Saya baru sadar kalau akibat dari menikah dengan seseorang yang alkoholik kepribadian saya mengalami pergeseran yang saya tidak sepenuhnya sadari. Saya menjadi seseorang yang codependent.
Memang sebelumnya saya sudah pernah mendengar istilah ini dari terapis pertama saya. Cuma saya pikir karena saya sekarang sudah lepas dari sang alkoholik, saya sudah bebas
Saya baru beneran kejeduk dinding tentang isu saya ya hari ini.
Ternyata enggak. Ya logikanya saya hidup bersama hampir 16 tahun, hidup sendiri baru 4 tahunan, saya memang agak naif kalau berpikir saya sudah reset.
Setelah minggu lalu saya terpicu dimana ibaratnya luka lama saya terkuak lagi,
setelah nangis2, curhat sama orang gak dikenal, curhat sama teman, curhat di 988 dan curhat sama terapis baru….
Si terapis baru ini nyuruh saya baca buku Codependent No More.
Saya memang sudah beli bukunya beberapa tahun lalu, tapi gak dibaca. Untunglah hari gini teknologi sudah canggih, buku yang sama tersedia dalam versi audiobook yang ternyata lebih cocok untuk kepribadian saya. (Mendengar vs membaca)
Saya baru mendengarkan sampai bab keenam, dan barulah saya sadar sesadar2nya efek pernikahan saya terhadap kepribadian saya.
Saya jujur ngeh banget dengan salah satu tabiat saya yang nyebelin, dan ngeh kalau itu gak baik dan harus berubah. Tapi saya gak ngeh apa akar dari tabiat saya tsb.
Nah buku ini membantu saya mengenali akar permasalahan.
Jujur ya. Perkataan abusive yang saya terima selama di perkawinan saya sayangnya masih terngiang-ngiang hingga saat ini.
Dan kalau pas lagi teringat kembali, ya saya nangis lagi.
Beda dengan luka fisik, luka batin gak obat “nyata”. Ibarat penyakit , saya ngerasa ini koq sudah jadi seperti kanker. Ngendon di dalam diri saya. Kadang2 suka kambuh dan kambuhnya bisa parah dan lebih menyakitkan.
Kadang saya suka mikir, apa benar saya kuat dan bisa sembuhkan luka ini?