Halo -halo!
Waduh sudah lama sekali ya tidak menulis di sini. Maklum sok sibuk …ha..ha..ha..
Yuk mari menulis lagi.
Mumpung masih bulan Januari 2020 , saya mau buka tulisan pertama di tahun 2020 kilas balik tahun 2019 tentang hal-hal yang saya pertama kali lakoni….
Coba kita lihat, apa saja sih yang ‘pertama kalinya’ di tahun 2019?.
Di tahun 2019 saya mulai bergabung dengan klub sehat dimana saya usahakan ikutan kelas olah raga, baik itu yoga, barre, atau senam di air. Tujuannya ?Kekinian?? Tidak juga sik..yang jelas ya biar badan tetap aktif saja sih, habis kerjaan saya sehari-hari ya nangkring di depan komputer 7-8 jam an…perasaan gak sehat saja gitu. Dan juga biar otak di ‘paksa’ buat melakoni hal-hal baru. Apalagi kan hari gini jaman perawatan diri ya? self care istilahnya.
Tahun 2019 pertama kalinya saya mengunjungi negara bagian Alabama (AL), Missisippi (MS), Louisiana (LA), Georgia (GA) dan New York (NY). Total saya sudah kunjungi 35 negara-negara bagian di US , jadi masih ada 15 negara bagian lagi! Asikk..mudah-mudahan kalau saya sempat saya ceritakan juga hari-hari saya di 4 negara bagian baru tersebut ya.
Tahun 2019, pertama kalinya sejak saya hijrah ke Amrik tahun 2005, saya di kunjungi teman sebangku saya di SMA. Kami ketemuan di New York, ini boleh di bilang perjalanan solo saya pertama tanpa keluarga. Asik juga ternyata…
Tahun 2019 saya pertama kali ikutan kelas belajar bikin coklat,belajar melukits dan dilukis, belajar merawat kaktus, nonton komedi JoKoy, mencoba pengalaman Escape’ dan mendonorkan darah, nonton stripper laki-laki, icip2 minuman anggur di tempat pembuatan anggur lokal
Pelisir ke Dayton, Ohio, naik gondola di Indianapolis, Indiana,menginap dan ikutan main di luncuran air di Great Wolf Lodge, di Mason, Ohio, nyobain rel kereta inclined di Chatanooga, Tennesse
Tahun 2019, saya pertama kalinya menang door prize di tempat kerja…lumayan dapat Roomba….
Di tahun 2019, saya kehilangan ibu saya……. saya resmi yatim piatu………..
Sudah, segitu saja seperti nya ‘pengalaman pertama kali’ di tahun 2019.
Mudah-mudahan di tahun 2020, ada banyak lagi pengalaman pertama kali yang saya bisa lakukan ya!
Sampai ketemu lagi!
Sementara saya sendiri tidak pernah ditanya apa kabar saya, bagaimana hidup saya disini, bagaimana anak saya.Saya bingung kenapa keharusan akan mengunjungi kerabat hanya dibebankan kepada saya? Apakah karena saya semata-mata yang tinggal di luar negeri? Padahal yang bertanya bukan orang miskin yang tinggal di gubuk 4×4, tapi banyak dari mereka yang paspornya juga sudah penuh dengan cap-cap negara-negara Eropa, Asia, Amerika.Kenapa mereka-mereka tidak pernah menawarkan mau mengunjungi saya di sini? Ngerti banget ya, saya kan cuma tinggal di kota Louisvillle, KY, bukan San Francisco, DC, Los Angeles, Seattle, Denver, Salt Lake City, Chicago, New York, Dallas, Orlando yang layak dikunjungi. #siapaelo #gakpentingMakanya memang saya ya pribadi tidak pernah minta dikunjungi , karena ya itu saya tahu diri dan untuk patokan saya , ongkos ke luar negeri itu besar secara saya sendiri tidak mampu dengan seenak jidatnya angkat koper, pesan tiket begitu saja – which , jangan salah ya, banyak koq teman-teman Indo di sini yang bisa seperti itu, karena mereka memang mampu, tapi bukan saya.Jangankan buat hura-hura, lari di Michigan Avenue di Chicago, untuk datang waktu ayah atau ibu meninggal saja saya cuma bisa gigit jari.
(dan nangis saat tahu- yang coba saya rekam di video ya, tapi buat apa juga,karena tidak ada yang bisa bantu saya kan, secara saya bukan orang beken, gak mungkin lah bikin video viral di IG nangis2 trus ada yang nawarin tiket pulang, itu mah dream comes true banget)Capek nangis sepagian, saya coba konsentrasi ke kerja.Lalu, bel apartemen saya bunyi.Siapa ya? Rasanya saya tidak mengharapkan tamu?“Halo”“Hi. Uber eats here?”“You must have wrong address, I did not order anything.”“This is 10*** apartment 303?”“Yes?”Bingung, saya turun ke bawah, buat kasih tahu si mbak Uber alamat yang benar….Pas sampai di bawah, mbak Uber kasih lihat saya orderannya….Astaga.Ternyata memang benar itu makanan untuk saya, kiriman teman saya di LA.Mbak Uber bilang “iya, ini kiriman teman kamu, dia bilang kamu lagi gak feeling well”Saya lagi-lagi nangis sesegukan, tapi kali ini karena saya terharu.Teman saya ini, Ida Ayu Yogeswary namanya, dia sama saya belum pernah ketemu muka sama sekali.Tapi entah gimana kita cocok saja, yang ada kita selalu cerita2 (more like saya selalu cerita-cerita), dia selalu kasih nasihat ke saya buat lihat sisi baik dari segala yang jelek-jelek yang saya hadapi.Dia pesankan saya makanan steak, komplit.
Dia sengaja pesankan makanan ini pas tahu saya nangis dan tahu saya sedang sedih dari kemarin.Saya lagi-lagi bingung, ada ya orang seperti Ary yang saudara bukan, pernah ketemu saja belum, tapi tidak sungkan-sungkan memberi saya dukungan moral. Bilang ke saya kalau ‘You are going to be OK’ atau sekedar bilang ‘You are not alone“Saya bersyukur sekali saya bukan cuma kenal dengan Ary seorang, ada banyak Ary-Ary lain yang sudah membantu saya survived selama tinggal di Amerika. Teman-teman yang bawakan makanan waktu saya sakit bronchitis dan pneumonia, teman-teman yang adakan pembacaan Quran setelah orang tua saya wafat, teman-teman yang bantu saya waktu pindahan ke OH tanpa pasangan saya, teman-teman yang mengundang saya makan Thanksgiving bareng-bareng , teman-teman yang mengajak saya mencoba hal-hal baru, teman-teman yang menghubungi saya lewat pesan FB sekedar untuk bilang ‘Day, are you OK?”, teman-teman yang mengajak saya ketemuan baik di Jakarta maupun di Amrik, teman-teman yang dengan senang hati menghadiahkan anak saya saat dia ulang tahun jauh dari rumah.Hari itu emosi dan energi saya terkuras habis. Tapi saya tetap harus kerja di 2 tempat, tetap harus jemput anak di sekolah, tetap harus jadi ibu.Waktu jemput anak saya, saya bilang ke dia kalau saya sedang sedih.Dia tanya “Why do you care of what she said Mom?. You know what she is saying is not true”Saya selesaikan tulisan ini di hari berikutnya. Saya putuskan fokus hidup saya adalah untuk mereka-mereka yang memberikan energi positif untuk saya. Hidup terlalu singkat untuk para penyinyir-penyinyir yang merasa paling benar sendiri.



















