perantauan

Katanya tinggal di Amerika, koq blognya bahasa Indonesia?

Hi..hi..hi.

Salah satu teman SMP di halaman Facebook Saya sempat protes kenapa koq Saya selalu menulis status dalam bahasa Inggris. Istilahnya ‘duh si Mpok kebule-bulean banget seh??’

Apa benar ya si Dayang sekarang sudah kebule-bulean?

Sibuk berbahasa Inggris, karena tinggal di Amerika dan sudah berbaur, beradaptasi menjadi ‘bule’ juga?

Alhamdulillah Saya dibesarkan oleh orang tua yang cukup ‘keras’ dalam masalah mencintai negeri dan budaya sendiri.

Alasan Saya berbahasa Inggris di halaman facebook adalah karena ada teman-teman (termasuk Suami) yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Saya ingin mereka bisa membaca tulisan Saya.

Sebetulnya Saya termasuk orang yang ‘gemas’ kalau membaca tulisan rekan-rekan Indonesia yang campur aduk tidak karu-karuan , antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa memakai aturan menulis (yaitu menggunakan huruf miring untuk istilah asing yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) yang benar.

Contoh : Kemarin kami pergi ke zoo, tidak lupa pakai sepatu sports, karena akan waiting for bus.

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….

Apa benar ya berbahasa Indonesia itu susah? tidak keren? tidak populer?

Jadilah blog Saya ini dibuat hampir sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia yang meskipun tidak terlalu baku, tapi tetap berpedoman pada EYD yang Saya masih ingat dari jaman sekolah dulu.

Menulis dengan bahasa Indonesia itu asik dan enak dibaca juga koq! (benar tidak?!)

Pulang dong. Pulang.

Kata ‘pulang’ buat Saya terus terang ibarat kecantol duri ikan di tenggorokan. Nyebelin.

Baru Saya sadari kalau ternyata persepsi sebagian besar teman-teman di Indonesia tentang imigran Indonesia di luar negeri, adalah ‘keharusan’ pulang kampung SETIAP TAHUN. TITIK.

Idealnya sih ya begitu ya. Siapa sih yang tidak mau mengunjungi keluarga di Indonesia setiap tahun? ramai-ramai berkumpul, ramai-ramai bercerita, bersilaturahmi. Bawa oleh-oleh dari Amerikah. ;-), nyetok bumbu-bumbu Indonesiah buat tahun berikutnya….

Tapi kenyataanyaaaaaaa……………..

Tidak SEMUDAH itu.

Contohnya Saya..yang sudah tidak pulang sejak Desember 2006.

Kenapa gitu tidak pulang-pulang? Sampai-sampai Saya di cerca habis-habisan sama salah satu kerabat sendiri. Diomongin inilah, itulah. Hadweeeeh, sampai sakit ini hati.

Ingat tidak kalau Amerika kena resesi di tahun 1998-99?

Keluarga Saya termasuk kena korban resesi.

Suami kena pemecatan. Satu tahun lebih dia menganggur berusaha mencari kerja.
Untunglah Saya bekerja, dan saat itu ada lowongan untuk kerja penuh waktu yang segera Saya lamar and Alhamdulillah diterima.

Anak segara kami daftarkan (dan diterima) di asuransi kesehatan pemerintah dan sekolah pra TK yang memang diperuntukkan bagi keluarga penghasilan bawah.

Meskipun suami dapat asuransi pengangguran setiap bulannya, itu hanya cukup untuk membayar angsuran rumah, untuk biaya hidup sehari-hari Kami mengandalkan gaji mingguan Saya.

Kami kebat kebit setiap bulannya memikirkan bagaimana membayar angsuran rumah.

Setelah berhasil mendapat pekerjaan baru di Cleveland, Ohio, setelah 1.5 tahun kontrak suami habis, kami kembali pindah ke rumah di Montana tanpa ada pekerjaan pasti (baca : kembali menjadi pengangguran dan ada tambahan biaya pindah yang tidak murah).

Baru 4 bulan di Montana, Alhamdulilah suami dapat pekerjaan di Plano, Texas, karena kita baru saja ‘settling’ diputuskan suami saja yang pergi ke TX, Saya dan anak tetap tinggal di MT, sampai akhir tahun atau pindah waktu anak liburan musim semi…baru juga kita senang sebentar…

Jeder!!!!!!!!!!!

Ketika Saya sedang siap-siap mengepak koper untuk mengunjungi suami di Plano, TX, suami menelpon dan memberitahu kalau dia di pecat lagi….duh gusti…..

Untunglah dalam waktu 2 bulan, suami dapat tawaran kerja di Louisville, Kentucky.

Masalah beres?

Not really

Dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, kami berpindah 4 kali : Ohio ke Montana, Montana-Texas, Texas-Kentucky, Montana-Kentucky. Ongkos pindah itu rata -rata tidak kurang dari $1,000-$2,000 setiap kali kita pindah.

Belum lagi karena suami harus segera pergi ke negara bagian baru, dia dianggap mangkir dari kontrak apartemen di Texas, jadilah selama 2 bulanan kita harus memutar otak bagaimana caranya membayar : rumah di Montana, apartemen di Texas dan apartemen di Kentucky.

wuih…asli deg-degan Kami setiap bulannya…

Pulang? I wish.