realita

Diingatkan Untuk Bersyukur

Belakangan ini saya koq merasa Yang Maha Kuasa ‘menegur’ saya dengan mengirimkan sinyal-sinyalNya lewat kejadian-kejadian kecil yang saya alami sehari-hari.

Seperti yang terjadi hari ini :

Tidak seperti biasanya, saya enggan pulang ke apartemen waktu istirahat makan siang. Jadilah saya pergi ke salah satu rumah makan cepat saji ala Amerika, kebetulan ada sisa kartu hadiah dari acara anak di sekolah sebulan lalu.

Saya pilih pesan lewat kendara lewat, setelah pesan, setelah selesai memesan, saya melaju ke jendela berikutnya untuk membayar pesanan. Sang kasir yang melayani melihat stiker “B” di sisi mobil – stiker sekolah anak saya. Katanya :

‘Anak saya juga sekolah di B!’

O ya? Senang dia disana?’ tanya saya

‘Ya. B sekolah yang bagus Sebelum di B anak saya sekolah di C!’

(C itu sekolah dekat dengan tempat tinggal saya, dari segi kualitas sekolah B lebih baik)

Ya. Betul sekali! dan juga banyak aktifitas seru! Kelas berapa anakmu?’.

‘Kelas 4’

Wah sama dong dengan anak saya. Siapa gurunya?’

‘Saya tidak tahu. Terlalu sekali ya saya sebagai ibu, koq bisa tidak tahu? Waktu saya habis untuk bekerja, kakak saya semua yang urus anak-anak saya, jadi saya tidak tahu apa-apa.’

************************************************************************************************************************************************************

Setelah percakapan saya dengan Ibu kasir ini, saya menghela nafas panjang. Saya baru saja berinteraksi langsung dengan seorang perempuan yang harus bekerja demi keluarganya hingga dia hampir tidak punya waktu untuk anak-anaknya sendiri.

Ah Beruntungnya saya tidak perlu bekerja seharian dan masih punya waktu untuk si kecil.

Bahwa saya bisa menemani anak saya setelah dia pulang sekolah, mengantar anak saya di pagi hari dan sekali-sekali bisa datang ke acara sekolah anak saya.

Kadang kita lupa untuk berterima kasih, lupa melihat ke ‘bawah’, lupa untuk menghargai apa yang kita miliki.

Bulan November di Amerika -dimana warga Amerika merayakan hari libur ‘Thanksgiving‘ yang jatuh di hari Kamis minggu terakhir -boleh dibilang bulan untuk kita belajar berterima kasih, (dan memberi).

Yuk, mari bersyukur dan berterima kasih sama-sama!

Pelajaran Dari Al Anon

Halo.

Tulisan kali ini masih tentang perang saya dengan masalah alkohol di keluarga saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya cerita bagaimana reaksi saya saat pertama kali membaca literatur di pertemuan Al Anon.

Pembaca akan lihat beberapa foto dengan cuplikan kalimat-kalimat yang saya baca yang ‘mengena’ sekali dengan diri saya pribadi (semua kalimat-kalimat yang saya warnai artinya saya alami sendiri sebagai kerabat pecandu alkohol)

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya yang bukan pecandu, malahan pihak yang lebih membutuhkan bantuan. Logikanya kan, si pecandu dong yang harus ditolong, mereka kan yang kecanduan, bukan saya???

Ternyata saya salah, yang saya tidak sadari adalah bagaimana kecanduan alkohol adalah penyakit yang memberikan dampak gangguan emosi ke pihak-pihak disekeliling si pecandu itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir ya benar juga. Sementara si pecandu sih senang-senang saja minum setiap hari, lupa akan kesusahannya, kita yang tidak mabok, melihat kelakuan ybs jadi stres dan emosi.

wpid-wp-1444528807024.jpg

wpid-wp-1444529549018.jpg

Disitulah saya menyadari kalau saya boleh dibilang sudah ‘terjerumus’ ke kondisi yang tidak sehat. Apa-apa yang saya lakukan selama ini sebagai usaha saya untuk mencegah si pecandu untuk menghentikan kebiasaannya juga bisa saya baca di literatur yang saya dapatkan. Dan ternyata apa yang saya lakukan bukanlah langkah yang efektif, malah membuat si pecandu semakin kecanduan.

 wpid-wp-1444528891741.jpg wpid-wp-1444528857001.jpgwpid-wp-1444528937181.jpg

Kadang semakin saya membaca, saya semakin ‘ngeri’ karena saya menjadi sadar seberapa parahnya kondisi yang saya alami .

Langkah yang harus saya ambil selanjutnya adalah mengubah perilaku sendiri – aneh ya kalau dipikir pikir.

Tapi perlahan-lahan saya mulai mengerti tentang penyakit kecanduan ini.

Yang jelas, kecanduan alkohol adalah penyakit.

Alcoholism is an illness

Alcoholism is an illness

Seperti halnya penyakit-penyakit lain, penyakit kecanduan alkohol memerlukan mental yang kuat untuk orang-orang yang terkena dampaknya. Untuk ‘menyembuhkan’ penyakit ini, kita-kita yang terkena dampaknya haruslah yang menjadi pihak yang lebih ‘waras’ dan lebih kuat. Karena memang penyakit ini melelahkan emosi mereka yang berhubungan langsung dengan si pecandu.

wpid-wp-1444608664350.jpeg

Pertama kali saya baca literatur ini, saya protes dalam hati, karena banyak hal yang ditulis di literatur boleh dibilang ‘aneh’ karena seakan-akan kita ‘lepas tangan’ terhadap kondisi si pecandu.

wpid-wp-1444529038497.jpg

Contohnya

wpid-wp-1444529068378.jpg

Ini saya alami sendiri, dan sulit sekali buat saya untuk tidak turun tangan ‘membereskan’ masalah. But it is what it is.

Saya sebagai pihak bukan pecandu, harus berhenti ‘menolong’ pecandu dan membiarkan pecandu menghadapi konsekuensi tindakan mereka.

Kalau sebelumnya saya ‘percaya’ dengan apa-apa yang pecandu janjikan (contoh : iya, saya akan kurangi minum) , saya di sarankan untuk memilih jalan membuat kesepakatan.

wpid-wp-1444529684575.jpg

Yang jelas, saya harus mengakui kalau di keluarga saya, salah satu anggota keluarga kami menghadapi penyakit kecanduan alkohol. Dan kalau saya mau keadaan menjadi lebih baik, sayalah yang harus berubah terlebih dahulu dan saya harus cari bantuan.

wpid-wp-1444528958368.jpg

wpid-wp-1444608876810.jpeg

Para Al Anon selalu diingatan akan 3C tentang penyakit ini :

I can not Control the alcohol

I did not Cause the alcohol

I can not Cure the alcohol

wpid-wp-1444608881360.jpeg

Bergabung Dengan Al Anon

Dua tulisan saya sebelumnya saya bercerita kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol. Sudah dua minggu ini saya bergabung di pertemuan Al-Anon, dimana saya bertemu muka dengan orang-orang yang mengalami masalah yang sama dengan saya : mereka hidup dengan pecandu alkohol, baik itu pasangan mereka, orang tua mereka, ataupun kerabat lainnya. (kakak, adik)

Dari membaca literatur yang disediakan di pertemuan, saya tercekat. Kenapa?

Karena saya seakan-akan membaca tentang diri saya sendiri, seakan-akan saya sedang bercermin.karena banyak sekali hal-hal yang di tulis di buku/pamflet saya rasakan / alami sendiri.

Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata perasaan yang saya rasakan tidak ‘aneh’ , boleh dibilang lumrah dan ‘nyata’.

Langkah berikutnya yang harus saya lakoni adalah menjalani apa yang grup Al Anon sebut sebagai 12 Langkah (12 Steps):

12steps

Jujur, hingga saat ini , saya masih belum bisa menerapkan satu langkahpun dari 12 langkah diatas. Saya masih dalam kondisi marah, kecewa, frustrasi dan lelah baik fisik maupun mental.

Harapan saya adalah dengan datang ke pertemuan Al Anon, saya perlahan-lahan bisa menerapkan langkah-langkah diatas.

Saya satu-satunya ‘anggota’ Al Anon yang orang ‘asing’ alias bukan bule dan bukan pembicara bahasa Inggris asli dan bukan penganut agama Kristen. (diakhir pertemuan, selalu ditutup dengan doa, yang terkesan kristiani – saya sendiri tidak masalah, karena saya tahu kepada siapa saya mengucap doa, it is what it is)

Buat saya datang ke pertemuan ini adalah untuk ‘kesehatan mental’ saya pribadi, perjalanan saya untuk berlaku ‘waras’ dan legowo baru dimulai.

Lain kali saya akan cerita lebih banyak tentang hal-hal yang saya temukan saat membaca buku-buku Al Anon.

20151008_192221

Doakan saya selalu.

xoxo

Realita : Pasangan Pecandu Alkohol

Tulisan saya kali ini mungkin akan mengundang kontraversi dari pembaca blog saya. Setelah menimbang-nimbang, saya putuskan untuk membuka diri tentang masalah yang saya alami dengan pasangan bule saya. Kenapa putuskan untuk blak-blakan di forum umum? Koq aib dibuka-buka sih? begitu mungkin pikiran teman-teman sekalian.

Saya buka aib karena saya mau pembaca belajar dari pengalaman saya.

Bukan rahasia lagi kalau budaya sebagian besar orang Amerika adalah mengkonsumsi alkohol. Ulang tahun ke 21 seseorang sering kali ditandai dengan pergi ke bar dan minum minuman beralkohol hingga mabok – karena di sini umur 21 adalah umur legal seseorang boleh mengkonsumsi minuman beralkohol.

Itu yang saya pikir di awal-awal waktu melihat kebiasaan pasangan mengkonsumsi alkohol.

Saya sendiri dibesarkan secara Islam, dimana mengkonsumsi miras adalah haram. Jadi saya boleh dibilang tidak pernah minum sebelum saya hijrah ke Amrik. Sampai sekarang  pun saya belum pernah mabok atau melihat dengan kepala sendiri orang lain mabok. Kalau toh saya minum, itu cuma sekali sebulan (belum tentu) dan lebih karena saya ingin tidur nyenyak (karena entah kenapa minuman beralkohol membuat saya ngantuk)

Setelah 10 tahun tinggal bersama, baru akhir-akhir ini saya kejeduk dan dengan berat hati mengakui kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol, bahwa pasangan saya menderita penyakit dan penyakit itu namanya penyakit mencandu alkohol.

Apa bedanya mereka yang hanya mengkonsumsi alkohol dalam batas-batas tertentu dengan mereka yang ‘menderita’ penyakit?

Bedanya adalah kebiasaan si pecandu bukan hanya memberikan pengaruh buruk ke si pecandu saja, tapi sudah jadi melebar ke orang-orang terdekat si pecandu.

Setiap malam pasangan pergi membeli minimal 6 kaleng bir, sering kali ditambah dengan satu botol bir ukuran besar. SETIAP MALAM.

Dulu itu, bodohnya saya, saya pikir kaleng-kaleng yang bergelimpangan di ruang TV cuma itulah yang dia konsumsi malam itu. Salah besar.

Yang aneh dengan pecandu, mereka ‘tahu’ mereka tidak seharusnya minum sebanyak yang mereka minum. Jadi mereka ‘pura-pura’ hanya meminum sekian banyak kaleng di depan ‘umum’ tapi di belakang mereka minum lebih banyak lagi.

Di ruang kerja pasangan, dijamin saya akan menemukan banyak lagi kaleng maupun botol bir kosong bergelimpangan.

Bukan satu dua kali dia menghabiskan botol liquor keras ukuran besar dalam semalam. (catatan sebutan liquor adalah minuman dengan kadar alkohol lebih tinggi dibanding dengan bir, contohnya wiski, martini)

Berbulan-bulan Bertahun-tahun saya masih dengan naivenya menganggap hal ini ‘cuma’ Kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

Pikiran saya berubah sejak saya memperhatikan perilaku pasangan setelah minum sekian banyak alkohol.

Tablet saya di hantam ke lantai. Kabel komputer saya di gunting. Saya di kata-katai dengan pedasnya.

Begitu saja, tanpa perasaan menyesal keesokan harinya.

Masih tidak mengerti, saya diajak masuk ke grup Alnon di FB oleh kakak ipar saya dari pihak pasangan – yang juga menghadapi kecanduan alkohol pasangannya.

Disinilah awalnya saya menyadari kalau saya menghadapi seorang dengan penyakit kecanduan, bukan hanya seorang dengan kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Saya tidak lagi mampu untuk cuma menghela napas setiap kali melihat botol atau kaleng bir kosong di kamar kerja.

Saya harus mencari bantuan. Bukan cuma bantuan teman yang mendengar keluh kesah saya, tapi bantuan profesional.

Karena saya sadari sepenuhnya kalau saya tidak mengerti bagaimana menghadapi situasi ini dan jika saya mau survive, saya harus tolong diri saya sendiri terlebih dulu.

Saat ini saya berkonsultasi dengan seorang terapist untuk membantu saya konsentrasi untuk terperosok ke lingkaran ‘setan’ yang lebih dalam. (seperti halnya ‘penyakit’, penyakit kecanduan alkohol bisa menular ke orang lain / merusak orang lain)

Saya juga mau memberanikan diri untuk datang ke pertemuan Alnon – mirip AA (alcohol anonymous) – tapi ini adalah mereka-mereka yang bukan peminum tapi ‘terjerat’ di kekacauan yang dipicu oleh mereka yang menderita penyakit alkohol.

Doakan semoga mental saya dikuatkan untuk menghadapi penyakit ini.

Tantangan, Rintangan, Kendala, Masalah

! Apa2 susah! ini susah! Itu susah! kamu malah gaK pulang2! punya empati gak?’

Wuih sakit hati rasanya saat terngiang-ngiang cercaan diatas. Bukan rahasia lagi kalau asumsi sebagian besar teman-teman di tanah air, hidup kami – imigran Indonesia – di Amerika itu TIDAK PERNAH SUSAH.

Untuk sebagian besar orang, sulit untuk ‘percaya’ kalau kita-kita yang tinggal di Amerika juga mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, masalah, kendala di hidup kita sehari-hari

‘Kamu kan tinggal di Amerika?!!’ – komentar seperti ini ‘lumrah’ di dengar, seakan-akan imigran Indonesia di Amerika pastinya kebal dengan masalah, rintangan, kendala dsb.

Kenyataannya seperti teman-teman yang tinggal di manapun di belahan dunia, kita-kita ya menghadapi masalah juga, dari masalah sepele :  bagaimana caranya berwara wiri sehari-hari sementara tidak ada mobil dan tidak ada transportasi umum, hingga masalah mencari perlindungan hukum.

Dan tidak sedikit, masalah yang dialami imigran lebih ‘berat’ dibanding mereka-mereka yang tinggal di negara asal.

Gimana gitu lebih beratnya?

Karena banyak dari kita-kita yang disini itu benar-benar soragan wae, tanpa sanak saudara dan tidak punya ‘bekal’ cukup (pendidikan, pengalaman kerja, ketrampilan, kemampuan berbahasa Inggris dan lain sebaginya).

Waktu kita bermigrasi ke Amerika, sebagian besar diawali dengan ‘mimpi indah’ :suami bule, asik sekarang tinggal di luar negeri.

Sebagian besar dari kita beruntung karena mimpi indah menjadi kenyataan yang indah juga, suami tajir, selalu dibawa jalan-jalan, dibelikan barang-barang mewah tanpa harus kerja, mau beli apa juga tinggal tunjuk, mudik setiap tahun tidak perlu ditanya, sebagian lagi mimpi indah menjadi mimpi kurang indah…..

Pengalaman saya sendiri sih relatif tidak heboh ya, meskipun banyak kurang indahnya juga….

Gimana gitu kurang indahnya?

Coba saya ceritakan sedikit ya…

Suami saya, kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dia punya  2 adik, tapi 1 sudah meninggal dunia juga.

So what?

Tadinya saya juga pikir begitu, baru ‘ngeh’ beratnya waktu sedang hamil, melahirkan dan bulan-bulan pertama setelah si kecil hari.

Kalau teman-teman lain banyak yang bisa minta bantuan ayah, ibu, mertua, kakak, adik untuk jagain waktu lahiran, waktu minggu-minggu pertama, saya ya kudu lakoni sendiri.

Pernah saya menggigil karena keletihan, tapi tetap harus terbangun karena si bayi ini rewel sementara suami belum pulang.

Contoh lainnya.

Kemarin di tempat kerja saya ditelpon sekolah anak, si kecil panas. Panik? Jelas. Yang jelas cuma saya dan suami yang bisa menjemput anak kami. Saya masih beruntung karena pekerjaan suami itu lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari rumah dan saya pekerja paruh waktu, jadwal kerja saya cenderung pendek, jadi salah satu dari kami bisa ngacir untuk menjemput anak kami. Tapi ini bukannya tanpa resiko, beberapa tempat kerja sangat ketat dalam urusan ketidakhadiran, kalau pekerja di anggap tidak produktif karena banyak ‘berhalangan’, perusahaan bisa dengan mudah mendepak pekerja yang bersangkutan.

Sekali lagi, beberapa teman-teman cukup beruntung karena bisa menjadi ibu rumah tangga penuh dan tidak harus bekerja, atau punya pasangan yang punya bisnis sendiri, jadi tidak terlalu riweh dalam urusan anak sakit di sekolah,  tapi tidak untuk keluarga kami.

Contoh lagi.

Di tahun 2009, suami saya kehilangan pekerjaan. Jantung saya serasa mau ‘berhenti’ waktu dia masuk rumah dengan pandangan suram dan memberitahukan saya berita tentang dia kehilangan pekerjaan.

Panik. Jelas. Bingung? Pasti.

Di pikiran saya waktu itu :

  1. Angsuran rumah bagaimana kami bisa bayar? bagaimana kalau rumah tidak terbayar? mau tinggal dimana kami?
  2. Anak kami masih umur 3 tahun, masih butuh ke dokter secara rutin, asuransi dari mana?

Hari itu juga, saya langsung menghadap ke HR tempat kerja dan Alhamdulillah sekali ada lowongan penuh waktu yang langsung Saya bisa lamar.

Hari berikutnya Saya langsung ke county office untuk mengajukan lamaran asuransi pemerintah untuk keluarga. Ditolak, karena dianggap kami masih memiliki 2 aset utama: mobil dan rumah, tapi untungnya asuransi untuk anak bisa kita dapatkan, karena untk asuransi anak, hanya dilihat dari penghasilan dan bukan dari aset, dan saat itu keluarga kami dianggap kategori kurang berada.

Selama 1 tahun lebih boleh dibilang Saya jadi tulang punggung keluarga, masih beruntung suami mendapat asuransi pekerja (unemployment insurance) yang jumlahnya pas dengan angsuran rumah kita, sementara hidup sehari-hari kami harus mengandalkan penghasilan mingguan dari pekerjaan saya (pramuniaga di department store)

Tidak bohong kalau saya harus jual perhiasan emas yang saya bawa dari Indonesia dan menjual barang-barang ini itu untuk menyambung hidup. Consignment store, craiglist jadi ‘teman akrab’ saya. Setiap ada tambahan waktu kerja, saya coba ambil supaya bayaran saya bisa berlebih.

Waktu itu saya tidak langsung memberi tahu orang tua di tanah air, baru setelah beberapa bulan, saya beritahu mereka.

Saya ingat sekali di hari-hari itu (dan hingga saat ini) saya selalu mengkhayal andai orang tua saya dekat, pasti mereka akan bantu kami……

(tidak sedikit keluarga Amerika lainnya mengalami hal yang mirip (kadang lebih parah) dengan yang saya alami, bisa dibaca di http://finance.yahoo.com/news/achieved-american-dream-awful-040000718.html)

Di tahun 2010 dan 2012, Saya dan suami sempat tinggal berlainan tempat karena kerja.

Pertama kali kita berpisah, kami hanya memiliki satu mobil, yang pastinya harus dibawa suami, jadilah saya mengandalkan sepeda dan trailer untuk transportasi saya dan si kecil. Tidak masalah, KECUALI waktu hujan turun dengan derasnya saat saya menjemput anak dari sekolah.

Basah kuyup.  Anak kami waktu itu baru berumur 3 tahun, saya ingat bagaimana saya memakaikan jaket hujan, kain terpal dan selimut untuk melindungi dia dari hujan. Jarak dari sekolah ke rumah yang cuma 1 kiloan, terasa jauh dan berat sekali karena harus ditempuh ditengah-tengah hujan yang amat derasnya. Terus terang waktu itu Saya cuma bisa menangis karena kasihan melihat anak kebasahan dan kedinginan dan saya merasa bersalah karena ‘membiarkan’dia kehujanan.

Kedua kali kita berpisah, kondisi kami sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Suami mampu menyewa mobil baru untuk dia di tempat baru, sementara saya boleh memakai mobil lamanya.

Dilalah.

Setelah selesai mentor di sekolah anak, saya rencana menghabiskan waktu di pertokoan dekat sekolahnya sebelum waktunya menjemput si kecil lagi.

Di jalan, tiba-tiba mobil ngadat, mesin berhenti sama sekali, untung sudah dekat dengan tempat tujuan! Dengan nekat dan berharap dari sisa energi mesin mobil,  saya berhasil mengarahkan mobil ke arah tempat parkir. Belum sempat masuk ke parkiran, mobil berhenti total.

Nekat saya keluar dari mobil untuk coba mendorong mobil ke tempat yang lebih sepi, yah tidak kuat lah yaw! untung ada pengemudi lain yang melihat saya kesusahan dan dia tanpa sungkan-sungkan membantu saya mendorong mobil. Lalu sekarang bagaimana? saya harus menjemput anak saya? coba telpon salah satu kenalan, dia ternyata tidak ada di kota, ya sudah, jadilah saya jalan kaki ke sekolah si anak. (catatan : di kota tempat saya tinggal dulu itu, sarana taksi terbatas, waktu tunggu bisa 1 jam lebih)

Menghayal lagi…’ah…andai ayah ibu ada disini’.

Tapi untunglah kami dulu itu tinggal di kota kecil, jarak dari satu tempat ke rumah kami relatif dekat, cuma 1-3 mil, dan di lokasi pemukiman (bukan bisnis atau jalan raya);jadi berjalan kaki masih nyaman. Tidak terbayang kalau tempat tinggal kami agak di luar kota misalnya, yang tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Waktu musim dingin dan saat sekolah libur saya sempat kelabakan mencari tempat titipan anak. Karena saya kerja di ritel, saya diwajibkan kerja saat Black Friday, dengan sangat terpaksa saya merepotkan beberapa kenalan untuk bergantian menjaga anak saya. Saya harus berada di tempat kerja pagi-pagi sekali, untung tetangga ada yang berbaik hati menjaga si anak sementara saya bisa kerja dan istirahat secukupnya.

Hal-hal yang saya ceritakan disini termasuk sepele ya…saya termasuk cukup beruntunglah. Syukur kepada Sang Pengatur Alam.

Saya sendiri tahu banyak cerita-cerita ‘yang lebih pedih’ dari teman-teman imigran Indonesia disini : suami pengekang, suami pemabuk, suami menyeleweng, suami ogah kerja, tidak dinafkahi, di bohongi pacar, bercerai tanpa penghasilan, rebutan anak. masalah kesehatan dan sebagainya…..

Tapi kata ‘Mbak Kelly Clarkson :

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fighter

Read more: Kelly Clarkson – What Doesn’t Kill You Lyrics | MetroLyrics

Atau kata Mas ‘Passenger’

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Catatan : lirik lagi diatas ceritanya lebih buat muda mudi pacaran sih ya…cuma ada beberapa bait yang pas sekali di hati …(terutama bait-bait yang saya tebalkan)

Banjir!

Seperti halnya kota-kota di penjuru dunia, kota-kota di Amrik tidak luput dari kebanjiran. Sampah yang dibuang sembarangan, pengaliran air yang tidak tertata baik, volume air hujan yang melebihi rata-rata, lokasi kota bersebelahan dengan sungai besar menjadi faktor penyebab banjir.

Ini foto di taman di tengah kota Louisville. Diambil hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015.Selain tengah kota, dibeberapa tempat lainnya banyak jalan-jalan di tutup karena kebanjiran.

Ternyata banjir bukan cuma milik negara berkembang ya.

0314151919

MUDIK 2015: KONTEMPLASI

Hampir sebulan yang lalu saya berangkat mudik ke Jakarta, Indonesia.  Saat ini saya sudah bebas jetlag dan sudah kembali ke rutinitas sehari-hari.

Seraya saya menelurusi angka-angka di rekening bank saya, menelaah bon-bon pembelian ini dan itu, saya mau tidak mau jadi berkontemplasi akan mudik saya kemarin.

Kalau dipikir-pikir saya itu ‘bodoh’ sekali ya, beranggapan kalau anggaran $3,000 itu akan cukup untuk mudik selama 14 hari, mungkin kalau murni $3,000 tanpa termasuk pembelian tiket pesawat, ya cukup-cukup saja. Anggaran $3,000 saya itu termasuk $1,700 tiket pesawat dan $300 sewa apartemen. Jadi notabene anggaran saya itu ya cuma $1,000.

Pikir saya, kalau tho saya harus keluarkan uang lebih dari anggaran, saya bisa gunakan kartu kredit, eh ternyata kartu kredit andalan saya, American Express, jarang di terima di Jakarta. Jadilah saya harus gunakan kartu debit yang lebih terbatas uangnya. Bolak balik minta ke suami untuk transfer uang tambahan, untung suami baik hati, dan Alhamdulillah kita masih ada sedikit uang dari penghasilan dia.

Untungnya juga saya dikaruniai teman-teman yang amat sangat murah hati yang tidak henti-hentinya mentraktir saya saat kita ketemuan.

Tapi masa’ ya saya jadinya tergantung sama kebaikan hati teman-teman – ya tidak bisa dong??!!

Selain bodoh dalam anggaran, banyak lagi kebodohan-kebodohan saya di mudik ini.

Saya bodoh tentang mahalnya Jakarta -meskipun saya sudah diperingati oleh teman-teman tentang itu, saya ‘pura-pura’ bego dan nekat tetap pulang.

Saya merasa bodoh mengasumsi orang-orang tidak akan mengusili keputusan-keputusan saya untuk mudik ini

Saya juga terlalu naive beranggapan kalau semua orang akan mengerti prioritas saya di mudik ini.

Sepertinya saya harus realis, saya tidak bisa mudik dengan anggaran terbatas lagi, Saya tidak boleh paksakan diri untuk mudik seperti yang saya lakukan tahun ini, saya tidak bisa lagi segitu ‘naive’nya berfikir ‘yang penting saya pulang dulu, masalah pengeluaran dipikir nanti’.  Saya tidak mau membebani teman-teman, malu rasanya koq setiap kali ketemu ditraktir.

Bersyukurlah teman-teman Indonesia yang tinggal di Amerika dan bisa mudik setiap tahun dengan anggaran lebih dari cukup. Jujur, betapa irinya saya dengan teman-teman semua.

Tapi iri tidak membuat keadaan lebih baik tho?

Jadi lebih baik ya saya legowo saja. Keinginan mudik akan saya simpan dulu untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

004425b3a792c69eebb0d9c0dd83412c

Mudik 2015 : Oleh-Olehnya Mana??

Saya sempat disindir karena tidak membawa oleh-oleh untuk individu-individu tertentu. Mungkin saya dianggap sangat mampu untuk membawa oleh-oleh buat semua pihak atau mungkin saya di anggap BERKEWAJIBAN untuk membawa oleh-oleh untuk mereka. Saya kurang mengerti juga

Sebagai orang Indonesia,saya terbiasa dengan budaya oleh-oleh ini. Dari Amerika gitu loh, masa sih tidak bawa oleh-oleh waktu ke Indonesia?

Pada dasarnya saya ini orangnya kurang perhatian (kurang ngeh) dalam hal beroleh-oleh, atau masalah kado-kadoan. Tidak terbayang kalau saya merayakan hari natal dimana saya kudu memikirkan kado untuk banyak orang. Setiap kali ada acara tukar kado di kantor, saya keringat dingin.

Saya juga tidak seperti kenalan saya yang orangnya telaten memikirkan orang lain dan selalu punya oleh-oleh ekstra di tangan.

Selain karakter saya yang bingung berkado/beroleh-oleh, saya harus realistis dalam banyak hal, yaitu :

  1. masalah muat atau tidak si oleh-oleh di koper. Dalam mudik ini saya belum-belum sudah membeli koper baru yang tidak ada di anggaran. Terus terang saya tidak enak hati dengan misua sendiri yang membelikan koper buat saya

  2. masalah anggaran. Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, anggaran mudik saya in relatif ‘tipis’, yaitu $3,000 dan sudah termasuk pembelian tiket pesawat. Kecuali mereka yang nyinyir itu mau ikutan bayarin tagihan keluarga saya setelah saya balik ke Amerika, saya harus selalu memantau anggaran ini.

  3. siapa yang akan saya kasih oleh-oleh. Buat saya oleh-oleh itu BUKAN sekedar buah tangan, tapi oleh-oleh itu juga tanda terima kasih saya untuk mereka yang mau berepot-repot bertemu dengan saya. Yang bersedia menyisihkan waktu diantara kesibukan mereka sehari-hari untuk bertemu saya.  Yang terus terang dalam mudik kali ini, memang saya sesalkan ada beberapa teman-teman yang  saya tidak punya oleh-oleh untuk mereka. Maaf ya buat RIA, DI, YP, RN, saya tidak ada buah tangan untuk kalian 

Jadi ya kalau ada yang merasa harus di oleh-olehi oleh saya tapi tidak dapat oleh-oleh….well.……..

mirror1

nb.

Kalau saya tidak salah juga, oleh-oleh itu bukan keharusan kan ya?

Suami saya sendiri, tidak saya belikan apa-apa dari Indonesia, karena dia memang tidak minta, dan dia juga mengerti sekali kerepotan saya di mudik ini. Dia cuma bilang ‘I know there are things there that you love that you can not get here, go ahead buy them, don’t worry about me

Mudik 2015 : Rencana vs Realita

Di mudik 2015, Saya banyak rencana, selain memenuhi 4 tujuan utama yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya kepingin sekali membawa anak saya ke beberapa tempat jalan-jalan yang khas Jakarta: Kidzania, Taman Safari, Taman Budaya Sentul, WaterBoom, Taman Mini.

Maklum, kesempatan mudik buat keluarga kami itu LANGKA dalam arti kami tidak setiap tahunnya bisa mudik seperti kebanyakan teman-teman lain. Lah terakhir mudik saja itu di tahun 2006, jadi saya realistis saja kalau kenyataannya kami tidak selalu bisa pulang. Memang begitu a koq kenyataannya, mau diapakan lagi? masa mau minta dibayarin orang? Nah Saya inginnya di kesempatan pulang ini, anak saya bisa melihat Jakarta dan sekitarnya sebanyak mungkin.

Berhubung saya sudah bekerja, saya hanya bisa cuti selama 14 hari (bukan sebulan seperti M06) dan anggaran saya TERBATAS. Jadi saya harus pikirkan masalah transportasi dan waktu saya yang relatif sempit.

Sebulan sebelum saya berangkat, saya sudah rencanakan dimana saya tinggal. Rencana saya ini memang tidak semua orang tahu (memang harus ya semua orang tahu???? heh???), tapi secara garis besar saya beritahukan lokasi saya ke orang-orang yang secara langsung terlibat – yaitu mereka yang menjemput saya, mereka yang tempat tinggalnya saya tinggali, dan mereka yang mengajak untuk bertemu dengan saya. 

Sementara rencana akan kemana saya setiap harinya, ya cuma saya ya yang tahu dan mereka yang bertanya langsung kepada saya apa rencana saya. (menurut saya tidak penting ya untuk memberitahu rencana saya ke semua orang, kesannya saya sok penting sekali ah!!)

Well, beberapa rencana saya untuk anak saya tidak terealisasi, kasihan juga si kecil yang sedih karena harus menuruti jadwal yang sama sekali berbeda dengan yang saya rencanakan untuk dia. Kami tidak pergi ke Taman Safari, Taman Mini, Taman Budaya ataupun waterboom.

Lucunya, mereka-mereka yang dengan senang hati mengubah rencana saya ini tidak memberikan alternatif hiburan untuk anak saya. Jadilah saya yang harus pontang panting atur waktu saya ‘seadil-adilnya’ untuk semua pihak yang terlibat.

Tapi yang jelas, 4 tujuan mudik saya terpenuhi , dan anak saya tetap bisa bergembira di mudik ini.

Ibu saya berkesempatan ditemani cucunya, Saya dan anak saya menyekar ke makam Ayah,

Mudik_Jan18Feb3

anak saya bisa bermain di Kidzania,

Mudik_Jan18Feb33

berenang di pantai laut Jawa (Anyer), dan beberapa kali di kolam renang di apartemen (meskipun bukan di waterboom),

Mudik_Jan18Feb32

berkenalan dan bermain dengan anak-anak teman-teman saya,

Collages27

dan saya bisa bertemu teman-teman baik saya.

Mudik_Jan18Feb34-004

Tuhan Maha Baik koq.

Mudik 2015 : Cerita Teman SMA

Di mudik saya ke Jakarta bulan Januari lalu, saya tidak sengaja bertemu dengan teman SMA saya. Tambah cantik dan langsing dia, tapi gaya bicaranya masih seperti yang saya ingat di jaman SMA. Jadilah kita sibuk ngobrol ngalor ngidul.

Dari hasil ngobrol dengan teman Saya ini, banyak pelajaran yang saya ambil dan terus terang Saya salut sekali dengan dia.

Agak mirip dengan kondisi Saya, kedua orang tua si teman juga sudah menua. Seperti halnya ibu saya, ibu si teman juga sempat terkena stroke ditambah penyakit lainnya yang cukup parah. Kalau saya hanya berdua dengan kakak laki-laki saya, dia hanya berdua dengan kakak perempuan dia.

Teman saya ini bercerita bagaimana proses dia memutuskan untuk menjadi tulang punggung orang tuanya. Dia mengakui kalau sempat ada waktu dimana dia mengacuhkan kondisi keluarganya dan tidak mau peduli.

Tapi akhirnya dia sadari kalau kenyataannya dialah yang diberikan rejeki oleh Yang Maha Kuasa untuk merawat orang tuanya.

Dia menyadari kalau tidaklah adil untuk meminta anggota keluarga lain untuk merawat sementara kitanya tidak mau melakoni sendiri.

Dan itu bukanlah karena yang bersangkutan tidak mau bertanggung jawab atau lepas tangan, tapi karena sejujurnya tidaklah mudah untuk seseorang hidup selama 24 jam sehari semata-mata mengurus orang tua.

Teman saya ini membuka hatinya untuk mengerti dan menghargai kejujuran dan kenyataan di sekelilingnya.

Terus terang , untuk saya itu adalah hal yang tersulit.

Tidaklah mudah untuk siapapun, dimana kita harus ikhlas dengan kenyataan, dimana kita harus membulatkan hati untuk menjadi pihak yang MAMPU mengatasi keadaan. Bahwa dia harus mengobarkan banyak hal-hal pribadi, dia ikhlaskan tanpa dia merasa marah dengan siapapun.

Karena teman saya ini tahu, bahwa marah tidak akan membuat hal menjadi lebih baik ;bahwa dia harus menjadi DEWASA dan legowo.

Terima kasih SS untuk berbagi ceritamu ke aku.

Mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi nanti.