berwarna ungu, warna favorit saya.

Echeveria mudah berkembang dan cenderung gak rewel, tapi tetep saya masih sering gagal bikin dia sumringah.

Salah satu yang bikin saya kaget waktu saya mulai hobi ini adalah, ternyata mereka bisa berbunga loh!!

Dan yang bikin saya bangga adalah, salah satu Echeveria saya sempat berbunga!! Tadinya saya pikir, cuma “beranak”, yang saya cukup senang lah

Bayi sukulen di bawah “ketek” si ibu

Tapi pas saya ngeh kalau itu bunga, saya lebih girang lagi! Dua kali loh sukulen saya berbunga!

Semua tanaman2 saya, saya taruh di balkon.  Tapi masuk musim  dingin saya masukkan mereka ke jendela di kamar tidur, komplit dengan lampu pertumbuhan untuk menolong mereka dapat sinar yang cukup.

Memang susahnya tinggal di negara 4 musim tapi mau bertanam sukulen ya begini. Kecuali kita tinggal di CA, NV,AZ FL, yang boleh dibilang gak dapat salju, ya pas musim dingin harus selalu masukkan tanaman2 ke dalam rumah.

Saking demennya saya sama si sukulen, saya langganan kotak tiap bulannya dari Succulent Studio. Setiap bulan saya bayar $16.50, untuk 2 tanaman sukulen.

Baru2 ini saya ikutan IGlive salah satu profil penjual sukelen di IG dan beli dari mereka.

Yang jelas setiap hari, saya selalu tengokin tanaman2 saya. Melihat mereka tumbuh, berbunga dan beranak itu menyenangkan loh.

Teman2 ada yang hobi sama seperti saya?

Cerita dong pengalamannya!

Warisanku Kenanganku

Beberapa bulan setelah ibu meninggal bulan April tahun 2019, salah satu kenalan nyeletuk “Ngomong2 lo dah dapat jatah warisan blom?”

Saya dengernya cengengesan…

Warisan? Haduh sepertinya kata ini sudah lama gak nongol di kosa kata saya ya. Bukan kenapa2, sejak pindah ke Amrik, boleh dibilang saya harus “ngerelain” meninggalkan dunia Indonesia saya.

Dari masalah makanan, ngobrol pakai bahasa Indonesia, cara beberes tempat tidur, cara bab, cara masak, berkunjung ke kerabat, bersapa ke kerabat kapan saja, menghadiri hajatan, baik itu hajatan hura2 ataupun hajatan duka cita. Termasuk juga mikirin warisan.

Saya sih tahu diri sekali ya kalau saya tidak turun tangan saat orang tua sakit hingga beliau2 meninggal. Jadi saya juga amat sangat tahu diri gak usik2 masalah warisan tetek bengek.

Harapan saya cuma semoga warisan ayah ibu berguna buat orang2 yang memang butuh.

Lagipula kalau tho saya dikasih warisan..tetek bengeknya lebih bikin pusing.

Kalau ditanya, “Memang kamu gak mau gitu “harta” ayah atau ibumu?”.

Jujur, ada beberapa barang ayah ibu yang pengen saya bawa ke sini. Kebanyakan bukan masalah nilai nominal, tapi lebih ke masalah kenangan, lebih masalah ke ‘sesuatu yang mengingatkan saya kepada almarhum ayah dan ibu’.

Untungnya ya, sewaktu beliau2 masih hidup, saya beberapa kali dikirimkan barang2 dari Indo. Yang sampai saat ini saya simpan baik2, apakah itu perhiasan berharga maupun boneka panda dari Cina.

Mungkin saya satu2nya orang dewasa yang masih suka memeluk boneka panda ya? Ya gak apa2.

Nah ngomong masalah kenang2 an. Berhubung saya orangnya praktis, saya pikir daripada ngarep yang gak jelas, mending saya create sendiri kenang2 an dari ayah ibu sebagai warisan mereka kepada saya.

Mau tahu apa yang lekat di ingatan saya tentang “harta almarhun ayah ibu” dan sukur banget saya berhasil “jadikan” warisan / kenang2 an buat saya?

1. Pemisah ruangan / tirai kerang

Saya ingat antara wastafel dan ruang TV, ibu taruh pemisah ruangan terbuat dari kayu yang ada kaca warna warni (stained glass). Entah kenapa saya senang sekali dengan pemisah ruangan tersebut.

Saya juga ingat kalau suatu waktu di depan pintu kamar saya, saya gantung hiasan kerang jadi seperti tirai.

Untuk kenangan ini saya kebetulan nemu pemisah ruang yang makai kerang di toko World Market beberapa tahun lalu. Pas lihat ini saya langsung ingat rumah Cibubur. Jadilah saya beli.

2. Lampu stained glass

Di ruang makan kami, saya ingat banget, ibu pasang lampu stained glass. Kalau tidak salah warnanya dasarnya putih, ada burung biru. Seperti juga pemisah ruang, lampu ini salah satu favorit saya.

Dilalah, saya nemu lampu stained glass di garage sale. Kalau tidak salah, saya beli $10 , tapi rasanya seperti punya harta karun loh!

Saat ini lampu cantik ini belum punya tempat yang cocok, tapi saya akan selalu bawa lampu ini kemana pun saya pergi

3. Tanaman

Almarhum ibu itu, setiap Sabtu/Minggu pagi rajin keluar, untuk ngurus tanaman2 beliau. Beberapa tanaman yang saya kengenin dari halaman rumah kita yaitu bunga melati, kembang sepatu, bunga kenanga, bunga sedap malam dan banyaakkk lagi.

Berhubung saya tinggal di negara 4 musim, gak mungkinlah saya bisa nanam pohon2 tersebut. Tapi pas saya pindah ke KY yang notabene cuacanya lebih banyak panasnya dibanding pas tinggal di MT, tahun lalu, saya nekatkan beli bunga melati (baca cerita saya disini).

Tahun ini saya lagi2 nekatkan beli tanaman kembang sepatu. Sengaja saya pilih warna kuning, karena saya ingat almarhum ibu punya bunga sepatu campuran merah/kuning. Kelopaknya kuning, tapi bagian tengahnya merah merona. Cantik banget.

Ada banyak lagi sik ya kenang2an yang saya pengen create. Misalnya koleksi kristal2 ibu, sabun2 wangi ibu.

Yang saya sekarang sedang cari untuk menjadikan kenang2 an saat tinggal sama ortu menjadi kenyataan adalah sendok teh yang cantik2.

Saya ingat koleksi sendok2 teh ibu. Imut2 dan cantik. Di sini yang namanya sendok teh ya cuma stainless steel saja gitu. Saya sempat lihat di toko asia di tempat saya jual sendok2 teh cantik..tapi belum ada yang saya sreg.

Mudah2 an satu hari saya ketemu ya.

Ada gak teman2 yang punya sentimen saya seperti saya? Yuk berbagi

Selingan Ringan: Makan Martabak Yuk!

Sebagai orang Indonesia kebanyakan, satu hal yang saya paling kangeni dari tanah air adalah makanan.

Sudah 15 tahun di Indonesia, saya tetep lebih milih makan siomay di banding cheese poppers, martabak terang bulan dibanding crepes.

Saya juga orangnya tidak hobi masak, jadi masalah kangen sama makanan Indonesia itu lebih dalem lagi.

Salah satu jajanan Indo yang saya kangen adalah martabak manis. Dulu pas di Indo saya lumayan sering beli dari abang2 yang dijualan di sekitar tempat saya tinggal.

Beda dengan martabak asin yang saya sudah PD bikin sendiri, martabak manis saya gak berani buatnya….

Disamping itu juga saya perhatikan, beberapa kali saya icip2 martabak manis homemade, rasanya kurang pas buat saya. Entah itu ketebelan, atau menteganya gak berasa, atau rasa tepungnya terlalu dominan.

Tapi kemarin itu..sakkkkiing pengennya saya nekat nyoba bikin dong. Iih…dua kali gagal. Keki banget rasanya.

Pertama kayaknya salah komposisi tepung, percobaan kedua, matangnya koq gak rata sik??

Setelah gagal dua kali, saya tanya ke teman saya yang hobi masak. Kata dia komposis tepung, tipe kompor, udara tempat kita tinggal berpengaruh…haaaalaahh..mau repot ya?!!

Manyun lah saya. Ternyata susah yaaaaa…(dan memang ya saya paling sebel bikin penganan yang bahannya tepung)

Nah, gak sengaja dengar ada toko khusus jualan martabak di Philadelphia, PA. Denger2 sik enak…cuma belum sempat2 juga ke sana.🙄

Nama warungnya MartabakOK. Pas liat di Google, kayaknya oke banget memang.

Setelah ngobrol sama teman yang juga hobi makan, ternyata MartabakOK terima pesanan untuk kirim ke seantero Amrik.

Ya sudahlah saya akhirnya menyerah. Sekitar dua minggu lalu, saya hubungi MartabakOK lewat WhatsApp. (pakai nomor telpon di bawah ini ya)

Responnya cepet lagi! Saya bilang saya lagi mikir2 mau pesan. Dikirimlah menu ke saya.

Biar gak usah bayar ongkir, saya pesan 4 loyang:

Setelah MartabakOK terima pesanan saya, mereka kirim tagihan yang jelas rinciannya. Saya lalu bayar via Zel.

Dasar saya pembeli yang bawel, saya minta kotak martabak dimasukkan ke paket juga. (Soalnya saya lihat, kotak mereka koq lucu gitu)

Pembayaran beres, beberapa hari kemudian saya di kirimkan foto nomor pengiriman paket.

Wuahhh..senangnya hati waktu lihat kalau paket on the way

Hari ini pas saya kebetulan keluar rumah, voila ada paket di kotak pos saya! Gak sabaran dong..saya langsung buka..mana juga pas sampai pas waktunya saya break dari tempat kerja.

Masing2 loyang dibungkus dalam plastik kedap udara, yang saya langsung masukkan ke freezer.

Saya cuma buka martabak manis komplit dan martabak asinnya.

Coba lihat …alangkah sedapnya penampilan si martabak?!!

Martabak Manis Coklat, Kacang, Keju

Martabak asinnya juga bolehlah…

Si martabak manis cukup dipanaskan di microwave selama 1-2 menit.

Waduh….enaaaaakkk banget! Menteganya berasa (jarum timbangan langsung goyang2), coklatnya, kejunya!!

Kalau martabak asinnya, saya tidak panaskan, karena saya malah senang makan kalau dingin. O iya, martabak asinnya ada 2 jenis saus. Kalau saya bilang, sausnya kurang pedas dan kurang cuko istilahnya, tapi si bule suka.

Jadi masa karantina terasa sedikit lebih manis (dan gembul) dengan adanya persediaan martabak di kulkas

Kalau ada teman2 yang seperti saya, doyan martabak manis tapi ogah masak, pesen deh ke MartabakOK. Dijamin gak nyesel!

Sebagai imigran, nemu yang kayak gini saya bersyukur banget! Bisa menikmati makanan Indo tanpa mudik!

(tulisan ini bukan promosi loh, cuma murni saking senengnya saya sama pelayanan dan produk martabak dari MartabakOK )

Selingan Ringan : Senangnya Apartemen di Renovasi

Hari ini cerita ringan dulu ya..bukan tentang Covid-19, bukan tentang etika jadi perempuan, ,mau berbagi kebahagian dikit…

Awal tahun ini ,kami diberitahu oleh pengelola apartemen kalau mereka akan melakukan renovasi di semua unit2 apartemen. Renovasinya itu sik cuma ganti tipe lantai dari karpet ke hardwood di dapur, kamar mandi, ruang makan, beberapa bagian hallway seperti pintu masuk, ruang cuci, ganti kabinet dapur, ganti tipe wastafel dan kabinet di seluruh kamar mandi, ganti lampu2 di dapur, ruang makan, patio, kloset.

Sebulan sebelum renovasi di gedung kami dimulai, kami dikasih surat pengingat, dua minggu selanjutnya kami terima surat yang intinya memberi tahu apa-apa yang harus dilakukan dan tanggal berapa hari renovasi kami. Dari surat itu, kami tahu kalau hari renovasi itu tanggal 2 Maret, hari Senin. Kami harus memindahkan mobil yang diparkir di depan gedung untuk tenda para pekerja.

Repot? jelas, karena ruangan yang akan di renovasi itu dapur, ruang makan, 2 kamar mandi, dan satu wastafel. Dapur dan ruang makan kami itu ruang yang paling penuh barang2…ya sudahlah kami jadi ibarat pindahan, semua barang-barang di tumpuk sana sini, ya di ruang TV, ya di kamar-kamar tidur. Kami jadinya juga mengungsi ke hotel dari hari Minggu hingga hari Rabu.

Saya sama sekali tidak nangkringin saat renovasi dikerjakan, berisik juga, lagian saya juga harus kerja.

Jreng-jreng-jreng..pas balik…wuih…ternyata keren banget euy hasilnya. Lemari-lemari dapur dari warna coklat jadi warna hitam, tipe sink juga di ganti, dari dua sink jadi hanya satu tapi lebih deep. Trus lemari nya juga dibuat lebih tinggi, kami jadi ada nambah ruang penyimpanan dengan lemari baru ini. Lemari es, mesin pencuci piring dan kompor diganti dengan yang lebih up to date, ditambah lagi sekarang ada microwave. Kami mah senang banget ya, secara lemari es juga mesin pembuat esnya sudah rusak, dan microwave kami juga mulai ngadat, jadi dapat ganti seperti ini ya pas banget waktunya!

Ruang makan jadi terlihat lebih ‘luas’ dan sleek. Jadilah saya mutar otak buat mengatur ruangan, habis kan gak mau dong, sudah direnovasi jadi keren, masa gak di manfaatin buat di atur lebih apik?

Sebelum renovasi di dekat pintu ada dua tumpuk rak sepatu plus kotak-kotak isi selendang dll, sekarang kotak-kotak saya pindahkan ke ruang cuci, di atas rak sepatu saya cuma taruh nampan dan vas bunga yang sebisa mungkin saya selalu isi dengan bunga , biar siapapun yang datang, langsung disambut dengan bunga gitu…

Senang lainnya,, saya jadi punya ruang kerja lebih luas , kemarin sebelum renovasi, ruang kerja saja mepet banget..tapi sekarang lebih lega’an…

Yang saya senang, saya bisa buat tea station buat saya, coffee station buat yang suka ngopi,

bahkan anjing dan kucing saya pun punya pojokan sendiri sendiri…he…he..he. Itu pernak pernik anjing yang saya selama ini beli dan tersebar dimana-mana sekarang semua bisa ngumpul deh.

Untungnya lagi ya, renovasi unit kami selesai sebelum apa2 ditutup karena Covid-19. Karena setelah renovasi di jalan kami selesai, manajemen menunda renovasi ke gedung berikutnya.

Yang jelas saya sekarang yang ada selalu repot ngebersihin wilayah dapur …ha…ha..ha..karena baru siiik!!

Saya kurang tahu apakah renovasi apartemen itu hal biasa? Kami sudah tinggal di komplek apartemen yang sama sejak 2014, ini pertama kalinya kami mengalami renovasi. Kalau teman-teman pernah mengalami cerita renovasi pas tinggal di apartemen , monggo di bagi kalau mau.

Pertama Kali : Jadi Pendonor Darah

Hari Kamis tanggal 24 Oktober 2019, saya pertama kalinya menyumbangkan darah.

Norak dan telat ya? He..he..he..

Memang saya akui koq kalau dalam masalah ini saya telat banget. Sudah sering lihat teman2 baik di Indo maupun Amrik berdonor ria.

Alasannya? Sok sibuk sama kerjaan dan saya paling malas kalau harus pergi ke tempat A cuma mau nyumbang darah wae.

Tapi koq tahun ini saya dapat ‘panggilan’ ..ceileee…

Pas baru saja ngobrol ngalor ngidul dengan teman kantor yang hobi mendonor dan dia menceramahi saya karena tidak pernah mendonor, seminggu kemudian waktu saya ke tempat olah raga, eh lihat pengumuman ini..

Wah..masih sempat daftar dong? Pikir saya.

Dan juga waktunya tidak mengganggu jadwal saya dan lokasi juga cuma 5 menit dari rumah.

Jadilah malam itu saya mendaftarkan diri. Besok harinya saya tanya2 lagi ke teman saya yang sudah “pakar” dalam mendonorkan darahnya.

Dia bilang banyak-banyak minum air, usahakan tidak minum obat apapun malam sebelumnya.

Pas hari H, saya sudah menegak 2 botol air dan makan pagi komplit..(mie goreng dong!😜)

Datang ke lokasi, saya di cari di pendaftar dan kartu identitas saya di cek. Setelah masalah administrasi selesai, suster nya mengecek kadar haemoglobin saya dengan mengambil darah saya beberapa tetes.

Kadar Hm saya bagus, di atas 12.

Selanjutnya saya diminta untuk menjawab 50 pertanyaan Ya/Tidak.

Pertanyaan2 ini untuk mengecek kebiasaan dan gaya hidup pendonor , mngecek resiko kesehatan kita lah intinya. Apakah kita pernah tinggal di negara tertentu, melakukan aktifitas tertentu, ada penyakit tertentu dsb.

Setelah selesai menjawab pertanyaan, saya diminta berbaring di kasur periksa. Di situ si suster mulai mencari pembuluh darah saya.

Saya diberikan semacam busa yang saya bisa remas-remas. Setelah ketemu , suster lagi mrmbersihkan bagian itu dengan alkohol.

Lalu?

Ya disuntik jarumlah saya…he..he..he..

Sakit? Sakit dikit lah..tapi gak sampai meringis lama2.

Selama darah saya diambil, saya harus meremas-remas si squeezer supaya si pembuluh tetap memompa darah saya.

Total darah yang diambil itu 1 pint.

Selain darah yang diambil di kantong, darah saya juga diambil dalam tabung-tabung kecil. Darah ditabung-tabung ini adalah darah saya yang akan dites: apa golongannya, apakah ada penyakit tertentu dsb.

Setelah jarum dicopot, dan bekas tempat pencoblosan jarum ditutup 2 jenis plester- satu kain kasa yang bolrh dicopot setelah 5 jam dan satu lagi plester silang warna jingga yang boleh dilepas setelah satu jam.

Setelah itu suster minta saya mengangkat tangan saya selama beberapa menit. Intinya mencegah si darah tidak “bocor”.

Selesai deh!

Sebelum pulang saya boleh pilih makanan ringan :ada oreo, cheez it, kismis, dll, dan jus apel atau fruit punch dan juga dikasih kaos gratis.

Mudah ya?!

Saya juga dikasih tahu sama si suster, kalau suatu saat darah saya dipilih menjadi donor, saya akan di kirim email pemberitahuan.

Wah..terharu juga kalau saya dapat pemberitahuan seperti itu..karena artinya darah saya dipakai untuk menyelamatkan seseorang kan?

Waktu saya tanya lagi ke teman saya yang pakar donor (64 kali!!), dia ternyata baru-baru ini dapat email pemberitahuan yang si suster bilang.

Darahnya dipakai untuk tranfusi seseorang. Asli terharu kan?!

Ada satu hal yang saya mau ingatkan..setelah kita mendonorkan darah, ada efek sampingnya.

Bisa mual, lelah, tidak punya energi dan ngantuk.

Pendonor juga tidak disarankan melakukan aktifitas yang terlalu menguras tenaga.

Jadilah saya batalkan kelas olah raga saya malam itu dan besok malamnya.

Masalah efek samping….saya ternyata kena ngantuk….

Dan ngantuknya itu buanngggeet!!!

Jam 7 malam hari itu, saya sudah ngorok di kamar….zzzzz

Jadi kesimpulannya gimana?

Jadi pendonor itu bikin hati senang ternyata. Mudah, tidak bertele-tele, gratis pula! Dan, darah kita mungkin bisa menyelamatkan seseorang loh!

Kalau teman-teman belum pernah melakukannya, mudah-mudahan setelah baca tulisan ini, jadi ikutan ya?

Yang jelas, menurut suster, minimum umur pendonor tanpa ijin orang tua itu 17 tahun. Maksimum? Tidak ada batasan, asalkan sehat dan berat badan mencukupi. (Ada batas minimum , tapi saya tidak tanya, yang jelas tidak boleh terlalu kurus ya.)

#pertamakali

#donordarah

Hidup Glamorku di Amrik

Tinggal di Amerika buat banyak orang itu ibarat mimpi jadi kenyataan, menang lotere milyaran lah.

Banyak orang-orang yang bela-belain akan melakukan apa saja buat bisa hijrah ke sini.

Konon nih..hidup di luar negeri itu serba enak….

Benar atau tidak siiih??

Mau tahu keglamoran hidup di Amrik?

  • Tinggal di Amrik, artinya kita harus bisa berbahasa Inggris. Keren dooongggg…. halah…siap2 untuk dipandang sebelah mata, dicemooh karena aksen kita yang terdengar asing. Jadi coba buang mental “bahasa Inggris saya jelek”, mending langsung ikutan kursus bahasa Inggris kalau memang niat tinggal disini
  • Jangan selalu harapkan kalau kita bisa mudik setiap tahun (meskipun pengharapan orang-orang ke kita, kita seharusnya mudik setiap tahun). Kalau kebetulan Mas bulenya wis royal, banyak duit ya bisa -bisa saja mudik tiap tahun. Atau kita pribadi kelebihan uang yang bisa disisihkan until ongkos mydik. Tapi pada kenyataannya tidak semua pendatang bisa dengan manisnya mudik ke Indo setiap tahun. Saya termasuk contoh imigran kere. Sejak hijrah 2005, baru 2x balik ke Indo.

Kalau ada yang gatel nanya “emang situ gak kerja apa?” Jawabnya, Memang kalau saya kerja kamu pikir gaji saya berapa gitu.

Ini termasuk juga saat ada musibah di tanah air, 2x saya cuma bisa nangis waktu ortu meninggal, karena saya di sini dan GAK MAMPU pulang. Sedih? Banget. Cuma mau gimana lagi, gak mungkin kan bayar ongkos pesawat pakai bulu ketek?

  • Jauh dari sanak saudara dan jangan mengharapkan bakalan dikunjungi. Saya orangnya ternyata tipe “gak apa-apa dan gak minta apa-apa”. Selamat pindah, saya tidak merengek-rengek minta dikunjungi sanak saudara, secara tidak murah ya. Lagian juga saya orangnya males ngerepotin…kalau ada yang punya rejeki lebih pas main ke Amrik, kebetulan “lewat” tempat saya, kalau mau ketemuan ya monggo. Pernah beberapa kali saya koq bego nya ngarep dikunjungi, sempet minta dikunjungi pula…tapi ternyata saya tidak masuk daftar “penting untuk ditengok” …ya wis. Gak apa-apa.
  • Jangan harapkan bantuan dari tanah air…(jauh aja!!) Dulu di Indo, duit kurang minta ortu. Sakit minta dikelonin ortu. Di sini siapin mental buat MANDIRI. Saya ngelahirin ya berdua sama laki, setelah melahirkan kalau temen2 di Indo dikelonin sejuta helpers saya ya do it yourself Anak sakit ya ditungguin sendiri, suami di operasi ya ditungguin sendiri, mobil mogok di tengah jalan, suami di negara lain, ya dorong.

Tapi…jangan keder ya…gak usah terlalu dipikirin juga.

Bantuan datang dari berbagai bentuk lah. Gak ada saudara, selalu ada orang-orang di sekitar kita yang gak akan sungkan-sungkan akan menolong kita.

Kayak waktu mobil saya di tabrak lari, untuk ngebenerin saya harus punya $500. Buat ukuran keluarga saya saat itu, uang segitu gak kecil ya…

Dilalah dapat sumbangan dari strangers….

Ada kebakaran di rumah, tetangga punya alat pemadam kebakaran, sehingga api bisa dipadamkan sebelum unit pemadam kebakaran datang

Gak ada mobil, ya naik sepeda, atau jalan kaki, atau naik bis

Gak ada ortu ato mertua, atau kakak, adik buat jagain anak, ya bayar daycare atau sitter atau teman/tetangga yang baik hati.

Ngomong-ngomong, kondisi “glamor” yang saya paparkan di atas gak selalu berlaku untuk semua imigran loh ya.

Banyak juga koq teman-teman Indo yang Alhamdulillah rejeki mereka bagus dan berlimpah, bolak balik Indo-Amrik mah gak masalah…

Yang sering dikunjungi keluarga dari Indo.

Tulisan di atas sebagian besar ya hal-hal yang saya alami sendiri, yang saya pikir2 gak apa2 lah dibagi,

Dengan harapan bisa membuat pembaca yang berminat hijrah ke Amrik agak membumi dan gak selalu melayang di negeri kayangan atau berangan-angan setinggi langit ketujuh ☺

Gimana? Siap mental?