Cerita Saya

Bahagianya Saat : Ketemu Komik Masa Kecil

Sejak saya tinggal di kota Louisville, Kentucky yang notabene termasuk skala kota ukuran sedang (dalam arti bukan ‘desa’), saya banyak mengalami kejutan-kejutan kecil yang membuat hati riang gembira.

Contohnya hari ini. Kami sekeluarga pergi ke toko buku Half Price Books yang memang toko buku favorit kami. Karena hari Senin itu hari libur ‘Labor Day‘ jadi ada promosi potongan 20% di toko yang bersangkutan.

Biasanya saya cari buku untuk anak, buku hobi, buku resep atau buku agama. Waktu sedang ngobrak ngabrik rak buku satu demi satu, eh alah ketemu Tintin!!

Ini kan buku bacaan saya waktu kecil!!! Hati ini sumingrah sekali rasanya.

 

DSCN4617

 

Catatan :

Seperti halnya cerita Little  House On The Prairie yang boleh dibilang  kurang pamor diantara pembaca generasi milenial, begitu juga seri Tintin, tidak banyak orang Amerika tahu tentang buku karangan Herge ini. Untung juga anak saya punya emak agak ‘beda’ ya…mudah-mudahan dia bisa baca lebih banyak dan lebih beragam dari bapak dan ibunya.

 

 

 

 

 

 

Peritel Baru Kenal di Amrik : Vera Bradley

Kalau teman-teman membaca tulisan seri ‘Peritel Baru’, boleh dibilang ini tulisan pelepas rindu masa-masa kerja di Jakarta – keliling mal-mal memperhatikan pasar ritel di Jakarta dan sekitarnya.  Ternyata hobi lama itu susah hilang, sampai sekarang kalau pergi ke mal di kota berbeda, ini mata sibuk jelalatan memperhatikan riteler yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

Harap maklum saya belum pernah ke Jakarta lagi sejak 2006 dan 5 tahun pertama tinggal di desa, jadi pembendaharaan ritelernya kurang beragam. Beberapa dari merek yang akan saya ‘bahas’ di blog saya kemungkinan besar bukan merek baru buat orang Jakarta ataupun Amrik, tapi ‘baru’ buat saya, maaf kalau dianggap kadaluwarsa ya….

Yuk mulai:

Pertama kali tahu Vera Bradley itu waktu kami mengunjungi Iowa di tahun 2007.  Lagi jalan-jalan di depan gedung pemerintahan yang lama di Iowa City, tidak sengaja mampir di toko buku. Di toko buku inilah Saya pertama kali ‘berjumpa’ dengan VB.

Cinta pandangan pertama. Corak VB yang sebagian besar bunga-bungaan dan berwarna cerah, cocok sekali dengan selera Saya.  Buat Saya masuk ke toko VB itu ibarat ke negara antah berantah ‘Cloud Cuckcoo Land‘ – hati rasanya riang gembira, karena semua serba cerah di toko ini.

Yang tidak cocok itu harganya. Ha! 😉

Vera Bradley adalah merek barang-barang perempuan – sebagian besar tas, aksesoris : syal, gantungan kunci, sandal jepit, agenda, pensil jepitan rambut dsb – seperti halnya Coach atau Fossil. Bedanya material VB sebagian besar terbuat dari kain dengan corak beragam.

Meskipun barang-barang VB itu dari bahan kain, tapi harganya tidak kalah dengan harga barang serupa tapi terbuat dari kulit. Yang ada Saya cuma mampu beli barang-barang kecil seperti gantungan kunci, jepitan rambut dan sandal jepit.

Dari hasil ‘wawancara’ dengan pengguna VB, rata-rata dari mereka puas dengan kualitas VB dan mereka juga boleh dibilang fanatik dengan VB seperti layaknya merek lain.

VB sendiri juga punya acara diskon tahunan yang ditunggu-tunggu. Pelanggan harus membeli tiket beberapa bulan dimuka untuk bisa belanja di acara ini. Dan percaya atau tidak, tiket ini selalu habis terjual!! Ibarat konser musik lah!

Saya sendiri sempat terpikir mau hadir di acara ini, kepingin tahu saja, tapi baca kemungkinan padatnya pengunjung Saya jadi keder sendiri.

Nah di Louisville ini, VB bisa dibeli dibeberapa tempat : di toko Vera Bradley di St. Matthew’s Mal, di Taylor Trunk Company di Hurstbourne, di toko Rabbit on The Moon di Paddocks Shop, di toko-toko Hallmark dan outletnya di Bluegrass.

Sampai saat ini saya belum kesampaian punya tas VB, padahal banyak yang saya taksir, habis masih kurang tega menghabiskan $60 lebih untuk membeli tas kain…he…he…he..

Ini salah satu motif favorit saya dari VB : flutterby : ada kupu-kupu dan nuansanya merah jambu keungu-unguan – istilah teman-teman : Gue Bangget!

DSCN4406

Selingan Ringan : Nemu Coklat Cemilan Jaman SD!

Kalau di tulisan pertama saya di seri ‘Selingan’ , saya cerita tentang ketemu tulisan nama alias kota Jakarta – kota kelahiran saya, sekarang saya mau cerita kalau saya ketemu coklat jaman saya cilik, masih sekolah dasar.

Saya ingat sekali,waktu saya kelas 5 atau 6 SD, kami sekeluarga tinggal di daerah Pancoran, Pasar Minggu, dimana salah satu kakak Ibu, juga tinggal di situ. Jadi kita (saya dan kakak) lumayan sering berkunjung ke rumah beliau. Saya senang ngaso di rumah beliau, karena Oom dan Tante baik sekali dengan kami berdua, kami berdua selalu di beri cemilan, kadang kue kering kalengan, tapi yang kebanyakan itu : coklat!

Saya bahkan ingat merek coklatnya, yaitu coklat merek Van Houten. Tidak terhitunglah berapa banyak coklat yang saya makan! (pastinya banyak ya, karena puluhan tahun kemudian masih terngiang-ngiang…he..he..he..)

Nah, kami sekeluarga cuma tinggal di daerah itu selama 2 tahun, setelah itu kami pindah di pinggiran kota dan otomatis kunjungan ke rumah Oom dan Tante menjadi berkurang. Jadilah saya tidak lagi bisa menikmati nikmatnya coklat Van Houten, ditambah alharhum ayah dan ibu tidak membiasakan anak-anaknya bercemilan ria.

Pindah ke Amerika, jangankan makan, melihat produk Van Houten saja hampir tidak pernah; maklum 5 tahun pertama saya tinggalnya di desa koboi.

Eh, hari ini, waktu sedang belanja di supermarket Asia, mata tiba-tiba tertumbuk kaleng berwarna ungu yang akrab di hati. Oh lala!!! Ternyata si coklat Van Houten!! Langsunglah saya foto si kaleng coklat ini!

DSCN4581

Senang rasanya menemukan salah satu kenangan manis di masa kecil…..

Konyol ya?

Tapi inilah salah satu indahnya hidup di negeri asing :menemukan hal-hal kecil yang memberikan kebahagiaan tersendiri buat kita…..

 

 

 

 

Kebahagiaan Menemukan Kenangan Masa Kecil Di Negeri Baru

Salah satu hal yang menggembirakan selama tinggal di Amerika adalah saat pertama kali saya menemukan sesuatu yang saya amat kenali (familiar) waktu masih di Indonesia. Heboh dan tidak percaya, biasanya reaksi yang saya alami.

Yang namanya ‘sesuatu’ ini bisa bermacam-macam bentuknya ; dari mulai makanan, buku bacaan, film, tulisan di jalan, tanaman atau hal-hal sepele lainnya yang mungkin amat sangat tidak ‘penting’ untuk orang lain.

Contohnya:

Tahun pertama di Amerika, 2005, dan pertama kali jalan-jalan bermobil ria, saya ingat betapa kegirangannya saya waktu melewati daerah di mana Laura Ingalls Wilder bertempat tinggal.

“Hey..saya kenal itu nama!! Itu kan pengarang cerita ‘Little House On The Prairie’??” begitu pekik saya ke suami.

Maklum waktu kecil saya dicekcoki ibu untuk membaca, salah satu buku yang saya harus baca itu adalah seri Little House On The Prairie. Meskipun sudah bertahun-tahun lalu saya terakhir membaca seri itu, saya masih ingat beberapa detail dari cerita tersebut. Jadilah waktu saya tahu kalau Laura Ingalls Wilder di Amerika juga cukup terkenal, ada perasaan sumringah di hati, entah kenapa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Atau baru-baru ini, saya ketemu susu kental manis Cap Nona di supermarket lokal langsung hati berlonjak-lonjak kegirangan – padahal cuma susu ya? dan sebetulnya kalau mau jujur saya tidak selalu memakai susu ini sewaktu di Indonesia. Kalau tidak salah saya cuma minum susu ini hingga saya selesai sekolah dasar, jadi saya sudah lama koq tidak mengkonsumsi ini,tapi tetap saja diri ini seakan-akan menemukan harta karun.

Menemukan hal-hal kecil seperti ini boleh dibilang membuat perasaan hidup di tanah asing tidak lagi terasa terlalu berbeda – perasaan bahwa saya adalah alien yang benar-benar dari negeri antah berantah agak  memudar – ternyata  ada hal-hal yang saya dan negara Amerika sama-sama kenali.

Lucu juga kalau dipikir-pikir, sebelum saya migrasi ke Amerika, membaca buku Little House On The Prairie, melihat pohon melati ya biasa saja. Tapi setelah pindah dan tinggal disini, hal-hal yang tadinya sepele, tidak terlalu diperdulikan, bisa menjadi penting dan boleh jadi menjadi amat berharga di mata saya.

Mungkin benar juga ya pepatah ini :

little-things

Selingan Ringan

Ini ‘grup’ terbaru di blogku, isinya tentang ini itu gak penting yang saya temui di Amerika. 😉

Hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2014, berhubung tidak kerja dan sumpek dan bosan di kota, kami ngacir ke Cincinnati, kota besar terdekat di negara bagian Ohio.

Kami lumayan sering ‘main’ ke kota Cincy, karena dekat dan juga lebih banyak tempat ‘hura-hura’ untuk sekeluarga. Jangan salah lho…hura-hura disini itu artinya toko LEGO buat si kecil, toko hobi buat suami, supermarket Asia yang lebih lengkap dan toko barang-barang perempuan buat saya…;-)

Nah, di perjalanan menuju tempat makan, tiba-tiba saya melihat tanda jalan ini :

DSCN4586he…he…he..kaget juga…..sampai senyum-senyum sendiri di hati..ternyata kota kelahiran tidak jauh-jauh amat tho……

 

School Supplies Nightmare!!!

Terpaksa judulnya harus berbahasa Inggris, karena kalau di Indonesiakan kurang greget rasanya. 

Setiap tahun ajaran baru dimulai itu, salah satu kesibukan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah adalah mengecek daftar keperluan sekolah si anak alias school supplies. Daftarnya sih biasa ya, pensil, buku, penghapus, crayon, spidol dan seterusnya.

Tahun pertama anak sekolah, Saya masih nurut-nurut saja dengan daftar ini. Lama-kelamaan, setelah ngobrol sana sini dengan sesama orang tua, mulai hati bertanya-tanya.

Pertama, dari tahun ke tahun daftar ini makin lama makin panjang dan tidak murah! Dari mulai pensil sampai kantong ziploc. Anak Saya cuma satu, bayangkan orang tua yang punya anak lebih dari satu.

Kedua, setelah Saya perhatikan, tidak setiap guru efisien menggunakan perlengkapan sekolah ini selama tahun berjalan.

Contohnya ya anak Saya sendiri. Waktu dia kelas 1, semua pekerjaan rumah, aktivitas dia di sekolah menggunakan perlengkapan yang kita beli di awal tahun ajaran, dan diakhir tahun ajaran, si guru mengembalikan perlengkapan sekolah yang tidak terpakai ke si anak. 

Tapi waktu dia di kelas 2, wis Saya bingung. Si anak tidak pernah pakai buku ataupun perlengkapan lain yang sudah dibelikan dari awal, 

Kemana larinya itu 20 jenis perlengkapan sekolah yang kita beli di awal tahun? 

Ketiga apa harus gitu kita selalu membeli barang baru buat perlengkapan sekolah? crayon contohnya. Halah. Aku ada se-ember penuh crayon yang masih bisa dipakai. Spidol juga sami mawon. Pensil? memang beberapa pensil sudah lebih pendek ya, tapi kan masih bisa dipakai dong? Tempat pensil, dari 2 tahun lalu masih utuh deh.  Mbuh.

Akhirnya tahun ketiga ini, Saya pura-pura ‘bego’ tidak lagi buru-buru ngacir ke toko untuk membeli perlengkapan sekolah. Obrak-abrik dulu apa yang kita punya di rumah, baru setelah itu kami akan beli yang memang kita tidak miliki untuk si anak. 

DSCN4405[1]Dan juga setelah Saya amat-amati, setiap tahun ada jenis perlengkapan yang selalu diminta (pensil, map, binder), yang ada Saya tunggu setelah masa awal tahun ajaran lewat, baru deh Saya beli, karena harganya di potong, alias lebih murah….tho tahun depan bakal di minta lagi….

Tapi ya terus terang, masalah perlengkapan sekolah ini adalah salah satu ‘kebingungan’ Saya dengan sistem sekolah di Amrik. Buat Saya terlalu konsumtif dan tidak efisien, tapi apa boleh buat…kadang kita kudu tunduk dengan aturan…

Empat Bulan Setelah Ayah Meninggal

Bulan Agustus ini bulan kelahiran Almarhum Ayah. Ulang tahun beliau tanggal 25 Agustus. Seandainya beliau masih hidup, beliau akan berumur 73 tahun. Untuk ukuran orang Indonesia, umur 73 relatif sudah dianggap tua, tapi untuk ukuran Amerika, umur 73 relatif masih ‘muda’ – Saya sendiri tahu beberapa pelanggan yang seumuran dengan Ayah dan masih sangat aktif.

Kepergian Ayah adalah pertama kalinya Saya kehilangan anggota keluarga inti. Terus terang Saya pikir karena Saya berpuluh-puluh kilometer jaraknya dari Indonesia, rasa pedih di hati tidak akan terlalu lama melekat…ternyata Saya salah……

Sampai detik ini Saya masih sering terasa tidak percaya kalau Ayah sudah tiada. Tidak terhitung kejadian dimana Saya sempat terpikir ‘Eh Ayah suka bilang..’, lalu tiba-tiba Saya terdiam sendiri, karena dihadapkan kenyataan kalau Saya tidak punya Ayah lagi…

‘Dad’s gone.

Masa sih? Mimpi kali. Bukan. Kenyataan. Sesak dada ini rasanya.

It is true. Dad has gone.

Tidak ada lagi lebaran dengan Ayah. Tidak akan lagi dengar suara Ayah. Tidak akan lagi baca pesan Ayah di email atau di media sosial.

It still seems unreal for me. But it is not. It is the reality

394453_531575963567203_940977376_n

Jalan-jalan : Gerbang Lengkung St. Louis

Setelah jalan-jalan di downtown St Louis, hari berikutnya kita pergi ke monumen. Gerbang Lengkung yang lokasinya juga di downtown, di pinggir sungai Missouri.

Salah satu yang bikin repot ke tempat turis seperti ini adalah masalah parkir. Yang jelas hindari parkir di tengah-tengah pusat kota sendiri, terutama saat ada turnamen baseball di Stadiun Busch. Harga parkir saat itu $25!

Jadilah kita pergi seakan-akan menjauhi pusat kota, lalu ambil jalan ke arah sungai, nah di sepanjang sungai ini ada beberapa gedung parkir yang relatif lebih kosong dan lebih murah dibanding di gedung parkiran di dalam gedung-gedung kantoran di pusat kota. Cukup bayar $5. Beda jauh kan?!

Dari situ kita berjalan ke lokasi, tidak jauh koq, paling-paling sekitar 1/2 kilo deh.S

Nah, di lokasi monumen, ada 2 pintu masuk, Selatan dan Utara. Untuk masuk, semua pengunjung diharuskan melewati detektor (seperti di lapangan terbang), jadi jangan keder kalau lihat antrian panjang, tapi relatif tidak lama.

Setelah tiba di dalam, antri lagi di gerbong tiket,kami cukup beruntung karena antrian tidak terlalu panjang. Saya lihat ada gerbang yang khusus untuk mereka-mereka yang sudah pesan lebih dulu, nah, kalau memang kalian yakin akan berkunjung ke monumen ini ada baguslah pesan tiket dulu lewat online, jadi tidak perlu antri terlalu lama.

Tiket bisa dibeli dengan paket menonton film, pilihan film yang ada saat itu adalah perjalanan Lewis & Clark atau film mengenai pembuatan monumen atau cuma beli tiket saja. Saat itu kami pilih tiket naik ke atas monumen tanpa embel-embel lainnya. Total 2 orang dewasa dan satu anak umur 8 tahun itu $25.

Yang kami tidak tahu adalah…..setelah selesai membeli tiket, waktu tunggu kami untuk naik tram ke atas monumen itu 2 jam lebih! Kami datang sekitar jam 10-an, giliran kami naik itu baru nanti jam 12:5 pm. Weleh???

Untung ada museum yang gratis buat pengunjung monumen. Jadilah selama 1 jam, kita habiskan berkeliling di museum.

Karena kita ogah ambil resiko telat masuk waktu giliran kita tiba, kita benar-benar cuma menunggu di dalam lobi. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak apa-apa juga koq kalau teman-teman ingin jalan-jalan seputar pusat kota setelah membeli tiket untuk kemudian balik lagi. Yakin waktu cukuplah.

Di lobi ini kita berfoto di mock-up tram yang nantinya akan kita naiki.

indiana (60)
indiana (62)

Akhirnya jam 12:25 pm tiba! Kita masuk dari pintu Selatan, di depan pintu ada papan penunjuk waktu (seperti di bandara udara), yang bisa digunakan pengunjung untuk mengecek giliran mereka untuk naik tram.

Antri lagi. Di sini, petugas bertanya ke setiap pengunjung ada berapa anggota di grup mereka. Lalu petugas akan membagikan kartu pada tiap-tiap grup pengunjung yang intinya mengacu nomor pintu atau tram yang pengunjung akan naikin. Intinya petugas harus membagi rata pengunjung dengan jumlah tram yang tersedia. Satu tram dapat memuat 5 orang.

Kami mendapat kartu nomor 4. Artinya kami harus  indiana (109)berdiri di depan pintu nomor 4 beserta pengunjung lain yang mendapat kartu yang sama.

Sambil menunggu, pengunjung di beri kesempatan untuk difoto, yang nanti boleh ditebus kalau mau, boleh juga tidak ditebus.

Setelah selesai di antrian ini, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga untuk ke ruangan keberangkatan. Disini bisa dilihat ada 8 pintu, dimana tram berada.

indiana (110)

 

indiana (112)

koq kecil ya pintunya?

Waduh..ternyata tramnya jauh lebih kecil dibanding mock-up. Pantas saja petugas tiket bertanya apakah kita ada yang menganut takut tempat terkukung (claustrophobia)

Kalau teman-teman kebetulan tinggi, ambil tempat duduk di tengah-tengah tram, karena memiliki ketinggian maksimal, yang jelas kalau Anda jangkung jangan duduk di kursi kedua dari pintu, karena bentuk tram yang melengkung, kursi di lokasi tersebut paling rendah langit-langitnya.

 

Diperlukan waktu 4 menit untuk mencapai puncak monumen. Terus terang Saya agak-agak keder…terutama karena sepanjang perjalanan beberapa kali terdengar suara hentakan…(dasar udik!)

Waktu pintu tram terbuka..duh lega rasanya!!

indiana (115)

 

Dari jendela, pengunjung bisa melihat kota St. Louis dari kejauhan. Ada stadium Busch yang dipenuhi penonton berbaju merah (warna tim baseball St. Louis), kapal pengangkut barang, kereta api. Stadium Busch dari Puncak Gerbang Lengkungindiana (123)indiana (121)indiana (117)

Kita menghabiskan waktu kira-kira 30 menitan di lobi puncak monumen…lebih lama menunggu giliran daripada nangkring di atas ya? he…he..he..tapi lumayan seru koq!

Ini foto jendela-jendela di puncak dan sisi Selatan monumen dilihat dari bawah.

indiana (96)

kotak-kotak hitam itu jendela-jendela di lobi puncak monumen

indiana (59)

Jalan-Jalan : St. Louis Missouri – Downtown

Mau cerita tentang jalan-jalan yuk!

Berbeda dengan orang Indonesia yang kalau jalan-jalan dalam negeri menggunakan pesawat, atau orang Eropa yang dengar-dengar senang ber-backpack ria, sebagian besar orang Amerika itu hobi berkelana dengan mobil, road trip istilah kerennya. Termasuk keluarga kami.

Buat Saya bertamasya dengan mobil relatif baru dan tidak biasa, waktu di Indonesia, Saya cuma sekali bermobil ria dengan Ayah dan Ibu ke Bali. Jadi waktu pertama kali sekali bermobil tamasya, agak-agak bosen juga dan ‘kurang mengerti’ asiknya. Tapi lama-lama terbiasa juga, bahkan jadi keranjingan.

Nah, ini mau cerita tentang jalan-jalan kami ke St. Louis, Missouri di bulan Juli 2014.

Sebagai imigran, Saya tuh kepingin sekali mengunjungi tempat-tempat monumental lah di Amerika. Dari mulai taman-taman nasional ataupun tempat-tempat bersejarah di Amerika.

Di St. Louis, terkenal dengan monumen Gerbang Lengkung, atau Gateway Arch.

Gateway Arch

Sejak pindah ke Louisville, Gerbang Lengkung ini menjadi salah satu yang kudu Saya kunjungi, tapi belum juga kesampain. Padahal jarak dari tempat kami tinggal ke St. Louis relatif dekat, 260 mil atau 4 jaman berkendara.

Jadilah waktu hari libur 4 Juli kemarin kita nekat pergi ke St. Louis padahal tidak ada rencana sebelumnya.

Kami berangkat hari Sabtu pagi dan tiba di St. Louis sekitar jam 7 malam. Kami harus melewati 2 negara bagian : Indiana, Illinouis sebelum sampai di negara bagian Missouri.

Karena sudah agak sore, kami putuskan untuk jalan-jalan di downtown St. Louis. Setelah parkir, kami sepakat untuk menyewa ‘delman’ untuk menikmati downtown dengan santai. Harga sewa delman ini untuk 30 menit itu $30. Agak mahal memang kalau dibanding dengan delman di Jogja, maklum area padat turis.

indiana (54)

Yang Saya senangi di downtown St. Louis ini, ada taman kota yang lengkap dengan berbagai ragam pahatan artis, taman air pancur untuk anak-anak dengan air terjun buatan.

Kelihatan kalau taman ini salah satu favorit keluarga untuk mengaso di akhir pekan.
Andai ya di Indonesia, pusat kota selalu ada taman terbuka seperti ini.

st3

st4

 

st5