gaya hidup

Murah? Mahal? Patokannya apa dong? Belanjaan sehari-hari

Minggu-minggu pertama Saya tiba di Amerika, pola pikiran Saya masih selalu ke rupiah. Semua harga-harga barang dalam dolar yang Saya lihat masih selalu Saya konversikan ke rupiah. Yang ada…..Saya ngeri untuk belanja!! karena semua Saya anggap terlalu mahal. (atau mungkin Saya tergolong miskin ya? ha…ha..ha..mungkin juga sih…..ha…ha…ha..)

Setelah beradaptasi dan wara wiri dari satu toko ke toko lain, akhirnya Saya mulai terbiasa dengan harga dolar dan bisa ‘menganalisa’ apakah harga barang ybs murah atau mahal (menurut patokan Saya loh ya!!)

Ini Saya coba bagi dengan teman-teman.

Toko supermarket berantai secara umum harga barang-barangnya akan lebih mahal dibanding toko supermarket lokal. Tapi sayangnya tidak semua kota ada toko supermarket lokal. Ini tidak berlaku untuk Walmart ya, yang memang dikenal sebagai toko murah.

Contohnya : Di Bozeman, Montana, harga barang-barang di Albertsons notabene lebih mahal dibanding di toko Town & Country karena Town & Country supermarket lokal. Lebih mahal disini artinya beda harga bisa sampai $1.00 lebih.

Di toko-toko berantai skala besar (Albertsons, Kroger, Giant, Walmart, Safeway, Marc) kadang teman-teman bisa temukan seksi ‘Manager’s Special‘ atau reduced dimana harga daging atau sayuran atau buah-buahan dijual dengan harga lebih murah. Alasannya barang-barang tersebut sudah hampir kadaluwarsa atau jadi hati-hati kalau memutuskan untuk membeli barang dari bagian tsb. Hanya beli barang kalau memang kalian akan memasaknya langsung.

Jangan lupa tengok toko-toko seperti Big Lots! untuk bahan-bahan makanan kering (dried goods), harganya cukup bersaing. Saya pernah ketemu nasi instan di toko ini cuma $0.50 sementara di toko lainnya bisa $1.00++.

O iya, ada bumbu-bumbu tertentu seperti bawang merah dan jahe, yang Saya paling ogah beli di toko-toko tersebut diatas kecuali di toko Asia (asia tenggara maupun asia selatan alias India) karena harganya sangat jauuuuuuuuuh lebih murah. (Harga jahe $1.49 per  lbs di toko asia, di supermarket berantai $2.99 per lbs…beda jauh kan??!!)

Terus terang Saya malas belanja di Walmart, karena antrian di kasir selalu panjang dan rasanya tidak pernah ada cukup pegawai yang bekerja, tapi secara umum memang harga barang-barang sehari-hari di Walmart lebih murah dibanding toko-toko supermarket berantai lainnya. Selain Walmart, beberapa lokasi Target juga menjual bahan-bahan makanan, terutama jika sebutannya ‘Super Target‘. Harga barang-barang di Walmart vs Target itu beti alias beda tipis – 2 sen lebih murah di Walmart, kecuali kalau di Target sedang ada promosi.

Harga daging disini rata-rata $7.99-$12.99 per lbs, biasanya potongan daging tertentu seperti shank, tail, roundtip lebih murah dibanding T-bone atau Rib Eye. Daging yang sudah dipotong-potong harga per lbs akan lebih mahal dibanding daging utuh. Semua tergantung mau di apakan si daging.

Kalau mau merebus daging dalam waktu lama, Saya pilih potongan shank, karena tho si daging akan jadi empuk dalam proses pemasakan dan empuk dalam kantong juga! 😉

Untuk daging ayam, harga termurah yang pernah Saya temui cuma di Costco, yaitu $0.99 per lbs. Di toko-toko umum, harga si ayam berkisar antara $1.49-$2.00++.

Kalau kantong lagi super cekak, bisa pilih ampela, karena notabene harganya lebih murah dan kita sebagai orang Indonesia punya banyak cara untuk mengolah ampla jadi makanan enak tho?!

Salah Kaprah tentang Amerika : Mandiri? Karir nomor 1?

Sewaktu Saya tinggal di Jakarta, Indonesia, pandangan Saya tuh tentang (orang) Amerika serba keren, pendidikan tinggi, gaya, karir tinggi, berpikiran luas, mandiri, petualang, mobilitas mudah, keluarga kecil, pokoknya oke lah.

Saya sendiri terbiasa dengan teman-teman di sekeliling Saya di Jakarta, ya rata-rata berpendidikan S1 bahkan meneruskan sekolah hingga S2, sibuk berkarir, lajang hingga umur 30 tahun adalah hal yang lazim. Ayah dan Ibu Saya kedua-duanya sarjana farmasi dan bekerja penuh waktu sejak kami kecil.

Terbiasa melihat Ibu-ibu rekan kerja yang kembali dari cuti hamil 3 bulan dan bekerja seperti biasa karena sudah ada ‘suster’.

Sampai di Amerika, Saya tinggal di kota cilik, tahun-tahun pertama Saya belum ‘ngeh’ dengan kesalahpahaman Saya, karena saat itu Saya murni ibu RT, jadi tidak banyak berteman dengan bule-bule lokal, sebagian teman-teman Saya adalah ibu-ibu RT dari berbagai negara di dunia.

Baru di tahun 2007 setelah Saya bekerja di department store di mal lambat laun Saya mulai berteman dengan bule-bule lokal.

Dari situlah Saya baru menyadari bahwa pandangan Saya tentang orang Amerika sungguh banyak ‘salah’nya.

Sebagian besar kenalan bule Saya hanya berpendidikan SMA dan mereka tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Mereka sudah terbiasa bekerja ‘serabutan’ dari umur 14 tahunan.

Hamil di usia muda adalah sangat biasa – dengan suami atau tanpa suami, dengan pekerjaan atau tanpa pekerjaan.

Berpandangan luas?

Sebagian besar dari mereka tidak pernah mendengar kata Indonesia, Islam, Ramadan.

Ada yang tanya ‘Di Indonesia itu ada penjara gak?’ Asli Saya bengong waktu ditanya seperti itu…..Ha…ha…ha…

Sebagian besar dari kenalan tidak pernah pergi keluar negara Amerika, jangankan ke luar negeri, banyak dari bule-bule ini tidak pernah keluar dari propinsi tempat mereka tinggal sepanjang hidupnya!

Hadweh??!
Anak sedikit? haiyaaaaaaaa…….salah besar pandangan Saya tentang hal ini!! Terus terang Saya takjub waktu pertama kali melihat ibu bule bersama 5 anaknya di supermarket setempat.

Dan meskipun orang-orang Amerika tidak tinggal dengan orang tua mereka seperti orang-orang Indonesia, tapi banyak dari mereka yang tetap mengandalkan bantuan orang tua / mertua atau kakek-nenek untuk menjaga anak-anak mereka.

Banyak dari mereka yang ‘tidak bisa (atau tidak mau) tinggal berjauhan dengan orang tua’. Contohnya kenalan di tempat kerja. Dia (perempuan) sudah menjadi bos salah satu bidang di institusi keuangan tempat Saya kerja. Tapi toh dia sempat bilang kalau ‘tidak mungkin dia pindah jauh-jauh dari orang tua/mertuanya’.

(Dalam hati Saya bilang ‘eh..ternyata Saya pemberani sekali ya??!! beribu-ribu mil jauh dari orang tua!)

Ibu-ibu Amerika banyak juga yang memilih menjadi ibu Rumah Tangga penuh dan tidak bekerja sama sekali.

Kota kecil di Amerika sama halnya dengan kota kecil di Indonesia. Tingkat pendidikan rendah, tingkat penghasilan rendah, anggota keluarga tinggi (alias banyak anak!!!).

Amerika seperti halnya Indonesia tidak semata-mata lebih super di segala bidang.

Tidak semua serba ‘wah’ dan canggih.

Seperti yang orang tua Saya ajarkan :

Contohlah yang baik, tinggalkan yang buruk….

 

 

Contohlah Amerika dalam hal : tidak ada pembatasan umur (dan beberapa hal lainnya) dalam bekerja (dan mencari pekerjaan)

Ingat tidak waktu di Indonesia, kalau kita membuat CV, selau dicantumkan tanggal lahir, status pernikahan, jenis kelamin, agama dan mencantumkan foto yang paling keren.  Entah siapa yang memulai, tapi koq ya sebagian besar dari kita tahunya ya begitu.

Kalau membaca lowongan pekerjaan sudah biasa melihat iklan seperti ini

ImageImage

 

Apa yang salah gitu dalam iklan lowongan kerja di atas? Perasaan biasa-biasa saja deh, tidak ada yang aneh, atau melanggar aturan. 

Atau sewaktu kita diwawancara, tidak jarang ditanya “Sudah menikah?” atau “Ada rencana untuk menikah?” atau “Ada rencana untuk hamil”?

Jarang dari kita ada yang bingung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Nah, waktu Saya mulai mencari kerja di Amerika, tahun 2005, masih dong memakai versi Indonesia, wong cuma itu koq yang Saya tahu. Jadilah setelah Saya merangkai kata-kata di resume, Saya berikan ke suami untuk di cek.

Lalu dia bilang ‘Tidak perlu cantumkan tanggal lahir’

Aku “Heh? Masa sih? Yang benar? Apa HR tidak perlu tahu?’

Suami ‘Ya tidaklah, yang penting kamu mau kerja’

Lalu ditambahkan ‘Tidak perlu cantukam GPA’

Asli Saya BINGUNG! tapi ya terpaksa Saya nurut-nurut saja, secara waktu itu belum tahu apa-apa.

Lalu Saya bilang lagi “Harus buat foto ni buat di resume”

Jawab Suami ‘Tidak perlu foto, begini sudah cukup.”

Tambahlah bingung si Neng ini, cuma tidak bisa protes, karena kan memang Saya tidak tahu tho bagaimana mencari kerja di Amerika.

Bermodal kertas dua halaman, tanpa umur, foto Saya beranikan kirim surat lamaran, waktu itu Alhamdulillah Saya dapat pekerjaan.

Dari tempat kerja, mulailah Saya membaca aturan-aturan perburuhan disini, salah satunya yang paling TOP dalam artinya dijunjung tinggi adalah: Equal Employment Opportunity atau terjemahan bebasnya Persamaan Kesempatan Bekerja yang intinya perusahaan DILARANG mendiskriminasikan calon pekerja berdasarkan 12 hal dibawah ini:

  1. Umur – nah loh
  2. Kondisi fisik
  3. Kehamilan
  4. Agama
  5. Jenis Kelamin – dan seterusnya (duh baca di linknya deh)

Yang terus terang setelah Saya pikir-pikir Saya setuju sekali dengan aturan ini.

Coba saja dipikir-pikir, kalau Amerika menerapkan sistem seperti di Indonesia, bagaimana dong nasib Saya dalam mencari pekerjaan? Umur sudah kepala 4, semua lowongan menetapkan maksimal umur 30 tahun. Pedih kan?

Meskipun dalam kenyataannya, pekerja muda secara umum punya energi lebih banyak, tapi bukan berarti itu harus jadi hambatan bagi pekerja yang sudah tidak muda lagi kan?

Intinya begini, kalau seorang individu, berapapun umurnya, agamanya, jenis kelaminnya, statusnya, kalau memang individu tersebut merasa masih mampu bekerja dan bersaing dengan yang lain, ya kenapa tidak?

Kalau mau coba kita telaah iklan lowongan diatas, lihat yang pertama dulu deh :

Baris pertama : Pria, maksimal 27 tahun

-> kenapa harus pria gitu? apakah menurut perusahaan ybs tidak ada perempuan yang sanggup menjalankan pekerjaan ini?

-> maksimal 27 tahun? apa yang salah dengan umur 28 tahun? 35 tahun? 40 tahun? apa berarti si ybs dianggap sudah terlalu uzur?

Baris ketiga : IPK minimal 2.75

-> meskipun bisa dimengerti – yah kalau IPnya dibawah 2, artinya kurang pintar dong? – tapi kita tidak berhak untuk menilai, si individu dianggap harus jujur dalam menilai kemampuan sendiri

Iklan kedua? wah kacau…ibaratnya kalau si pengiklan itu berdomisili di Amerika, ybs sudah dituntut banyak orang deh karena iklan yang dipasang, karena dianggap mendiskriminasikan !

tinggi badan? memang kalau pendek tidak bisa bekerja ya? kasihan amat??!

belum menikah? kalau hidup bersama boleh dong? atau apa karena sudah menikah jadi tidak boleh kerja gitu?

Lucu juga kalau dipikir-pikir, Saya sendiri tidak menyangka kalau pola berpikir Saya menjadi berubah setelah tinggal di Amerika, tapi dalam hal ini Saya koq cenderung pilih versi Amrik ya…..