alkohol

Alkohol, Minum dan Pesta

Minggu lalu, teman saya ada acara kantor di New Orleans, Louisiana, saya diminta manut nemenin dia, jadilah saya pergi.

Maklum yang namanya acara penghargaan, setiap malam ada makan malam yang disediakan perusahaan dimana minuman alkohol termasuk di dalam menu.

Saya kurang ngerti juga gimana aturannya, tapi yang jelas setiap makan malam, ada bar terbuka. Dimana peserta boleh order minuman beralkohol menggunakan tiket yang disediakan kantor dan kalau tiket sudah habis, boleh order lagi tapi ya bayar.

Hari Rabu malam, makan malamnya di ruangan di hotel dimana peserta ambil makanan ala prasmanan. Pas duduk di meja, ada pelayan yang berkeliling membawa botol anggur dan menawarkan ke setiap meja. Saya memang ambil sekali, tapi ya sudah, gak nambah lagi…sementara teman2 kerja teman saya selain ambil minuman anggur, mereka juga order ke bar.

Hari Kamis malam, kita pergi ke rumah makan. Nah disini, lebih parah dari malam sebelumnya, karena ini beneran yang namanya minuman alkohol mengalir seperti air. Yang ditawarkan pertama-tama itu anggur merah, lalu ada anggur putih, lalu ada cocktail….

Astaga, saya lirik ke kanan, lirik ke kiri, semua orang boleh dibilang terus menerus menegak minuman alkohol. Pasangan di kiri saya order cocktail ada kali 5 kali , pasangan di sebelah kanan saya negak anggur merah dan putih bergelas-gelas. Gak beberapa lama, pasangan sebelah kanan, mulai cekakak cekikik keras2, pasangan sebelah kiri, saya lihat matanya mulai memerah. Haduh….ini apaaan siik??

Saya cuma minum anggur putih, itu juga setengah gelas langsing gak habis dan ditambah saya minum air putih bergelas2.

Malam terakhir, malam Jumat, ini acara gala nya ceritanya. Jam 4 teman saya sudah di undang buat kumpul2, jam 6 cocktail hour, jam 7 mulai acara gala, dan lagi2 ya alkohol dimana2.

Saya koq mules ya? Menurut saya pemandangan orang2 mabok ya gak menarik saja gitu…

Gak tahu juga apakah kemulesan saya itu karena saya dibesarkan secara Islam dimana minum minuman beralkohol itu dilarang? Atau karena pengalaman pahit saya punya pasangan yang alkoholik dimana saya mengalami betapa menjijikannya kondisi orang mabok?

Sejujurnya , saya dari SD sudah kenal yang namanya alkohol. Wong almarhum bapak selalu dapat parcel setiap lebaran yang isinya Johnny Walker, Martini. Kalau kita pergi ke Singapura, jaman bahela itu, yang namanya kulkas hotel isinya penuh dengan botol2 alkohol kecil.

Almarhum ibu memperbolehkan anak2nya cicip alkohol dari dari parcel2 lebaran yang kita terima. Begitupun dengan alkohol2 imut di hotel pas kita jalan2, coklat isi alkohol juga bukan hal yang aneh buat saya. Saya inget banget botol dan bau Johnny Walker dan Martini.

Pas sudah kerja, saya punya teman dekat yang hobi minum, gak cuma satu orang, ada beberapa orang.

Tapi anehnya saya gak minum. Kayaknya alasan gak minum saya jaman dulu itu lebih karena larangan agama.

Tapi setelah saya lebih berumur, alasan saya gak minum bukan semata2 karena agama sih, karena saya koq lihatnya alkohol gak bikin senang hati sih? Dan memang saya gengsi banget deh masalah mabok.

Kalau ditanya, apa saya punya minuman beralkohol di rumah? Ya punya. Apa saya pernah bikin cocktail? Ya pernah. Apa saya minum alkohol ? Ya minum, tapi ya sekali sebulan juga belum tentu. Apa saya pernah tipsy? Pernah 2x dan rasanya malu2 in.

Saya gak keberatan minum, tapi beneran saya sangat membatasi konsumsi alkohol saya. Kalau saya merasa sudah ngantuk dikit atau melayang2 ya sudah saya stop, gak minum lagi…

Dengar cerita teman2 baik itu teman bule maupun teman Indo, yang namanya mabok koq gak ada keren2 nya ya?

Muntah lah. Pingsan lah. Teriak2 lah. Bikin onar. Belum lagi bikin orang lain susah, kudu ngegotong2 yang mabok? Belum lagi kalau mau di lihat dari segi medis. Dari mulai bikin kulit kering, berat badan naik, kadar gula naik, liver rusak dan efek2 lainnya. Belum lagi masalah harga! Minuman alkohol gak murah kan.

Gak tahu ya…saya gak lihat minum itu sesuatu yang seru, menyenangkan, menggembirakan?

Jadi ya itu, saya sampai sekarang ya gak merasa minum (alkohol) itu perlu. Dalam arti saya gak akan bilang ‘Let’s go out for a drink’ .

Dan menurut saya koq agak2 naïf kalau ada orang yang bilang mereka bisa ‘kuat’ minum. Karena buat saya sebagian besar orang ya sebetulnya sih gak kuat minum, cuma mereka berasumsi sendiri. Kuat minum secara fisik (dalam arti gak muntah, gak pingsan) belum tentu kuat mental dan pikirannya deh?

Sering dengar kan kecelakaan fatal akibat drunk driver? Itu kan karena si peminum merasa mereka ‘kuat’ dan gak terpengaruh alkohol, dan mikir mereka bisa nyetir, padahal otak sudah gak lagi berfungsi……

Gak tahu ya…beneran deh, buat saya minum alkohol sampai kelewatan itu ya gak appealing lah.

Sebetulnya buat apa ya minum itu?

Saya kebetulan nemu postingan di IG tentang minum dan penggunaan substance lainnya

Realita : Pasangan Pecandu Alkohol

Tulisan saya kali ini mungkin akan mengundang kontraversi dari pembaca blog saya. Setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk membuka diri tentang masalah yang saya alami dengan pasangan bule saya. Kenapa putuskan untuk blak-blakan di forum umum? Koq aib dibuka-buka sih? begitu mungkin pikiran teman-teman sekalian.

Saya buka aib karena saya mau pembaca belajar dari pengalaman saya.

Bukan rahasia lagi kalau budaya sebagian besar orang Amerika adalah mengkonsumsi alkohol. Ulang tahun ke 21 seseorang sering kali ditandai dengan pergi ke bar dan minum minuman beralkohol hingga mabok – karena di sini umur 21 adalah umur legal seseorang boleh mengkonsumsi minuman beralkohol.

Itu yang saya pikir di awal-awal waktu melihat kebiasaan pasangan mengkonsumsi alkohol.

Saya sendiri dibesarkan secara Islam, dimana mengkonsumsi miras adalah haram. Jadi saya boleh dibilang tidak pernah minum sebelum saya hijrah ke Amrik. Sampai sekarang  pun saya belum pernah mabok atau melihat dengan kepala sendiri orang lain mabok. Kalau toh saya minum, itu cuma sekali sebulan (belum tentu) dan lebih karena saya ingin tidur nyenyak (karena entah kenapa minuman beralkohol membuat saya ngantuk)

Setelah 10 tahun tinggal bersama, baru akhir-akhir ini saya kejeduk dan dengan berat hati mengakui kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol, bahwa pasangan saya menderita penyakit dan penyakit itu namanya penyakit mencandu alkohol.

Apa bedanya mereka yang hanya mengkonsumsi alkohol dalam batas-batas tertentu dengan mereka yang ‘menderita’ penyakit?

Bedanya adalah kebiasaan si pecandu bukan hanya memberikan pengaruh buruk ke si pecandu saja, tapi sudah jadi melebar ke orang-orang terdekat si pecandu.

Setiap malam pasangan pergi membeli minimal 6 kaleng bir, sering kali ditambah dengan satu botol bir ukuran besar. SETIAP MALAM.

Dulu itu, bodohnya saya, saya pikir kaleng-kaleng yang bergelimpangan di ruang TV cuma itulah yang dia konsumsi malam itu. Salah besar.

Yang aneh dengan pecandu, mereka ‘tahu’ mereka tidak seharusnya minum sebanyak yang mereka minum. Jadi mereka ‘pura-pura’ hanya meminum sekian banyak kaleng di depan ‘umum’ tapi di belakang mereka minum lebih banyak lagi.

Di ruang kerja pasangan, dijamin saya akan menemukan banyak lagi kaleng maupun botol bir kosong bergelimpangan.

Bukan satu dua kali dia menghabiskan botol liquor keras ukuran besar dalam semalam. (catatan sebutan liquor adalah minuman dengan kadar alkohol lebih tinggi dibanding dengan bir, contohnya wiski, martini)

Berbulan-bulan Bertahun-tahun saya masih dengan naivenya menganggap hal ini ‘cuma’ Kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

Pikiran saya berubah sejak saya memperhatikan perilaku pasangan setelah minum sekian banyak alkohol.

Tablet saya di hantam ke lantai. Kabel komputer saya di gunting. Saya di kata-katai dengan pedasnya.

Begitu saja, tanpa perasaan menyesal keesokan harinya.

Masih tidak mengerti, saya diajak masuk ke grup Alnon di FB oleh kakak ipar saya dari pihak pasangan – yang juga menghadapi kecanduan alkohol pasangannya.

Disinilah awalnya saya menyadari kalau saya menghadapi seorang dengan penyakit kecanduan, bukan hanya seorang dengan kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Saya tidak lagi mampu untuk cuma menghela napas setiap kali melihat botol atau kaleng bir kosong di kamar kerja.

Saya harus mencari bantuan. Bukan cuma bantuan teman yang mendengar keluh kesah saya, tapi bantuan profesional.

Karena saya sadari sepenuhnya kalau saya tidak mengerti bagaimana menghadapi situasi ini dan jika saya mau survive, saya harus tolong diri saya sendiri terlebih dulu.

Saat ini saya berkonsultasi dengan seorang terapist untuk membantu saya konsentrasi untuk terperosok ke lingkaran ‘setan’ yang lebih dalam. (seperti halnya ‘penyakit’, penyakit kecanduan alkohol bisa menular ke orang lain / merusak orang lain)

Saya juga mau memberanikan diri untuk datang ke pertemuan Alnon – mirip AA (alcohol anonymous) – tapi ini adalah mereka-mereka yang bukan peminum tapi ‘terjerat’ di kekacauan yang dipicu oleh mereka yang menderita penyakit alkohol.

Doakan semoga mental saya dikuatkan untuk menghadapi penyakit ini.