Robin. Kate. Anthony.

Apa yang meresahkan mental mereka ya?

Di atas permukaan mereka adalah orang-orang sukses di bidangnya.

Kekayaan. Kejayaan. Rasanya pasti mereka miliki.

Robin. Kate. Anthony

Keputusasaan. Rasa sedih yang luar biasa. Kesakitan fisik. Kelelahan mental. Rasa ketakutan yang sedemikian besar hingga mengambilalih nalar logika seseorang itu bukan hal yang ringan untuk dibicarakan.

Dibicarakan?

Sama siapa? Terapis? Pasangan? Teman dekat? Sanak saudara?

Kenyataannya,  semua yang disebut diatas, kecuali terapis, gak bakal ada yang mau ataupun sanggup mendengarkan keluh kesah seseorang yang sedang mengalami depresi.

Robin. Kate. Anthony

Mungkin kalian sudah “berteriak” sekencang-kencangnya tentang kesedihan kalian. Tapi tidak ada satupun yang  “mendengar” baik disengaja maupun tidak.

Apalagi kalian “memiliki semuanya”.  Sulit untuk orang luar bisa memahami keriwetan pikiran di benak kalian.

Secara umum, seringkali saat seseorang mendengar kata2 “mengakhiri hidup”, pendengar akan mundur. Entah karena takut akan menjadi saksi kejadian yang tidak menyenangkan atau takut terlibat?

Pasangan, teman, kerabat, sanak saudara lebih pilih kabur, pura-pura tidak mendengar, bahkan marah.

Memang tidak bisa disalahkan ya. Topik itu berat sekali. Gak semua orang punya kapasitas mental untuk mendengarkan, mengerti topik itu.

Robin. Kate. Anthony

Saya yakin kalian sudah mencoba keluar dari kegelapan mental dan emosi yang kalian hadapi dan meyudahkan hidup adalah jalan “terbaik” yang kalian sudah pikirkan “matang-matang”.

Miskin Itu …

Teman2 pembaca yang baik.

Saya mau bilang blak2 an ni:

MISKIN ITU GAK ENAK!

Mau miskin di Indonesia, di Amerika, di Jerman, di Inggris, di Australia, dimanapun, secara umum, kalau penghasilan kita dianggap dibawah tingkat kemiskinan negara, tetep gak enak. Mungkin cuma segelintir negara2 yang boleh dibilang gak ada penduduknya yang miskin.

Kalau ada yang komentar, tapi kalau di Jerman , Aussie kan dikasih bantuan sama pemerintah.

Iya bener, di banyak negara2 asing, pemerintah kasih bantuan. Dari mulai makanan, fasilitas kesehatan, alat2 sekolah dsb

Tetep. Miskin itu gak enak.

Hidup kita jadi terbatas. Pilihan gak akan sebanyak kalau kita gak miskin. Makanan yang kita masak mungkin gak akan banyak variasinya.

Mau belanja kebutuhan sehari2, uang yang kita bisa belanjakan ya tergantung jatah bantuan yang kita terima kan.

Jadi coba deh kita usahakan gak usah membanding-bandingkan penghasilan seseorang di LN dengan penghasilan di Indo.

GAK BISA!

Jangan komentar, miskin di Amrik masih bisa beli rumah, mobil, ada angkutan umum tersedia.

Rumah “murah” ya memang ada, tapi lingkungan tempat tinggalmu ya kemungkinan besar tingkat keamanannya rendah. Maksudnya? Bukan gak mungkin bakal dengar tembak-tembakan, kericuhan, pencurian, perampokan. Lingkungan sekitar gak terurus.

Seringkali beli mobil di Amrik itu menjadi KEHARUSAN karena??? Angkutan umum TERBATAS.

Di Indo, ada ojol, kereta, bis , bajaj, angkot, bemo, taksi.

Di Amrik gak semua kota menengah pun kota besar ada sarana angkutan umum yang bisa diandalkan buat wara wiri sehari-hari.

Sekali lagi ya.

Miskin dimanapun itu gak enak.

Tapi biar miskin kan lihat salju?

Percakapan Saya dengan Anak Saya

Semalam anak saya “ketiduran” di tempat saya. Besok paginya ternyata dia gak kerja , jadi balik lagi dia ke tempat saya.

Pas makan siang, saya bangunkan supaya dia makan siang karena saya sengaja masakkan dua potong paha ayam atas untuk dia.

Pas selesai makan, saya lihat tulang2 ayamnya masih “berdaging”. Saya celetukin.

“Duh kamu makannya gak :bersih”, masih banyak dagingnya itu! Sayang kan.:

Yang dijawab sama anak saya

It’s ok Mom..I know you grew up poor” (sambil bercanda tentunya, dalam arti dia bukan bermaksud menghina)

Saya ngakak sambil “nampol”, eh enak aja lu bilang g poor, g grew up privileged tahuuu”

…………….

Tapi dalam hati, saya jadi mikir juga. Eh apa bener ya saya “miskin” sampai ngelihat ada sedikit daging di tulang ayam saja rasanya gak rela?

Saya jadi celingukan lihat kiri kanan saya.

Sofa, meja makan, piring2 , lampu di ruang TV, pyrex semua itu pemberian teman2.

Saya juga gak rela buang2 toples kaca bekas yogurt, selai dll, saya pakai lagi jadi toples bumbu dll.

Ini barusan saya menggoreng krupuk, trus disimpan di kemasan bekas cemilan yg saya pesan dari orang Indo, karena kemasan dia bagus, kedap udara.

Saya suka sisihkan sabun2, sampo dari hotel buat “bekal” si anak kalau dia sudah siap tinggal sendiri.

Mungkin ada benarnya ya saya miskin?.

Mungkin lebih tepatnya saya pas-pasan, gitu ya? Atau ya berkecukupan?

Gak tahu juga sik.

Ada memang di suatu masa, saya benar2 harus irit dan gak belanja kebutuhan tersier sama sekali dan bukan cuma sekali ya. (Waktu saya masih tinggal dgn bapaknya si anak & dia kehilangan pekerjaan & wakti saya putuskan untuk berpisah & tinggal sendiri dengan pendapatan saya murni).

Jadi memang scarcity trauma saya pernah alami.

Tapi yang jelas sik…saya gak mau anak saya hidupnya lebih sulit dibandingkan saya.

Secara gitu loh. Seperti kata anak umur 8 tahun :

Saya kan hidup di Amerikaaaaaaa (sarkastik mode on!)

Menerima Menua

Jujur deh.

Menua itu berat loh. Gak cuma masalah muka yang loyo, saggy tapi juga itu lutut kretek-kretek, pinggang linu, mata tambah burem, pendengaran samar2, dan segambreng isu isu lain yang memang datang seriringnya umur bertambah.

Tapi ya kemarin pas lihat utasan filem baru di Netflix, wuiih Helen Mirren keren abisss gayanya!!

Di salah satu wawancara, dese juga bilang kalau “we are growing older and there’s no way to escape that”

Nah. Setuju banget deh

Si Jeng Helen ini ya memang sudah tua, dan buat saya gaya dia gak “usaha” buat kelihatan muda, tap tetap keren, anggun.

Cara berbusana dia juga wuih…classy banget

Gak usah pakai mini, semuanya ketutup juga terlihat oke koq.

Mudah2an lah kalo saya sempet menua, gaya saya bisa kayak dia. Ceileeee

Warisan Pahit

Tulisan ini saya buat untuk pihak2 yang mau gak mau harus mengurusi tetek bengek yang orang tua saya tinggalkan setelah mereka meninggal.

Saya yakin secata emosi kalian lelah, marah, secara keuangan saya yakin pengeluaran untuk membersihkan ini itu gak kecil, waktu yang dihabiskan? Jelas kalian gak bisa ambil kembali.

Saya bisa mengerti kalau kalian kecewa bahkan marah dengan saya yang kelihatannya cuma “ongkang ongkang” kaki tinggal di Amrik bertaburan dolar. Sangat tidak tahu diri sekali saya tidak pulang untuk membantu.

Sekali lagi saya mengerti persepsi kalian.

Di sisi lain

Tolong jangan buat pernyataan2 bohong.

“Gak tahu dia sekarang dimana”

Karena saya ada di 3 media sosial : FB, IG dan LinkedIn.

Nomor telpon, email saya tidak berubah sejak 20 tahun lalu.

Saya tinggal & kerja di kota yang sama sudah 13 tahun lebih.

Kalau kalian peduli sama saya , kalian paling gak tahu dimana saya kerja. Kalau kalian tahu tempat kerja saya, tinggal Google, akan ketemu koq nomor telpon salah satu tempat kerja saya.

Saya gak perlu menjelaskan kepada siapapun kenapa saya tidak pulang ke Indonesia.

Tapi mungkin coba tanyakan kepada diri kalian masing-masing.

Pernah gak tanya apa kabar saya? Langsung ke saya?

Kalau kalian segitu “kangen” nya ingin saya pulang, pernah urun rembuk beli tiket? Kalian ke Amrik bukan sekali dua kali kan? Belum lagi ke negara lain untuk ikutan acara olah raga ini itu.

Tolong deh, gak usah sebar asumsi2 kalian tentang saya padahal kalian gak tahu apapun tentang saya.

Sekali lagi, maaf banget kalian harus mengurusi barang2 ini itu milik almarhum ayah dan ibu. Dan terima kasih sudah melakukannya.

You don’t how things are in my shoes. And I prefer you don’t.

Please keep your mouth shut about me.

Sound of Silence


Hello darkness, my old friend
I’ve come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence
In restless dreams, I walked alone
Narrow streets of cobblestone
‘Neath the halo of a street lamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night
And touched the sound of silence
And in the naked light, I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never shared
And no one dared
Disturb the sound of silence
“Fools” said I, “You do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you”
But my words, like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence
And the people bowed and prayed
To the neon god they made
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
Then the sign said, “The words of the prophets are written on the subway walls
In tenement halls”
And whispered in the sound of silence

Jalan-jalan ke Boston: Musium Tea Party

Boston boleh dibilang salah satu kota yang penuh dengan sejarahnya Amerika, selain Philadelphia dan DC.

Hari pertama tempat bersejarah yang kami kunjungi adalah Boston Tea Party Museum.

Saya beli tiket untuk tur online untuk jam 4 sore dan karena saya ambil tur trolley saya dapat potongan $6.

Kami ke lokasi pakai trolley hop on and off. O iya, lupa, saya ambil tiket troli untuk 2 hari, karena waktu saya lihat2, perhentian si troli ini boleh dibilang ya lokasi2 yang kami akan lewati, termasuk Tea Pary Museum ini.

Tempat stop si troli ini juga dekat banget sama hotel kami. Jadi gampang lah.

Dengan ikutan tur, pengunjung dijelaskan lah ya latar belakang istilah tea party.

Seru sik, saya jadi belajar juga tentang sejarah Amerika.

Awal masuk, setiap pengunjung dibkasih kartu “karakter” , nama orang2 yang terlibat di insiden pembuangan teh dari kapal.

Di utasan saya di IG di bawah teman2 bisa lihat prototype kapal, dan kotak2 teh yang di lempar ke laut (biasalah saya , maubikutan ngelempar juga, harap maklum ya pembaca🤭).

Di lokasi ada musium, ada tempat buat ngeteh dan ngemil. Di mana pengunjung bisa icip2 teh yang dibuang ke laut. Total ada 5 jenis teh yang dibuang ke laut pada saat peristiwa bersejarah itu.

Jalan-jalan ke Boston: Tentang Hotel

Setelah kebanyakan rencana mau pergi kemana pas ultah di bulan Juli, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Boston, Massachusetts.

Selain karena MA adalah satu dari 15 negara bagian yang belum saya kunjungi, Boston boleh dibilang juga kota penuh sejarah.

Jadilah saya terbang ke Boston pakai Souhwest. Ambil pesawat paling pagi supaya punya waktu buat jalan-jalan di hari kedatangan.

Pas mendarat pemandangannya agak beda dibanding pas saya ke Houston atau pas ke New Orleans, kelihatan ruang air dari pesawat, gak melulu daratan. Jadi inget pas mendarat di Ngurah Rai , Bali.

Saya pilih menginap di hotel Hilton Park Plaza karena lokasinya yang strategis. Selain ada bis gratis dari airport ke halte yang cuma 1 blok, juga dekat ke stasiun kereta bawah tanah dan tempat-tempat wisata lainnya. (tinggal jalan kaki).

Konon hotel ini sudah beroperasi dari tahun 1927. Kamarnya memang kecil (kami pilih 2 tempat tidur)  tapi bersih dan nyaman. Kayaknya dirawat dengan baik ya.

Perjalanan menuju Boston, mulus, sesuai jadwal. Hal pertama yang kami lakukan, drop koper di hotel , karena kepagian belum bisa check in. Terus laper, kebetulan seberang hotel ada resto Logan Seafood. Kalau gak salah ada orang Indo komentar di Threads kalau ini ok tempatnya.

Ya sudah makan disitu, daripada pusing. Mereka ada menu maksi. Kami pilih calamari, lobster mac n cheese, crab rolls.

Kalau teman2 ke Boston, pasti akan sering lihat menu lobster deh, terutama lobster roll. Karena memang itu salah satu makanan umum di sini. Enak sik. Daging lobsternya gak pelit.

Pas lagi makan saya pas iseng nanya ngeliat ada minuman di bar. Eh malah dikasih gratis. Kebetulan memang kesukaan saya, sangria. Rejeki😉

Balik ke hotel buat check in. Dapat di lantai 11.  Pemandangan dari jendela kamar hotel lihat ruang terbuka. Lumayan oke lah.

Sama hotel saya dikasih satu voucher makan gratis karena saya bilang kalau trip ini trip ultah saya. Secara umum Hilton di lokasi ini kasih potongan $15/hari untuk tamu makan di resto mereka.

Si front desknya bilang. Kamu pilihnya makanan yang hearty ya buat treat yourself.

Saya nebus makanan gratis saya baru di hari kedua. Kebetulan anak saya bablas tidur, jadi saya makan sendiri. Saya pilih Steak Frites dan minuman purple rain. Asli enak sik.

Hari terakhir kami sarapan di hotel. Nah sistemnya itu bisa buffet $37/orang, atau pesan dari menu.

Buat teman2 yang gak makan 🐖, mending pesandari menu ya. Karena ada pilihan bukan 🐖 dan harganya lebih murah dari harga buffet.

Buffet nya lumayan lengkap sik. Ada 2 tipe sausage, 🐖 dan ayam kentang goreng, telur orak arik, roti dan teman2nya, buah2 an dan yang agak beda, ada  charcuterie.

Buah-buahannya ada semangka, cantelop, melon, nenas, stoberi, blackberry dan semuanya manis.

Yang saya gemes itu botol saus tomat, Tabasco dan jar2 selai roti..ya ampun imut!! Gemes!!

Catatan. Ini saya sudah kehabisan storage di WordPress, males deh kalau harus bayar lagi. Karena itu, saya taro foto2 di IG yang saya tautkan disini supaya teman2 tetap bisa lihat foto2

Nonton Konser Yuk : Chicago

Ya ampun, dah tua begini..masih mau nonton konser?

Eh masih dong?! Soalnya konser yang ditonton juga konser Boomer dan Gen X kan?!

Jadi awal tahun 2025/akhir tahun 2024 saya nemu pengumuman kalau grup band lawas, Chicago bakal tur ke kota saya.

Aih…nostalgia jaman SMA dong? Jadilah saya merengek-rengek minta dibelikan tiket sama pasangan saya. Untung dia orangnya baik. Dibelikanlah tiket untuk kami berdua.

Konsernya itu tanggal 2 Juli 2025, di Louisville Palace. Saya sudah beberapa kali nonton acara ini itu di Lousville Palace, dari mulai komedi, balet dan konser musik.

Tempatnya kecil, tapi artistik banget sik memang. Kali ini tempat duduk kita di balkon lantai 2. Lumayan panggung terlihat jelas.

Konser dimulai tepat waktu banget, jam 8 PM. Awal2 saya gak kenali lagu-lagunya. Maklum Chicago ternyata sudah manggung dari jaman saya belum lahir!

Tapi akhirnya saya bisa ikutan nyanyi lah karena mereka bawakan lagu-lagu yang saya kenal pas jaman SMA, antara lain :

You’re the Inspiration – yang paling saya tunggu2 dong

If You Leave me Now

25 or 6 to 4

Saturday in the Park

Yang seru itu, lihat para bapak2 dan ibu2 yang notabene kaum Boomer joget-joget! Ketahuan kan siapa yang anak disco dulunya. LOL.

Dan yang saya juga kagumi ya, ada dua pemain band yang anggota asli Chicago, dan ya mereka sudah uzur lah. Umur sekitar 70 tahun lebih. Tapi gilee..masih sanggup niup trombone dan main solo!

Eh tapi bener loh, sesuatu banget bisa nonton band kesayangan kita pas masa muda disaat kita udah manula.

Gak semua orang bisa nikmati loh ya.

Coba deh pikir2, band2 atau penyanyi jaman saya pas kinclong itu kan WHAM, Culture Club, Genesis, Police, Queen, Guns N Roses, Bon Jovi, Madonna, AHA, Level 42 sudah banyak yang gak kedengeran kabarnya kan?

Antara anggota band yang sudah meninggal (Freddie Mercury, kenapa kamu pergi cepat sekali!??!), punya masalah kesehatan (Phil Collin’s), sudah bubar (The Police) dan kebanyakan tingkah (Madonna), kesempatan buat nonton band jaman baheula tipis kan ?

Belum lagi dari kitanya sendiri, ini saja saya perhatikan banyak penonton yang sudah pakai tongkat, kursi roda.

Ah , saya bersyukur sekali masih bisa menikmati konser Chicago ini. Mungkin banget ini konser terakhir dari band yang saya kenali yang saya bisa hadiri.

Memang ya, hidup itu precious, yuk kita nikmati setiap detiknya. Gak tahu kan kapan kita ada kesempatan lagi .

Ini cuplikan pas konser buat teman-teman pembaca. Lihat di IG langsung ya.