Cerita Saya

Selingan Ringan

Ini ‘grup’ terbaru di blogku, isinya tentang ini itu gak penting yang saya temui di Amerika. 😉

Hari Sabtu tanggal 24 Agustus 2014, berhubung tidak kerja dan sumpek dan bosan di kota, kami ngacir ke Cincinnati, kota besar terdekat di negara bagian Ohio.

Kami lumayan sering ‘main’ ke kota Cincy, karena dekat dan juga lebih banyak tempat ‘hura-hura’ untuk sekeluarga. Jangan salah lho…hura-hura disini itu artinya toko LEGO buat si kecil, toko hobi buat suami, supermarket Asia yang lebih lengkap dan toko barang-barang perempuan buat saya…;-)

Nah, di perjalanan menuju tempat makan, tiba-tiba saya melihat tanda jalan ini :

DSCN4586he…he…he..kaget juga…..sampai senyum-senyum sendiri di hati..ternyata kota kelahiran tidak jauh-jauh amat tho……

 

School Supplies Nightmare!!!

Terpaksa judulnya harus berbahasa Inggris, karena kalau di Indonesiakan kurang greget rasanya. 

Setiap tahun ajaran baru dimulai itu, salah satu kesibukan para orang tua yang memiliki anak usia sekolah adalah mengecek daftar keperluan sekolah si anak alias school supplies. Daftarnya sih biasa ya, pensil, buku, penghapus, crayon, spidol dan seterusnya.

Tahun pertama anak sekolah, Saya masih nurut-nurut saja dengan daftar ini. Lama-kelamaan, setelah ngobrol sana sini dengan sesama orang tua, mulai hati bertanya-tanya.

Pertama, dari tahun ke tahun daftar ini makin lama makin panjang dan tidak murah! Dari mulai pensil sampai kantong ziploc. Anak Saya cuma satu, bayangkan orang tua yang punya anak lebih dari satu.

Kedua, setelah Saya perhatikan, tidak setiap guru efisien menggunakan perlengkapan sekolah ini selama tahun berjalan.

Contohnya ya anak Saya sendiri. Waktu dia kelas 1, semua pekerjaan rumah, aktivitas dia di sekolah menggunakan perlengkapan yang kita beli di awal tahun ajaran, dan diakhir tahun ajaran, si guru mengembalikan perlengkapan sekolah yang tidak terpakai ke si anak. 

Tapi waktu dia di kelas 2, wis Saya bingung. Si anak tidak pernah pakai buku ataupun perlengkapan lain yang sudah dibelikan dari awal, 

Kemana larinya itu 20 jenis perlengkapan sekolah yang kita beli di awal tahun? 

Ketiga apa harus gitu kita selalu membeli barang baru buat perlengkapan sekolah? crayon contohnya. Halah. Aku ada se-ember penuh crayon yang masih bisa dipakai. Spidol juga sami mawon. Pensil? memang beberapa pensil sudah lebih pendek ya, tapi kan masih bisa dipakai dong? Tempat pensil, dari 2 tahun lalu masih utuh deh.  Mbuh.

Akhirnya tahun ketiga ini, Saya pura-pura ‘bego’ tidak lagi buru-buru ngacir ke toko untuk membeli perlengkapan sekolah. Obrak-abrik dulu apa yang kita punya di rumah, baru setelah itu kami akan beli yang memang kita tidak miliki untuk si anak. 

DSCN4405[1]Dan juga setelah Saya amat-amati, setiap tahun ada jenis perlengkapan yang selalu diminta (pensil, map, binder), yang ada Saya tunggu setelah masa awal tahun ajaran lewat, baru deh Saya beli, karena harganya di potong, alias lebih murah….tho tahun depan bakal di minta lagi….

Tapi ya terus terang, masalah perlengkapan sekolah ini adalah salah satu ‘kebingungan’ Saya dengan sistem sekolah di Amrik. Buat Saya terlalu konsumtif dan tidak efisien, tapi apa boleh buat…kadang kita kudu tunduk dengan aturan…

Empat Bulan Setelah Ayah Meninggal

Bulan Agustus ini bulan kelahiran Almarhum Ayah. Ulang tahun beliau tanggal 25 Agustus. Seandainya beliau masih hidup, beliau akan berumur 73 tahun. Untuk ukuran orang Indonesia, umur 73 relatif sudah dianggap tua, tapi untuk ukuran Amerika, umur 73 relatif masih ‘muda’ – Saya sendiri tahu beberapa pelanggan yang seumuran dengan Ayah dan masih sangat aktif.

Kepergian Ayah adalah pertama kalinya Saya kehilangan anggota keluarga inti. Terus terang Saya pikir karena Saya berpuluh-puluh kilometer jaraknya dari Indonesia, rasa pedih di hati tidak akan terlalu lama melekat…ternyata Saya salah……

Sampai detik ini Saya masih sering terasa tidak percaya kalau Ayah sudah tiada. Tidak terhitung kejadian dimana Saya sempat terpikir ‘Eh Ayah suka bilang..’, lalu tiba-tiba Saya terdiam sendiri, karena dihadapkan kenyataan kalau Saya tidak punya Ayah lagi…

‘Dad’s gone.

Masa sih? Mimpi kali. Bukan. Kenyataan. Sesak dada ini rasanya.

It is true. Dad has gone.

Tidak ada lagi lebaran dengan Ayah. Tidak akan lagi dengar suara Ayah. Tidak akan lagi baca pesan Ayah di email atau di media sosial.

It still seems unreal for me. But it is not. It is the reality

394453_531575963567203_940977376_n

Jalan-jalan : Gerbang Lengkung St. Louis

Setelah jalan-jalan di downtown St Louis, hari berikutnya kita pergi ke monumen. Gerbang Lengkung yang lokasinya juga di downtown, di pinggir sungai Missouri.

Salah satu yang bikin repot ke tempat turis seperti ini adalah masalah parkir. Yang jelas hindari parkir di tengah-tengah pusat kota sendiri, terutama saat ada turnamen baseball di Stadiun Busch. Harga parkir saat itu $25!

Jadilah kita pergi seakan-akan menjauhi pusat kota, lalu ambil jalan ke arah sungai, nah di sepanjang sungai ini ada beberapa gedung parkir yang relatif lebih kosong dan lebih murah dibanding di gedung parkiran di dalam gedung-gedung kantoran di pusat kota. Cukup bayar $5. Beda jauh kan?!

Dari situ kita berjalan ke lokasi, tidak jauh koq, paling-paling sekitar 1/2 kilo deh.S

Nah, di lokasi monumen, ada 2 pintu masuk, Selatan dan Utara. Untuk masuk, semua pengunjung diharuskan melewati detektor (seperti di lapangan terbang), jadi jangan keder kalau lihat antrian panjang, tapi relatif tidak lama.

Setelah tiba di dalam, antri lagi di gerbong tiket,kami cukup beruntung karena antrian tidak terlalu panjang. Saya lihat ada gerbang yang khusus untuk mereka-mereka yang sudah pesan lebih dulu, nah, kalau memang kalian yakin akan berkunjung ke monumen ini ada baguslah pesan tiket dulu lewat online, jadi tidak perlu antri terlalu lama.

Tiket bisa dibeli dengan paket menonton film, pilihan film yang ada saat itu adalah perjalanan Lewis & Clark atau film mengenai pembuatan monumen atau cuma beli tiket saja. Saat itu kami pilih tiket naik ke atas monumen tanpa embel-embel lainnya. Total 2 orang dewasa dan satu anak umur 8 tahun itu $25.

Yang kami tidak tahu adalah…..setelah selesai membeli tiket, waktu tunggu kami untuk naik tram ke atas monumen itu 2 jam lebih! Kami datang sekitar jam 10-an, giliran kami naik itu baru nanti jam 12:5 pm. Weleh???

Untung ada museum yang gratis buat pengunjung monumen. Jadilah selama 1 jam, kita habiskan berkeliling di museum.

Karena kita ogah ambil resiko telat masuk waktu giliran kita tiba, kita benar-benar cuma menunggu di dalam lobi. Tapi kalau dipikir-pikir, tidak apa-apa juga koq kalau teman-teman ingin jalan-jalan seputar pusat kota setelah membeli tiket untuk kemudian balik lagi. Yakin waktu cukuplah.

Di lobi ini kita berfoto di mock-up tram yang nantinya akan kita naiki.

indiana (60)
indiana (62)

Akhirnya jam 12:25 pm tiba! Kita masuk dari pintu Selatan, di depan pintu ada papan penunjuk waktu (seperti di bandara udara), yang bisa digunakan pengunjung untuk mengecek giliran mereka untuk naik tram.

Antri lagi. Di sini, petugas bertanya ke setiap pengunjung ada berapa anggota di grup mereka. Lalu petugas akan membagikan kartu pada tiap-tiap grup pengunjung yang intinya mengacu nomor pintu atau tram yang pengunjung akan naikin. Intinya petugas harus membagi rata pengunjung dengan jumlah tram yang tersedia. Satu tram dapat memuat 5 orang.

Kami mendapat kartu nomor 4. Artinya kami harus  indiana (109)berdiri di depan pintu nomor 4 beserta pengunjung lain yang mendapat kartu yang sama.

Sambil menunggu, pengunjung di beri kesempatan untuk difoto, yang nanti boleh ditebus kalau mau, boleh juga tidak ditebus.

Setelah selesai di antrian ini, pengunjung harus menuruni beberapa anak tangga untuk ke ruangan keberangkatan. Disini bisa dilihat ada 8 pintu, dimana tram berada.

indiana (110)

 

indiana (112)

koq kecil ya pintunya?

Waduh..ternyata tramnya jauh lebih kecil dibanding mock-up. Pantas saja petugas tiket bertanya apakah kita ada yang menganut takut tempat terkukung (claustrophobia)

Kalau teman-teman kebetulan tinggi, ambil tempat duduk di tengah-tengah tram, karena memiliki ketinggian maksimal, yang jelas kalau Anda jangkung jangan duduk di kursi kedua dari pintu, karena bentuk tram yang melengkung, kursi di lokasi tersebut paling rendah langit-langitnya.

 

Diperlukan waktu 4 menit untuk mencapai puncak monumen. Terus terang Saya agak-agak keder…terutama karena sepanjang perjalanan beberapa kali terdengar suara hentakan…(dasar udik!)

Waktu pintu tram terbuka..duh lega rasanya!!

indiana (115)

 

Dari jendela, pengunjung bisa melihat kota St. Louis dari kejauhan. Ada stadium Busch yang dipenuhi penonton berbaju merah (warna tim baseball St. Louis), kapal pengangkut barang, kereta api. Stadium Busch dari Puncak Gerbang Lengkungindiana (123)indiana (121)indiana (117)

Kita menghabiskan waktu kira-kira 30 menitan di lobi puncak monumen…lebih lama menunggu giliran daripada nangkring di atas ya? he…he..he..tapi lumayan seru koq!

Ini foto jendela-jendela di puncak dan sisi Selatan monumen dilihat dari bawah.

indiana (96)

kotak-kotak hitam itu jendela-jendela di lobi puncak monumen

indiana (59)

Jalan-Jalan : St. Louis Missouri – Downtown

Mau cerita tentang jalan-jalan yuk!

Berbeda dengan orang Indonesia yang kalau jalan-jalan dalam negeri menggunakan pesawat, atau orang Eropa yang dengar-dengar senang ber-backpack ria, sebagian besar orang Amerika itu hobi berkelana dengan mobil, road trip istilah kerennya. Termasuk keluarga kami.

Buat Saya bertamasya dengan mobil relatif baru dan tidak biasa, waktu di Indonesia, Saya cuma sekali bermobil ria dengan Ayah dan Ibu ke Bali. Jadi waktu pertama kali sekali bermobil tamasya, agak-agak bosen juga dan ‘kurang mengerti’ asiknya. Tapi lama-lama terbiasa juga, bahkan jadi keranjingan.

Nah, ini mau cerita tentang jalan-jalan kami ke St. Louis, Missouri di bulan Juli 2014.

Sebagai imigran, Saya tuh kepingin sekali mengunjungi tempat-tempat monumental lah di Amerika. Dari mulai taman-taman nasional ataupun tempat-tempat bersejarah di Amerika.

Di St. Louis, terkenal dengan monumen Gerbang Lengkung, atau Gateway Arch.

Gateway Arch

Sejak pindah ke Louisville, Gerbang Lengkung ini menjadi salah satu yang kudu Saya kunjungi, tapi belum juga kesampain. Padahal jarak dari tempat kami tinggal ke St. Louis relatif dekat, 260 mil atau 4 jaman berkendara.

Jadilah waktu hari libur 4 Juli kemarin kita nekat pergi ke St. Louis padahal tidak ada rencana sebelumnya.

Kami berangkat hari Sabtu pagi dan tiba di St. Louis sekitar jam 7 malam. Kami harus melewati 2 negara bagian : Indiana, Illinouis sebelum sampai di negara bagian Missouri.

Karena sudah agak sore, kami putuskan untuk jalan-jalan di downtown St. Louis. Setelah parkir, kami sepakat untuk menyewa ‘delman’ untuk menikmati downtown dengan santai. Harga sewa delman ini untuk 30 menit itu $30. Agak mahal memang kalau dibanding dengan delman di Jogja, maklum area padat turis.

indiana (54)

Yang Saya senangi di downtown St. Louis ini, ada taman kota yang lengkap dengan berbagai ragam pahatan artis, taman air pancur untuk anak-anak dengan air terjun buatan.

Kelihatan kalau taman ini salah satu favorit keluarga untuk mengaso di akhir pekan.
Andai ya di Indonesia, pusat kota selalu ada taman terbuka seperti ini.

st3

st4

 

st5

Adaptasi Setelah Tinggal di Amrik

Adaptasi setelah tinggal di Amrik? wuiiih tak terhitung…ha…ha..ha..sampai sekarangpun – hampir sepuluh tahun – masih banyak hal-hal yang Saya ‘bandel’ ogah beradaptasi atau kurang bisa beradaptasi.

Contohnya :

Masalah kamar mandi, bilas berbilas. Tetap cenderung ke cara Indonesia, yaitu memakai air, dibanding memakai tisu. Tapi mau gimana lagi, disini ya tidak ada air lah.

Saking geregetan harus bilasan dengan air, sampai-sampai minta dikirimin gayung dari tanah air.

Jadilah Saya di tahun pertama kemana-mana bawa botol air kosong ; sampai sekarang masih sering dilakukan terutama kalau pergi piknik atau kemping di hutan.

Atau masalah makan nasi memakai garpu. Duh. Gak lah, tetap makan pakai sendok, meskipun ini sendok buat sup, pura-pura bego saja, yang penting sendok. Mau diketawain terserah, yang penting hati puas makan nasi pakai sendok.

Hal-hal lainnya yang Saya cukup berhasil (dan masih terus) beradaptasi adalah :

1. Nonton TV tanpa ada terjemahan bahasa Inggris.

Maklum kan di Indonesia, semua film-film berbahasa Inggris yang kita tonton selalu ada terjemahan bahasa Indonesia kan? Bulan-bulan pertama nonton film, agak-agak panik…Eng…terjemahannya mana ya? – Oh iya..ini kan di Amrik ya..bukan di Jakarta.

Jadilah konsentrasi penuh dengarin percakapan si bule. Sekarang ini, kalau ada pilihan ‘subtitle‘ di dvd, Saya selalu pasang. Maklum, antara mengerti lewat pendengaran dan mengerti lewat bacaan, Saya lebih cepat mengerti lewat bacaan.

2. Mengetahui lokasi dengan menggunakan arah kompas : Utara, Selatan, Timur dan Barat.

Hadweeeh…..secara Saya itu terbelakang kalau masalah 3 dimensi dan kebiasaan di Jakarta, cukup bilang ‘arah blok M’, arah kota, belok kiri, belok kanan, disini orang-orang bilang ‘dari arah utara, selatan dari kota X dsb. Terpaksalah Saya memaksakan diri untuk mengerti dimana SEBUT. Kalau boleh memilih sih, tetap pakai belok kiri, belok kanan dll…hi..hi..hi..

3. Menyetir di sebelah kanan dan mengerti penamaan jalan di Amrik.

Kalau di Indonesia, jalan-jalan tol itu dinamakan sesuai dengan nama wilayah ; Jalan tol Cawang-Tg. Priok, Jalan tol lingkar luar Kebon Jeruk dsb, disini jalan-jalan semua ditandai dengan nomor.
I-90, I265, US40, SR65 dsb.

Dimana I artinya Interstate, jalan yang menghubungkan negara bagian yang satu dengan negara bagian yang lain.

Kalau ada 2 digit nomor setelah huruf I, itu biasanya jalan bebas hambatan (freeway)antar negara bagian.

Semua negara bagian di Amerika boleh dibilang ‘disambung’ dengan jalan interstate ini,dari barat ke timur dan dari selatan ke utara.

Nah, kalau jalanannya bernomor 3 digit, itu biasanya jalan lingkar luar kota atau jalan cabang dari jalan utama yang 2 digit. Contoh di Kentucky, salah satu jalan interstate utama di sini itu I64, di I-64, jalanan bercabang menjadi I264. Gampangnya, kalau bingung kita ada dimana, lihat 2 nomor terakhir, jadi kita tahu kalau kita di jalan cabang dari I64.

Terus terang Saya masih keder menyetir di tengah kota. Maklum, pertama kali tinggal di Amrik itu di kota cilik, yang jalannya hanya liner dan 1 grid blok.

Waktu pindah ke Cleveland Ohio, asli bingung; tinggal di Louisville, Kentucky entah kenapa lebih bingung lagi….ha….ha…ha..parah!

Masalah jalan-jalan di Amrik ini nanti Insha ALLAH Saya bahas lebih heboh lagi yak.karena beda-beda di tiap kota.

4. Makanan

Tetap nasih favorit sepanjang masa. Bisa sih makan cereal buat sarapan, tapi yang ada satu jam kemudian peruk keroncongan, karena sudah lapar lagi!

Setelah tiba di Amerika…..

Then what?

Pertama, karena status kita (ini asumsi kondisi masuk ke US secara legal ya) belum penduduk tetap (permanent resident), jadi kita belum langsung bisa kerja.

Dengan alat pengenal satu-satunya yang berlaku dan dihargai secara hukum Amerika adalah paspor Indonesia- memang agak sulit untuk ‘bergerak’.

Nah dengan keterbatasan itu, ini hal-hal yang bisa kita lakukan :

1. Kalau tinggal di apartemen bersama pasangan, minta supaya nama kita di masukkan dalam kontrak sewa menyewa. Kenapa? Karena ini bisa dijadikan bukti tinggal di USA yang akan banyak diminta oleh institusi-institusi lainnya.

2. Kalau tinggal di rumah, bisa gunakan tagihan listrik dan air (utility bills istilahnya) sebagai tanda bukti tinggal di Amerika. Pasangan kita harus menelpon perusahaan ybs untuk menambahkan nama kita di tagihan.

3. Nah setelah ada bukti bertempat tinggal di Amerika, bisa ajukan aplikasi kartu identitas – ibarat KTP lah, judulnya State ID. Dengan memiliki ‘KTP’ ini akan memudahkan kita bertransaksi di tempat-tempat lainnya dari mulai perpustakaan, perbankan, kebun binatang dll.

Nah, Karena di KTP ini akan tercantum alamat kita di Amerika, makanya nomor 1 atau nomor 2 kudu dilakoni dulu. Selain kontrak apartemen dan tagihan air/listrik, surat masuk dengan nama dan alamat kita baru kadang juga bisa dijadikan bukti bertempat tinggal di Amerika.

Karena Saya di Jakarta sudah bisa mengendarai mobil sendiri, Saya tidak pernah memiliki KTP, tapi cukup SIM lokal.

Di beberapa negara bagian, ada yang membolehkan penduduk memiliki KTP dan SIM, tapi di beberapa negara bagian lain, si penduduk cuma boleh memiliki salah satu kartu identitas. Contohnya sewaktu kami tinggal di Ohio. SIM Saya masih berlaku hingga tahun 2014, dan kita tahu kita akan balik ke negara bagian asal (Montana). Jadi Saya ogah menyerahkan SIM Saya, tadinya Saya cuma mau ambil KTP setempat, eh ternyata hukum negara bagian Ohio tidak membolehkan satu orang memiliki 2 KTP dan SIM. Jadi ya Saya ogah ambil KTP/SIM Ohio, yang ada kemana-mana Saya kudu bawa surat dari apartemen yang menyatakan Saya penduduk lokal.

Di Kentucky, ternyata boleh-boleh saja. Lucu ya? Padahl Kentucky dan Ohio berbatasan.

4. Karena Saya  tidak punya uang sama sekali sewaktu baru pindah ke US, jadi kita langsung pergi ke bank suami untuk menambahkan nama Saya di rekening suami – asikk!!- dan dapat kartu debit supaya bisa belanja! hah!!

Nah, masalah bank ini, juga tergantung dari bank masing-masing, kartu identitas apa yang mereka syaratkan. Kalau di tempat Saya bekerja, untuk individu yang bukan warga negara Amerika dan tidak/belum memiliki nomor individu (social security number), bukti identitas yang diperlukan adalah : Paspor, KTP lokal, kartu kredit Visa atau Mastercard atau Discover atau American Express.

Bisa ditanyakan dulu ke bank yang bersangkutan, identitas apa yang mereka minta.

Urusan kartu identitas lokal sudah beres? sip. Langkah selanjutnya?

6. Amat sangat Saya sarankan untuk bisa mengemudi mobil di Amerika. Karena tidak semua kota-kota di Amerika memiliki fasilitas kendaraan umum yang memadai dan bisa diandalkan. Dan tergantung Anda tipe seperti apa? Saya tipe pembosan dan malas selalu tergantung dengan suami untuk diantar ke sana kemari, jadi Saya kudu punya SIM.

Karena Saya sudah biasa menyetir di Jakarta, Saya cukup belajar dengan suami membiasakan diri menyetir di jalur yang berbeda. Jelaslah Saya pernah masuk jalan yang salah…;-).

Untuk yang belum pernah menyetir mobil di Jakarta, monggo daftarkan ke sekolah mengemudi setempat.

Setelah PD mengemudi, mampir ke kantor DMV atau Department Motor Vehicle untuk mengambil bahan tes tertulis mengambil SIM. Pelajari dulu itu soal-soal di rumah supaya nanti sewaktu tes, bisa langsung lulus. Tiap-tiap DMV punya peraturan beda-beda. Kadang Anda bisa tes hingga 3 kali berturut-turut dalam sehari, ada yang hanya membolehkan tes 1 kali sehari.

Sudah PD mengemudi? sudah belajar tes tentang peraturan lalu lintas? Bisa daftarkan untuk tes di DMV setempat.

Nah ini juga berbeda di tiap negara bagian. Ada negara bagian yang calon pengemudi bisa ambil tes tertulis dan langsung tes mengemudi. Di negara bagian lain, karena jadwal yang ketat dan terbatasnya pegawai, si calon harus datang minimal dua kali.

Yang jelas tes tertulis harus lulus dulu baru Anda bisa ambil tes mengemudi.

Alhamdulillah Saya langsung lulus- karena sudah belajar lebih dulu!

7. Dapat identitas lokal sudah. Beres-beres tempat tinggal sudah. Lihat-lihat tempat belanja keperluan sehari-hari sudah. Ngapain lagi dong? bosan? tapi belum bisa kerja? (karena belum dapat ijin kerja). Anda bisa :

a. Daftarkan diri ke ‘adult education class‘ yang di selenggarakan oleh Pemda setempat dan biayanya amat terjangkau. Dari mulai berkebun, memasak, bertukang, dan banyaaaak lagi. Di Louisville, Kentucky bisa dibaca disini,

Saya sendiri pernah ikutan beberapa kelas sewaktu tinggal di Bozeman, biasanya kelas-kelasnya diselenggarakan di malam hari. Lumayan biar ini otak tidak menganggur.

b. Menjadi sukarelawan alias volunteer. Biasanya perpustakaan, tempat ibadah, sekolah, musium, food bank, community center selalu ada lowongan untuk sukarelawan. Jangan salah, waktu yang kita habiskan sebagai relawan ini bisa dimasukkan ke dalam resume loh! untuk sekolah, kemungkinan agak lebih sulit karena mereka akan minta laporan latar belakang (background check) dari FBI – dan untuk itu mereka akan perlu SSN kita. (yang kemungkinan belum kita dapatkan)

Kayaknya itu saja deh yang Saya bisa tulis saat ini.

Semoga berguna ya!

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses Masuk ke Amerika

Baca juga : PROSES MASUK KE AMERIKA – TANYA JAWAB

Di tulisan saya ini, teman-teman akan temukan banyak tautan (link) ke situs di luar blog saya, yang berguna untuk ereferensi teman-teman yang ingin tahu lebih detail proses masuk ke Amrik.

Waktu saya kenal dengan calon suami yang warga negara Amerika (2003)dan tahu akan menikah,  kita di hadapkan dua pilihan. Menikah di Amerika atau menikah di Indonesia. Pilihan ini menentukan tipe visa yang akan saya dapat  harus (calon) suami ajukan. 

Kalau menikah di Amerika berarti calon suami harus ajukan petisi untuk visa tunangan; keuntungan visa tunangan ini, jangka waktu pengajuan aplikasi notabene relatif lebih cepat didapat dan juga kita bisa tinggal langsung dengan pasangan, karena kita sudah berada di Amerika (untuk menikah dan tinggal bersama).

Resikonya adalah kalau tiba-tiba si calon ada musibah atau masalah sehingga pernikahan tertunda, padahal masa berlaku visa tunangan itu cuma 6 bulan, belum tentu visa nya bisa diperpanjang. Atau tiba-tiba calon berubah pikiran, membatalkan pernikahan sementara kita sudah di Amrik seorang diri, tidak punya tiket untuk balik ke Indonesia.

Karena kami putuskan untuk menikah di Indonesia, artinya saya akan diberikan visa pasangan (spouse visa) yang prosesnya lebih lama dibanding dengan visa tunangan.

Resiko visa pasangan ini adalah kami tidak bisa langsung hidup bersama sebagai pasangan (kecuali memang kamu sudah punya visa turis misalnya). Hal ini sudah kami bahas bersama-sama, dan saya pribadi tidak masalah ‘ditinggal suami setelah menikah’, karena saya terbiasa wara-wiri sendiri atau dengan teman-teman kantor.

Untuk menikah dengan orang Indonesia, si warga negara Amrik harus ke Kedutaan Besar Amerika untuk urus masalah administrasi: menandatangani formulir boleh/bisa/bebas untuk menikah. (formulir dan keterangan lebih detail bisa dilihat di sini.-bandingkan dengan arsip yang saya punya)

Di akhir tulisan, saya bagi juga arsip-arsip yang kebetulan masih saya simpan

Tapi ingat loh, ini dokumen-dokumen jaman kuda :2003, ada kemungkinan tidak berlaku lagi, meskipun ada beberapa hal yang masih sama.

Dan kita pilih jalur legal alias sesuai hukum keimigrasian Amerika. 

Nah, setelah kami menikah di Jakarta, Indonesia, Suami balik ke Amerika, segera ajukan petisi untuk mensponsori relatif saya, sebagai istrinya untuk imigrasi ke Amerika (Formulir I-30).

Salah satu persyaratan di formulir ini adalah dia harus membuktikan kalau dia berpenghasilan cukup untuk menghidupi kami berdua di Amerika dan kami berdua juga harus melampirkan bukit-bukit kalau kami sah menikah di Indonesia. (kartu nikah dan surat keterangan menikah)

Jadi waktu itu saya dari Indonesia sibuk mengurus terjemahan bahasa Inggris surat nikah kami di penterjemah yang diakui oleh Kedutaan Besar Amerika. Untungya buat saya, salah satu dari penterjemah tinggal di komplek yang sama dengan saya. Jadi saya tidak perlu repot jauh-jauh ke kota (saya tinggal di pinggir kota gitu loh) 😉

Saya harus kirim dokumen tersebut ke suami, yang oleh suami akan dilampirkan bersama-sama dengan formulir I-30.

Seingat Saya proses pengiriman dokumen ke imigrasi Amerika itu paling tidak dilakukan 3 kali. Setiap kali dokumen di kirim, Suami akan mendapat notifikasi tentang dokumennya. Diterima atau ada kekurangan lampiran. Dan seingat Saya kita harus membayar paling tidak 2 kali biaya keimigrasian – yang tidak murah. ($300)

Proses -pengajuan visa dari mulai pengiriman dokumen hingga visa dikeluarkan –ini juga berlangsung cukup lama – minimal 6 bulan hingga 12 bulanan atau lebih.

Saya baru satu tahun lebih akhirnya mendapat visa pasangan (spouse visa). Terus terang cukup menjengkelkan dan melelahkan hati. Karena selalu ada orang-orang usil yang bertanya ‘Koq masih di Indonesia? Kapan visanya keluar? dan seterusnya.

Sampai-sampai ada yang menggosipkan kalau Saya dikibuli si bule, atau cuma di kawin kontrak dan ditinggal. (menghela nafas panjang).

Visa saya keluar tanggal 1 Februari 2005 dan berlaku hingga 31 Januari 2007.

visaimigran

Saya berangkat ke Amerika tanggal 26 Maret 2005.

stampairport

Visa ini adalah kunci untuk saya masuk ke negara Amerika. 

Nah setelah masuk ke Amerika, Saya segera ajukan penggantian status (formuliar I485), yang merupakan awal dari proses selanjutnya yaitu mendapatkan kartu penduduk tetap (Permanent Resident aka Green Card).

PR seperti namanya adalah dokumen resmi yang membuktikan kalau saya adalah penduduk tetap Amerika yang artinya saya tidak lagi perlu pusing mengurus visa untuk keluar masuk Amerika karena saya sudah PR- bukan turis lagi lah- dan juga memberikan saya hak-hak lainnya seperti layaknya warga negara Amerika.

Penggantian status ini memudahkan Saya untuk bekerja dan menetap dengan legal di Amerika tanpa tergantung dari visa.

Dengan pergantian status, meskipun saya belum memiliki kartu PR, saya sudah berhak untuk bekerja secara sah. Dari pergantian status ini, saya mendapat nomor sosial yang artinya saya boleh bekerja secara legal (dan membayar pajak tentunya)

Nah, hukum keimigrasian Amerika itu berubah-ubah.

Sekitar 20 tahun lalu, pasangan non Amerika yang menikah dengan warga negara Amerika otomatis mendapat kartu penduduk tetap. Yang ada, banyak pernikahan bohong-bohongan, dimana imigran-imigran hanya memanfaatkan warga negara Amerika untuk mendapat si KTP.  Mungkin karena ini lalu hukum keimigrasian Amerika berubah.

Sewaktu Saya mengajukan petisipun, dalam waktu sekitar 6 bulan, hukum keimigrasian berubah lagi. Kebetulan Saya berkenalan dengan teman yang juga menikah dengan orang Amerika, suaminya boleh mengajukan petisi dari Indonesia – waktu masa Saya tidak boleh.

Rekan Saya itu mendapat visa relatif lebih cepat, tapi kartu penduduk tetap yang dia dapat masa berlakunya lebih pendek dibanding yang Saya dapat. (PR Saya berlaku 10 tahun, dia berlaku 2 tahun).

Lumayan riweh lah dan melelahkan hati, tapi yang jelas sekarang kami tenang. Karena tidak perlu pusing memikirkan ijin tinggal, bekerja, mebayar pajak dan sebagainya, karena semua sesuai hukum yang berlaku.

Untuk masalah imigrasi Amerika, gunakan link ini ya.

Jangan terkecoh dengan situs imigrasi US yang nongol lewat pencarian Google, selalu gunakan http://www.uscis.gov

Cara mengisi formulir I-30 bisa dibaca di sini

Mudah-mudahan cerita Saya ada gunakan, tapi ingat loh, setiap kasus – tergantung dari visa yang di dapat untuk masuk ke Amerika, proses imigrasinya berbeda.

Yang sama : lakukanlah sesuai dengan hukum yang berlaku ah!

Arsip 1 : langkah-langkah yang kudu dilakoni untuk menikah dengan wn Amrik, baik menikah di Indo atau menikah di Amrik :

marriedinusindo

Karena saya menikah secara Islam, saya juga kudu cari penghulu yang bisa berbahasa Inggris, kalau tidak salah saya dapat referensi dari tempat menikah : Masjid At Tin, Taman Mini Indonesia Indah.

Ini arsip janji suami dalam bahasa Inggris :

 

husbandpledge

Arsip 3 : Pengucapan penerimaan menikah

penghulu

Arsip 4 : Surat keterangan dari Kedutaan Besar Amerika : ijin untuk menikah di Indonesia

formembassy