Cerita Saya

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

NOL

Saya harus mulai dari NOL lagi.

Pendidikan : NOL (well, sederajat dengan lulusan SMA Amrik lah).

Pengalaman kerja : NOL.

Teman-teman : NOL

Sanak Keluarga Indo : NOL

Materi : NOL – uang suami ya saya tidak masukkan ya..secara saya kan dulu kerja gitu loh.

Tidak seperti kerabat-kerabat dan banyak teman-teman saya yang sungguh pintar  dan berkarir tinggi waktu di Jakarta, saya ini pas-pasan dan kurang ‘hoki’.

Latar pendidikan saya memang sarjana teknik sipil tapi wis saya tidak mengerti satu pun ilmu sipil yang saya pelajari. Jadi ya tidak bisa dipakai.

Universitas tempat saya lulus di Jakarta sih memang keren, tapi di Amrik ya tidak ada bunyinya.

Pengalaman kerja, mungkin bisa di daya gunakan, tapi waktu saya pertama hijrah tidak terpikir sejauh itu.

Jadilah waktu akhirnya saya mulai coba cari kerja, saya baru sadar kalau saya harus mulai dari NOL lagi.

Waduh…pedih juga lah hati ini setelah berpuluh puluh lamaran kerja tidak ada yang balik.

Atau waktu basah kuyup kehujanan tidak punya mobil tidak ada teman yang bisa di mintai tolong.

Melahirkan dan merawat anak, dijalani berduaan saja dengan suami. Sungguh super iri melihat teman-teman yang ada ibu atau bapaknya datang waktu anak-anak lahiran.

 Ya sudah, daripada mewek, mulailah saya kerja apa saja. Mulailah saya coba berteman. Mulailah saya mengumpulkan uang sendiri.

Terus terang saya salut sekali dengan teman-teman imigran Indonesia yang melanjutkan sekolah lagi di Amrik (mereka hijrah ke sini bukan untuk melanjutkan kuliah ya).

Saya pernah coba sekolah lagi..hadewweh..ini otak sudah karatan..yang ada malessss…..- parah kan?! jangan dicontoh ya!!

Intinya dari tulisan saya ini….

Jangan putus asa kalau apa-apa yang sudah kita rintis, eh…ternyata tidak ada artinya di tempat lain….

Kalau ada kesempatan sekolah, atau ambil kursus ya…monggo deh dilakoni…

Jangan malu untuk kerja di tempat kurang ‘mentereng’, yang penting kita tidak nyolong, tidak jualan yang terlarang, hasil kerja kita lama-lama bisa jadi bukit juga lah…

Hidup dari NOL lagi….kadang memang sesuatu yang harus kita lakoni….

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya sekarang keren karena suaminya bule

HA!

Aduh..enggak lah! suami bule tidak jadi buat saya jadi keren…yang serius ni :

Saya sekarang adalah kaum minoritas

Bukan cuma secara ras – Asia atau lebih mikronya Indonesia, saya juga minoritas dalam hal kepercayaan.

Tidak enak ya?

Tidak juga sih.  Tapi kalau mau jujur ya memang lebih mudah dan nyaman  jadi kaum mayoritas lah.

Dalam masalah makanan misalnya.

Dimana-mana harus ngecek tabel isi makanan, ada babinya atau tidak. Entah bagaimana, pernah kami salah beli daging…pas mau dimasak baru lihat label..lho koq babi ternyata?? ha…ha..ha..yang ada tetangga dapat daging babi gratis! hi..hi..hi….

Atau juga waktu pesan pizza,  perasaan pas order sudah pilih daging sapi, pas mas antar pizza sampai di depan pintu dan kami buka si kotak pizza…lho..koq pepperoni?? lagi-lagi tetangga dapat rejeki…kik..kik..kii

Minuman, pilihannya cuma air putih, es teh pahit, es teh manis, soda dan alkohol. Tidak ada es kelapa muda atau es teler misalnya.

Ada pesta kantor, haruslah isi bagian ‘dietary prohibition’ . Kadang kalau perusahaannya perhatian, ya makanan buat saya dibuat tersendiri, kadang bos suka lupa jadi saya cuma bisa gigit jari sementara semua rekan-rekan sibuk makan. Nasib….;-)

Eh tapi ya..masalah dietary prohibition ini bukan semata-mata religius sih, banyak orang-orang yang alergi jenis makanan tertentu, alergi gluten misalnya, atau alergi kacang. Jadi dietary prohibition ini saya perhatikan lebih ke masalah keselamatan, bukan semata-mata ‘penghormatan’ kepada pemilik agama tertentu.

Atau pas hari Natalan, rasanya saya harus adakan konfrensi pers untuk menjelaskan kenapa saya pilih untuk tidak merayakan hari Natal. Karena sebagian besar orang-orang disini seakan-akan jengah sekali kalau kita tidak merayakan natal.

Yang enaknya (atau tidak enaknya – terserah pembaca deh)…banyak orang-orang yang penasaran akan latar belakang saya karena saya minoritas. Kadang jadi pemancing pembicaraan gitu. Memang pas lagi tidak mood ngobrol ya capek sih…hi..hi..hi..

Yang jelas saya belajar menghargai ‘keterbatasan’ menjadi kaum minoritas. Belajar simpatik, toleransi, empati.

Lalu juga saya juga jadi lebih banyak bersyukur.

Bersyukur kalau saya ternyata lebih mengerti akan ketidakseragaman dan MENGHARGAI ketidakseragaman. Dan TIDAK NGOYO.

Idul Fitri jarang ada yang tahu, tidak libur, tidak ada yang kasih selamat, ya tidak masalah. Kalau mau libur ya tinggal minta ijin – kalau saya tidak salah ada aturannya untuk pegawai meminta libur berdasarkan hari besar, tapi saya pribadi tidak pernah minta.

Puasa, tidak ada teman senasib, tidak ada yang pedulikan, ya wong ibadah buat Tuhan kan…ya tidak masalah. Yang jelas harus celingukan ke jendela buat ngecek matahari tenggelam dan matahari terbit….atau mau cara lebih modern ya pakai app.

Menjadi minoritas bukan berarti menjadi tertindas, tapi menjadi minoritas adalah berkah untuk menghargai hal-hal kecil yang lebih berarti, misalnya waktu pesta natal perusahaan pertama saya kerja, saya lagi hamil bulet, seumur-umur belum pernah hadiri pesta natal ala bule kan. Eh ternyata saya dipesankan makanan yang tidak mengandung si ekor keriting. Jelas salut lah saya..apalagi perusahaan tempat saya kerja itu  perusahaan lokal, tho bos mau repot-repot order makanan cuma buat saya dan suami.

Atau waktu salah satu manajer saya mengingatkan manajer lainnya untuk pesan makanan yang saya bisa makan – sementara saya cuma satu-satunya staf yang tidak bisa makan si pinky kan, repot amat gitu. Terharu sekali saya, senang karena ada yang ingat.

Kalau tho bos-bos ‘lupa’ ya saya sih tidak marah..biasa saja..wong di Indonesia juga saya pernah harus duduk makan di restoran yang menunya babi semua, cuma karena bos besar pesan dan saya harus duduk bareng ya wis.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya harus bisa berbahasa Inggris lebih baik.

Untuk saya pernyataan diatas itu mutlak. Sebagai imigran, saya ngeh konsekuensi berimigrasi ke negara yang tidak berbahasa ibu saya, artinya saya harus belajar bahasa lokal di negara yang akan saya tinggal.

Untungnya saya cuma berimigrasi ke Amerika dimana bahasa mayoritas yang digunakan adalah bahasa Inggris. Kalau saya berimigrasi ke Jepang, atau ke Jerman atau ke Finlandia misalnya, kemungkinan besar saya akan nangis darah, karena harus belajar bahasa baru dari nol.

Saya memang sudah belajar bahasa Inggris dari mulai SMP – SMP negeri – dan ortu memasukkan saya ke kursus bahasa Inggris LIA – meskipun saya waktu itu belum cukup umur (masih SMP dan persyaratan masuk LIA jama itu, harus SMA), tapi saya ‘pura-pura bego’ ngaku anak SMA. Saya juga kerja di perusahaan yang bosnya orang Amrik, klien-klien juga banyak yang bule.

Jadi kemampuan bahasa Inggris saya tidak apa adanya.

Kenapa gitu saya merasa harus memperbaiki berbahasa Inggris saya setelah di Amrik?

Di sini ada stereotipe kalo imigran itu bloon, tidak bisa berbahasa Inggris, tidak punya kemampuan kerja , dan kelakuannya seperti parasit.

Saya mau mematahkan stereotipe itu.  Tidak rela deh di remehkan orang cuma karena saya imigran dan bahasa ibu saya bukan bahasa Inggris.

Lagipula menurut saya memang sudah adabnya lah kalau kita tinggal di negara lain, kita harus belajar budaya lokal.

Tul tidak?

Secara pribadi saya juga malu kalau kalimat bahasa Inggris saya cuma terbatas :

  • I love you
  • I love my husband
  • I have the best husband
  • I miss my husband
  • Honey
  • You are the best
  • dan kalimat-kalimat lain yang agak-agak mirip

Lagian kan, kita berinteraksi bukan cuma sama suami kita saja…

Jadi yuk…kalau mau tinggal di Amrik, belajarlah bahasa Inggris!

 

Pemilu Oh Pemilu

DKI Jakarta punya gubernur baru ceritanya. Saya sendiri yang sudah bukan penduduk Jakarta lagi, cuma bisa memantau berita dari postingan FB teman-teman. Kalau tidak salah ada 3 calon ya? Tapi yang ‘angot’ itu 2 calon, Ahok/Djarot dan Anies/Sandi.

Kalau saya perhatikan pilkada DKI ini koq ya ada mirip juga dengan pemilihan presiden Amrik tahun lalu. Calon yang kontroversi.

Kalau DT dan Ahok kayaknya mulutnya sama-sama ‘cablak’.  DT di tuduh anti agama tertentu, begitu juga Ahok.

Teman-teman di FB ramai posting status tentang pasangan favorit mereka, sama juga waktu pemilu Hillary/Trump. Masing-masing belain pilihannya sampai tetes darah penghabisan lah istilahnya.

Saya sendiri ikutan pemilu Amrik. Saya tidak pilih DT, bukan semata-mata karena dia digambarkan sangat anti agama tertentu, tapi karena menurut saya dia tidak berbobot.

Saya juga semangat sekali untuk memilih karena ini pemilu pertama saya sejak jadi WNA.

Tapi ada daya….hasil pemilu, DT menang. DT adalah presiden saya.

Bingung kenapa koq ya ada yang milih DT? Jelas. Setelah pencoblosan, saya ketar ketir mendengarkan berita di TV, siapa yang akan jadi presiden terpilih.

Waktu mendengar kalau DT adalah presiden terpilih, saya bengong……terselip rasa takut…terselip rasa ragu (dan jengkel itu pasti!! mau maki-maki? banget!!!!).

Hadweeeeh??!!!

Tapi ya mau gimana lagi? kenyataannya dia menang.

Lalu gimana dong? Imigrasi ke Kanada?

Well, dari situ saya belajar legowo. Saya yakinkan diri kalau warga negara Amerika lainnya tidak ada berdiam diri kalau presiden ybs melenceng dari konstitusi. Saya yakinkan diri kalau sistem Amerika akan mampu untuk memantau presiden terpilih untuk tidak semena-mena.

Saya yakinkan diri  kalau sebagian besar warga negara Amerika masih ‘waras’, kalaupun mereka memilih DT, bukan berarti mereka rasis, bukan berarti mereka anti agama tertentu, bahwa mereka tidak buta kenyataan.

Saya yakinkan diri kalau pemilih DT tetap akan berpegang pada konstitusi dan bukan bertindak berlandaskan kebencian.

Sama juga dengan hasil pemilihan gubernur DKI kali ini. Anies/Sandi yang menang. Saya tahu banyak teman-teman yang tidak sehati dengan hasil ini. Dan banyak teman-teman yang amat sangat bersyukur dengan tidak terpilihnya Ahok.

Seperti juga halnya dengan DT, saya yakinkan diri kalau teman-teman saya yang penduduk DKI baik yang memilih Ahok ataupun yang memilih Anies, memilih karena rasional.

Saya yakinkan diri kalau teman-teman akan tetap berpihak pada kebenaran bukan pada kekuasaan.

Saya yakinkan diri kalau teman-teman akan membela teman-teman lainnya yang tertindas bukan semata-mata karena kesamaan agama.

Beri pemimpin baru waktu untuk membuktikan kapasitas dan kualitas mereka,

Jangan terlena, terbuai cuma karena kesamaan ras, suku, agama

Jangan mengolok pihak yang kalah, buat apa? mending kritis terhadap pihak yang menang

Amerika punya DT, Jakarta punya A/S.

Let’s Move On. 

 

Icip -Icip Truk Makanan

Sekitar pertengahan bulan Maret lalu, saya pindah posisi di perusahaan. Dari bekerja di kantor cabang, saya pilih bekerja di operasional.

Salah satu konsekuensi dari pergantian posisi adalah saya sekarang balik kerja ‘kantoran’ alias kerja di gedung tinggi di pusat kota Louisville, Kentucky.

Kerja kantoran bukan hal yang baru buat saya. Jaman waktu saya masih muda belia di Indonesia, saya selalu kerja di perusahaan yang kantornya berlokasi di pusat kota Jakarta (kawasan segitiga emas istilahnya).

Dulu itu yang mananya kerja di ‘segitiga emas’ artinya makan siang bareng-bareng di Amigos (agak minggir got sedikit) atau kalau setelah gajian, lumayan sanggup makan di food court – atau kantin lah di gedung tempat bekerja.

Di Amrik gimana dong? ada gitu amigos?

Ha!

The closest thing to Amigos is……………food truck!

Yup. Truk makanan boleh dibilang ya makanan kaki limanya Amrik.

Saya belum ngeh tentang truk makanan di hari pertama saya kerja di kantor – maklum, stres karena baru pindah kan.

Baru hari kedua saya perhatikan dari jendela…eh…ada truk makanan parkir!

Nah sejak itu saya sibuk memperhatikan berbagai jenis truk makanan yang parkir disisi gedung saya.

Wuidih…tiap hari truk makanan yang parkir di gedung saya itu selalu berbeda. Minimal ada 2 truk makanan yang ngetem, paling banyak 3.

Si truk makanan ini biasanya ngetem di gedung-gedung yang banyak penyewanya lah – termasuk gedung tempat saya kerja. Intinya si truk ini selalu wara wiri, pindah tempat dari hari yang satu ke hari yang lain. Kalau kamu mau cari truk makanan tertentu, kamu bisa cari dimanan si truk ngendon hari itu lewat app “Where the food trucks at

Jenis-jenis makanan yang disajikan di truk makanan ini juga berbeda-beda. Ini yang pernah saya lihat mampir di gedung saya:

  1. Dakshin – makanan India
  2. Travelling Kitchen – taco Korea
  3. Boss Hogs BBQ – apapun panggang – babi, sapi, ayam
  4. Boo Boo Smoke Shack – idem
  5. LouSushi – sushi lah!
  6. Germany#1Food – sandwich Jerman katanya
  7. Black Rock Grille- hamburger
  8. Smok’N Cantina – taco Mexico
  9. Asian Modern Nomad – masakan Asia (mi goreng, nasi goreng gitu deh)

img_2017-03-21_20-45-33.jpg

wp-1491607196876.jpg

Yang saya sudah pernah cicipi itu Dakshin dan Travelling Kitchen.

Dakhsin sendiri ada restorannya di kota Louisville, tapi koq makanan dari truknya agak mengecewakan yak…hambar gitu..cuma pedas doang.

Hari ini saya nyoba Travelling Kitchen lumayan oke, konon taco bulgoginya yang beken, cuma karena saya minggu itu sudah makan bulgogi, jadi saya pesan taco ikan..lumayan! (cuma kurang nasi!! ha…ha..ha..perut Indonesia susah di’tenangkan’ cuma pakai taco)

 

0407171227.jpg

Pengennya sih saya coba semua makanan dari truk makanan yang berbeda-beda ya….cuma kantong ini gak kuat euy! Rata-rata harga makanannya $10, kalo setiap hari makan , habis $50! hi..hi..hi..mending buat beli baju atau sepatu deh! ha..ha….ha..

Mungkin nantinya saya berhasil nyoba semua truk makanan, tapi satu minggu sekali saja ya….;-)

O iya…yang enak ni ya…di pusat kota di Amrik banyak ruangan terbuka yang memang sengaja dibuat untuk pekerja-pekerja kantoran untuk ngaso,  baik untuk istirahat ataupun ya makan.  Di gedung saya, juga disediakan ruangan terbuka, cuma berhubung cuaca masih dingin dan berangin, tidak banyak pekerja yang memanfaatkan ruangan terbuka ini.

Ini saya foto dari lantai enam, tempat saya bekerja, kebetulan shrubnya lagi pas berbunga..cantik ya!

0407171316b.jpg

 

 

 

 

 

 

Napak Tilas Abraham Lincoln

Sebelum saya hijrah ke Amrik, saya sudah tahu sedikit tentang Abraham Lincoln. Terus terang beliau adalah salah satu tokoh Amerika yang saya kagumi ; dimata saya Lincoln adalah seorang pekerja keras, jujur dan percaya akan kesamaan hak antar warga negara.

Nah, waktu saya pindah ke Kentucky, baru ngeh kalau di negara bagian inilah tokoh yang saya kagumi lahir.

Setelah di awal bulan Maret 2017 kami jalan-jalan ke DC, sempat mengunjungi teater tempat Lincoln ditembak, kami pikir-pikir kenapa tidak sekalian melengkapi jejak Lincoln di kota Springfield, Illinois?

Jadilah liburan sekolah (Spring break) si kecil kali ini, kami pilih untuk mampir di Springfield, Illinois untuk melengkapi napak tilas Mr. Lincoln.

Dengan komplitnya kunjungan kami ke Springfield, kami boleh dibilang sudah napak tilas Mr. Lincoln sejak beliau lahir, hingga beliau dikebumikan.

Kalau teman-teman tertarik, ini tempat-tempat yang kami kunjungi yang berkaitan dengan Mr. Lincoln :

  • Lincoln di Kentucky

Lincoln lahir di Knob Creek, negara bagian Kentucky. Beliau lahir di kabin kayu (log home) – kabin dalam arti, ya tempat tidur, ya dapur, ya makan di satu ruangan! Gile ya….dari kabin sekecil itu lahir tokoh yang dikagumi di sejarah Amerika!

Lincoln_birthplace

Informasi lebih lanjut bisa dibaca di situ Lincoln BirthPlace

  • Lincoln di Indiana

Dari Kentucky, Lincoln sekeluarga hijrah ke Indiana, yang sekarang di kenal dengan nama Lincoln City. Disini kamu bisa lihat prototipe rumah yang dibangun ayah Lincoln dan bagaimana mereka hidup sehari-hari dijamannya.

Untuk keterangan lebih lanjut bisa dibaca di situs Lincoln Boyhood National Park.

  • Lincoln di Illinois

Setelah Lincoln dewasa, beliau hijrah seorang diri ke negara bagian Illinois. Pertama-tama beliau menetap di New Salem, di New Salem, Lincoln boleh dibilang bekerja serabutan ini itu, dari menjadi surveyor tanah, toko kelontong, tukang kayu dan banyak lagi. Disini Lincoln sempat terjerat hutang cukup besar, yang membuat beliau hijrah lagi ke Springfiled untuk mencari peruntungan baru.

Di Springfield inilah hidup sebagian besar hidup Lincoln dihabiskan (beliau tinggal di Springfield selama 25 tahun).  Disinilah Lincoln memulai karirnya sebagai pengacara, anggota senat, menikah,  mempunyai anak, kehilangan anak dan hingga akhirnya terpilih menjadi presiden Amerika ke 16.

Untuk masuk ke rumah Lincoln, tidak dikenakan biaya – karena memang permintaan anak Lincoln waktu dia memberikan rumah ini ke negara bagian Illinois – tapi kita tidak boleh masuk sendiri, harus dengan pemandu tur, jadi pengunjung harus ambil tiket masuk.

Tur selalu ada setiap 5 menit, jadi pengunjung tidak harus menunggu lama-lama. Sambil menunggu giliran, pengunjung bisa menonton video tentang Lincoln selama 20 menit .

Rumah Lincoln sendiri tidak terlalu besar, 2 tingkat dengan 4 kamar tidur : kamar tidur Lincoln, kamar tidur Mary (istri Lincoln) berbagi dengan 2 anak Lincoln yang kedua dan ketiga kamar tidur Robert – anak pertama Lincoln dan kamar tidur pembantu keluarga mereka (hired girl). Lincoln memperbesar rumah ini sejalan dengan karirnya sebagai pengacara yang menanjak.

Rumah ini boleh dibilang saksi bisu suka duka yang di alami Lincoln, dari mulai dia baru meniti karirnya sebagai pengacara, kalah di pemilihan senat, kehilangan anaknya hingga terpilih jadi presiden Amerika ke 16.

CollageoutsidehouseCollageinsidehouse

Beberapa bagian dari rumah Lincoln masih asli dan bukan replika, karena itu pengunjung tidak bisa masuk ke ruangan masing-masing, melainkan hanya melihat dari pintu masuk dari tiap ruangan saja.

Pengunjung harus berjalan di karpet biru dan dilarang keras melintas karpet biru ataupun menggapai ke perabotan, kalau ada yang bandel, alarm akan berbunyi dan pengunjung di minta keluar dari rumah.

Di tengah kota Springfield, kamu juga bisa lihat kantor Lincoln saat jadi pengacara ; Lincoln – Herndon. Boleh dibilang seantero kota Springfield, kamu akan lihat banyak ini itu serba Lincoln, patung, perpustakaan, hiasan kota, semuanya memakai gambar Lincoln.

Collage 2017-04-04 22_00_42

Dari rumah Lincoln, kami pergi ke makam Lincoln di 1441 Monument Ave, Springfield, IL 62702.

Collage 2017-04-04 20_45_09

Disini semua keluarga Lincoln, kecuali anak pertamanya, dikebumikan.

Collage 2017-04-04 20_46_20

PANO_20170404_204338

Terus terang sejarah Lincoln boleh dibilang tragis, selain beliau sendiri dibunuh saat menjabat presiden, ibunya meninggal waktu Lincoln masih kecil dan 3 anak-anak Lincoln meninggal saat mereka masih muda.

  • Lincoln di Washington DC

Lincoln menjabat presiden selama 4 tahun dan 1 bulan. Disini juga, di teater Ford, tempat dimana Lincoln ditembak oleh John Wilkes Booth.

Sebagai presiden, Lincoln memikul tugas yang sangat berat : menyatukan kembali Amerika Serikat – karena perbudakan, beberapa negara bagian sempat memilih melepaskan diri dari union – ini bahkan terjadi sebelum Abe dilantik jadi presiden.
Bayangkan saja, belum juga beliau resmi, keadaan negara yang akan dipimpin ‘sudah’ tidak bersatu lagi!

Di masa kepresidenan Lincoln jugalah perang sipil (Civil War) terjadi.

Di DC, ada 3 tempat utama yang kudu dikunjungi yang berkaitan dengan mendiang Lincoln : Monumen Lincoln, Teater Ford dan Rumah Peterson – rumah dimana Lincoln sempat dirawat dan menghembuskan nafas terakhirnya setelah penembakan di teater.

Monumen Lincoln kamu bisa kunjungi di malam hari, karena monumen terbuka dan tidak diperlukan tiket untuk masuk. Teater Ford dan rumah Peterson, harus dikunjungi di siang hari, karena terbatas waktu kunjungannya.

 

 

Jalan-Jalan : Washington DC : Teater Ford, Panda dan Washington Monumen

Sabtu,  11 Maret 2017

Hari terakhir di DC!

Rencana kita hari ini adalah pergi ke teater Ford – teater dimana Presiden Abraham Lincoln di bunuh, mampir ke Bonbin untuk melihat panda, melewati Embassy Row – jalan dimana kedutaan-kedutaan besar negara asing – termasuk negara Indonesia  berlokasi dan memilih salah satu dari sekian banyak museum di pusat kota DC sebagai pilihan pribadi tanpa harus ikutan grup.

Rombongan sampai di lokasi teater sekitar jam 9: an, karena ada waktu cukup banyak , jadi ya kita jalan-jalan saja sekitar lokasi teater sampai tiba waktunya untuk masuk ke teater.

fordteaterentrance

Teater tempat Lincoln terbunuh ini ukurannya boleh dibilang mini, cuma ada 2 balkon VIP, Lincoln duduk di sebelah kanan.

FordTeater

Sempat merinding juga terbayang kejadian 15 April 1865. Dari teater, kita ke seberang jalan , dimana ada museum tentang kejadian penembakan Lincoln dan rumah tempat Lincoln meninggal dunia.:(

Keterangan foto :

  • kiri atas :Kamar tempat Lincoln meninggal dunia
  • kiri bawah : Museum tentang peristiwa penembakan Lincoln
  • Pintu dimana pembunuh Lincoln masuk ke balkon teater
  • pistol pembunuh Lincoln
  • Ilustrasi saat Lincoln dirawat
  • Keterangan tentang pistol pembunuh Lincoln

lincolnmuseum

Selesai dari teater, rombongan mampir di monumen Franklin D. Roosevelt, monumen Martin Luther King dan monumen Washington – yang mengingatkan saya seperti Monas di Jakarta.

FDR

 

Dari pusat kota, kita lanjutkan perjalanan ke bonbin nasional untuk melihat panda!!

Saya dan anak fan berat panda, beruang hitam putih yang gemesin! Rasanya baru ini saya beneran pergi melihat panda di bonbin….jelas, gemesin seperti yang saya lihat di media. Saking gemesnya, saya luluh hati membelikan anak boneka panda (kami sudah punya 3 boneka panda di rumah gitu loh).

panda

 

Selesai melihat si panda, kita balik ke pusat kota DC sambil melewati Embassy Row – kalau di Jakarta ibarat daerah Menteng kali ya. Konon bangunan kedutaan Indonesia cukup mencolok (unik), jadi mudah di kenali. Sayang saya tidak ada foto yang jernih, tapi ada videonya dibawah ini. Senang juga melihat bendera negara Indonesia berkibar 🙂

Kembali di pusat kota DC, kita punya beberapa pilihan, mau ke National Museum of American History,  Indian American History, atau Air and Space Museum. Anak dan suami pilih ke Air & Space Museum.

Di museum ini kita sempat nonton film pendek di planetarium tentang Dark Universe, main simulator pesawat dan makan siang di arena makan.

Berakhirnya acara bebas ini, berarti berakhir pula wisata sejarah kita di DC.

Terus terang cuapeek sekali rasanya, tapi tidak nyesal, karena saya belajar banyak tentang sejarah Amerika dari wisata kali ini.

Apakah akan kembali ke DC?

Mungkin juga. Karena masih banyak sekali yang bisa dilihat di DC yang tidak kesampain disinggahi. Yang jelas bukan mau lihat Cherry Blossom alias Sakura ya…karena di Jakarta dulu, di rumah ortu ada pohon Sakura.

Sampai jumpa lagi DC!

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Washington DC – White House, Capitol Building, Arlington Cemetery

Jumat, 10 Maret 2017.

Hari ini kami sudah di wanti-wanti untuk berpakaian berlapis dan membawa jaket hujan, karena berdasarkan prakiraan cuaca DC akan diguyur hujan sepagian.

Jam 7:45 am kita berangkat dari hotel menuju White House, alias tempat tinggal presiden Amrik. Sayangnya kita tidak dapat tur di dalam White House, konon ada mis saat transisi pergantian presiden. Sekolah sudah mengajukan ijin untuk tur, tapi pihak WH tidak pernah terima ijin sekolah, jadilah kita cuma bisa lihat WH dari kejauhan.

whitehouse

Dari WH, kita menuju ke Capitol Building , seperti capital building di setiap negara bagian, Capitol Building di DC berfungsi sebagai gedung pemerintahan, dimana senat dan perwakilan rakyat (senates and house) bekerja sehari-hari.

Untuk masuk CB, kita harus melewati pemeriksaan seperti di bandara, di cek nama di lobi, untuk kemudian di beri lencana pengunjung.DSCN4167 (2)

Di CB, kita tur di beberapa bagian dari gedung.

Bagian yang paling mewah, tentunya di ruangan di bawah kubah CB atau Rotunda. Di langit-langit di kubah, ada lukisan Mr. George Washington dengan selimut ungu dipangkuan, di kanan Mr. Washington adalah Lady Freedom dan disebelah kirinya adalah Lady Libery,  dikelilingi dengan perwakilan dari 13 negara koloni.

Lukisankubah_CapitolBuilding

Di rotunda juga ada 13 lukisan yang mewakili peristiwa-peristiwa penting (kedatangan Christopher Columbus, Pembaptisan Sacajewa, Penandatangan deklarasi kemerdekaan dll) di sejarah Amerika dan patung-patung tokoh politik.

lukisandidindingrotunda

Selain rotunda, kita juga menonton filem pendek dan sempat bertemu dengan senator dari negara bagian Kentucky, Senator Mitch McConnell.

Selesai di CB, kita berangkat ke pemakaman Arlington. Taman pemakaman ini ibarat taman pemakaman pahlawan di Kalibata lah kalau di Indonesia. Anggota militer banyak yang dikuburkan disini, termasuk presiden JFK (istri dan beberapa kerabat Kennedy lainnya)

Di makam JFK atas permintaan Jacquelin Kennedy, di tempatkan api abadi yang tidak pernah padam.

makamJFK

Di sini kita juga sempat melihat acara pergantian pengawal makam.

Dari lokasi pemakaman, kita pergi makan di Hard Rock Cafe di downtown DC, lalu dilanjutkan dengan mengunjungi monumen Perang Dunia kedua (World War II Monumen), monumen perang Vietnam dan monumen Lincoln (Lincoln Memorial) – ketiga monumen ini berada di lokasi yang sama.

‌lincolnmemorial

Monumen Lincoln

Di monumen Lincoln, di dinding terukir salah satu pidato Lincoln, nah di situ ada kesalahan mengeja oleh si pengukir. Kata Future tereja Euture, kalau mata jeli, pengunjung bisa melihat hapusan huruf E menjadi F.

lincoln_misspell

Sayangnya kita tidak bisa lama-lama tur di luar, karena udara amat dingin menggigit, kasihan si anak-anak rata-rata kedinginan!

Kita balik ke hotel setelah berhenti di Iwojima monumen.

Jalan-Jalan : Gettysburg – Washington DC

Buat saya, Washington DC ya memang salah satu tempat di daftar ‘Tempat yang harus dikunjungi di Amrik’ , Bucket List ceritanya.  Ibukota negara Amrik gitu loh. Harus di kunjungi dong.

Nah waktu anak saya kelas 4, kami sudah tahu kalau nanti saat dia di kelas 5, sudah tradisi di sekolahnya dimana murid-murid bisa memilih untuk pergi mengunjungi kota-kota besar untuk pilihan field trip mereka, Cincinnati, Indianapolis, Chicago atau Washington DC. Kami sudah sepakat kalau akan pilih ke DC.

Jadilah waktu orientasi kelas 5 di bulan Agustus 2016, kami isi formulir untuk sekeluarga pergi ke DC bersama sekolah anak. Seret juga waktu tahu kalau ongkosnya $725 per orang! Berarti saya harus kumpulkan uang $1450 dalam waktu 6 bulan (September – Februari).

Alhamdulillah pas waktunya tiba, saya berhasil membayar ongkos jalan-jalan lunas.

Acara ke DC (dan sekitarnya) lumayan padat, dalam satu hari grup akan mengunjungi paling tidak 3 lokasi bersejarah. Kami akan pergi selama 3 hari : dari hari Kamis, 9 Maret 2017, balik ke Louisville, Kentucky hari Sabtu malam, tanggal 11 Maret 2017.

Jam 6 pagi kami sekeluarga sudah nangkring di bandara Louisville.

DSCN4044 (2)

Jam 8 an pesawat berangkat menuju bandara BWI (Baltimore-Washington International), sekitar jam 930 an, kami sampai di Baltimore, langsung naik bus menuju Gettysburg.

Gettysburg itu apa ya? Gettysburg itu salah satu kota di negara bagian Pennsylvania, yang pada jaman civil war adalah salah satu lokasi pertempuran antara Utara dan Selatan yang menelan beribu-ribu korban di kedua pihak. Gettysburg menjadi salah satu titik patokan terpenting dalam sejarah civil war Amerika.

Di Gettysburg, kami melihat-lihat  koleksi museum di lokasi,

GettysburgMuseum_0317

dilanjutkan dengan menonton filem pendek tentang sejarah civil war 

DSCN4060 (3).JPG

lalu menengok cyclorama – lukisan cat minyak di sekeliling ruangan dengan efek suara saat pertempuran terjadi.

Setelah cyclorama, kami makan di kafeteria – makan kotak istilah Indonya, cuma menunya sandwich bukan nasi padang :0

Seusai makan, acara diteruskan di bus mengunjungi situs-situs pertempuran di sekitar kota Gettysburg dengan pemandu turis.

Mendengar cerita di belakang civil war terus terang membuat saya merinding, negara Amerika benar-benar ‘dibangun’ dengan beribu-ribu nyawa. Tidak terbayang betapa ‘angot’nya situasi di tahun 1860 dimana negara Amrik terpecah menjadi 2 pihak : Confederate dan Union semata-mata karena perbudakan dan bagaimana presiden Amerika saat itu, Presiden Abraham Lincoln- presiden favorit saya- berusaha sekeras-kerasnya untuk kembali mempersatukan Amerika.

GettysburgField_0317

Selesai di Gettysburg, rombongan balik ke daerah DC, yaaaah..kena macetnya DC…widiiih, amit-amit deh, macetnya jadi mengingatkan saya dengan Jakarta! Karena kena macet, acara jadi berubah sedikit,  rombongan langsung pergi ke tempat makan malam di Uno Pizza di  Union Station – stasiun

Selesai makan kita pergi ke monumen Jefferson. Thomas Jefferson adalah salah satu dari 4 founding fathers negara Amerika,  perancang deklarasi kemerdekaan dan juga presiden ketiga Amrik.  Pemikiran Mr. Jefferson terus terang sangat maju dan terbuka di jamannya. Jefferson juga salah satu tokoh sejarah Amerika yang saya kagumi.

JeffersonMemorial

Beberapa tempat yang rencananya kami kunjungi hari ini terpaksa harus ditunda, karena waktu tidak memungkinkan. Dari monumen Jefferson, kami langsung menuju hotel di Maryland untuk istirahat.

 

 

 

 

 

 

 

Tabrak Lari

Kalau dengar kata Amerika, sebagian besar dari kita merasa semua-muanya pasti lebih OKEH dibanding negara sendiri, bukan tidak mungkin kita anggap Amrik itu negara hampir tanpa cacat kali ya.

Teratur. Nyaman. Tidak ada polusi. Tertib. Mewah. Serba ada dan lain lain.

Kenyataannya Amrik, sama saja seperti negara-negara lainnya, sama seperti negara berkembang, terutama dalam hal : TABRAK LARI.

Saya pribadi pernah mengalaminya, 2 kali. Alhamdulillah tidak serius ya, tapi tetap saja jengkel, apalagi kalau akibat tabrakan mobil harus masuk bengkel.

Pertama kali saya mengalami tabrak lari itu tahun 2010, waktu masih tinggal di Bozeman, MT.

Saya baru balik dari mengunjungi suami di Texas, waktu tiba di Bozeman itu salju berat. Saya dijemput oleh teman saya dan di drop di rumah. Mobil terparkir di driveway tertutup salju.

Keesokan harinya saya kerja, karena pagi-pagi saya bersihkan salju secepat mungkin. Sampai di tempat kerja ya saya parkir seperti biasa.

Selesai kerja, sekitar jam 3 an, menuju ke mobil, deg, jantung saya berhenti. Bagian depan kiri depan mobil ringsek. Meskipun kerusakan tidak seberapa, tapi perasaan ini campur aduk antara kaget dan marah.

Koq tega banget ya orang nabrak mobil terparkir, terus tidak pakai basa basi cuek saja?

Ongkos perbaikan itu sekitar $800! Dengan asuransi, kami harus merogoh kantong sendiri $500. Kondisi kami saat itu tidak terlalu baik, suami baru saja kerja di tempat baru selama 3 bulan eh ternyata ada restrukturisasi, departemen dia ditutup, jadilah dia kehilangan pekerjaan, ditambah kami baru saja pindah dari Ohio dan sudah harus pindah lagi ke Kentucky.  $500 buat kami itu tidak sedikit. 😦

Alhamdulillah kami banyak mendapat donasi dari masyarakat kota Bozeman – saya tulis pengalaman saya di ‘surat untuk redaksi’ di koran setempat, eh malah di wawancara jadi masuk koran segala, dan orang-orang menyumbang!

Kejadian kedua, saya alami minggu ini, lagi-lagi waktu parkir di tempat kerja!!

Sebeeeeeeeeeeeeeeeeel banget!!!

Kali ini memang kerusakan tidak seberapa, hanya baret di pintu, tapi tetap saja hati mangkel.

0307171801.jpg

Saya ngerti sekali kalau mungkin si penabrak tidak punya asuransi untuk menutup ongkos kerusakan – terutama kasus pertama yang saya alami,  tapi ya bukan berarti lari dari tanggung jawab kan?? jangan jadi pengecut gitu dong!

Tidak mampu vs. Tidak bertanggung jawab tidak ada hubungannya kan?!

Apa salahnya sih menulis memo ‘Maaf Bu/Pak, saya tidak sengaja membaret mobilnya. Saya harus pergi, ini nomor telpon saya untuk Ibu/Bapak hubungi’

Gitu loh!

Mudah-mudahan teman-teman tidak ada yang seperti ini ya!

Masalahnya bukan besar atau kecil kerusakan ya…masalahnya kalau kita berbuat salah, mbok ya berani bertanggung jawab!

Kalau kata Ibu/Bapakku : Berani berbuat, berani bertanggung jawab!

Yuk, mari kita semua jadi orang yang bertanggung jawab!!

(tu kan ternyata orang-orang Amrik tidak semuanya patuh aturan!)