kerja

Belajar Yuk: Fasilitas-Fasilitas di Tempat Kerja

Seperti perusahaan2 di Indonesia, perusahaan di Amerika juga pastinya memberikan karyawan2 mereka fasilitas2 diluar gaji pokok.

Fasilitas-Fasilitas yang disediakan setiap perusahaan itu berbeda2 ya, ini juga yang kita harus jeli dan mengerti sebelum memutuskan untuk mengambil pekerjaan dan juga supaya kita bisa memanfaatkan sebaik2nya fasilitas2 yang disediakan.

Saya coba tuliskan fasilitas-fasilitas yang saya tahu ya. Detail masing2 fasilitas rencananya akan Saya coba bahas satu2 di tulisan berikutnya. Atau paling enggak, saya akan bahas yang “penting”

1. Cuti liburan dibayar atau paid vacation times

2. Ijin Sakit atau Sick Days

3. 401K

4. Saham

5. ROTH IRA

6. Pensiun

7. FMLA

8. Cuti Hamil

9. Biaya edukasi ditanggung

11. Alokasi “belanja”

10. Asuransi Kesehatan

12. Bonus

13. Komisi penjualan

14. Hari2 besar dibayar atau paid holidays

15. Gaji elektronik dan pilihan untuk mendepositikannya ke lebih dari satu rekening

16. Lembur

17. Diskon Perusahaan

18. Diskon Pegawai

19. Penghargaan Masa Kerja

Yang paling umum yang sebagian besar perusahan2 disini berikan adalah

1. Asuransi kesehatan

2. Cuti pribadi

Jenis perusahaan tempat kita kerja dan status kepegawaian kita akan mempengaruhi jenis2 fasilitas yang akan kita dapat.

Contoh. Perusahaan besar, multi nasional atau perusahaan pribadi. Perbankan atau ritel atau manufaktur dsb.  Kerja penuh atau kerja paruh waktu atau kontrakan. Pegawai atau pekerja independen. (Contoh agen penjual rumah, agen asuransi, pekerja konstruksi)

Secara umum, sebagian besar perusahaan menyediakan fasilitas2 ini untuk pekerja yang statusnya penuh (full time) , sementara pekerja yang hanya paruh waktu atau kontrak biasanya fasilitas yang didapat tidak semuanya,  atau bahkan tidak ada fasilitas sama sekali.

Intinya selain masalah gaji, kita sebagai pelamar juga pinter2 nanya apa fasilitas yang perusahaan sediakan buat pegawai mereka. Jangan terpana sama gaji doang!

Pernyataan Sanggahan: semua tulisan saya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya pribadi atau berdasarkan penjelasan verbal langsung dari pihak kedua yang diberikan ke saya.

Jadi pasti ada kemungkinan information yang saya berikan kurang tepat atau kurang lengkap.

Kalau ada pembaca yang mau menambahkan informasi, silahkan komentar loh.

Terima kasih!

Cihuy Saya Dapat Penghargaan

Sekitar bulan Oktober tahun 2014, kantor cabang tempat saya bekerja menyelenggarakan acara. Disitu saya ketemu rekan kerja dari cabang lain. Ngobrol punya ngobrol dia celetuk ‘Eh, kamu ada di daftar 3 besar loh’. Saya dengarnya bingung. ‘Tiga besar apa gitu?’. Tapi saya tidak sempat bertanya lebih lanjut ke si rekan karena kita larut dalam acara saat itu.

Beberapa hari setelah acara lewat, saat saya baru datang ke tempat kerja, atasan saya memanggil saya dengan wajah serius. Dia bilang ‘S, kamu ada masalah’, waduh langsung ketar ketir saya dengarnya, eh tahu-tahu muka si atasan berubah berseri-seri, dia bilang ‘S, kamu di rangking 3 besar di penilaian kinerja tahunan!!’

Saat itu saya cengengesan saja, karena kurang mengerti tentang penilaian kinerja ini. Setelah saya baca, baru saya tahu apa yang atasan saya bicarakan. Intinya setiap tahun perusahaan menilai kerja pegawainya : berdasarkan jumlah penjualan dan penilaian pelanggan. Nah di wilayah tempat saya bekerja (ada 13 kantor cabang), ternyata saya ‘lolos’ babak penyisihan. Karena ini baru bulan Oktober, rangking saya bisa berubah di akhir tahun, bisa-bisa saya malah tidak masuk daftar 3 besar lagi.

Meskipun saya senang juga, tapi saya ogah ke-ge-eran. Saya pikir ‘halah, belum tentu juga. Wis lah, santai saja’. Yang ada saya menolak kalau ada rekan membicarakan daftar ini. Akhir tahun masih jauh, many things could happen.

Masuk tahun 2015, tidak ada kabar berita tentang penghargaan ini. Ya sudah saya diam saja, saya asumsikan saya tidak lagi masuk daftar teratas.

Maret 2015, awal bulan kita kumpul untuk ikutan rapat dengan pimpinan wilayah. Di situ saya dengar pengumuman resmi kalau saya adalah pemenang penghargaan MARKET ALL STARS 2014 dalam kategori ‘Teller’.  Wah senang sekali, karena waktu awal saya bekerja di bank 2012, saya benar-benar bloon dan tidak punya pengalaman di perbankan sebelumnya. Sukurlah saya mampu berprestasi dalam jangka waktu tidak terlalu lama.

Untuk penghargaan ini saya di undang ke makan malam bersama pemenang lainnya di bulan Mei 2015.

Setelah pengumuman itu, atasan saya sekilas bilang ‘Kamu bisa dapat Circle of Excellence’ – haduh apa lagi gitu? saya kurang mengerti. Setahu saya CofE itu ibaratnya dari sekian banyak pemenang MARKET ALL STARS, perusahaan akan pilih satu dari masing-masing wilayah. Saya pikir ‘Yah tidak mungkin lah..mimpi kali…’ . Dapat penghargaan MARKET ALL STARS saja saya sudah senang koq.

Eh……bulan April 2015, pimpinan wilayah datang ke kantor cabang saya dan beliau mengumumkan kalau saya adalah peraih penghargaan Circle of Excellence 2015!!! Percaya tidak percaya rasanya!

Hari ini saya mendapat email resmi tentang perjalanan yang akan saya lakoni sebagai pemenang Circle of Excellence! Saya diundang ke Tampa Florida selama 3 hari!!

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15

Untuk Apa Sekolah?

Tiga tahun pertama Saya tinggal di Amerika, terus terang Saya terlena. Suami kerja berpenghasilan cukup untuk kami bertiga.  Tahun pertama Saya pindah, Saya langsung mendapat kerja ‘kantoran’. Gaji $9 per jam buat Saya sih cukup saja, tidak ada rasa perlu menambah wawasan.

Lalu kami sekeluarga pindah ke negara bagian lain.  Pikir Saya , sip, disini lebih banyak jenis pekerjaan, kota lebih besar, pastinya banyak dong lowongan pekerjaan dan Saya PD kalau Saya bisa dapat kerja ‘lebih baik’ dibanding pramuniaga toko.

Setelah settling down setelah pindahan, semangatlah Saya mengirim lamaran. Saya ogah lamar jadi pramuniaga lagi, kata Saya, masa sih jadi pramuniaga terus, ini kan di kota besar. Jadilah Saya lamar ke tempat lain. Satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Berlembar-lembar lamaran Saya kirim tidak ada SATUPUN yang nyangkut.  Mulailah Saya panik….. heh?

Setelah daftar lamaran Saya hampir satu halaman penuh, Saya mengalah, Saya putuskan untuk melamar kembali jadi pramuniaga di tempat yang sama.  Dipanggil untuk wawancara – senang nya! tapi……………….setelah itu NIL. Tidak ada kabar sama sekali??!!

Not even for holiday helpers???!!

Celingak celinguk Saya perhatikan teman-teman Indonesia yang punya pekerjaan bagus, mereka semua mengenyam pendidikan di Amerika.

Ah….pahitnya kenyataan. Barulah Saya menyadari kalau Saya tidak memiliki modal apapun. Tidak ada pendidikan Amerika.  Bahasa Inggris Saya pas-pasan, hanya bahasa Inggris percakapan sehari-hari, bukan bahasa Inggris akademik…………..

Dari kepindahan Saya ke Ohio, terbukalah mata Saya. Saya tidak bisa lagi mengandalkan suami semata-mata. Mengandalkan ‘keberuntungan’. Persaingan dalam mencari pekerjaan semakin ketat setiap tahunnya. 20 tahun yang lalu, berbekal ijazah SMA cukup untuk mendapat kerja, sekarang?

Sayangnya Saya melewatkan kesempatan bersekolah ketika di Ohio.  Nah setelah Saya pindah ke Kentucky, salah satu hal yang langsung Saya cari itu adalah keberadaan Community College ataupun kursus-kursus lainnya.

Untuk bekal di hari esok.

Susah senang hidup di Amerika

Terus terang Saya bukan tipe orang ‘berencana’ , Saya lebih ke tipe ‘Just do it!’ tidak mikir panjang lebar, tidak mikir tentang masa depan.

Saya juga bukan orang yang cerdas dalam bidang akademik, biasa-biasa saja. Di SMA termasuk 5 besar di kelas, tapi kalau dibanding Kakak Saya atau sepupu Saya, duh jauh lah….

Nah sewaktu menikah dan hijrah ke Amerika, terus terang tidak mikir nanti mau bekerja di mana? nanti di Amerika mau jadi apa dll. Cuma mikir senang punya Suami.

Kebetulan Suami waktu itu punya pekerjaan bagus, kita tinggal di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk lah. Kenapa juga harus repot mikir kerja?

Bulan-bulan pertama, karena bosan di rumah, Saya iseng-iseng jadi sitter, lalu setelah mendapat ijin kerja resmi, Saya coba lamar ke perusahaan jual beli Timeshare, langsung diterima. Di situ Saya bekerja selama 3 bulan , karena Saya ingin membesarkan si anak. Untungnya ya saat itu penghasilan suami cukup untuk kita bertiga. Dari hasil uang bekerja selama 3 bulan, bisa Saya tabung untuk beli tiket mudik.

Setelah anak berumur 1 tahun lebih, Saya mulai bosan di rumah melulu, Suami suruh Saya melamar kerja di salah satu department store karena sedang musim liburan mereka butuh banyak pekerja tambahan. Jadilah Saya lamar, dan Alhamdulillah diterima. Kerja di malam hari setelah suami pulang kantor, jadi anak tetap dijaga kita berdua.

Idealnya kondisi seperti ini berlangsung selamanya ya……..tapi seperti yang kita tahu nothing last forever. Di awal tahun 2009, suami pulang memberi kabar buruk, dia di pecat. Memang beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita tentang perubahan manajemen di kantornya.  Tapi Saya tidak berpikir sampai seburuk ini lah.

Penghasilan utama hilang. Rumah kita masih dalam cicilan. Bagaimana membayar listrik? air? membeli makanan sehari-hari? Asuransi kesehatan hilang – karena Saya kerja paruh waktu dan tipe pekerjaan Saya tidak menyediakan fasilitas asuransi untuk sebagian besar pegawainya.

Runtuh rasanya dunia ini. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiran Saya. Langsung hari itu juga Saya pergi menghadap ke bagian kepegawaian Saya. Alhamdulillah, ada rekan kerja yang mengundurkan diri, sehingga Saya bisa langsung ambil posisinya yang kebetulan penuh waktu. Resikonya Saya tidak bisa bersama anak Saya setiap hari. Tapi apa mau dikata, itu pilihan yang harus Saya ambil.

Masalah kedua, asuransi kesehatan, yang jelas, si kecil karena masih di bawah 5 tahun, HARUS ada asuransi, karena tiap tahunnya dia harus cek ke dokter. Buru-buru Saya lamar asuransi kesehata pemerintah untuk semua, tapi di atas kertas keluarga kami masih ‘tergolong tidak miskin’ untuk medicare karena kami masih memiliki rumah dan 1 mobil. Jadilah asuransi untuk Saya dan suami ditolak, tapi untungnya asuransi untuk anak, mereka punya batasan tersendiri, dan si anak masuk kategori layak mendapat asuransi dari pemerintah (CHIP) yang notabene akan membayar semua ongkos dokter si anak.

Minggu-minggu pertama terus terang berat sekali kita mengatur pengeluaran dibanding pemasukan yang tidak seberapa. Baru di minggu ketiga, kita bisa bernafas agak lega, karena suami sudah bisa mendapat unemployment insurance yang bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah.

Suami tidak bisa langsung mendapat pekerjaan baru, karena di saat yang sama Amerika sedang dilanda resesi. Pengurangan pegawai, terjadi dimana-mana. Tempat kita tinggal itu sangat terbatas pilihan bekerja. Boleh dibilang cuma ada 2 tempat utama orang-orang disini bekerja, salah satunya ya tempat suami bekerja dulu.

Di bulan September, Saya masukkan anak ke HeadStart yang notabene program pra sekolah gratis untuk keluarga menengah bawah.

Saya bersyukur sekali akan adanya kedua program ini, Headstart dan Asuransi kesehatan untuk anak (CHIP). Paling tidak kami tidak perlu khawatir si kecil tertinggal pendidikannya dan kami tidak bingung dalam membayar ongkos dokter.

Dari pengalaman Saya ini, barulah Saya menyadari kalau Saya ‘HARUS’ bekerja, tidak bisa selamanya bergantung kepada Suami, tidak bisa bergantung pada sanak keluarga, teman-teman.

Bahwa hidup Saya disini tidak akan selalu indah, bertaburan uang, bergelimangan harta.