Peer Pressure – Tinggal di Amerika koq gak punya Iphone?

Ha. Ha. Ha.

Saya tidak punya Iphone, Ipad, Ipod, atau tablet jenis-jenis lainnya.

Telpon Saya cuma telpon lipat yang pra-bayar, yang setiap bulannya Saya cukup bayar $15 saja. Yang diolok-olok sama teman kerja sebagai ‘telpon Amish’ alias telpon ketinggalan jaman.

Aneh ya?

Jujur  saja, wong tidak mampu gitu loh dan tidak ada keperluan untuk memiliki barang-barang tersebut.

Saya punya laptop yang Saya kunjungi setiap hari setiap saat, ibarat pacar. Disini Saya cek email, cek rekening bank, cari kerja, cari resep, cari insiprasi , cari ini itulah…

Terus terang Saya tidak bisa ‘hidup’ tanpa laptop (dengan koneksi internet lah!), tapi kalau Iphone dsb, Saya sih ‘can live without’.

Telpon buat Saya ya alat komunikasi wae. Jadi dengan telpon jadul lipat dan telpon rumah, itu sudah lebih dari cukuplah.

Buat foto, Saya pilih kamera biasa.

Terus terang Saya koq ogah ya menjadi komunitas ‘I can’t live without my Iphone’ dimana orang-orang sibuk bermain dengan Iphone (atau telpon pintar lainnya) mereka, sampai-sampai kehilangan etiket sederhana.

Di meja makan, sibuk pencet sana pencet sini.

Di kendara lewat, sibuk pencet sana pencet sini, merasa tidak perlu menyapa sang petugas.

Di belakang kemudi, sami mawon, pencet sana pencet sini, tidak peduli dengan keselamatan pengendara lainnya.

Di tempat kerja sibuk kirim pesan teks ke sana ke mari, cek facebook, cek twitter – lah, etika bekerjanya dimana ya??

Lupa bawa telpon , ibarat kebakaran jenggot.

Dunia milik berdua, dirinya dan si telpon pintar.

Pernah Saya ketemu orang yang bekerja di Apple, dia mengatakan kalau ‘semua orang perlu Iphone’, lalu Saya tanya blak-blakan.

‘Coba kasih Saya 1 alasan yang Saya tidak bisa bantah kenapa Saya perlu Iphone?’

‘Berhubungan dengan teman-teman’

‘Tidak punya banyak teman, ada telpon rumah dan Skype cukup’

‘Cek cuaca?’

‘Pakai komputer kantor/rumah’

‘Cek rute?’

‘Cek komputer sebelum pergi dan pelajari rute jalan’

‘Nonton video?’

‘Ih, ogah deh layarnya kecil’

‘Denger musik?

‘Nah..jarang dengerkan musik’

dst …

Sampai akhirnya dia mengaku kalah…

Jadilah sampai detik ini Saya tidak memiliki telpon pintar, wong dah pinter gitu loh….ha…..ha….ha…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s