Month: February 2014

Salah kaprah tentang Amerika : Buang sampah sembarangan masih nyata disini

Beberapa teman-teman di Indonesia selalu beranggapan negara Amerika itu negara yang maju, tertib, dan ‘lebih’ dalam segala hal.

Ada benarnya, ada tidak benarnya.

Contoh : Masalah buang sampah sembarangan.

Di Amerika super bersih?

Nah!!

Contoh : ini foto popok bekas yang dibuang begitu saja di perparkiran tempat Saya kerja. Gimana ya orang tua yang enaknya membuang popok ini? Jijik?

Image

Lah ya iyalah, siapa juga yang tidak jijik dengan kotoran manusia (meskipun kotoran bayi, namanya kotoran juga kan? Tapi bukan berarti boleh-boleh saja di buang di tempat umum tho?
Saya bisa ngomong begini, karena Saya juga pernah harus mengganti popok di tengah jalan, dikemanakan popok kotor itu? Ya Saya bungkus kantong plastik dan simpan di mobil sampai kita ketemu tempat sampah dong. Kalau Saya saja jijik dengan kotoran anak sendiri bagaimana dengan orang lain?

Sama seperti negara-negara lainnya, Amerika punya masalah dengan orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya.

Membuang sampah pada tempatnya itu tergantung didikan keluarga dimana kita dibesarkan. Didik deh anak dari usia balita untuk membuang sampa pada tempatnya.

Tidak susah koq, dan jadilah contoh buat anak-anak kita, sebagai orang dewasa juga jangan buang sampah sembarangan dong..mau di Indonesia, mau di Amerika!

Si cantik putih salju

Salju memang cantik dan anggun (dan tidak jarang berbahaya)

Setelah salju turun, alam seakan berubah jiwanya. Hening dan dingin.

Sejauh mata memandang, alam sekitar terlihat putih tanpa batas.

Hari ini Saya libur total, alias tidak kerja di kedua tempat.  Jadilah kita melanglang tidak juntrungan di daerah yang kita belum pernah kunjungi.

Tidak sengaja kita ketemu jalan berliku dengan pemandangan cantik, meskipun dahan-dahan pohon masih gundul, sisa-sisa salju minggu lalu masih lekat menyelimuti dahan-dahan tersebut. Saya tidak bosan-bosannya menjepret sana sini ingin menangkap keheningan si pohon-pohon berselimut salju.

Di tengah perjalanan, Kami juga melewati aliran air mengalir dari tebing yang membeku. Di musim panas, aliran air seperti ini mungkin tidak menarik, atau malah tidak ada sama sekali. Tapi di musim dingin seperti ini, aliran air yang membeku menjadi tontonan yang cukup menakjubkan buat keluarga kami.

Meskipun bukan air terjun asli, tapi cukuplah membuat Saya, yang hobi melihat air terjun gembira melihatnya. Karena terakhir Saya melihat air terjun membeku itu di tahun 2010. Dan untuk ukuran Kentucky yang minim air terjun, apa yang Saya lihat hari ini, lumayan menghapus rindu akan air terjun.

Yuk kita lihat foto-foto yang Saya ambil hari ini…

SatFeb15-002SatFeb152

DSCN2435DSCN2420

Es dimana-mana

DSCN2279

Baru musim dingin tahun ini Saya merasakan sekali dampak salju dan es di kehidupan sehari-hari. Sekolah anak sudah total 10 hari terpaksa diliburkan karena badai salju.

Sewaktu Kami tinggal di negara bagian Montana,yang namanya salju itu sudah biasa, dan bisa berhari-hari kita kena badai salju. Salju setinggi lutut boleh dibilang makanan sehari-hari saat musim dingin. Secara geografis Montana memang lebih tinggi dan lebih di utara lokasinya. Tapi sekolah tidak pernah diliburkan, malahan anak-anak tetap di haruskan bermain di halaman yang bersalju.

Nah di negara bagian Kentucky ini masalahnya bukan di jumlah salju yang turun yang membuat hati ketar ketir, tapi bahaya licin karena es yang membuat kondisi disini lebih riskan.

Jadi meskipun kelihatannya badai salju tidak seberapa besar, tapi karena kelembaban tinggi, salju basah tersebut segera berubah menjadi es dalam sekejap saja.

Contohnya hari ini, hari Rabu tanggal 2 Februari 2014. Lagi-lagi sekolah diliburkan. Tadinya Saya bingung juga, kenapa gitu libur, lihat dari jendela kondisi di luar tampak biasa-biasa saja.

Suami suruh Saya keluar supaya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lingkungan yang membeku menjadi es.

Jadilah malam ini Saya kelayapan keluar apartemen…astaga! benar juga kata Suami, pohon-pohon gundul sekarang berubaha  menjadi pohon-pohon es!

Dan sewaktu Saya berjalan diatas salju, terdengar suara ‘kriuk-kriuk’, bukan karena sambil makan kerupuk, tapi karena Saya menginjak es!!

Image

Image

Murah? Mahal? Patokannya apa dong? Belanjaan sehari-hari

Minggu-minggu pertama Saya tiba di Amerika, pola pikiran Saya masih selalu ke rupiah. Semua harga-harga barang dalam dolar yang Saya lihat masih selalu Saya konversikan ke rupiah. Yang ada…..Saya ngeri untuk belanja!! karena semua Saya anggap terlalu mahal. (atau mungkin Saya tergolong miskin ya? ha…ha..ha..mungkin juga sih…..ha…ha…ha..)

Setelah beradaptasi dan wara wiri dari satu toko ke toko lain, akhirnya Saya mulai terbiasa dengan harga dolar dan bisa ‘menganalisa’ apakah harga barang ybs murah atau mahal (menurut patokan Saya loh ya!!)

Ini Saya coba bagi dengan teman-teman.

Toko supermarket berantai secara umum harga barang-barangnya akan lebih mahal dibanding toko supermarket lokal. Tapi sayangnya tidak semua kota ada toko supermarket lokal. Ini tidak berlaku untuk Walmart ya, yang memang dikenal sebagai toko murah.

Contohnya : Di Bozeman, Montana, harga barang-barang di Albertsons notabene lebih mahal dibanding di toko Town & Country karena Town & Country supermarket lokal. Lebih mahal disini artinya beda harga bisa sampai $1.00 lebih.

Di toko-toko berantai skala besar (Albertsons, Kroger, Giant, Walmart, Safeway, Marc) kadang teman-teman bisa temukan seksi ‘Manager’s Special‘ atau reduced dimana harga daging atau sayuran atau buah-buahan dijual dengan harga lebih murah. Alasannya barang-barang tersebut sudah hampir kadaluwarsa atau jadi hati-hati kalau memutuskan untuk membeli barang dari bagian tsb. Hanya beli barang kalau memang kalian akan memasaknya langsung.

Jangan lupa tengok toko-toko seperti Big Lots! untuk bahan-bahan makanan kering (dried goods), harganya cukup bersaing. Saya pernah ketemu nasi instan di toko ini cuma $0.50 sementara di toko lainnya bisa $1.00++.

O iya, ada bumbu-bumbu tertentu seperti bawang merah dan jahe, yang Saya paling ogah beli di toko-toko tersebut diatas kecuali di toko Asia (asia tenggara maupun asia selatan alias India) karena harganya sangat jauuuuuuuuuh lebih murah. (Harga jahe $1.49 per  lbs di toko asia, di supermarket berantai $2.99 per lbs…beda jauh kan??!!)

Terus terang Saya malas belanja di Walmart, karena antrian di kasir selalu panjang dan rasanya tidak pernah ada cukup pegawai yang bekerja, tapi secara umum memang harga barang-barang sehari-hari di Walmart lebih murah dibanding toko-toko supermarket berantai lainnya. Selain Walmart, beberapa lokasi Target juga menjual bahan-bahan makanan, terutama jika sebutannya ‘Super Target‘. Harga barang-barang di Walmart vs Target itu beti alias beda tipis – 2 sen lebih murah di Walmart, kecuali kalau di Target sedang ada promosi.

Harga daging disini rata-rata $7.99-$12.99 per lbs, biasanya potongan daging tertentu seperti shank, tail, roundtip lebih murah dibanding T-bone atau Rib Eye. Daging yang sudah dipotong-potong harga per lbs akan lebih mahal dibanding daging utuh. Semua tergantung mau di apakan si daging.

Kalau mau merebus daging dalam waktu lama, Saya pilih potongan shank, karena tho si daging akan jadi empuk dalam proses pemasakan dan empuk dalam kantong juga! 😉

Untuk daging ayam, harga termurah yang pernah Saya temui cuma di Costco, yaitu $0.99 per lbs. Di toko-toko umum, harga si ayam berkisar antara $1.49-$2.00++.

Kalau kantong lagi super cekak, bisa pilih ampela, karena notabene harganya lebih murah dan kita sebagai orang Indonesia punya banyak cara untuk mengolah ampla jadi makanan enak tho?!

Contohlah Amerika dalam hal : sekolah kapan saja!

Kalau mendengar kata ‘sekolah’ (kuliah) maksudnya, yang ada di pikiran Saya itu ya setelah lulus SMA. Tidak ada kata ‘tunda’, tidak ada kata ‘nanti’. Memang seperti itulah yang orang tua Saya ajarkan.

Atau kalau memang senang menuntut ilmu ya silahkan dilanjutkan kuliah S2 bahkan S3, tapi selesaikan dulu program S1-nya.

Jadi ya Saya setelah lulus SMA, otomatis langsung masuk kuliah. Tidak ada yang aneh dengan pilihan Saya, biasa saja.

Berfikir kembali ke bangku kuliah setelah umur 30 tahun koq ya aneh yak? apalagi kuliah S1.

Di Amerika, yang namanya kuliah itu tidak terbatas usia. Bukan hal yang luar biasa melihat mahasiswa-mahasiswa disini usianya sangatlah beragam.

Budaya Amerika yang menganggap kalau anak sudah berusia 18 tahun-notabene setelah lulus SMA- maka dia dianggap bebas menentukan pilihan boleh dibilang salah satu alasan kenapa batasan usia tidak terlalu nyata di dunia kampus.

Ada bagusnya, ada jeleknya

Bagusnya ya orang-orang terbiasa kuliah kapan saja, tidak merasa terlalu tua untuk kuliah. Tidak ada yang memandang ‘aneh’ kepada mereka yang terlihat sudah agak ‘berumur’ tapi masih mau mendaftar untuk sekolah.

Terus terang Saya males untuk kuliah lagi, tapi koq pas disini, terus terang jadi berminat untuk kuliah lagi…karena ya itu budaya disini sangat memungkinkan kita untuk kuliah lagi tanpa takut akan umur!

 

Salah Kaprah tentang Amerika : Mandiri? Karir nomor 1?

Sewaktu Saya tinggal di Jakarta, Indonesia, pandangan Saya tuh tentang (orang) Amerika serba keren, pendidikan tinggi, gaya, karir tinggi, berpikiran luas, mandiri, petualang, mobilitas mudah, keluarga kecil, pokoknya oke lah.

Saya sendiri terbiasa dengan teman-teman di sekeliling Saya di Jakarta, ya rata-rata berpendidikan S1 bahkan meneruskan sekolah hingga S2, sibuk berkarir, lajang hingga umur 30 tahun adalah hal yang lazim. Ayah dan Ibu Saya kedua-duanya sarjana farmasi dan bekerja penuh waktu sejak kami kecil.

Terbiasa melihat Ibu-ibu rekan kerja yang kembali dari cuti hamil 3 bulan dan bekerja seperti biasa karena sudah ada ‘suster’.

Sampai di Amerika, Saya tinggal di kota cilik, tahun-tahun pertama Saya belum ‘ngeh’ dengan kesalahpahaman Saya, karena saat itu Saya murni ibu RT, jadi tidak banyak berteman dengan bule-bule lokal, sebagian teman-teman Saya adalah ibu-ibu RT dari berbagai negara di dunia.

Baru di tahun 2007 setelah Saya bekerja di department store di mal lambat laun Saya mulai berteman dengan bule-bule lokal.

Dari situlah Saya baru menyadari bahwa pandangan Saya tentang orang Amerika sungguh banyak ‘salah’nya.

Sebagian besar kenalan bule Saya hanya berpendidikan SMA dan mereka tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Mereka sudah terbiasa bekerja ‘serabutan’ dari umur 14 tahunan.

Hamil di usia muda adalah sangat biasa – dengan suami atau tanpa suami, dengan pekerjaan atau tanpa pekerjaan.

Berpandangan luas?

Sebagian besar dari mereka tidak pernah mendengar kata Indonesia, Islam, Ramadan.

Ada yang tanya ‘Di Indonesia itu ada penjara gak?’ Asli Saya bengong waktu ditanya seperti itu…..Ha…ha…ha…

Sebagian besar dari kenalan tidak pernah pergi keluar negara Amerika, jangankan ke luar negeri, banyak dari bule-bule ini tidak pernah keluar dari propinsi tempat mereka tinggal sepanjang hidupnya!

Hadweh??!
Anak sedikit? haiyaaaaaaaa…….salah besar pandangan Saya tentang hal ini!! Terus terang Saya takjub waktu pertama kali melihat ibu bule bersama 5 anaknya di supermarket setempat.

Dan meskipun orang-orang Amerika tidak tinggal dengan orang tua mereka seperti orang-orang Indonesia, tapi banyak dari mereka yang tetap mengandalkan bantuan orang tua / mertua atau kakek-nenek untuk menjaga anak-anak mereka.

Banyak dari mereka yang ‘tidak bisa (atau tidak mau) tinggal berjauhan dengan orang tua’. Contohnya kenalan di tempat kerja. Dia (perempuan) sudah menjadi bos salah satu bidang di institusi keuangan tempat Saya kerja. Tapi toh dia sempat bilang kalau ‘tidak mungkin dia pindah jauh-jauh dari orang tua/mertuanya’.

(Dalam hati Saya bilang ‘eh..ternyata Saya pemberani sekali ya??!! beribu-ribu mil jauh dari orang tua!)

Ibu-ibu Amerika banyak juga yang memilih menjadi ibu Rumah Tangga penuh dan tidak bekerja sama sekali.

Kota kecil di Amerika sama halnya dengan kota kecil di Indonesia. Tingkat pendidikan rendah, tingkat penghasilan rendah, anggota keluarga tinggi (alias banyak anak!!!).

Amerika seperti halnya Indonesia tidak semata-mata lebih super di segala bidang.

Tidak semua serba ‘wah’ dan canggih.

Seperti yang orang tua Saya ajarkan :

Contohlah yang baik, tinggalkan yang buruk….

 

 

Bumbu oh Bumbu, Dimanakah Engkau harus Aku cari?

Sudah menjadi kenyataan kalau perut melayu itu berbeda dengan perut Bule.  Meskipun sebagian besar dari kita yang tinggal di luar negeri ‘berhasil’ beradaptasi dengan makanan lokal (alias kentang, steak dan lain-lain), sebagian lagi dari kita masih terngiang-ngiang akan makanan Indonesia.

Nah kalau sudah begini, artinya harus cari bumbu-bumbu masak di Indonesia dong?!

Cara termudah ya belanja via online, tapi di tulisan ini Saya mau cerita mencari bumbu di toko-toko tradisional.

Susah-susah gampang mencari bumbu-bumbu dapur Indonesia. Ada beberapa bumbu yang lebih mudah didapat dibanding bumbu jenis lainnya.  Yang jelas harus tahu dulu nama bumbu dalam versi Inggrisnya. Referensi yang Saya pakai dari situ IndonesiaEats milik Ibu Pepy atau dari situ Resep Keluarga Nugraha.

Setelah tinggal di 3 kota, ini kesimpulan Saya tentang bumbu-bumbu yang tidak selalu mudah didapat.

– Gula Jawa/Coconut Sugar

– Lengkuas/Galangal

-Kencur /Kaempferia Galanga

-Margarin Blueband

Kalau teman-teman termasuk penggemar bumbu-bumbu diatas, lebih gampang kalau pesan lewat toko online deh.

Tapi kalau teman-teman baru sampai di Amrik dan pengen banget masak makanan Indonesia, coba cek toko-toko berikut :

Whole Food Market supermarket yang pasarnya ke konsumen sadar lingkungan dan kesehatan ini lumayan banyak ditemukan bumbu-bumbu ‘eksotis’ plus…tempe! Meskipun menurut Saya rasa tempe ala Amrik agak kurang ‘asli’ tapi lumayan lah untuk penawar rindu…

The World Market selain menjual perabotan, pernak pernik dari berbagai negara, di toko ini juga kalian bisa temukan bumbu-bumbu ‘dasar’ seperti jahe, ketumbar, daun salam. Berbagai jenis mie, juga bisa di beli disini.

Earth Fare serupa dengan Whole Food Market , di supermarket ini ada bagian dimana kalian bisa temukan bumbu-bumbu unik, termasuk bumbu-bumbu dari Asia Tenggara.

Kadang supermarket setempat bukan tidak mungkin menjual bumbu- bumbu etnik, tergantung lokasi mereka. Jadi jangan putus asa kalau tidak ketemu di lokasi X, bukan berarti di lokasi berbeda pasti hasilnya sama.

Selamat berburu bumbu-bumbu Indonesia!