Belajar Yuk! Untuk Kesehatan Otak & Wawasan !

Waktu jaman kuda gigit beton, Gak pernah terpikir terlalu sering sama yang namanya meneruskan pendidikan sampai PhD misalnya. Jujur, saya tidak terlalu ‘minat’ sekolah waktu masih tinggal di Indo.

Kuliah di universitas ya karena sudah ‘jalannya’. Sempat kepingin S2 ambil master di UGM itu juga gara2 ada beberapa teman seangkatan yang ambil Magister manajemen, bukan karena ‘mau menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Beda sama mantan pacar yang hobi banget sekolah. Setelah S1, terus lanjut S2, lalu S3, sampai itu gelar panjangnya ngalah-ngalahin nama lengkap.

Pas kerja memang saya suka ikutan kelas marketing misalnya, terus kelas belajar properti. Dulu kelas-kelas seperti itu gak terlalu mahal ya. Masih terjangkau biayanya.

Alasan ikut2 kelas seperti itu? Karena saya memang suka topik-topiknya.

Nah, pas pindah ke Amrik, kejeduG deh. Ternyata bekal sarjana Indo boleh dibilang gak berlaku. Tapi belum kepikiran kuliah lagi. Karena ya waktu itu langsung hamil dan besarkan anak lah ya.

Baru pas pindahan ke kota ketiga, kepikiran mau ‘sekolah lagi’. Kebetulan pas pindah di kota kedua, disitu saya baru ngeh tentang keberadaan Community College dan di kota ketiga ini, ada Community College nya.

Jadilah saya ambil associate degree kalo gak salah? D3 gitu ya. Ambil mata kuliah Inggris dan Akutansi, dua-duanya online. Eits ternyata gak gampang ya. Musti disiplin diri belajar. Seingat saya, dua-dua mata kuliah ini saya lulus sik. Tapi gak greget gitu.

Mungkin memang saya ya gak demen sekolah lagi ya?

Nah terus di tempat kerja ini, beberapa tahun lalu, saya dikasih tahu rekan kerja, kalau ada program Guild, yang tempat kerja bayar (gak semua program 100%, tapi lumayan banyak). Rekan kerja saya ambil Bachelor Degree apa gitu, ya karena dia memang lulusan SMA.

Eh lucu juga? Pikir saya. Coba ah lihat-lihat.

Nah, baru awal tahun ini ni, saya lebih seriusin lagi lihat-lihat katalog, Karena sungguh ini lagi butek banget, bosen, pengen cari sesuatu yang beda, belajar sesuatu yang baru. Eh, lihat program tentang pengenalan Artificial Intelligence Implication of Business Strategy Program dari MIT Sloan.

Memang lingkup kerja saya meskipun bukan teknologi secara langsung, tapi kena cipratan lah.

Ya sudah saya bulatkan untuk ambil program kelas bisnis ini. Jeda waktunya cuma 6 minggu. Setiap minggu, ada modul baru dan ada tugas berbeda-beda. Kelas dimulai awal bulan Maret 2025.

Tugasnya biasalah menulis pendapat , ide berkaitan dengan AI dan pekerjaan. Gak bohong, kalau saya agak keder saat mengerjakan tugas. Ya masalah bahasa, ya masalah pengertian saya ke topik yang bersangkutan.

Alhamdulillah, semua tugas saya selesaikan tepat waktu dengan bantuan partner saya. Alhamdulillah juga semuanya dapat nilai Excellent,

Di awal bulan Juni 2025, akhirnya saya dapat sertifikasi dari MIT Sloan. Wuih, keren juga !

Eh , serius ni, belajar itu gak ada ruginya loh. Meskipun mungkin teman-teman tipenya sama seperti saya , dalam arti gak terlalu tertarik sekolah penuh, ambil kelas-kelas bisnis seperti ini itu berharga loh!

Selain melatih otot otak kita diajak melihat hal-hal baru, berpikir di luar kebiasaan sehari-hari, juga buat bikin wawasan bertambah kan?!

Yuk belajar lagi yuk!

Dan juga ya, ambil kelas ini membuat saya rendah hati, tahu diri dan kagum sama teman-teman yang meneruskan sekolah lagi. Apalagi mereka-mereka yang umurnya tidak muda lagi. Gak mudah loh! Selamat ya! Kalian hebat! Saya ikutan bangga dengan perjuangan kalian!

Depresi dan Ekspresi

Sering saya bertanya-tanya, apa yang ada di benak Kate Spade, Robin Williams, L’Wren Scott, Anthony Bourdain di detik-detik terakhir mereka sebelum mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup mereka.

Keempat sosok ini, boleh dibilang semuanya tidak kekurangan materi, paling enggak, itu anggapan khalayak umum, Kate Spade dan L’Wren Scott, dua-duanya perancang sukses. Dan siapa yang tidak kenal aktor Robin Williams, aktor komedi pula. Anthony Bourdain? Ya pasti tahulah ya.

Mereka bukan cuma terkenal, tapi berhasil dibidang mereka

Tapi mereka semua memutuskan kalau mengakhiri nyawa mereka adalah solusi untuk masalah/penderitaan mereka.

Mungkin mereka dikategorikan high functional depressed person. Jadi meskipun mereka sedang merasakan depresi berat, di depan umum, mereka bisa menyembunyikan perasaan mereka dan bertingkah laku selayaknya.

Mungkin juga mereka sebetulnya sudah “berteriak” ke sana kemari, tetapi orang-orang sekitar mereka tidak selalu ngeh, mawas akan jeritan mereka?

Mungkin teriakan mereka diacuhkan, diremehkan, tidak dianggap serius.

Buat saya pribadi mengakhiri nyawa itu tidak gampang. Pastinya dilakukan penuh kesadaran dan “keberanian”. Dalam arti, kelelahan yang bersangkutan sudah mencapai puncaknya.

Konon depresi itu dialami semua orang. Sebabnya? Mungkin lingkungan, mungkin juga perubahan hormon.

Saya sendiri sering mengalami depresi. Saya mawas diri sekali kapan depresi merayapi pikiran saya, tapi disisi lain kadang saya tidak bisa mengelak.

November, Desember, Januari, Mei dan Juli, bulan-bulan di mana depresi saya nongol. Saat ovulasi, saya akan merasa lebih khawatir, stress yang enggak enggak.

Belum lagi masalah kerja, anggota keluarga. Saya akui hal tersulit untuk saya dalam mengendalikan depresi saya adalah tidak adanya seseorang yang saya bisa percaya untuk saya mencurahkan kondisi depresi saya.

Memang sulit untuk orang luar mengerti tingkat depresi seseorang. Terutama mereka yang boleh dibilang tidak pernah mengalami depresi atau mungkin mereka sudah pada tingkat ‘SUHU’ dalam mengendalikan emosi mereka.

“Mau kamu apa sih?’

Kamu mau saya gimana??! Gak ngerti deh! Kan saya sudah kasih tahu, semua akan baik-baik saja! Mau dikasih tahu apa lagi??

Buat saya depresi itu campuran rasa takut, kewalahan, ketidakpercayaan diri, kekhawatiran akan hal-hal di luar kontrol kita.

Seringkali yang saya harapkan hanya sekedar sentuhan tangan, pelukan dan kata-kata menenangkan dari seseorang yang saya anggap bisa memahami saya.

Tapi kenyataannya saya salah asumsi, tidak akan ada yang bisa memahami saya. Saya harus hadapi semuanya sendiri. Karena orang lain ya gak peduli lah. Mereka punya masalah masing-masing. Belum tentu juga mereka peduli dengan kondisi mental kita yang sedang carut marut.

Andai tindakan mengakhiri nyawa sendiri diperbolehkan oleh hukum. Kalau seseorang wanita diberikan pilihan untuk aborsi, kenapa manusia tidak diberikan pilihan untuk hidup mereka sendiri?

Pasar Loak

Jauh2 tinggal di Amrk bukannya bergaya pakai tas Tory Burch, Kate Spade, Coach dll, saya koq malah demen yang namanya jalan-jalan ke pasar loak, atau istilah bulenya Vintage Market/Flea Market.

Agak beda dikit dengan toko jual barang2 bekas seperti Salvation Army, Goodwill yang jualan barang2 dari donasi masyarakat , Vintage Market lebih ke pasar dimana banyak booth sewaan si pemilik barang yang naro barang2 mereka dan kasih harga seberapa yang mereka mau untuk dijual. Jadi seperti consignment.

Di kota saya ada lah beberapa toko seperti ini.

Yang serunya kalau ke toko-toko seperti ini saya koq jadi banyak nemu barang-barang yang mirip seperti ibu atau sanak keluarga di Indo punya.

Jadi bukan cuma belanjalah, tapi bernostalgia juga

Pernah saya iseng pergi buat cari figur gajah. Eh nemu ukiran gajah kayu buatan Thai, keren banget kan?.dan cuma $10.

Pernah lihat pembatas ruang yang ala2 ukiran Jepara gitu. Pengen banget beli!

Hari ini iseng-iseng kami pergi ke salah satu vintage market di kota.

Saya pengen cari piring-piring kristal untuk tatakan buat pot-pot tanaman saya.

Sempat lihat “kursi rotan” ala2 pejabat tahun 80 an versi mininya. Trus lihat toples kue kristal, tas pesta metal, tempat garpu kecil kalo gak salah dari belalai gajah yang diukir yang seperti almarhum ibu punya.

Belum lagi musik yang dimainkan juga musik jadul. ABBA yang almarhum bapak suka pasang pagi-pagi circa 80 an.

Ah..tenyata saya sudah menua ya.

Yang ada saya beli vas cilik 2, yang rencananya mau saya kasih bunga segar, sendok bertuliskan Bismillahi rahmanni rahim dan piring kristal segi 4 buat tatakan pot.

Tempat Duduk Terbaik

Waktu di Indo, masalah tempat duduk oke saya cuma tahu kalau nonton bioskop, opera, teater dan pertunjukkan2 lainnya yang pakai bayar lah. Tahunya ya karena harga tiketnya suka beda (kecuali bisokop ya).

Kayak bulan lalu dapat tiket gratis nonton Broadway kursi kami H17-18..asi banget karena dekat dengan panggung. Bandingkan dengan Orkestra HH misalnya, yang jauh di belakang.

Saya juga baru tahu tentang “best seat” di pesawat terbang , yaitu dibagian emergency exit karena dapat ruang kaki lebih luas, tapi juga harus mau nolongin penumpang lain saat keadaan darurat.

Nah pas di Amrik, dikasih tahulah saya kalau ternyata di rumah makan dan acara kawinan ada istilah best seat juga.

Kalau di acara kawinan disini, tamu2 itu semua duduk rapi di meja bersama tamu2 lain untuk makan sajian di kawinan. Semakin meja kita jauh dari pengantin, semakin kelihatan status kita ke si pengantin. Status dalam arti “kedekatan” saja sik, bukan $$. Jadi ya teman2 dekat si pengantin dapat meja paling depan dan seterusnya

Kalau di rumah makan, saya cuma mikir ogah dekat kamar mandi (karena pesing/hawa kamar mandi, bawaan dari Indo sik).

Atau mungkin kalau pas ke rumah makan yang pemandangannya oke, ya saya pilih dekat jendela supaya bisa lihat pemandangan. Atau dulu pas jaman masih gabung sama orang merokok, saya pilih di bagian gak merokok. Lebih dari itu saya gak repot.

Tapi ternyata ada hal lain, yaitu kitanya “menghadap” kemana.

Konon (saya bilang konon karena saya gak terlalu pusingin masalah ini), view paling oke itu kalau kita lihat seliweran orang2. View paling gak oke kalau kita lihat tembok.

Bawah sadar saya, sepertinya milih kursi dimana saya bisa rumpiin orang2 🤭 atau dulu pas muda ya supaya bisa ngecengin orang kali ya?

Tapi jujur saya gak jadi HARUS SELALU duduk di kursi yg paling oke atau ngotot minta kursi yang paling oke.

Karena buat saya, kalau acara makan, apalagi makan “intim” dalam arti cuma bedua, saya ya niatnya kan menghabiskan waktu dengan si yang bersangkutan tho? Ngobrol dengan siapa yang ada di depan saya.

Mungkin saya bodoh ya berpikir senaif ini.

Orang lebih sering melihat saya sebagai “tu kan dia lagi2 duduk di kursi yang paling oke!”

Padahal kalau diminta tukar, saya gak masalah deh.

Karena ya itu, wong saya sendiri gak “ngeh” sama yang namanya best view seat.

Capek ya kalau suka dianggap orang sebagai Ms Selalu Mau Yang Paling Oke.

Ah. Andai saya gak usah tahu masalah kursi menghadap mana seperti ni, karena yang ada saya jadi senewen kalau pas makan di resto, bukannya menikmati jadi malah bingung.

Buat saya tempat duduk terbaik ya saat saua duduk sama orang yang menikmati keberadaan saya disisi mereka. 

Moulin Rouge!

Bulan Januari dan Februari, saya mulai deh gelisah gak jelas. Bosen di rumah terus karena cuaca jelek.

Iseng2 cari kegiatan. Eh ada pertunjukkan musikal Moulin Rouge dan balet Don Quixote. 

Moulin Rouge saya tertarik karena saya nonton filmnya yang dibintangi Nicole Kidman tahin 2001 dan saya ingat saya suka banget sama film itu ( meskioun gak ingat sama sekali tentang apa 🤭.

Sementara Don Quixote, somehow saya ingat baca versi komiknya pas saya kecil barengan dengan komik2 barat/ Eropa lainnya yang ortu saya belikan.

Maunya sih nonton dua2nya, tapi harga tiket gak murah! Minimal $75.  Karena saya perginya berdua, jadi total $300++..duh..berat euy. Jadilah hati Jumat itu saya putuskan beli tiket balet saja.

Pas kerja hari Senin, atasan saya kirim email. Perusahaan punya 6 tiket untuk nonton Moulin Rouge! Ya saya langsung bilang Mau!! Sambil deg2 an, dapat atau gak ya?! 🤞

Hari Selasanya dapat email kalau saya termasuk yang dapat tiket gratis!!!! Yaaay!! Asli saya girang bamget!!!🥳

Hari Selasa 18 Februari 2025 hari pertunjukkannya.

Astaga teman2…ini asli keren banget!!!?!?

Lagu2nya terkini, dari Adele, Lady Gaga, Beyonce. Koreogtafinya seru.

Sepanjang pertunjukkan saya benar2 menikmati!!

Pertunjukan musikal, Broadway ya istilahnya? Saya sudah nonton 3x. Pertama kali nonton itu King Kong di NY, trus Miss Saigon di kota saya

Tapi ini yang paling oke!

Sampai lain kali!

Bercerita Cinta

Cinta itu apa ya?

Saya jujur gak tahu apa arti kata cinta?

Terutama cintanya orang dewasa

Saya tahu saya cinta banget sama anjing saya. Kalau saya harus tinggalin dia pas saya pergi ke luar kota dan saya gak bisa bawa dia, saya pengen cepat2 pulang, khawatir mikirin anjing saya

Saya tahu saya ya cinta sama anak saya. Saya gak pengen anak saya menderita, pengen anak saya hidupnya diberikan kemudahan.

Cinta dewasa? Saya gak tahu.

Setelah dituduh “Begituan” sama yang melahirkannya

Setelah “dikasih tahu” sama pacar pertama “Maaf D, kita gak bisa teruskan hubungan ini, kemungkinan kamu ada isu kejiwaan dari keluargamu.”

Setelah terus menerus dibilang “Dasar idiot”, “Dasar kamu gak becus, gak bisa ngapa2in!” sama suami

Saya gak tahu lagi arti cinta.

Ateist Tidak Selalu Jelek

Untuk sebagian besar dari masyarakat, kata ateist sungguh tabu diucapkan, diperbincangkan.

Ya wajar, karena sebagian besar ajaran agama, memandang seseorang yang ateist, tidak bertuhan, tidak percaya akan keberadaan tuhan adalah seseorang yang sesat. Orang yang tidak mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.

Ateist intinya cuma menjelek-jelekan agama dan pemeluknya. Ini stereotype tentang ateist.

Saya pernah sedang berbincang2 dengan salah satu kenalan. “Pokoknya saya paling tidak akan bisa memaafkan anak saya, kalau dia bilang dia tidak lagi percaya Tuhan”, celetuknya.

Saya sempat tertegun. Koq?

Waktu saya mau coba lanjut berdiskusi, dia mengangkat tangannya. Yang saya artikan sebagai ini hal yang mutlak dan dia gak mau berdiskusi tentang masalah ini.

Alasan seseorang meninggalkan agamanya dan memilih untuk tidak bertuhan itu bermacam-macam. Dan bukannya terjadi begitu saja. Ada proses. Ada banyak hal yg dipertanyakan dalam pikiran mereka.

Buat saya itu adalah sesuatu yang sangat pribadi & tidak perlu “dipertanyakan”.

Saya sendiri tidak melihat seseorang yang ateist sebagai akhir dari ybs. (The end of them). Seakan2 hidup mereka akan menjadi tak bermakna. Atau mereka adalah musuh kaum beragama.

Saya melihat mereka sebagai seseorang yang punya pandangan berbeda di masalah ketuhanan.

Seseorang yang ateist bukan berarti mereka kehilangan moralnya. Bukan berarti mereka tidak lagi bisa atau tidak lagi mau menghormati kaum beragama. Bukan berarti mereka tidak ada bermanfaat untuk dunia. Bukan berarti mereka tidak punya aturan, tidak berhati nurani. Bukan berarti hidup mereka jadi tidak bermakna atau sia-sia.

Seseorang yang memilih menjadi ateist tidak hatus dikucilkan, dicibir, dicela, dicemooh, dinistakan.

Sebaliknya , coba dengar pandangan mereka dengan hati terbuka, lapang dan lurus2 saja.

Kalau tho pada akhirnya anda tetap tidak setuju dengan pilihan mereka , ya tidak usah menjadi masalah.

Koreksilah perilaku seseorang, bukan pilihan keyakinan mereka.

Setiap orang ada jalannya masing-masing. Kalau dengan menjadi ateist mereka lebih berprestasi, lebih baik sebagai individu di masyarat, bukanlah itu yang lebih penting?

Gak semua orang ateist pembenci kaum beragama.

Dua pihak semata2 punya pemikiran yang berbeda tentang hidup di dunia, tentang ketuhanan.

Jadikan keberadaan mereka sebagai tantangan untuk perbaikii keagamaan kita pribadi, untuk memperdalamlah ketuhanan kita.  Tanyakan ke diri kita sendiri. Apa iya kita sudah berbuat jauh lebih baik dari penganut ateist ini?

Setiap orang ada jalan masing-masing.

Damai itu adem

❤️❤️❤️❤️

Act Of Pastry

Judul wis ngawur . Gak apa2. Abis gak nemu padanannya di bahasa Indonesia.

Pasangan saya saat ini orangnya frugal. Gak terlalu suka sama yang namanya belanja2, makan luar. Bagian gak suka makan luarnya lebih karena dia sendiri suka masak, dari mulai pizza sampai belajar bikin roti bao, ramen, nasi goreng, sate, rendang sama saya.

Nah sementara saya gak suka masak, suka belanja dan senang jajan alias makan di luar

Dia sempat kesal karena saya sering merengek-rengek minta ngopi setiap pagi pas saya lagi sama dia. Dia gak ngerti kenapa saya kudu ngopi diluar (baca pesan cappuccino) sementara dia punya mesin pembuat espresso terkini.

Dia juga sempat gak ngerti kenapa saya termehek-mehek pas nemu toko roti yang jual roti asin (savory). Jadilah saya jelaskan alasan di belakang obsesi saya sama cappuccino dan savory pastry .

Dia juga jelasin kalau dia sangat suka masak apapun buat saya kalau saya lagi sama dia. Kalau saya minta makan luar, dia merasa saya gak suka makanan bikinannya atau gak di”anggep” bisa buatkan saya makanan enak.

Sejak dia tahu kenapa saya suka sama roti asin, dia dengan manisnya suka bawakan saya roti pas saya kerja di akhir pekan untuk saya makan pas jeda 15 menit.

Sebelum saya sama dia dia, saya gak pernah ngeh “hal-hal kecil”seperti yg buat saya ternyata berarti banget.

Alias ya saya ngerasa di perhatikan sama dia dan juga saya jadi ngeh kalau keinginan dia buat masak ini itu buat saya itu bagian dari Act of service gitu istilahnya.

Imut banget gak siiikk??!🥰

Cari Diskon di Amerika

Sejak tinggal sorangan dewe, yang namanya pengeluaran harus diperhatikan banget.

Saya mau mulai seri baru ah. Cari diskon di Amerika gitu…bukan ngumpulin kupon ini itu sik, cuma ya bagi2 tip yang saya sendiri terapkan sehari-hari saja.

Jadi banyak supermarket2 di Amrik punya program yang namanya Fuel Points. Biasanya supermarket2 besar sik. Yang saya tahu itu Giant Eagle di Ohio, Kroger di Ohio, Kentucky. Trader’s Joe dan Whole Food setahu saya tidak punya program ini ya.

Saya baru tahu fuel points ini waktu tunggal di OH, di negara bagian sebelumnya saya gak kenal istilah fuel points.

Jadi intinya ya setiap kali kita berbelanja di supermarket ybs, kita dapat poin.

Nah poin2 itu oleh supermarket dikonversi ke potongan harga bensin per galonnya, 100 poin = $0.10. Ihhh masa cuma 10 sen ? Sedikit sekali??! Memang sih kayaknya sedikit ya? Tapi kalau kita memang sering belanja di tempat yang sama, poin ini lama2 jadi bukit loh!

Kemarin saya dapat potongan sempati $0.60, harga bensin yang tadinya $2.79/galon, jadi cuma $2.19/galon kalau di kalıkan dengan kapasitas tangki 20 galon misalnya, kita irit $12 loh.

Selain belanja barang2 lebutuhan sehari-hari di supermarket, kadang supermarket kasih promo gitu, misalnya beli gift card dapat tambahan point 2x lipat, atau isi survey, dapat 50 point ekstra.

Coba saya pengen dengar cerita teman2 . Ada yang bisa kumpulkan point banyak gak?

Istirahatlah

Serius saya sekarang usahakan sekali buat menjalani hal-hal di tautan diatas.

Saya tidak bisa bilang kejadian spesifik yang saya alami sehingga pola pikir saya berubah?

Mungkin gara2 waktu sempat kencan dengan orang kantoran. Si dese ambil cuti ceritanya dan mau meluangkan waktu sama saya. “Ceritanya”.

Tapi koq telpon dari anak buah dia tidak habis-habisnya? Bahkan hingga malam hari (jam 10 malam). Setiap kali ya saya meminggirkan diri, karena ya saya gak mau tahu urusan kantor dia kan.

Atau saat sang kencan ngedumel karena telpon tidak henti2 nya masuk meskipun di hari libur?

Mungkin juga gara2 saya hanpir muntah katena kelupaan tidak makan siang?

Mungkin juga setelah lebih mengerti apa arti hari-hari cuti, hari-hari ijin bukan cuti di mata perusahaan.

Mungkin juga waktu dengar cerita2 rekan2 kerja yang kehilangan orang kesayangan mereka dan mereka merasa mereka tidak sempat meluangkan waktu bersama.

Mungkin juga karena hak cuti duka saya dihanguskan dan tidak ada yang bisa membela saya?

Mungkin juga saat saya tidak diberikan jeda istirahat sesuao aturan ketenagakerjaan oleh salah satu tempat kerja saya?

Serius deh.

Ambil lah cuti kalian. Tidak ada rencana liburan? Ya di rumah juga tidak masalah.

Sakit? Ambil ijin sakit dan istirahatlah.

Kapasitas mental lagi anjlok? Ambil ijin sakit dan menangislah sepuasnya.

Sekali2 boleh bandel, minta ijin tidak kerja buat nonton, buat kongkow sama teman2, coba resto baru.

Badan terasa kelelahan, ambil ijin 2 jam untuk memulihkan tenaga.

Nikmati hidup dan fasilitas yang diberikan selagi kita mampu ❤️