Mengakui Kesalahan Itu Susah Ternyata

Minggu ini di kerjaan, saya deal sama masalah nyebelin dengan institusi keuangan lain, katakanlah bank S

Pertama saya hubungi mereka karena ada kasus transfer uang yang nama penerima tidak sesuai. Mereka jawab dengan “Nasabah kami menyatakan tidak ada isu”.

Saya harus tekankan lagi ke mereka kalau nama penerima berbeda, mereka dengan ogah2an bilang. “Ya gimana dong, nasabah bilang gak ada masalah koq?”

Yang ada saya Google nama nasabah dan telpon sendiri. Setelah saya jelaskan detail, si konsumen setuju untuk mengecek lebih dalam, dan benar saja, transfer memang sengaja dialihkan ke akun lain.

Jadilah saya minta dokumen resmi dari Bank S. Bolak balik email, perwakilan Bank S tiba2 bilang. “Untuk apa dokumen tsb?”.

Lah bingung lag saya. Ya mbok ya bilang kalau situ gak paham prosedur seperti ini? Jadilah saya jelaskan panjang lebar , bahkan saya kasih contoh bentuk dokumen.

Tunggu punya tunggu, koq dokumen gak dikirim2 ya? Jadilah saya tanya lagi. Kapan dokumen akan di kirim. Dijawab. Transaksi tidak pernah terkirim?!?!

Hadweeeuhhh…capeee deh..jadilah saya harus kasih screenshot kalau transaksi ya sudah tercatat di sisi saya.

Tunggu sehari, akhirnya dokumen dikirim. Hadwwwuhhhh…pengusiannya ajakadul gak karuan! Bagian2 yang harus disini, banyaj yang masih kosong.

Yang ada saya harus bikinkan langkah2 bagaimana mengisi dokumen. Satu hari lagi lewat begitu saja. Bank S kirim lagi dokumen, dan masiiiiiihhhb juga salah .

Saya jawab lagi kalau pengisian dokumen tidak benar . Lah ..si Bank S ngotot, jawab kalau mereka sudah mengisi seperti apa yang saya mau. Jadilah saya screenshot, highlighted kesalahan mereka yang segambreng!

Setelah sekian ribu komunikasi bolak balik, akhirnya dokumen terisi dengan benar…..

Disitu saya ngeh. Eh..perwakilan Bank S gak ada kata2 “maaf” sama sekali padahal jelas2 dia salah…..

Apa keq bilang. Mohon maaf atas kesalahan pengetikan. Mohon di kaji ulang dan beri tahu kalau ada yang perlu di perbaiki?

Kejadian kedua.

Ada kredit internal masuk ke akun nasabah yang kasusnya saya kerjakan. Saya gak ngerti kenapa koq ada credit ya? Jadilah saya tanya ke rekan kerja yang memasukkan kredit. Ini buat apa ya?

Setelah diskusi panjaaaaang, akhirnya dia setuju kalau kredit tidak seharusnya masuk ke akun ini. Dia salah membaca data intinya.

Dan lagi2, tidak ada ucapan. Oh, benar juga ya. Aku salah. Kredit ini gak seharusnya masuk akun ini?

…………………

Sepertinya koq jaman sekarang yang namanya mengakui kesalahan itu langka banget ya???

Dari hal2 sepele dan sehari2 seperti salah sebut nama tempat misalnya, sampai hal2 yang lebih serius, di hubungan, di tempat kerja, buat sebagian besar orang ternyata mengakui kesalahan itu GAK BANGET?

Padahal loh ya, yang namanya membuat kesalahan itu ya wajar.

Dari melakukan kesalahan, kita belajar. Kita jadi lebih ngerti, lebih sadar.

Dan juga ya, mental kita beneran harus di latih buat own our mistakes, gak usah nyalahin orang lain (melulu)

Bener gak sih?

Menurut teman2 gimana?

Leave a comment