jalan-jalan

Jalan-Jalan : Madison, Wisconsin (bagian 2)

Hari Kamis, 7 April 2016.

Berhubung mobil saya itu cuma muat untuk 2 orang, saya sewa mobil dari Enterprise untuk bisa jalan-jalan dengan sepupu saya. Enaknya,  lokasi hotel saya Best Western West Towne Suite, itu berdekatan dengan lokasi penyewaan mobil Enterprise. Jadi saya tinggal minta jemput,  5 menit kemudian mobil jemputan datang, 10 menit kemudian saya, si kecil dan sepupu sudah melaju ke arah pusat kota Madison.

O iya, lupa bilang kalau Madison itu ibukota negara bagian Wisconsin, dimana di sini juga ada universitas besar, yaitu Universitas Wisconsin Madison. Kota Madison boleh dibilang diapit 2 danau besar, yaitu Mendota dan Monona.

Karena letaknya di utara, ada perbedaan cuaca yang cukup jauh antara tempat saya tinggal, Louisville, KY dan Madison, WI. Waktu saya berangkat, cuaca di Louisville sudah mulai hangat, sepatu boots sudah saya masukkan ke lemari, cukup pakai baju hangat ala kadarnya tapi di Madison, temperatur lebih rendah. Jadilah saya pakai baju hangat, rompi dan jaket kulit.

Kami sengaja parkir agak jauh supaya bisa jalan kaki melihat ini itu di pusat kota. Sama sepupu, dipilih untuk menyelusuri jalan State, di jalan ini bisa ditemui berbagai toko-toko unik, rumah makan, bar dan lain sebagainya.

Nah, State Capitol Building atau Balai Kota gitu ya? lokasinya di pusat kota Madison, sedikit berbeda dengan gedung-gedung balai kota yang pernah saya kunjungi, balai kota di Madison letaknya di tengah-tengah square. 

Selain itu juga, balai kota Madison itu strukturnya kalau dilihat dari atas seperti huruf X, di tengah-tengah ada kubah, dimana di puncak kubah ada patung perempuan bernama Wisconsin, sementara di salah satu sisinya ada lagi patung wanita bernama Forward.

Kami juga sempat masuk ke dalam gedung balai kota. Waduh, interiornya mewah sekali! tangga-tangga dihiasi dengan batu marbel (konon dari Itali) besar-besar. Langit-langit di dalam dihiasi dengan lukisan besar.

Malahan di salah satu ruangan, yaitu ruang konfrensi gubernur, seluruh langit-langitnya selain lukisan juga dihias dengan ukiran-ukiran yang semuanya menggunakan emas. Di ruangan ini juga ada tempat perapian terbesar.

Di ruangan lain, seluruh dindingnya menggunakan batuan alami, dimana pengunjung bisa melihat fosil yang tercetak di batu itu sendiri.

Pengunjung bisa ikutan tur keliling balai kota dengan pemandu tur,  kami pilih kelayapan sendiri saja dengan bekal buklet dan peta dari meja tamu.

 

Setelah selesai di balai kota, kami sempat mampir di Children Museum, biar si kecil tidak bosan, bisa main-main biar cuma sebentar. Children Museum di Madison ini boleh dibilang lebih di tujukan untuk anak-anak dibawah usia 5 tahun, untuk anak saya yang 10 tahun, tidak terlalu banyak hal menarik yang dia bisa lakoni. Yang jelas dia bisa manjat-manjat.

 

Dan juga kalau mampir di sini, jangan lupa ke atap, pemandangannya bagus, karena bisa melihat si danau dari kejauhan!

Yang saya sangat senangi dari perjalanan saya ke Wisconsin ini adalah kesempatan untuk makan di restoran Indonesia sebanyak dua kali!! Betapa senangnya hati ini bisa makan makanan tanah air tanpa perlu repot-repot masak!

Restoran Indonesia pertama yang saya kunjungi itu namanya Bandung, lokasinya di jalan Williamson. Kalap? Jelas! Tahu, tempe, otak-otak, lumpia, martabak, saya pesan untuk makanan pembuka!! Untuk masakan utamanya saya pesan nasi goreng untuk anak saya, gulai kambing untuk saya dan sepupu saya pesan udang goreng mentega.

 

 

 

Restoran Indonesia kedua yang saya kunjungi itu namanya JavaWarung, lokasinya di Appleton, Wisconsin. Saya makan disini waktu saya kunjungi teman saya yang orang Jepang, setelah kunjungan saya di Madison.

Disini sistemnya bufet, ketemu juga dengan pemilik resto, Jeng Enny. Yang saya tidak habis-habis comot disini itu lapis surabayanya dan kue gulung mocha…lembut dan enak!!

 

Jalan-Jalan : Madison, Wisconsin

Memasuki bulan April / akhir bulan Maret, biasanya ibu-ibu yang mempunyai anak usia sekolah tahu sekali apa artinya. Liburan sekolah! Alias Spring Break. Saya sebagi ibu anak usia sekolah sudah dari jauh-jauh hari mengajukan permohonan cuti buat spring break ini.

Spring Break si kecil tahun ini mulai tanggal 4 April sampai 10 April. Tadinya saya ajukan cuti seminggu penuh, tapi ternyata kita tidak ada rencana yang pasti untuk pergi-pergi, jadi saya kurangi cuti saya, cuma dari hari Rabu saja.

Waktu lagi misuh misuh mikir mau kemana ya…eh dapat kabar kalau sepupu saya sudah balik kuliah di University of Wisonsin – Madison lagi, tidak lama kemudian saya dapat kabar kalau teman saya waktu di Bozeman, Montana juga ternyata sekarang tinggal di Wisconsin. Dua-duanya sudah sekitar 8 tahunan tidak pernah bertemu. Mmm…coba lihat peta ah..seberapa jauh ya perjalanan ke Wisconsin? 8 jam-an alias seharian.

Terakhir saya berkendara mobil antar propinsi itu di tahun 2010, waktu pindahan dari Bozeman, Montana ke Cleveland, Ohio. Saya dengan gagah menyetir truk pindahan dengan si kecil, yang waktu itu berumur 4 tahun.

Well, kalau dulu itu saya bisa nyetir truk berduaan antar propinsi selama berhari-hari, 8 jam di perjalanan dengan mobil biasa ya kudunya bisa dilakoni dong??

Ya sudah, dibulatkanlah tekad untuk berpetualang kendara dengan anak 10 tahun ke Wisconsin!

Kita berangkat hari Rabu jam 9 pagi. Bagasi mobil cilikku sudah penuh dengan dua tas isi baju, cemilan, air minum, rompi tebal, jaket kulit, topi , sarung tangan, komputer dan sepatu boots (karena waktu mengecek cuaca di Wisconsin, ternyata ada kemungkinan saljuan).  Berhubung ruang bagasi terbatas, kita kudu pinter-pinter ngepak supaya semua masuk…ha…ha…ha..

smartiepacked

Sebelum masuk ke Interstate , kami mampir dulu di Chick-Fil-A buat sarapan dan Starbucks buat beli doping alias kopi supaya tegar nyetir selama 8 jam.

img_20160406_084945.jpg

Rute perjalanan dari tempat kita tinggal, Louisville, ke Madison, Wisconsin ada beberapa pilihan. Total sekitar 460 mil. Tapi kita sengaja pilih rute yang tidak melalui Chicago, karena kita anggap akan terlalu hiruk pikuk dan kurang aman buat pengemudi amatiran seperti saya yang sering kagok orientasi 😉

Perjalanan kita intinya itu dari Kentucky, melewati negara bagian Indiana, terus menuju utara melewati negara bagian Illinois hingga akhirnya masuk negara bagian Wisconsin.

Interstate pertama yang kami ambil itu Interstate 71 arah Louisville, dari situ kita ganti ke Interstate 65 arah Utara, menuju ke Indianapolis. Pergantian propinsi dari Kentucky ke Indiana itu cuma 30 menitan, karena kota tempat kita tinggal, berdekatan dengan perbatasan Indiana.

Perjalanan selanjutnya, dari Interstate 65 hingga masuk ke Illinois lumayan gempor…separuh total perjalanan lah kira-kira. Di Interstate 65, kita pindah ke lajur Interstate 74 arah Peoria (menghindari Chicago)

Pas sudah masuk Illinois, girang juga, karena berarti satu negara bagian lagi, kami sudah sampai di tujuan!

illinois.jpg

Dari I-74, kita ganti jalur lagi ke I-39 North, sampai akhirnya masuk Wisconsin! yay!Kita sampai di hotel itu kira-kira jam 6 waktu setempat (atau jam 7 waktu Timur Amerika, jadi total kita di perjalanan itu 10 jam!)

Hotel yang kami pilih hotel Best Western West Towne Suite, lumayan bagus, dan lokasinya enak, karena dekat dengan mal dan restoran-restoran macam-macam, dari mulai dimsum, India, Vietnam dan restoran rantai lainnya.

Malam pertama di Madison, saya habiskan dengan rumpi-rumpi dengan sepupu hingga larut malam. Besok kami akan jalan-jalan untuk lihat gedung Ibukota Negara bagian!

 

 

 

 

Jalan-Jalan Alam : O’Bannon Woods

Halo! Di sini lagi musim sakit euy! Di tempat kerja ada 3 rekan yang sakit ; ada yang kena virus flu, ada yang kena virus perut ada yang kena alergi tidak jelas.

Setelah bertahan, kayaknya saya ketularan juga. Jadi tulisan saya kali ini lewat foto-foto saja ya….karena masih tidak enak badan dan tidak ada energi untuk menulis.

Lokasi : Hutan alam O Bannon, Indiana

 

Sempat melihat beberapa rusa muda saat kami meninggalkan lokasi.

Lucu ya? saya selalu senang kalau ketemu rusa liar seperti ini, entah kenapa saya selalu sebut si rusa dengan sebutan ‘Bambi’…he…he…he..

Waktu kita menuju pintu keluar, eh ketemu lagi dengan bambi lainnya di pinggir jalan :

 

Jalan-Jalan di Pusat Kota Louisville

Hore hari Sabtu lagi! Setelah minggu lalu cuaca kurang bersahabat, Sabtu ini matahari tidak malu-malu mengeluarkan cahayanya. Berhubung hari Sabtu minggu depan dan minggu berikutnya saya harus kerja, saya paksa suami dan anak untuk jalan-jalan, tidak usah jauh-jauh, cukup ke pusat kota (downtown) saja,pinta saya.

Jadilah kami bertiga berangkat ke pusat kota, kebetulan hari Jumat sebelumnya saya sempat ke pusat kota juga untuk urusan imigrasi dan saya sempat lihat ada ‘keriaan’ di jalan keempat (4th Street), ya sudah kami menyusuri koridor jalan utama untuk menuju 4th st, sambil celingukan kiri dan kanan melihat hal-hal yang bisa diabadikan dengan kamera.

Pusat kota Louisville boleh dibilang di belah oleh 2 jalan utama : Main St dan Market St.  Ibarat koridor Sudirman di Jakarta, di dua koridor ini, kita bisa temukan restoran, gedung kantor, gedung pemerintahan, lapangan terbuka, teater, hotel lengkap lah pokoknya.

Di Main St ada satu bagian yang disebut dengan Museum Row  dimana ada 10 museum/atraksi yang berdekatan satu dengan yang lainnya :

1. Louisiville Slugger Museum,

 

 

2.Frazier Museum,

3. Kentucky Science Center,

4. Muhammad Ali,

5. Glasswork,

6. Kentucky Museum Art & Craft,

7. The Kentucky Center for the Performing Art,

DSCN4168

8. 21C Museum Hotel,

This slideshow requires JavaScript.

 

9. Kentucky Show,

10. Evan Williams Bourbon Experience.

Saya sendiri belum mengunjungi kesepuluh tempat tersebut, yang sudah pernah saya kunjungi itu Louisville Slugger Museum (tidak masuk ke dalam lokasi pembuatan), Kentucky Science Cnter, The Kentucky Center for the Performing Art Kentucky Museum Art & Craft dan Evan Williams Bourbon Experience. Kebanyakan juga karena saya ikutan acara kunjungan sekolah anak saya. 😉

Selain atraksi dan museum, pusat kota juga dihiasi berbagai macam dekorasi artistik, dan seperti yang saya pernah tulis sebelumnya Louisville ini kotanya balapan kuda, jadi jangan heran kalau ketemu berbagai patung kuda warna warni di sudut kota Louisville.

This slideshow requires JavaScript.

4th Street itu sendiri oleh pemerintah setempat dijadikan koridor hiburan (entertainment) yang artinya jalan ini bisa ditutup saat ada konser musik jalan ataupun acara musiman lainnya.

Sehari-harinya 4th St penuh dengan rumah makan-rumah makan, baik lokal maupun chain : Hard Rock Cafe, Kentucky Fried Chicken, Taco Bell, QDoba, Dunkin Donut, dan sebagainya.

Berhubung sudah masuk bulan Desember, kota Louisville saat ini sibuk berdandan untuk menghadapi Natal : pohon natal, Sinterklas dll. Waktu kita turun dari gedung parkir dan lewat koridor salah satu museum, eh ada Sinterklas yang ‘minta’ di foto bareng A. Ya jadilah si A berfoto dengan Santa…ha..ha..ha…(padahal kami lagi mau nyoba tongkat narsis yang baru kami dapat dari pesta natal di tempat saya kerja di hari sebelumnya!)

Benar saja, waktu kita sampai di  4th st sendiri, 3 blok ditutup dari akses kendaraan untuk acara ‘Santa House‘. Pemda membangun kedai berjualan dengan nuansa gubuk di jalan yang ditutup, juga membangun arena sepatu es. Kedai-kedai yang dibuka jualannya bermacam-macam, dari mulai wiski, kopi, hiasan natal, sampai makanan.  Sayangnya ‘rumah Santa’ masih ditutup , jadi kami tidak bisa melihat isi rumah si Sinterklas.

Di blok selatan 4th st ada toko kesukaan saya, toko coklat isi bourbon…hi..hi..hi…namanya Art Eatables. Ada kali 2 tahun lalu saya nyasar di sini, baru kemarin mampir lagi…jadilah beli 2 kotak coklat bourbon.

 

 

Yang saya selalu senangi saat berjalan-jalan di pusat kota skala Louisville adalah melihat arsitektur gedung-gedung tua. Dan sebagian besar kota-kota di Amerika, pemerintah lokalnya lumayan perhatian dengan pelestarian gedung-gedung bersejarah.

 

 

Jalan-Jalan : Melanjutkan Perjalanan Menyusuri KY Bourboun Trail

20151122_164422

Halagh!

Setelah nyasar di Jim Beam, saya ‘kecanduan’ ingin melihat tempat-tempat penyulingan lainnya di KY Bourbon Trail! Sekali lagi bukan kecanduan dengan bourbonnya, tapi saya penasaran dengan cara pemasaran mereka : dari sekian banyak tempat penyulingan di KY, bagaimana masing-masing merek membedakan diri mereka dengan pesaingnya? Itu yang lebih membuat rasa ingin tahu saya membuncah, kalau masalah rasa, blaaaaaaaaaaaahhhhh tetap saya tidak doyan. 😉

Minggu, tanggal 24 November 2015, saya loncat-loncat kegirangan karena matahari bersinar cerah dan suhu udara lumayan bersahabat.

Maklum, di Amerika, kalau sudah masuk bulan November itu artinya sudah harus bersiap-siap menghadapi suhu dingin bahkan salju. Setiap kali ada hari dimana udara lumayan hangat dan matahari bersinar, sebagian besar orang sini langsung memanfaatkan dengan pergi ke luar menikmati udara bagus sebisanya. Demikian juga saya.

Jadilah kami ngacir menuju lokasi Maker’s Mark. Saya pilih MM karena botol-botol MM itu ditutup dengan menggunakan lilin merah – yang saya ingat pernah saya lakoni waktu kerja di perusahaan Jepang tahun 1997 dimana bos saya mengelem amplop berisi dokumen penting dengan lilin merah – kesannya ‘keren’ dan aristrokat gitu…ha….ha….ha.

MM lokasinya di selatan kota Louisville, untuk menuju MM, kami melewati 2 tempat penyulingan lainnya : Jim Beam dan Four Roses – yang lokasinya di jalan utama. Saya pikir dong lokasi MM juga di jalan besar, ternyata salah besar. Untuk ke lokasi MM, kami masuk ke ‘pedesaan’ , istilahnya di tempat ‘jin buang anak’ atau out of nowhere gitu.

Seperti juga lokasi Jim Beam and Woodford Reserve, kampus MM juga apik dan asri (dan tidak bau!!)

Seperti halnya Jim Beam, di MM juga tersedia tur, di MM harga tiket untuk dewasa itu $9, anak-anak dibawah usia 21 tahun gratis.

Kampus MM relatif lebih kecil dibanding Woodford Reserve, tapi itu karena MM punya kampus lebih dari 1 lokasi. Tur kami kali ini , seorang wanita dan kita tidak dibekali radio, tapi cukup mendengarkan suara si pemandu tur.

MM konon menggunakan tipe gandum yang berbeda dengan merek lainnya, disamping itu seperti juga Woodford yang mempunyai produk ‘khas’ disamping produk utama mereka, MM punya Maker’s Mark 46, bourbon untuk produk ini menyerap tambahan kayu tertentu disamping tong kayu yang digunakan untuk produk utama. Warnanya menjadi lebih gelap dan konon rasanya lebih ‘dalam’.

Dibanding Woodford, tempat penyimpanan tong kayu MM lebih kecil dan juga di MM, tong-tong kayu ini diputar dengan tangan untuk menjamin ‘kematangan’ merata dari si borbon. (di Woodford mereka mengandalkan perubahan musim untuk pematangan borbon mereka)

Yang beda lagi, di MM, pengunjung dibolehkan menco’el jari mereka untuk mencicipi si borbon saat dalam proses fermentasi – dimana semua bahan-bahan setelah selesai ditumpuk, dituang ke tong kayu raksasa terbuka. Ewwwwwwww!!

Ruang icip-icip di MM juga terlihat lebih ‘mewah’, karena dindingnya kaca. Pengunjung mencicipi 4 jenis borbon : dari tipe pertama yang warnanya sangat terang (hampir bening) hingga tipe nomor 4 yang warnanya paling gelap.

Beda dengan kunjungan di Woodford dimana ada 2 ibu-ibu yang juga ‘memble’ setelah menegak borbon, disini cuma saya yang mukanya berkerut-kerut setelah mencicipi borbon, pengunjung lainnya sepertinya semua penggemar borbon, karena saya mendengar suara ‘aaaaaahhhhhh’ dari mereka.

O iya, kalau di Woodford coklat disediakan saat pencicipan, di MM, coklat bisa diambil setelah pencicipan. (Jelas, saya ambil sebanyak mungkin!! 😉

Setelah pencicipan, pengunjung masuk ke toko suvenir, dimana pengunjung bisa me’wax botol ataupun gelas pilihan mereka.

Saya tidak ‘ngeh’ kalau boleh memilih me-wax gelas, jadilah saya pilih borbon paling kecil untuk di lilinkan. (kalau boleh milih, saya mending ‘melilin’ gelas daripada botol borbon, karena lebih murah dan juga saya tidak tahu mau dikemanakan si borbon itu yak???)

Pengunjung harus memakai celemek, kacamata pengaman, sarung tangan dan sarung lengan sebelum masuk ke tempat waxing.(waxing bahasa Indonesianya apa ya????)

Proses waxing ini di MM sepenuhnya dilakukan dengan tangan – bukan mesin. Konon pemilik MM sempat berargumen untuk mengubah proses ini dengan menggunakan mesin, tapi sang istri berketetapan untuk melanjutkan tradisi dan dia menang. Jadilah hingga detik ini semua botol-botol MM di tutup dengan lilin merah yang tidak ada satupun yang sama.

Proses pelilinan dengan tangan ini lucunya membuat beberapa botol menjadi bahan koleksi – karena sifatnya yang unik. Ada beberapa botol yang ‘kebanyakan’ lilin hingga meleleh ke label – yang tidak seharusnya’- tapi oleh MM dibuat menjadi ‘one of a kind‘.  Semakin ‘ngawur’ lelehan si lilin, semakin ‘keren’ si botol jadinya. Ada-ada saja ya??

Di akhir tur, penunjung boleh berjalan kaki kembali ke gedung utama atau naik troli ke tempat parkir. Saya dan si kecil pilih naik troli, karena si kecil hobi naik troli!

20151122_163526

Jadi apa dong perbedaan antara satu penyulingan dengan yang lainnya?

  • Strategi pemasaran jelas memegang peranan penting dalam pembedaan masing-masing penyulingan
  • Jim Beam satu-satunya tempat penyulingan (diantara 2 lainnya : Woodford dan Maker’s Mark) yang punya tempat makan yang cukup mengenyangkan (bukan cuma makanan ringan)
  • Jim Beam dan Woodford menjual coklat, tapi tidak di MM
  • Jim Beam juga satu-satunya tempat penyulingan yang melakukan pencicipan dengan cara ‘dispenser’. Pencicipan di Jim Beam itu lucu, ada kira-kira 5 stasiun dispenser bourbon dengan berbagai rasa dimana pengunjung tinggal menggunakan kartu yang mereka dapat dari pembelian tiket untuk mencicipi borbon. Seperti dispenser soda di tempat makan cepat saji.
  • Cuma di MM pengunjung bisa melakoni pelilinan botol untuk dibeli.
  • Di MM yang saya senang itu di gedung pembelian tiket ada dinding bergambar menggunakan ubin-ubin kecil warna warni. Cantik sekali, jadilah saya ngeceng di dinding tersebut berkali-kali 😉
  • Juga di gedung terakhir sebelum masuk ke toko suvenir, di langit-langit mereka buat keramik warna-warni yang masing-masing warna melambangkan proses pembuatan borbon : merah -warna kayu, biru warna air, kuning warna saat peragian.

Puaskah saya jalan-jalan ke tempat penyulingan borbon?

You’ll never know! ;-))

 

 

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Mengunjungi Tempat Penyulingan Bourbon

Negara bagian Kentucky, tempat saya tinggal sekarang, boleh dibilang terkenal akan dua hal :

  • Balapan Kuda dan
  • Minuman Bourbon (sejenis wiski)

Waktu pertama kali pindah ke Louisville, Kentucky saya bingung karena melihat patung kuda dimana-mana, diberitahu suami kalau di Kentucky balapan kuda itu tradisi orang sini. Di kota Louisville sendiri, setiap tahun ada festival Kentucky Derby, acara tahunan yang heboh dan ditunggu-tunggu kalangan elit di sini.

Selain kuda, KY juga terkenal akan bourbon-nya. Bourbon itu sejenis wiski, boleh dibilang wiskinya Amerika lah, karena pakemnya bourbon hanya boleh di produksi di Amerika. Konon sumber air alam di KY membuat bourbon lebih khas rasanya dibanding di tempat lain.

Nah di KY, saking banyaknya tempat penyulingan bourbon di sini, pemda setempat membuat atraksi turis, namanya Kentucky Bourbon Trail. Saya yang meskipun bukan penggemar minuman beralkohol;berhubung bukan penduduk asli Kentucky terus terang penasaran dengan si bourbon ini.

Setelah minggu lalu tidak sengaja melewati salah satu tempat penyulingan bourbon, Jim Beam, saya bernegosiasi dengan suami untuk melakoni KY bourbon trail tanpa dia tergoda ingin minum melampau batas.

wpid-wp-1447896474236.jpeg

Jadilah hari ini, Minggu tanggal 15 November 2015, kami memulai petualangan kami menyelusuri KY bourbon trail.

Dari 9 tempat penyulingan di Kentucky, kami pilih penyulingan di timur Louisville, yaitu di kota Lawrenceburg, dimana ada 4 tempat penyulingan yang lokasinya berdekatan ; Four Roses, Wild Turkey, Woodford Reserve dan Town Branch.

Bukan jadi mau singgah ke-empat-empatnya, tapi paling tidak kami ada rencana cadangan lah, karena siapa tahu kami ternyata tidak suka yang satu, bisa pergi ke tempat yang lain.

Pilihan pertama kami adalah Wild Turkey, eh alah waktu sampai di lokasi, ternyata tutup (padahal waktu di cari di Google, tertulis jam operasi untuk hari Minggu). Tu kan?!! Untung kita pilih jalur yang ada 3 pilihan lainnya. Setelah mengecek lewat telpon kami putuskan untuk ke Woodford Reserve.

Seperti halnya lokasi Jim Beam, Woodford Reserve ini lokasinya juga apik, bersih dan ‘tenteram’.

Di gedung utama, pengunjung bisa duduk di lobi yang luas untuk menunggu bus tur berikutnya, sambil melihat-lihat toko suvenir yang menjual produk Woodford Reserve, dari mulai bourbonnya sendiri, bumbu-bumbu dapur, gelas-gelas, sampai pernak-pernik khas Woodford Reserve.

Di gedung utama ini, pengunjung juga bisa membeli tiket untuk tur : $10 per orang, anak-anak dibawah 18 tahun gratis dan mengambil paspor KY Bourbon Trail.

20151115_145855

Jeda antara tur yang satu dengan yang berikutnya itu sekitar 30 menit, tidak terlalu lama. Setiap pengunjung diberikan radio pendengar lengkap dengan ear set jadi si pemandu turis tidak perlu berbicara dengan suara keras tapi masing-masing pengunjung bisa mendengar penjelasan dengan baik.

Dari gedung utama, kami naik ke bis untuk pergi ke lokasi penyulingan.

wpid-wp-1447639431035.jpeg

Gedung pertama yang kami kunjungi adalah gedung dimana awal pembuatan bourbon dimulai. Ada 5 hal penting dalam pembuatan bourbon, seperti yang tercantum dalam diagram ini :

IMG_20151115_141903

Di gedung ini juga, bahan-bahan utama di campur dan di giling bersama-sama untuk kemudian di fermentasi di dalam tong kayu (barrel) raksasa.

Proses selanjutnya adalah proses penyulingan, di ruang penyulingan ada 3 ‘botol’ ukuran besar yang mengingatkan saya dengan botol si jin ‘Jinnie’.

20151115_142526

Selesai penyuingan, tahap berikutnya adalah tahap yang paling penting dalam pembuatan bourbon : yaitu tahap pematangan (aging). Bourbon yang sudah disuling, dituang kedalam tong-tong kayu, lalu di simpan di dalam gedung khusus untuk menyimpan si tong kayu ini.

Masing-masing tong kayu tertera tanggal awal penyimpanan. Untuk mencapai rasa yang diinginkan rata-rata bourbon disimpan tidak kurang dari 6 tahunan.

Untuk mengetes apakah bourbon sudah siap untuk dipasarkan, dalam waktu tertentu, crafter akan mencicipi bourbon yang bersangkutan dari masing-masing tong. Bisa di lihat di beberapa tong, ada bagian yang terbuka, yang tandanya crafter sudah pernah cicipi tong tersebut.

Selesai penyulingan, semua bourbon yang sudah jadi sekarang siap untuk dibotolkan dan dikirim ke pemasok di seluruh penjuru Amerika.

Tur di tutup dengan pencicipan bourbon. Masing-masing pengunjung di beri 2 gelas kecil (shot) bourbon : satu bourbon biasa dan satu lagi bourbon double oak (bourbon yang mengalami proses lanjutan setelah proses utama selesai) dengan satu coklat isi bourbon.

Pengunjung diminta mencicip masing-masing 3 kali. Setiap selesai mencicipi, kami diminta untuk membayangkan rasa ‘awal’ yang kami rasakan. Bourbon, seperti halnya parfum, memiliki 3 tahap perasaan yang berbeda. Perasaan awal, menengah dan akhir.

Rasa awal yang lazim dirasakan oleh pengunjung itu adalah rasa ‘buah’, rasa tengah mulai dari kayu manis, daun mint, sedangkan rasa akhir itu mulai terasa aroma kayu oak, coklat, tembakau, kopi dsb. Diagram ‘rasa’ ini berbeda dimasing-masing bourbon, bisa dilihat di bawah ini.

WDF_Flavor-Wheel_RYE

Waktu saya cicip si bourbon, mblllaaaaaaaaaaaaaaah…..lidah ini langsung protes, dan ternyata bukan saya saja yang tidak bisa ‘menikmati’ rasa bourbon, ada 2 pengunjung wanita lainnya yang juga mengernyitkan dahi seusai mencicipi. Terus terang saya koq lebih senang membaui si wiski dibanding menegaknya. Hi..hi..hi..

Buat saya pribadi, menengok dengan kepala sendiri bagaimana proses pembuatan wiski memberi wacana sendiri buat saya. Dari mulai terkagum-kagum melihat tong setinggi rumah, tumpukan tong kayu setinggi langit dan ‘njelimetnya’ ‘merasakan’ aroma dan rasa si bourbon, saya lumayanlah jadi mengerti apa itu ‘bourbon‘ tanpa harus jadi penikmat ataupun pecandu. 😉

 2015-11-152

2015-11-151

2015-11-15

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Hutan Bernheim

Halo!

Sudah lama ya saya tidak cerita jalan-jalan, memang boleh di bilang bulan Oktober, kami tidak jalan-jalan kemana-mana, antara kerja dan acara pramuka si kecil, yang ada hari Sabtu dan Minggu cuma digunakan untuk beres-beres rumah, padahal bulan Oktober itu banyak acara Fall Festival yang seru-seru. Sedih juga karena kelewatan ikutan acara-acara seperti itu.

Hari ini, boleh dibilang satu-satunya hari Sabtu bebas untuk saya di bulan November. Saya wanti-wanti bilang ke suami untuk jalan-jalan ke hutan Bernheim. Kami terakhir ke Bernheim itu dua tahun lalu waktu ada acara Color of Leaf di bulan Oktober. Kenapa saya pilih jalan-jalan di alam? selain dipaksa berolah raga, juga relatif lebih murah dan juga saya tidak cuma jalan-jalan ke mal (dan yang ada belanja tidak karuan!!)

Hutan Bernheim itu lokasinya di selatan tempat kami tinggal, sekitar 30 menitan. Ongkos masuk kendaraan $5 per mobil, tidak mahal kan?!

Sampai di Bernheim, kami ke lokasi menara pengawas kebakaran, haduh..waktu naik ke atas menara, saya lumayan deg-degan juga..sepanjang menaiki tangga, saya dalam komat kamit ‘jangan lihat ke bawah! jangan lihat ke bawah!’

Meskipun tidak tinggi-tinggi amat, perasaan strukturnya ringkih gitu! (padahal enggak juga sih!!) dan agak-agak sempit (ternyata saya punya ketakutan terjebak di tempat terkukung). Setelah sampai diatas, DUH! leganya!

IMG_20151107_133601-001

Dari lokasi menara kami balik ke tempat pengunjung untuk makan siang di kafe Isaac. Selesai makan, kami ke jalan lagi ke Canopy Tree Walk dimana ada jembatan yang menjulur ke arah ngarai. Keren untuk tempat foto-foto yang jelas!

IMG_20151107_153657

2015-11-07

Selesai jalan di Canopy Tree Walk, kita coba satu jalan alam lagi : Rock Run Loop. Yang agak beda di jalur pendakian ini, di tengah-tengah jalur ada sungai kecil – yang karena musim, sungainya kering, hampir tidak ada airnya – tapi berarti kita bisa jalan di tengah-tengah ‘sungai’. Entah kenapa saya hobi jalan di sungai kecil, kecipak kecipuk.

Jadi buat saya jalur ini paling menarik! (tidak bohong kalau saya banyak berselfie ria disini…he…he…he)

2015-11-071

2015-11-073

Cukup 3 pendakian saja kami lakoni hari ini, bukan kenapa-kenapa, cuaca agak kurang mendukung dan juga karena pergantian musim, hari-hari di bulan November memang jadi lebih pendek, baru jam 4:30 pm, hari sudah agak gelap.

Tapi yang jelas, kami senang. Berjalan-jalan di alam itu memang menyenangkan hati (dan kantong!), menghirup udara segar, melihat daun-daun berjatuhan, melihat pemandangan indah, adem hati rasanya. 😉

Turis Lokal : Berkayak Ria Menyusuri Sungai Harrods

Yay, hari Sabtu lagi! Setelah berhasil mengalihkan jadwal kerja ke teman kerja lain, saya jadi cuma kerja hingempaga pukul 12:30 siang hari Sabtu lalu.

Setelah minggu lalu kami telat datang ke tempat kayak, kali ini kami lebih siap!

Jam 3 sore, kami meluncur ke river road, di salah satu tempat makan di sepanjang jalan river road ada satu tempat yang juga menyewakan kayak dan canoe.

Untuk ber-canoe (cukup untuk 3 orang), ongkosnya $50, sementara untuk berkayak satu penumpang itu $30, untuk kayak ganda $50.

Kami pilih satu kayak tunggal dan satu kayak ganda, total ongkos yang kami harus bayar $80 selama 4 jam.

Saya baru sekali ini berkayak ria, pertama-tama bingung bagaimana mengarahkan si perahu, tapi lama-lama bisa juga. Di perjalanan kita melihat groundhog, kura-kura, burung heron dan rusa liar.

Kami menghabiskan waktu kira-kira 1.5 jam an saja, selain tangan pegal mendayung, si kecil mulai ngambek karena lapar!

2015-08-011

2015-08-022

Kalau mau jujur saya tidak merekomendasi tempat ini, pertama karena mereka tidak terima kartu kredit atau kartu debit, semua harus dibayar tunai. Kedua koq tidak ada formulir yang harus ditanda tangani gitu tentang keselamatan (waiver istilahnya). Ketiga haduh……jaket pelampungnya ada yang bau apek…….Keempat kalau ada masalah di tengah sungai – misalnya dayung hanyut, atau kayak terbalik, mereka tidak menyediakan sarana penolong apapun. Kelima waktu kita balik, lah tidak ada petugas yang menolong kami menepi ke darat.

Untuk harga yang kita bayar, yang kita sarana terima koq ya minim sekali.

Ya gak apa-apa, direlakan saja…yang penting sudah pernah mencoba…;-)

Turis Lokal : Bersepeda Menyeberang Jembatan ke Indiana

Akhir pekan, baik itu Sabtu atau Minggu, kadang keluarga kami menyempatkan diri melakukan aktifitas yang agak bedalah dengan hari-hari biasa. Kadang kalau ada rejeki, kami keluar kota, tapi ya tidak selalu juga. Karena saya kadang hari Sabtu kerja dari jam 8:30 am sampai jam 5:00 pm, karena saya kerja di dua tempat ;dulu malah saya juga sering kerja di hari Minggu,baru di pertengahan bulan Mei, saya mengalah untuk tidak lagi kerja di hari Minggu.

Minggu ini kami tadinya mau berkayak ria, tapi sudah agak telat, dan ternyata agak mahal di ongkos….($30 per kayak), jadilah diteruskan berkendara ke tengah kota, dimana saya dan si kecil langsung sepakat mau menyewa sepeda dan menyebarang sungai Ohio.

Kota Louisville itu lokasinya di tepi sungai Ohio. Di seberang sungai Ohio itu sudah masuk negara bagian Indiana. Di antara jembatan-jembatan yang ada, ada satu jembatan yang diubah fungsinya menjadi jembatan penyeberangan orang.

DSCN2059

Kami sudah pernah berjalan di jembatan ini, dan juga sudah pernah menyewa ‘sepeda’ (Surrey) untuk keliling-keliling tengah kota, tapi belum pernah menyewa sepeda untuk menyeberang jembatan.

2013-06-29

Di ujung jembatan, ada tempat penyewaan ‘sepeda’ : Wheels Fun Rental namanya.  Pengunjung bisa menyewa sepeda biasa, sepeda per orang, sepeda rangkap 2 untuk 3-4 orang, atau sepeda rangkap 4 untuk 6 orang.

Di tahun 2013, kami sewa ‘Surrey’ untuk jalan-jalan keliling tengah kota, tapi Surrey tidak bisa dibawa menyeberang jembatan.

July112013_40th

Jadi kali ini kami menyewa sepeda rangkap dua dengan tempat duduk di belakang untuk si kecil (Deuce Coupe) Ongkos untuk menyewa sepeda ini $20 per jam.

Buat saya sih seru saja melakoni hal-hal seperti ini. Naik jembatan, saya dan suami sempat kewalahan mengayuh pedal, jadilah si kecil harus membantu dengan mendorong si sepeda dari belakang…ha…ha…ha…. Demikian juga waktu kami sampai di sisi Indiana dan mau balik ke Kentucky, si kecil lagi-lagi ‘dipekerjakan’ untuk mendorong sepeda.

2015-07-261

Ternyata kami cuma menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk menyebarang jembatan dan balik ke lokasi,sementara waktu sewa kita 1 jam,  karena si babe kecapaian, jadilah saya dan si kecil wara-wiri berduaan menghabiskan jatah waktu sewa.

2015-07-265

2015-07-262

Setelah lelah bersepeda, kami jajan hotdog dan es krim dari pedangan makanan di taman. (Andai ada bakso, saya mah pilih bakso atau siomay deh!)

Lumayan lah, meskipun cuma 1 jam, yang penting kami menghabiskan waktu bersama-sama dan bersenang-senang!

2015-07-027

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Lego Americana Road Show

Anak saya itu hobi sekali main LEGO. Setiap kali ada acara berbau LEGO kita usahakan mampir , dari mulai LEGO Kids Festival, Pameran LEGO Sculpture in kebun binatang, dan baru-baru ini acara LEGO Americana Road Show.

Kalau LEGO Kids Festival itu acara untuk anak-anak dimana mereka bisa bermain LEGO sepuasnya, LEGO Sculpture pameran patung-patung LEGO bernuansa alam, LEGO Americana Road Show adalah pameran gedung-gedung bersejarah di Amerika terbuat dari LEGO tentunya!

Saya tahunya acara ini ya dari majalah LEGO yang memang kita langganan. Seperti juga LEGO Sculpture, acara LEGO Americana ini berpindah dari satu negara bagian ke negara bagian lain.

Nah, dari tanggal 3 Juli kemarin, hingga tanggal 19 Juli, kebetulan acara LEGO Americana ini diselenggarakan di kota Cincinnati (atau Cincy biasa orang Amrik sebutnya), yang lokasinya cuma 2 jam-an dari tempat kita tingga/

Karena baru tahu waktu saya ultah minggu lalu dan jadwal kerja saya dan suami tidak pas di hari biasa, kita baru bisa berangkat ya hari Minggu ini, 19 Juli 2015 – yang juga ultah suami saya.

LEGO Americana Road Show di Cincy, di adakan di pusat perbelanjaan Kenwood Towne Centre. Total ada 9 monumen bersejarah yang akan dipamerkan :

  1. Supreme Court
  2. White House
  3. Liberty Bell
  4. Lincoln Memorial
  5. Washington Monument
  6. Statue of Liberty
  7. Independence Hall
  8. Old North Church
  9. US Capitol Building

Kita sampai di lokasi jam 12, pengunjung mal sudah ramainya minta ampun! Berbekal kamera, kami sekeluarga jadilah ‘bergerilya’ dari satu monumen ke monumen lain. Selain monumen-monumen bersejarah, juga ada beberapa struktur bebas yang kadang isinya kocak-kocak. Contohnya ada struktur seperti monumen Mount Rushmore, tapi digabungkan dengan Cloud Koo Koo land!

Memang kalau melihat video-video di situs LEGO, artis-artis pembuat LEGO suka nyeleneh dalam membuat bagan.

Yuk, belajar sejarah Amerika dari LEGO!

]