masa kecil

Berteman

Barusan saya lihat utasan ini

Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.

Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.

Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.

Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.

Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?

Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.

Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “

Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.

Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.

Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.

Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.

Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.

Netral ? Bull shit.

Ya udah yuk, kita jalan sendiri saja.

Selingan Ringan : Nemu Coklat Cemilan Jaman SD!

Kalau di tulisan pertama saya di seri ‘Selingan’ , saya cerita tentang ketemu tulisan nama alias kota Jakarta – kota kelahiran saya, sekarang saya mau cerita kalau saya ketemu coklat jaman saya cilik, masih sekolah dasar.

Saya ingat sekali,waktu saya kelas 5 atau 6 SD, kami sekeluarga tinggal di daerah Pancoran, Pasar Minggu, dimana salah satu kakak Ibu, juga tinggal di situ. Jadi kita (saya dan kakak) lumayan sering berkunjung ke rumah beliau. Saya senang ngaso di rumah beliau, karena Oom dan Tante baik sekali dengan kami berdua, kami berdua selalu di beri cemilan, kadang kue kering kalengan, tapi yang kebanyakan itu : coklat!

Saya bahkan ingat merek coklatnya, yaitu coklat merek Van Houten. Tidak terhitunglah berapa banyak coklat yang saya makan! (pastinya banyak ya, karena puluhan tahun kemudian masih terngiang-ngiang…he..he..he..)

Nah, kami sekeluarga cuma tinggal di daerah itu selama 2 tahun, setelah itu kami pindah di pinggiran kota dan otomatis kunjungan ke rumah Oom dan Tante menjadi berkurang. Jadilah saya tidak lagi bisa menikmati nikmatnya coklat Van Houten, ditambah alharhum ayah dan ibu tidak membiasakan anak-anaknya bercemilan ria.

Pindah ke Amerika, jangankan makan, melihat produk Van Houten saja hampir tidak pernah; maklum 5 tahun pertama saya tinggalnya di desa koboi.

Eh, hari ini, waktu sedang belanja di supermarket Asia, mata tiba-tiba tertumbuk kaleng berwarna ungu yang akrab di hati. Oh lala!!! Ternyata si coklat Van Houten!! Langsunglah saya foto si kaleng coklat ini!

DSCN4581

Senang rasanya menemukan salah satu kenangan manis di masa kecil…..

Konyol ya?

Tapi inilah salah satu indahnya hidup di negeri asing :menemukan hal-hal kecil yang memberikan kebahagiaan tersendiri buat kita…..