Author: Irus

Warisan Pahit

Tulisan ini saya buat untuk pihak2 yang mau gak mau harus mengurusi tetek bengek yang orang tua saya tinggalkan setelah mereka meninggal.

Saya yakin secata emosi kalian lelah, marah, secara keuangan saya yakin pengeluaran untuk membersihkan ini itu gak kecil, waktu yang dihabiskan? Jelas kalian gak bisa ambil kembali.

Saya bisa mengerti kalau kalian kecewa bahkan marah dengan saya yang kelihatannya cuma “ongkang ongkang” kaki tinggal di Amrik bertaburan dolar. Sangat tidak tahu diri sekali saya tidak pulang untuk membantu.

Sekali lagi saya mengerti persepsi kalian.

Di sisi lain

Tolong jangan buat pernyataan2 bohong.

“Gak tahu dia sekarang dimana”

Karena saya ada di 3 media sosial : FB, IG dan LinkedIn.

Nomor telpon, email saya tidak berubah sejak 20 tahun lalu.

Saya tinggal & kerja di kota yang sama sudah 13 tahun lebih.

Kalau kalian peduli sama saya , kalian paling gak tahu dimana saya kerja. Kalau kalian tahu tempat kerja saya, tinggal Google, akan ketemu koq nomor telpon salah satu tempat kerja saya.

Saya gak perlu menjelaskan kepada siapapun kenapa saya tidak pulang ke Indonesia.

Tapi mungkin coba tanyakan kepada diri kalian masing-masing.

Pernah gak tanya apa kabar saya? Langsung ke saya?

Kalau kalian segitu “kangen” nya ingin saya pulang, pernah urun rembuk beli tiket? Kalian ke Amrik bukan sekali dua kali kan? Belum lagi ke negara lain untuk ikutan acara olah raga ini itu.

Tolong deh, gak usah sebar asumsi2 kalian tentang saya padahal kalian gak tahu apapun tentang saya.

Sekali lagi, maaf banget kalian harus mengurusi barang2 ini itu milik almarhum ayah dan ibu. Dan terima kasih sudah melakukannya.

You don’t how things are in my shoes. And I prefer you don’t.

Please keep your mouth shut about me.

Sound of Silence


Hello darkness, my old friend
I’ve come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence
In restless dreams, I walked alone
Narrow streets of cobblestone
‘Neath the halo of a street lamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night
And touched the sound of silence
And in the naked light, I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never shared
And no one dared
Disturb the sound of silence
“Fools” said I, “You do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you”
But my words, like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence
And the people bowed and prayed
To the neon god they made
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
Then the sign said, “The words of the prophets are written on the subway walls
In tenement halls”
And whispered in the sound of silence

Jalan-jalan ke Boston: Musium Tea Party

Boston boleh dibilang salah satu kota yang penuh dengan sejarahnya Amerika, selain Philadelphia dan DC.

Hari pertama tempat bersejarah yang kami kunjungi adalah Boston Tea Party Museum.

Saya beli tiket untuk tur online untuk jam 4 sore dan karena saya ambil tur trolley saya dapat potongan $6.

Kami ke lokasi pakai trolley hop on and off. O iya, lupa, saya ambil tiket troli untuk 2 hari, karena waktu saya lihat2, perhentian si troli ini boleh dibilang ya lokasi2 yang kami akan lewati, termasuk Tea Pary Museum ini.

Tempat stop si troli ini juga dekat banget sama hotel kami. Jadi gampang lah.

Dengan ikutan tur, pengunjung dijelaskan lah ya latar belakang istilah tea party.

Seru sik, saya jadi belajar juga tentang sejarah Amerika.

Awal masuk, setiap pengunjung dibkasih kartu “karakter” , nama orang2 yang terlibat di insiden pembuangan teh dari kapal.

Di utasan saya di IG di bawah teman2 bisa lihat prototype kapal, dan kotak2 teh yang di lempar ke laut (biasalah saya , maubikutan ngelempar juga, harap maklum ya pembaca🤭).

Di lokasi ada musium, ada tempat buat ngeteh dan ngemil. Di mana pengunjung bisa icip2 teh yang dibuang ke laut. Total ada 5 jenis teh yang dibuang ke laut pada saat peristiwa bersejarah itu.

Jalan-jalan ke Boston: Tentang Hotel

Setelah kebanyakan rencana mau pergi kemana pas ultah di bulan Juli, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Boston, Massachusetts.

Selain karena MA adalah satu dari 15 negara bagian yang belum saya kunjungi, Boston boleh dibilang juga kota penuh sejarah.

Jadilah saya terbang ke Boston pakai Souhwest. Ambil pesawat paling pagi supaya punya waktu buat jalan-jalan di hari kedatangan.

Pas mendarat pemandangannya agak beda dibanding pas saya ke Houston atau pas ke New Orleans, kelihatan ruang air dari pesawat, gak melulu daratan. Jadi inget pas mendarat di Ngurah Rai , Bali.

Saya pilih menginap di hotel Hilton Park Plaza karena lokasinya yang strategis. Selain ada bis gratis dari airport ke halte yang cuma 1 blok, juga dekat ke stasiun kereta bawah tanah dan tempat-tempat wisata lainnya. (tinggal jalan kaki).

Konon hotel ini sudah beroperasi dari tahun 1927. Kamarnya memang kecil (kami pilih 2 tempat tidur)  tapi bersih dan nyaman. Kayaknya dirawat dengan baik ya.

Perjalanan menuju Boston, mulus, sesuai jadwal. Hal pertama yang kami lakukan, drop koper di hotel , karena kepagian belum bisa check in. Terus laper, kebetulan seberang hotel ada resto Logan Seafood. Kalau gak salah ada orang Indo komentar di Threads kalau ini ok tempatnya.

Ya sudah makan disitu, daripada pusing. Mereka ada menu maksi. Kami pilih calamari, lobster mac n cheese, crab rolls.

Kalau teman2 ke Boston, pasti akan sering lihat menu lobster deh, terutama lobster roll. Karena memang itu salah satu makanan umum di sini. Enak sik. Daging lobsternya gak pelit.

Pas lagi makan saya pas iseng nanya ngeliat ada minuman di bar. Eh malah dikasih gratis. Kebetulan memang kesukaan saya, sangria. Rejeki😉

Balik ke hotel buat check in. Dapat di lantai 11.  Pemandangan dari jendela kamar hotel lihat ruang terbuka. Lumayan oke lah.

Sama hotel saya dikasih satu voucher makan gratis karena saya bilang kalau trip ini trip ultah saya. Secara umum Hilton di lokasi ini kasih potongan $15/hari untuk tamu makan di resto mereka.

Si front desknya bilang. Kamu pilihnya makanan yang hearty ya buat treat yourself.

Saya nebus makanan gratis saya baru di hari kedua. Kebetulan anak saya bablas tidur, jadi saya makan sendiri. Saya pilih Steak Frites dan minuman purple rain. Asli enak sik.

Hari terakhir kami sarapan di hotel. Nah sistemnya itu bisa buffet $37/orang, atau pesan dari menu.

Buat teman2 yang gak makan 🐖, mending pesandari menu ya. Karena ada pilihan bukan 🐖 dan harganya lebih murah dari harga buffet.

Buffet nya lumayan lengkap sik. Ada 2 tipe sausage, 🐖 dan ayam kentang goreng, telur orak arik, roti dan teman2nya, buah2 an dan yang agak beda, ada  charcuterie.

Buah-buahannya ada semangka, cantelop, melon, nenas, stoberi, blackberry dan semuanya manis.

Yang saya gemes itu botol saus tomat, Tabasco dan jar2 selai roti..ya ampun imut!! Gemes!!

Catatan. Ini saya sudah kehabisan storage di WordPress, males deh kalau harus bayar lagi. Karena itu, saya taro foto2 di IG yang saya tautkan disini supaya teman2 tetap bisa lihat foto2

Nonton Konser Yuk : Chicago

Ya ampun, dah tua begini..masih mau nonton konser?

Eh masih dong?! Soalnya konser yang ditonton juga konser Boomer dan Gen X kan?!

Jadi awal tahun 2025/akhir tahun 2024 saya nemu pengumuman kalau grup band lawas, Chicago bakal tur ke kota saya.

Aih…nostalgia jaman SMA dong? Jadilah saya merengek-rengek minta dibelikan tiket sama pasangan saya. Untung dia orangnya baik. Dibelikanlah tiket untuk kami berdua.

Konsernya itu tanggal 2 Juli 2025, di Louisville Palace. Saya sudah beberapa kali nonton acara ini itu di Lousville Palace, dari mulai komedi, balet dan konser musik.

Tempatnya kecil, tapi artistik banget sik memang. Kali ini tempat duduk kita di balkon lantai 2. Lumayan panggung terlihat jelas.

Konser dimulai tepat waktu banget, jam 8 PM. Awal2 saya gak kenali lagu-lagunya. Maklum Chicago ternyata sudah manggung dari jaman saya belum lahir!

Tapi akhirnya saya bisa ikutan nyanyi lah karena mereka bawakan lagu-lagu yang saya kenal pas jaman SMA, antara lain :

You’re the Inspiration – yang paling saya tunggu2 dong

If You Leave me Now

25 or 6 to 4

Saturday in the Park

Yang seru itu, lihat para bapak2 dan ibu2 yang notabene kaum Boomer joget-joget! Ketahuan kan siapa yang anak disco dulunya. LOL.

Dan yang saya juga kagumi ya, ada dua pemain band yang anggota asli Chicago, dan ya mereka sudah uzur lah. Umur sekitar 70 tahun lebih. Tapi gilee..masih sanggup niup trombone dan main solo!

Eh tapi bener loh, sesuatu banget bisa nonton band kesayangan kita pas masa muda disaat kita udah manula.

Gak semua orang bisa nikmati loh ya.

Coba deh pikir2, band2 atau penyanyi jaman saya pas kinclong itu kan WHAM, Culture Club, Genesis, Police, Queen, Guns N Roses, Bon Jovi, Madonna, AHA, Level 42 sudah banyak yang gak kedengeran kabarnya kan?

Antara anggota band yang sudah meninggal (Freddie Mercury, kenapa kamu pergi cepat sekali!??!), punya masalah kesehatan (Phil Collin’s), sudah bubar (The Police) dan kebanyakan tingkah (Madonna), kesempatan buat nonton band jaman baheula tipis kan ?

Belum lagi dari kitanya sendiri, ini saja saya perhatikan banyak penonton yang sudah pakai tongkat, kursi roda.

Ah , saya bersyukur sekali masih bisa menikmati konser Chicago ini. Mungkin banget ini konser terakhir dari band yang saya kenali yang saya bisa hadiri.

Memang ya, hidup itu precious, yuk kita nikmati setiap detiknya. Gak tahu kan kapan kita ada kesempatan lagi .

Ini cuplikan pas konser buat teman-teman pembaca. Lihat di IG langsung ya.

Belajar Yuk! Untuk Kesehatan Otak & Wawasan !

Waktu jaman kuda gigit beton, Gak pernah terpikir terlalu sering sama yang namanya meneruskan pendidikan sampai PhD misalnya. Jujur, saya tidak terlalu ‘minat’ sekolah waktu masih tinggal di Indo.

Kuliah di universitas ya karena sudah ‘jalannya’. Sempat kepingin S2 ambil master di UGM itu juga gara2 ada beberapa teman seangkatan yang ambil Magister manajemen, bukan karena ‘mau menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Beda sama mantan pacar yang hobi banget sekolah. Setelah S1, terus lanjut S2, lalu S3, sampai itu gelar panjangnya ngalah-ngalahin nama lengkap.

Pas kerja memang saya suka ikutan kelas marketing misalnya, terus kelas belajar properti. Dulu kelas-kelas seperti itu gak terlalu mahal ya. Masih terjangkau biayanya.

Alasan ikut2 kelas seperti itu? Karena saya memang suka topik-topiknya.

Nah, pas pindah ke Amrik, kejeduG deh. Ternyata bekal sarjana Indo boleh dibilang gak berlaku. Tapi belum kepikiran kuliah lagi. Karena ya waktu itu langsung hamil dan besarkan anak lah ya.

Baru pas pindahan ke kota ketiga, kepikiran mau ‘sekolah lagi’. Kebetulan pas pindah di kota kedua, disitu saya baru ngeh tentang keberadaan Community College dan di kota ketiga ini, ada Community College nya.

Jadilah saya ambil associate degree kalo gak salah? D3 gitu ya. Ambil mata kuliah Inggris dan Akutansi, dua-duanya online. Eits ternyata gak gampang ya. Musti disiplin diri belajar. Seingat saya, dua-dua mata kuliah ini saya lulus sik. Tapi gak greget gitu.

Mungkin memang saya ya gak demen sekolah lagi ya?

Nah terus di tempat kerja ini, beberapa tahun lalu, saya dikasih tahu rekan kerja, kalau ada program Guild, yang tempat kerja bayar (gak semua program 100%, tapi lumayan banyak). Rekan kerja saya ambil Bachelor Degree apa gitu, ya karena dia memang lulusan SMA.

Eh lucu juga? Pikir saya. Coba ah lihat-lihat.

Nah, baru awal tahun ini ni, saya lebih seriusin lagi lihat-lihat katalog, Karena sungguh ini lagi butek banget, bosen, pengen cari sesuatu yang beda, belajar sesuatu yang baru. Eh, lihat program tentang pengenalan Artificial Intelligence Implication of Business Strategy Program dari MIT Sloan.

Memang lingkup kerja saya meskipun bukan teknologi secara langsung, tapi kena cipratan lah.

Ya sudah saya bulatkan untuk ambil program kelas bisnis ini. Jeda waktunya cuma 6 minggu. Setiap minggu, ada modul baru dan ada tugas berbeda-beda. Kelas dimulai awal bulan Maret 2025.

Tugasnya biasalah menulis pendapat , ide berkaitan dengan AI dan pekerjaan. Gak bohong, kalau saya agak keder saat mengerjakan tugas. Ya masalah bahasa, ya masalah pengertian saya ke topik yang bersangkutan.

Alhamdulillah, semua tugas saya selesaikan tepat waktu dengan bantuan partner saya. Alhamdulillah juga semuanya dapat nilai Excellent,

Di awal bulan Juni 2025, akhirnya saya dapat sertifikasi dari MIT Sloan. Wuih, keren juga !

Eh , serius ni, belajar itu gak ada ruginya loh. Meskipun mungkin teman-teman tipenya sama seperti saya , dalam arti gak terlalu tertarik sekolah penuh, ambil kelas-kelas bisnis seperti ini itu berharga loh!

Selain melatih otot otak kita diajak melihat hal-hal baru, berpikir di luar kebiasaan sehari-hari, juga buat bikin wawasan bertambah kan?!

Yuk belajar lagi yuk!

Dan juga ya, ambil kelas ini membuat saya rendah hati, tahu diri dan kagum sama teman-teman yang meneruskan sekolah lagi. Apalagi mereka-mereka yang umurnya tidak muda lagi. Gak mudah loh! Selamat ya! Kalian hebat! Saya ikutan bangga dengan perjuangan kalian!

Depresi dan Ekspresi

Sering saya bertanya-tanya, apa yang ada di benak Kate Spade, Robin Williams, L’Wren Scott, Anthony Bourdain di detik-detik terakhir mereka sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka.

Keempat sosok ini, boleh dibilang semuanya tidak kekurangan materi, paling enggak, itu anggapan khalayak umum, Kate Spade dan L’Wren Scott, dua-duanya perancang sukses. Dan siapa yang tidak kenal aktor Robin Williams, aktor komedi pula. Anthony Bourdain? Ya pasti tahulah ya.

Mereka bukan cuma terkenal, tapi berhasil dibidang mereka

Tapi mereka semua memutuskan kalau mengakhiri nyawa mereka adalah solusi untuk masalah/penderitaan mereka.

Mungkin mereka dikategorikan high functional depressed person. Jadi meskipun mereka sedang merasakan depresi berat, di depan umum, mereka bisa menyembunyikan perasaan mereka dan bertingkah laku selayaknya.

Mungkin juga mereka sebetulnya sudah “berteriak” ke sana kemari, tetapi orang-orang sekitar mereka tidak selalu ngeh, mawas akan jeritan mereka?

Mungkin teriakan mereka diacuhkan, diremehkan, tidak dianggap serius.

Buat saya pribadi mengakhiri nyawa itu tidak gampang. Pastinya dilakukan penuh kesadaran dan “keberanian”. Dalam arti, kelelahan yang bersangkutan sudah mencapai puncaknya.

Konon depresi itu dialami semua orang. Sebabnya? Mungkin lingkungan, mungkin juga perubahan hormon.

Saya sendiri sering mengalami depresi. Saya mawas diri sekali kapan depresi merayapi pikiran saya, tapi disisi lain kadang saya tidak bisa mengelak.

November, Desember, Januari, Mei dan Juli, bulan-bulan di mana depresi saya nongol. Saat ovulasi, saya akan merasa lebih khawatir, stress yang enggak enggak.

Belum lagi masalah kerja, anggota keluarga. Saya akui hal tersulit untuk saya dalam mengendalikan depresi saya adalah tidak adanya seseorang yang saya bisa percaya untuk saya mencurahkan kondisi depresi saya.

Memang sulit untuk orang luar mengerti tingkat depresi seseorang. Terutama mereka yang boleh dibilang tidak pernah mengalami depresi atau mungkin mereka sudah pada tingkat ‘SUHU’ dalam mengendalikan emosi mereka.

“Mau kamu apa sih?’

Kamu mau saya gimana??! Gak ngerti deh! Kan saya sudah kasih tahu, semua akan baik-baik saja! Mau dikasih tahu apa lagi??

Buat saya depresi itu campuran rasa takut, kewalahan, ketidakpercayaan diri, kekhawatiran akan hal-hal di luar kontrol kita.

Seringkali yang saya harapkan hanya sekedar sentuhan tangan, pelukan dan kata-kata menenangkan dari seseorang yang saya anggap bisa memahami saya.

Tapi kenyataannya saya salah asumsi, tidak akan ada yang bisa memahami saya. Saya harus hadapi semuanya sendiri. Karena orang lain ya gak peduli lah. Mereka punya masalah masing-masing. Belum tentu juga mereka peduli dengan kondisi mental kita yang sedang carut marut.

Andai tindakan mengakhiri nyawa sendiri diperbolehkan oleh hukum. Kalau seseorang wanita diberikan pilihan untuk aborsi, kenapa manusia tidak diberikan pilihan untuk hidup mereka sendiri?

Pasar Loak

Jauh2 tinggal di Amrk bukannya bergaya pakai tas Tory Burch, Kate Spade, Coach dll, saya koq malah demen yang namanya jalan-jalan ke pasar loak, atau istilah bulenya Vintage Market/Flea Market.

Agak beda dikit dengan toko jual barang2 bekas seperti Salvation Army, Goodwill yang jualan barang2 dari donasi masyarakat , Vintage Market lebih ke pasar dimana banyak booth sewaan si pemilik barang yang naro barang2 mereka dan kasih harga seberapa yang mereka mau untuk dijual. Jadi seperti consignment.

Di kota saya ada lah beberapa toko seperti ini.

Yang serunya kalau ke toko-toko seperti ini saya koq jadi banyak nemu barang-barang yang mirip seperti ibu atau sanak keluarga di Indo punya.

Jadi bukan cuma belanjalah, tapi bernostalgia juga

Pernah saya iseng pergi buat cari figur gajah. Eh nemu ukiran gajah kayu buatan Thai, keren banget kan?.dan cuma $10.

Pernah lihat pembatas ruang yang ala2 ukiran Jepara gitu. Pengen banget beli!

Hari ini iseng-iseng kami pergi ke salah satu vintage market di kota.

Saya pengen cari piring-piring kristal untuk tatakan buat pot-pot tanaman saya.

Sempat lihat “kursi rotan” ala2 pejabat tahun 80 an versi mininya. Trus lihat toples kue kristal, tas pesta metal, tempat garpu kecil kalo gak salah dari belalai gajah yang diukir yang seperti almarhum ibu punya.

Belum lagi musik yang dimainkan juga musik jadul. ABBA yang almarhum bapak suka pasang pagi-pagi circa 80 an.

Ah..tenyata saya sudah menua ya.

Yang ada saya beli vas cilik 2, yang rencananya mau saya kasih bunga segar, sendok bertuliskan Bismillahi rahmanni rahim dan piring kristal segi 4 buat tatakan pot.

Tempat Duduk Terbaik

Waktu di Indo, masalah tempat duduk oke saya cuma tahu kalau nonton bioskop, opera, teater dan pertunjukkan2 lainnya yang pakai bayar lah. Tahunya ya karena harga tiketnya suka beda (kecuali bisokop ya).

Kayak bulan lalu dapat tiket gratis nonton Broadway kursi kami H17-18..asi banget karena dekat dengan panggung. Bandingkan dengan Orkestra HH misalnya, yang jauh di belakang.

Saya juga baru tahu tentang “best seat” di pesawat terbang , yaitu dibagian emergency exit karena dapat ruang kaki lebih luas, tapi juga harus mau nolongin penumpang lain saat keadaan darurat.

Nah pas di Amrik, dikasih tahulah saya kalau ternyata di rumah makan dan acara kawinan ada istilah best seat juga.

Kalau di acara kawinan disini, tamu2 itu semua duduk rapi di meja bersama tamu2 lain untuk makan sajian di kawinan. Semakin meja kita jauh dari pengantin, semakin kelihatan status kita ke si pengantin. Status dalam arti “kedekatan” saja sik, bukan $$. Jadi ya teman2 dekat si pengantin dapat meja paling depan dan seterusnya

Kalau di rumah makan, saya cuma mikir ogah dekat kamar mandi (karena pesing/hawa kamar mandi, bawaan dari Indo sik).

Atau mungkin kalau pas ke rumah makan yang pemandangannya oke, ya saya pilih dekat jendela supaya bisa lihat pemandangan. Atau dulu pas jaman masih gabung sama orang merokok, saya pilih di bagian gak merokok. Lebih dari itu saya gak repot.

Tapi ternyata ada hal lain, yaitu kitanya “menghadap” kemana.

Konon (saya bilang konon karena saya gak terlalu pusingin masalah ini), view paling oke itu kalau kita lihat seliweran orang2. View paling gak oke kalau kita lihat tembok.

Bawah sadar saya, sepertinya milih kursi dimana saya bisa rumpiin orang2 🤭 atau dulu pas muda ya supaya bisa ngecengin orang kali ya?

Tapi jujur saya gak jadi HARUS SELALU duduk di kursi yg paling oke atau ngotot minta kursi yang paling oke.

Karena buat saya, kalau acara makan, apalagi makan “intim” dalam arti cuma bedua, saya ya niatnya kan menghabiskan waktu dengan si yang bersangkutan tho? Ngobrol dengan siapa yang ada di depan saya.

Mungkin saya bodoh ya berpikir senaif ini.

Orang lebih sering melihat saya sebagai “tu kan dia lagi2 duduk di kursi yang paling oke!”

Padahal kalau diminta tukar, saya gak masalah deh.

Karena ya itu, wong saya sendiri gak “ngeh” sama yang namanya best view seat.

Capek ya kalau suka dianggap orang sebagai Ms Selalu Mau Yang Paling Oke.

Ah. Andai saya gak usah tahu masalah kursi menghadap mana seperti ni, karena yang ada saya jadi senewen kalau pas makan di resto, bukannya menikmati jadi malah bingung.

Buat saya tempat duduk terbaik ya saat saua duduk sama orang yang menikmati keberadaan saya disisi mereka.