Boleh dibilang saya itu lumayan nyentrik, kreatif dan artistik. Ceile.
Boleh dong muji karakter diri sekali-sekali.
Tapi ternyata saya juga gak terlalu suka dengan dekorasi ini itu? Nah kontradiksi gak sih?
Apalagi ni ya, di Amerika, haduh, rata2 warlok hobi bener sama yang namanya dekorasi. Tahun baru, balon, topi, terompet, Februari, cinta-cintaan, Paskah, telur hias, kelinci, warna warni pastel, hari-hari Veteran, Memorial Day, Fourth of July, pasang bendera, Halloween dan natal ya tahu sendiri lah.
Nah, saya gak suka. Selain dekorasi di hari-hari perayaan, ada dekorasi sehari-hari. Ini saya lebih pusing lagi, kalau lihat reel2 di IG gitu. Tempat lilin, batu, pot bahkan buku pun ternyata pajangan.
Salah satu barang dekorasi yang saya pernah beli lebih dari sekali itu wreath, itu loh hiasan berbentuk lingkaran yang dipajang di pintu rumah kita. Sempat punya 2, satu bunga-bungaan, satu lagi tema musim dingin. Ternyata? Bosen. Dan males deh harus ganti tiap.
Akhirnya saya sumbangkan lah,
🌸
Tahun 2021, saya pindah ke apartemen sendiri. Teman-teman banyak yang sumbangkan ini itu ke saya. Salah satu sumbangan yang saya terima adalah bunga-bunga kertas.
Lagi-lagi kan, saya gak suka dekorasi, agak bingung, ini enaknya diapain ya? Akhirnya saya pajang dengan cara saya masukkan ke vas bening sebagai ya dekorasi.
Satu saat di tahun 2023, saya kepingin bikin bingkai bunga untuk acara bertema pengantenan salah satu teman Indo, Kepikiran mau beli wreath bekas yang banyak bunga2annya. Jadilah saya beli di toko barang bekas. Bingkai bunga jadi, dipakai sebagai Photo Booth ala ala gitu deh. Setelah acara selesai, diapain ya? Masa dibuang? Sayang kan? Jadilah saya pakai untuk hiasan dinding untuk memajang topi saya yang juga bermotif bunga.
Bunganya memang terpakai, bingkai bunga terbuat, dan fungsinya diteruskan, tapi trus wreath nya bego aja gitu. Terbengkalai.
Hingga satu hari di tahun 2024 saya dan teman-teman pergi ke perkebunan buat petik bunga Lavender. Harga tiket itu sudah termasuk bunga Lavender berbagai jenis segenggam tangan.
Sampai di rumah, saya mikir, diapain ya bunga-bunga Lavender ini? Eh…kan punya wreath?
Eng ing eng, jadilah saya punya wreath hiasan bunga Lavender asli yang saya pajang di depan pintu apartemen saya.
🌷
Bulan Juni 2025, pas lagi wara-wiri di Pittsburgh, saya sempat mampir di toko yang jual bunga-bunga kering. Ih..lucu banget. Sebelum mampir di toko ini, saya memang sempat pernah beli rangkaian bunga/tanaman kering pas ada acara Made Market di kota saya. Ada warna jingga cerah, kuning, putih dan merah jambu gitu. Saya cuma sanggup beli yang ukuran kecil, karena ternyata mahal juga.
Nah toko di Pittsburgh ini jelas lebih komplit lah ya dan ragamnya lebih banyak. Dari situ sempat kepikiran dalam hati, ih, pengen juga punya rangkaian bunga-bunga kering.
Tapi trus ya itu, bosan saya kumat. Si rangkaian bunga kering yang saya beli, ya saya taruh di vas sih. Tapi saya merasa gak ‘seindah’ yang saya bayangkan. Kalau pas saya lihat , saya gatel , pengen diapain ya , tapi belum ada ide.
Wreath saya sudah mulai layu, bunga-bunga Lavendernya sudah tidak ungu lagi, dan banyak yang rontok. Celingak celinguk, gimana mau meng– update si wreath?
Tiba-tiba terpikir. Kan saya punya bunga-bunga kertas yang lucu tapi gak ‘tergali’ potensinya? Kan saya punya tanaman-tanaman kering yang nangkring di sudut tidak pernah bisa nampang cantiknya? Kan saya juga masih punya sisa bunga Lavender yang warnanya masih lekat?
Jadilah cuti hari Selasa minggu ini, saya wujudkan ide diatas.
Dan ini hasilnya!