prakarya

Masih Belajar Jadi Dewasa

Astaga, sudah umur setengah abad lebih masih cerita soal masa pendewasaan?

Ya ho-oh. Karena baru sadar kalau yang namanya menjadi dewasa atau istilah bahasa Inggrisnya adulting itu ternyata gak sekali jadi yak?

Sungguh, saya itu baru-baru ini saja ngeh, kalau ternyata saya baru belajar menjadi dewasa dan matang (ceileee…pisang kali…) itu baru 20 tahun terakhir? Belajar matang pemikiran? Ini lebih baru lagi deh.

Pendewasaan pertama itu ya juga terpaksa ya? karena pindah ke Amrik, gak ada siapa2.

Eh tapi ya sebenarnya dewasa itu apa sih? Apa semata-mata mengerjakan apa2 sendiri? Belajar bertanggung jawab atas hidup sendiri ? Belajar menghadapi konsekuensi pilihan?

Kalau cuma dilihat dari misalnya, bisa masak sendiri, mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari, saya baru dewasa 20 tahun lalu.

Kalau dilihat dari kemampuan seseorang membiayai diri mereka sendiri, saya ibaratnya masih balita. Karena baru di tahun 2021 akhir saya bisa menghidupi saya sendiri setelah bertahun-tahun ngendon orang tua, lanjut dengan ngendon suami.

Satu hal yang saya sendiri takjub akan proses pendewasaan diri saya sendiri adalah saya perhatikan saya jadi lebih resourceful. Apa ya bahasa Indonesianya? Intinya saya berusaha memakai dulu apa yang saya miliki sebelum saya beli baru.

Mungkin ya karena kantong pas-pasan juga kali….tapi ni… memang saya kalau baca tentang betapa bejibunnya sampah konsumsi manusia, saya suka panik sendiri. Ditambah juga waktu merasakan sendiri pas pindahan , haduh, koq barang banyak sekali ya??

Selain malu dan rasanya bersalah banget kalau buang-buang barang, juga kepikiran, nanti kalau saya tiba-tiba meninggal, kasihan gak sih yang harus urus barang-barang saya??

Selain itu saya mau lebih sadar lingkungan juga lah. Jadi kombinasi antara kantong pas-pasan dan mau lebih sadar lingkungan, saya jadi lebih mawas diri kalau mau beli ini itu.

Jadi ya dari mulai hal yang keperluan seperti memasak, sampai hal sepele , seperti cari dekorasi, saya sebelum ngacir ke toko, celingukan dulu di sekitar rumah.

Kalau masalah dapur, saya minimal selalu sedia : nasi, telur, tahu, sayuran beku, kecap manis, kecap asin, garam merica, bawang putih bubuk, mi instan.

Kalau masalah hal-hal tersier, ‘untung’nya saya di masa lalu itu boros. Jadi saya punya banyak barang reblekan.

Minggu lalu sempat jalan sama anak saya, dia mau beli ini itu untuk bikin kostum Halloween dia, yang ada saya senewen ‘ngapain sik beli? Pakai yang ada dulu aja gak bisa?? ‘ Karena saya pun membuat kostum Halloween sendiri, tapi cuma beli 1 bahan baru, yang lainnya memakai bahan-bahan yang saya sudah miliki.

Hasilnya? Pahlawan khayalan dan dinobatkan sebagai pemenang kostum paling kreatif di kantor.

Contoh lain ni. Saya gatel ingin buat dekorasi di depan pintu, karena saat ini area depan pintu saya yang tadinya penuh dengan tanaman-tanaman rumah, sekarang agak kosong melompong.

Beli dekorasi? eMoH deh. Keluar duit lagi? (Jiwa pas-pasan saya bergejolak). Celingukanlah saya di apartemen.

Dan jadilah dekorasi sederhana dari bunga kering dan bunga kertas peninggalan entah tahun kapan.

Masih kurang puas. Maklum saya konon tipe maksimalis. Ya puter otak lagi.

Saya punya ide di kepala. Yang jelas pengen pakai lilin kecil gitu. Romantis kayaknya. Tapi selain lilin apa lagi dong?

Lihat utasan si ibu bule yang suka bertanam bunga dan bikin dekorasi dari bahan-bahan alami. Pine cone lucu juga? Bisa kali di dapat dari pas jalan-jalan di taman. Gak perlu keluar duit kan?

Jadilah saya bertekad untuk mencari pine cone , eh hari ni nemu dong! Dekat tempat tinggal lagi! Gak perlu jauh-jauh.

Dan kebetulan saya punya pot kaca yang tebal dan bagus , saya beli pas saya lagi hobi bikin terarium. Ini pot agak-agak terbengkalai gitu. Kasihan kan?!

Saya tatalah itu pine cone, eh kurang oke? Eh kan punya sisa pasir? Kan punya sisa rumput palsu? Kan punya gelas kaca pendek bekas yogurt?

Dan jadilah center piece lucu-lucuan di bawah ini…

Eh, ternyata menjadi dewasa…lucu juga?

Evolusi Prakarya

Boleh dibilang saya itu lumayan nyentrik, kreatif dan artistik. Ceile.

Boleh dong muji karakter diri sekali-sekali.

Tapi ternyata saya juga gak terlalu suka dengan dekorasi ini itu? Nah kontradiksi gak sih?

Apalagi ni ya, di Amerika, haduh, rata2 warlok hobi bener sama yang namanya dekorasi. Tahun baru, balon, topi, terompet, Februari, cinta-cintaan, Paskah, telur hias, kelinci, warna warni pastel, hari-hari Veteran, Memorial Day, Fourth of July, pasang bendera, Halloween dan natal ya tahu sendiri lah.

Nah, saya gak suka. Selain dekorasi di hari-hari perayaan, ada dekorasi sehari-hari. Ini saya lebih pusing lagi, kalau lihat reel2 di IG gitu. Tempat lilin, batu, pot bahkan buku pun ternyata pajangan.

Salah satu barang dekorasi yang saya pernah beli lebih dari sekali itu wreath, itu loh hiasan berbentuk lingkaran yang dipajang di pintu rumah kita. Sempat punya 2, satu bunga-bungaan, satu lagi tema musim dingin. Ternyata? Bosen. Dan males deh harus ganti tiap.

Akhirnya saya sumbangkan lah,

🌸

Tahun 2021, saya pindah ke apartemen sendiri. Teman-teman banyak yang sumbangkan ini itu ke saya. Salah satu sumbangan yang saya terima adalah bunga-bunga kertas.

Lagi-lagi kan, saya gak suka dekorasi, agak bingung, ini enaknya diapain ya? Akhirnya saya pajang dengan cara saya masukkan ke vas bening sebagai ya dekorasi.

Satu saat di tahun 2023, saya kepingin bikin bingkai bunga untuk acara bertema pengantenan salah satu teman Indo, Kepikiran mau beli wreath bekas yang banyak bunga2annya. Jadilah saya beli di toko barang bekas. Bingkai bunga jadi, dipakai sebagai Photo Booth ala ala gitu deh. Setelah acara selesai, diapain ya? Masa dibuang? Sayang kan? Jadilah saya pakai untuk hiasan dinding untuk memajang topi saya yang juga bermotif bunga.

Bunganya memang terpakai, bingkai bunga terbuat, dan fungsinya diteruskan, tapi trus wreath nya bego aja gitu. Terbengkalai.

Hingga satu hari di tahun 2024 saya dan teman-teman pergi ke perkebunan buat petik bunga Lavender. Harga tiket itu sudah termasuk bunga Lavender berbagai jenis segenggam tangan.

Sampai di rumah, saya mikir, diapain ya bunga-bunga Lavender ini? Eh…kan punya wreath?

Eng ing eng, jadilah saya punya wreath hiasan bunga Lavender asli yang saya pajang di depan pintu apartemen saya.

🌷

Bulan Juni 2025, pas lagi wara-wiri di Pittsburgh, saya sempat mampir di toko yang jual bunga-bunga kering. Ih..lucu banget. Sebelum mampir di toko ini, saya memang sempat pernah beli rangkaian bunga/tanaman kering pas ada acara Made Market di kota saya. Ada warna jingga cerah, kuning, putih dan merah jambu gitu. Saya cuma sanggup beli yang ukuran kecil, karena ternyata mahal juga.

Nah toko di Pittsburgh ini jelas lebih komplit lah ya dan ragamnya lebih banyak. Dari situ sempat kepikiran dalam hati, ih, pengen juga punya rangkaian bunga-bunga kering.

Tapi trus ya itu, bosan saya kumat. Si rangkaian bunga kering yang saya beli, ya saya taruh di vas sih. Tapi saya merasa gak ‘seindah’ yang saya bayangkan. Kalau pas saya lihat , saya gatel , pengen diapain ya , tapi belum ada ide.

Wreath saya sudah mulai layu, bunga-bunga Lavendernya sudah tidak ungu lagi, dan banyak yang rontok. Celingak celinguk, gimana mau meng– update si wreath?

Tiba-tiba terpikir. Kan saya punya bunga-bunga kertas yang lucu tapi gak ‘tergali’ potensinya? Kan saya punya tanaman-tanaman kering yang nangkring di sudut tidak pernah bisa nampang cantiknya? Kan saya juga masih punya sisa bunga Lavender yang warnanya masih lekat?

Jadilah cuti hari Selasa minggu ini, saya wujudkan ide diatas.

Dan ini hasilnya!

Kenalkan : Lemari Rini – aksesoris cantik buatan tangan

Awal mulanya dari hobi & tuntutan pekerjaan , Maria Rini  senang membuat kerajinan tangan. Maklum sewaktu di Jakarta, si Jeng ini profesinya guru TK, jadi ya yang namanya membuat prakarya boleh dibilang memang ‘darah’ nya si Jeng.

Pindah ke Amerika di tahun 2012, hobi Maria tidak hilang begitu saja. Di sini Maria coba-coba belajar membuat perhiasan secara otodidak, yang ternyata membuat si Maria jadi kecantol dan kecanduan. 😉

Jadilah Maria mulai mengeksporasi kursus-kursus membuat perhiasan secara online, mengunduh buku-buku gratis dari internet (ebook) maupun belajar dari video di situs craftsy.comDari mulai menenun manik-manik(interweave beading) hingga menjahit, Maria lakoni.

Ternyata hasil prakarya Maria, banyak di minati orang-orang, pikir punya pikir, akhirnya Maria berani membuka toko online di tahun 2013 – yang untuk ukuran imigran baru, si Jeng ini boleh dibilang cukup cepat dalam mengambil keputusan untuk membuka bisnis sendiri. Salut deh buat si Jeng!

Kenapa koq diberi nama ‘Lemari Rini’?

Yang pasti Maria ingin nama bisnisnya tetap berbau Indonesia dong.

Setelah harus membatalkan nama ‘Rumah Rini’ karena sudah ada yang memiliki, Maria dan Suami akhinya setuju untuk menamai bisnis si Jeng ‘Lemari Rini’ – cocok tho..lemari untuk menyimpan pernak pernik cantik buatan Rini. 😉

Untuk teman-teman yang senang pernak-pernik, butuh buah tangan untuk rekan-rekan bule yang asli Indonesia, atau untuk dipakai sendiri tengok deh toko online Lemari Rini di facebook. Ada bando, kalung, anting-anting, jepitan bros dan banyak lagi deh!

Selain di facebook, teman-teman juga bisa membeli produk Maria di situs Lemari Rini disini.

Untuk pembelian dengan kartu kredit, teman-teman bisa membeli lewat situs Lemari Rini, sementara yang di Facebook, Maria hanya terima pembayaran dengan cek atau money order.

Jangan lupa sebarkan bisnis teman-teman Indonesia kita ke teman-teman yang lain ya!! Paling tidak di beri jempol dong!! 😉

blog

 

O iya, ini daftar situs-situs yang teman-teman bisa gunakan untuk belajar membuat perhiasan atau menjahit.

www.beadingdaily.com

www.jewelrymakingdaily.com

www.clothpaperscissors.com

www.sewdaily.com

www.burdastyle.com

www.flamingotoes.com

Untuk majalah-majalah, buku-buku, bahan-bahan prakarya cek toko-toko seperti :

Michaels

Jo-Ann

Ben Franklin

Dee

Hobby Lobby

Half Price Book Store – untuk majalah-majalah dengan harga relatif lebih murah dari toko buku biasa