Masih topik yang sama dan masih ada sangkut pautnya dengan tulisan saya sebelumnya,
Hijrah ke Amrik berati juga…..
Kemungkinan besar kita akan kehilangan momen2 penting di keluarga besar di Indonesia, dari mulai perkawinan, kelahiran anak dan kematian.
Lagi2 ya, ini salah satu dari sekian banyak hal yang saya tidak pikirkan.
Buat saya yang kenyataan paling memilukan gak bisa pulang saat itu juga adalah saat kematian orang tua.
Tahun 2010, Ibu saya kena stroke saya cuma bisa manyun, jangankan mudik, saat itu pasangan saya baru mulai kerja kembali setelah setahun tidak bekerja.
2014, Bapak meninggal, saya terima kabar pas lagi kerja, sepupu saya di NY telpon buat kasih tahu. Nangis lah saya di tempat. Pulang ke apartmen, lagi2 saya cuma bisa nangis di kamar.
2019, ibu meninggal, saya cuma bisa doakan dari jauh.
Bukan cuma masalah gak bisa menghantar almarhum ke tempat peristirahatan terakhir yang bikin pahit, pilu dan pedih, siap2 juga diomongin sama keluarga besar.
‘Dasar anak gak tahu diri, masa orang tua sakit gak bisa ditengok?
‘Sudah lupa sama keluarga/budaya ya? Masa segitu gak ada duitnya ?? ‘
‘Memang suaminya kerja apa sih?’
Yang nyebelinnya lagi , yang berisik itu orang2 berada loh..yang bisa jalan2 keluar negeri cuma buat ikutan lomba lari, nengokin anaknya yang sekolah/tinggal di luar negeri.
Saya gak bilang kondisi itu berlaku buat semua imigran Indo di luar negeri loh ya. Seperti yang saya bilang di tulisan saya sebelumnya, banyak juga orang2 Indo yang gak ada masalah buat angkat koper saat itu juga saat ada musibah di kampung halaman, ada hajatan atau sekedar berlebaran/bernatalan atau merayakan hari besar lainnya dengan keluarga besar di Indo.
Saya salah satu contoh yang gak bisa.
Realita berikutnya
Kita benar2 hidup sendiri tanpa keluarga.
Maksudnya? Gak semua punya pasangan yang punya keluarga besar misalnya. Tidak ada mertua, atau kakak/adik ipar.
Kita benar2 nikah dengan si bule tanpa ada keluarga tambahan lainnya
Ini berat juga loh. Apalagi kalau kita pas di Indo biasa dikelilingi dengan sepupu, Oom, tante segambreng.
Beratnya dimana gitu?
Contoh. Buat pasangan yang memilih untuk mempunyai anak, siap2 pas melahirkan kamu gak ada yang nolong. Gak semua pasangan bersifat kebapakan, banyak juga yang cuek atau gak ngerti mengurus anak.
Atau saat pasangan sakit dan harus masuk rumah sakit atau kena musibah lain padahal anak masih kecil dan kita tidak bekerja. Artinya kehilangan penghasilan.
Saya baru ngeh kalau orang-orang bule lokal pun bisa dibilang lebih beruntung. “I am moving in with my mom_sister/brother..
Ada tempat untuk menampung saat “jatuh” itu ternyata privileged banget.
Dan gak bohong waktu saya sadar kalau saya gak punya siapa2, ya pedihlah.
Mudah2an setelah baca tulisan realita seperti ini, orang2 gak comel lagi ya bisa lebih empati.

