cerita saya

Pengingat Hari Ini

Sebagian besar dari manusia, pasti berkeinginan punya banyak uang. Siapa yang tidak mau punya banyak uang? bisa beli ini itu, tidak pernah merasa kekurangan. Normal lah kalau kepingin punya banyak uang (termasuk saya). Tapi koq ya setelah mengalami kejadian ini, saya jadi berpikir dua kali ya??

———————————————————————————————————————————————————–

Baru datang di tempat kerja, saya langsung sibuk melayani pelanggan, selain menangani pelanggan yang datang, saya juga harus menjawab telpon dari nasabah.

Kring Kring. Telpon berdering. Saya angkat. Terdengar suara wanita.

Awalnya dia mau berbicara dengan Kepala Cabang. Saya beritahukan kalau beliau sedang ada rapat di luar kantor, apakah ada yang bisa dibantu dengan pegawai lain tanya saya. Yang bersangkutan terdengan agak segan, tapi akhirnya dia mulai bercerita:

Dia seorang perempuan, istri dari pengacara hukum. Umurnya sekitar 55 tahun ke atas. Dia cerita kalau rekening bank salah satu kenalannya ludes di bobol pencuri. Dan sekarang dia ketakutan (paranoid) kalau hal yang sama akan terjadi dengannya.

Saya coba jelaskan kalau kita sebagai institusi keuangan berusaha menjaga segala kemungkinan pembobolan rekening nasabah : dari mulai pembatasan uang yang boleh di tarik di ATM, keharusan menunjukkan 2 jenis kartu identitas yang legal untuk menarik uang di kantor cabang, penggunaan chip di kartu debit, pembatasan rekening yang bisa di akses di akun maya, pengiriman sinyal peringatan kalau ada transaksi yang dianggap mencurigakan dan lain lain.

Tapi si yang bersangkutan tetap saja panik tidak karuan, seakan-akan semua penjelasan saya cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Boleh dibilang saya gagal menentramkan hati ibu ini. Ya apa boleh buat.

Yang ada setelah pembicaraan saya berakhir, saya jadi tercenung sendiri.

‘Haduh, apa begini ya rasanya punya uang sebanyak itu? hati jadi tidak tenteram, selalu ketakutan, hari demi hari yang di pikirkan cuma bagaimana caranya menyelamatkan uang saya?’

Tidak bohong di hati ada sekelumit rasa ‘geli’

Ternyata punya uang pas-pasan enak juga ya…tidak usah pusing seperti si ibu.

remember-someone-is-happy-with-less-than-you-have

Pelajaran Dari Al Anon

Halo.

Tulisan kali ini masih tentang perang saya dengan masalah alkohol di keluarga saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya cerita bagaimana reaksi saya saat pertama kali membaca literatur di pertemuan Al Anon.

Pembaca akan lihat beberapa foto dengan cuplikan kalimat-kalimat yang saya baca yang ‘mengena’ sekali dengan diri saya pribadi (semua kalimat-kalimat yang saya warnai artinya saya alami sendiri sebagai kerabat pecandu alkohol)

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya yang bukan pecandu, malahan pihak yang lebih membutuhkan bantuan. Logikanya kan, si pecandu dong yang harus ditolong, mereka kan yang kecanduan, bukan saya???

Ternyata saya salah, yang saya tidak sadari adalah bagaimana kecanduan alkohol adalah penyakit yang memberikan dampak gangguan emosi ke pihak-pihak disekeliling si pecandu itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir ya benar juga. Sementara si pecandu sih senang-senang saja minum setiap hari, lupa akan kesusahannya, kita yang tidak mabok, melihat kelakuan ybs jadi stres dan emosi.

wpid-wp-1444528807024.jpg

wpid-wp-1444529549018.jpg

Disitulah saya menyadari kalau saya boleh dibilang sudah ‘terjerumus’ ke kondisi yang tidak sehat. Apa-apa yang saya lakukan selama ini sebagai usaha saya untuk mencegah si pecandu untuk menghentikan kebiasaannya juga bisa saya baca di literatur yang saya dapatkan. Dan ternyata apa yang saya lakukan bukanlah langkah yang efektif, malah membuat si pecandu semakin kecanduan.

 wpid-wp-1444528891741.jpg wpid-wp-1444528857001.jpgwpid-wp-1444528937181.jpg

Kadang semakin saya membaca, saya semakin ‘ngeri’ karena saya menjadi sadar seberapa parahnya kondisi yang saya alami .

Langkah yang harus saya ambil selanjutnya adalah mengubah perilaku sendiri – aneh ya kalau dipikir pikir.

Tapi perlahan-lahan saya mulai mengerti tentang penyakit kecanduan ini.

Yang jelas, kecanduan alkohol adalah penyakit.

Alcoholism is an illness

Alcoholism is an illness

Seperti halnya penyakit-penyakit lain, penyakit kecanduan alkohol memerlukan mental yang kuat untuk orang-orang yang terkena dampaknya. Untuk ‘menyembuhkan’ penyakit ini, kita-kita yang terkena dampaknya haruslah yang menjadi pihak yang lebih ‘waras’ dan lebih kuat. Karena memang penyakit ini melelahkan emosi mereka yang berhubungan langsung dengan si pecandu.

wpid-wp-1444608664350.jpeg

Pertama kali saya baca literatur ini, saya protes dalam hati, karena banyak hal yang ditulis di literatur boleh dibilang ‘aneh’ karena seakan-akan kita ‘lepas tangan’ terhadap kondisi si pecandu.

wpid-wp-1444529038497.jpg

Contohnya

wpid-wp-1444529068378.jpg

Ini saya alami sendiri, dan sulit sekali buat saya untuk tidak turun tangan ‘membereskan’ masalah. But it is what it is.

Saya sebagai pihak bukan pecandu, harus berhenti ‘menolong’ pecandu dan membiarkan pecandu menghadapi konsekuensi tindakan mereka.

Kalau sebelumnya saya ‘percaya’ dengan apa-apa yang pecandu janjikan (contoh : iya, saya akan kurangi minum) , saya di sarankan untuk memilih jalan membuat kesepakatan.

wpid-wp-1444529684575.jpg

Yang jelas, saya harus mengakui kalau di keluarga saya, salah satu anggota keluarga kami menghadapi penyakit kecanduan alkohol. Dan kalau saya mau keadaan menjadi lebih baik, sayalah yang harus berubah terlebih dahulu dan saya harus cari bantuan.

wpid-wp-1444528958368.jpg

wpid-wp-1444608876810.jpeg

Para Al Anon selalu diingatan akan 3C tentang penyakit ini :

I can not Control the alcohol

I did not Cause the alcohol

I can not Cure the alcohol

wpid-wp-1444608881360.jpeg

Bergabung Dengan Al Anon

Dua tulisan saya sebelumnya saya bercerita kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol. Sudah dua minggu ini saya bergabung di pertemuan Al-Anon, dimana saya bertemu muka dengan orang-orang yang mengalami masalah yang sama dengan saya : mereka hidup dengan pecandu alkohol, baik itu pasangan mereka, orang tua mereka, ataupun kerabat lainnya. (kakak, adik)

Dari membaca literatur yang disediakan di pertemuan, saya tercekat. Kenapa?

Karena saya seakan-akan membaca tentang diri saya sendiri, seakan-akan saya sedang bercermin.karena banyak sekali hal-hal yang di tulis di buku/pamflet saya rasakan / alami sendiri.

Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata perasaan yang saya rasakan tidak ‘aneh’ , boleh dibilang lumrah dan ‘nyata’.

Langkah berikutnya yang harus saya lakoni adalah menjalani apa yang grup Al Anon sebut sebagai 12 Langkah (12 Steps):

12steps

Jujur, hingga saat ini , saya masih belum bisa menerapkan satu langkahpun dari 12 langkah diatas. Saya masih dalam kondisi marah, kecewa, frustrasi dan lelah baik fisik maupun mental.

Harapan saya adalah dengan datang ke pertemuan Al Anon, saya perlahan-lahan bisa menerapkan langkah-langkah diatas.

Saya satu-satunya ‘anggota’ Al Anon yang orang ‘asing’ alias bukan bule dan bukan pembicara bahasa Inggris asli dan bukan penganut agama Kristen. (diakhir pertemuan, selalu ditutup dengan doa, yang terkesan kristiani – saya sendiri tidak masalah, karena saya tahu kepada siapa saya mengucap doa, it is what it is)

Buat saya datang ke pertemuan ini adalah untuk ‘kesehatan mental’ saya pribadi, perjalanan saya untuk berlaku ‘waras’ dan legowo baru dimulai.

Lain kali saya akan cerita lebih banyak tentang hal-hal yang saya temukan saat membaca buku-buku Al Anon.

20151008_192221

Doakan saya selalu.

xoxo

Tantangan, Rintangan, Kendala, Masalah

! Apa2 susah! ini susah! Itu susah! kamu malah gaK pulang2! punya empati gak?’

Wuih sakit hati rasanya saat terngiang-ngiang cercaan diatas. Bukan rahasia lagi kalau asumsi sebagian besar teman-teman di tanah air, hidup kami – imigran Indonesia – di Amerika itu TIDAK PERNAH SUSAH.

Untuk sebagian besar orang, sulit untuk ‘percaya’ kalau kita-kita yang tinggal di Amerika juga mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, masalah, kendala di hidup kita sehari-hari

‘Kamu kan tinggal di Amerika?!!’ – komentar seperti ini ‘lumrah’ di dengar, seakan-akan imigran Indonesia di Amerika pastinya kebal dengan masalah, rintangan, kendala dsb.

Kenyataannya seperti teman-teman yang tinggal di manapun di belahan dunia, kita-kita ya menghadapi masalah juga, dari masalah sepele :  bagaimana caranya berwara wiri sehari-hari sementara tidak ada mobil dan tidak ada transportasi umum, hingga masalah mencari perlindungan hukum.

Dan tidak sedikit, masalah yang dialami imigran lebih ‘berat’ dibanding mereka-mereka yang tinggal di negara asal.

Gimana gitu lebih beratnya?

Karena banyak dari kita-kita yang disini itu benar-benar soragan wae, tanpa sanak saudara dan tidak punya ‘bekal’ cukup (pendidikan, pengalaman kerja, ketrampilan, kemampuan berbahasa Inggris dan lain sebaginya).

Waktu kita bermigrasi ke Amerika, sebagian besar diawali dengan ‘mimpi indah’ :suami bule, asik sekarang tinggal di luar negeri.

Sebagian besar dari kita beruntung karena mimpi indah menjadi kenyataan yang indah juga, suami tajir, selalu dibawa jalan-jalan, dibelikan barang-barang mewah tanpa harus kerja, mau beli apa juga tinggal tunjuk, mudik setiap tahun tidak perlu ditanya, sebagian lagi mimpi indah menjadi mimpi kurang indah…..

Pengalaman saya sendiri sih relatif tidak heboh ya, meskipun banyak kurang indahnya juga….

Gimana gitu kurang indahnya?

Coba saya ceritakan sedikit ya…

Suami saya, kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dia punya  2 adik, tapi 1 sudah meninggal dunia juga.

So what?

Tadinya saya juga pikir begitu, baru ‘ngeh’ beratnya waktu sedang hamil, melahirkan dan bulan-bulan pertama setelah si kecil hari.

Kalau teman-teman lain banyak yang bisa minta bantuan ayah, ibu, mertua, kakak, adik untuk jagain waktu lahiran, waktu minggu-minggu pertama, saya ya kudu lakoni sendiri.

Pernah saya menggigil karena keletihan, tapi tetap harus terbangun karena si bayi ini rewel sementara suami belum pulang.

Contoh lainnya.

Kemarin di tempat kerja saya ditelpon sekolah anak, si kecil panas. Panik? Jelas. Yang jelas cuma saya dan suami yang bisa menjemput anak kami. Saya masih beruntung karena pekerjaan suami itu lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari rumah dan saya pekerja paruh waktu, jadwal kerja saya cenderung pendek, jadi salah satu dari kami bisa ngacir untuk menjemput anak kami. Tapi ini bukannya tanpa resiko, beberapa tempat kerja sangat ketat dalam urusan ketidakhadiran, kalau pekerja di anggap tidak produktif karena banyak ‘berhalangan’, perusahaan bisa dengan mudah mendepak pekerja yang bersangkutan.

Sekali lagi, beberapa teman-teman cukup beruntung karena bisa menjadi ibu rumah tangga penuh dan tidak harus bekerja, atau punya pasangan yang punya bisnis sendiri, jadi tidak terlalu riweh dalam urusan anak sakit di sekolah,  tapi tidak untuk keluarga kami.

Contoh lagi.

Di tahun 2009, suami saya kehilangan pekerjaan. Jantung saya serasa mau ‘berhenti’ waktu dia masuk rumah dengan pandangan suram dan memberitahukan saya berita tentang dia kehilangan pekerjaan.

Panik. Jelas. Bingung? Pasti.

Di pikiran saya waktu itu :

  1. Angsuran rumah bagaimana kami bisa bayar? bagaimana kalau rumah tidak terbayar? mau tinggal dimana kami?
  2. Anak kami masih umur 3 tahun, masih butuh ke dokter secara rutin, asuransi dari mana?

Hari itu juga, saya langsung menghadap ke HR tempat kerja dan Alhamdulillah sekali ada lowongan penuh waktu yang langsung Saya bisa lamar.

Hari berikutnya Saya langsung ke county office untuk mengajukan lamaran asuransi pemerintah untuk keluarga. Ditolak, karena dianggap kami masih memiliki 2 aset utama: mobil dan rumah, tapi untungnya asuransi untuk anak bisa kita dapatkan, karena untk asuransi anak, hanya dilihat dari penghasilan dan bukan dari aset, dan saat itu keluarga kami dianggap kategori kurang berada.

Selama 1 tahun lebih boleh dibilang Saya jadi tulang punggung keluarga, masih beruntung suami mendapat asuransi pekerja (unemployment insurance) yang jumlahnya pas dengan angsuran rumah kita, sementara hidup sehari-hari kami harus mengandalkan penghasilan mingguan dari pekerjaan saya (pramuniaga di department store)

Tidak bohong kalau saya harus jual perhiasan emas yang saya bawa dari Indonesia dan menjual barang-barang ini itu untuk menyambung hidup. Consignment store, craiglist jadi ‘teman akrab’ saya. Setiap ada tambahan waktu kerja, saya coba ambil supaya bayaran saya bisa berlebih.

Waktu itu saya tidak langsung memberi tahu orang tua di tanah air, baru setelah beberapa bulan, saya beritahu mereka.

Saya ingat sekali di hari-hari itu (dan hingga saat ini) saya selalu mengkhayal andai orang tua saya dekat, pasti mereka akan bantu kami……

(tidak sedikit keluarga Amerika lainnya mengalami hal yang mirip (kadang lebih parah) dengan yang saya alami, bisa dibaca di http://finance.yahoo.com/news/achieved-american-dream-awful-040000718.html)

Di tahun 2010 dan 2012, Saya dan suami sempat tinggal berlainan tempat karena kerja.

Pertama kali kita berpisah, kami hanya memiliki satu mobil, yang pastinya harus dibawa suami, jadilah saya mengandalkan sepeda dan trailer untuk transportasi saya dan si kecil. Tidak masalah, KECUALI waktu hujan turun dengan derasnya saat saya menjemput anak dari sekolah.

Basah kuyup.  Anak kami waktu itu baru berumur 3 tahun, saya ingat bagaimana saya memakaikan jaket hujan, kain terpal dan selimut untuk melindungi dia dari hujan. Jarak dari sekolah ke rumah yang cuma 1 kiloan, terasa jauh dan berat sekali karena harus ditempuh ditengah-tengah hujan yang amat derasnya. Terus terang waktu itu Saya cuma bisa menangis karena kasihan melihat anak kebasahan dan kedinginan dan saya merasa bersalah karena ‘membiarkan’dia kehujanan.

Kedua kali kita berpisah, kondisi kami sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Suami mampu menyewa mobil baru untuk dia di tempat baru, sementara saya boleh memakai mobil lamanya.

Dilalah.

Setelah selesai mentor di sekolah anak, saya rencana menghabiskan waktu di pertokoan dekat sekolahnya sebelum waktunya menjemput si kecil lagi.

Di jalan, tiba-tiba mobil ngadat, mesin berhenti sama sekali, untung sudah dekat dengan tempat tujuan! Dengan nekat dan berharap dari sisa energi mesin mobil,  saya berhasil mengarahkan mobil ke arah tempat parkir. Belum sempat masuk ke parkiran, mobil berhenti total.

Nekat saya keluar dari mobil untuk coba mendorong mobil ke tempat yang lebih sepi, yah tidak kuat lah yaw! untung ada pengemudi lain yang melihat saya kesusahan dan dia tanpa sungkan-sungkan membantu saya mendorong mobil. Lalu sekarang bagaimana? saya harus menjemput anak saya? coba telpon salah satu kenalan, dia ternyata tidak ada di kota, ya sudah, jadilah saya jalan kaki ke sekolah si anak. (catatan : di kota tempat saya tinggal dulu itu, sarana taksi terbatas, waktu tunggu bisa 1 jam lebih)

Menghayal lagi…’ah…andai ayah ibu ada disini’.

Tapi untunglah kami dulu itu tinggal di kota kecil, jarak dari satu tempat ke rumah kami relatif dekat, cuma 1-3 mil, dan di lokasi pemukiman (bukan bisnis atau jalan raya);jadi berjalan kaki masih nyaman. Tidak terbayang kalau tempat tinggal kami agak di luar kota misalnya, yang tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Waktu musim dingin dan saat sekolah libur saya sempat kelabakan mencari tempat titipan anak. Karena saya kerja di ritel, saya diwajibkan kerja saat Black Friday, dengan sangat terpaksa saya merepotkan beberapa kenalan untuk bergantian menjaga anak saya. Saya harus berada di tempat kerja pagi-pagi sekali, untung tetangga ada yang berbaik hati menjaga si anak sementara saya bisa kerja dan istirahat secukupnya.

Hal-hal yang saya ceritakan disini termasuk sepele ya…saya termasuk cukup beruntunglah. Syukur kepada Sang Pengatur Alam.

Saya sendiri tahu banyak cerita-cerita ‘yang lebih pedih’ dari teman-teman imigran Indonesia disini : suami pengekang, suami pemabuk, suami menyeleweng, suami ogah kerja, tidak dinafkahi, di bohongi pacar, bercerai tanpa penghasilan, rebutan anak. masalah kesehatan dan sebagainya…..

Tapi kata ‘Mbak Kelly Clarkson :

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fighter

Read more: Kelly Clarkson – What Doesn’t Kill You Lyrics | MetroLyrics

Atau kata Mas ‘Passenger’

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Catatan : lirik lagi diatas ceritanya lebih buat muda mudi pacaran sih ya…cuma ada beberapa bait yang pas sekali di hati …(terutama bait-bait yang saya tebalkan)

Cihuy Saya Dapat Penghargaan

Sekitar bulan Oktober tahun 2014, kantor cabang tempat saya bekerja menyelenggarakan acara. Disitu saya ketemu rekan kerja dari cabang lain. Ngobrol punya ngobrol dia celetuk ‘Eh, kamu ada di daftar 3 besar loh’. Saya dengarnya bingung. ‘Tiga besar apa gitu?’. Tapi saya tidak sempat bertanya lebih lanjut ke si rekan karena kita larut dalam acara saat itu.

Beberapa hari setelah acara lewat, saat saya baru datang ke tempat kerja, atasan saya memanggil saya dengan wajah serius. Dia bilang ‘S, kamu ada masalah’, waduh langsung ketar ketir saya dengarnya, eh tahu-tahu muka si atasan berubah berseri-seri, dia bilang ‘S, kamu di rangking 3 besar di penilaian kinerja tahunan!!’

Saat itu saya cengengesan saja, karena kurang mengerti tentang penilaian kinerja ini. Setelah saya baca, baru saya tahu apa yang atasan saya bicarakan. Intinya setiap tahun perusahaan menilai kerja pegawainya : berdasarkan jumlah penjualan dan penilaian pelanggan. Nah di wilayah tempat saya bekerja (ada 13 kantor cabang), ternyata saya ‘lolos’ babak penyisihan. Karena ini baru bulan Oktober, rangking saya bisa berubah di akhir tahun, bisa-bisa saya malah tidak masuk daftar 3 besar lagi.

Meskipun saya senang juga, tapi saya ogah ke-ge-eran. Saya pikir ‘halah, belum tentu juga. Wis lah, santai saja’. Yang ada saya menolak kalau ada rekan membicarakan daftar ini. Akhir tahun masih jauh, many things could happen.

Masuk tahun 2015, tidak ada kabar berita tentang penghargaan ini. Ya sudah saya diam saja, saya asumsikan saya tidak lagi masuk daftar teratas.

Maret 2015, awal bulan kita kumpul untuk ikutan rapat dengan pimpinan wilayah. Di situ saya dengar pengumuman resmi kalau saya adalah pemenang penghargaan MARKET ALL STARS 2014 dalam kategori ‘Teller’.  Wah senang sekali, karena waktu awal saya bekerja di bank 2012, saya benar-benar bloon dan tidak punya pengalaman di perbankan sebelumnya. Sukurlah saya mampu berprestasi dalam jangka waktu tidak terlalu lama.

Untuk penghargaan ini saya di undang ke makan malam bersama pemenang lainnya di bulan Mei 2015.

Setelah pengumuman itu, atasan saya sekilas bilang ‘Kamu bisa dapat Circle of Excellence’ – haduh apa lagi gitu? saya kurang mengerti. Setahu saya CofE itu ibaratnya dari sekian banyak pemenang MARKET ALL STARS, perusahaan akan pilih satu dari masing-masing wilayah. Saya pikir ‘Yah tidak mungkin lah..mimpi kali…’ . Dapat penghargaan MARKET ALL STARS saja saya sudah senang koq.

Eh……bulan April 2015, pimpinan wilayah datang ke kantor cabang saya dan beliau mengumumkan kalau saya adalah peraih penghargaan Circle of Excellence 2015!!! Percaya tidak percaya rasanya!

Hari ini saya mendapat email resmi tentang perjalanan yang akan saya lakoni sebagai pemenang Circle of Excellence! Saya diundang ke Tampa Florida selama 3 hari!!

Banjir!

Seperti halnya kota-kota di penjuru dunia, kota-kota di Amrik tidak luput dari kebanjiran. Sampah yang dibuang sembarangan, pengaliran air yang tidak tertata baik, volume air hujan yang melebihi rata-rata, lokasi kota bersebelahan dengan sungai besar menjadi faktor penyebab banjir.

Ini foto di taman di tengah kota Louisville. Diambil hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015.Selain tengah kota, dibeberapa tempat lainnya banyak jalan-jalan di tutup karena kebanjiran.

Ternyata banjir bukan cuma milik negara berkembang ya.

0314151919

Main Lego Sepuasnya Di Lego Kids Festival, Indianapolis, Indiana

Lego Kids Festival itu acara tahunan yang digelar oleh LEGO untuk anak-anak penggemar LEGO. Saya sendiri baru ‘tahu’ tentang acara ini sejak pindah ke Louisville. Karena dua hal : pertama karena punya anak maniak LEGO dan sudah agak besar untuk bisa diajak ke acara seperti ini, kedua karena akhirnya tinggal di kota yang termasuk di daftar kota-kota LEGO Kids Festival.

LEGO Kids Festival kali ini adalah, LEGO Kids Festival kedua yang kita datangi. Tahun lalu, diselenggarakan di kota Louisville, di Kentucky Exposition Center. Tahun 2014 ini, kami harus ke luar kota sedikit, ke Indianapolis untuk menghadiri acara ini.

LEGO Kids Fest selalu diadakan di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Untuk acara hari Jumat, cuma ada satu sesi yaitu 4 pm-8:30pm, sementara hari Sabtu dan Minggu, selalu ada 2 sesi yaitu sesi pagi dari jam 9 hingga jam 1:30 siang dan sesi sore dari jam 3 hingga jam 7 malam.

Harga tiket itu lumayan tidak murah, $22 untuk orang dewasa dan $20 untuk anak-anak usia 3-17 tahun. Untunglah cuma setahun sekali!

Berhubung kami bukan tipe suka bangun pagi, dan kerja di hari Jumat,  kami selalu pilih sesi kedua di hari Sabtu.

Jadilah kami berangkat hari Sabtu sekitar jam 10 pagi dari Louisville, di perjalanan tidak secepat yang kami harapkan karena banyak konstruksi di jalan Interstate 65 yang kami lewati.

Sesampai di hotel, itu sekitar jam 1:30 siang, setelah pikir ini itu, kami putuskan untuk langsung ke lokasi LEGO Fest, karena pertimbangan lalu lintas dan cari parkir di lokasi.

Benar saja, karena lokasi LEGO Fest kali ini di pusat kota Indianapolis (di Indiana Convention Center) , stadium yang berlokasi dalam kompleks yang sama juga ada acara cukup besar.  Antrian mobil mencari tempat parkir sudah panjang. Kami ambil jalan 2 blok dari lokasi, di jalan McCarty , ada tempat parkiran $5 yang masih kosong. Aha! tanpa pikir panjang lagi kami ambil parkiran ini, lah, parkiran lain yang sedikit lebih dekat ke lokasi itu dipingit $10 euy!

Masalah parkir di Amerika saat ada acara-acara besar seperti ini memang lumayan nyebelin. ‘Preman’ parkir rata-rata mematok harga minimal $10, terutama yang lokasinya dekat. Saran kami, parkir agak sedikit jauh dari lokasi acara, biasanya akan ketemu tempat parkir yang lebih murah, meskipun akan jalan sedikit lebih jauh.

Jalan 2 blok, sampailah kami di lokasi. Masih pagi, jam 2:15 pm. Tapi kami sudah boleh masuk ke dalam gedung dan lumayan antrian tidak panjang! Panitian menyediakan 8 jalur tunggu, kami pengunjung pertama di jalur ke tiga. Jadi kami bisa melihat langsung arena LEGO Fest sambil menunggu.

Di hadapan kami itu arena LEGO museum, dimana patung-patung LEGO raksasa dipajang. Ada Emmet, Wild Style, Lightning McQueen, Batman, harimau, zebra dan banyak lagi.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy

Sambil menunggu, kami mempelajari peta. Belajar dari tahun lalu, antrean untuk masuk ke salah satu arena itu bisa lumayan lama. Jadi sekarang kami coba lebih terencana.

Yang baru di LEGO Fest kali ini : arena LEGO Movie, Mixels, LEGO Fusion.

Yang tetap : LEGO Challenge, Creation Nation, LEGO Friends, Lego Chima, Lego Ninjago, Lego Race Ramps, Lego Wall, LEGO Duplo. 

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy13

Beberapa Zona Bermain Anak-Anak di LEGO Festival Indianapolis 2014

Collages25

Setelah bolak balik melirik jam, akhirnya jam 3:00 pm datang juga! LEGO Master Builder, Dan, datang menyambut pengunjung yang sudah tidak sabar untuk masuk ke arena. Setelah bermain bola LEGO beberapa menit, LEGO Kids festival resmi dibuka!!! Suara pengunjung (termasuk anak saya) hiruk pikuk hebbbbbbbbohnya minta ampun!!!

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy2

Pembukaan Festival Oleh Master Builder

Nah, sekarang kami sudah resmi masuk di festival.

Sekarang, yuk, mari saya ceritakan tentang kegiatan yang kami lakukan di berbagai zona di LEGO Festival ini :

Secara umum, setiap zona ada keunikan masing-masing dan beberapa ada yang bertema sesuai dengan produk LEGO di pasaran.

Misalnya :

Di Zona Brick Battle, anak-anak ditantang untuk membuat gedung setinggi dan sekuat mungkin dalam waktu 5 menit! Setelah berhasil di bangun, kekuatan gedung harus dicoba, dimana anak-anak harus memindahkan gedung dari lantai ke meja juri. Lalu Juri akan mengukur tinggi gedung masing-masing. Senangnya lagi semua anak-anak, di beri hadiah!!  Hadiah yang didapat di zona ini adalah LEGO City  Mini Set Seaplane 30225.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy5

Sibuk Membangun Gedung

Sementara di zona Building Challenge, pengunjung diberi tantangan yang berbeda-beda, tergantung kemauan si Lego Personel. Waktu kami masuk, tantangannya adalah membuat mahkota, sementara grup sebelumnya diminta untuk membuat Dino. Waduh, terus terang saya kelabakan, tapi anak saya mah tenang-tenang saja. Dalam waktu yang ditentukan, voila! Si kecil sudah jadi membuat mahkota. Setelah selesai bermain, lagi-lagi, pengunjung dibolehkan mengambil hadiah gratis. Kali ini hadiahnya dari seri Chima.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy6

Si Kecil dan Mahkota LEGO buatannya

Di zona Creation Nation, pengunjung diperbolehkan membangun apa saja tanpa ada persyaratan tertentu dan tanpa dibatasi waktu. Setelah selesai membangun, hasil kreasi kita akan di letakkan di ‘peta’ Amerika Serikat’ terbuat dari LEGO dan diberi hadiah!! Berhubung saya ikutan membangun -kreasi saya itu : New-Age Temple – saya juga boleh ambil hadiah. He…he…he… Hadiah disini masih dari seri Chima.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy7

Sementara di zona Chima, Ninjago, Mixels, Friends, pengunjung membangun LEGO dengan menggunakan satuan-satuan LEGO dari produk tersebut. Di LEGO Friends contohnya, satuan-satuan LEGO yang digunakan ya berwarna ungu, merah jambu, sesuai dengan seri Friends.

O iya, di zona LEGO Friends ini, pengunjung juga di beri hadiah meskipun kita hanya membangun bebas tanpa dibatasi waktu ataupun jenis bangunan. Hadiah kali ini LEGO City Mini Set Small Police Helicopter 30222 dan LEGO Disney Princess Rapunzel’s Market Visit (untuk saya!!)

Selama 4 jam lebih kami wara wiri ke sana ke mari membangun Lego ini itu. Percaya atau tidak, kami tidak sempat mendatangi semua zona!!  Untung juga waktu bermain dibatasi, kalau tidak bisa-bisa kami menginap di festival dan tidak pulang-pulang!

Di akhir kunjungan, kami lihat satu persatu hadiah-hadiah gratis yang kami dapat dari Lego Festival.

Asli banyak! Tidak bohong kalau saya senang lihat hadiah-hadiah ini, karena selain membuat anak senang, juga membuat harga tiket yang dibeli menjadi ‘worth’ it. Dibanding tahun lalu, saya agak-agak ‘gelo’ karena merasa harga tiket yang tidak murah, dan saya merasa si anak semata-mata hanya main-main tho’.

2014-11-10_LEgoKidsFest_Indy12

Kesimpulannya : Lego Festival kali ini lebih seru dan berkesan dibanding tahun lalu. Karena ada beberapa hal yang berbeda di festival tahun ini :.

Pertama : adanya pemberian hadiah gratis untuk anak-anak di beberapa zona tertentu.  Di Zona Brick Battle, Building Challenge, Creation, Nation, LEGO Friends, LEGO Magazine, anak-anak mendapat hadiah kantong LEGO gratis yang harga retailnya itu sekitar $4.

Kedua : ada undian untuk memenangkan LEGO Master Builder Set

Ketiga : sesi foto gratis dengan latar belakang LEGO Spiderman.signedpic

Untung juga saya putuskan untuk tetap datang ke festival tahun ini.  Sampai jumpa lagi LEGO Festival!

Ketemu Teman-Teman Baru Lewat Blog

Bertemu teman baru pasti senanglah. Ketemu orang Indonesia yang kebetulan baca blog Saya lalu jadi beneran ketemu muka, jalan-jalan bareng, lebih senang lagi!

Bulan Agustus 2014 lalu, ada komentar pembaca masuk di halaman. Dia bilang kalau dia baru datang di kota tempat saya tinggal. Dari komentar di blog, kita kontak-kontakan di email. Dari email, kita bertemanan di Facebook.  Namanya Mbak Indri. Dia cerita kalau dia lagi ikut suami yang lagi pelatihan di sini dan barengan dengan satu ibu Indonesia lainnya

Berhubung saya kerja, dan teman baru ini sibuk eksplorasi negara Amerika di akhir pekan, kita baru akhirnya kopi darat di mall Oxmoor bulan September 2014. Dari ketemuan pertama itu, saya bukan kenalan cuma dengan si Mbak Indri, tapi juga kenalan dengan mbak Ratna.

Terus ketemuan lagi di bulan Oktober, sekalian ketemu sama beberapa teman-teman Indonesia lainnya disini dan sekalian bantuin teman yang lagi butuh penonton untuk kuliah bicara di umumnya.

Lha..tahu-tahu saya baru nyadar kalau Mbak Ratna sudah akan balik di akhir minggu pertama bulan November! Jadilah saya sempatin ajak mbak-mbak ini jalan-jalan ke Outlet di Simpsonville. Untung juga saya ada hari libur di tengah minggu dan ibu-ibu ini bebas.

Jadilah hari ini, kita bertiga jalan-jalan di mall, ditambah juga ketemu satu teman Indonesia lainnya.

Sedih, karena cepat sekali waktu berjalan dan merasa belum sempat ajak mbak Indri dan mbak Ratna ‘berhura-hura’ lebih sering.

Selamat mudik ke Indonesia ya Mbak Ratna! senang sudah bisa ketemuan walau cuma sebentar!

Terima kasih banget oleh-olehnya!

Insha ALLAH kalau ada rejeki dan kesempatan kita bisa ketemuan lagi yaaaaaaaaaaaaa……….

blog6 Sebentar tapi tidak terlupakan!

Adaptasi Setelah Tinggal di Amrik

Adaptasi setelah tinggal di Amrik? wuiiih tak terhitung…ha…ha..ha..sampai sekarangpun – hampir sepuluh tahun – masih banyak hal-hal yang Saya ‘bandel’ ogah beradaptasi atau kurang bisa beradaptasi.

Contohnya :

Masalah kamar mandi, bilas berbilas. Tetap cenderung ke cara Indonesia, yaitu memakai air, dibanding memakai tisu. Tapi mau gimana lagi, disini ya tidak ada air lah.

Saking geregetan harus bilasan dengan air, sampai-sampai minta dikirimin gayung dari tanah air.

Jadilah Saya di tahun pertama kemana-mana bawa botol air kosong ; sampai sekarang masih sering dilakukan terutama kalau pergi piknik atau kemping di hutan.

Atau masalah makan nasi memakai garpu. Duh. Gak lah, tetap makan pakai sendok, meskipun ini sendok buat sup, pura-pura bego saja, yang penting sendok. Mau diketawain terserah, yang penting hati puas makan nasi pakai sendok.

Hal-hal lainnya yang Saya cukup berhasil (dan masih terus) beradaptasi adalah :

1. Nonton TV tanpa ada terjemahan bahasa Inggris.

Maklum kan di Indonesia, semua film-film berbahasa Inggris yang kita tonton selalu ada terjemahan bahasa Indonesia kan? Bulan-bulan pertama nonton film, agak-agak panik…Eng…terjemahannya mana ya? – Oh iya..ini kan di Amrik ya..bukan di Jakarta.

Jadilah konsentrasi penuh dengarin percakapan si bule. Sekarang ini, kalau ada pilihan ‘subtitle‘ di dvd, Saya selalu pasang. Maklum, antara mengerti lewat pendengaran dan mengerti lewat bacaan, Saya lebih cepat mengerti lewat bacaan.

2. Mengetahui lokasi dengan menggunakan arah kompas : Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Hadweeeh…..secara Saya itu terbelakang kalau masalah 3 dimensi dan kebiasaan di Jakarta, cukup bilang ‘arah blok M’, arah kota, belok kiri, belok kanan, disini orang-orang bilang ‘dari arah utara, selatan dari kota X dsb. Terpaksalah Saya memaksakan diri untuk mengerti dimana SEBUT. Kalau boleh memilih sih, tetap pakai belok kiri, belok kanan dll…hi..hi..hi..

3. Menyetir di sebelah kanan dan mengerti penamaan jalan di Amrik.

Kalau di Indonesia, jalan-jalan tol itu dinamakan sesuai dengan nama wilayah ; Jalan tol Cawang-Tg. Priok, Jalan tol lingkar luar Kebon Jeruk dsb, disini jalan-jalan semua ditandai dengan nomor.
I-90, I265, US40, SR65 dsb.

Dimana I artinya Interstate, jalan yang menghubungkan negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain.

Kalau ada 2 digit nomor setelah huruf I, itu biasanya jalan bebas hambatan (freeway)antar negara bagian.

Semua negara bagian di Amerika boleh dibilang ‘disambung’ dengan jalan interstate ini,dari barat ke timur dan dari selatan ke utara.

Nah, kalau jalanannya bernomor 3 digit, itu biasanya jalan lingkar luar kota atau jalan cabang dari jalan utama yang 2 digit. Contoh di Kentucky, salah satu jalan interstate utama di sini itu I64, di I-64, jalanan bercabang menjadi I264. Gampangnya, kalau bingung kita ada dimana, lihat 2 nomor terakhir, jadi kita tahu kalau kita di jalan cabang dari I64.

Terus terang Saya masih keder menyetir di tengah kota. Maklum, pertama kali tinggal di Amrik itu di kota cilik, yang jalannya hanya liner dan 1 grid blok.

Waktu pindah ke Cleveland Ohio, asli bingung; tinggal di Louisville, Kentucky entah kenapa lebih bingung lagi….ha….ha…ha..parah!

Masalah jalan-jalan di Amrik ini nanti Insha ALLAH Saya bahas lebih heboh lagi yak.karena beda-beda di tiap kota.

4. Makanan

Tetap nasih favorit sepanjang masa. Bisa sih makan cereal buat sarapan, tapi yang ada satu jam kemudian peruk keroncongan, karena sudah lapar lagi!

Hore! Upahku naik!

Tahun 2014, kalau tidak salah baca, Pemerintah Amerika menyetujui kenaikan upah minimum dari $7.25 per jam menjadi $10 per jam. Upah minimum baru ini efektif diberlakukan di tahun 2016. 

Sebagai pekerja biasa, yang sudah mengalami sendiri dibayar dengan upah yang berbeda-beda, Saya mengerti sekali betapa berita ini melegakan banyak hati pekerja-pekerja lainnya, terutama mereka-mereka yang hanya mengandalkan hidup sehari-hari dari satu penghasilan saja. 

Saya ngerti sekali betapa ‘upah’ minium sebelumnya itu tidak akan cukup untuk ‘hidup’ layak sehari-hari. 

Dulu sewaktu Saya awal-awal bekerja, Saya tidak ‘ngeh’ dengan kenaikan upah per jam. Di Jakarta, kenaikan gaji kan terlihat bulanan, misalnya dari Rp. 2,000,000 menjadi Rp 2,500,000, alias Rp 500.000 naik gajiku! Jadi waktu pertama kali Saya dapat kenaikan upah disini cuma 15 sen, Saya nelongso. Idih kecil amat sih?

Tanyalah Saya ke suami : Koq naik gaji disini kecil amat sih? (ps : ini ngomongin gaji buruh loh ya..kalau gaji kantoran ya lain lah). Lalu suami jelaskan, kalau itu kan hitungan per jam. Kalau ditotal kenaikan 15 sen itu relatif berarti lah di kantong. 

Berhitunglah Saya :

Upah awal $8.00 per jam, kerja 40 jam per minggu, di sini rata-rata perusahaan membayar pegawai 2 mingguan, berarti total upah yang Saya terima = $8.00 x 40 x 2 = $ 640.

Dengan upah baru $8.15 per jam, total bayaran Saya menjadi $8.15 X 40 x 2 = $ 652.

Total tambahan memang ‘hanya’ $12 – tapi untuk sebagian besar pekerja Amerika, $12 ini = tambahan uang belanja sehari-hari yang cukup signifikan. 

Itu cuma 15 sen perbedaan, kebayang perbedaan upah dengan $1.75 kenaikan. 

Banyak pihak yang melihat kenaikan upah ini sebagai tambahan beban, karena dijamin harga barang-barang akan naik, perusahaan tambah akan mengurangi fasilitas dan lain sebagainya.  

Saya melihatnya sebagai sesuatu yang patut di syukuri, mudah-mudahan kenaikan upah ini akan membuat banyak keluarga-keluarga menjadi lebih mandiri, tidak tergantung dengan subsidi pemerintah. 

“IT’S TIME TO GIVE AMERICA A RAISE”