Depresi Apa Sik?


Topik tentang kesehatan mental saya perhatikan masih salah satu topik yang tabu untuk diperbincangkan sesama kita.

Apalagi kalau si penderita mencetuskan kalimat ingin mengakhiri hidup mereka, mengganggap hidup mereka tidak berguna, merasa depresi, tidak punya keinginan untuk hidup.

Memang sih topik ini berat ya dan gak semua orang mengerti ataupun memiliki kapasitas untuk memberi tanggapan yang layak.

Sebagian besar tanggapan orang-orang lebih sering terdengar seperti ini:
‘Ah masa gitu aja pengen bundir’ atau

‘Ngapain sih depresi cuma gara2 diputusin pacar?’ atau

‘Cari kegiatan gih’ atau

‘Cemen banget sih lo’ atau

‘ah, paling lo cuma sedih doang, ntar juga ilang’ atau

‘Nanti saya bilang apa ke keluarga dan teman2 lain kalau kamu sampai nekat bundir?’

Sebagai seseorang yang pernah mengalami depresi, jujur, kalimat-kalimat diatas tidak jadi membuat saya menjadi berkurang  depresinya.

Karena sering kali yang bersangkutan tidak punya kuasa akan rasa depresi yang dialami.

Apakah kami (yang sedang depresi) mau gitu mengalami depresi? Ya jelas enggak!

Apa kami yang sedang depresi gak gemes pengen gak depresi lagi? Oh pastinya!

Tapi saat depresi lagi tinggi tingkatnya, mental  kami  benar-benar terasa ‘lumpuh’ dan kami tidak punya kekuatan untuk keluar dari kondisi depresi.

Seringkali kami ‘ngerti’ kalau kami sedang menderita depresi,  tapi untuk keluar dari kondisi tersebut , kami seakan-akan tidak berdaya, depresi ibarat rantai yang membelenggu fisik , pikiran dan mental kami.

Jadi gimana dong cara menanggapi seseorang yang membuka dirinya dan mengakui mereka sedang depresi?

Akui perasaan mereka. Meskipun kita gak ngerti kenapa mereka depresi. Meskipun untuk kita, “alasan” mereka depresi tidak masuk akal.

Mungkin tanyakan. Apa yang kita bisa bantu? Sekedar mendengarkan? Apakah rekan kita butuh dirangkul?

Kalau kita sendiri tidak punya kapasitas mental untuk mendengarkan keluhan si penderita, lebih baik akui dan kemukakan baik2. Trus mungkin sarankan untuk curhat ke hotline.

“Saya lihat sepertinya kamu sedang mengalami depresi ya. Yuk cari pertolongan, soalnya saya sendiri mentalnya lagi kurang kuat untuk mendengarkan kamu. Tapi saya peduli sama kamu dan gak mau ninggalin kamu dalam keadaan ini”

Kalau di Amrik ada beberapa hotline untuk curhat istilahnya. Saya gak tahu kalau di Indonesia ada atau tidak.

Idealnya berdialog dengan terapis profesional ya. Tapi gak semua orang punya akses untuk ke terapis.

Saya pribadi bersyukur punya akses untuk ke terapi. Rata2 harga kunjungan ke terapi bisa $60 hingga hampir $200. Gak murah kan?

Kalau tingkat depresinya berat sekali, mungkin harus dibantu dengan obat atau bahkan dirawat di rumah sakit untuk “istirahat” dari hidup dengan aman.

Jangan juga derita depresi seseorang dijadikan bahan gunjingan ya.

“Ih. Si A bilang kalau dia depresi. Itulah gak kenal Tuhan sik/kurang ibadah/sesat dsb “

Kalau kita benar-benar gak bisa menolong yang bersangkutan, sepertinya berdiam diri lebih baik daripada berkomentar yang kurang layak.

Ada pepatah ni

Be Kind

Everyone you meet is fighting a battle

you know nothing about

Untuk teman-teman yang mungkin sedang gundah, sedih, bingung, linglung bahkan depresi,  saya bisa mengerti beratnya.

Mudah2an bisa cari jalan keluar ya. Kamu gak sendiri.

Leave a comment