jalan-jalan

Jalan-jalan ke Boston: Musium Tea Party

Boston boleh dibilang salah satu kota yang penuh dengan sejarahnya Amerika, selain Philadelphia dan DC.

Hari pertama tempat bersejarah yang kami kunjungi adalah Boston Tea Party Museum.

Saya beli tiket untuk tur online untuk jam 4 sore dan karena saya ambil tur trolley saya dapat potongan $6.

Kami ke lokasi pakai trolley hop on and off. O iya, lupa, saya ambil tiket troli untuk 2 hari, karena waktu saya lihat2, perhentian si troli ini boleh dibilang ya lokasi2 yang kami akan lewati, termasuk Tea Pary Museum ini.

Tempat stop si troli ini juga dekat banget sama hotel kami. Jadi gampang lah.

Dengan ikutan tur, pengunjung dijelaskan lah ya latar belakang istilah tea party.

Seru sik, saya jadi belajar juga tentang sejarah Amerika.

Awal masuk, setiap pengunjung dibkasih kartu “karakter” , nama orang2 yang terlibat di insiden pembuangan teh dari kapal.

Di utasan saya di IG di bawah teman2 bisa lihat prototype kapal, dan kotak2 teh yang di lempar ke laut (biasalah saya , maubikutan ngelempar juga, harap maklum ya pembaca🤭).

Di lokasi ada musium, ada tempat buat ngeteh dan ngemil. Di mana pengunjung bisa icip2 teh yang dibuang ke laut. Total ada 5 jenis teh yang dibuang ke laut pada saat peristiwa bersejarah itu.

Jalan-jalan ke Boston: Tentang Hotel

Setelah kebanyakan rencana mau pergi kemana pas ultah di bulan Juli, akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Boston, Massachusetts.

Selain karena MA adalah satu dari 15 negara bagian yang belum saya kunjungi, Boston boleh dibilang juga kota penuh sejarah.

Jadilah saya terbang ke Boston pakai Souhwest. Ambil pesawat paling pagi supaya punya waktu buat jalan-jalan di hari kedatangan.

Pas mendarat pemandangannya agak beda dibanding pas saya ke Houston atau pas ke New Orleans, kelihatan ruang air dari pesawat, gak melulu daratan. Jadi inget pas mendarat di Ngurah Rai , Bali.

Saya pilih menginap di hotel Hilton Park Plaza karena lokasinya yang strategis. Selain ada bis gratis dari airport ke halte yang cuma 1 blok, juga dekat ke stasiun kereta bawah tanah dan tempat-tempat wisata lainnya. (tinggal jalan kaki).

Konon hotel ini sudah beroperasi dari tahun 1927. Kamarnya memang kecil (kami pilih 2 tempat tidur)  tapi bersih dan nyaman. Kayaknya dirawat dengan baik ya.

Perjalanan menuju Boston, mulus, sesuai jadwal. Hal pertama yang kami lakukan, drop koper di hotel , karena kepagian belum bisa check in. Terus laper, kebetulan seberang hotel ada resto Logan Seafood. Kalau gak salah ada orang Indo komentar di Threads kalau ini ok tempatnya.

Ya sudah makan disitu, daripada pusing. Mereka ada menu maksi. Kami pilih calamari, lobster mac n cheese, crab rolls.

Kalau teman2 ke Boston, pasti akan sering lihat menu lobster deh, terutama lobster roll. Karena memang itu salah satu makanan umum di sini. Enak sik. Daging lobsternya gak pelit.

Pas lagi makan saya pas iseng nanya ngeliat ada minuman di bar. Eh malah dikasih gratis. Kebetulan memang kesukaan saya, sangria. Rejeki😉

Balik ke hotel buat check in. Dapat di lantai 11.  Pemandangan dari jendela kamar hotel lihat ruang terbuka. Lumayan oke lah.

Sama hotel saya dikasih satu voucher makan gratis karena saya bilang kalau trip ini trip ultah saya. Secara umum Hilton di lokasi ini kasih potongan $15/hari untuk tamu makan di resto mereka.

Si front desknya bilang. Kamu pilihnya makanan yang hearty ya buat treat yourself.

Saya nebus makanan gratis saya baru di hari kedua. Kebetulan anak saya bablas tidur, jadi saya makan sendiri. Saya pilih Steak Frites dan minuman purple rain. Asli enak sik.

Hari terakhir kami sarapan di hotel. Nah sistemnya itu bisa buffet $37/orang, atau pesan dari menu.

Buat teman2 yang gak makan 🐖, mending pesandari menu ya. Karena ada pilihan bukan 🐖 dan harganya lebih murah dari harga buffet.

Buffet nya lumayan lengkap sik. Ada 2 tipe sausage, 🐖 dan ayam kentang goreng, telur orak arik, roti dan teman2nya, buah2 an dan yang agak beda, ada  charcuterie.

Buah-buahannya ada semangka, cantelop, melon, nenas, stoberi, blackberry dan semuanya manis.

Yang saya gemes itu botol saus tomat, Tabasco dan jar2 selai roti..ya ampun imut!! Gemes!!

Catatan. Ini saya sudah kehabisan storage di WordPress, males deh kalau harus bayar lagi. Karena itu, saya taro foto2 di IG yang saya tautkan disini supaya teman2 tetap bisa lihat foto2

Edisi Ulang Tahun Emas : Chasing Waterfalls

Seperti janji saya di blog sebelumnya, saya mau cerita tradisi jalan2 saya ke tempat2 air terjun.

Air terjun Burgess

Jalan2 saya kali ini tidak selama jalan2 saya seperti tahun2 lalu, cukup 4 hari 3 malam saja.

Hari pertama buat perjalanan mobil menuju lokasi, 2 hari buat hiking , dari terakhir buat perjalanan pulang

Tujuan jalan2 kali ini adalah ke air terjun Burgess, air terjun Cummin dan air terjun Fall Creek, semuanya di Tennessee.

Idenya sudah dari dulu, saya tahu kalau negara bagian TN banyak lokasi2 air terjun. Saya sendiri sudah sering lah ke TN, kalau tidak salah ini ketiga kalinya.

Jadilah hari Jumat kita berangkat ke TN selesai kerja, lamanya perjalanan itu 3.5 jam. Saya pilih nginap di hotel Marriott di Cookeville karena boleh bawa anjing saya. Tahu sendiri dong, saya kan nempel banget sama anjing saya. Selain itu juga, lokasinya relatif dekat dengan lokasi2 air terjun yang mau saya datangi.

Kamarnya enak deh, komplit ada dapur kecil komplit dengan kompor, peralatan masak seperti panci, penggorengan, perabot makan, piring, cangkir, gelas, mangkok, mesin cuci piring dan kulkas ukuran normal. Kopi, teh, sabun cuci piring, lap dapur. Ada sofa tidur juga. Dan harga kamar itu termasuk sarapan, yang sarapannya juga saya bisa makan, karena kebetulan pas saya nginap, 2 pagi, mereka sajikan daging ayam turki.

Menurut saya oke banget ini hotel, dari segi harga, lokasi dan fasilitas. Anjing saya kena biaya $75 selama kita tinggal di hotel

Hari Sabtu, siap2 lah kita ke air terjun Burgess. Sengaja saya pilih ke lokasi ini, karena relatif dekat dan hiking kita gak jauh2 amat, cuma 1.2 mil bolak balik.

Trail lumayan gak terjal dan adem ya. Senangnya di sepanjang trail kita bisa dengar suara air dan berhenti di beberapa titik menarik, buat foto2 gituuu..

Air terjun Burgess ini, saya gak lihat kalau pengunjung bisa jalan sampai di dasar air terjun ya? Meskipun saya memang sempat lihat foto2 di internet, ada foto orang2 di kayak mendekati air terjun yang kedua. Tapi saat kita disana, saya gak lihat aksesnya.

Selesai dari Burgess, kita naik mobil lagi untuk ke lokasi air terjun berikutnya yaitu air terjun Cummin.

Naaah….air terjun Cummin , pengunjung bisa main air sepuasnya. Pada dasarnya air terjun Cummin ya kolam renang alam deh, atau di sini istilahnya swimming hole. Buat pengunjung bisa berenang di Cummin, pengunjung harus beli tiket. Bisa di beli lewat situs mereka.

Saya gak beli tiket di muka, soalnya gak tahu kapan kita bakal hiking disini, jadi pas kita sampai di lokasi, sempat keder juga karena ada kemungkinan kita gak bisa hiking karena tiket online sudah terjual habis.

Sampai di lokasi, ternyata pengunjung bisa beli tiket di tempat. Untungnya kita datang lumayan masih relatif pagi, jadi masih kebagian tiket.

Asikkk! Mulailah kita berjalan menuju air terjun. Alaaaamaaak…gila..medannya berbatuan, ya pada dasarnya pengunjung berjalan sepanjang dasar sungai lah. Yang ada ya sepatu pasti basah dan kurang teduh. Dan meskipun datar, kita kudu konsen karena ya itu, jalan di batu2 sungai dan sering harus nyeberang untuk cari jalan yang relatif lebih mudah.

Kalau nurutin kemauan saya, saya maunya kongkow lama2 nikmati air terjun, sampai basah kuyup juga gak apa2. Saya memang sengaja pakai atasan dan bawahan yang gampang kering dan baju dalam saya ya baju renang sebetulnya. Sepatu jelas2 sepatu yang gak masalah basah dan juga tipe cepat keringnya.

Cuma anjing saya dan teman saya sudah misuh2. Jadi…. anjing saya ini kolokannya sama saya amit2. Tadinya saya mau nyeberang sendiri, eh dia nangis2. Ya sudah jadilah saya menyeberang bareng si anjing…masalahnya dia itu…takut air!!!🤷‍♀️

Tapi ya itu, gak mau ditinggal saya. Yang ada saya harus lihat2 kondisi air , gak bisa pilih yang airnya semata kaki, karena buat anjing saya itu sudah kedalaman. Hadweeeuhhh….

Belum lagi pas sampai dekat air terjun, gak ada ceritanya dia mau dibawa basah2 an…🤣. Jadi ya sudahlah, saya kudu gendong dia dan gak bisa ngadem lama2….

Balik ke hotel, bersih2, kita cari makanan, terdamparlah kita di pusat kotanya Cookeville. Makan di tempat makan namanya Blue Pig. Saya pesan ayam panggang paha atas bawah. Enak juga sikk..apa karena saya lapar ya? Kik..kik..kik..

Selesai makan, kita juga jajan es krim dan mampir di toko2 di pusat kota. Lucu2 sik, kebanyakan ya jual baju2, aksesoris, ada toko macaroon juga cuma kita gak mampir.

Hari Minggu tanggal 9, kita pergi ke lokasi air terjun yang agak jauh dari hotel. Tujuan kita kali ini ke Fall Creek Falls State Park. Di lokasi ini, setahu saya pengunjung bisa lihat gak cuma satu air terjun dalam sekali jalan.

Sampai di lokasi, kita mampir di visitor center, ambil peta dan nanya sama petugasnya, trail mana yang paling efisien buat pengunjung.

Dari segi jarak sik trail nya gak seberapa jauh ya. Yang seru adalah disini ada jembatan gantung! Saya paling seneng menyeberangi jembatan gantung, meskipun goyang2 dan saya suka keder juga, tapi ser

Buat pengunjung yang gak kuat hiking, beberapa air terjun bisa di lihat dengan naik mobil. Di awal trail ada 2 air terjun sebelah2 an yang bisa dilihat tanpa harus hiking.

2 air terjun dari kejauhan, bisa di lihat tanpa hiking, cukup parkir dan jalan bentar ke overlook

Di belakang visitor center ada cascade yang lumayan oke, yang juga bisa diakses cukup mudah. Banyak anak tangga sik, tapi tidak bikin ngos2an banget

Ini di lokasi cascade belakang visitor center
Cascade

Air terjun Fall Creek sendiri ada di akhir trail, pengunjung bisa ke dasar air terjun, cuma kita ogah karena pas baca deskripsi trail terjal dan berbatuan. Dari segi volume air, gak terlalu banyak, tapi ini air terjun tertinggi di lokasi taman ini.

Fall Creek

Selesai dari trail ini kita jalan kendara sebentar untuk lihat2 bagian lain dari taman.

Ada satu lagi lokasi air terjun yang kita bisa lihat dari kejauhan dan ada jembatan gantung juga!

Dari hasil keliling2, ternyata state park ini lumayan komplit, ada kolam renang modern, tempat makan, perkemahan.

Selesai dari lokasi jembatan kedua, kita balik deh ke hotel.

Sampai lain kali lagi ya.

Xoxo

Cuplikan Foto2 Saya di air terjun

Jalan-Jalan : Ke French Lick, Indiana

Hadewhhhh…pandemi bikin saya “gatel” pengen keluar.  Masalah Covid-19, saya pribadi orangnya lebih relaks dibanding anak dan si bapak. Dalam arti, saya gak paranoid kalau ke tempat umum, tapi anak dan si bapak lebih milih buat gak ke tempat umum sebisa mungkin. Beberapa kali saya ajak pelisir, mereka berdua gak mau.

Saya kan ambil cuti akhir tahun, setelah maksa, akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan ke French Lick, Indiana dan nginap di West Baden Springs hotel.

Kami sebelumnya sudah sering mampir di hotel ini, tapi gak pernah nloginap. Dan kami jatuh cinta banget sama ini hotel ini. Jadi keputusan untuk menginap disini, boleh dibilang win-win lah.

Hotelnya hotel tua ya, tapi keren abis. Karena atriumnya itu atrium terbuka dengan kubah raksasa, yang pas jaman ini hotel dibangun, sekitar 1900, struktur seperti ini langka.

Atrium lobi hotel West Baden Springs

Yang bikin saya tambah senang, pas saya baca2 situs hotel, hotel ini ternyata pet friendly hotel. Jadi saya bisa bawa anjing saya !!

Kami berangkat hari Minggu, tanggal 27 Desember 2020.  sekitar jam 2 an. Perjalanan ke French Lick dari tempat tinggal kami itu kira2 1.5 hingga 2 jam an.

Sampai di lokasi, kami langsung bisa masuk kamar. Karena kami bawa anjing, kamar kami di lantai 2, yang memang khusus untuk tamu2 yang bawa binatang peliharaan mereka.

Jendela kamar kami dari lobi, itu anjingku lagi nyariin aku dari kamar

Dari hotel, anjing kami di beri mangkok air/makanan, treat dan kantong 💩.

Kunci kamar bergambar foto hotel

Hari ini, kami niatnya cuma leha2 dikamar dan nikmati alunan musik piano di lobi.

Senangnya dengerin alunan piano dan pergantian lampu di lobi

Untuk makan malam, kami makan di rumah makan, Ohana, pusat kota French Lick. Karena masih suasana Natal, baik di kota maupun di hotel banyak hiasan lampu2.

Pas balik, si anak laper lagi, jadilah kami pesan makanan dari room service, sup bawang dan coklat brownie.

Supnya enak, brownie nya juga enak, gak terlalu manis -saya makan tanpa frosting.

O iya, kamar kami menghadap ke atrium,  jadi kami bisa lihat atrium kapan saya, bahkan bisa nikmati alunan musik dari pemain piano di lobi.

Hari Senin, 28 Desember 2020

Setelah mandi, kami pesan makanan dari resto di lobi hotel. Karena kami bawa anjing, kami tidak bisa duduk makan di tempat yang disediakan resto, tapi bisa makan di tempat duduk yang tersebar di lobi.

Semalam kami putuskan, kalau hari ini kami akan lihat stables di belakang hotel dan akan hiking ke Hemlock Cliffs.

Saya sebenarnya pengen banget horse back riding ya ($45 per orang. 45 menit), cuma anak saya gak mau..ya sudahlah..jadi kami cuma lihat2 kuda saja.

Sebelum ke lokasi hiking, kami sempatkan mampir ke French Lick Wine Distillery .  Karena gak niat2 amat, saya iseng wine tasting , saya pilih $4 buat icip 5 jenis minuman anggur.

Saya sudah pernah wine tasting sebelumnya, jadi agak2 ngeh gitu. Saya bilang kalau saya senangnya minuman anggur yang “manis”. Waktu dikasih daftar minumannya, si mbak kasih tahu mana kira2 yang saya suka.

Dari 30 jenis minuman anggur di daftar saya pilih: French Tickle, Pretty in Pink, French Lick Red, Blueberry dan Mon Cheri.

Tapi sama bartendernya, saya dikasih tambahan 2 :Moscato dan Tropical Frost.

Ternyata,  saya suka sama French Tickle , anggur dari jenis anggur Catawba dan berkarbon, alias fizzy dan Blueberry, anggur dengan rasa blueberry….

jadilah beli making satu botol. Mahal juga ih. Ya gpp lah, sekali setahun….

Hasil icip2 minuman anggur

Setelah icip2, kami menuju ke Hemlock Cliffs. Dari app All Trails, trail yang saya pilih ini dikategorikan cocok buat anak2, boleh bawa anjing, ada air terjun dan jaraknya cuma 1.2 mil.

Hasilnya?! Ini boleh dibilang salah satu trail favorit saya! Gak terlalu terjal, meskipun ada beberapa bagian trail  yang kami harus ekstra hati2 , biar gak jatuh, gak terlalu berbatu atau berlumpur. Banyak tebing2 unik yang kita bisa explorasi.

Selesai hiking, kami balik ke hotel.

Leha2 lagi di lobi sama anak saya…

Selasa, 29 Desember 2020.

Hari ini kami check out ya. Nah, saya pikir, masa sik, sudah nginap di hotel yang pet friendly yang bahkan ada menu makanan khusus buat si anjing, saya gak pesan? Jadilah saya pesan daging gulung ala Mosses (Mosses Meatloaf) untuk sarapan anjing saya di hari terakhir kami disini.

Anjingku makan dengan rakusnya

Setelah check out, kami mampir di indoor go karting. Sebelumnya kami sudah pernah main gokart di sini, dan anak saya selalu suka. Jadi ya mumpung disini, kami sempatkan main.

Selesai main go-kart, kami lanjutkan ke Wilsten drive thru safari . Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena mereka tidak memperbolehkan anjing selama di DT.

Nah..pas saya dan anjing saya nunggu si anak dan bapak ber DT, kami nongkrong depan kandang kanguru. Lucu banget sih kanguru ini, saya pikir.

Selfie sama kanguru dari luar kandang

Pas si anak dan bapak balik dari DT ria, saya bilang kalau saya mau ‘main’ dengan kanguru dan kasih makan jerapah.

Untuk main dengan kanguru, pengunjung cukup bayar $7.50. Di kandang kanguru, selain kanguru, ada Llama Hiram bernama Pacman, 2 rusa, satu laki namanya Guy dan satu cewek, Naomi. Dan ternyata si Guy ini asalnya dari Indonesia!

Si Guy ini anteng banget, gak keberatan di elus2. Kalau si Pacman jahil. Sementara kanguru2 yang bersliweran, ada satu, Sydney yang memang demen dielus2.

Jadilah saya selfie an dong sama Sydney dan Guy…

Buat kasih makan jerapah, pengunjung tinggal beli wortel $2. Saya tadinya gak yakin bakal bisa kasih makan si jerapah, habis saya berasa pendek banget. Tapi ternyata si jerapah bisa nyamperin wortel di tangan saya tanpa masalah…🤩

Setelah wortel ditangan habis, kami kembali ke Louisville, KY.

Meskipun singkat, kami cukup senang dengan pelisiran pendek kami kali ini.

Covid-19 jelas membuat banyak hal2 yang berubah ya. Contoh : kamar kami tidak di bersihkan setiap harinya. Kalau minta ganti handuk, sampo, sabun, botol air, tamu harus minta. Hotel hanya untuk tamu hotel (sebelum Covid-19, bukan tamu hotel boleh masuk). Pas masuk ke area hotel, temperatur kami dicek, nama kami di lihat di daftar kamar mereka, lalu kami diberikan gelang kertas untuk keluar masuk hotel. Gelang kertas ini harus diganti setiap harinya. Masker jelas harus dipakai selama tamu2 wara wiri di ruang umum. Masuk lift, disarankan satu grup. Ribet ya?

Memang sik..tapi kebanyakan tamu2 mentaati aturan koq. Jadi ya saya pribadi gak terlalu khawatir.

Teman2 ada yang pelisir saat Covid-19?

Bermesraan dengan Guy, rusa dari Indonesia

Hiking Di Musim Gugur

Sepertinya hiking di musim gugur, adalah keharusan deh buat saya. Karena selain udara sudah sejuk, pergantian warna dedaunan juga membuat pemandangan lebih apik.

Tahun lalu, keluarga kami pergi ke Red River Gorge, secara tahun ini ada si Covid19, kami tidak pergi menginap seperti tahun lalu, tapi saya yang sudah kena ‘cabin fever’ merengek-rengek minta hiking ke danau Nolin yang 1.5 jam sebelah selatan Louisville, KY.

Jadilah hari ini kami pergi ke danau Nolin. Sepanjang jalan, kami lihat pepohonan sudah ramai berwarna warni kuning, jingga dan merah keunguan.

Sampai di tujuan, di lokasi ada beberapa trail yang bisa dipilih. Kami ambil ‘waterfalls’ loop trail yang 1.9 mil.

Haduh seneng deh hiking di trail ini, sejuk, pohon2nya rindang dan lagi-lagi karena pas musim gugur, warna warni daun juga tambah bikin hiking kami asik banget. Meskipun tidak ada air terjunnya – karena di Kentucky, yang namanya air terjun itu sangat tergantung dengan hujan dan relatif voume air terjun disini kecil, dibanding air terjun di negara-negara bagian barat US- ini salah satu trail favorit saya.

Kalau saya boleh kasih saran ni, luangkan deh waktu untuk berada di alam. Selain udara segar, pemandangan yang cantik, tubuh diajak aktif, juga biar otak gak sumpek di rumah melulu!!

Saya sendiri awalnya bukan ‘anak alam’, ogah banget yang namanya jalan2 ke hutan. Tapi setelah pindah ke Amrik, diajak kemping, jalan-jalan di taman kota, hutan2 alam, saya lama2 hobi hiking dan bisa menikmati alam , sungai, lembah, pepohonan, meskipun tetap gak nolak diajak ke NY atau Chicago. 😉

Jalan-Jalan : Menelusuri Danau Michigan – bagian 2

Kalau baca dari Wikipedia, danau Michigan itu salah satu dari 5 danau besar di Amerika Utara.  Pantai danau Michigan terbentang dari barat ke timur di negara bagian Wisconsin, Illinois, Indiana dan Michigan.  Danau Michigan ini satu-satunya danau yang semuanya terletak di negara Amrik, 4 danau lainnya terbagi dengan negara lain (Kanada).

Kamu sempat mampir di pantai danau Michigan waktu masih di negara bagian Indiana, yaitu di Michigan City.

Di pantai sepanjang negara Michigan, banyak taman-taman propinsi (state park) yang pelancong bisa mampir. Tapi kami pilih untuk mampir di taman Silver Lake untuk ber dune-buggy!

Operator untuk dune buggy di lokasi Silver Lake ini namanya MacWood’s Dune Ride. Konon operator ini sudah beroperasi dari jaman bahela, dari jaman si babe, masih kecil! ha!

Kami sampai di lokasi MacWood’s sekitar jam 2 an, mereka tutup jam 4 dan hari Minggu nya adalah hari terakhir mereka beroperasi di tahun ini!

Cuaca saat kami di sana itu mendung dan sangat berangin, sempat cemas juga apakah si operator buka untuk umum atau tidak di hari itu, untungnya mereka masih buka meskipun angin bertiup lumayan heboh.

Untuk berkendara di padang pasir ini , saya rekomendasikan memakai kacamata hitam, celana panjang, bandana atau selendang, jaket ringan dan sepatu tipe kasa (mesh).

Setelah menunggu sekitar 20 menit, giliran kami naik si dune buggy!

IMG_20171007_142147-COLLAGE.jpg

si kecil pilih duduk dibagian paling belakang jip. Jip yang digunakan adalah jip merah terbuka degan kapasitas  5 baris tempat duduk untuk pengunjung lainnya termasuk supir.

PANO_20171007_145211.jpg

Wooohooo!! pengemudi buggy kami tidak sungkan-sungkan untuk ngebut dan ngepot! ha!!! seru!!! berhubung ngebut, saya cuma berani pegang telpon seluler, karena saya bawaannya pegangan bar takut jatuh!ha….ha….ha

Jip berhenti di beberapa tempat, di pemberhentian terakhir itu di tepi danau Silver, dimana kita bisa melihat danau di satu sisi dan bentangan pasir di sisi yang lain.

PANO_20171007_145532.jpg

 

Waktu kami berhenti itu, yang namanya angin bertiup kencang sekali!! saya yang pakai celana pendek harus menderita di terpa pasir yang cukup pedih juga rasanya pas kena kulit!!

Pemandangan Danau Silver dari Sisi Lautan Pasir

PANO_20171007_150118.jpg

tiff infomation

tiff infomation


Selendang dan kacamata super berguna untuk melindungi mata dan muka dari tiupan pasir!!

Perhentian di danau Silver ini adalah perhentian terakhir sebelum buggy kembali ke lokasi awal . Siap-siap tidak berpegangan ya karena akan ada turunan yang lumayan terjal di akhir perjalanan!

Turunan terakhir Yang Paling Berasa Anjolknya!

Yuhuuu! anjlok euy!

Seru?

Banget! Asik!

Cuma rasanya koq kurang lama ya ber dune buggy ria nya!??!! he…he….he

Tapi yang jelas, kalau pembaca ada yang berminat ke danau Michigan, berdune buggy ria itu kudu dilakoni lah!!! 😉

IMG_20171007_144521-COLLAGE.jpg

IMG_20171007_144501-COLLAGE.jpg

Jalan-Jalan : Air Terjun & Danau Cumberland

pano_20170219_104320

Minggu, 19 Februari 2017.

Sambil sarapan di rumah makan di hotel, kami lihat-lihat mau kemana lagi hari ini….Tadinya mau ke Cumberland Gap, tapi koq balik ke Louisvillenya jauh ya? 3 jam-an…ya sudah jadi diputuskan kami akan ke danau Cumberland saja setelah nengok air terjun Cumberland.

Resto di hotel ini sebetulnya saya kurang demen sama makanannya…tapi pemandangannya okeh banget…dan juga praktis saja sih..sarapan di hotel…ini pemandangan kami selama makan pagi :

tiff infomation

Selesai makan, kami mulai jalan ke air terjun. Jarak dari tempat menginap ke air terjun, tidak jauh, cuma 0.75 mil, total 1.5 mil bolak balik. Trailnya tidak sulit, cuma menuju ke air terjun jalan nya menurun, pas balik ke tempat parkir…banyak tanjakan deh..lumayan ngos-ngosan…he…he..he

Kami sudah pernah ke air terjun Cumberland sebelumnya, di akhir musim panas tahun 2012. Saat itu, kami mah niat liburan, dan memang kami tinggal lebih lama dan berkemping ria. Ini foto kami waktu pertama kali ke air terjun Cumberland.

cumberland12_collage

Air terjun Cumberland  ini air terjun terbesar di Kentucky, karena ukurannya, air terjun Cumberland diberi nama  Niagara of the South. Di tahun 2012, kami juga pergi ke lokasi air terjun lainnya di sekitar lokasi Cumberland, tapi baru kali ini kami menginap dan menggunakan trail dari hotel untuk ke air terjun.

Cuaca hari ini bagus banget, cerah dan tidak banyak angin… Tidak terlalu banyak pengunjung di lokasi air terjun, mungkin karena bukan musim turis ya. Lokasi air terjun juga banyak yang di tutup, sepertinya ada limpahan air besar sehingga pemerintah kudu memperbaiki ini dan itu di lokasi.

Untung juga kami sudah pernah kunjungi air terjun ini pas musim panas, karena lebih banyak yang bisa dilakoni, kalau berkunjung pas akhir musim dingin seperti sekarang, pengunjung cuma bisa lihat air terjun saja.

Dari lokasi ini, kami mampir ke danau Cumberland, lokasinya sekitar 1.5 jam ke arah barat.  Danau Cumberland seru buat mereka yang suka boating , karena ya luas dan ada marinanya. Di sini kami makan siang di tempat piknik – enaknya ya di taman-taman nasional di seantero Amrik, boleh dibilang selalu ada meja piknik, yang memang disediakan untuk pengunjung memasak sendiri untuk makan mereka tanpa harus mampir ke rumah makan yang harganya tidak murah.

pano_20170219_125906

Danau Cumberland dari teras hotel

Selesai melihat-lihat danau Cumberland dan bendungannya, balliklah kami ke Louisville, sampai jalan-jalan berikutnya ya!

Jalan-Jalan Akhir Pekan : Mengunjungi Pameran ‘The Art of The Brick’ di kota Cincinnati

 

Kota Cincinnati, Ohio dan Louisville, Kentucky itu ibarat Jakarta – Bogor/Bekasi/Tangerang kali ya…penduduk dari kedua kota bolak-balik berkunjung, karena lokasi yang relatif dekat, 1.5 jam dengan mobil.

Selain itu juga, di Cincy (singkatan Cincinnati) banyak acara-acara yang kota Louisville tidak selalu adakan. Dan juga karena skalanya yang sedikit lebih besar dengan Louisville, kota Cincy buat keluarga kami lebih banyak pilihan untuk wara wiri. Contohnya di Cincy ada toko Asia yang jual kerupuk ACI, di Louisville tidak ada…he…he….he, di Cincy ada toko Lego buat si kecil, toko hobi buat si misua dsb.

Contoh lain : musim dingin tahun 2015 misalnya, keluarga kami ngacir ke Cincy karena ada Festival of Lights di Kebon Binatang di Cincy.

Istilahnya lebih ‘happening’ gitu. 😉

Nah, hari Sabtu kemarin, kami lagi-lagi ngacir ke Cincy, kali ini untuk melihat pameran seniThe Art of The Brick oleh seniman Nathan Sawaya. Selain karena ini pameran seni terbuat dari LEGO yang notabene hobi si kecil dan saya, juga karena si kecil ada tugas dari Cubscoutnya untuk dapat ‘badge art‘ dengan mengunjungi pameran seni. Sekali dayung dua tiga pulau terlampau ibaratnya. 😉

Pameran ini sebetulnya sudah berlangsung cukup lama, dan memang saya sudah ingin mampir dari dulu-dulu, tapi tidak sempat saja. Waktu tahu si kecil ada tugas ini, saya pkir ya koq cocok ya…ditambah juga si pameran ini akan tutup hari Minggu tanggal 1 Mei 2016.

Saya pesan tiket online, untuk saya dan si kecil. Harga tiket itu $19.50 untuk dewasa dan $12.50 untuk anak-anak dibawah usia 12 tahun. Waktu beli tiket ada pilihan jam masuk, saya pilih jam 11:00 am. Lokasi pameran itu di Cincinnati Museum Center yang sebelumnya sudah pernah kami kunjungi di tahun 2012.

Kami tiba di lokasi telat euy! Jam 11:14am, jadilah kami harus ganti tiket ke jam berikutnya yaitu jam 11:30 am. Tadinya saya tidak ngerti kenapa gitu harus jam-jaman?  Selama ini saya beli tiket online dengan pilihan jam tertentu, tidak pernah ada masalah meskipun tidak datang tepat di jam yang ditentukan?

Ya sudah, setelah menunggu 10 menitan, saya dan si kecil turun ke lantai basement dimana pameran diadakan. Ada antrian pendek, tidak padat, syukurlah.

img_20160430_131524.jpg

Di 10 menit pertama ada pemandu tur yang menjelaskan aturan saat mengunjungi pameran, yaitu pengunjung dilarang menyentuh karya-karya yang dipajang! Setelah itu pengunjung mendengarkan video dari seniman selama 5-10 menit, menjelaskan secara singkat bagaimana cerita si seniman menjadi penyeni Lego. Kalimat penutup Nathan kalau tidak salah ‘it all started with this piece’ sambil dia memegang satu biji blok Lego merah di tangannya. Waktu layar tergulung, barang seni  pertama yang pengunjung lihat adalah tangan seseorang yang memegang satu Lego merah di jarinya…

DSCN3857

(catatan : bagian mendengarkan video inilah yang membuat aturan pengunjung masuk harus pada jam tertentu menjadi keharusan, karena pemutaran video hanya pada jam-jam tertentu)

Setelah mendengarkan video, ekshibisi pertama adalah lukisan-lukisan Lego. Dari mulai lukisan klasik seperti Monalisa, sampai lukisan primitif semuanya terbuat dari Lego. Beberapa dari lukisan Lego bahkan dibuat dengan model 3 dimensi (lukisan timbul) , keren habis lah pokoknya!

Ruangan selanjutnya berisikan pajangan-pajangan 3 dimensi. Ada patung Lego pasangan berciuman, buah apel, pensil, telepon, orang berenang, merenung dan dsb. Dari mulai barang-barang yang kita lihat sehari-hari sampai icon seni klasik seperti Sphinx, David, Nefertiti .

.Ruangan selanjutnya masih sama, patung-patung Lego dengan ragam ekspresi.

 

Ruangan selanjutnya di pameran ini adalah patung kerangka T-rex!! Untuk mengepak si T-rex ini dengan aman dari satu lokasi ke lokasi lainnya, si Trex di bagi menjadi 3 bagian.  Tidak terbayang deh repotnya!!DSCN3898

 

Ruangan yang paling menarik buat saya adalah ruangan dimana di tengah-tengah ruang terdapat beberapa buah benda Lego : baju merah, pohon tanpa daun, payung merah, anjing, rel kereta, awan-awan, sandal jepit biru, handuk merah tergantung. Sementara di dinding ada gambar/lukisan 2 dimensi dengan latar belakang yang berbeda-beda. Lelaki di depan rumahnya, perempuan dengan bajunya tertiup angin di depan toko, wanita di depan rumahnya dan lain sebagainya.

Nah, kalau pengunjung perhatikan dengan jeli, ternyata di lukisan-lukisan itu, ada beberapa benda diganti dengan Lego – yang bentuk 3 dimensinya ada di ruangan yang bersangkutan. Kreatif ya!!

 

Pajangan terakhir di pameran ini adalah 3 orang Lego yang memeluk batang pohon.

img_20160430_121307.jpg

Puas melihat benda-benda seni dari Lego, pengunjung (dengan anak-anak) bisa main Lego sepuasnya di Brickopolis. A tentunya paling senang di tempat ini. Dia sibuk membuat zona kontruksi lengkap dengan loader, backhoe, roller bahkan mengeja kata ‘Construction’ dengan Lego. Saya mah cukup membuat huruf Z, O untuk kata ‘Zone’….he….he….he
image
image

O iya..ada tempat buat selfie juga…saya dan A bergantian pakai muka Lego minifigs

Seru ya? Buat saya, saya memang senang pergi ke pameran yang berhubungan dengan Lego, maklum memang si kecil hobi sekali dengan Lego. Dengan pergi ke acara-acara seperti ini, saya mau si kecil bisa melihat apa yang bisa dia lakukan dengan Lego, mencari ide dan juga ya buat dia terus melatih kreativitasnya.

Ala Amerika : Cuci Mata di Toko Barang Bekas

Di Amrik yang namanya toko barang bekas (bukan baru) itu dimana-mana. Judulnya bisa toko antik, toko hemat(thrift), dikelola sendiri atau bagian dari chain : Goodwill, Salvation Army, Clothes Mentor, Plato Closet dll.

Dari sekian banyak tempat jual barang bekas pakai , di kota saya ada yang namanya Peddler Mall – kalau terjemahan bebasnya sih Mal Kelontong ya..tapi yang saya lihat di sini PM itu ibaratnya ‘garage sale‘ sepanjang tahun deh, karena barang-barang  yang dijual di PM rata-rata barang bekas pakai, meskipun ada PM yang penjajanya menjual makanan ringan.

PM penataannya mengingatkan saya dengan penataan Pasar Senen…he…he..he di mana ya ada lapak-lapak terbuka di sana sini, bedanya di PM ya tidak ada penjual di lapak, pengunjung tinggal ambil barang yang mereka tertarik untuk di bayar di kasir di  pintu masuk.

Di PM, kita ibarat menemukan ‘harta karun’ yang tidak disangka-sangka.

Hari ini karena hujan seharian, saya yang tadinya dijadwalkan untuk kerja di tempat kedua setelah pagi kerja di tempat pertama, ternyata boleh diliburkan. Nah lo? Kemana dong?

Jadilah kita iseng-iseng mampir ke PM setempat.

Saya pribadi bisa habis waktu berjam-jam cuma melihat-lihat ‘harta karun’ di PM, sementara suami biasanya cuma sekilas wae.

Di PM ini kamu bisa membeli furnitur dari mulai antik sampai relatif baru, peralatan olah raga, peralatan pertukangan, baju, benang-benang rajutan, perhiasan antik, mainan, buku, makanan ringan, kamera, mata uang, piring-piring makan, gelas-gelas, dekorasi rumah dan panjaaaaaaaang lagi lah daftarnya.

Harta karun yang hari ini kami temukan adalah jaket bulu imitasi seharga $10 yang kebetulan muat buat saya!  Saya memang sudah lama kepingin punya jaket bulu, cuma selalu cekikikan karena tergelitik bulu-bulu pas memakainya, jadi mau beli jaket bulu mahal koq sayang uangnya, karena ya bisa jadi tidak terpakai karena ‘kegelian’. Kalau $10 ya boleh lah…

IMG_20151128_174141

 

Si kecil menemukan lebih banyak lagi harta karun : sekantong plastik penuh dengan potongan-potongan acak Lego, mainan senjata Nerf, mobil-mobilan….ha! bisa bokek lah kalau nurutin kemauannya!

Saya juga terpekik kegirangan waktu ketemu lapak yang  menjual rok-rok ala Scottish! Karena jadi ingat waktu kecil, Tante saya membelikan saya oleh-oleh rok ini waktu beliau habis pulang liburan di Inggris. Nostalgia lah istilahnya. Sayang saya kegendutan, jadi tidak ada rok yang muat 😦 (namanya bukan rejeki kali yaaaaaa…)

Tapi itulah serunya menengok tempat-tempat seperti ini, kita seperti dibawa ke masa lalu karena kita menemukan barang-barang yang pernah kita miliki sebelumnya.

Ini beberapa foto dari PM yang saya ambil hari ini:

This slideshow requires JavaScript.

 

Jalan-Jalan : Melanjutkan Perjalanan Menyusuri KY Bourboun Trail

20151122_164422

Halagh!

Setelah nyasar di Jim Beam, saya ‘kecanduan’ ingin melihat tempat-tempat penyulingan lainnya di KY Bourbon Trail! Sekali lagi bukan kecanduan dengan bourbonnya, tapi saya penasaran dengan cara pemasaran mereka : dari sekian banyak tempat penyulingan di KY, bagaimana masing-masing merek membedakan diri mereka dengan pesaingnya? Itu yang lebih membuat rasa ingin tahu saya membuncah, kalau masalah rasa, blaaaaaaaaaaaahhhhh tetap saya tidak doyan. 😉

Minggu, tanggal 24 November 2015, saya loncat-loncat kegirangan karena matahari bersinar cerah dan suhu udara lumayan bersahabat.

Maklum, di Amerika, kalau sudah masuk bulan November itu artinya sudah harus bersiap-siap menghadapi suhu dingin bahkan salju. Setiap kali ada hari dimana udara lumayan hangat dan matahari bersinar, sebagian besar orang sini langsung memanfaatkan dengan pergi ke luar menikmati udara bagus sebisanya. Demikian juga saya.

Jadilah kami ngacir menuju lokasi Maker’s Mark. Saya pilih MM karena botol-botol MM itu ditutup dengan menggunakan lilin merah – yang saya ingat pernah saya lakoni waktu kerja di perusahaan Jepang tahun 1997 dimana bos saya mengelem amplop berisi dokumen penting dengan lilin merah – kesannya ‘keren’ dan aristrokat gitu…ha….ha….ha.

MM lokasinya di selatan kota Louisville, untuk menuju MM, kami melewati 2 tempat penyulingan lainnya : Jim Beam dan Four Roses – yang lokasinya di jalan utama. Saya pikir dong lokasi MM juga di jalan besar, ternyata salah besar. Untuk ke lokasi MM, kami masuk ke ‘pedesaan’ , istilahnya di tempat ‘jin buang anak’ atau out of nowhere gitu.

Seperti juga lokasi Jim Beam and Woodford Reserve, kampus MM juga apik dan asri (dan tidak bau!!)

Seperti halnya Jim Beam, di MM juga tersedia tur, di MM harga tiket untuk dewasa itu $9, anak-anak dibawah usia 21 tahun gratis.

Kampus MM relatif lebih kecil dibanding Woodford Reserve, tapi itu karena MM punya kampus lebih dari 1 lokasi. Tur kami kali ini , seorang wanita dan kita tidak dibekali radio, tapi cukup mendengarkan suara si pemandu tur.

MM konon menggunakan tipe gandum yang berbeda dengan merek lainnya, disamping itu seperti juga Woodford yang mempunyai produk ‘khas’ disamping produk utama mereka, MM punya Maker’s Mark 46, bourbon untuk produk ini menyerap tambahan kayu tertentu disamping tong kayu yang digunakan untuk produk utama. Warnanya menjadi lebih gelap dan konon rasanya lebih ‘dalam’.

Dibanding Woodford, tempat penyimpanan tong kayu MM lebih kecil dan juga di MM, tong-tong kayu ini diputar dengan tangan untuk menjamin ‘kematangan’ merata dari si borbon. (di Woodford mereka mengandalkan perubahan musim untuk pematangan borbon mereka)

Yang beda lagi, di MM, pengunjung dibolehkan menco’el jari mereka untuk mencicipi si borbon saat dalam proses fermentasi – dimana semua bahan-bahan setelah selesai ditumpuk, dituang ke tong kayu raksasa terbuka. Ewwwwwwww!!

Ruang icip-icip di MM juga terlihat lebih ‘mewah’, karena dindingnya kaca. Pengunjung mencicipi 4 jenis borbon : dari tipe pertama yang warnanya sangat terang (hampir bening) hingga tipe nomor 4 yang warnanya paling gelap.

Beda dengan kunjungan di Woodford dimana ada 2 ibu-ibu yang juga ‘memble’ setelah menegak borbon, disini cuma saya yang mukanya berkerut-kerut setelah mencicipi borbon, pengunjung lainnya sepertinya semua penggemar borbon, karena saya mendengar suara ‘aaaaaahhhhhh’ dari mereka.

O iya, kalau di Woodford coklat disediakan saat pencicipan, di MM, coklat bisa diambil setelah pencicipan. (Jelas, saya ambil sebanyak mungkin!! 😉

Setelah pencicipan, pengunjung masuk ke toko suvenir, dimana pengunjung bisa me’wax botol ataupun gelas pilihan mereka.

Saya tidak ‘ngeh’ kalau boleh memilih me-wax gelas, jadilah saya pilih borbon paling kecil untuk di lilinkan. (kalau boleh milih, saya mending ‘melilin’ gelas daripada botol borbon, karena lebih murah dan juga saya tidak tahu mau dikemanakan si borbon itu yak???)

Pengunjung harus memakai celemek, kacamata pengaman, sarung tangan dan sarung lengan sebelum masuk ke tempat waxing.(waxing bahasa Indonesianya apa ya????)

Proses waxing ini di MM sepenuhnya dilakukan dengan tangan – bukan mesin. Konon pemilik MM sempat berargumen untuk mengubah proses ini dengan menggunakan mesin, tapi sang istri berketetapan untuk melanjutkan tradisi dan dia menang. Jadilah hingga detik ini semua botol-botol MM di tutup dengan lilin merah yang tidak ada satupun yang sama.

Proses pelilinan dengan tangan ini lucunya membuat beberapa botol menjadi bahan koleksi – karena sifatnya yang unik. Ada beberapa botol yang ‘kebanyakan’ lilin hingga meleleh ke label – yang tidak seharusnya’- tapi oleh MM dibuat menjadi ‘one of a kind‘.  Semakin ‘ngawur’ lelehan si lilin, semakin ‘keren’ si botol jadinya. Ada-ada saja ya??

Di akhir tur, penunjung boleh berjalan kaki kembali ke gedung utama atau naik troli ke tempat parkir. Saya dan si kecil pilih naik troli, karena si kecil hobi naik troli!

20151122_163526

Jadi apa dong perbedaan antara satu penyulingan dengan yang lainnya?

  • Strategi pemasaran jelas memegang peranan penting dalam pembedaan masing-masing penyulingan
  • Jim Beam satu-satunya tempat penyulingan (diantara 2 lainnya : Woodford dan Maker’s Mark) yang punya tempat makan yang cukup mengenyangkan (bukan cuma makanan ringan)
  • Jim Beam dan Woodford menjual coklat, tapi tidak di MM
  • Jim Beam juga satu-satunya tempat penyulingan yang melakukan pencicipan dengan cara ‘dispenser’. Pencicipan di Jim Beam itu lucu, ada kira-kira 5 stasiun dispenser bourbon dengan berbagai rasa dimana pengunjung tinggal menggunakan kartu yang mereka dapat dari pembelian tiket untuk mencicipi borbon. Seperti dispenser soda di tempat makan cepat saji.
  • Cuma di MM pengunjung bisa melakoni pelilinan botol untuk dibeli.
  • Di MM yang saya senang itu di gedung pembelian tiket ada dinding bergambar menggunakan ubin-ubin kecil warna warni. Cantik sekali, jadilah saya ngeceng di dinding tersebut berkali-kali 😉

  • Juga di gedung terakhir sebelum masuk ke toko suvenir, di langit-langit mereka buat keramik warna-warni yang masing-masing warna melambangkan proses pembuatan borbon : merah -warna kayu, biru warna air, kuning warna saat peragian.

Puaskah saya jalan-jalan ke tempat penyulingan borbon?

You’ll never know! ;-))