selingan

Sudah Bergaya Amerika kah Saya?

Dulu waktu belum hijrah ke Amrik, saya kebetulan kerja di perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri, yang oleh rekan-rekan kerja, jahil kami kasih istilah ‘Tante Amerika’ lah….ha….ha…ha.

Ciri-cirinya si Tante Amerika:  kalau ngomong selalu diselipin bahasa Inggris, dikit-dikit bilang ‘waktu saya di Amerika’ , pakai sepatu boots, rambut diwarna ,pokoke wis ‘bule’ lah. 😉

saya ingat bagaimana saya sering terpana melihat gaya si ibu yang ‘Amrik’ bangget.

Ndilalah…saya sendiri hijrah ke negeri Paman sam. (dan sudah resmi jadi warga negara Amerika pula).  Lagi menelaah diri..apa saya juga sudah jadi Tante Amerika ya?

Coba di cek :

Makanan favorit :

Masih nasi putih, boleh dibilang saya pecandu nasi, kalau tidak ketemu nasi lebih dari 3 hari, yang ada saya deprived…..atau sakau…ha….ha….ha..Paling panik kalau pas lagi ‘road trip‘, sering kali untuk menghemat waktu, kami cukup makan cepat saji, hamburger lagi, hamburger lagi. Hari pertama masih kuat, hari kedua, mulai panik, hari ketiga…..kelimpungan cari rumah makan cina buat beli nasi putih tok!!!

Rambut :

Hitam enggak, coklat mungkin tapi bukan gara-gara di cat, gara-gara gak diurus! ha…ha…ha. Ternyata saya ini tidak betah duduk berlama-lama untuk dicat rambutnya. Haduuuh…pernah nyoba 3 kali….wis kapok! selain si warna tidak nempel, tidak betah nongkrong di salon dan tidak betah untuk re-do lagi……

Cara Bicara :

Kalau ketemu teman-teman Indonesia, terus terang memang saya paksakan berbahasa Indonesia..bukan kenapa-kenapa..karena pengin tetap nulis di blog ini!!

Memang kadang terselip kata-kata dalam bahasa Inggris, tapi sungguh bukan sok bule..karena sudah kebiasaan ngomong dalam bahasa Inggris, sering lupa padanan bahasa Indonesianya….

Yang memang berubah….saya sumpah serapahnya sudah ala Amrik! hi….hi..hi…

Cara Masak :

Meskipun masakan orang Indonesia itu bumbunya njelimet, tapi saya tetap lebih rela masak makanan Indonesia….padahal orang sini cukup pakai garam , merica, sudah jadi deh itu masakan….

Warna Pakaian :

Kebanyakan orang Amerika itu riweh sama yang namanya memakai baju sesuai musim. Ibaratnya kita musti kayak bunglon, menyesuaikan warna pakaian dengan warna alam sekitar.

Warna putih konon tidak boleh dipakai setelah hari Buruh. Warna koneng (aka mustard) , warna merah anggur, identik dengan musim gugur.

Di musim dingin, ekspektasinya makai baju hitam, abu-abu. Cuma di musim semi atau panas ‘boleh’ pakai baju bunga-bungan atau warna warna cerah.

yaaaaaaaah bosaaaaaan!!

Ternyata dalam soal memilih warna, saya masih sangat tropikal sekali.

Dulu saya tidak ngeh sering dikomentari ‘You like color‘ -ternyata ya , ya itu, sebagian besar orang Amrik kurang ‘embrace‘ warna….tidak seperti orang Indonesia yang selalu cerah dalam berpakaian 😉

Cara Berkendara :

Jelas lebih tertib…bukan kenapa-kenapa, bayar tiketnya mahaaaaaaaaaaal!! belum lagi urus asuransi. malas deh!  Dulu saya tergolong suka ngebut di jalan tol, sekarang mah mana berani…(meskipun kepingiiiiiiiiiiin banggett!!! ),

Cara Belanja :

Ini jelas saya Amrik banget! Yang pasti nunggu diskon! pakai kupon atau cari perbandingan harga yang lebih murah! Keluar masuk toko barang bekas, nyantai saja. Harus bermerek? Tidak mampu..ha…ha….ha..

O iya..disini kan konsumen dibolehkan mengembalikan barang yang mereka beli, ini jelas jadi kebiasaan saya…kik..kik..kik. sering kali saya beli barang, tidak mikir, cuma bawaan mau, sampai di rumah..ya koq tidak sreg ya…ya sudah balikin saja. Coba kalau di Indonesia…mana bisa????!!!

 

 

 

 

 

Mengintip Proyek Rumah Ramah Lingkungan

Hari Kamis tanggal 13 Oktober lalu, saya mendapat undangan ‘private viewing’ rumah yang dibangun oleh salah satu kenalan saya di sini.

2222.jpeg

Ini pengalaman pertama saya mengunjungi proyek rumah baru sebelum di pasarkan ke publik.

Saya tidak tahu juga apakah setiap perusahaan perumahan selalu mengadakan private viewing untuk proyek yang mereka kerjakan atau tidak, yang jelas di kota tempat saya tinggal memang setiap tahunnya ada acara Homearama, dimana pengunjung membeli tiket untuk melihat rumah-rumah baru di lingkungan perumahan tertentu, dari pameran rumah ini, pengunjung bisa mendapat ide untuk rumah yang akan mereka bangun, memilih kontraktor rumah ataupun langsung membeli rumah yang bersangkutan. Biasanya Homearama di selenggarakan di bulan Juli, sayangnya tahun ini saya kelewatan, padahal saya punya tiket gratis. 😦 Mudah-mudahan tahun depan saya bisa datangi dan cerita disini ya!

Anyway, waktu saya di beri undangan untuk melihat rumah baru ini, ya jelas saja saya senang! Maklum latar belakang pendidikan saya kan sarjana teknik sipil, dan saya sempat kerja lama di riset properti, dimana saya menyantroni berbagai macam proyek properti, termasuk proyek perumahan. Mengunjungi proyek rumah seperti nostalgia rasanya…ha…ha…ha..meskipun saya kurang suka dengan teknik sipil sendiri, tapi kalau subyeknya rumah dan material bangunan saya masih tertarik. (my soft spot istilahnya)

Yuk…kita lihat rumahnya……

Rumah ini lokasinya di lingkungan Norton Commons yang notabene lingkungan perumahan elit bagian timur kota Louisville, Kentucky.

Seperti kebanyakan rumah lainnya, rumah ini terdiri dari basement, lantai dasar, lantai satu dan lantai atap.

Di lantai dasar ada ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar utama, ruang cuci, dan toilet.

 

wp-1476920522610.jpg

Ruang TV/Keluarga/Tamu, Perhatikan meja kayu dan bangku kayu yang penampilannya tidak beraturan

 

wp-1476920502840.jpg

Tempat Tidur di Kamar Utama, saya naksir papan kepala, cukup $6,200 saja

 

Di lantai satu ada 2 kamar tidur, kamar mandi, teras, ruang kerja dan balkon.

wp-1476920482357.jpg1017161757a.jpg

wp-1476920491068.jpg

Pojokan Untuk Bekerja, semua material dari reclaimed wood

Di lantai atap, ruang terbuka.

wp-1476920474181.jpg

Lantai Atap

 

Yang membedakan proyek rumah ini dengan proyek rumah lainnya adalah, perusahaan di belakang proyek ini , yaitu UberGreen Spaces. Si pemilik UberGreen Space, Sy Safi ,boleh dibilang ahlinya membangun rumah yang bersertifikat  ‘hijau’ atau ramah lingkungan dan efisien dalam penggunaan energi.

Proyek ini oleh Sy diberi nama Su Verde (Bahasa Italinya atau ‘About Green’ Bahasa Inggrisnya)

 

 

Tampak Muka Su Verde (Foto Kredit : Bret Knight)

 

 

Semua material yang digunakan dia pertimbangkan masak-masak fungsinya buat si pemilik rumah , dari mulai fondasi, dinding, jendela, lantai, atap, interior sampai kompor semuanya berkonsep hijau.

Sy juga semaksimal mungkin menggunakan barang-barang / artis-artis lokal untuk interior rumahnya sebagai wujud dia mendukung sesama pebisnis seperti dia.

Contoh : material lantai yang digunakan adalah kayu-kayu daur ulang (reclaimed wood) dari bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. Pengunjung bisa lihat ‘cacat-cacat’ kayu di lantai yang memang sengaja dibiarkan apa adanya.

Untuk lantai-lantai kamar mandi, ada tambahan penghangat lantai, keren ya? jadi kalau pas musim dingin, setelah mandi tidak usah sengsara kedinginan kaki kita…ha…ha…ha..;-)

wp-1476920511569.jpg

Demikian juga bentangan kayu di ruang tamu, juga dari reclaimed wood ; yang uniknya lagi bentangan kayu ini mengalami proses pengawetan ramah lingkungan dengan cara pembakaran yang di kenal dengan teknik Shou Sugi Ban, sehingga warnanya menjadi hitam legam alami. Asli keren!

 

blackbeam

Kredit Foto : Bret Knight

 

 

blackbeam2

Ruang Tamu/TV dengan latar belakang si bentang kayu hitam yang membingkai ruang makan (Kredit Foto : Bret Knight)

Saya yang ada jadi banyak belajar tentang bahan-bahan bangunan tercanggih dan ramah lingkungan dari Sy.

 

Jelas banyak bengongnya…ha…ha..ha..wong saya sudah tidak berkecimpung di dunia sipil bertahun-tahun! Tapi seru juga, karena ya jadi tahu ternyata tersedia pilihan yang ramah lingkungan dan efisien di pasaran.

Yang saya senang dari rumah ini adalah lantai atapnya (roof top)

wp-1476920474181.jpg

Lantai Atap- buat tempat kongkow kongkow

rooftop

Kredit Foto : Bret Knight

dan pojokan (nook) yang nyaman dekat balkon lantai dua.

Kredit Foto : Bret Knight

 

Harganya? Konon rumah ini akan dipasarkan sekitar $1,000,0000 haaaaa…mahal yaaaaa…yang jelas saya bukan pembeli potensial rumah ini….ha….ha…ha..tapi for what it’s made of, I think it’s worth it.

O iya, kalau ada teman-teman pembaca yang kebetulan arsitek, atau teknik sipil atau juga senang dengan proyek-proyek seperti ini, bisa buka situs -situs dibawah ini untuk belajar lebih banyak tentang material-material terbaru :

http://www.proudgreenhome.com/videos/a-high-performance-thermal-envelope-starts-at-the-foundation/

http://www.proudgreenhome.com/videos/drywall-options-deliver-better-living-in-in-proud-green-home-of-louisville/

http://www.proudgreenhome.com/videos/sustainable-exterior-options-wrap-the-proud-green-home-of-louisville/

Untuk pembaca yang mau melihat foto-foto Su Verde lebih banyak lagi bisa buka link dibawah ini:

Foto Su Verde 1

Foto Su Verde 2

Foto Su Verde 3

 

Catatan :

Semua situs yang saya tautkan di tulisan saya ini sudah saya dapat ijin untuk membagi dari pihak Sy Safi sebagai pembangun proyek Su Verde. Harap tidak menggunakan tautan tanpa ijin tertulis dari pemilik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belanja Belanji ala Amrik

Belanja di Amrik itu buat saya lebih murah dibanding belanja di Indo. Waktu mudik tahun 2015 lalu, yang ada saya bingung pas belanja di toko-toko di Jakarta, Indonesia….koq tidak ada diskon yak??? Jadilah saya beli ini itu harga ‘retail’…Duh gak rela banget rasanya!

Kenapa gitu? di Amrik, ada pepatah ‘Never buy things full price‘ – karena konsumen tahu kalau barang-barang di toko PASTI akan ada promosi di kemudian hari, jadi kita ‘pantang’ yang namanya beli barang tanpa potongan

Saya sendiri, yang kebetulan juga kerja di toko pakaian, mengerti sekali pernyataan ini dan memang benar kalau nantinya, barang-barang yang baru datang (new arrival), pasti akan dikenakan promosi cepat atau lambat.

Di Amrik, sebagian besar hari libur kalender boleh dibilang identik dengan promosi : dimulai di bulan Januari, hari peringatan Martin Luther King, Februari :  hari Presiden dan Valentin, Maret hari Paskah, Mei: hari Ibu, Memorial, Juni hari Bapak; Juli hari Kemerdekaan, September : hari Buruh, October : Halloween, November : Thanksgiving, December : Natal.

Dari hari-hari tersebut, yang boleh dibilang hari potongan besar-besaran itu :

  • Hari Memorial : hari Senin terakhir di bulan Mei – kalau mau cari barang-barang musim dingin dengan hari paling murah
  • Hari Kemerdekaaan : 4 Juli – dimana toko-toko boleh dibilang harus menghabiskan produk-produk musim semi mereka
  • Hari Buruh : hari Senin pertama di bulan September – peralihan ke musim gugur, waktu terbaik untuk beli barang-barang musim panas, seperti baju renang, perabotan taman
  • Thanksgiving : buat yang merayakan Natal, pasti tahulah!
  • Setelah Natal : buat yang tidak merayakan natal, toko-toko biasanya mengadakan potongan besar-besaran karena musim ‘belanja’ boleh dibilang sudah berakhir

Selain menunggu hari-hari ‘besar’ di atas, kalau diperhatikan, hampir setiap saat, toko-toko di Amrik selalu saja pasang iklan potongan ini itu :

2016-07-19

Trus, gimana kita tahu dong, potongan mana yang paling OK?

Saya pribadi, kalau mau beli baju terkini, ya tunggu potongan, paling tidak 30%, beberapa toko seperti Ann Taylor, LOFT, The Limited malah berani kasih potongan hingga 50% untuk koleksi terbaru mereka.

Kalau anda tipe penyabar, ya tunggu saja sampai koleksi berikutnya datang, karena itu berarti koleksi sebelumnya harus di korting harga (clearance istilahnya).

Hati-hati juga dengan barang-barang clearance ini, tidak jamin harga selalu lebih murah….Dari pengamatan saya sih, harga barang-barang clerance benar-benar lebih murah kalau ada potongan lagi , extra 60% itu paling TOP deh.

Lagi-lagi saya yang biasa memperhatikan promosi toko-toko yang berbeda-beda, mending tunggu sampai potongan 60% deh.

Itu kalau toko-toko individu ya, kalau toko tipe tipe department store, seperti Macy’s, Dillard, JC Penney, tunggu sampai mereka promosi dan selalu gunakan kupon yang bisa berlaku setelah harga promosi

Selain promosi, kupon, ya kita sebagai pembeli juga harus tahu harga ya.

Kira-kira, mau gak beli kalung seharga $60 misalnya?! Kalau saya sih ogah….ha…..ha…..ha..

Selamat belanja!

 

Saya Itu Tidak Cantik

Kemarin itu entah bagaimana, saya dan rekan kerja membahas tentang pernyataan saya bahwa ‘Saya itu tidak cantik’.

Menurut mereka, saya itu ‘cantik’. “Suri, you are beautiful! You need to know that!

Sementara menurut saya, kalau saya ngaku-ngaku cantik , saya bisa dianggap ‘gelo’ (karena jelas-jelas fisik saya tidak memenuhi standar cantik secara umum)

Gini loh.

Definisi cantik buat saya itu adalah kulit mulus, rambut mengkilap (boleh lurus, boleh keriting), wajah proporsional, hidung bangir, bulu mata lentik, bibir merekah dsb. Seorang perempuan itu dikategorikan cantik itu dimana baik laki-laki maupun perempuan berdecak kagum karena terpesona melihat si subyek.

Perempuan cantik terbiasa di goda lelaki, dikirimi tulisan untuk berkenalan, dipuji setiap saat, diikuti pemuja dimanapun mereka berada.

Adalah kenyataan kalau saya bukanlah perempuan tipe itu. Saya tahu saya tidak cantik, karena saya boleh dibilang tidak pernah mengalami hal-hal seperti diatas.

Saya terbiasa ditolak lelaki untuk kencan kedua, dicuekin lelaki di pesta waktu dikenalkan, atau sama sekali tidak diingat meskipun pernah kenalan. 😉

Oleh ibunda, saya dibesarkan bukan dengan segala pujian bahwa saya cantik seperti Cinderella atau Putri Salju. Ibu tidak pernah repot misalnya mengharuskan saya potong rambut di salon mentereng supaya rambut saya seperti rambut iklan sampo. Saya tidak pernah merasa panik kalau rambut salah potong misalnya, atau alis saya kurang sempurna seperti Brooke Shield, atau bibir saya kurang monyong seperti Angelina Jolie.

Tapi ibu mengajarkan saya untuk berpenampilan apik, bertutur bahasa santun, membuka wawasan pikiran seluas luasnya.

Saya mengerti kalau kecantikan fisik itu tidak abadi dan tidak bisa diandalkan dalam hidup. It’s not my forte.

Meskipun saya tahu saya tidak cantik, tapi bukan berarti saya tidak pernah merasa cantik. (feeling pretty)

Dan bukan berarti saya tidak mau mempercantik diri dengan perias muka.

Setiap perempuan pastilah punya kecantikan diri masing-masing.

Tidak semua perempuan dilahirkan cantik secara fisik, tapi semua perempuan punya kesempatan yang sama untuk merasa cantik di hati dan pembawaan diri.

Salah satu atasan saya sempat berkomentar seperti ini, waktu saya tanya apa wajah saya pasaran ?

You are that exotic Asian girl. You are not like the others. 

Mendengar komentarnya, saya mau tidak mau jadi tersenyum sendiri. 💞💟💞

image

Wajah asli 😇😇

0407160736

 

 

Bertemu Kembali Dengan Teman

Saya ini orangnya boleh dibilang pemalas sosial – bukan anti, cuma malas. dan agak sulit berteman. Kalau ada acara hura-hura dari tempat kerja, saya jarang (atau boleh dibilang tidak pernah) datang.  Kenapa? Pada dasarnya saya cenderung pemalu (kurang PD gitu) dan kurang gaul lah istilahnya.  Kagok kalau harus ketemu orang-orang baru. Bingung mau ngobrol apa ya?

Tapi di sisi lain saya menyadari kalau ‘bertemu orang baru’ dan berteman itu penting buat ‘mental’ dan pergaulan, jadi sering kali saya harus paksakan diri untuk datang ke acara ngumpul dengan teman-teman, meskipun kedernya minta ampun.

Selain kuper, saya orangnya juga sentimental dan agak terlalu berpengharapan tinggi sama orang lain. Gara-gara pengalaman kurang mengenakkan hati, saya tambah menarik diri untuk ‘bergaul’. Bukan sekali dua kali saya semangat mau berkenalan/ketemuan dengan teman baru/lama, tapi di tanggapi dingin saja atau malah dicuekin. Jadilah saya agak-agak ‘patah hati’ dalam hal ‘bergaul’ ataupun bertemanan secara umum.

Justru karena pengalaman kurang mengenakkan yang saya alami, saya jadi amat menghargai usaha teman-teman yang menyisihkan waktu mereka untuk menyempatkan diri ketemuan dengan saya.

Di tahun 2009, kenalan saya waktu stres di kedutaan besar Amerika menunggu proses visa, menyempatkan mampir di kota saya waktu dia dan pasangan ber-road trip ria ke negara-negara bagian di sekitar negara bagian saya. Waktu itu saya tinggal di kota kecil di Montana; Montana sendiri negara bagian yang kurang ‘beken’ lah dan kurang menarik (kecuali kamu senang dengan alam), tapi tho, teman saya ini bela-belain mau ketemuan dengan saya. Dia sendiri tinggal di negara bagian Texas. Kebayang kan lumayan jauh deh!

Awal tahun 2012, kami hampir akan pindah ke negara bagian Texas, di situ saya sempat ketemuan teman waktu sama-sama di Ohio. Masih di tahun 2012, teman saya lainnya dari Ohio memasukkan Kentucky di dalam rute perjalanannya.

Hari Senin lalu, lagi-lagi teman waktu di Ohio menyempatkan diri untuk ketemu saya di perjalanan liburannya menyusuri Ohio dari utara ke selatan.

Senang? Banget!

Meskipun cuma 1-3 jam dan kondisi kadang kurang mendukung (suami barusan kehilangan kerja, saya tidak enak badan, atau hujan turun dengan derasnya saat kami ketemuan) tapi saya amat menghargai teman-teman saya ini bersedia mampir untuk ketemuan dengan saya.

Saat-saat senang seperti inilah yang membuat saya bersyukur akan pertemanan kami dan bisa mengacuhkan pengalaman pahit dengan teman lain.

Yang jelas saya jadi sadar kalau waktu, jarak ataupun frekuensi pertemuan tidak menjamin awetnya pertemanan kita. Seperti kata pepatah dari internet yang saya pinjam :BtjTSCxCIAI6__E

 

Terima kasih ya Dini, Vania, Rai dan Suli+Joe sudah repot-repot mau ketemuan! Mudah-mudahan kita bisa ketemuan lagi ya!

2015-12-31

 

 

Berfoto Dengan Santa

Heh?

Piye tho, wis tuwir gini masih demen fotoan sama Santa???

Dari segi kepercayaan, saya tidak ber-santa-santaan sejak kecil, dari segi budaya campuran saya tidak membesarkan anak saya bersanta-santaan – pertama memang karena segi kepercayaan, tapi sejujurnya dari segi keuangan juga tidak kuat euy (tiap tahun ngantri untuk berfoto dengan santa, membelikan hadiah dari ‘santa’ dsb)

Setelah anak saya agak gedean sedikit, saya agak melonggarkan dia berinteraksi dengan santa.

Kemarin waktu jalan-jalan di pusat kota Louisville, mau foto selfie dengan latar belakang Snoopy eh tahu-tahu ada Santa nongol, ya sudah, jadilah si kecil berfoto dengan Santa, dua kali malah – karena si Santa tiap kali nongol waktu kita mau berselfiean- masa ditolak?

Hari ini ditempat kerja, eh…ada Santa! ya jadilah si Santa di todong kami semua untuk berselfie ria. Dengar cerita si Santa, kalau dia melakoni peran Santa ini setiap tahun dan tidak dibayar! dan dia melakoni dibeberapa tempat, bayangkan dengan Santa di mal yang di bayar $2,000 per minggunya!

Meskipun saya tidak ‘peduli’ dengan keberadaan santa, tapi saya salut dengan si bapak, bersedia menyenangkan hati anak-anak tanpa pamrih!

Gimana dengan kita semua ya?  bisa tidak kita jadi santa tanpa pamrih?

 

 

 

Rindu Batik

Sebelum berimigrasi ke Amerika, saya suka sama batik, tapi cuma memakai batik di acara-acara tertentu saja : undangan perkawinan misalnya. Batik untuk sehari-hari dulu itu selain belum nge-tren, kesannya masih formal. Diantara tenun-tenun tradisional Indonesia, saya memang cenderung lebih dekat dengan batik (maklum ibu ada darah jawanya)Pindah ke Amrik, saya mulai misuh-misuh karena ingin menunjukan nasionalisme dan ‘pamer’ kecantikan budaya Indonesia. Memang dari Indonesia saya bawa 2 kain batik (yang sekarang sudah kekecilan deh), tapi ya itu, karena modelnya seperti kain kebaya kesannya masih formal dan tidak bisa dipakai sehari-hari.

Ingat sekali betapa girangnya saya waktu nemu satu rok batik di butik downtown, harganya kalau tidak salah $40, beli dan disayang-sayang, karena jarang sekali nemu batik saat itu. Lalu pas jalan-jalan ke Iowa di tahun 2008, ketemu rok batik tambalan (patched) di toko barang bekas, beli. Masih di Amrik, nemu motif batik atasan di ROSS, beli.

Pokoknya tiap kali ada ketemu batik, saya coba usahakan beli.

Di Indonesia sendiri batik tambah oke pamornya, semakin banyak orang-orang memakai batik sehari-hari, dan modelnya makin beragam, tambahlah gigit jari saya karena kepengen banget bergaya dengan batik, tapi tidak tersalurkan. (tahun 2005 gitu, belum ada Facebook kan??!!)

Beberapa tahun lalu, saya bertekad kalau sempat mudik lagi, mau beli batik sebanyak mungkin!

Memang waktu mudik Januari 2005 lalu saya dioleh-olehi teman-teman di Indo berbagai batik : taplak, rok, selendang, atasan, pernak pernik lainnya, namanya rindu, tetap saja saya ngiler setiap kali melihat batik.

Nah, berkat Facebook, kerinduan saya terhadap batik lumayan bisa terobati. Lewat FB, saya ketemu rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Amerika yang berjualan barang-barang Indonesia (termasuk si batik!). Dari mulai kerabat sendiri lewat Pretty Batik Boutique, kenalan di Florida : Kedaton, sampai teman ketemu waktu pindah ke KY, Balinesian Ethnic Purses.

Jadilah sekarang koleksi batik saya sudah bertambah…ih senangnya bisa pakai batik di Amrik!

Yuk beli batik yukkkkkkkkkkkk

2015-09-041

Perempuan Itu Takut Jelek?

Di tempat kerja ada anak baru, masih muda, menurut saya sih ya dia lumayan cantik, rambutnya panjang tergerai, bergincu, mata berias warna.

Satu hari dia nunjukin alat pelurus rambut di telponnya, lagi murah, katanya dan dia pengen sekali beli.

Saya cuma nyengir saja, lah, saya itu paling tidak repot dalam masalah rambut. Buat saya, cukup punya rambut dan tidak berketombe, saya sudah senang

Ada sih kepikiran mau di bikin ikal, mau diwarnai, tapi waktu dijalani, ternyata butuh waktu lama…yah batallah keinginan-keinginan tersebut.

Hari lainnya, dia panik bercuap-cuap melihat hujan turun dengan derasnya. Takut rambutnya jadi berantakan. Saya cuma geleng-geleng saja melihat kelakuannya.

Lain waktu lagi, dia sibuk memberi tahu rekan-rekan kerja tentang lipgloss barunya. Memang kelihatan bagus dibibir dia, saking bagusnya dia itu sampai-sampai sibuk cari-cari sedotan karena dia takut kalau minum langsung dari gelas, akan buat pewarna bibirnya pudar.

Mengamati perilaku rekan kerja ini, saya jadi bertanya-tanya…

Apakah semua perempuan itu takut (terlihat) jelek. Benar atau tidak sih?

Atau itu masalah beda generasi? atau masalah bagaimana kita dibesarkan?

Kalau menilik dari pengalaman saya pribadi, perasaan saya, saya tidak pernah seheboh dia waktu saya seumuran dia deh.

Terus terang saya tidak merasa cantik, biasa-biasa saja. Yang jelas memang kudu pakai perias wajah supaya muka terlihat agak enak dipandang, tapi saya tidak pernah ‘kerepotan’ harus terlihat cantik ataupun panik kalau hari ini saya kurang kece di muka publik.

Saya waktu kecil itu cenderung tomboy. Ingat banget difoto rambutku wis kupluk, pakai celana pendek dan sering dikira anak laki-laki. Jadilah ibuku pastikan saya selalu memakai anting-anting.

Kalau mau  motong rambut juga dibawanya ke tukang cukur bukan salon.

Hingga SMP, saya ogah pakai perias wajah, rambut awut-awutan, cuek bebek. Sampai-sampai sepupu-sepupu beramai-ramai membelikan saya gincu dengan harapan saya mulai tertarik merias wajah. Ibu juga mulai kebat kebit dan mengharuskan saya membawa sikat rambut di tas sekolah supaya bisa merapikan rambut saya.

SMA, Kuliah, ya mulai kenal riasan wajah, tapi tidak fasih memakainya, alias ya ala kadarnya dan bukan sesuatu yang ‘kudu’ dilakoni.

Pertama kali saya kerja itu di kontraktor pekerjaan sipil , ya jadilah tambah tidak ada keperluan untuk bermanis-manis ria. Ganti pekerjaan, paling-paling riasan wajah saya ya standar saja, gincu dan bedak (dan kadang maskara kali ya?)

Nah pas pindah ke Amrik, dan kerja di department store, saya mulai kenal riasan wajah lebih komplit karena dapat promosi ini itu. Tapi dalam hal pemakaian saya tetap tidak tergolong heboh.

Sekarang ini saya memang lebih rajin memakai perias wajah dan lebih komplit. Dari mulai serum, pelembab wajah, alas bedak, bedak, pemerah pipi, pelentik bulu mata, pemulas mata. Tapi saya masih kurang ‘rajin’ dalam hal melapisi ulang, cukup sekali pakai di pagi hari, setelah itu ya nasib. He…he….he..

Jangan salah, peralatan rias saya lumayan komplit, tapi tetap saya kurang rajin mendayagunakannya.

Entah apa tipe kulit saya, atau tipe perias yang saya gunakan, tapi koq kayaknya mau mahal atau mau murah, itu bedak, pemulas mata, pemerah pipi kurang mau nempel lama-lama di muka saya…….yang ada ya saya malas gitu repot-repot tiap pagi….harus dipaksain istilahnya

Saya jadi penasaran sendiri, apa saya yang memang ‘ajaib’ , kurang suka berdandan, tidak terlalu peduli masalah rambut kudu terlihat sempurna, kuku tidak harus berwarna, dan seterusnya…

Kemarin itu saya sempat keranjingan mengikalkan rambut ….tapi cuma hangat-hangat tahi ayam…cuma 2 mingguan saya rajin, setelah itu yah..mending tidur lah….;-)

Tapi apa kita, perempuan itu secara insting, pengen terlihat selalu cantik ya????

 

Selingan : Memotret Jahil

Kemarin itu waktu saya lagi di Tampa, Florida, di sekitar hotel banyak melihat belalang gendut-gendut!! (besar-besar gitu maksudnya).

Setelah pertama kali gagal motret si belalang ( kejauhan), melihat foto peserta lain koq kelihatan lebih keren, saya berketetapan untuk mencari si belalang untuk di potret lagi.

Jadilah hari terakhir saya di hotel, iseng-iseng saya nyari si belalang untuk di potret, dan dapat lah potret-potret ini.

Gimana? Keren juga ya?

DSCN1502 DSCN1500 DSCN1503 RSCN1514

Suka Duka Di Amrik : Pekerja Jam-Jam-an

Baru setelah berimigrasi ke Amerika, saya mengenal istilah pekerja jam-jaman dan pekerja gaji.

Pekerja jam-jaman yaitu pekerja yang dibayar berdasarkan jumlah jam yang si pekerja lakoni, ya biasanya pekerja buruhlah, seperti pegawai toko, pegawai bank,pegawai di rumah sakit, dll. Pekerja jam-an ini bisa pekerja paruh waktu, bisa juga pekerja penuh.

Karena sifatnya yang dibayar berdasarkan jumlah jam si pegawai bekerja, dari NOL jam hingga 40 jam (atau bisa lebih, tapi biasanya managemen perusahaan akan ‘ngomel’ kalau pegawai jam-jaman mereka lembur)- bayaran si pekerja ya bisa berbeda-beda setiap kali terima gaji.

Juga pekerja di haruskan mencatat saat mereka mulai kerja dan selesai kerja setiap harinya di timesheet.

Pekerja jam-jaman ini juga rentan terpotong jadwal kerjanya, terutama pekerja ritel. Kalau manager menilah penjualan pada hari itu tidak seperti yang diperkirakan, mereka harus segera memotong anggaran perusahaan yaitu dengan memotong jam kerja si pegawai yang dijadwalkan bekerja hari itu. Jadi kalau awalnya si pekerja di jadwalkan bekerja selama 4 jam, sangat mungkin kalau si pekerja yang ada cuma bekerja selama 2 jam saja.

Sementara pekerja gajian, yaitu mereka-mereka yang gajinya dihitung secara lumpsum per bulannya, dengan standar jam kerja 40 jam per minggu. Sepengetahuan saya pekerja gajian ini sebagian besar pekerja penuh, atau pekerja kontrak. Contohnya suami saya.

Sebagian besar pekerja jam-an menerima gaji setiap minggu atau setiap dua minggu sekali. Sedangkan pekerja gaji, sebagian besar di bayar setiap dua minggu sekali atau 2 kali sebulan : di awal bulan dan di tengah bulan (tanggal 15).

Saya ini termasuk pekerja buruh, alias pekerja yang dibayar per jam, gaji dibayar oleh perusahaan setiap 2 minggu sekali. Tapi karena saya bekerja di dua tempat, saya jadinya terima bayaran setiap minggu, karena jadwal terima gaji saya yang satu dengan yang lain berselisihan.

Ada enak dan tidak enaknya jadi pekerja jam-jaman.

Yang paling tidak enak itu kalau lupa masukkan waktu kerja (clock in dan clock out) dan kelewat tenggat waktu perhitungan gaji. Kenapa? Karena beberapa perusahaan sangat ketat dalam hal pembayaran gaji ini, kalau sudah lewat tenggat masukkan timesheet ya terpaksa kamu dibayar apa adanya, kekurangan jam kerja akan dibayar di gaji berikutnya.

Contohnya saya.

Waktu mau mudik kemarin, saya pikir waktu saya balik saya tetap akan terima gaji cukuplah, karena meskipun saya tidak kerja, saya sudah punya jatah liburan, yang jumlah jam libur per mingggunya boleh dibilanag sama dengan jumlah jam kerja saya kerja.

Saya pikir lagi, karena saya pekerja paruh waktu, manager saya yang harus memasukkan jumlah jam libur saya ke timesheet saya – karena kalau ada libur di kalender, manager saya yang memang harus memasukkan libur kalender itu di timesheet saya supaya saya dibayar.

Waktu kembali ke tempat kerja setelah mudik, saya panik melihat jumlah kerja saya cuma seuncril dan ternyata jam liburan saya tidak tercatat. Ternyata saya salah asumsi, sayalah yang harus memasukkan jam libur saya ke timesheet, bukan manager.

Yaaaaah….apa daya, terpaksalah saya gigit jari selama lebih dari 2 minggu!

Hadweeeh, asli sengsara, karena berarti saya tidak bisa membayar tagihan ini itu seperti yang sudah saya jadwalkan.

Untunglah cuma saya yang pergi berlibur dan suami tidak ikutan, karena berarti kita  masih ada penghasilan dari suami yang bisa bantu untuk hidup sehari-hari…………..

Phew!!??!!