sehari-hari

10 Tahun Jadi Pramuniaga Toko

Bulan November ini, saya genap 10 tahun kerja di Gap Inc.

Saya ingat banget pertama kali saya kerja di toko saya cuma jadi pengarah pembeli yang antri panjang di depan kasir. Maklum, hari itu hari Jumat setelah Thanksgiving alias Black Friday. Disini Black Friday artinya belanja gede2an buat Natal.

Ngapain sik jadi mbak2 penjaga toko, gitu kali ya kata pembaca. Rendah amat? Haduh..kerja shift2 an? Ih ogah deh.

Buat saya, kerja di ritel, saya belajar buat jadi tahu diri. Belajar ngerti pengorbanan, bayangin musti kerja sampai malam hari, akhir pekan, liburan hari2 besar. Berat loh!

Tapi saya jadi “tahu”, jadi lebih ngeh. Ngeh kalau segimana banyaknya jam kerja yang kamu ambil, push $7.25 per jam , tidak akan bisa hidup layak.

Jadi juga jadi bisa lebih mensyukuri apa yang saya miliki. Untung ada pasangan yang gajinya mencukupi biaya hidup keluarga. Untung kerjaan saya ini bukan kerjaan utama.

Perayaan 10 tahun saya jadi pramuniaga toko, buat saya adalah perayaan pendewasaan, perayaan perjuangan hidup, perayaan kerja keras apapun itu jenis pekerjaan saya, perayaan menghormati pekerjaan orang lain apapun jenisnya.

Semoga kita semua tetap hormat pada sesama ya.

Jangan mentang2 kita di depan layar, jadi petantang petenteng, orang yang di belakang layar juga sama2 manusia loh!

Pelecehan Seksual

Iiih..ngeri amat judulnya.

Iya emang ‘ngeri’ dan tabu ya buat di omongin. Tapi saya pengen banget nulis ini biar teman-teman, terutama teman2 perempuan lebih sadar diri.

Berdasarkan hasil pencarian di Google, definisi pelecehan seksual versi wikipedia adalah sbb:

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang Tak Diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal ataupun fisik merujuk pada seksual.

Kebanyakan dari kita – termasuk saya – tahu terminologi ini, tapi waktu mengalami sendiri, kadang kita jadi meragukan ‘kebenaran’nya, dalam arti kita jadi meragukan apa iya, ini yang namanya pelecehan seksual.

Setelah mengalami sendiri, saya benar-benar jadi pengen mengerti luar dalam masalah pelecehan seksual ini.

Memang sering kali perilaku (baca pelecehan) yang kita alami cenderung tersamar, contohnya:

“Aww..kamu seksi banget deh pakai baju itu” banding kan dengan

“Emm.emm..emm…ini mah bukan keren lagi, tapi ‘hot’ banget, kalau kamu pakai baju itu, aku ajak kencan deh.

Kelihatannya kalimat diatas ‘baik2’ saja kan? Tapi kalimat kedua diucapkan dengan gelengan kepala sambil seakan2 bergairah? kepengen? birahi? dan kamu yang mendengar jadi gak nyaman, itu pelecehan namanya.

Atau misalnya kita ketemu teman2, trus saling peluk, cipika, cipiki. Itu biasa. Saya sendiri orangnya suka merangkul dan kasih ‘sun dari jauh. Tapi kalau tiap kali ketemu, ngeles pengen meluk, lagi dan lagi dan lagi, atau tiba-tiba sok imut angkat2 kita padahal kita gak minta, itu namanya pelecehan.

Atau ada teman kerja demen banget berbagi cerita ‘bobo-bobo siang atau malam’ mereka saat waktu kerja. Coba deh pikir, ngapain sih lo, cerita2 kalau ditawarin esek-esek sama A, B dan C dst? Maksudnya apa? Situ jagoan? Situ nawarin? Situ kepengen? Gak penting kan? lagian ini di tempat kerja, amat sangat tidak profesional banget.

Pertama bukan tempatnya, gak peduli kita kerja dimana, mau di kantor elit, mau di toko seks,tempat kerja ya tempat kerja.

Kedua topik BBS bukan topik untuk dibagikan ke publik.

Ketiga: itu bisa dikategorikan pelecehan , terutama kalau yang mendengar merasa gak nyaman.

Pada dasarnya apapun tindakan kita, apa itu cuma kata-kata, maupun perbuatan, kalau tujuannya esek-esek, dan yang mendengarkan gak kepengen, trus kita tetap melakukan hal yang sama, itu pelecehan.

Ini saya ambil contoh2 lain yang dikategorikan pelecehan seksual dari wikipedia:

Saya pribadi orangnya bukan tipe yang dikit2 ngadu. Dikit2 marah. Dikit2 sensi. Atau tipe putri yang pengen dijunjung tinggi.

Biasanya pertama-tama, saya melengos aja atau menjauhkan diri, kalau terlibat dalam pembicaraan BBS. (dibaca : Maaf saya tidak tertarik dengan percakapan ini).

Masih juga nyerempet2, saya ketusin. Apaan sik?

Tetep ngeyel? saya blok.

Eh…masih ndableg? Saya lapor.

Karena sekarang, saya merasa sangat tidak nyaman berinteraksi dengan ybs’. Karena saya ‘geli’ alias jijik sama kelakuan si peleceh.

Yang jelas ya yang saya belajar dari pengalaman ini adalah:

  1. Jangan sungkan2 bilang blak2 an : Saya tidak suka omongan anda
  2. Jangan sungkan2 bilang blak2 an : Tolong jangan sentuh / peluk saya, saya tidak suka
  3. Bahkan ceplosin : Perkataan kamu tidak senonoh.
  4. Kalau kita merasa tidak nyaman akan perlakuan seseorang, seringkali adalah karena perlakuan ybs ya tidak pada tempatnya. Percaya sama insting kita sendiri.
  5. Hampir di semua tempat kerja, ada bagian pelaporan yang kita bisa isi dan kirim ke bagian sumber daya manusia.
  6. Mengerti kalau cuma karena kita pakai baju yang terlihat seksi, bukan berarti kita artinya kita membolehkan orang2 colek2, memelototi kita atas bawah penuh hasrat gak jelas
  7. Kalau kita gak yakin apakah komentar kita ‘menyempet’, mending gak usah dilontarkan sekalian, karena interprestasi orang bisa beda
  8. Pelecehan seksual tidak pandang bulu : perempuan -laki, perempuan-perempuan, laki-laki, tua-muda

Kenapa harus lapor? Karena pelecehan seksual adalah tindakan yang salah dan harus diberhentikan supaya tidak terulang lagi baik terhadap kita sendiri maupun orang lain.

Terus terang saya merasa takut, merasa ‘ragu’ (saya melaporkan ini benar tidak ya), itu wajar. Saya sampai harus menelpon temen saya buat ‘temani’ saya bikin laporan.

Jangan mundur. Kita bukan cari sensasi, bukan cari kompensasi.

Kita melakukan hal yang benar.

Jaga diri. Jaga hati.

UPDATE

Saya akhirnya melaporkan ke manager saya langsung kelakuan ybs ( selain juga melaporkan online ke bagian SDM. Karena 2 hari berturut2 ybs lagi2 nyentuh saya, dimana saya sudah jelas2 bilang Saya tidak mau. Saya tidak suka kelakuan kamu. (NO/STOP/I DON’T LIKE IT)

Buat saya, artinya ybs tidak menghormati saya sebagai rekan kerja. Dia menganggap enteng saya..

Tolong ya pembaca baik lelaki maupun perempuan, NO MEANS NO.

Hormati ruang pribadi seseorang.

Jangan lewati batas sopan santun.

Banjir!

Seperti halnya kota-kota di penjuru dunia, kota-kota di Amrik tidak luput dari kebanjiran. Sampah yang dibuang sembarangan, pengaliran air yang tidak tertata baik, volume air hujan yang melebihi rata-rata, lokasi kota bersebelahan dengan sungai besar menjadi faktor penyebab banjir.

Ini foto di taman di tengah kota Louisville. Diambil hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015.Selain tengah kota, dibeberapa tempat lainnya banyak jalan-jalan di tutup karena kebanjiran.

Ternyata banjir bukan cuma milik negara berkembang ya.

0314151919

Salah Mengeja

Siapa bilang bule itu selalu bisa mengeja lebih baik daripada kita-kita yang imigran?

Kalau teman-teman mungkin cuma lihat foto atau baca berita ringan di sosial media, saya sendiri sudah mengalami langsung salah eja kata-kata bahasa Inggris yang dilakukan oleh mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris.

Contohnya dibawah ini :

10373484_10152588958761267_4401330495858968946_n (1)

Saya yakin maksud hati menulis kata ‘healthy’

Sebetulnya masalah salah mengeja ini masalah sehari-hari di Amerika, bukan cuma anak-anak sekolah yang baru belajar mengeja, tapi orang-orang dewasapun banyak yang masih suka salah mengeja.

Kalau saya perhatikan malah orang-orang imigran cenderung lebih hati-hati dalam mengeja bahasa Inggris, mungkin karena di bawah sadar, kita tahu bahwa ini bukan bahasa kita, jadi kita lebih memperhatikan ejaan kata yang akan kita tulis?

Terus terang suami saya sendiri juga mengakui kalau dia bukan pengeja yang baik, seringkali saya yang memperbaiki ejaan kata-kata dia, meskipun secara tata bahasa saya masih ‘ngaco’ berat.

Kesimpulannya apa dong?

Kesimpulannya kita jangan takut belajar, jangan takut salah. Karena mereka yang bahasa ibunya bahasa Inggris pun masih banyak salahnya koq. Yuk..belajar bahasa Inggris lagi!!

Fasilitas Kerja : Indonesia vs. Amerika

Ha. Enak Indonesia kemana-mana! Di Indonesia selalu ada supir kantor yang siap membawa pegawai ke mana saja. Hampir semua pekerja kantoran di Jakarta, Indonesia ya pekerja penuh waktu yang artinya ada asuransi kesehatan yang dibayar kantor, semua pekerja bergaji bulanan (plus bonus). Makan siang mau berapa jam juga cuek, wong dibayar koq. Sakit? koq bingung ya istirahat di rumah, gaji tidak akan berkurang koq.

Hamil? tenang. Cuti melahirkan 3 bulan – gaji tetap mengalir. Setelah bekerja 1 tahun penuh, dijamin mendapat jatah liburan, 12 hari setahun dibayar.

Di Indonesia dunia Saya itu dunia pekerja kantoran. Jam 9 pagi hingga 5 petang. Saya selalu bekerja penuh waktu, hampir tidak pernah tahu yang namanya kerja paruh waktu – kecuali Ibu Saya sendiri yang bekerja 2 pekerjaan dan salah satunya adalah kerja paruh waktu.

Baru di Amerika Saya kenal dengan yang namanya pekerja jam-jaman. Yang hanya dibayar berdasarkan lamanya kita bekerja dikurangi makan siang. Yang hanya dibayar kalau kita bekerja, kalau kita absen bekerja karena alasan apapun, ya hilanglah penghasilan hari itu.

Waktu Saya kerja pertama kali, Saya agak-agak bingung waktu tahu kalau jatah makan siang 1 jam dan itu tidak dibayar. Heh? serius??

Kalau kita bekerja penuh 8 jam sehari, kita dapat 2, 15 menit istirahat yang dibayar. Dan untuk beberapa jenis pekerjaan, hal ini termasuk kemewahan, karena tidak selalu pekerja mendapat istirahat.

Di Amerika akhir-akhir ini sudah menjadi rahasia umum kalau perusahaan-perusahaan besar sibuk mengurangi biaya kepegawaian mereka. Salah satu hal yang paling umum dilakukan adalah tidak lagi mempekerjakan pegawai penuh waktu.

Kenapa? Karena pekerja penuh waktu itu = asuransi kesehatan harus ada, ada fasilitas hari sakit, ada fasilitas cuti hamil yang semuanya harus dibayar oleh perusahaan.

Terus terang baru kali ini Saya bekerja paruh waktu mendapat fasilitas asuransi kesehatan dan mendapat fasilitas libur dibayar. Sebelumnya sebagai pekeja paruh waktu Saya harus cukup puas dengan upah jam-jaman.

Kadang kalau kita tidak mengalami sendiri tidak terbayang ‘apa sih bedanya mendapat paid sick days atau paid holidays? Why it’s such a big deal?

It is a big deal.(well, for our family at least)

Contohnya waktu suami tergelincir di es dan harus dioperasi lutut, saat itu hanya dia yang bekerja. Setelah operasi dia harus tinggal di rumah selama seminggu. Untungya suami pekerja penuh waktu. Jadi kita tidak perlu bingung karena gaji dia tetap akan dibayar penuh oleh perusahaan meskipun dia sakit.

Atau waktu si kecil liburan musim semi. Ongkos camp itu $120 per minggunya, kalau Saya cuma ‘tidak bekerja’ berarti Saya kehilangan kira-kira $200++.Artinya meskipun Saya tidak bayar $120, tapi Saya kehilangan $200++ alias masih ‘bolong’ $180++.

Nah Saya dapat cuti dibayar, berarti Saya irit $120 dan tidak harus pusing mikir minggu ini tidak dapat bayaran.

Maunya sih ya, Saya dan suami dua-duanya dapat kerja yang mendapat fasilitas penuh….

Insha ALLAH some day….

enjoy-the-little-things-for-one-day-you-may-look-back-and-realize-they-were-the-big-things-15

Informasi menjual barang bekas di Amerika (dan dapat uang jajan tambahan) – Bagian Pertama

Kalau ada rekan-rekan yang suka membaca blog Saya, tulisan ini boleh dibilang sambungan dari tulisan ‘Contohlah…’ dan informasi ini sebelumnya Saya tulis di cerita itu, tapi koq ya setelah Saya pikir-pikir kurang cocok, jadi Saya revisi tulisan Saya tersebut dan ini tulisan murni mengenai informasi berjualan barang-barang (bekas) di Amrik.

OK? Mari kita mulai!

Nah, setelah Anda tinggal di Amrik, ada kemungkinan Anda mengalami salah satu situasi di bawah ini :

  • Anak Anda sudah bukan bayi lagi, dan sekarang Anda punya banyak barang-barang bayi yang sudah tidak terpakai lagi
  • Anda akan pindah ke tempat baru, banyak barang-barang yang Anda sudah bosan dan tidak mau pakai lagi
  • Tiba-tiba Anda menjadi kurusan atau lebih makmur, sehingga baju-baju Anda mendadak tidak muat lagi
  • Anda ingin mengganti perabot, tapi koq perabot lama masih bagus ya? mau dikemanakan dong?
  • Ternyata Anda atau salah satu anggota keluarga Anda penderita shopoholic tanpa disadari banyak barang-barang tidak karuan di tempat Anda tinggal, sementara Anda tidak selera lagi
  • Anda butuh uang sementara gajian masih jauh dan ada tagihan yang kudu dibayar
  • Mau renovasi ruangan, itu pintu kabinet, kerangka jendela yang lama, sisa cat, sisa bahan bangunan di kemanakan dong?
  • Anda mahasiswa yang sudah selesai belajar di Amerika dan sekarang mau pulang ke tanah air
  • dan lain-lain

Solusinya? Gampang.

Selain yang Saya sudah tulis di tulisan Saya sebelumnya, ini Saya berikan informasi lebih detail (dan sebagian besar Saya juga lakoni sendiri)

Langkah pertama adalah cari (baca : google) toko konsinyasi (consignment store) di kota Anda.

Nah, toko konsinyasi ini juga beragam jenisnya dan juga tergantung jenis barang yang Anda mau titip jual.

Ada konsinyasi yang berani bayar uang tunai dimuka, ada konsinyasi yang akan membayar setelah barang terjual.

Berikut Saya beri daftar yang Saya tahu pasti cara kerjanya.

  • Bayar Tunai di Muka :

Tipe konsinyasi seperti ini untungnya Anda terima uang tunai di tempat saat Anda berikan barang Anda dan setelah mereka mensortir barang Anda yang mereka anggap bisa dijual di toko mereka.

Porsi Anda bisanya hanya 30% dari harga jual yang mereka tetapkan dan tidak ada biaya pendaftaran anggota. Cukup mengisi formulir.

Contoh : Anda bawa sepatu merek Charlotte Russe, mereka terima sepatu Anda, dan dalam anggapan mereka, sepatu ini akan dijual seharga $ 10.00, berarti mereka hanya akan membayar Anda sebesar $3.00

Kecil memang, tapi Anda terima uang langsung dan tidak ada resiko tidak mendapakan uang sama sekali nantinya.

Toko-toko yang menerapkan sistem ini

Saya pribadi pernah menjual barang-barang ke toko-toko tersebut diatas.  Berikut informasi tambahan lainnya :

Di toko pakaian wanita, banyak baju-baju Saya yang ditolak, mereka sangat ‘teliti’ dalam menyortir barang-barang.

Cek baju-baju Anda sebelum dibawa ke 2 tempat diatas. Cek :sobek, pudar, hilang kancing, baju berwarna hitam, noda, cabikan meskipun kecil , boleh dipastikan tidak akan dihargai.

Plato Closet lebih diutamakan untuk konsumen anak remaja, sementara Clothes Mentor untuk konsumen lebih dewasa.

Jangan pergi untuk menjual barang di hari Sabtu atau Minggu karena banyak sekali orang-orang yang menjual barang di hari itu.

Dan meskipun Anda diperbolehkan pergi meninggalkan barang-barang untuk disortir petugas, Anda diharuskan balik ke toko sebelum toko tutup, kalau tidak maka Anda tidak akan dibayar dan barang-barang anda yang di drop menjadi milik toko sepenuhnya.

Toko-toko yang Saya sebutkan diatas itu franchise, artinya ada kemungkinan Anda akan menemukan toko-toko tersebut di kota besar di manapun di Amerika.

  • Bayar setelah barang terjual

Untuk toko-toko yang menerapkan sistem ini, biasanya ada biaya pendaftaran, sepengetahuan Saya, di dua toko yang sudah pernah Saya lakoni, biaya pendaftaran $5 untuk satu tahun.

Untungnya toko seperti ini, porsi penjualan untuk Anda, cukup besar, 40%-60% dari harga terjual, tapi Anda hanya akan dibayar setelah barang benar-benar terjual.

Jadi selalu ada resiko Anda bisa-bisa tidak akan dibayar sama sekali, karena penjual toko biasanya menetapkan jangka waktu maksimum barang Anda ‘boleh’ dipajang di toko dan Anda masih mendapat porsi penjualan.

Yang Saya pernah alami, maksimum barang di pajang ditoko itu 3 bulan, setelah itu, toko berhak melakukan tindakan apapun terhadap barang Anda dalam arti mereka boleh memotong harga hingga 90% atau ‘melego’ barang anda ke tempat lain tanpa Anda memperoleh porsi penjualan.

Di Louisville, Kentucky ada 2 toko lokal yang Saya tahu pasti:

– Sugar Baker – untuk wanita

-The Attic – untuk perabotan rumah tangga

sedangkan di Bozeman, Montana, Saya pernah menjual di Recouture untuk baju, perhiasan, tas bermerek. Toko ini juga menerima perabotan antik.  Di Bozeman juga, bekas tetangga Saya mempunyai toko barang bekas untuk bayi dan anak-anak; nama tokonya Growth Spurts Retail Boutique. 

Untuk barang-barang olah raga, sepeda, trailer bayi, bisa dijual di Play it again Sports.

Berdasarkan pengalaman pribadi Saya, Saya cenderung lebih pilih ke sistem konsinyasi bayar setelah barang benar-benar terjual, terutama kalau Anda tahu pasti barang Anda ini bermerek, dalam kondisi prima, dan trendy.

Jadi pilihlah konsinyasi tipe ini untuk barang-barang Anda yang lebih ‘bermutu’. Terus terang juga Saya agak-agak ‘glek’ waktu menerima uang dari konsinyasi tipe tunai…’lha..koq cuma segini yak? he…he…he…tapi karena BU alias butuh uang, jadi ya mau gimana lagi.

Untuk konsinyasi tipe tunai, Anda berhak menolak tawaran mereka, dan memilih ambil kembali barang-barang Anda.

Tapi kalau dipikir-pikir intinya, daripada menumpuk barang, lebih baik di lego kan? 😉

Contohlah Amerika dalam hal..

Waktu tinggal di Jakarta, Saya ingat betapa Saya kewalahan setiap Saya beres- beres ruangan, bingung mau dikemanakan ini barang-barang yang Saya sudah bosan pakai, kesempitan, tidak perlu lagi dll.

Begitu pula waktu Saya bersiap-siap pindah ke Amerika di tahun 2005, banyak sekali barang-barang Saya yang masih bagus, tapi tidak bisa Saya bawa ke Amrik.

Saat itu kebetulan Saya punya kenalan yang bekerja sebagai sukarelawan di panti asuhan, dia bisa terima limpahan barang-barang Saya untuk kemudian dia bagi-bagikan ke tempat dia bekerja.

Tapi sebagian besar barang-barang tersebut berakhir di tempat sampah. 😦

Nelongso juga kalau di-ingat-ingat, bukan karena rakus, tapi karena merasa menyia-nyiakan barang dan tidak bisa memanfaatkannya lagi.

Hal yang sama bisa dialami sewaktu pindahan rumah, atau semata-mata ingin membeli perabot baru sementara perabot lama masih berfungsi.

Di Amerika, masalah seperti itu boleh dibilang mudah solusinya.

– Yang paling mudah, gelar jualan di garasi atau garage sale istilah bulenya. Bermodal stiker, spidol, uang kembalian, Anda bisa jual barang-barang Anda di halaman rumah. Uang masuk kantong sendiri, tidak perlau bayar komisi dll

– Kalau punya banyak waktu, buat akun di craiglist atau ebay , daftarkan barang-barang, beri harga dan siap dijual.

– Kalau tidak punya waktu dan tidak berminat mendapat uang tambahan,  tinggal sumbangkan ke toko-toko barang bekas seperti Salvation Army, Goodwill, Habitat for Humanity Restore. 

Dari baju, sepatu, alat-alat rumah tangga. pernak-pernik hingga mobil bisa anda sumbangkan di 2 tempat ini. Dan besar sumbangan Anda bisa digunakan untuk pemotongan pajak saat Anda mengisi pajak tahun berikutnya .

– Kalau Anda pikir barang-barang Anda masih ada ‘harganya’ dan layak jual, Anda bisa cari toko konsinyasi (consignment store) dimana Anda bisa mendapat porsi uang dari barang yang Anda titip jual di toko tersebut.

Tipe konsinyasi ada 2, yang sepanjang tahun atau yang musiman. Yang sepanjang tahun biasanya berwujud toko atau kios, sementara yang musiman wujudnya bisa berupa ‘farmers market’, pasar loak (flea market) atau bazaar musiman yang dikelola organisasi tertentu.

Tidak perlu malu atau sungkan untuk menjual atau menyumbangkan barang-barang di tempat ini.

Lebih baik barang-barang kita menjadi berguna untuk orang lain daripada dibuang jadi sampah tho?

O iya, Saya tidak tahu apakah toko-toko seperti ini ada di Indonesia, maklum sudah 7 tahunan tidak mudik.

Sebelum Saya hijrah, Saya tahu ada 1 toko barang bekas di Bandung yang menerapkan sistem konsinyasi, kalau tidak salah namanya Ba-be alias barang bekas.

Dan menurut Saya budaya menjual dan menyumbang barang seperti ini selayaknya kita contoh, tidak mubazir!

Bertemu teman-teman dari Indonesia…….

Salah satu harapan dan kebahagiaan ‘pengungsi’ Indonesia di luar negeri adalah bertemu teman-teman sesama dari Indonesia.

Ya pastilah.

Senang dapat teman senasib.

Senang bisa ngerumpi dalam bahasa Indonesia dari A sampai Z, tidak perlu mikir tata bahasa, lidah tidak perlu melintir-melintir berbahasa Inggris.

Senang bisa bernostagia, meskipun dulu pas di Indonesia tidak pernah bertemu muka sama sekali.

Senang bisa makan masakan Indonesia gratis!! – ha-ha-ha..ini mah Saya banget!!! (maklum, tidak suka masak)

Senang bisa motret-motret, cengengesan seperti di tanah air.

Yet………….

Bisa kena gosip yang aneh-aneh. Hadweeeeeeeh!!!!!!!!

Contoh : Saya dan anak jalan-jalan di mal saat ada ‘summer clearance’ , ada banyak kegiatan, salah satunya lukisan di muka. Karena anak Saya ogah dilukis, jadilah Saya yang di lukis, pilih gambar kupu-kupu di pipi kanan, warna ungu.

Eh alah…ada salah satu anak Indonesia melihat Saya – mending negur, cuma lihat dari jauh- beberapa hari kemudian ada yang tanya ‘Day, kamu gak kenapa-napa kan? ada yang bilang kamu mukanya biru dipukul suami……’???!!!????!!!

Kalau salah ‘pergaulan’, bisa-bisa ‘kecemplung’ ke grup

‘Suamimu berapa gajinya?’ atau

‘ Kemarin Saya pergi ke toko ini, beli tas merek ini’,

‘Kasian deh si anu gak punya mobil’,

Eh, dia berobat ke klinik loh!,

‘Aku dong dibeliin mobil sama suamiku’

dan berbagai percakapan sekitar materi lainnya-

Wuih…belum lagi kalau tidak tahan, harus ikutan ‘bergengsi’ memakai barang-barang bermerek. (kan suaminya bule!!) wakakakak…………….

Mencari segenggam dolar di tangan….(ternyata tidak mudah)

Sewaktu Saya tinggal di Jakarta, wah, Saya mah termasuk ‘orang keren’ deh..(ha…ha…ha..nyombong dikit boleh dong..)

Kerja di gedung pencakar langit, di kawasan Segitiga Emas -Sudirman-Kuningan-Thamrin, berbincang-bincang dalam bahasa Inggris, wara-wiri dengan mobil sendiri, menghabiskan waktu di mal setelah pulang kerja atau di akhir pekan sih langganan.

Mencari pekerjaan? berbekal ijazah SI teknik dari universitas beken di Jakarta, Saya PD saja, tidak pernah merasa kesulitan atau kelelahan dalam mencari pekerjaan.

Terus terang kalau boleh memilih Saya mah ogah bekerja lagi. Sejak lulus kuliah 1997 hingga 2005, cukuplah kiranya Saya bekerja, maunya sih merawat anak saja dan well…belanja(in) uang suami….ha….ha….ha..

Tapi ternyata Tuhan mentakdirkan lain…

Tahun pertama Saya tinggal di Amrik, Saya cukup beruntung bisa langsung bekerja setelah hanya 6 bulan menganggur. Si bos tempat Saya kerja pertama kali pernah berkunjung ke Indonesia (Jogjakarta), jadilah dia merasa klop untuk mempekerjakan Saya.

Saya hanya bekerja selama 3 bulan dikarenakan Saya melahirkan anak pertama Saya.
Setelah anak berumur 1.5 tahunan lebih iseng-iseng melamar jadi pramuniaga di department store di kota setempat, ternyata di terima.

Terus terang waktu Saya bekerja ini Saya tidak mengandalkan pekerjaan Saya ini jadi tulang punggung keluarga, lebih buat ke uang ‘hura-hura’ istilahnya. Tapi waktu Suami kena pemecatan, pekerjaan ini amat sangat membantu situasi keluarga Kami.

Nah..waktu suami menganggur, Saya coba melamar ke sana ke mari. Astaga! Disitulah Saya baru menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan ‘kantoran’ untuk Saya.

Saya masih berusaha menutupi kenyataan dan menganggap kalau ini cuma masalah situasi tempat Saya berdomisili , termasuk kkota kecil dan kurang beragam. Tapi sewaktu Saya pindah ke Cleveland yang notabene kota (cukup) besar, berlembar-lembar surat lamaran Saya kirim ke berbagai perusahaan, hasilnya NIL.

Ijazah SI Sarjana Teknik Indonesia tidak berarti apa-apa disini.

Jam terbang Saya selama kerja di Jakarta seakan-akan menjadi NIL kembali.

Fakta kalau Saya bekerja di perusahaan Amrika (yang harusnya kudu ternama lah), tidak membantu apa-apa.

Ditambah lagi memang Saya bukan individu yang sangat pintar ya seperti kakak Saya, sepupu Saya dan teman-teman lain yang sempat mengenyam pendidikan di universitas di Amerika.

Status Saya disini sama dengan lulusan SMA-nya Amrik.

Sadis euy.

Terus terang agak sulit Saya menerima kenyataan ini.

Apa kata saudara dan teman-teman kalau tahu Saya hanya sanggup bekerja sebagai mbak-mbak pelayan toko???

Well.

Ini kesimpulan Saya :

1. Bekerja itu rejeki, selama tidak nyolong, tidak ngibulin orang, di dapat dengan jalan ‘halal’ (bukan dibawah tangan istilahnya) dijalani dan disyukurilah. Orang -orang di sekitar mau mencela..ya monggo..

2. Ternyata memiliki latar belakang pendidikan di Amrika sangat membantu untuk mendapat pekerjaan ‘kantoran’ di sini
meskipun itu ‘cuma’ community college.

3. Situ termasuk beruntung karena tidak perlu bekerja? ya syukur, tidak perlu membanding-bandingkan pekerjaan suami dengan pasangan lain.

Pulang dong. Pulang.

Kata ‘pulang’ buat Saya terus terang ibarat kecantol duri ikan di tenggorokan. Nyebelin.

Baru Saya sadari kalau ternyata persepsi sebagian besar teman-teman di Indonesia tentang imigran Indonesia di luar negeri, adalah ‘keharusan’ pulang kampung SETIAP TAHUN. TITIK.

Idealnya sih ya begitu ya. Siapa sih yang tidak mau mengunjungi keluarga di Indonesia setiap tahun? ramai-ramai berkumpul, ramai-ramai bercerita, bersilaturahmi. Bawa oleh-oleh dari Amerikah. ;-), nyetok bumbu-bumbu Indonesiah buat tahun berikutnya….

Tapi kenyataanyaaaaaaa……………..

Tidak SEMUDAH itu.

Contohnya Saya..yang sudah tidak pulang sejak Desember 2006.

Kenapa gitu tidak pulang-pulang? Sampai-sampai Saya di cerca habis-habisan sama salah satu kerabat sendiri. Diomongin inilah, itulah. Hadweeeeh, sampai sakit ini hati.

Ingat tidak kalau Amerika kena resesi di tahun 1998-99?

Keluarga Saya termasuk kena korban resesi.

Suami kena pemecatan. Satu tahun lebih dia menganggur berusaha mencari kerja.
Untunglah Saya bekerja, dan saat itu ada lowongan untuk kerja penuh waktu yang segera Saya lamar and Alhamdulillah diterima.

Anak segara kami daftarkan (dan diterima) di asuransi kesehatan pemerintah dan sekolah pra TK yang memang diperuntukkan bagi keluarga penghasilan bawah.

Meskipun suami dapat asuransi pengangguran setiap bulannya, itu hanya cukup untuk membayar angsuran rumah, untuk biaya hidup sehari-hari Kami mengandalkan gaji mingguan Saya.

Kami kebat kebit setiap bulannya memikirkan bagaimana membayar angsuran rumah.

Setelah berhasil mendapat pekerjaan baru di Cleveland, Ohio, setelah 1.5 tahun kontrak suami habis, kami kembali pindah ke rumah di Montana tanpa ada pekerjaan pasti (baca : kembali menjadi pengangguran dan ada tambahan biaya pindah yang tidak murah).

Baru 4 bulan di Montana, Alhamdulilah suami dapat pekerjaan di Plano, Texas, karena kita baru saja ‘settling’ diputuskan suami saja yang pergi ke TX, Saya dan anak tetap tinggal di MT, sampai akhir tahun atau pindah waktu anak liburan musim semi…baru juga kita senang sebentar…

Jeder!!!!!!!!!!!

Ketika Saya sedang siap-siap mengepak koper untuk mengunjungi suami di Plano, TX, suami menelpon dan memberitahu kalau dia di pecat lagi….duh gusti…..

Untunglah dalam waktu 2 bulan, suami dapat tawaran kerja di Louisville, Kentucky.

Masalah beres?

Not really

Dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, kami berpindah 4 kali : Ohio ke Montana, Montana-Texas, Texas-Kentucky, Montana-Kentucky. Ongkos pindah itu rata -rata tidak kurang dari $1,000-$2,000 setiap kali kita pindah.

Belum lagi karena suami harus segera pergi ke negara bagian baru, dia dianggap mangkir dari kontrak apartemen di Texas, jadilah selama 2 bulanan kita harus memutar otak bagaimana caranya membayar : rumah di Montana, apartemen di Texas dan apartemen di Kentucky.

wuih…asli deg-degan Kami setiap bulannya…

Pulang? I wish.