opini

Berteman

Barusan saya lihat utasan ini

Saya setuju sik dengan apa yang dikatakan si pembicara.

Kalau masalah2 sepele okelah ya, kita bisa cuma angkat bahu dan cengengesan saat ada teman yang “ribut”.

Tapi kalau sudah masalah prinsip? Saya jelas akan berpihak sik. Dan ini juga yang membuat saya menjauh dari ‘teman-teman’ di sini.

Hal prinsip itu seperti apa ya? Ya memang beda-beda pastinya untuk setiap orang ya.

Buat saya ni. Contoh hal prinsip adalah saat saya dengan bego nya cerita hal yang memalukan yang terjadi dengan saya, (dibaca pelecehan seksual) si pendengar dengan entengnya bilang ‘saya nanti jodohnya’ dengan si yang bikin malu saya?

Ya saya putus. Berarti pandangan hidup dia ya sudah beda banget dengan saya ya.

Contoh lain. Saya dikata-katain oleh anak umur 8 tahun. Saya kasih tahu ke orang tua, si ortu cuma bilang ‘Namanya juga anak-anak “

Ya selamat tinggal. Saya tidak mau lagi berhubungan dengan ortu model seperti itu.

Saya memang tipe ‘setia’ , solider, entah itu sama pacar, saudara atau teman.

Kalau teman saya misalnya lagi uring-uringan dengan seseorang, dan saya ngerti kenapa dia uring-uringan, ya saya gak bakal lah manis2 dengan si orang yang teman saya uring-uringan.

Itu saja sih yang minta dari hubungan saya dengan seseorang.

Dan ternyata dari utasan IG ini, ada juga yang sependapat dengan saya.

Netral ? Bull shit.

Ya udah yuk, kita jalan sendiri saja.

Ateist Tidak Selalu Jelek

Untuk sebagian besar dari masyarakat, kata ateist sungguh tabu diucapkan, diperbincangkan.

Ya wajar, karena sebagian besar ajaran agama, memandang seseorang yang ateist, tidak bertuhan, tidak percaya akan keberadaan tuhan adalah seseorang yang sesat. Orang yang tidak mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa.

Ateist intinya cuma menjelek-jelekan agama dan pemeluknya. Ini stereotype tentang ateist.

Saya pernah sedang berbincang2 dengan salah satu kenalan. “Pokoknya saya paling tidak akan bisa memaafkan anak saya, kalau dia bilang dia tidak lagi percaya Tuhan”, celetuknya.

Saya sempat tertegun. Koq?

Waktu saya mau coba lanjut berdiskusi, dia mengangkat tangannya. Yang saya artikan sebagai ini hal yang mutlak dan dia gak mau berdiskusi tentang masalah ini.

Alasan seseorang meninggalkan agamanya dan memilih untuk tidak bertuhan itu bermacam-macam. Dan bukannya terjadi begitu saja. Ada proses. Ada banyak hal yg dipertanyakan dalam pikiran mereka.

Buat saya itu adalah sesuatu yang sangat pribadi & tidak perlu “dipertanyakan”.

Saya sendiri tidak melihat seseorang yang ateist sebagai akhir dari ybs. (The end of them). Seakan2 hidup mereka akan menjadi tak bermakna. Atau mereka adalah musuh kaum beragama.

Saya melihat mereka sebagai seseorang yang punya pandangan berbeda di masalah ketuhanan.

Seseorang yang ateist bukan berarti mereka kehilangan moralnya. Bukan berarti mereka tidak lagi bisa atau tidak lagi mau menghormati kaum beragama. Bukan berarti mereka tidak ada bermanfaat untuk dunia. Bukan berarti mereka tidak punya aturan, tidak berhati nurani. Bukan berarti hidup mereka jadi tidak bermakna atau sia-sia.

Seseorang yang memilih menjadi ateist tidak hatus dikucilkan, dicibir, dicela, dicemooh, dinistakan.

Sebaliknya , coba dengar pandangan mereka dengan hati terbuka, lapang dan lurus2 saja.

Kalau tho pada akhirnya anda tetap tidak setuju dengan pilihan mereka , ya tidak usah menjadi masalah.

Koreksilah perilaku seseorang, bukan pilihan keyakinan mereka.

Setiap orang ada jalannya masing-masing. Kalau dengan menjadi ateist mereka lebih berprestasi, lebih baik sebagai individu di masyarat, bukanlah itu yang lebih penting?

Gak semua orang ateist pembenci kaum beragama.

Dua pihak semata2 punya pemikiran yang berbeda tentang hidup di dunia, tentang ketuhanan.

Jadikan keberadaan mereka sebagai tantangan untuk perbaikii keagamaan kita pribadi, untuk memperdalamlah ketuhanan kita.  Tanyakan ke diri kita sendiri. Apa iya kita sudah berbuat jauh lebih baik dari penganut ateist ini?

Setiap orang ada jalan masing-masing.

Damai itu adem

❤️❤️❤️❤️

Politik Oh Politik

Saat ini Amrik lagi ruameeee bamget masalah politik. Teman2 di Indo pasti banyak juga yang denger perkembangan terbaru dari partai Demokrat dimana wakil presiden yang kebetulan perempuan sekarang maju jadi calon presiden untuk pemilu November 2024 ini.

Saya sendiri gak mau komentar tentang kandidat ya…

Yang saya mau komentari disini itu pendukung2 kandidat.

Saya suka pusing sendiri baca komentar2, sahutan2 pendukung kepada kandidat favorit mereka ataupun kepada kandidat saingan.

Kadang komentar nya koq keji bamget gitu. Atau berkesan sangat merendahkan.

Kenapa gitu kita gak bisa obyektif aja?

Kandidat A kuat di segi apalah, kandidat B pengalaman di masalah X.

Karena ya kalau saya bilang sik..setiap orang kan ada kelebihan dan kekurangan?

Coontoh misalnya. Saya jangan di pilih untuk masalah masak memasak karena saya ogah bamget sama yang namanya masak.

Tapi saya suka perhatikan teknik memasak, suka mengetahui masalah bumbu2, suka baca2 tentang masakan beda2.

Jadi kalau kamu mau cari orang buat masak..jangan pilih saya, tapj kalau mau cari juri dalam kontes masak, saya mungkin masih cocok.

Contoh lagi bapake anak saya.

Kalau ditanya masalah matematik, biologi, atau masalah ilmu pengetahuan deh, dese bisa jawab fasih.

Tapi kalau masalah jadi suami, yah…score nya ya anjlok…🤣🤣🤣

Intinya …gimana kalau kita semua belajar obyektif, melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Karena ada pepatah ni…

Every coin has two sides.

Every mountain has a valley

.For every strength there is a weakness

Every up has a down.

Jadi chill saja lah……

Setuju?

Bergaya Buat Siapa

Ngaku saja deh, saya suka berpakaian apik, bergaya lah istilahnya.

Kalau dilihat2 sik bukan “bawaan orok” ya, tapi bertahap gitu, saya jadi senang dengan styling dalam berpakaian.

Mungkin juga ada pengaruh dari melihat almarhum ibu saya setiap beliau pergi ke kantor, saya melihat beliau memilih baju, perhiasan dari mulai sapu tangan, anting2, kalung, tas dan sepatu.

Sekarang saya ikut akun2 gak perempuan gak laki2 di Instagram buat belajar cara styling.

Saat ini boleh dibilang saya sudah tahu lah apa yang cocok dan apa yang tidak cocok dengan bentuk badan saya.  Gak selalu sik, mungkin ya 80%.

Saya bukan penganut paham berpakaianlah sesuai umur, tapi lebih berpakaianlah sesuai acara, cuaca/kondisi lapangan gitu

Mau bertamu ke tempat teman yang bersuami ya gak mungkin saya pakai celana pendek yang minim. Meskipun badan saya keren kayak JLo misalnya, ya gak sopan aja menurut standar saya ya.

Ke kantor ya teman2 gak akan lihat saya pakai celana jogger atau legging atau hoodies. Meskipun banyak teman2 yang pakai , saya tetap ogah. Karena ya buat standar saya, gak oke saja.

Gak bohong , kadang saya suka berpkaian ‘ekstra’. Mau kerja di toko saja, milih baju ribet. Ya buat saya gak apa2? Karena memang saya akui ya saya senang dress up juga.

Banyak orang berpikir kalau seseorang , terutama wanita, alasan mereka berdandan adalah buat dilihat lawan jenis?

Terus terang saya mah bukan itu alasannya.

Alasan saya berpakaian apik adalah kepuasan diri, I dress up cause I like to feel good about myself

kalau tho mau dilihat, lebih ke dilihat sama wanita2 lain , masalah dilihat cowok mah gak penting lagiiiiiijj

Terlihat Kaya Itu Penting?

Dari waktu masih tinggal di Jakara belum kawin sama bule, sampai saya tinggal di Amrik…saya perhatikan banyak sekali orang2 Indo yang tinggal di LN sepertinya harus menunjukkan betapa makmurnya mereka di Amrik.

Dari mulai fotoin mobil Porsche, bikin video buka bungkus tas Hermes, foto sehari2 harus pakai tas LV atau Gucci dan seterusnya….

Saya juga orangnya gak terlalu peduli sik dengan “keharusan” pakai barang2 bermerek tertentu.

Senang barang bagus? Ya senang. Contoh, kalau beli tas, saya pilih tas kulit, gak suka tas2 vinyl atau kulit sintetik dan memang saya akui tas kulit dari Itali itu lembut banget. Cuma apa harus beli bermerek? Ya enggak.

Saya gak belanja di H&M bukan karena merasa merek tersebut gak high end, tapi karena saya gak terlalu suka modelnya.

Demikian juga kalo saya beli baju2 Banana Republic, yang memang bukan high end, meskipun buat saya pribadi tidak murah, tapi saya suka model nya. Di tambah lagi saya kerja di situ.

Saya dikasih Michael Kors ogah banget. Gak suka sama modelnya. Di kasih Never Full nya LV mikir2, soalnya pasaran banget.

Mungkin juga karena ya saya memang gak mampu ya.

Pertanyaannya adalah

Kalau kita sebetulnya gak mampu beli barang2 luxury , apa kita harus maksakan beli barang2 tersebut supaya “diterima” ?

Supaya dilihat keren? Dipuja2 sama temen2, keluarga2 di Indo karena foto2 menenteng “barang2 investasi” berwujud tas, sepatu beralas merah, mobil bernama Eropa?

Sepertinya anggapan banyak orang itu kalau pakai barang2 bermerek, kita jadi lebih accepted? Naik “kasta” nya.

Kenapa koq gak ada tren Terlihat Miskin Tapi Kaya? Atau Biar Miskin Tetap Oke ?

Atau tren Be Humble?

Status simbol ternyata masih kuat banget ya di masyarakat Indonesia. (Saya fokus ke orang Indonesia soalnya saya gak terlalu tahu budaya lain sik. Tapi sepertinya hal ini gak kenal batas ras)

Tinggal LN = kaya

Suami bule = kaya

Tinggal di Amerika = keren

Saya mah jadi penonton saja deh…..

Yuk mari….