Month: December 2020

Belajar Mengelola Uang Yuk!

Kawin sama bule ganteng sudah.

Tinggal di luar negeri sudah.

Tampak keren pakai sepatu boots dengan latar belakang salju di musim dingin atau foto cipokan di pantai, sudah.

Ngomong “ke-Inggris-inggrisan sudah.

Punya anak wajah pemain sinetron sudah.

Halan-halan ke Disneyland, ke outlet sambil nenteng tas belanjaan segabruk, sudah.

Nenteng tas minimal Coach, Kate Spade, Tory Burch, sudah. Sukur2 punya Louis Vuitton, Channel, Gucci, Prada.

Nyetir mobil lambang bintang 3 dalam lingkaran, Be-eM-We, Tesla, Audi, sudah.

Selamat ya. Impian sudah tercapai ya?

Nah sekarang coba lihat.

Tabungan atas nama kamu pribadi berapa?

Investasi atas nama kamu pribadi berapa?

Aset atas nama kamu pribadi berapa?

Kalau situ sudah bisa menjawab pertanyaan2 diatas dengan angka2.

Selamat. Anda di jalan yang “benar”

Kalau situ jawabnya:

“Idih..ngapain saya mikirin hal2 diatas? Suami saya kan bule. (Gak ada hubungannya)

Suami saya kan kasih saya semua yang saya mau.

Ah..beruntung sekali dikau, selamat yaaa…. tapi sekali lagi. Pertanyaan2 di atas valid loh.

Saya orangnya bukan tipe perencana ya. Gak ada tuh ceritanya dari awal saya punya rencana 5 tahunan, 10 tahunan dst.

Jadi amat wajar kalau banyak teman2 yang gak ngeh ya, kalau pertanyaan2 diatas itu penting.

Gini. Saya nulis ini bukan nakut2 in teman2, terutama teman2 yang baru mau mulai proses pernikahan dengan mas bule nya.

Tapi semata2 mau berbagi topik yang faktual banget dan nyata.

Inget gak heboh si neng celeb di IG live tahun 2019?

Intinya kita sebagai imigran sangatlah mungkin berada dalam kondisi “susah”: suami bule impian kita ternyata gak seindah harapan. Ada yang segera terlihat di awal2 hubungan, ada yang baru terlihat setelah sekian lama…

Masalahnya macem2 ya. Dari mulai kdrt, pecandu, suka main dan buanyaak lagi.

Saran saya cuma satu: Persiapkan diri untuk menghadapi musibah.

Ada beberapa saran yang saya mau tulis disini. Ini cuma saran loh ya, berdasarkan pengalaman saya pribadi dan dengar cerita teman2.

1. Sekaya apapun mas bule kamu, coba deh kamu cari penghasilan sendiri. Punya penghasilan sendiri itu membanggakan loh. Seberapun gajinya.

2. Kalau kamu punya penghasilan sendiri, dan mas bule tetap mau bayarin hura-hura kamu, coba tabung saja penghasilanmu itu.

3. Mas bulemu super baik? Super kaya? Pastikan kalian punya asuransi jiwa yang cukup buat bayar KPR rumah (kalau ada rumah yg belum lunas) ongkos pemakaman, hutang2.

4. Bangun angka kreditmu. Terutama di Amerika, angka kredit ini hubungannya bisa ke tempat tinggal, cari kerja.

Almarhum ibu sempat menasehati saya untuk buka rekening atas nama saya sendiri.

Kenapa gitu?

Sering kali pasangan kita ceroboh dalam mengelola uang atau cara mengelola uang mereka gak klop sama cara kita.

Juga kata beliau, dengan punya rekening sendiri, kita tahu kalau kita ada cadangan di luar penghasilan mas bule. Dan kita juga gak harus merengek-rengek kalau kita mau beli sesuatu.

Dengan punya uang sendiri yang kita sisihkan, kita tahu kalau kita harus bercerai misalnya, kita ada uang, baik itu uang untuk sewa pengacara dan memulai hidup sendiri, atau uang buat “kabur”

Kata teman saya yang notabene orangnya sangat planned ahead, paling enggak kita punya simpanan yang cukup buat ongkos pulang ke Indo right away dan ongkos hidup di Indo tanpa kerja selama 3-6 bulan.

Saya pribadi sadarnya belakangan ya. Baru belakangan ini, saya “beberes” keuangan.

Mudah2an lain kali saya bisa berbagi lebih detail tentang gono gini keuangan sebagai imigran, istri bule yang gak the haves 😘

Jalan-Jalan : Ke French Lick, Indiana

Hadewhhhh…pandemi bikin saya “gatel” pengen keluar.  Masalah Covid-19, saya pribadi orangnya lebih relaks dibanding anak dan si bapak. Dalam arti, saya gak paranoid kalau ke tempat umum, tapi anak dan si bapak lebih milih buat gak ke tempat umum sebisa mungkin. Beberapa kali saya ajak pelisir, mereka berdua gak mau.

Saya kan ambil cuti akhir tahun, setelah maksa, akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan ke French Lick, Indiana dan nginap di West Baden Springs hotel.

Kami sebelumnya sudah sering mampir di hotel ini, tapi gak pernah nloginap. Dan kami jatuh cinta banget sama ini hotel ini. Jadi keputusan untuk menginap disini, boleh dibilang win-win lah.

Hotelnya hotel tua ya, tapi keren abis. Karena atriumnya itu atrium terbuka dengan kubah raksasa, yang pas jaman ini hotel dibangun, sekitar 1900, struktur seperti ini langka.

Atrium lobi hotel West Baden Springs

Yang bikin saya tambah senang, pas saya baca2 situs hotel, hotel ini ternyata pet friendly hotel. Jadi saya bisa bawa anjing saya !!

Kami berangkat hari Minggu, tanggal 27 Desember 2020.  sekitar jam 2 an. Perjalanan ke French Lick dari tempat tinggal kami itu kira2 1.5 hingga 2 jam an.

Sampai di lokasi, kami langsung bisa masuk kamar. Karena kami bawa anjing, kamar kami di lantai 2, yang memang khusus untuk tamu2 yang bawa binatang peliharaan mereka.

Jendela kamar kami dari lobi, itu anjingku lagi nyariin aku dari kamar

Dari hotel, anjing kami di beri mangkok air/makanan, treat dan kantong 💩.

Kunci kamar bergambar foto hotel

Hari ini, kami niatnya cuma leha2 dikamar dan nikmati alunan musik piano di lobi.

Senangnya dengerin alunan piano dan pergantian lampu di lobi

Untuk makan malam, kami makan di rumah makan, Ohana, pusat kota French Lick. Karena masih suasana Natal, baik di kota maupun di hotel banyak hiasan lampu2.

Pas balik, si anak laper lagi, jadilah kami pesan makanan dari room service, sup bawang dan coklat brownie.

Supnya enak, brownie nya juga enak, gak terlalu manis -saya makan tanpa frosting.

O iya, kamar kami menghadap ke atrium,  jadi kami bisa lihat atrium kapan saya, bahkan bisa nikmati alunan musik dari pemain piano di lobi.

Hari Senin, 28 Desember 2020

Setelah mandi, kami pesan makanan dari resto di lobi hotel. Karena kami bawa anjing, kami tidak bisa duduk makan di tempat yang disediakan resto, tapi bisa makan di tempat duduk yang tersebar di lobi.

Semalam kami putuskan, kalau hari ini kami akan lihat stables di belakang hotel dan akan hiking ke Hemlock Cliffs.

Saya sebenarnya pengen banget horse back riding ya ($45 per orang. 45 menit), cuma anak saya gak mau..ya sudahlah..jadi kami cuma lihat2 kuda saja.

Sebelum ke lokasi hiking, kami sempatkan mampir ke French Lick Wine Distillery .  Karena gak niat2 amat, saya iseng wine tasting , saya pilih $4 buat icip 5 jenis minuman anggur.

Saya sudah pernah wine tasting sebelumnya, jadi agak2 ngeh gitu. Saya bilang kalau saya senangnya minuman anggur yang “manis”. Waktu dikasih daftar minumannya, si mbak kasih tahu mana kira2 yang saya suka.

Dari 30 jenis minuman anggur di daftar saya pilih: French Tickle, Pretty in Pink, French Lick Red, Blueberry dan Mon Cheri.

Tapi sama bartendernya, saya dikasih tambahan 2 :Moscato dan Tropical Frost.

Ternyata,  saya suka sama French Tickle , anggur dari jenis anggur Catawba dan berkarbon, alias fizzy dan Blueberry, anggur dengan rasa blueberry….

jadilah beli making satu botol. Mahal juga ih. Ya gpp lah, sekali setahun….

Hasil icip2 minuman anggur

Setelah icip2, kami menuju ke Hemlock Cliffs. Dari app All Trails, trail yang saya pilih ini dikategorikan cocok buat anak2, boleh bawa anjing, ada air terjun dan jaraknya cuma 1.2 mil.

Hasilnya?! Ini boleh dibilang salah satu trail favorit saya! Gak terlalu terjal, meskipun ada beberapa bagian trail  yang kami harus ekstra hati2 , biar gak jatuh, gak terlalu berbatu atau berlumpur. Banyak tebing2 unik yang kita bisa explorasi.

Selesai hiking, kami balik ke hotel.

Leha2 lagi di lobi sama anak saya…

Selasa, 29 Desember 2020.

Hari ini kami check out ya. Nah, saya pikir, masa sik, sudah nginap di hotel yang pet friendly yang bahkan ada menu makanan khusus buat si anjing, saya gak pesan? Jadilah saya pesan daging gulung ala Mosses (Mosses Meatloaf) untuk sarapan anjing saya di hari terakhir kami disini.

Anjingku makan dengan rakusnya

Setelah check out, kami mampir di indoor go karting. Sebelumnya kami sudah pernah main gokart di sini, dan anak saya selalu suka. Jadi ya mumpung disini, kami sempatkan main.

Selesai main go-kart, kami lanjutkan ke Wilsten drive thru safari . Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena mereka tidak memperbolehkan anjing selama di DT.

Nah..pas saya dan anjing saya nunggu si anak dan bapak ber DT, kami nongkrong depan kandang kanguru. Lucu banget sih kanguru ini, saya pikir.

Selfie sama kanguru dari luar kandang

Pas si anak dan bapak balik dari DT ria, saya bilang kalau saya mau ‘main’ dengan kanguru dan kasih makan jerapah.

Untuk main dengan kanguru, pengunjung cukup bayar $7.50. Di kandang kanguru, selain kanguru, ada Llama Hiram bernama Pacman, 2 rusa, satu laki namanya Guy dan satu cewek, Naomi. Dan ternyata si Guy ini asalnya dari Indonesia!

Si Guy ini anteng banget, gak keberatan di elus2. Kalau si Pacman jahil. Sementara kanguru2 yang bersliweran, ada satu, Sydney yang memang demen dielus2.

Jadilah saya selfie an dong sama Sydney dan Guy…

Buat kasih makan jerapah, pengunjung tinggal beli wortel $2. Saya tadinya gak yakin bakal bisa kasih makan si jerapah, habis saya berasa pendek banget. Tapi ternyata si jerapah bisa nyamperin wortel di tangan saya tanpa masalah…🤩

Setelah wortel ditangan habis, kami kembali ke Louisville, KY.

Meskipun singkat, kami cukup senang dengan pelisiran pendek kami kali ini.

Covid-19 jelas membuat banyak hal2 yang berubah ya. Contoh : kamar kami tidak di bersihkan setiap harinya. Kalau minta ganti handuk, sampo, sabun, botol air, tamu harus minta. Hotel hanya untuk tamu hotel (sebelum Covid-19, bukan tamu hotel boleh masuk). Pas masuk ke area hotel, temperatur kami dicek, nama kami di lihat di daftar kamar mereka, lalu kami diberikan gelang kertas untuk keluar masuk hotel. Gelang kertas ini harus diganti setiap harinya. Masker jelas harus dipakai selama tamu2 wara wiri di ruang umum. Masuk lift, disarankan satu grup. Ribet ya?

Memang sik..tapi kebanyakan tamu2 mentaati aturan koq. Jadi ya saya pribadi gak terlalu khawatir.

Teman2 ada yang pelisir saat Covid-19?

Bermesraan dengan Guy, rusa dari Indonesia

Kamu Punya Terapis Mental?

Saya punya.

Idih. Ngapain pakai ketemuan sama terapis?

Nggak percaya Tuhan ya?

Gak suka shalat sik?!

Makanya berdoa!

Masak gitu aja butuh terapis?

Begitu kali ya komentar kebanyakan teman2. Ya gak apa2 juga sik. Pilihan kalian buat berkomentar.

Jujur saya disini merasa sangat kewalahan karena semua2nya harus saya lakoni sendiri. Dalam arti, saya tidak ada ortu atau sanak saudara yang saya bisa datangi / hubungi sesegera mungkin.

Teman2? Ya ada sik. Cuma pernah saya curhat gitu, tapi reaksinya nyakitin aja, yang ada saya ciut hati.

“Apa susahnya cerai?” (Memang situ mau bayarin ya?)

“Namanya lelaki, nafsunya lebih gede”

“Itu kan memang tugas kamu sebagai istri” (si suami make piring , tempat tidur, kamar mandi dsb juga kan??!)

Ya udah sabar aja…(beli dimana ya si sabar ini?)

Dan…seterusnya…

Yang ada saya tambah emosi. Tambah marah. Kheki.

Saya butuh “orang ketiga” tempat saya cerita apa adanya. Orang ketiga yang “waras”, tidak bias, punya latar belakang/pengetahuan ilmiah tentang mental, perilaku manusia atau istilahnya psikologi.

Orang ketiga yang tujuannya membantu saya menjadi versi yang lebih baik, tanpa menghakimi saya.

Orang ketiga yang saya tahu tidak akan comel sama cerita saya atau sibuk nyebar gossip.

Setelah capek dicela sama teman sendiri, dan curhatan saya dijadikan bahan gunjingan sedap, dan juga menyadari kalau kesehatan mental saya menurun drastis. saya putuskan untuk cari terapis.

Dari terapis, saya belajar meluangkan waktu untuk saya sendiri. Dari terapis saya belajar untuk menyibukkan diri dengan hal2 yang positif . Dan yang paling penting, saya belajar mengenali diri saya sendiri.

Buat saya punya terapis itu perlu banget, terutama buat mental saya.

Teman2 pembaca ada yang punya terapis?

Kecintaan Baru : Sukulen

Tahun 2019, saya diajak teman ikutan kelas bikin terrarium. Dari hasil kelas yang saya ikuti, saya bawa pulang gelas berisi 3 tanaman jenis sukulen.

Saya benernya skeptis banget tanaman saya akan terus hidup,  soalnya saya boleh dibilang pembunuh tanaman.

Eh. Ndilalah,  tanaman2 di terrarium ini tetap hidup, tumbuh jadi besar malah!

Secara saya taruh di ambai jendela pas musim dingin dan boleh dibilang saya cuekin.

Lihat deh foto dibawah ini, tanamannya sampai mencuat keluar toples.

Saya jadi semangat! Ternyata sukulen ini “bebal” sama saya!!

Nah, sejak itu saya jadi kesengsem sama tanaman sukulen ini. Mulailah saya beli ini, itu, nyobain media yang berbeda2 buat pot tanaman2 sukulen saya.

Pot tanah liat, pot keramik, pot kaca, pot metal, pot gantung pakai sabut kelapa, pot rotan,  terrarium.

Jadi sukulen2 ini yang saya perhatikan,  penampilannya berubah tergantung : suhu, pengairan, kadar matahari yang didapat dan juga media.

Contohnya si kiwi, pas pertama beli, saya taruh di pot tanah liat, wuih sumringah dia. Trus, saya sempat pindahkan ke pot lain…loh koq “sekarat”? Daun2nya mengurus gitu?!

Jadi saya pindahkan lagi, sekarang dia kembali sumringah. Meskipun belum balik membara lagi..

Satu tanaman sukulen bisa berubah warnanya, ada yang jadi “membara” kalau kena banyak sinat matahari, ada juga yang merona malah di musim dingin.

Saya paling demen sama sukulen yang di ujung daunnya atau pinggir daunnya berwarna merah jambu atau bertitik merah jambu. Imut banget!

Saya juga belajar nama2 mereka. Ada sedum, ada crassulla, aloe, aeonium dll. Saya belum berhasil menumbuhkan tipe crassula. dan sedum.

Kiwi, yang saya sebut sebelumnya itu tipe aeonium. Lidah buaya tipe aloe.

Tipe Crassulla

Sejauh ini favorit saya adalah Echeveria, yang banyaaaak jenisnya. Echeveria ini mudah dikenali karena bentuknya yang seperti bunga mawar.  Dan banyak Echeveria yang berwarna ungu, warna favorit saya.

Echeveria mudah berkembang dan cenderung gak rewel, tapi tetep saya masih sering gagal bikin dia sumringah.

Salah satu yang bikin saya kaget waktu saya mulai hobi ini adalah, ternyata mereka bisa berbunga loh!!

Dan yang bikin saya bangga adalah, salah satu Echeveria saya sempat berbunga!! Tadinya saya pikir, cuma “beranak”, yang saya cukup senang lah

Bayi sukulen di bawah “ketek” si ibu

Tapi pas saya ngeh kalau itu bunga, saya lebih girang lagi! Dua kali loh sukulen saya berbunga!

Semua tanaman2 saya, saya taruh di balkon.  Tapi masuk musim  dingin saya masukkan mereka ke jendela di kamar tidur, komplit dengan lampu pertumbuhan untuk menolong mereka dapat sinar yang cukup.

Memang susahnya tinggal di negara 4 musim tapi mau bertanam sukulen ya begini. Kecuali kita tinggal di CA, NV,AZ FL, yang boleh dibilang gak dapat salju, ya pas musim dingin harus selalu masukkan tanaman2 ke dalam rumah.

Saking demennya saya sama si sukulen, saya langganan kotak tiap bulannya dari Succulent Studio. Setiap bulan saya bayar $16.50, untuk 2 tanaman sukulen.

Baru2 ini saya ikutan IGlive salah satu profil penjual sukelen di IG dan beli dari mereka.

Yang jelas setiap hari, saya selalu tengokin tanaman2 saya. Melihat mereka tumbuh, berbunga dan beranak itu menyenangkan loh.

Teman2 ada yang hobi sama seperti saya?

Cerita dong pengalamannya!