Memasuki bulan April / akhir bulan Maret, biasanya ibu-ibu yang mempunyai anak usia sekolah tahu sekali apa artinya. Liburan sekolah! Alias Spring Break. Saya sebagi ibu anak usia sekolah sudah dari jauh-jauh hari mengajukan permohonan cuti buat spring break ini.
Spring Break si kecil tahun ini mulai tanggal 4 April sampai 10 April. Tadinya saya ajukan cuti seminggu penuh, tapi ternyata kita tidak ada rencana yang pasti untuk pergi-pergi, jadi saya kurangi cuti saya, cuma dari hari Rabu saja.
Waktu lagi misuh misuh mikir mau kemana ya…eh dapat kabar kalau sepupu saya sudah balik kuliah di University of Wisonsin – Madison lagi, tidak lama kemudian saya dapat kabar kalau teman saya waktu di Bozeman, Montana juga ternyata sekarang tinggal di Wisconsin. Dua-duanya sudah sekitar 8 tahunan tidak pernah bertemu. Mmm…coba lihat peta ah..seberapa jauh ya perjalanan ke Wisconsin? 8 jam-an alias seharian.
Terakhir saya berkendara mobil antar propinsi itu di tahun 2010, waktu pindahan dari Bozeman, Montana ke Cleveland, Ohio. Saya dengan gagah menyetir truk pindahan dengan si kecil, yang waktu itu berumur 4 tahun.
Well, kalau dulu itu saya bisa nyetir truk berduaan antar propinsi selama berhari-hari, 8 jam di perjalanan dengan mobil biasa ya kudunya bisa dilakoni dong??
Ya sudah, dibulatkanlah tekad untuk berpetualang kendara dengan anak 10 tahun ke Wisconsin!
Kita berangkat hari Rabu jam 9 pagi. Bagasi mobil cilikku sudah penuh dengan dua tas isi baju, cemilan, air minum, rompi tebal, jaket kulit, topi , sarung tangan, komputer dan sepatu boots (karena waktu mengecek cuaca di Wisconsin, ternyata ada kemungkinan saljuan). Berhubung ruang bagasi terbatas, kita kudu pinter-pinter ngepak supaya semua masuk…ha…ha…ha..
Sebelum masuk ke Interstate , kami mampir dulu di Chick-Fil-A buat sarapan dan Starbucks buat beli doping alias kopi supaya tegar nyetir selama 8 jam.
Rute perjalanan dari tempat kita tinggal, Louisville, ke Madison, Wisconsin ada beberapa pilihan. Total sekitar 460 mil. Tapi kita sengaja pilih rute yang tidak melalui Chicago, karena kita anggap akan terlalu hiruk pikuk dan kurang aman buat pengemudi amatiran seperti saya yang sering kagok orientasi 😉
Perjalanan kita intinya itu dari Kentucky, melewati negara bagian Indiana, terus menuju utara melewati negara bagian Illinois hingga akhirnya masuk negara bagian Wisconsin.
Interstate pertama yang kami ambil itu Interstate 71 arah Louisville, dari situ kita ganti ke Interstate 65 arah Utara, menuju ke Indianapolis. Pergantian propinsi dari Kentucky ke Indiana itu cuma 30 menitan, karena kota tempat kita tinggal, berdekatan dengan perbatasan Indiana.
Perjalanan selanjutnya, dari Interstate 65 hingga masuk ke Illinois lumayan gempor…separuh total perjalanan lah kira-kira. Di Interstate 65, kita pindah ke lajur Interstate 74 arah Peoria (menghindari Chicago)
Pas sudah masuk Illinois, girang juga, karena berarti satu negara bagian lagi, kami sudah sampai di tujuan!
Dari I-74, kita ganti jalur lagi ke I-39 North, sampai akhirnya masuk Wisconsin! yay!Kita sampai di hotel itu kira-kira jam 6 waktu setempat (atau jam 7 waktu Timur Amerika, jadi total kita di perjalanan itu 10 jam!)
Hotel yang kami pilih hotel Best Western West Towne Suite, lumayan bagus, dan lokasinya enak, karena dekat dengan mal dan restoran-restoran macam-macam, dari mulai dimsum, India, Vietnam dan restoran rantai lainnya.
Malam pertama di Madison, saya habiskan dengan rumpi-rumpi dengan sepupu hingga larut malam. Besok kami akan jalan-jalan untuk lihat gedung Ibukota Negara bagian!
Di tahun 2015, saya ‘ngeh’ kalau tahun depan kartu penduduk tetap (Permanent Resident Card aka Green Card) saya akan habis, artinya saya punya dua pilihan, memperbaharui kartu penduduk tetap saya atau mengajukan permohonan menjadi warga negara Amerika.
Jadilah saya baca-baca situs USCIS lagi untuk mengetahui biaya masing-masing proses. Biaya pengajuan menjadi WNA itu $680 termasuk cap jari sementara biaya memperbaharui kartu penduduk tetap itu $450, beda $230. Yang WNA cukup sekali, sementara yang kartu penduduk tetap , saya harus bayar lagi setelah habis masa berlakunya.
Pikir-pikir, koq males ya kalau di pikiran selalu harus ingat-ingat masa habis berlaku si kartu bersama-sama dengan dokumen pemerintahan lainnya yang harus diingat untuk di perbaharui : SIM, registrasi mobil, paspor, lah. Belum lagi, memikirkan biaya yang pastinya akan lebih tinggi 10 tahun mendatang? kalau saya pas lagi tekor gimana?
Ya wis lah…diputuskan saya kalau tahun ini saya akan ajukan permohonan jadi warga negara Amerika!
Kartu Penduduk tetap saya itu akan berakhir di bulan Maret 2016, saya hitung mundur 6 bulan – karena baca di USCIS 6 bulan sebelum kartu habis masa berlakunya, kita boleh mulai proses perbaharui – untuk kasus saya proses menjadi WNA. Bulan September 2015 saya jadikan patokan untuk memulai proses pengajuan WNA saya.
Saya juga mulai menabung jauh-jauh hari -$680 tidak sedikit buat ukuran saya!
Masuk bulan September 2015, syukurlah saya punya cukup uang untuk membayar biaya naturalisasi, dan saya juga mulai mengisi formulir N-400 yaitu formulir naturalisasi.
Dokumen N-400 ini ada 21 halaman, sebenarnya tidak ribet untuk mengisi dokumen ini, isiannya ya hal-hal ‘yang mendasar’ seperti alamat rumah, tempat kerja dll. Tapi, buat saya, formulir ini yang ada bikin riweh, karena :
Untuk alamat : selama 10 tahun di Amrik, keluarga kami pindah tempat tinggal 5 kali lebih dan tidak selalu mencatat tanggal kepindahan.Jadilah saya kudu bongkar-bongkar jurnal bahela, bolak balik lihat Facebook lintas waktu untuk dapatkan tanggal.
Untuk pekerjaan : tidak terlalu heboh seperti mengisi alamat, saya pribadi ‘cuma’ harus menulis 5 tempat kerja berbeda, lagi-lagi masalah tanggal yang bikin pusing.
Sejarah keluarga suami : idem ditto, lupa tanggal ini dan itu!
Waktu akhirnya selesai, huurah banget rasanya!!
Tanggal 12 September, saya beli cek dari bank untuk membayar biaya naturalisasi sebesar $680 dan tanggal 14 September saya kirim dokumen saya pakai UPS.
Saya memang sengaja pilih untuk kirim lewat jasa kurir, karena sempat ada pengalaman buruk menggunakan jasi pos biasa.
Nah waktu saya kirim ini, sempat bermasalah dengan petugas UPS. Di USCIS, secara spesifik diberikan 2 alamat yang berbeda tergantung bagaimana si pemohon akan kirim : lewat pos biasa atau menggunakan Express Mail atau kurir. Saya pilih lewat kurir (UPS).
Waktu saya di toko UPS, entah kenapa si petugas ‘ngotot’ mengasih saya Priority Mail, dia ngotot kalau itu sama dengan express mail dan dia bilang kalau pakai UPS mahal.
Pertama saya nurut, tapi waktu saya balik ke rumah dan cek langsung di situs pos Amrik, ternyata beda, jadilah saya balik ke toko UPS dan minta di ganti dengan kurir. Masalah saya bukan di harga, tapi saya ‘ngerti’ banget kalau urusan dengan imigrasi, kalau kita tidak mau kasus kita tertunda, ya harus ikuti aturan, Tidak maulah saya dokumen saya dikembalikan cuma gara-gara si petugas UPS ngotot gak jelas. Saya sempat jengkelnya minta ampun dengan si petugas UPS ini!! Please deh ah!
Tanggal 18 September 2015 saya terima surat dari USCIS kalau mereka sudah terima formulir yang saya kirim. Lega! berarti dokumen tidak hilang dijalan! Di surat pemberitahuan tertulis kalau mereka terima dokumen saya tanggal 16 September 2015.
Tanggal 2 Oktober 2015, saya terima lagi pemberitahuan dari USCIS, kali ini undangan untuk cap jari di lokasi USCIS di kota saya tanggal 15 Oktober 2015.
Nah waktu saya mau siapkan dokumen untuk cap jari ini, saya baru ngeh kalau kartu penduduk tetap saya koq tidak ada ya????? Hadwwweeeh!! mau nangis rasanya! cari ke sana ke mari, ubek lemari ini itu, tetap tidak ketemu. Pasrah lah saya kalau kartu PR saya HILANG!!!
Gimana dong???!! Masa saya harus ajukan permohonan penggantian kartu PR – yang ongkosnya $450??!!!
Nangis segugukan saya….panik tidak karuan. Dapat uang dari mana???
Dengan bantuan Google, saya coba cari ‘jawaban’ via internet……dari yang saya baca, ada perespon yang bilang kalau tidak perlu mengajukan permohonan penggantian kartu PR, tapi cukup buat laporan polisi tentang kehilangan laporan ini dan bawa laporan tersebut sebagai bukti.
Baiklah, itu yang saya akan lakukan! saya pikir, saya ambil resiko proses naturalisasi saya ditolak, tapi yang jelas saya tidak punya extra $450!
Untungnya saya punya kopi kartu PR saya di komputer, berwarna dan bisa saya cetak. Sementara saya buat laporan polisi, saya cetak juga kopi kartu PR saya.
Pembuatan laporan polisi itu paling lama 3 hari, saya lapor hari Kamis tanggal 8 Oktober 2015 – harusnya saya bisa cetak online lewat kontraktor yang kerja sama dengan polisi Louisville , eh waktu saya lihat hasilnya, loh, koq tidak tertulis nomor kartu PR saya di laporan???!! ya tidak ada gunanya lah!!
Saya telpon lagi ke kantor polisi, di laporan asli saya tercantum jelas nomor kartu PR saya, berarti si kontraktor yang ngaco!! SEBEL!! Untunglah saya bisa ambil sendiri laporan ybs di kantor polisi langsung. Jadilah hari Senin, saya ke pusat kota Louisville untuk ambil laporan polisi, cuma bayar $0.10! Puih!
Ya sudah, yang penting laporan kehilangan ada di tangan!
Di hari H untuk cap jari, saya komat kamit berdoa semoga tidak ditolak gara-gara tidak punya kartu PR!
Jadwal yang diberikan oleh USCIS itu jam 11:00 am, saya datang sekitar 40 menit sebelumnya, dengan hati-hati saya bilang ke petugas kalau kartu PR saya hilang tapi saya perlihatkan foto kopi berwarnyanya. Si petugas bilang ‘This is a good copy! I just need another ID please! HAIYAAAAAAAAA!! leganya!!!
Urusan cap jari ini lumayan cepat dan saya tidak terlalu lama menunggu! Sekitar jam 2 saya bisa balik ke tempat kerja lagi. Di sesi ini, petugas mencap pemberitahuan saya dan juga memberikan saya buku beriskan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan di langkah selanjutnya , yaitu wawancara.
Tanggal 19 Oktober 2015 saya terima pemberitahuan berikutnya dari USCIS, yaitu harus datang untuk wawancara. Pemberitahuan pertama , saya diberikan jadwal wawancara hari Selasa tanggal 1 Desember 2015, tapi kemudian saya terima 2 pemberitahuan lainnya dari USCIS. Yang satu isinya pembatalan tanggal wawancara 1 Desember, yang kedua jadwal wawancara dengan tanggal baru yaitu hari Jumat tanggal 4 Desember 2015.
Apa saya belajar gitu? Jelaslah!
Saya tidak tahu banyak tentang sejarah Amerika dan saya juga tidak mau gagal di tahap wawancara!
Hari wawancara, saya datang sekitar 30 menit sebelum jadwal yang ditetapkan 1:00pm. Hadweh…kali ini koq lama ya menunggunya dan ada beberapa pengunjung lain yang sudah menunggu sebelum saya datang.
Ada mungkin sekitar satu jam saya menunggu sebelum saya akhirnya di panggil.
Grogi? Jelas! Bukan cuma karena takut tidak bisa menjawab pertanyaan, tapi juga karena status hilang kartu PR tetap menggantung di kepala!
Pertama saya ditanya petugas,nama, tanggal lahir, alamat dsb.
Lalu saya diminta membaca kalimat dan menulis kata : the people
Selanjutnya saya diberikan 10 pertanyaan dan petugas tidak akan memberitahu saya apakan jawaban yang saya berikan itu benar atau salah. (yaaaaaaaaaah…tidak bisa belajar dari kesalahan dunk????!!)
Tidak semua pertanyaan saya ingat, yang jelas saya ditanya :
Siapa penulis dekralasi kemerdekaan
Siapa Presiden
Dari partai apa
Partai politik apa di Amrik
3 negara bagian pertama yang masuk dalam USA
Hasilnya? Yay! Saya dinyatakan luluss!
Saya sempat keder waktu petugas tanya kemana kartu PR saya? Waktu saya jawab apa adanya, petugas reaksinya santai-santai saja, dia berikan saya formulir untuk saya bawa ke acara sumpah warga negara sebagai pengganti kartu PR yang hilang.
Tada!!!
Satu langkah lagi!!!
Dari selesai wawancara, saya tunggu sebulan sebelum saya cek kasus saya online.
O iya, di situs imigrasi USCIS itu, kalau kita sedang dalam proses keimigrasian, bisa buat akun untuk lihat tahapan / progres selanjutnya.
Di akun yang kita buat, tinggal masukkan nomor tanda terima – yang ada di semua pemberitahuan dari USCIS dan kalau di klik, akan muncul status terbaru kita dan juga bisa lihat tahapan yang sudah kita lampaui.
This slideshow requires JavaScript.
Sempat panik karena koq setelah sebulan lebih saya belum terima pemberitahuan lagi dari USCIS, padahal sebelumnya pemberitahuan USCIS relatif cepat.
Status terakhir itu ‘wawancara dijadwalkan’. Lah?wong sudah selesai wawancara??!! kumaha???
Akhirnya tanggal 14 Januari 2016, status saya berubah !
Oath Ceremony Will Be Scheduled We placed you in line for your oath ceremony and will send you a notice for Receipt Number ***********, with the date, time, and location of your oath ceremony. You should receive your notice within 30 days of its mailing date. Please follow the instructions in the notice.
Tanggal 19 Januari, pemberitahuan yang saya tunggu-tunggu tiba!
Saya dijadwalkan untuk menghadiri acara sumpah kewarga negaraan tanggal 29 Januari 2015 jam 9:30 am di perpustakaan di pusat kota!
Tadinya saya tidak terlalu pusing mau pakai baju apa, eh terus ada teman lama yang menyapa di FB, ternyata dia juga menunggu hal yang sama dengan saya, dan dia tanya ” Kamu pakai baju apa ?”
Wah….pakai baju apa ya?????? Saya koq jadi ‘tertantang’ juga…..yang langsung kepikiran adalah mau pakai batik……trus ada teman kerja juga yang sempat bilang ‘kamu pakai merah, putih dan biru?’
Jadilah semalam, saya obrak abrik koper, nemu kain jarik batik yang tidak pernah dipakai sebelumnya, kebetulan warnanya biru….ingat-ingat, punya baju renda warna biru, trus ada ikat pinggang besar merah…dan untuk warna putih apa dong?? oh iya! saya kan punya kalung putih!!
Waktu nyoba si kain..gimana caranya biar si kain bisa saya pakai tanpa di jahit ya??? tadinya mau diikat, cuma koq kelihatan gendut amat dan tidak rapih???
Pikir punya pikir, dengan bantuan 2 peniti, satu tali pinggang dari baju lama, saya ‘aksen’kan si kain jadi rok berlipat…..siplah!
Warna merah, putih dan biru mewakilkan negara Amerika saya tampilkan di atasan saya, sementara negara ibu, Indonesia saya wakilkan lewat bawahan batik.
Merah, Putih Biru = Amerika ; Batik = Indonesia
Jadilah hari ini , Jumat tanggal 29 Januari 2016, saya diambil sumpahnya untuk menjadi warga negara Amerika, bersama-sama dengan 139 individu lainnya dari 45 negara!
Di surat pemberitahuan ditulis kalau acara mulai jam 9:30 am, lokasinya di Perpustakaan Louiville di jalan 301 York aka pusat kota.
Jam 9 kurang, kami sekeluarga tiba di lokasi – sudah banyak orang-orang menunggu di tempat yang sama
Jam 9 pintu perpustakaan dibuka
Jam 9:30 am pendaftaran di mulai, petugas mengecek surat pemberitahuan dari USCIS dan kartu PR partisipan dan masing-masing diberikan bendera Amerika kecil, amplop putih yang berisi :
Jadwal Acara
Detail Acara
The Star Spangled Banner – Lagu Kebangsaan Amerika
Pernyataan Sumpah Menjadi WN Amerika
Sampul surat dari Gedung Putih
Surat dari Presiden Obama
. Masing-masing partisipan diberikan nomor kursi tertentu, saya dapat nomor 91 – 3 baris dari depan panggung. Sip!
Jam 10:00 am pemohon, keluarga dan teman-teman mulai memasuki auditorium
Jam 11:00 am acara dimulai, dibuka oleh Hakim Federal Yang Terhormat Larry King.
Dilanjutkan dengan lagu Star Spangled Banner, kata pembukaan dari beberapa pejabat negara.
Dan ditutup dengan penyerahan dokumen naturalisasi.
Yang saya senang adalah saat kepala imigrasi menyebutkan negara-negara partisipan kali ini, mulai dari Algeria sampai Vietnam, saya satu-satunya yang dari Indonesia.
Berhubung kelaparan dan juga harus balik ke tempat kerja saya tidak foto banyak-banyak di lokasi. Maaf ya..jadi kurang ‘meriah’ tulisannya…he….he….he..
Fotoan sama Hakim ganteng
Hore! Resmi jadi WNA
Tiba di tempat kerja saya, rekan-rekan sekerja merayakan hari jadi saya dengan memberikan saya kartu, balon bintang Amerika, coklat dan rangkaian bunga yang cantik sekali!
Bos dari tempat kerja yang satu lagi memasang status dengan menge-tag saya di FB bersama rekan-rekan lainnya.
Terharu juga saya dengan kebaikan hati teman-teman ‘Amerika’ saya!
Foto sesama wna..hi..hi..hi..
Hadiah dari rekan-rekan kantor
Rangkaian Bunga Cantik!
Resmilah saya menjadi warga negara Amerika, tapi seperti kata hakin ganteng, menjadi warga negara Amerika artinya saya patuh dengan aturan pemerintah Amerika, tapi saya tetap orang Indonesia dengan budaya Indonesia yang saya bawa.
Saya adalah orang Indonesia berkewarganegaraan Amerika!
Saya ini orangnya boleh dibilang pemalas sosial – bukan anti, cuma malas. dan agak sulit berteman. Kalau ada acara hura-hura dari tempat kerja, saya jarang (atau boleh dibilang tidak pernah) datang. Kenapa? Pada dasarnya saya cenderung pemalu (kurang PD gitu) dan kurang gaul lah istilahnya. Kagok kalau harus ketemu orang-orang baru. Bingung mau ngobrol apa ya?
Tapi di sisi lain saya menyadari kalau ‘bertemu orang baru’ dan berteman itu penting buat ‘mental’ dan pergaulan, jadi sering kali saya harus paksakan diri untuk datang ke acara ngumpul dengan teman-teman, meskipun kedernya minta ampun.
Selain kuper, saya orangnya juga sentimental dan agak terlalu berpengharapan tinggi sama orang lain. Gara-gara pengalaman kurang mengenakkan hati, saya tambah menarik diri untuk ‘bergaul’. Bukan sekali dua kali saya semangat mau berkenalan/ketemuan dengan teman baru/lama, tapi di tanggapi dingin saja atau malah dicuekin. Jadilah saya agak-agak ‘patah hati’ dalam hal ‘bergaul’ ataupun bertemanan secara umum.
Justru karena pengalaman kurang mengenakkan yang saya alami, saya jadi amat menghargai usaha teman-teman yang menyisihkan waktu mereka untuk menyempatkan diri ketemuan dengan saya.
Di tahun 2009, kenalan saya waktu stres di kedutaan besar Amerika menunggu proses visa, menyempatkan mampir di kota saya waktu dia dan pasangan ber-road trip ria ke negara-negara bagian di sekitar negara bagian saya. Waktu itu saya tinggal di kota kecil di Montana; Montana sendiri negara bagian yang kurang ‘beken’ lah dan kurang menarik (kecuali kamu senang dengan alam), tapi tho, teman saya ini bela-belain mau ketemuan dengan saya. Dia sendiri tinggal di negara bagian Texas. Kebayang kan lumayan jauh deh!
Awal tahun 2012, kami hampir akan pindah ke negara bagian Texas, di situ saya sempat ketemuan teman waktu sama-sama di Ohio. Masih di tahun 2012, teman saya lainnya dari Ohio memasukkan Kentucky di dalam rute perjalanannya.
Hari Senin lalu, lagi-lagi teman waktu di Ohio menyempatkan diri untuk ketemu saya di perjalanan liburannya menyusuri Ohio dari utara ke selatan.
Senang? Banget!
Meskipun cuma 1-3 jam dan kondisi kadang kurang mendukung (suami barusan kehilangan kerja, saya tidak enak badan, atau hujan turun dengan derasnya saat kami ketemuan) tapi saya amat menghargai teman-teman saya ini bersedia mampir untuk ketemuan dengan saya.
Saat-saat senang seperti inilah yang membuat saya bersyukur akan pertemanan kami dan bisa mengacuhkan pengalaman pahit dengan teman lain.
Yang jelas saya jadi sadar kalau waktu, jarak ataupun frekuensi pertemuan tidak menjamin awetnya pertemanan kita. Seperti kata pepatah dari internet yang saya pinjam :
Terima kasih ya Dini, Vania, Rai dan Suli+Joe sudah repot-repot mau ketemuan! Mudah-mudahan kita bisa ketemuan lagi ya!
Piye tho, wis tuwir gini masih demen fotoan sama Santa???
Dari segi kepercayaan, saya tidak ber-santa-santaan sejak kecil, dari segi budaya campuran saya tidak membesarkan anak saya bersanta-santaan – pertama memang karena segi kepercayaan, tapi sejujurnya dari segi keuangan juga tidak kuat euy (tiap tahun ngantri untuk berfoto dengan santa, membelikan hadiah dari ‘santa’ dsb)
Setelah anak saya agak gedean sedikit, saya agak melonggarkan dia berinteraksi dengan santa.
Kemarin waktu jalan-jalan di pusat kota Louisville, mau foto selfie dengan latar belakang Snoopy eh tahu-tahu ada Santa nongol, ya sudah, jadilah si kecil berfoto dengan Santa, dua kali malah – karena si Santa tiap kali nongol waktu kita mau berselfiean- masa ditolak?
Hari ini ditempat kerja, eh…ada Santa! ya jadilah si Santa di todong kami semua untuk berselfie ria. Dengar cerita si Santa, kalau dia melakoni peran Santa ini setiap tahun dan tidak dibayar! dan dia melakoni dibeberapa tempat, bayangkan dengan Santa di mal yang di bayar $2,000 per minggunya!
Meskipun saya tidak ‘peduli’ dengan keberadaan santa, tapi saya salut dengan si bapak, bersedia menyenangkan hati anak-anak tanpa pamrih!
Gimana dengan kita semua ya? bisa tidak kita jadi santa tanpa pamrih?
Halo! Di sini lagi musim sakit euy! Di tempat kerja ada 3 rekan yang sakit ; ada yang kena virus flu, ada yang kena virus perut ada yang kena alergi tidak jelas.
Setelah bertahan, kayaknya saya ketularan juga. Jadi tulisan saya kali ini lewat foto-foto saja ya….karena masih tidak enak badan dan tidak ada energi untuk menulis.
Lokasi : Hutan alam O Bannon, Indiana
Sempat melihat beberapa rusa muda saat kami meninggalkan lokasi.
Lucu ya? saya selalu senang kalau ketemu rusa liar seperti ini, entah kenapa saya selalu sebut si rusa dengan sebutan ‘Bambi’…he…he…he..
Waktu kita menuju pintu keluar, eh ketemu lagi dengan bambi lainnya di pinggir jalan :
Hore hari Sabtu lagi! Setelah minggu lalu cuaca kurang bersahabat, Sabtu ini matahari tidak malu-malu mengeluarkan cahayanya. Berhubung hari Sabtu minggu depan dan minggu berikutnya saya harus kerja, saya paksa suami dan anak untuk jalan-jalan, tidak usah jauh-jauh, cukup ke pusat kota (downtown) saja,pinta saya.
Jadilah kami bertiga berangkat ke pusat kota, kebetulan hari Jumat sebelumnya saya sempat ke pusat kota juga untuk urusan imigrasi dan saya sempat lihat ada ‘keriaan’ di jalan keempat (4th Street), ya sudah kami menyusuri koridor jalan utama untuk menuju 4th st, sambil celingukan kiri dan kanan melihat hal-hal yang bisa diabadikan dengan kamera.
Pusat kota Louisville boleh dibilang di belah oleh 2 jalan utama : Main St dan Market St. Ibarat koridor Sudirman di Jakarta, di dua koridor ini, kita bisa temukan restoran, gedung kantor, gedung pemerintahan, lapangan terbuka, teater, hotel lengkap lah pokoknya.
Di Main St ada satu bagian yang disebut dengan Museum Row dimana ada 10 museum/atraksi yang berdekatan satu dengan yang lainnya :
1. Louisiville Slugger Museum,
2.Frazier Museum,
3. Kentucky Science Center,
4. Muhammad Ali,
5. Glasswork,
6. Kentucky Museum Art & Craft,
7. The Kentucky Center for the Performing Art,
8. 21C Museum Hotel,
This slideshow requires JavaScript.
9. Kentucky Show,
10. Evan Williams Bourbon Experience.
Saya sendiri belum mengunjungi kesepuluh tempat tersebut, yang sudah pernah saya kunjungi itu Louisville Slugger Museum (tidak masuk ke dalam lokasi pembuatan), Kentucky Science Cnter, The Kentucky Center for the Performing Art Kentucky Museum Art & Craft dan Evan Williams Bourbon Experience. Kebanyakan juga karena saya ikutan acara kunjungan sekolah anak saya. 😉
Selain atraksi dan museum, pusat kota juga dihiasi berbagai macam dekorasi artistik, dan seperti yang saya pernah tulis sebelumnya Louisville ini kotanya balapan kuda, jadi jangan heran kalau ketemu berbagai patung kuda warna warni di sudut kota Louisville.
This slideshow requires JavaScript.
4th Street itu sendiri oleh pemerintah setempat dijadikan koridor hiburan (entertainment) yang artinya jalan ini bisa ditutup saat ada konser musik jalan ataupun acara musiman lainnya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sehari-harinya 4th St penuh dengan rumah makan-rumah makan, baik lokal maupun chain : Hard Rock Cafe, Kentucky Fried Chicken, Taco Bell, QDoba, Dunkin Donut, dan sebagainya.
Berhubung sudah masuk bulan Desember, kota Louisville saat ini sibuk berdandan untuk menghadapi Natal : pohon natal, Sinterklas dll. Waktu kita turun dari gedung parkir dan lewat koridor salah satu museum, eh ada Sinterklas yang ‘minta’ di foto bareng A. Ya jadilah si A berfoto dengan Santa…ha..ha..ha…(padahal kami lagi mau nyoba tongkat narsis yang baru kami dapat dari pesta natal di tempat saya kerja di hari sebelumnya!)
Benar saja, waktu kita sampai di 4th st sendiri, 3 blok ditutup dari akses kendaraan untuk acara ‘Santa House‘. Pemda membangun kedai berjualan dengan nuansa gubuk di jalan yang ditutup, juga membangun arena sepatu es. Kedai-kedai yang dibuka jualannya bermacam-macam, dari mulai wiski, kopi, hiasan natal, sampai makanan. Sayangnya ‘rumah Santa’ masih ditutup , jadi kami tidak bisa melihat isi rumah si Sinterklas.
Di blok selatan 4th st ada toko kesukaan saya, toko coklat isi bourbon…hi..hi..hi…namanya Art Eatables. Ada kali 2 tahun lalu saya nyasar di sini, baru kemarin mampir lagi…jadilah beli 2 kotak coklat bourbon.
Yang saya selalu senangi saat berjalan-jalan di pusat kota skala Louisville adalah melihat arsitektur gedung-gedung tua. Dan sebagian besar kota-kota di Amerika, pemerintah lokalnya lumayan perhatian dengan pelestarian gedung-gedung bersejarah.
Di Amrik yang namanya toko barang bekas (bukan baru) itu dimana-mana. Judulnya bisa toko antik, toko hemat(thrift), dikelola sendiri atau bagian dari chain : Goodwill, Salvation Army, Clothes Mentor, Plato Closet dll.
Dari sekian banyak tempat jual barang bekas pakai , di kota saya ada yang namanya Peddler Mall – kalau terjemahan bebasnya sih Mal Kelontong ya..tapi yang saya lihat di sini PM itu ibaratnya ‘garage sale‘ sepanjang tahun deh, karena barang-barang yang dijual di PM rata-rata barang bekas pakai, meskipun ada PM yang penjajanya menjual makanan ringan.
PM penataannya mengingatkan saya dengan penataan Pasar Senen…he…he..he di mana ya ada lapak-lapak terbuka di sana sini, bedanya di PM ya tidak ada penjual di lapak, pengunjung tinggal ambil barang yang mereka tertarik untuk di bayar di kasir di pintu masuk.
Di PM, kita ibarat menemukan ‘harta karun’ yang tidak disangka-sangka.
Hari ini karena hujan seharian, saya yang tadinya dijadwalkan untuk kerja di tempat kedua setelah pagi kerja di tempat pertama, ternyata boleh diliburkan. Nah lo? Kemana dong?
Jadilah kita iseng-iseng mampir ke PM setempat.
Saya pribadi bisa habis waktu berjam-jam cuma melihat-lihat ‘harta karun’ di PM, sementara suami biasanya cuma sekilas wae.
Di PM ini kamu bisa membeli furnitur dari mulai antik sampai relatif baru, peralatan olah raga, peralatan pertukangan, baju, benang-benang rajutan, perhiasan antik, mainan, buku, makanan ringan, kamera, mata uang, piring-piring makan, gelas-gelas, dekorasi rumah dan panjaaaaaaaang lagi lah daftarnya.
Harta karun yang hari ini kami temukan adalah jaket bulu imitasi seharga $10 yang kebetulan muat buat saya! Saya memang sudah lama kepingin punya jaket bulu, cuma selalu cekikikan karena tergelitik bulu-bulu pas memakainya, jadi mau beli jaket bulu mahal koq sayang uangnya, karena ya bisa jadi tidak terpakai karena ‘kegelian’. Kalau $10 ya boleh lah…
Si kecil menemukan lebih banyak lagi harta karun : sekantong plastik penuh dengan potongan-potongan acak Lego, mainan senjata Nerf, mobil-mobilan….ha! bisa bokek lah kalau nurutin kemauannya!
Saya juga terpekik kegirangan waktu ketemu lapak yang menjual rok-rok ala Scottish! Karena jadi ingat waktu kecil, Tante saya membelikan saya oleh-oleh rok ini waktu beliau habis pulang liburan di Inggris. Nostalgia lah istilahnya. Sayang saya kegendutan, jadi tidak ada rok yang muat 😦 (namanya bukan rejeki kali yaaaaaa…)
Tapi itulah serunya menengok tempat-tempat seperti ini, kita seperti dibawa ke masa lalu karena kita menemukan barang-barang yang pernah kita miliki sebelumnya.
Ini beberapa foto dari PM yang saya ambil hari ini:
Setelah 10 tahun tinggal di Amrik, ternyata saya bosan berpartisipasi dalam kehebohan Black Friday (BF).
Kalau ada teman-teman yang belum tahu apa Black Friday itu, buat saya BF ada dasarnya adalah ‘gong’ dimulainya kehebohan berbelanja untuk menghadapi tradisi penghadiahan di hari Natal.
BF awalnya di mulai hari Jumat pagi-pagi subuh, setelah hari Thanksgiving. Tapi dua tahun belakangan, tradisi belanja BF DEAL dimulai di hari Thanksgiving.
Buat saya agak-agak keterlaluan, karena Thanksgiving kan hari libur yang tidak bernuansa keagamaan dan lebih umum, sekudunya ya di liburkan saja lah, tapi ternyata masyarakat banyak juga yang belanja di hari Thanksgiving, jadilah pergeseran waktu ini mulai menjadi hal yang ‘lumrah’.
Tahun 2007, pertama kali saya kerja di ritel, saya mulai kenal BF dan tradisinya. Toko tempat saya kerja kalau tidak salah ingat buka jam 3 pagi! Lumayan ‘gila’ untuk skala kota tempat saya berdomisili yang notabene kota kecil tapi karena tempat saya kerja boleh dibilang satu-satunya tempat belanja yang cukup ‘mentereng’ (fancy gitu), meskipun toko buka jam 3 pagi, pengunjung ya ada saja.
Sebagai pekerja ritel (waktu itu), terus terang saya ‘menderita’ saat BF, apalagi di tahun 2011 waktu suami tinggal di negara bagian lain, anak saya saat itu berumur 6 tahun, kelabakan saya mencari bantuan untuk menjaga anak saya selama saya kerja di jam zombie.
Sebagai konsumen, saya tidak pernah melakoni kelakuan beberapa orang yang sampai-sampai buka tenda segala untuk menunggu toko-toko dibuka untuk bela-belain beli BF Deal atau ngantri dari jam 10 malam menunggu toko di buka.
Paling-paling waktu saya tinggal di Cleveland tahun 2010, saya pernah pagi-pagi sekali berangkat ke Outlet atau jam 12 malam ngacir ke Toys R Us seberang apartemen untuk beli hadiah ultah si kecil di bulan Januari nanti.
Setelah saya tinggal di KY dan kerja di institusi keuangan boleh dibilang saya tidak lagi kebagian ber BF-ria karena saya selalu harus kerja di hari Jumat setelah Thanksgiving.
Tapi ya tidak apa-apa, karena setelah bekerja di ritel bertahun-tahun, saya ‘ngeh’ kalau tidak selalu BF Deal itu paling murah. 😉
Hari ini saya ya di rumah saja, tadinya mau melihat keramaian dan ambil foto buat teman-teman, tapi koq malas ya?
Jadilah saya dan anak sibuk membuat LEGO dengan tema Black Friday Madness has begun…..
Silahkan gunakan imaginasi masing-masing dalam meninterpretasikan LEGO kami :
Antrian di luar toko
Kehebohan Pengunjung Masuk-Keluar Toko
Antrian di Dalam Toko : Sumpek!
Pengunjung Berdesak-desakan Untuk Masuk Ke Dalam Toko
Ekspresi Girang Pengunjung Setelah Berhasil Masuk
Dua Wanita Rebutan Baju
Si Mas Kalap Belanja
Ngantri di Bilik Ganti
Mas Ini Lagi Bayar Belanjaannya
Muka Sedih Saat Barang Inceran Habis Terjual
Petugas Toko Kelelahan Setelah Toko Tutup
Update
Setelah melihat iklan toko Target, ada XBox, saya dan anak yang ada tergoda ngacir ke Target, di tambah memang saya punya 14 kartu hadiah (gift card) yang bisa di belanjakan di Target.
Kami parkir di sisi gedung – bukan di depan gedung- yang waduh….kendaraan bersliweran – langsung dapat parkir, lalu ke bagian elektronik, ambil XBox, dan langsung bayar di kasir di lokasi – dibanding di kasir utama yang antriannya sudah seperti ular naga panjangnya!
Setelah nyasar di Jim Beam, saya ‘kecanduan’ ingin melihat tempat-tempat penyulingan lainnya di KY Bourbon Trail! Sekali lagi bukan kecanduan dengan bourbonnya, tapi saya penasaran dengan cara pemasaran mereka : dari sekian banyak tempat penyulingan di KY, bagaimana masing-masing merek membedakan diri mereka dengan pesaingnya? Itu yang lebih membuat rasa ingin tahu saya membuncah, kalau masalah rasa, blaaaaaaaaaaaahhhhh tetap saya tidak doyan. 😉
Minggu, tanggal 24 November 2015, saya loncat-loncat kegirangan karena matahari bersinar cerah dan suhu udara lumayan bersahabat.
Maklum, di Amerika, kalau sudah masuk bulan November itu artinya sudah harus bersiap-siap menghadapi suhu dingin bahkan salju. Setiap kali ada hari dimana udara lumayan hangat dan matahari bersinar, sebagian besar orang sini langsung memanfaatkan dengan pergi ke luar menikmati udara bagus sebisanya. Demikian juga saya.
Jadilah kami ngacir menuju lokasi Maker’s Mark. Saya pilih MM karena botol-botol MM itu ditutup dengan menggunakan lilin merah – yang saya ingat pernah saya lakoni waktu kerja di perusahaan Jepang tahun 1997 dimana bos saya mengelem amplop berisi dokumen penting dengan lilin merah – kesannya ‘keren’ dan aristrokat gitu…ha….ha….ha.
MM lokasinya di selatan kota Louisville, untuk menuju MM, kami melewati 2 tempat penyulingan lainnya : Jim Beam dan Four Roses – yang lokasinya di jalan utama. Saya pikir dong lokasi MM juga di jalan besar, ternyata salah besar. Untuk ke lokasi MM, kami masuk ke ‘pedesaan’ , istilahnya di tempat ‘jin buang anak’ atau out of nowhere gitu.
Seperti juga lokasi Jim Beam and Woodford Reserve, kampus MM juga apik dan asri (dan tidak bau!!)
Seperti halnya Jim Beam, di MM juga tersedia tur, di MM harga tiket untuk dewasa itu $9, anak-anak dibawah usia 21 tahun gratis.
Tiket Tur
Paspor Ky Bourbon Trail
Label Maker’s Mark
Cap Maker’s Mark
Kampus MM relatif lebih kecil dibanding Woodford Reserve, tapi itu karena MM punya kampus lebih dari 1 lokasi. Tur kami kali ini , seorang wanita dan kita tidak dibekali radio, tapi cukup mendengarkan suara si pemandu tur.
MM konon menggunakan tipe gandum yang berbeda dengan merek lainnya, disamping itu seperti juga Woodford yang mempunyai produk ‘khas’ disamping produk utama mereka, MM punya Maker’s Mark 46, bourbon untuk produk ini menyerap tambahan kayu tertentu disamping tong kayu yang digunakan untuk produk utama. Warnanya menjadi lebih gelap dan konon rasanya lebih ‘dalam’.
Dibanding Woodford, tempat penyimpanan tong kayu MM lebih kecil dan juga di MM, tong-tong kayu ini diputar dengan tangan untuk menjamin ‘kematangan’ merata dari si borbon. (di Woodford mereka mengandalkan perubahan musim untuk pematangan borbon mereka)
Yang beda lagi, di MM, pengunjung dibolehkan menco’el jari mereka untuk mencicipi si borbon saat dalam proses fermentasi – dimana semua bahan-bahan setelah selesai ditumpuk, dituang ke tong kayu raksasa terbuka. Ewwwwwwww!!
Ruang icip-icip di MM juga terlihat lebih ‘mewah’, karena dindingnya kaca. Pengunjung mencicipi 4 jenis borbon : dari tipe pertama yang warnanya sangat terang (hampir bening) hingga tipe nomor 4 yang warnanya paling gelap.
Beda dengan kunjungan di Woodford dimana ada 2 ibu-ibu yang juga ‘memble’ setelah menegak borbon, disini cuma saya yang mukanya berkerut-kerut setelah mencicipi borbon, pengunjung lainnya sepertinya semua penggemar borbon, karena saya mendengar suara ‘aaaaaahhhhhh’ dari mereka.
O iya, kalau di Woodford coklat disediakan saat pencicipan, di MM, coklat bisa diambil setelah pencicipan. (Jelas, saya ambil sebanyak mungkin!! 😉
Setelah pencicipan, pengunjung masuk ke toko suvenir, dimana pengunjung bisa me’wax botol ataupun gelas pilihan mereka.
Saya tidak ‘ngeh’ kalau boleh memilih me-wax gelas, jadilah saya pilih borbon paling kecil untuk di lilinkan. (kalau boleh milih, saya mending ‘melilin’ gelas daripada botol borbon, karena lebih murah dan juga saya tidak tahu mau dikemanakan si borbon itu yak???)
Pengunjung harus memakai celemek, kacamata pengaman, sarung tangan dan sarung lengan sebelum masuk ke tempat waxing.(waxing bahasa Indonesianya apa ya????)
Proses waxing ini di MM sepenuhnya dilakukan dengan tangan – bukan mesin. Konon pemilik MM sempat berargumen untuk mengubah proses ini dengan menggunakan mesin, tapi sang istri berketetapan untuk melanjutkan tradisi dan dia menang. Jadilah hingga detik ini semua botol-botol MM di tutup dengan lilin merah yang tidak ada satupun yang sama.
Proses pelilinan dengan tangan ini lucunya membuat beberapa botol menjadi bahan koleksi – karena sifatnya yang unik. Ada beberapa botol yang ‘kebanyakan’ lilin hingga meleleh ke label – yang tidak seharusnya’- tapi oleh MM dibuat menjadi ‘one of a kind‘. Semakin ‘ngawur’ lelehan si lilin, semakin ‘keren’ si botol jadinya. Ada-ada saja ya??
Di akhir tur, penunjung boleh berjalan kaki kembali ke gedung utama atau naik troli ke tempat parkir. Saya dan si kecil pilih naik troli, karena si kecil hobi naik troli!
Jadi apa dong perbedaan antara satu penyulingan dengan yang lainnya?
Strategi pemasaran jelas memegang peranan penting dalam pembedaan masing-masing penyulingan
Jim Beam satu-satunya tempat penyulingan (diantara 2 lainnya : Woodford dan Maker’s Mark) yang punya tempat makan yang cukup mengenyangkan (bukan cuma makanan ringan)
Jim Beam dan Woodford menjual coklat, tapi tidak di MM
Jim Beam juga satu-satunya tempat penyulingan yang melakukan pencicipan dengan cara ‘dispenser’. Pencicipan di Jim Beam itu lucu, ada kira-kira 5 stasiun dispenser bourbon dengan berbagai rasa dimana pengunjung tinggal menggunakan kartu yang mereka dapat dari pembelian tiket untuk mencicipi borbon. Seperti dispenser soda di tempat makan cepat saji.
Cuma di MM pengunjung bisa melakoni pelilinan botol untuk dibeli.
Di MM yang saya senang itu di gedung pembelian tiket ada dinding bergambar menggunakan ubin-ubin kecil warna warni. Cantik sekali, jadilah saya ngeceng di dinding tersebut berkali-kali 😉
Dinding Cantik Tempat Ngeceng
SIV – singkatan dari Samuel (pemilik MM) dan generasi ke 4
Juga di gedung terakhir sebelum masuk ke toko suvenir, di langit-langit mereka buat keramik warna-warni yang masing-masing warna melambangkan proses pembuatan borbon : merah -warna kayu, biru warna air, kuning warna saat peragian.
Puaskah saya jalan-jalan ke tempat penyulingan borbon?