Cerita Saya

Pojokan Kalem

Jadi ni..salah satu gak enaknya tinggal di negara 4 musim, adalah masalah pengungsian tanaman dari teras ke dalam ruang

Nah masuk bulan Oktober tahun ini, suhu udara cepat menurun. Jadilah saya harus masukkan tanaman2 saya ke dalam ruang. Tahun lalu saya telat masukkin tanaman2 saya, yang ada banyak yang mati…😭. Ugh. Nyesel banget. Makanya tahun ini saya lebih was was memperhatikan cuaca

Masalahnya ruang yang kena matahari di apartemen saya itu cuma sedikit sekali. Harus putar otak cara penempatannya supaya semua tanaman bisa masuk.

Kebetulan kapan itu, saya lihat tetangga atas saya mau buang rak/meja. Terus saya bilang. Eh mau dibuang ya? Buat saya saja boleh?. Dan ternyata mereka membolehkan. Saya tahu banget rak tersebut akan saya gunakan untuk menaruh tanaman2 saya.

Dan ternyata rak yang gak seberapa besar itu muat untuk kurleb 12 pot tanaman. Tanaman2 lainnya ada yang saya gantung, ada yang saya taruh di kursi lipat (yang juga di ambil dari tempat sampah apartemen) , taruh di bangku dekorasi.

Untuk mengakali sedikitnya sinar matahari , saya memang pakai grow light. Ini juga harus diakali penempatannya. Yang jelas ruang vertikal benar2 saya manfaatkan, ya untuk gantung tanaman maupun menggantung lampu2.

Saat ini boleh dibilang “hutan” kecil saya sudah komplit. Hampir semua tanaman2 yang harus masuk, sudah masuk. Lampu2 sudah ditempatkan sedemikian rupa supaya semua tanaman mendapatkan cahaya tambahan selain cahaya matahari dari pintu teras.

Tanaman2 saya selain berwarna hijau, ada yang daunnya berpigmen putih dan merah jambu hingga keunguan /merah anggur. Saya juga isengnya kumat, menyelipkan boneka2 binatang kecil di sela2 tanaman2 saya. Whimsical banget lah.

Yang pasti saya tu senang banget dengan “hutan” kecil saya. Setiap kali saya tengok, hati saya adem dan bahagia.❤️

Padahal cuma kecil banget gitu loh.

Eh  ternyata yaaaa.., dari segi regulasi emosi, memiliki pojokan kalem itu bagus untuk membantu kita menenangkan sistem saraf kita loh. Kebetulan koq nemu utasan di IG di bawah ini.

Jadi ternyata tanpa saya sadari “hutan” kecil saya itu pojokan kalem saya juga!

Teman2 ada yang punya pojokan kalem juga?

Evolusi Prakarya

Boleh dibilang saya itu lumayan nyentrik, kreatif dan artistik. Ceile.

Boleh dong muji karakter diri sekali-sekali.

Tapi ternyata saya juga gak terlalu suka dengan dekorasi ini itu? Nah kontradiksi gak sih?

Apalagi ni ya, di Amerika, haduh, rata2 warlok hobi bener sama yang namanya dekorasi. Tahun baru, balon, topi, terompet, Februari, cinta-cintaan, Paskah, telur hias, kelinci, warna warni pastel, hari-hari Veteran, Memorial Day, Fourth of July, pasang bendera, Halloween dan natal ya tahu sendiri lah.

Nah, saya gak suka. Selain dekorasi di hari-hari perayaan, ada dekorasi sehari-hari. Ini saya lebih pusing lagi, kalau lihat reel2 di IG gitu. Tempat lilin, batu, pot bahkan buku pun ternyata pajangan.

Salah satu barang dekorasi yang saya pernah beli lebih dari sekali itu wreath, itu loh hiasan berbentuk lingkaran yang dipajang di pintu rumah kita. Sempat punya 2, satu bunga-bungaan, satu lagi tema musim dingin. Ternyata? Bosen. Dan males deh harus ganti tiap.

Akhirnya saya sumbangkan lah,

🌸

Tahun 2021, saya pindah ke apartemen sendiri. Teman-teman banyak yang sumbangkan ini itu ke saya. Salah satu sumbangan yang saya terima adalah bunga-bunga kertas.

Lagi-lagi kan, saya gak suka dekorasi, agak bingung, ini enaknya diapain ya? Akhirnya saya pajang dengan cara saya masukkan ke vas bening sebagai ya dekorasi.

Satu saat di tahun 2023, saya kepingin bikin bingkai bunga untuk acara bertema pengantenan salah satu teman Indo, Kepikiran mau beli wreath bekas yang banyak bunga2annya. Jadilah saya beli di toko barang bekas. Bingkai bunga jadi, dipakai sebagai Photo Booth ala ala gitu deh. Setelah acara selesai, diapain ya? Masa dibuang? Sayang kan? Jadilah saya pakai untuk hiasan dinding untuk memajang topi saya yang juga bermotif bunga.

Bunganya memang terpakai, bingkai bunga terbuat, dan fungsinya diteruskan, tapi trus wreath nya bego aja gitu. Terbengkalai.

Hingga satu hari di tahun 2024 saya dan teman-teman pergi ke perkebunan buat petik bunga Lavender. Harga tiket itu sudah termasuk bunga Lavender berbagai jenis segenggam tangan.

Sampai di rumah, saya mikir, diapain ya bunga-bunga Lavender ini? Eh…kan punya wreath?

Eng ing eng, jadilah saya punya wreath hiasan bunga Lavender asli yang saya pajang di depan pintu apartemen saya.

🌷

Bulan Juni 2025, pas lagi wara-wiri di Pittsburgh, saya sempat mampir di toko yang jual bunga-bunga kering. Ih..lucu banget. Sebelum mampir di toko ini, saya memang sempat pernah beli rangkaian bunga/tanaman kering pas ada acara Made Market di kota saya. Ada warna jingga cerah, kuning, putih dan merah jambu gitu. Saya cuma sanggup beli yang ukuran kecil, karena ternyata mahal juga.

Nah toko di Pittsburgh ini jelas lebih komplit lah ya dan ragamnya lebih banyak. Dari situ sempat kepikiran dalam hati, ih, pengen juga punya rangkaian bunga-bunga kering.

Tapi trus ya itu, bosan saya kumat. Si rangkaian bunga kering yang saya beli, ya saya taruh di vas sih. Tapi saya merasa gak ‘seindah’ yang saya bayangkan. Kalau pas saya lihat , saya gatel , pengen diapain ya , tapi belum ada ide.

Wreath saya sudah mulai layu, bunga-bunga Lavendernya sudah tidak ungu lagi, dan banyak yang rontok. Celingak celinguk, gimana mau meng– update si wreath?

Tiba-tiba terpikir. Kan saya punya bunga-bunga kertas yang lucu tapi gak ‘tergali’ potensinya? Kan saya punya tanaman-tanaman kering yang nangkring di sudut tidak pernah bisa nampang cantiknya? Kan saya juga masih punya sisa bunga Lavender yang warnanya masih lekat?

Jadilah cuti hari Selasa minggu ini, saya wujudkan ide diatas.

Dan ini hasilnya!

Robin. Kate. Anthony.

Apa yang meresahkan mental mereka ya?

Di atas permukaan mereka adalah orang-orang sukses di bidangnya.

Kekayaan. Kejayaan. Rasanya pasti mereka miliki.

Robin. Kate. Anthony

Keputusasaan. Rasa sedih yang luar biasa. Kesakitan fisik. Kelelahan mental. Rasa ketakutan yang sedemikian besar hingga mengambilalih nalar logika seseorang itu bukan hal yang ringan untuk dibicarakan.

Dibicarakan?

Sama siapa? Terapis? Pasangan? Teman dekat? Sanak saudara?

Kenyataannya,  semua yang disebut diatas, kecuali terapis, gak bakal ada yang mau ataupun sanggup mendengarkan keluh kesah seseorang yang sedang mengalami depresi.

Robin. Kate. Anthony

Mungkin kalian sudah “berteriak” sekencang-kencangnya tentang kesedihan kalian. Tapi tidak ada satupun yang  “mendengar” baik disengaja maupun tidak.

Apalagi kalian “memiliki semuanya”.  Sulit untuk orang luar bisa memahami keriwetan pikiran di benak kalian.

Secara umum, seringkali saat seseorang mendengar kata2 “mengakhiri hidup”, pendengar akan mundur. Entah karena takut akan menjadi saksi kejadian yang tidak menyenangkan atau takut terlibat?

Pasangan, teman, kerabat, sanak saudara lebih pilih kabur, pura-pura tidak mendengar, bahkan marah.

Memang tidak bisa disalahkan ya. Topik itu berat sekali. Gak semua orang punya kapasitas mental untuk mendengarkan, mengerti topik itu.

Robin. Kate. Anthony

Saya yakin kalian sudah mencoba keluar dari kegelapan mental dan emosi yang kalian hadapi dan meyudahkan hidup adalah jalan “terbaik” yang kalian sudah pikirkan “matang-matang”.

Miskin Itu …

Teman2 pembaca yang baik.

Saya mau bilang blak2 an ni:

MISKIN ITU GAK ENAK!

Mau miskin di Indonesia, di Amerika, di Jerman, di Inggris, di Australia, dimanapun, secara umum, kalau penghasilan kita dianggap dibawah tingkat kemiskinan negara, tetep gak enak. Mungkin cuma segelintir negara2 yang boleh dibilang gak ada penduduknya yang miskin.

Kalau ada yang komentar, tapi kalau di Jerman , Aussie kan dikasih bantuan sama pemerintah.

Iya bener, di banyak negara2 asing, pemerintah kasih bantuan. Dari mulai makanan, fasilitas kesehatan, alat2 sekolah dsb

Tetep. Miskin itu gak enak.

Hidup kita jadi terbatas. Pilihan gak akan sebanyak kalau kita gak miskin. Makanan yang kita masak mungkin gak akan banyak variasinya.

Mau belanja kebutuhan sehari2, uang yang kita bisa belanjakan ya tergantung jatah bantuan yang kita terima kan.

Jadi coba deh kita usahakan gak usah membanding-bandingkan penghasilan seseorang di LN dengan penghasilan di Indo.

GAK BISA!

Jangan komentar, miskin di Amrik masih bisa beli rumah, mobil, ada angkutan umum tersedia.

Rumah “murah” ya memang ada, tapi lingkungan tempat tinggalmu ya kemungkinan besar tingkat keamanannya rendah. Maksudnya? Bukan gak mungkin bakal dengar tembak-tembakan, kericuhan, pencurian, perampokan. Lingkungan sekitar gak terurus.

Seringkali beli mobil di Amrik itu menjadi KEHARUSAN karena??? Angkutan umum TERBATAS.

Di Indo, ada ojol, kereta, bis , bajaj, angkot, bemo, taksi.

Di Amrik gak semua kota menengah pun kota besar ada sarana angkutan umum yang bisa diandalkan buat wara wiri sehari-hari.

Sekali lagi ya.

Miskin dimanapun itu gak enak.

Tapi biar miskin kan lihat salju?

Percakapan Saya dengan Anak Saya

Semalam anak saya “ketiduran” di tempat saya. Besok paginya ternyata dia gak kerja , jadi balik lagi dia ke tempat saya.

Pas makan siang, saya bangunkan supaya dia makan siang karena saya sengaja masakkan dua potong paha ayam atas untuk dia.

Pas selesai makan, saya lihat tulang2 ayamnya masih “berdaging”. Saya celetukin.

“Duh kamu makannya gak :bersih”, masih banyak dagingnya itu! Sayang kan.:

Yang dijawab sama anak saya

It’s ok Mom..I know you grew up poor” (sambil bercanda tentunya, dalam arti dia bukan bermaksud menghina)

Saya ngakak sambil “nampol”, eh enak aja lu bilang g poor, g grew up privileged tahuuu”

…………….

Tapi dalam hati, saya jadi mikir juga. Eh apa bener ya saya “miskin” sampai ngelihat ada sedikit daging di tulang ayam saja rasanya gak rela?

Saya jadi celingukan lihat kiri kanan saya.

Sofa, meja makan, piring2 , lampu di ruang TV, pyrex semua itu pemberian teman2.

Saya juga gak rela buang2 toples kaca bekas yogurt, selai dll, saya pakai lagi jadi toples bumbu dll.

Ini barusan saya menggoreng krupuk, trus disimpan di kemasan bekas cemilan yg saya pesan dari orang Indo, karena kemasan dia bagus, kedap udara.

Saya suka sisihkan sabun2, sampo dari hotel buat “bekal” si anak kalau dia sudah siap tinggal sendiri.

Mungkin ada benarnya ya saya miskin?.

Mungkin lebih tepatnya saya pas-pasan, gitu ya? Atau ya berkecukupan?

Gak tahu juga sik.

Ada memang di suatu masa, saya benar2 harus irit dan gak belanja kebutuhan tersier sama sekali dan bukan cuma sekali ya. (Waktu saya masih tinggal dgn bapaknya si anak & dia kehilangan pekerjaan & wakti saya putuskan untuk berpisah & tinggal sendiri dengan pendapatan saya murni).

Jadi memang scarcity trauma saya pernah alami.

Tapi yang jelas sik…saya gak mau anak saya hidupnya lebih sulit dibandingkan saya.

Secara gitu loh. Seperti kata anak umur 8 tahun :

Saya kan hidup di Amerikaaaaaaa (sarkastik mode on!)

Menerima Menua

Jujur deh.

Menua itu berat loh. Gak cuma masalah muka yang loyo, saggy tapi juga itu lutut kretek-kretek, pinggang linu, mata tambah burem, pendengaran samar2, dan segambreng isu isu lain yang memang datang seriringnya umur bertambah.

Tapi ya kemarin pas lihat utasan filem baru di Netflix, wuiih Helen Mirren keren abisss gayanya!!

Di salah satu wawancara, dese juga bilang kalau “we are growing older and there’s no way to escape that”

Nah. Setuju banget deh

Si Jeng Helen ini ya memang sudah tua, dan buat saya gaya dia gak “usaha” buat kelihatan muda, tap tetap keren, anggun.

Cara berbusana dia juga wuih…classy banget

Gak usah pakai mini, semuanya ketutup juga terlihat oke koq.

Mudah2an lah kalo saya sempet menua, gaya saya bisa kayak dia. Ceileeee

Warisan Pahit

Tulisan ini saya buat untuk pihak2 yang mau gak mau harus mengurusi tetek bengek yang orang tua saya tinggalkan setelah mereka meninggal.

Saya yakin secata emosi kalian lelah, marah, secara keuangan saya yakin pengeluaran untuk membersihkan ini itu gak kecil, waktu yang dihabiskan? Jelas kalian gak bisa ambil kembali.

Saya bisa mengerti kalau kalian kecewa bahkan marah dengan saya yang kelihatannya cuma “ongkang ongkang” kaki tinggal di Amrik bertaburan dolar. Sangat tidak tahu diri sekali saya tidak pulang untuk membantu.

Sekali lagi saya mengerti persepsi kalian.

Di sisi lain

Tolong jangan buat pernyataan2 bohong.

“Gak tahu dia sekarang dimana”

Karena saya ada di 3 media sosial : FB, IG dan LinkedIn.

Nomor telpon, email saya tidak berubah sejak 20 tahun lalu.

Saya tinggal & kerja di kota yang sama sudah 13 tahun lebih.

Kalau kalian peduli sama saya , kalian paling gak tahu dimana saya kerja. Kalau kalian tahu tempat kerja saya, tinggal Google, akan ketemu koq nomor telpon salah satu tempat kerja saya.

Saya gak perlu menjelaskan kepada siapapun kenapa saya tidak pulang ke Indonesia.

Tapi mungkin coba tanyakan kepada diri kalian masing-masing.

Pernah gak tanya apa kabar saya? Langsung ke saya?

Kalau kalian segitu “kangen” nya ingin saya pulang, pernah urun rembuk beli tiket? Kalian ke Amrik bukan sekali dua kali kan? Belum lagi ke negara lain untuk ikutan acara olah raga ini itu.

Tolong deh, gak usah sebar asumsi2 kalian tentang saya padahal kalian gak tahu apapun tentang saya.

Sekali lagi, maaf banget kalian harus mengurusi barang2 ini itu milik almarhum ayah dan ibu. Dan terima kasih sudah melakukannya.

You don’t how things are in my shoes. And I prefer you don’t.

Please keep your mouth shut about me.

Sound of Silence


Hello darkness, my old friend
I’ve come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence
In restless dreams, I walked alone
Narrow streets of cobblestone
‘Neath the halo of a street lamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night
And touched the sound of silence
And in the naked light, I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never shared
And no one dared
Disturb the sound of silence
“Fools” said I, “You do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you”
But my words, like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence
And the people bowed and prayed
To the neon god they made
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
Then the sign said, “The words of the prophets are written on the subway walls
In tenement halls”
And whispered in the sound of silence

Jalan-jalan ke Boston: Musium Tea Party

Boston boleh dibilang salah satu kota yang penuh dengan sejarahnya Amerika, selain Philadelphia dan DC.

Hari pertama tempat bersejarah yang kami kunjungi adalah Boston Tea Party Museum.

Saya beli tiket untuk tur online untuk jam 4 sore dan karena saya ambil tur trolley saya dapat potongan $6.

Kami ke lokasi pakai trolley hop on and off. O iya, lupa, saya ambil tiket troli untuk 2 hari, karena waktu saya lihat2, perhentian si troli ini boleh dibilang ya lokasi2 yang kami akan lewati, termasuk Tea Pary Museum ini.

Tempat stop si troli ini juga dekat banget sama hotel kami. Jadi gampang lah.

Dengan ikutan tur, pengunjung dijelaskan lah ya latar belakang istilah tea party.

Seru sik, saya jadi belajar juga tentang sejarah Amerika.

Awal masuk, setiap pengunjung dibkasih kartu “karakter” , nama orang2 yang terlibat di insiden pembuangan teh dari kapal.

Di utasan saya di IG di bawah teman2 bisa lihat prototype kapal, dan kotak2 teh yang di lempar ke laut (biasalah saya , maubikutan ngelempar juga, harap maklum ya pembaca🤭).

Di lokasi ada musium, ada tempat buat ngeteh dan ngemil. Di mana pengunjung bisa icip2 teh yang dibuang ke laut. Total ada 5 jenis teh yang dibuang ke laut pada saat peristiwa bersejarah itu.