Sering saya bertanya-tanya, apa yang ada di benak Kate Spade, Robin Williams, L’Wren Scott, Anthony Bourdain di detik-detik terakhir mereka sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka.
Keempat sosok ini, boleh dibilang semuanya tidak kekurangan materi, paling enggak, itu anggapan khalayak umum, Kate Spade dan L’Wren Scott, dua-duanya perancang sukses. Dan siapa yang tidak kenal aktor Robin Williams, aktor komedi pula. Anthony Bourdain? Ya pasti tahulah ya.
Mereka bukan cuma terkenal, tapi berhasil dibidang mereka
Tapi mereka semua memutuskan kalau mengakhiri nyawa mereka adalah solusi untuk masalah/penderitaan mereka.
Mungkin mereka dikategorikan high functional depressed person. Jadi meskipun mereka sedang merasakan depresi berat, di depan umum, mereka bisa menyembunyikan perasaan mereka dan bertingkah laku selayaknya.
Mungkin juga mereka sebetulnya sudah “berteriak” ke sana kemari, tetapi orang-orang sekitar mereka tidak selalu ngeh, mawas akan jeritan mereka?
Mungkin teriakan mereka diacuhkan, diremehkan, tidak dianggap serius.
Buat saya pribadi mengakhiri nyawa itu tidak gampang. Pastinya dilakukan penuh kesadaran dan “keberanian”. Dalam arti, kelelahan yang bersangkutan sudah mencapai puncaknya.
Konon depresi itu dialami semua orang. Sebabnya? Mungkin lingkungan, mungkin juga perubahan hormon.
Saya sendiri sering mengalami depresi. Saya mawas diri sekali kapan depresi merayapi pikiran saya, tapi disisi lain kadang saya tidak bisa mengelak.
November, Desember, Januari, Mei dan Juli, bulan-bulan di mana depresi saya nongol. Saat ovulasi, saya akan merasa lebih khawatir, stress yang enggak enggak.
Belum lagi masalah kerja, anggota keluarga. Saya akui hal tersulit untuk saya dalam mengendalikan depresi saya adalah tidak adanya seseorang yang saya bisa percaya untuk saya mencurahkan kondisi depresi saya.
Memang sulit untuk orang luar mengerti tingkat depresi seseorang. Terutama mereka yang boleh dibilang tidak pernah mengalami depresi atau mungkin mereka sudah pada tingkat ‘SUHU’ dalam mengendalikan emosi mereka.
“Mau kamu apa sih?’
Kamu mau saya gimana??! Gak ngerti deh! Kan saya sudah kasih tahu, semua akan baik-baik saja! Mau dikasih tahu apa lagi??
Buat saya depresi itu campuran rasa takut, kewalahan, ketidakpercayaan diri, kekhawatiran akan hal-hal di luar kontrol kita.
Seringkali yang saya harapkan hanya sekedar sentuhan tangan, pelukan dan kata-kata menenangkan dari seseorang yang saya anggap bisa memahami saya.
Tapi kenyataannya saya salah asumsi, tidak akan ada yang bisa memahami saya. Saya harus hadapi semuanya sendiri. Karena orang lain ya gak peduli lah. Mereka punya masalah masing-masing. Belum tentu juga mereka peduli dengan kondisi mental kita yang sedang carut marut.
Andai tindakan mengakhiri nyawa sendiri diperbolehkan oleh hukum. Kalau seseorang wanita diberikan pilihan untuk aborsi, kenapa manusia tidak diberikan pilihan untuk hidup mereka sendiri?