Seperti perusahaan2 di Indonesia, perusahaan di Amerika juga pastinya memberikan karyawan2 mereka fasilitas2 diluar gaji pokok.
Fasilitas-Fasilitas yang disediakan setiap perusahaan itu berbeda2 ya, ini juga yang kita harus jeli dan mengerti sebelum memutuskan untuk mengambil pekerjaan dan juga supaya kita bisa memanfaatkan sebaik2nya fasilitas2 yang disediakan.
Saya coba tuliskan fasilitas-fasilitas yang saya tahu ya. Detail masing2 fasilitas rencananya akan Saya coba bahas satu2 di tulisan berikutnya. Atau paling enggak, saya akan bahas yang “penting”
1. Cuti liburan dibayar atau paid vacation times
2. Ijin Sakit atau Sick Days
3. 401K
4. Saham
5. ROTH IRA
6. Pensiun
7. FMLA
8. Cuti Hamil
9. Biaya edukasi ditanggung
11. Alokasi “belanja”
10. Asuransi Kesehatan
12. Bonus
13. Komisi penjualan
14. Hari2 besar dibayar atau paid holidays
15. Gaji elektronik dan pilihan untuk mendepositikannya ke lebih dari satu rekening
16. Lembur
17. Diskon Perusahaan
18. Diskon Pegawai
19. Penghargaan Masa Kerja
Yang paling umum yang sebagian besar perusahan2 disini berikan adalah
1. Asuransi kesehatan
2. Cuti pribadi
Jenis perusahaan tempat kita kerja dan status kepegawaian kita akan mempengaruhi jenis2 fasilitas yang akan kita dapat.
Contoh. Perusahaan besar, multi nasional atau perusahaan pribadi. Perbankan atau ritel atau manufaktur dsb. Kerja penuh atau kerja paruh waktu atau kontrakan. Pegawai atau pekerja independen. (Contoh agen penjual rumah, agen asuransi, pekerja konstruksi)
Secara umum, sebagian besar perusahaan menyediakan fasilitas2 ini untuk pekerja yang statusnya penuh (full time) , sementara pekerja yang hanya paruh waktu atau kontrak biasanya fasilitas yang didapat tidak semuanya, atau bahkan tidak ada fasilitas sama sekali.
Intinya selain masalah gaji, kita sebagai pelamar juga pinter2 nanya apa fasilitas yang perusahaan sediakan buat pegawai mereka. Jangan terpana sama gaji doang!
Pernyataan Sanggahan: semua tulisan saya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya pribadi atau berdasarkan penjelasan verbal langsung dari pihak kedua yang diberikan ke saya.
Jadi pasti ada kemungkinan information yang saya berikan kurang tepat atau kurang lengkap.
Kalau ada pembaca yang mau menambahkan informasi, silahkan komentar loh.
Tampak keren pakai sepatu boots dengan latar belakang salju di musim dingin atau foto cipokan di pantai, sudah.
Ngomong “ke-Inggris-inggrisan sudah.
Punya anak wajah pemain sinetron sudah.
Halan-halan ke Disneyland, ke outlet sambil nenteng tas belanjaan segabruk, sudah.
Nenteng tas minimal Coach, Kate Spade, Tory Burch, sudah. Sukur2 punya Louis Vuitton, Channel, Gucci, Prada.
Nyetir mobil lambang bintang 3 dalam lingkaran, Be-eM-We, Tesla, Audi, sudah.
Selamat ya. Impian sudah tercapai ya?
Nah sekarang coba lihat.
Tabungan atas nama kamu pribadi berapa?
Investasi atas nama kamu pribadi berapa?
Aset atas nama kamu pribadi berapa?
Kalau situ sudah bisa menjawab pertanyaan2 diatas dengan angka2.
Selamat. Anda di jalan yang “benar”
Kalau situ jawabnya:
“Idih..ngapain saya mikirin hal2 diatas? Suami saya kan bule. (Gak ada hubungannya)
Suami saya kan kasih saya semua yang saya mau.
Ah..beruntung sekali dikau, selamat yaaa…. tapi sekali lagi. Pertanyaan2 di atas valid loh.
Saya orangnya bukan tipe perencana ya. Gak ada tuh ceritanya dari awal saya punya rencana 5 tahunan, 10 tahunan dst.
Jadi amat wajar kalau banyak teman2 yang gak ngeh ya, kalau pertanyaan2 diatas itu penting.
Gini. Saya nulis ini bukan nakut2 in teman2, terutama teman2 yang baru mau mulai proses pernikahan dengan mas bule nya.
Tapi semata2 mau berbagi topik yang faktual banget dan nyata.
Inget gak heboh si neng celeb di IG live tahun 2019?
Intinya kita sebagai imigran sangatlah mungkin berada dalam kondisi “susah”: suami bule impian kita ternyata gak seindah harapan. Ada yang segera terlihat di awal2 hubungan, ada yang baru terlihat setelah sekian lama…
Masalahnya macem2 ya. Dari mulai kdrt, pecandu, suka main dan buanyaak lagi.
Saran saya cuma satu: Persiapkan diri untuk menghadapi musibah.
Ada beberapa saran yang saya mau tulis disini. Ini cuma saran loh ya, berdasarkan pengalaman saya pribadi dan dengar cerita teman2.
1. Sekaya apapun mas bule kamu, coba deh kamu cari penghasilan sendiri. Punya penghasilan sendiri itu membanggakan loh. Seberapun gajinya.
2. Kalau kamu punya penghasilan sendiri, dan mas bule tetap mau bayarin hura-hura kamu, coba tabung saja penghasilanmu itu.
3. Mas bulemu super baik? Super kaya? Pastikan kalian punya asuransi jiwa yang cukup buat bayar KPR rumah (kalau ada rumah yg belum lunas) ongkos pemakaman, hutang2.
4. Bangun angka kreditmu. Terutama di Amerika, angka kredit ini hubungannya bisa ke tempat tinggal, cari kerja.
Almarhum ibu sempat menasehati saya untuk buka rekening atas nama saya sendiri.
Kenapa gitu?
Sering kali pasangan kita ceroboh dalam mengelola uang atau cara mengelola uang mereka gak klop sama cara kita.
Juga kata beliau, dengan punya rekening sendiri, kita tahu kalau kita ada cadangan di luar penghasilan mas bule. Dan kita juga gak harus merengek-rengek kalau kita mau beli sesuatu.
Dengan punya uang sendiri yang kita sisihkan, kita tahu kalau kita harus bercerai misalnya, kita ada uang, baik itu uang untuk sewa pengacara dan memulai hidup sendiri, atau uang buat “kabur”
Kata teman saya yang notabene orangnya sangat planned ahead, paling enggak kita punya simpanan yang cukup buat ongkos pulang ke Indo right away dan ongkos hidup di Indo tanpa kerja selama 3-6 bulan.
Saya pribadi sadarnya belakangan ya. Baru belakangan ini, saya “beberes” keuangan.
Mudah2an lain kali saya bisa berbagi lebih detail tentang gono gini keuangan sebagai imigran, istri bule yang gak the haves 😘
Hadewhhhh…pandemi bikin saya “gatel” pengen keluar. Masalah Covid-19, saya pribadi orangnya lebih relaks dibanding anak dan si bapak. Dalam arti, saya gak paranoid kalau ke tempat umum, tapi anak dan si bapak lebih milih buat gak ke tempat umum sebisa mungkin. Beberapa kali saya ajak pelisir, mereka berdua gak mau.
Saya kan ambil cuti akhir tahun, setelah maksa, akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan ke French Lick, Indiana dan nginap di West Baden Springs hotel.
Kami sebelumnya sudah sering mampir di hotel ini, tapi gak pernah nloginap. Dan kami jatuh cinta banget sama ini hotel ini. Jadi keputusan untuk menginap disini, boleh dibilang win-win lah.
Hotelnya hotel tua ya, tapi keren abis. Karena atriumnya itu atrium terbuka dengan kubah raksasa, yang pas jaman ini hotel dibangun, sekitar 1900, struktur seperti ini langka.
Atrium lobi hotel West Baden Springs
Yang bikin saya tambah senang, pas saya baca2 situs hotel, hotel ini ternyata pet friendly hotel. Jadi saya bisa bawa anjing saya !!
Kami berangkat hari Minggu, tanggal 27 Desember 2020. sekitar jam 2 an. Perjalanan ke French Lick dari tempat tinggal kami itu kira2 1.5 hingga 2 jam an.
Sampai di lokasi, kami langsung bisa masuk kamar. Karena kami bawa anjing, kamar kami di lantai 2, yang memang khusus untuk tamu2 yang bawa binatang peliharaan mereka.
Jendela kamar kami dari lobi, itu anjingku lagi nyariin aku dari kamar
Dari hotel, anjing kami di beri mangkok air/makanan, treat dan kantong 💩.
Kunci kamar bergambar foto hotel
Hari ini, kami niatnya cuma leha2 dikamar dan nikmati alunan musik piano di lobi.
Senangnya dengerin alunan piano dan pergantian lampu di lobi
Untuk makan malam, kami makan di rumah makan, Ohana, pusat kota French Lick. Karena masih suasana Natal, baik di kota maupun di hotel banyak hiasan lampu2.
Pas balik, si anak laper lagi, jadilah kami pesan makanan dari room service, sup bawang dan coklat brownie.
Supnya enak, brownie nya juga enak, gak terlalu manis -saya makan tanpa frosting.
O iya, kamar kami menghadap ke atrium, jadi kami bisa lihat atrium kapan saya, bahkan bisa nikmati alunan musik dari pemain piano di lobi.
Hari Senin, 28 Desember 2020
Setelah mandi, kami pesan makanan dari resto di lobi hotel. Karena kami bawa anjing, kami tidak bisa duduk makan di tempat yang disediakan resto, tapi bisa makan di tempat duduk yang tersebar di lobi.
Semalam kami putuskan, kalau hari ini kami akan lihat stables di belakang hotel dan akan hiking ke Hemlock Cliffs.
Saya sebenarnya pengen banget horse back riding ya ($45 per orang. 45 menit), cuma anak saya gak mau..ya sudahlah..jadi kami cuma lihat2 kuda saja.
Sebelum ke lokasi hiking, kami sempatkan mampir ke French Lick Wine Distillery . Karena gak niat2 amat, saya iseng wine tasting , saya pilih $4 buat icip 5 jenis minuman anggur.
Saya sudah pernah wine tasting sebelumnya, jadi agak2 ngeh gitu. Saya bilang kalau saya senangnya minuman anggur yang “manis”. Waktu dikasih daftar minumannya, si mbak kasih tahu mana kira2 yang saya suka.
Dari 30 jenis minuman anggur di daftar saya pilih: French Tickle, Pretty in Pink, French Lick Red, Blueberry dan Mon Cheri.
Tapi sama bartendernya, saya dikasih tambahan 2 :Moscato dan Tropical Frost.
Ternyata, saya suka sama French Tickle , anggur dari jenis anggur Catawba dan berkarbon, alias fizzy dan Blueberry, anggur dengan rasa blueberry….
jadilah beli making satu botol. Mahal juga ih. Ya gpp lah, sekali setahun….
Hasil icip2 minuman anggur
Setelah icip2, kami menuju ke Hemlock Cliffs. Dari app All Trails, trail yang saya pilih ini dikategorikan cocok buat anak2, boleh bawa anjing, ada air terjun dan jaraknya cuma 1.2 mil.
Hasilnya?! Ini boleh dibilang salah satu trail favorit saya! Gak terlalu terjal, meskipun ada beberapa bagian trail yang kami harus ekstra hati2 , biar gak jatuh, gak terlalu berbatu atau berlumpur. Banyak tebing2 unik yang kita bisa explorasi.
Selesai hiking, kami balik ke hotel.
Leha2 lagi di lobi sama anak saya…
Selasa, 29 Desember 2020.
Hari ini kami check out ya. Nah, saya pikir, masa sik, sudah nginap di hotel yang pet friendly yang bahkan ada menu makanan khusus buat si anjing, saya gak pesan? Jadilah saya pesan daging gulung ala Mosses (Mosses Meatloaf) untuk sarapan anjing saya di hari terakhir kami disini.
Anjingku makan dengan rakusnya
Setelah check out, kami mampir di indoorgo karting. Sebelumnya kami sudah pernah main gokart di sini, dan anak saya selalu suka. Jadi ya mumpung disini, kami sempatkan main.
Selesai main go-kart, kami lanjutkan ke Wilsten drive thru safari . Sayangnya saya tidak bisa ikut, karena mereka tidak memperbolehkan anjing selama di DT.
Nah..pas saya dan anjing saya nunggu si anak dan bapak ber DT, kami nongkrong depan kandang kanguru. Lucu banget sih kanguru ini, saya pikir.
Selfie sama kanguru dari luar kandang
Pas si anak dan bapak balik dari DT ria, saya bilang kalau saya mau ‘main’ dengan kanguru dan kasih makan jerapah.
Untuk main dengan kanguru, pengunjung cukup bayar $7.50. Di kandang kanguru, selain kanguru, ada Llama Hiram bernama Pacman, 2 rusa, satu laki namanya Guy dan satu cewek, Naomi. Dan ternyata si Guy ini asalnya dari Indonesia!
Si Guy ini anteng banget, gak keberatan di elus2. Kalau si Pacman jahil. Sementara kanguru2 yang bersliweran, ada satu, Sydney yang memang demen dielus2.
Jadilah saya selfie an dong sama Sydney dan Guy…
Buat kasih makan jerapah, pengunjung tinggal beli wortel $2. Saya tadinya gak yakin bakal bisa kasih makan si jerapah, habis saya berasa pendek banget. Tapi ternyata si jerapah bisa nyamperin wortel di tangan saya tanpa masalah…🤩
Setelah wortel ditangan habis, kami kembali ke Louisville, KY.
Meskipun singkat, kami cukup senang dengan pelisiran pendek kami kali ini.
Covid-19 jelas membuat banyak hal2 yang berubah ya. Contoh : kamar kami tidak di bersihkan setiap harinya. Kalau minta ganti handuk, sampo, sabun, botol air, tamu harus minta. Hotel hanya untuk tamu hotel (sebelum Covid-19, bukan tamu hotel boleh masuk). Pas masuk ke area hotel, temperatur kami dicek, nama kami di lihat di daftar kamar mereka, lalu kami diberikan gelang kertas untuk keluar masuk hotel. Gelang kertas ini harus diganti setiap harinya. Masker jelas harus dipakai selama tamu2 wara wiri di ruang umum. Masuk lift, disarankan satu grup. Ribet ya?
Memang sik..tapi kebanyakan tamu2 mentaati aturan koq. Jadi ya saya pribadi gak terlalu khawatir.
Begitu kali ya komentar kebanyakan teman2. Ya gak apa2 juga sik. Pilihan kalian buat berkomentar.
Jujur saya disini merasa sangat kewalahan karena semua2nya harus saya lakoni sendiri. Dalam arti, saya tidak ada ortu atau sanak saudara yang saya bisa datangi / hubungi sesegera mungkin.
Teman2? Ya ada sik. Cuma pernah saya curhat gitu, tapi reaksinya nyakitin aja, yang ada saya ciut hati.
“Apa susahnya cerai?” (Memang situ mau bayarin ya?)
“Namanya lelaki, nafsunya lebih gede”
“Itu kan memang tugas kamu sebagai istri” (si suami make piring , tempat tidur, kamar mandi dsb juga kan??!)
Ya udah sabar aja…(beli dimana ya si sabar ini?)
Dan…seterusnya…
Yang ada saya tambah emosi. Tambah marah. Kheki.
Saya butuh “orang ketiga” tempat saya cerita apa adanya. Orang ketiga yang “waras”, tidak bias, punya latar belakang/pengetahuan ilmiah tentang mental, perilaku manusia atau istilahnya psikologi.
Orang ketiga yang tujuannya membantu saya menjadi versi yang lebih baik, tanpa menghakimi saya.
Orang ketiga yang saya tahu tidak akan comel sama cerita saya atau sibuk nyebar gossip.
Setelah capek dicela sama teman sendiri, dan curhatan saya dijadikan bahan gunjingan sedap, dan juga menyadari kalau kesehatan mental saya menurun drastis. saya putuskan untuk cari terapis.
Dari terapis, saya belajar meluangkan waktu untuk saya sendiri. Dari terapis saya belajar untuk menyibukkan diri dengan hal2 yang positif . Dan yang paling penting, saya belajar mengenali diri saya sendiri.
Buat saya punya terapis itu perlu banget, terutama buat mental saya.
Tahun 2019, saya diajak teman ikutan kelasbikin terrarium. Dari hasil kelas yang saya ikuti, saya bawa pulang gelas berisi 3 tanaman jenis sukulen.
Saya benernya skeptis banget tanaman saya akan terus hidup, soalnya saya boleh dibilang pembunuh tanaman.
Eh. Ndilalah, tanaman2 di terrarium ini tetap hidup, tumbuh jadi besar malah!
Secara saya taruh di ambai jendela pas musim dingin dan boleh dibilang saya cuekin.
Lihat deh foto dibawah ini, tanamannya sampai mencuat keluar toples.
Saya jadi semangat! Ternyata sukulen ini “bebal” sama saya!!
Nah, sejak itu saya jadi kesengsem sama tanaman sukulen ini. Mulailah saya beli ini, itu, nyobain media yang berbeda2 buat pot tanaman2 sukulen saya.
Pot tanah liat, pot keramik, pot kaca, pot metal, pot gantung pakai sabut kelapa, pot rotan, terrarium.
Jadi sukulen2 ini yang saya perhatikan, penampilannya berubah tergantung : suhu, pengairan, kadar matahari yang didapat dan juga media.
Contohnya si kiwi, pas pertama beli, saya taruh di pot tanah liat, wuih sumringah dia. Trus, saya sempat pindahkan ke pot lain…loh koq “sekarat”? Daun2nya mengurus gitu?!
Jadi saya pindahkan lagi, sekarang dia kembali sumringah. Meskipun belum balik membara lagi..
Satu tanaman sukulen bisa berubah warnanya, ada yang jadi “membara” kalau kena banyak sinat matahari, ada juga yang merona malah di musim dingin.
Saya paling demen sama sukulen yang di ujung daunnya atau pinggir daunnya berwarna merah jambu atau bertitik merah jambu. Imut banget!
Saya juga belajar nama2 mereka. Ada sedum, ada crassulla,aloe, aeonium dll. Saya belum berhasil menumbuhkan tipe crassula. dan sedum.
Kiwi, yang saya sebut sebelumnya itu tipe aeonium. Lidah buaya tipe aloe.
Tipe Crassulla
Sejauh ini favorit saya adalah Echeveria, yang banyaaaak jenisnya. Echeveria ini mudah dikenali karena bentuknya yang seperti bunga mawar. Dan banyak Echeveria yang berwarna ungu, warna favorit saya.
Echeveria mudah berkembang dan cenderung gak rewel, tapi tetep saya masih sering gagal bikin dia sumringah.
Salah satu yang bikin saya kaget waktu saya mulai hobi ini adalah, ternyata mereka bisa berbunga loh!!
Dan yang bikin saya bangga adalah, salah satu Echeveria saya sempat berbunga!! Tadinya saya pikir, cuma “beranak”, yang saya cukup senang lah
Bayi sukulen di bawah “ketek” si ibu
Tapi pas saya ngeh kalau itu bunga, saya lebih girang lagi! Dua kali loh sukulen saya berbunga!
Semua tanaman2 saya, saya taruh di balkon. Tapi masuk musim dingin saya masukkan mereka ke jendela di kamar tidur, komplit dengan lampu pertumbuhan untuk menolong mereka dapat sinar yang cukup.
Memang susahnya tinggal di negara 4 musim tapi mau bertanam sukulen ya begini. Kecuali kita tinggal di CA, NV,AZ FL, yang boleh dibilang gak dapat salju, ya pas musim dingin harus selalu masukkan tanaman2 ke dalam rumah.
Saking demennya saya sama si sukulen, saya langganan kotak tiap bulannya dari Succulent Studio. Setiap bulan saya bayar $16.50, untuk 2 tanaman sukulen.
Baru2 ini saya ikutan IGlive salah satu profil penjual sukelen di IG dan beli dari mereka.
Yang jelas setiap hari, saya selalu tengokin tanaman2 saya. Melihat mereka tumbuh, berbunga dan beranak itu menyenangkan loh.
Bulan November ini, saya genap 10 tahun kerja di Gap Inc.
Saya ingat banget pertama kali saya kerja di toko saya cuma jadi pengarah pembeli yang antri panjang di depan kasir. Maklum, hari itu hari Jumat setelah Thanksgiving alias Black Friday. Disini Black Friday artinya belanja gede2an buat Natal.
Ngapain sik jadi mbak2 penjaga toko, gitu kali ya kata pembaca. Rendah amat? Haduh..kerja shift2 an? Ih ogah deh.
Buat saya, kerja di ritel, saya belajar buat jadi tahu diri. Belajar ngerti pengorbanan, bayangin musti kerja sampai malam hari, akhir pekan, liburan hari2 besar. Berat loh!
Tapi saya jadi “tahu”, jadi lebih ngeh. Ngeh kalau segimana banyaknya jam kerja yang kamu ambil, push $7.25 per jam , tidak akan bisa hidup layak.
Jadi juga jadi bisa lebih mensyukuri apa yang saya miliki. Untung ada pasangan yang gajinya mencukupi biaya hidup keluarga. Untung kerjaan saya ini bukan kerjaan utama.
Perayaan 10 tahun saya jadi pramuniaga toko, buat saya adalah perayaan pendewasaan, perayaan perjuangan hidup, perayaan kerja keras apapun itu jenis pekerjaan saya, perayaan menghormati pekerjaan orang lain apapun jenisnya.
Semoga kita semua tetap hormat pada sesama ya.
Jangan mentang2 kita di depan layar, jadi petantang petenteng, orang yang di belakang layar juga sama2 manusia loh!
Iya emang ‘ngeri’ dan tabu ya buat di omongin. Tapi saya pengen banget nulis ini biar teman-teman, terutama teman2 perempuan lebih sadar diri.
Berdasarkan hasil pencarian di Google, definisi pelecehan seksual versi wikipedia adalah sbb:
Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang Tak Diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seksual.
Kebanyakan dari kita – termasuk saya – tahu terminologi ini, tapi waktu mengalami sendiri, kadang kita jadi meragukan ‘kebenaran’nya, dalam arti kita jadi meragukan apa iya, ini yang namanya pelecehan seksual.
Setelah mengalami sendiri, saya benar-benar jadi pengen mengerti luar dalam masalah pelecehan seksual ini.
Memang sering kali perilaku (baca pelecehan) yang kita alami cenderung tersamar, contohnya:
“Aww..kamu seksi banget deh pakai baju itu” banding kan dengan
“Emm.emm..emm…ini mah bukan keren lagi, tapi ‘hot’ banget, kalau kamu pakai baju itu, aku ajak kencan deh.
Kelihatannya kalimat diatas ‘baik2’ saja kan? Tapi kalimat kedua diucapkan dengan gelengan kepala sambil seakan2 bergairah? kepengen? birahi? dan kamu yang mendengar jadi gak nyaman, itu pelecehan namanya.
Atau misalnya kita ketemu teman2, trus saling peluk, cipika, cipiki. Itu biasa. Saya sendiri orangnya suka merangkul dan kasih ‘sun dari jauh. Tapi kalau tiap kali ketemu, ngeles pengen meluk, lagi dan lagi dan lagi, atau tiba-tiba sok imut angkat2 kita padahal kita gak minta, itu namanya pelecehan.
Atau ada teman kerja demen banget berbagi cerita ‘bobo-bobo siang atau malam’ mereka saat waktu kerja. Coba deh pikir, ngapain sih lo, cerita2 kalau ditawarin esek-esek sama A, B dan C dst? Maksudnya apa? Situ jagoan? Situ nawarin? Situ kepengen? Gak penting kan? lagian ini di tempat kerja, amat sangat tidak profesional banget.
Pertama bukan tempatnya, gak peduli kita kerja dimana, mau di kantor elit, mau di toko seks,tempat kerja ya tempat kerja.
Kedua topik BBS bukan topik untuk dibagikan ke publik.
Ketiga: itu bisa dikategorikan pelecehan , terutama kalau yang mendengar merasa gak nyaman.
Pada dasarnya apapun tindakan kita, apa itu cuma kata-kata, maupun perbuatan, kalau tujuannya esek-esek, dan yang mendengarkan gak kepengen, trus kita tetap melakukan hal yang sama, itu pelecehan.
Ini saya ambil contoh2 lain yang dikategorikan pelecehan seksual dari wikipedia:
Saya pribadi orangnya bukan tipe yang dikit2 ngadu. Dikit2 marah. Dikit2 sensi. Atau tipe putri yang pengen dijunjung tinggi.
Biasanya pertama-tama, saya melengos aja atau menjauhkan diri, kalau terlibat dalam pembicaraan BBS. (dibaca : Maaf saya tidak tertarik dengan percakapan ini).
Masih juga nyerempet2, saya ketusin. Apaan sik?
Tetep ngeyel? saya blok.
Eh…masih ndableg? Saya lapor.
Karena sekarang, saya merasa sangat tidak nyaman berinteraksi dengan ybs’. Karena saya ‘geli’ alias jijik sama kelakuan si peleceh.
Yang jelas ya yang saya belajar dari pengalaman ini adalah:
Jangan sungkan2 bilang blak2 an : Saya tidak suka omongan anda
Jangan sungkan2 bilang blak2 an : Tolong jangan sentuh / peluk saya, saya tidak suka
Bahkan ceplosin : Perkataan kamu tidak senonoh.
Kalau kita merasa tidak nyaman akan perlakuan seseorang, seringkali adalah karena perlakuan ybs ya tidak pada tempatnya. Percaya sama insting kita sendiri.
Hampir di semua tempat kerja, ada bagian pelaporan yang kita bisa isi dan kirim ke bagian sumber daya manusia.
Mengerti kalau cuma karena kita pakai baju yang terlihat seksi, bukan berarti kita artinya kita membolehkan orang2 colek2, memelototi kita atas bawah penuh hasrat gak jelas
Kalau kita gak yakin apakah komentar kita ‘menyempet’, mending gak usah dilontarkan sekalian, karena interprestasi orang bisa beda
Pelecehan seksual tidak pandang bulu : perempuan -laki, perempuan-perempuan, laki-laki, tua-muda
Kenapa harus lapor? Karena pelecehan seksual adalah tindakan yang salah dan harus diberhentikan supaya tidak terulang lagi baik terhadap kita sendiri maupun orang lain.
Terus terang saya merasa takut, merasa ‘ragu’ (saya melaporkan ini benar tidak ya), itu wajar. Saya sampai harus menelpon temen saya buat ‘temani’ saya bikin laporan.
Jangan mundur. Kita bukan cari sensasi, bukan cari kompensasi.
Kita melakukan hal yang benar.
Jaga diri. Jaga hati.
UPDATE
Saya akhirnya melaporkan ke manager saya langsung kelakuan ybs ( selain juga melaporkan online ke bagian SDM. Karena 2 hari berturut2 ybs lagi2 nyentuh saya, dimana saya sudah jelas2 bilang Saya tidak mau. Saya tidak suka kelakuan kamu. (NO/STOP/I DON’T LIKE IT)
Buat saya, artinya ybs tidak menghormati saya sebagai rekan kerja. Dia menganggap enteng saya..
Tolong ya pembaca baik lelaki maupun perempuan, NO MEANS NO.
Sepertinya hiking di musim gugur, adalah keharusan deh buat saya. Karena selain udara sudah sejuk, pergantian warna dedaunan juga membuat pemandangan lebih apik.
Tahun lalu, keluarga kami pergi ke Red River Gorge, secara tahun ini ada si Covid19, kami tidak pergi menginap seperti tahun lalu, tapi saya yang sudah kena ‘cabin fever’ merengek-rengek minta hiking ke danau Nolin yang 1.5 jam sebelah selatan Louisville, KY.
Jadilah hari ini kami pergi ke danau Nolin. Sepanjang jalan, kami lihat pepohonan sudah ramai berwarna warni kuning, jingga dan merah keunguan.
Sampai di tujuan, di lokasi ada beberapa trail yang bisa dipilih. Kami ambil ‘waterfalls’ loop trail yang 1.9 mil.
Haduh seneng deh hiking di trail ini, sejuk, pohon2nya rindang dan lagi-lagi karena pas musim gugur, warna warni daun juga tambah bikin hiking kami asik banget. Meskipun tidak ada air terjunnya – karena di Kentucky, yang namanya air terjun itu sangat tergantung dengan hujan dan relatif voume air terjun disini kecil, dibanding air terjun di negara-negara bagian barat US- ini salah satu trail favorit saya.
Kalau saya boleh kasih saran ni, luangkan deh waktu untuk berada di alam. Selain udara segar, pemandangan yang cantik, tubuh diajak aktif, juga biar otak gak sumpek di rumah melulu!!
Saya sendiri awalnya bukan ‘anak alam’, ogah banget yang namanya jalan2 ke hutan. Tapi setelah pindah ke Amrik, diajak kemping, jalan-jalan di taman kota, hutan2 alam, saya lama2 hobi hiking dan bisa menikmati alam , sungai, lembah, pepohonan, meskipun tetap gak nolak diajak ke NY atau Chicago. 😉
Beberapa bulan setelah ibu meninggal bulan April tahun 2019, salah satu kenalan nyeletuk “Ngomong2 lo dah dapat jatah warisan blom?”
Saya dengernya cengengesan…
Warisan? Haduh sepertinya kata ini sudah lama gak nongol di kosa kata saya ya. Bukan kenapa2, sejak pindah ke Amrik, boleh dibilang saya harus “ngerelain” meninggalkan dunia Indonesia saya.
Dari masalah makanan, ngobrol pakai bahasa Indonesia, cara beberes tempat tidur, cara bab, cara masak, berkunjung ke kerabat, bersapa ke kerabat kapan saja, menghadiri hajatan, baik itu hajatan hura2 ataupun hajatan duka cita. Termasuk juga mikirin warisan.
Saya sih tahu diri sekali ya kalau saya tidak turun tangan saat orang tua sakit hingga beliau2 meninggal. Jadi saya juga amat sangat tahu diri gak usik2 masalah warisan tetek bengek.
Harapan saya cuma semoga warisan ayah ibu berguna buat orang2 yang memang butuh.
Lagipula kalau tho saya dikasih warisan..tetek bengeknya lebih bikin pusing.
Kalau ditanya, “Memang kamu gak mau gitu “harta” ayah atau ibumu?”.
Jujur, ada beberapa barang ayah ibu yang pengen saya bawa ke sini. Kebanyakan bukan masalah nilai nominal, tapi lebih ke masalah kenangan, lebih masalah ke ‘sesuatu yang mengingatkan saya kepada almarhum ayah dan ibu’.
Untungnya ya, sewaktu beliau2 masih hidup, saya beberapa kali dikirimkan barang2 dari Indo. Yang sampai saat ini saya simpan baik2, apakah itu perhiasan berharga maupun boneka panda dari Cina.
Mungkin saya satu2nya orang dewasa yang masih suka memeluk boneka panda ya? Ya gak apa2.
Nah ngomong masalah kenang2 an. Berhubung saya orangnya praktis, saya pikir daripada ngarep yang gak jelas, mending saya create sendiri kenang2 an dari ayah ibu sebagai warisan mereka kepada saya.
Mau tahu apa yang lekat di ingatan saya tentang “harta almarhun ayah ibu” dan sukur banget saya berhasil “jadikan” warisan / kenang2 an buat saya?
1. Pemisah ruangan / tirai kerang
Saya ingat antara wastafel dan ruang TV, ibu taruh pemisah ruangan terbuat dari kayu yang ada kaca warna warni (stained glass). Entah kenapa saya senang sekali dengan pemisah ruangan tersebut.
Saya juga ingat kalau suatu waktu di depan pintu kamar saya, saya gantung hiasan kerang jadi seperti tirai.
Untuk kenangan ini saya kebetulan nemu pemisah ruang yang makai kerang di toko World Market beberapa tahun lalu. Pas lihat ini saya langsung ingat rumah Cibubur. Jadilah saya beli.
2. Lampu stained glass
Di ruang makan kami, saya ingat banget, ibu pasang lampu stained glass. Kalau tidak salah warnanya dasarnya putih, ada burung biru. Seperti juga pemisah ruang, lampu ini salah satu favorit saya.
Dilalah, saya nemu lampu stained glass di garage sale. Kalau tidak salah, saya beli $10 , tapi rasanya seperti punya harta karun loh!
Saat ini lampu cantik ini belum punya tempat yang cocok, tapi saya akan selalu bawa lampu ini kemana pun saya pergi
3. Tanaman
Almarhum ibu itu, setiap Sabtu/Minggu pagi rajin keluar, untuk ngurus tanaman2 beliau. Beberapa tanaman yang saya kengenin dari halaman rumah kita yaitu bunga melati, kembang sepatu, bunga kenanga, bunga sedap malam dan banyaakkk lagi.
Berhubung saya tinggal di negara 4 musim, gak mungkinlah saya bisa nanam pohon2 tersebut. Tapi pas saya pindah ke KY yang notabene cuacanya lebih banyak panasnya dibanding pas tinggal di MT, tahun lalu, saya nekatkan beli bunga melati (baca cerita saya disini).
Tahun ini saya lagi2 nekatkan beli tanaman kembang sepatu. Sengaja saya pilih warna kuning, karena saya ingat almarhum ibu punya bunga sepatu campuran merah/kuning. Kelopaknya kuning, tapi bagian tengahnya merah merona. Cantik banget.
Ada banyak lagi sik ya kenang2an yang saya pengen create. Misalnya koleksi kristal2 ibu, sabun2 wangi ibu.
Yang saya sekarang sedang cari untuk menjadikan kenang2 an saat tinggal sama ortu menjadi kenyataan adalah sendok teh yang cantik2.
Saya ingat koleksi sendok2 teh ibu. Imut2 dan cantik. Di sini yang namanya sendok teh ya cuma stainless steel saja gitu. Saya sempat lihat di toko asia di tempat saya jual sendok2 teh cantik..tapi belum ada yang saya sreg.
Mudah2 an satu hari saya ketemu ya.
Ada gak teman2 yang punya sentimen saya seperti saya? Yuk berbagi
Tanggal 11 Juli, saya ulang tahun. Ih sudah emak-emak banget ternyata. 😉
Rencananya saya mau ke Philly, tapi apa daya Covid tiba, jadi rencana ke Philly kudu dibatalkan. (Saat menulis ini negara bagian PA relatif belum dibuka kembali sejak pembatasan Covid di bulan Maret 2020, dibanding dengan negara bagian KY yang sudah dalam tahap 2 pembukaan ekonomi). Trus kemana dong? Pikir saya? Rasanya ‘gatel’ tetap pengen jalan2, tapi yang ‘relatif’ lebih aman, yaitu, ya..jalan pakai mobil sendiri.
Tapi kemana? setelah mikir ini itu, saya putuskan mau jalan ke negara bagian tetangga di selatan, alias Tennesse buat hiking lihat air terjun. Karena saya memang selalu senang jalan ke air terjun dan juga daerah yang saya lirik, Tellico Plains, lokasinya tidak jauh dengan Chattanooga yang kami sekeluarga pernah lakoni. Jadi saya agak PD lah, karena rencananya saya mau pergi bertiga doang, dengan anak saya dan anjing saya pakai mobil kecil saya, si smartie.
Hari Jumat, tanggal 10 Juli, kami bertiga mulailah jalan kendara ke Tellico Plains. Kami berangkat jam 10 pagi, lewat interstate 64 timur ke lokasi. Sampai di lokasi kira2 jam 4 sorean. Kabin yang saya pesan murah,namanya Silver Top Cabin at Tellico Plains harganya $60 per malam dari airbnb.com. Dan bersih lagi! dan pemiliknya ramah dan baik, karena saya travel cuma sama anak, masalah bersih dan keamanan jadi faktor utama ya.
Karena sudah sore, kami cuma keliling2 kota, lihat tempat2 makan dan lokasi air terjun. Rencana saya, disini kami akan kunjungi 3 air terjun, Bald River Falls, Baby Falls, Conasauga Falls, ke kota Chattanooga untuk eksplorasi lebih detail, karena terakhir kami disini, gak sempat mampir banyak tempat dan cari tempat berenang alam alias swimming hole kalau istilah disini.
Hasilnya?
Masalah air terjun? asli saya puas.
Bald River Falls, pengunjung bisa lihat dari jalan, atau parkir dan turun ke air terjun sedekat mungkin atau kalau mau ya hike ke atas air terjun. Saya sudah sangat bahagia melihat si Bald River dari bawah dan dari jalan. Mendengar gemuruh air, rasanya ademmmm banget!
Bald River Falls dari sampingSungai Tellico
Bald River Falls
Baby Falls, lokasinya berdekatan dengan Bald River Falls, tidak se-spektakuler, Bald River falls, tapi tetap apik untuk dilihat. Apalagi di tempat parkiran disediakan meja2 piknik. Saya mah bisa duduk batu-batu besar di tepian sungai Tellico berjam-jam cuma ngeliatin arus sungai menderu-deru.
Jalan ke dua air terjun diatas itu mudah, berliku2 sik, tapi ya aspal penuh. Jadi kudu selalu perhatikan jalan.
Conasuga Falls….nah…ini agak beda dengan 2 air terjun sebelumnya. Pertama akses ke air terjun ini, cuma jalan kerikil dan sempit dan banyak bolong2 dibeberapa bagian! saya yang pakai smartie saja, keder pas mikir kalau ada mobil papasan gimana ini? (untungnya gak!) dan musti pinter2 menghindari bolong sana bolong sini. Kalau hujan mah, jangan deh kalau saya bilang.
Selain masalah akses, masalah parkir juga nyebelin. Tempat buat parkir cuma buat buat 5-6 mobil ‘normal’. Kalau ada mobil yang parkirnya serampangan, yah nasib lah, musti nunggu ada yang keluar. Untungnya lagi pas saya sampai, ada mobil yang keluar, jadi saya dapat tempat parkir.
Kalau Bald River Falls/Baby Falls, akses untuk lihat air terjunnya juga relatif gampang, akses ke Conasuga ini amat berbatu2, asli musti lihat kemana kaki kita akan menapak, kalau enggak bisa2 kesengkle – pas saya disana, ada ibu yang kesengkle pergelangan kakinya dan harus digotong sama ambulans.
Sampai di lokasi……wahh….kelelahan terhapus deh! cantik dan pengunjung bisa duduk-duduk ngaso dekat air terjunnya tanpa takut tergelincir atau terbawa arus.
Conasauga Falls tampak depanBertiga di Conasauga FallsAnakku dan Conasuaga Falls
Masalah swimming holes?
Nah..saya sih sudah pernah ke swimming holes yang lebih asik ya..yang kami datangi, Soddy Creek, ibaratnya cuma berenang di sungai saja. Ada sik swimming holes di lokasi yang lain, tapi sayangnya lagi2 masalah tempat parkir sangat terbatas! pas kami datang, kami gak bisa masuk karena parkiran penuh, dan penjaga taman sama sekali gak ramah sama kami. Dan lokasi swimming holes yang satu dengan yang lain agak2 jauh. Males.
Masalah explorasi kota Chattanooga?
Naah…efek Covid masih berasa banget ya. Resto2 yang tadinya ada ruang makan terbuka, semua ditutup. Toko2 lokal juga tutup lebih cepat. Jadi kurang semarak gitu? dan hadewh…masalah parkir juga..kudu parkir di parkiran yang bayarnya $5-$8 per 3 jam…gak relaaaaa…;-)
Oh iya..saat pulang, kami sempat mampir di satu air terjun lagi, namanya Ozone Falls. Astagaaa…..jarak dari parkiran ke air terjun cuma 3/4 mil sik..cuma bebatuan semua!! Kalau mau kesini, jangan lupa bawa walking stick deh! Air terjun Ozone bukan tipe air terjun bergemuruh dengan volume air banyak, tapi tipe air terjun ‘langsing’ dan ‘tinggi’ dimana ada kolam buat berenang2. Berhubung kami sudah mode balik ke rumah, anak saya gak mau berenang wae.
Ozone Falls
Mudah2 an pembaca menikmati foto2 dan video pendek yang saya pajang disini yaaa.