cerita saya

Susah senang hidup di Amerika

Terus terang Saya bukan tipe orang ‘berencana’ , Saya lebih ke tipe ‘Just do it!’ tidak mikir panjang lebar, tidak mikir tentang masa depan.

Saya juga bukan orang yang cerdas dalam bidang akademik, biasa-biasa saja. Di SMA termasuk 5 besar di kelas, tapi kalau dibanding Kakak Saya atau sepupu Saya, duh jauh lah….

Nah sewaktu menikah dan hijrah ke Amerika, terus terang tidak mikir nanti mau bekerja di mana? nanti di Amerika mau jadi apa dll. Cuma mikir senang punya Suami.

Kebetulan Suami waktu itu punya pekerjaan bagus, kita tinggal di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk lah. Kenapa juga harus repot mikir kerja?

Bulan-bulan pertama, karena bosan di rumah, Saya iseng-iseng jadi sitter, lalu setelah mendapat ijin kerja resmi, Saya coba lamar ke perusahaan jual beli Timeshare, langsung diterima. Di situ Saya bekerja selama 3 bulan , karena Saya ingin membesarkan si anak. Untungnya ya saat itu penghasilan suami cukup untuk kita bertiga. Dari hasil uang bekerja selama 3 bulan, bisa Saya tabung untuk beli tiket mudik.

Setelah anak berumur 1 tahun lebih, Saya mulai bosan di rumah melulu, Suami suruh Saya melamar kerja di salah satu department store karena sedang musim liburan mereka butuh banyak pekerja tambahan. Jadilah Saya lamar, dan Alhamdulillah diterima. Kerja di malam hari setelah suami pulang kantor, jadi anak tetap dijaga kita berdua.

Idealnya kondisi seperti ini berlangsung selamanya ya……..tapi seperti yang kita tahu nothing last forever. Di awal tahun 2009, suami pulang memberi kabar buruk, dia di pecat. Memang beberapa bulan sebelumnya dia sempat bercerita tentang perubahan manajemen di kantornya.  Tapi Saya tidak berpikir sampai seburuk ini lah.

Penghasilan utama hilang. Rumah kita masih dalam cicilan. Bagaimana membayar listrik? air? membeli makanan sehari-hari? Asuransi kesehatan hilang – karena Saya kerja paruh waktu dan tipe pekerjaan Saya tidak menyediakan fasilitas asuransi untuk sebagian besar pegawainya.

Runtuh rasanya dunia ini. Rasa takut dan panik menyelimuti pikiran Saya. Langsung hari itu juga Saya pergi menghadap ke bagian kepegawaian Saya. Alhamdulillah, ada rekan kerja yang mengundurkan diri, sehingga Saya bisa langsung ambil posisinya yang kebetulan penuh waktu. Resikonya Saya tidak bisa bersama anak Saya setiap hari. Tapi apa mau dikata, itu pilihan yang harus Saya ambil.

Masalah kedua, asuransi kesehatan, yang jelas, si kecil karena masih di bawah 5 tahun, HARUS ada asuransi, karena tiap tahunnya dia harus cek ke dokter. Buru-buru Saya lamar asuransi kesehata pemerintah untuk semua, tapi di atas kertas keluarga kami masih ‘tergolong tidak miskin’ untuk medicare karena kami masih memiliki rumah dan 1 mobil. Jadilah asuransi untuk Saya dan suami ditolak, tapi untungnya asuransi untuk anak, mereka punya batasan tersendiri, dan si anak masuk kategori layak mendapat asuransi dari pemerintah (CHIP) yang notabene akan membayar semua ongkos dokter si anak.

Minggu-minggu pertama terus terang berat sekali kita mengatur pengeluaran dibanding pemasukan yang tidak seberapa. Baru di minggu ketiga, kita bisa bernafas agak lega, karena suami sudah bisa mendapat unemployment insurance yang bisa dipakai untuk membayar cicilan rumah.

Suami tidak bisa langsung mendapat pekerjaan baru, karena di saat yang sama Amerika sedang dilanda resesi. Pengurangan pegawai, terjadi dimana-mana. Tempat kita tinggal itu sangat terbatas pilihan bekerja. Boleh dibilang cuma ada 2 tempat utama orang-orang disini bekerja, salah satunya ya tempat suami bekerja dulu.

Di bulan September, Saya masukkan anak ke HeadStart yang notabene program pra sekolah gratis untuk keluarga menengah bawah.

Saya bersyukur sekali akan adanya kedua program ini, Headstart dan Asuransi kesehatan untuk anak (CHIP). Paling tidak kami tidak perlu khawatir si kecil tertinggal pendidikannya dan kami tidak bingung dalam membayar ongkos dokter.

Dari pengalaman Saya ini, barulah Saya menyadari kalau Saya ‘HARUS’ bekerja, tidak bisa selamanya bergantung kepada Suami, tidak bisa bergantung pada sanak keluarga, teman-teman.

Bahwa hidup Saya disini tidak akan selalu indah, bertaburan uang, bergelimangan harta.

Bule senang kulit coklat?

kik..kik…kik…hayo ingat kan dengan stereotype ini?

Benar atau tidak sih kalau bule itu senang sama yang keling-keling?

Ternyata……………….

Ada benarnya!!
Dan ini bukan cuma laki-laki kulit putih yang suka dengan perempuan berkulit coklat. Tapi perempuan kulit putih pun terobsesi untuk berkulit coklat.

Suami sendiri lebih senang kalau kulit Saya coklat. Di musim panas, waktu Saya kerjaannya berenang hampir tiap hari, ini kulit yang ada gosong, eh malah di sayang-sayang sama Suami.
Eksotis istilah kerennya.

Nah itu kalau laki-laki.

Kalau perempuan; Manager Saya di tempat kerja itu ternyata langganan ke salon tanning, dia sendiri mengakui kalau dia pengen banget punya kulit seperti SayaDan dia bukan kenalan pertama Saya yang Saya tahu keranjingan ber-tanning di salon.

Ada kenalan yang sejak usia 20 tahun sudah menjadikan tanning ritual setiap bulan.

Pernah Manager Saya (perempuan) celetuk ‘Laki-laki suka perempuan seperti kamu, terutama warna kulitmu’

Ha…ha…ha…
Saya pribadi sih senang-senang saja, tapi tidak jadi keranjingan mandi matahari atau mandi sinar ulta violet di salon. Karena ternyata setelah Saya perhatikan, mereka yang waktu mudanya pergi ke salon UV, koq kulitnya jadi terlihat tidak alami, ibarat tas kulit yang sudah lama dipakai (very beat-up old leather bag)…

Jadi bersyukurlah kalau punya  kulit eksotis…tidak perlu ke salon kan…;-)

Es dimana-mana

DSCN2279

Baru musim dingin tahun ini Saya merasakan sekali dampak salju dan es di kehidupan sehari-hari. Sekolah anak sudah total 10 hari terpaksa diliburkan karena badai salju.

Sewaktu Kami tinggal di negara bagian Montana,yang namanya salju itu sudah biasa, dan bisa berhari-hari kita kena badai salju. Salju setinggi lutut boleh dibilang makanan sehari-hari saat musim dingin. Secara geografis Montana memang lebih tinggi dan lebih di utara lokasinya. Tapi sekolah tidak pernah diliburkan, malahan anak-anak tetap di haruskan bermain di halaman yang bersalju.

Nah di negara bagian Kentucky ini masalahnya bukan di jumlah salju yang turun yang membuat hati ketar ketir, tapi bahaya licin karena es yang membuat kondisi disini lebih riskan.

Jadi meskipun kelihatannya badai salju tidak seberapa besar, tapi karena kelembaban tinggi, salju basah tersebut segera berubah menjadi es dalam sekejap saja.

Contohnya hari ini, hari Rabu tanggal 2 Februari 2014. Lagi-lagi sekolah diliburkan. Tadinya Saya bingung juga, kenapa gitu libur, lihat dari jendela kondisi di luar tampak biasa-biasa saja.

Suami suruh Saya keluar supaya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lingkungan yang membeku menjadi es.

Jadilah malam ini Saya kelayapan keluar apartemen…astaga! benar juga kata Suami, pohon-pohon gundul sekarang berubaha  menjadi pohon-pohon es!

Dan sewaktu Saya berjalan diatas salju, terdengar suara ‘kriuk-kriuk’, bukan karena sambil makan kerupuk, tapi karena Saya menginjak es!!

Image

Image