budaya

Suka Duka Di Amrik : Pekerja Jam-Jam-an

Baru setelah berimigrasi ke Amerika, saya mengenal istilah pekerja jam-jaman dan pekerja gaji.

Pekerja jam-jaman yaitu pekerja yang dibayar berdasarkan jumlah jam yang si pekerja lakoni, ya biasanya pekerja buruhlah, seperti pegawai toko, pegawai bank,pegawai di rumah sakit, dll. Pekerja jam-an ini bisa pekerja paruh waktu, bisa juga pekerja penuh.

Karena sifatnya yang dibayar berdasarkan jumlah jam si pegawai bekerja, dari NOL jam hingga 40 jam (atau bisa lebih, tapi biasanya managemen perusahaan akan ‘ngomel’ kalau pegawai jam-jaman mereka lembur)- bayaran si pekerja ya bisa berbeda-beda setiap kali terima gaji.

Juga pekerja di haruskan mencatat saat mereka mulai kerja dan selesai kerja setiap harinya di timesheet.

Pekerja jam-jaman ini juga rentan terpotong jadwal kerjanya, terutama pekerja ritel. Kalau manager menilah penjualan pada hari itu tidak seperti yang diperkirakan, mereka harus segera memotong anggaran perusahaan yaitu dengan memotong jam kerja si pegawai yang dijadwalkan bekerja hari itu. Jadi kalau awalnya si pekerja di jadwalkan bekerja selama 4 jam, sangat mungkin kalau si pekerja yang ada cuma bekerja selama 2 jam saja.

Sementara pekerja gajian, yaitu mereka-mereka yang gajinya dihitung secara lumpsum per bulannya, dengan standar jam kerja 40 jam per minggu. Sepengetahuan saya pekerja gajian ini sebagian besar pekerja penuh, atau pekerja kontrak. Contohnya suami saya.

Sebagian besar pekerja jam-an menerima gaji setiap minggu atau setiap dua minggu sekali. Sedangkan pekerja gaji, sebagian besar di bayar setiap dua minggu sekali atau 2 kali sebulan : di awal bulan dan di tengah bulan (tanggal 15).

Saya ini termasuk pekerja buruh, alias pekerja yang dibayar per jam, gaji dibayar oleh perusahaan setiap 2 minggu sekali. Tapi karena saya bekerja di dua tempat, saya jadinya terima bayaran setiap minggu, karena jadwal terima gaji saya yang satu dengan yang lain berselisihan.

Ada enak dan tidak enaknya jadi pekerja jam-jaman.

Yang paling tidak enak itu kalau lupa masukkan waktu kerja (clock in dan clock out) dan kelewat tenggat waktu perhitungan gaji. Kenapa? Karena beberapa perusahaan sangat ketat dalam hal pembayaran gaji ini, kalau sudah lewat tenggat masukkan timesheet ya terpaksa kamu dibayar apa adanya, kekurangan jam kerja akan dibayar di gaji berikutnya.

Contohnya saya.

Waktu mau mudik kemarin, saya pikir waktu saya balik saya tetap akan terima gaji cukuplah, karena meskipun saya tidak kerja, saya sudah punya jatah liburan, yang jumlah jam libur per mingggunya boleh dibilanag sama dengan jumlah jam kerja saya kerja.

Saya pikir lagi, karena saya pekerja paruh waktu, manager saya yang harus memasukkan jumlah jam libur saya ke timesheet saya – karena kalau ada libur di kalender, manager saya yang memang harus memasukkan libur kalender itu di timesheet saya supaya saya dibayar.

Waktu kembali ke tempat kerja setelah mudik, saya panik melihat jumlah kerja saya cuma seuncril dan ternyata jam liburan saya tidak tercatat. Ternyata saya salah asumsi, sayalah yang harus memasukkan jam libur saya ke timesheet, bukan manager.

Yaaaaah….apa daya, terpaksalah saya gigit jari selama lebih dari 2 minggu!

Hadweeeh, asli sengsara, karena berarti saya tidak bisa membayar tagihan ini itu seperti yang sudah saya jadwalkan.

Untunglah cuma saya yang pergi berlibur dan suami tidak ikutan, karena berarti kita  masih ada penghasilan dari suami yang bisa bantu untuk hidup sehari-hari…………..

Phew!!??!!

Kita dan telpon genggam

Hari gini, siapa sih yang tidak punya telpon selular, baik itu Iphone, Blackberry atau telpon canggih lainnya. Waktu Saya coba google untuk cari statistik pemakai telpon genggam, konon 91% penduduk Amrik memiliki telpon genggam. Di survey itu juga dinyatakan kalau sebagian besar penduduk sudah meninggalkan budaya telpon rumah. Memang benar kalau telpon genggam itu sudah menjadi budaya ‘harus punya’ buat sebagian besar orang.

Dimana-mana kita bisa lihat orang-orang sibuk wara wiri dengan telpon mereka, di antrian kopi, di lobi bank, di stasiun, di kamar mandi,  di toko, sambil jalan, sambil nyetir mobil!!, sambil makan di restoran, sambil kerja!! dan seterusnya……………..

telpon ibarat oksigen, tanpa telpon, ‘mati’ rasanya hidup di pemegang telpon.

Beberapa teman yang Saya kenal, bisa kebingungan tidak karuan kalau lupa membawa telpon. Pernah rekan kerja kelupaan bawa telpon, padahal hari itu kita cuma kerja 4 jam-an, halah, dia panik setengah mati, sampai2 dia telpon suaminya untuk datang ke tempat kerja membawa telpon dia. Ck..ck..ck..Saya sampai geleng-geleng kepala. Perasaan tempat kerja Saya bukan ruang darurat deh yang HARUS berkomunikasi setiap saat. Atau pebisnis yang super sibuk yang harus memantau klien setiap detik.

Saya pribadi bukan penggemar telpon genggam. Telpon genggam yang Saya miliki usianya lebih dari 2 tahun dan prabayar. Satu bulan Saya cukup bayar $15.00. Karena tipe telpon Saya yang jadul, ada rekan kerja yang meledeki Saya, telpon Amish katanya. Saya sih ketawa saja.

Saya butuh telpon genggam untuk berjaga-jaga, misalnya pas anak Saya kena diare di sekolah, pihak sekolah harus menelpon Saya, atau kalau Saya akan telat menjemput anak di tempat penitipan anak, atau suami akan telat pulang, dan mau memastikan Saya tidak menunggu2 dan sebagainya.

Sudah hampir 2 bulan telpon Saya entah dimana karena Saya lupa dimana Saya taruh. Saya tenang-tenang saja tuh. Hidup berjalan lancar, pekerjaan beres, ini dan itu tetap berlangsung tanpa ada hambatan berarti.

Terus terang juga rasa hormat Saya banyak pupus terhadap ‘pelakon telponku oksigenku’.

Kenapa? Sebagian besar tipe ini amat sangat terserap pikirannya terhadap telpon semata.

Lupa tata krama, sopan santun.

Berhadapan dengan sesama manusia menjadi tidak sepenting dengan memelototi telpon.

Keselamatan orang lain menjadi tidak sepenting mengirim text dikala mengendarai mobil.

Pelayanan terhadap konsumen bisa dinomor duakan karena harus balas pesan dulu di telpon.

Sebagai pekerja di bidang jasa, terus terang paling malas Saya menyapa pelanggan yang sibuk dengan telponnya. Buat apa gitu?Apakah karena Saya ‘kebetulan’ berada di sisi berbeda dengan mereka Saya patut diacuhkan? Saya kurang penting dibanding bermain dengan telpon?

Jujur deh, berapa dari kita sebetulnya benar-benar HARUS menggunakan telpon untuk hal-hal penting? bukan untuk foto-foto (baik selfie atau yang tidak puguh), bukan untuk kirim teks gak penting, bukan untuk main candy crush?, bukan untuk menjelajah status dan foto teman-teman di facebook, twitter dst?

Apa hal-hal tersebut di atas cukup dijadikan alasan kita untuk lupa tata krama? tidak peduli keselamatan orang lain?
lupa kalau berbincang dengan manusia di hadapan mata, fokuslah dengan dia bukan dengan telpon di genggaman?
lupa kalau ada hidup di dunia nyata, bukan dunia maya?

Adanya telpon canggih yang KONON bisa membuat hidup kita lebih mudah, bukan berarti kita harus menjadi orang yang lupa tata krama kan? Teknologi harusnya mengeratkan hubungan sesama manusia, bukan jadi mengasingkan sesama manusia.

Ah…Saya cuma bisa bersyukur karena hingga saat ini masih belum merasa perlu memiliki whatsapp ataupun pin BB atau ini dan itu lainnya. Kuno? ya tidak apa2, yang antik yang susah dicari dan mahal harganya kan? 😉

 

Contohlah Amerika dalam hal..

Waktu tinggal di Jakarta, Saya ingat betapa Saya kewalahan setiap Saya beres- beres ruangan, bingung mau dikemanakan ini barang-barang yang Saya sudah bosan pakai, kesempitan, tidak perlu lagi dll.

Begitu pula waktu Saya bersiap-siap pindah ke Amerika di tahun 2005, banyak sekali barang-barang Saya yang masih bagus, tapi tidak bisa Saya bawa ke Amrik.

Saat itu kebetulan Saya punya kenalan yang bekerja sebagai sukarelawan di panti asuhan, dia bisa terima limpahan barang-barang Saya untuk kemudian dia bagi-bagikan ke tempat dia bekerja.

Tapi sebagian besar barang-barang tersebut berakhir di tempat sampah. 😦

Nelongso juga kalau di-ingat-ingat, bukan karena rakus, tapi karena merasa menyia-nyiakan barang dan tidak bisa memanfaatkannya lagi.

Hal yang sama bisa dialami sewaktu pindahan rumah, atau semata-mata ingin membeli perabot baru sementara perabot lama masih berfungsi.

Di Amerika, masalah seperti itu boleh dibilang mudah solusinya.

– Yang paling mudah, gelar jualan di garasi atau garage sale istilah bulenya. Bermodal stiker, spidol, uang kembalian, Anda bisa jual barang-barang Anda di halaman rumah. Uang masuk kantong sendiri, tidak perlau bayar komisi dll

– Kalau punya banyak waktu, buat akun di craiglist atau ebay , daftarkan barang-barang, beri harga dan siap dijual.

– Kalau tidak punya waktu dan tidak berminat mendapat uang tambahan,  tinggal sumbangkan ke toko-toko barang bekas seperti Salvation Army, Goodwill, Habitat for Humanity Restore. 

Dari baju, sepatu, alat-alat rumah tangga. pernak-pernik hingga mobil bisa anda sumbangkan di 2 tempat ini. Dan besar sumbangan Anda bisa digunakan untuk pemotongan pajak saat Anda mengisi pajak tahun berikutnya .

– Kalau Anda pikir barang-barang Anda masih ada ‘harganya’ dan layak jual, Anda bisa cari toko konsinyasi (consignment store) dimana Anda bisa mendapat porsi uang dari barang yang Anda titip jual di toko tersebut.

Tipe konsinyasi ada 2, yang sepanjang tahun atau yang musiman. Yang sepanjang tahun biasanya berwujud toko atau kios, sementara yang musiman wujudnya bisa berupa ‘farmers market’, pasar loak (flea market) atau bazaar musiman yang dikelola organisasi tertentu.

Tidak perlu malu atau sungkan untuk menjual atau menyumbangkan barang-barang di tempat ini.

Lebih baik barang-barang kita menjadi berguna untuk orang lain daripada dibuang jadi sampah tho?

O iya, Saya tidak tahu apakah toko-toko seperti ini ada di Indonesia, maklum sudah 7 tahunan tidak mudik.

Sebelum Saya hijrah, Saya tahu ada 1 toko barang bekas di Bandung yang menerapkan sistem konsinyasi, kalau tidak salah namanya Ba-be alias barang bekas.

Dan menurut Saya budaya menjual dan menyumbang barang seperti ini selayaknya kita contoh, tidak mubazir!

Katanya tinggal di Amerika, koq blognya bahasa Indonesia?

Hi..hi..hi.

Salah satu teman SMP di halaman Facebook Saya sempat protes kenapa koq Saya selalu menulis status dalam bahasa Inggris. Istilahnya ‘duh si Mpok kebule-bulean banget seh??’

Apa benar ya si Dayang sekarang sudah kebule-bulean?

Sibuk berbahasa Inggris, karena tinggal di Amerika dan sudah berbaur, beradaptasi menjadi ‘bule’ juga?

Alhamdulillah Saya dibesarkan oleh orang tua yang cukup ‘keras’ dalam masalah mencintai negeri dan budaya sendiri.

Alasan Saya berbahasa Inggris di halaman facebook adalah karena ada teman-teman (termasuk Suami) yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Saya ingin mereka bisa membaca tulisan Saya.

Sebetulnya Saya termasuk orang yang ‘gemas’ kalau membaca tulisan rekan-rekan Indonesia yang campur aduk tidak karu-karuan , antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa memakai aturan menulis (yaitu menggunakan huruf miring untuk istilah asing yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) yang benar.

Contoh : Kemarin kami pergi ke zoo, tidak lupa pakai sepatu sports, karena akan waiting for bus.

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….

Apa benar ya berbahasa Indonesia itu susah? tidak keren? tidak populer?

Jadilah blog Saya ini dibuat hampir sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia yang meskipun tidak terlalu baku, tapi tetap berpedoman pada EYD yang Saya masih ingat dari jaman sekolah dulu.

Menulis dengan bahasa Indonesia itu asik dan enak dibaca juga koq! (benar tidak?!)