Susah Senang Hidup di Amerika : Belajar Dari Sesama Imigran

Kalau dulu di Jakarta, ya Saya gaulnya sesama pribumi tho? teman-teman boleh dibilang ‘kurang’ beragam, paling-paling beda suku. Nah setelah hijrah di Amerika, Saya menemukan dunia baru : Dunia Imigran.

Baru di Amerika Saya punya bertemu (dan sebagian menjadi berteman) dengan orang Pakistan, Bangladesh, Bulgaria, Turki, India, Ukrania, Kazhakstan, Malaysia, Jepang, Korea, Phillipina, Thailand, Burma, Laos, Vietnam, Rusia, Bosnia, Palestina, Libya, Irak, Iran dan banyak lagi.

Seru!

Saya perhatikan aksen mereka, perhatikan fitur wajah mereka, budaya mereka dan etos kerja mereka.

Beberapa dari mereka terus terang diam-diam Saya kagumi, Saya contoh dan jadikan panutan.

Ada teman dari Pakistan, waktu Saya kenal dia, dia ibu rumah tangga dengan 3 orang anak, sekarang dia bekerja di bank, dan nomor 1 di cabang untuk hal produk terjual. Saya kenal dia waktu tinggal di Bozeman, MT.  Karena dia, Saya coba bekerja di Macy, karena dia Saya gigih melamar ke perbankan.

Teman lain, dia dari Bulgaria, cantiknya minta ampun! Langsing, tinggi, hidung mancung, kulit mulus, tapi dia amat sangat tidak sombong dan tidak ‘merasa diri cantik. Setiap kali dia bekerja, dia selalu capai gol.  Dari dia Saya belajar untuk berani keluar dari comfort zone.

Waktu Saya mulai bekerja di bank, salah satu rekan yang sama-sama di pelatihan berasal dari Rusia.  Awal-awal pertama bekerja, Saya kelimpungan menjual produk, Manajer Saya lalu tunjukkan statistik pegawai mana yang sukses, salah satunya adalah si gadis Rusia ini.

Pikir Saya ‘Wow! Hebat sekali eu!? Dia kan sama-sama di pelatihan sama Saya?? Kalau dia bisa, Saya harus bisa ah!!’

Untungnya Saya ada kesempatan bekerja bareng dengan dia. Saya perhatikan cara dia berinteraksi dengan pelanggan. Hasilnya? Statistik tahun lalu, statistik bulan berjalan, statistik tahun berjalan Saya berhasil melewati statistik dia!!

Atau pelanggan di tempat kerja, ternyata dia salah satu master stylist di salon beken di kota.

Dan banyaaaaaaaaak lagi contoh-contoh lainnya!

Terus terang dari pengamatan pribadi – yang kemungkinan bias- menurut Saya pekerja imigran bekerja lebih keras dibanding pekerja pribumi, paling enggak Saya sendirilah.

Ada rasa ingin membuktikan diri, kalau Saya bukan cuma imigran bloon.

Ada rasa ingin membuktikan diri kalau Saya bukan imigran numpang ‘tenar’ hidup dengan bule yang cuma bisa hura-hura belanja belanji.

Terus terang teman-teman imigran ini membuat Saya bangga menjadi imigran.

Stereotype imigran yang notabene : parasit, ilegal, tidak bayar pajak, tidak berpendidikan dipupus habis oleh mereka-mereka.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s