Cerita Saya

Bule senang kulit coklat?

kik..kik…kik…hayo ingat kan dengan stereotype ini?

Benar atau tidak sih kalau bule itu senang sama yang keling-keling?

Ternyata……………….

Ada benarnya!!
Dan ini bukan cuma laki-laki kulit putih yang suka dengan perempuan berkulit coklat. Tapi perempuan kulit putih pun terobsesi untuk berkulit coklat.

Suami sendiri lebih senang kalau kulit Saya coklat. Di musim panas, waktu Saya kerjaannya berenang hampir tiap hari, ini kulit yang ada gosong, eh malah di sayang-sayang sama Suami.
Eksotis istilah kerennya.

Nah itu kalau laki-laki.

Kalau perempuan; Manager Saya di tempat kerja itu ternyata langganan ke salon tanning, dia sendiri mengakui kalau dia pengen banget punya kulit seperti Saya. Dan dia bukan kenalan pertama Saya yang Saya tahu keranjingan ber-tanning di salon.

Ada kenalan yang sejak usia 20 tahun sudah menjadikan tanning ritual setiap bulan.

Pernah Manager Saya (perempuan) celetuk ‘Laki-laki suka perempuan seperti kamu, terutama warna kulitmu’

Ha…ha…ha…
Saya pribadi sih senang-senang saja, tapi tidak jadi keranjingan mandi matahari atau mandi sinar ulta violet di salon. Karena ternyata setelah Saya perhatikan, mereka yang waktu mudanya pergi ke salon UV, koq kulitnya jadi terlihat tidak alami, ibarat tas kulit yang sudah lama dipakai (very beat-up old leather bag)…

Jadi bersyukurlah kalau punya  kulit eksotis…tidak perlu ke salon kan…;-)

Askes oh Askes (di Amerika)

Mungkin ini karena pengalaman orang tua waktu di Jakarta, mereka kena tipu agen asuransi. Jadilah Saya sekarang agak-agak alergi kalau dengar kata asuransi.

Di Amerika, hidup tanpa asuransi boleh dibilang tidak mungkin. Dari mulai asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi rumah, asuransi mobil, panjang deh daftarnya.

Ini Saya mau cerita pengalaman pribadi mengurus klaim dengan asuransi kesehatan Saya.

Tahun lalu itu Saya berasuransi dengan Aetna lewat perusahaan tempat Saya kerja. Saya sendiri jarang ke dokter, tapi memang tahun 2013 sekeluarga agak lebih sering sakit, meskipun tidak parah, tapi cukup membuat kita khawatir sehingga kudu pergi ke dokter.

Salah satu kunjungan dokter yang Saya lakukan itu di akhir tahun 2013, tepatnya tanggal 31 Desember. Seperti biasa laporan dari asuransi Saya terima kira-kira satu bulan setelah kunjungan ke dokter. Waktu Saya buka. lah??!! Kaget, karena di laporan tertera kalau kunjungan Saya tidak akan dibayar asuransi karena Saya tidak memiliki asuransi saat kunjungan!!!!

Bingung dong?? Langsunglah Saya obrak abrik berkas-berkas askes dari kantor. Di situ tertera kalau ‘Saya terlindungi oleh asuransi hingga Desember 31, 2013. Saya telpon ke bagian kepegawaian kantor, di konfirmasi kalau data yang Saya miliki benar. Saya telpon asuransi, jawaban pertama ‘Di data kami, asuransi Anda hingga Desember 30, 2013. Akan Kami selidiki lebih lanjut.’

Keesokan harinya Saya terima pesan dari Asuransi kalau data yang mereka miliki adalah benar. Desember 30 1013 hari terakhir Saya terasuransi.

Telpon lagi ke kepegawaian, lagi-lagi dijawab kalau Saya harus diasuransi hingga Desember 31 2013 dan mereka tidak menemukan hal yang mengatakan berbeda.

Telpon Asuransi lagi, kali ini dijawab oleh Supervisor, ternyata masalahnya adalah ‘premi’ yang mereka terima hanya sampai tanggal 30 Desember 2013. Oleh si Supervisor, dia berjanji akan melanjutkan kasus Saya ke departemen yang berwenang (masalah pembayaran premi). Agak sedikit legalah Saya.

Dua minggu berikutnya Saya terima tagihan dari dokter, halagh?? Saya masih harus membayar penuh?

Waktu Saya lihat slip gaji, memang di minggu terakhir 2013, bayaran asuransi Saya tidak seperti biasanya. Jadilah Saya coba email HR kantor untuk menanyakan kenapa bayaran asuransi berbeda. Dijawab kalau itu dikarenakan mereka harus membagi bayaran 2 hari di tahun 2013 dan 3 hari di tahun 2014. Jadi kesimpulan Saya, Saya sudah bayar premi dong.??

Telpon lagi ke pegawaian kantor. Kali ini Saya jelaskan kalau ada masalah di pembayaran premi. Pegawai yang menjawab kali ini sepertinya lebih mengerti duduk masalah. Dia berjanji akan mengirim email ke asuransi ,data terbaru Saya. Ok. Saya pikir beres dong?

Dua minggu berikutnya, telpon lagi ke Asuransi……loh..di data mereka masih tertera ‘asuransi tidak dibayar!!’ haduhhhhhhhh………
Hampir gila rasanya!! masalah sederhana begini koq susah sekali ya dibereskan??

Akhirnya kemarin, 14 Maret, Saya dapat email dari asuransi yang memberitahukan kalau ada penjelasan baru mengenai status kunjungan tanggal 31 Desember. Akhirnya tagihan Saya dari $203 , turun menjadi $78.72.

Gila kan? Dari pengalaman ini Saya belajar, kalau menyangkut asuransi, kita harus berani protes karena mereka belum tentu benar dalam memproses klaim kita!!!

Piknik yuk piknik

Salah satu hobi baru setelah pindah ke Amerika adalah berpiknik ria, alias makan di taman terbuka disaat hari cerah.

Contohnya hari ini. Wuih…rasanya seperti musim panas, suhu udara 75F atau 24C, dan matahari bersinar super cerah. Yang ada kami buru-buru merencanakan piknik di luar. Menunya sederhana saja, burger. Jadilah pulang kerja Saya ke supermarket beli bahan-bahan.

Jam 6 petang, kita cabut ke taman dekat rumah. Ternyata bukan cuma kami yang berpikiran untuk berpiknik ria. Taman terlihat ramai, hari secerah ini tampaknya tidak disia-siakan warga Louisville.
Untunglah meja-meja piknik masih tersedia banyak. Jadilah kami memilih tempat dekat dengan jembatan dan sungai kecil.

Setelah berbulan-bulan terkurung di rumah karena udara dingin menusuk tulang, senang rasanya berada di luar, menghirup udara segar, bercelana pendek, bersandal jepit.

Selamat Datang Musim Semi!!

Image

Menjadi Seperti Wong Amerika :Tergila-gila matahari

Tahun-tahun pertama di Amerika, Saya kebingungan melihat polah bule-bule yang super semangat berpakaian minim dan langsung ‘kabur’ keluar rumah saat hari mulai terasa hangat.  Jalan-jalan dan taman-taman yang tadinya sepi dan dingin, tiba-tiba menjadi ramai dan hangat.

Kata Saya dalam hati ‘Idih, ini bule-bule gila apa ya? Baru ada matahari dikit dah pakai tanktop dan sandal jepit.Biasa aja deh ah.’

Sekarang, Saya ibaratnya ya si bule-bule itu. Setelah berbulan-bulan terkurung di rumah, berpakaian berlapis-lapis, hati ini meloncat riang gembira saat hari dimana matahari bersinar cerah dan menghangatkan bumi.

Ayo, ayo cari tempat terbuka untuk berjalan-jalan menikmati matahari!

Kenapa gitu?

Setelah 8 tahunan di Amerika, Saya menyadari kalau salju memang cantik, tapi membosankan. Mungkin karena jiwa Saya tetap jiwa tropis, jadi Saya akan selalu cinta hangatnya sinar matahari.

Sebelum Saya tinggal di Amerika, keberadaan matahari, hari-hari yang selalu hangat Saya tidak pedulikan.

Tapi setelah disini mengalami sendiri yang namanya cabin fever , Saya menyadari kalau Saya tidak akan pernah bosan akan indahnya matahari dan mensyukuri datangnya hari-hari cerah !!

Selamat datang Musim Semi!!Imagefeb25

Salah kaprah tentang Amerika : Buang sampah sembarangan masih nyata disini

Beberapa teman-teman di Indonesia selalu beranggapan negara Amerika itu negara yang maju, tertib, dan ‘lebih’ dalam segala hal.

Ada benarnya, ada tidak benarnya.

Contoh : Masalah buang sampah sembarangan.

Di Amerika super bersih?

Nah!!

Contoh : ini foto popok bekas yang dibuang begitu saja di perparkiran tempat Saya kerja. Gimana ya orang tua yang enaknya membuang popok ini? Jijik?

Image

Lah ya iyalah, siapa juga yang tidak jijik dengan kotoran manusia (meskipun kotoran bayi, namanya kotoran juga kan? Tapi bukan berarti boleh-boleh saja di buang di tempat umum tho?
Saya bisa ngomong begini, karena Saya juga pernah harus mengganti popok di tengah jalan, dikemanakan popok kotor itu? Ya Saya bungkus kantong plastik dan simpan di mobil sampai kita ketemu tempat sampah dong. Kalau Saya saja jijik dengan kotoran anak sendiri bagaimana dengan orang lain?

Sama seperti negara-negara lainnya, Amerika punya masalah dengan orang-orang yang tidak membuang sampah pada tempatnya.

Membuang sampah pada tempatnya itu tergantung didikan keluarga dimana kita dibesarkan. Didik deh anak dari usia balita untuk membuang sampa pada tempatnya.

Tidak susah koq, dan jadilah contoh buat anak-anak kita, sebagai orang dewasa juga jangan buang sampah sembarangan dong..mau di Indonesia, mau di Amerika!

Si cantik putih salju

Salju memang cantik dan anggun (dan tidak jarang berbahaya)

Setelah salju turun, alam seakan berubah jiwanya. Hening dan dingin.

Sejauh mata memandang, alam sekitar terlihat putih tanpa batas.

Hari ini Saya libur total, alias tidak kerja di kedua tempat.  Jadilah kita melanglang tidak juntrungan di daerah yang kita belum pernah kunjungi.

Tidak sengaja kita ketemu jalan berliku dengan pemandangan cantik, meskipun dahan-dahan pohon masih gundul, sisa-sisa salju minggu lalu masih lekat menyelimuti dahan-dahan tersebut. Saya tidak bosan-bosannya menjepret sana sini ingin menangkap keheningan si pohon-pohon berselimut salju.

Di tengah perjalanan, Kami juga melewati aliran air mengalir dari tebing yang membeku. Di musim panas, aliran air seperti ini mungkin tidak menarik, atau malah tidak ada sama sekali. Tapi di musim dingin seperti ini, aliran air yang membeku menjadi tontonan yang cukup menakjubkan buat keluarga kami.

Meskipun bukan air terjun asli, tapi cukuplah membuat Saya, yang hobi melihat air terjun gembira melihatnya. Karena terakhir Saya melihat air terjun membeku itu di tahun 2010. Dan untuk ukuran Kentucky yang minim air terjun, apa yang Saya lihat hari ini, lumayan menghapus rindu akan air terjun.

Yuk kita lihat foto-foto yang Saya ambil hari ini…

SatFeb15-002SatFeb152

DSCN2435DSCN2420

Es dimana-mana

DSCN2279

Baru musim dingin tahun ini Saya merasakan sekali dampak salju dan es di kehidupan sehari-hari. Sekolah anak sudah total 10 hari terpaksa diliburkan karena badai salju.

Sewaktu Kami tinggal di negara bagian Montana,yang namanya salju itu sudah biasa, dan bisa berhari-hari kita kena badai salju. Salju setinggi lutut boleh dibilang makanan sehari-hari saat musim dingin. Secara geografis Montana memang lebih tinggi dan lebih di utara lokasinya. Tapi sekolah tidak pernah diliburkan, malahan anak-anak tetap di haruskan bermain di halaman yang bersalju.

Nah di negara bagian Kentucky ini masalahnya bukan di jumlah salju yang turun yang membuat hati ketar ketir, tapi bahaya licin karena es yang membuat kondisi disini lebih riskan.

Jadi meskipun kelihatannya badai salju tidak seberapa besar, tapi karena kelembaban tinggi, salju basah tersebut segera berubah menjadi es dalam sekejap saja.

Contohnya hari ini, hari Rabu tanggal 2 Februari 2014. Lagi-lagi sekolah diliburkan. Tadinya Saya bingung juga, kenapa gitu libur, lihat dari jendela kondisi di luar tampak biasa-biasa saja.

Suami suruh Saya keluar supaya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lingkungan yang membeku menjadi es.

Jadilah malam ini Saya kelayapan keluar apartemen…astaga! benar juga kata Suami, pohon-pohon gundul sekarang berubaha  menjadi pohon-pohon es!

Dan sewaktu Saya berjalan diatas salju, terdengar suara ‘kriuk-kriuk’, bukan karena sambil makan kerupuk, tapi karena Saya menginjak es!!

Image

Image

Contohlah Amerika dalam hal : sekolah kapan saja!

Kalau mendengar kata ‘sekolah’ (kuliah) maksudnya, yang ada di pikiran Saya itu ya setelah lulus SMA. Tidak ada kata ‘tunda’, tidak ada kata ‘nanti’. Memang seperti itulah yang orang tua Saya ajarkan.

Atau kalau memang senang menuntut ilmu ya silahkan dilanjutkan kuliah S2 bahkan S3, tapi selesaikan dulu program S1-nya.

Jadi ya Saya setelah lulus SMA, otomatis langsung masuk kuliah. Tidak ada yang aneh dengan pilihan Saya, biasa saja.

Berfikir kembali ke bangku kuliah setelah umur 30 tahun koq ya aneh yak? apalagi kuliah S1.

Di Amerika, yang namanya kuliah itu tidak terbatas usia. Bukan hal yang luar biasa melihat mahasiswa-mahasiswa disini usianya sangatlah beragam.

Budaya Amerika yang menganggap kalau anak sudah berusia 18 tahun-notabene setelah lulus SMA- maka dia dianggap bebas menentukan pilihan boleh dibilang salah satu alasan kenapa batasan usia tidak terlalu nyata di dunia kampus.

Ada bagusnya, ada jeleknya

Bagusnya ya orang-orang terbiasa kuliah kapan saja, tidak merasa terlalu tua untuk kuliah. Tidak ada yang memandang ‘aneh’ kepada mereka yang terlihat sudah agak ‘berumur’ tapi masih mau mendaftar untuk sekolah.

Terus terang Saya males untuk kuliah lagi, tapi koq pas disini, terus terang jadi berminat untuk kuliah lagi…karena ya itu budaya disini sangat memungkinkan kita untuk kuliah lagi tanpa takut akan umur!

 

Salah Kaprah tentang Amerika : Mandiri? Karir nomor 1?

Sewaktu Saya tinggal di Jakarta, Indonesia, pandangan Saya tuh tentang (orang) Amerika serba keren, pendidikan tinggi, gaya, karir tinggi, berpikiran luas, mandiri, petualang, mobilitas mudah, keluarga kecil, pokoknya oke lah.

Saya sendiri terbiasa dengan teman-teman di sekeliling Saya di Jakarta, ya rata-rata berpendidikan S1 bahkan meneruskan sekolah hingga S2, sibuk berkarir, lajang hingga umur 30 tahun adalah hal yang lazim. Ayah dan Ibu Saya kedua-duanya sarjana farmasi dan bekerja penuh waktu sejak kami kecil.

Terbiasa melihat Ibu-ibu rekan kerja yang kembali dari cuti hamil 3 bulan dan bekerja seperti biasa karena sudah ada ‘suster’.

Sampai di Amerika, Saya tinggal di kota cilik, tahun-tahun pertama Saya belum ‘ngeh’ dengan kesalahpahaman Saya, karena saat itu Saya murni ibu RT, jadi tidak banyak berteman dengan bule-bule lokal, sebagian teman-teman Saya adalah ibu-ibu RT dari berbagai negara di dunia.

Baru di tahun 2007 setelah Saya bekerja di department store di mal lambat laun Saya mulai berteman dengan bule-bule lokal.

Dari situlah Saya baru menyadari bahwa pandangan Saya tentang orang Amerika sungguh banyak ‘salah’nya.

Sebagian besar kenalan bule Saya hanya berpendidikan SMA dan mereka tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya. Mereka sudah terbiasa bekerja ‘serabutan’ dari umur 14 tahunan.

Hamil di usia muda adalah sangat biasa – dengan suami atau tanpa suami, dengan pekerjaan atau tanpa pekerjaan.

Berpandangan luas?

Sebagian besar dari mereka tidak pernah mendengar kata Indonesia, Islam, Ramadan.

Ada yang tanya ‘Di Indonesia itu ada penjara gak?’ Asli Saya bengong waktu ditanya seperti itu…..Ha…ha…ha…

Sebagian besar dari kenalan tidak pernah pergi keluar negara Amerika, jangankan ke luar negeri, banyak dari bule-bule ini tidak pernah keluar dari propinsi tempat mereka tinggal sepanjang hidupnya!

Hadweh??!
Anak sedikit? haiyaaaaaaaa…….salah besar pandangan Saya tentang hal ini!! Terus terang Saya takjub waktu pertama kali melihat ibu bule bersama 5 anaknya di supermarket setempat.

Dan meskipun orang-orang Amerika tidak tinggal dengan orang tua mereka seperti orang-orang Indonesia, tapi banyak dari mereka yang tetap mengandalkan bantuan orang tua / mertua atau kakek-nenek untuk menjaga anak-anak mereka.

Banyak dari mereka yang ‘tidak bisa (atau tidak mau) tinggal berjauhan dengan orang tua’. Contohnya kenalan di tempat kerja. Dia (perempuan) sudah menjadi bos salah satu bidang di institusi keuangan tempat Saya kerja. Tapi toh dia sempat bilang kalau ‘tidak mungkin dia pindah jauh-jauh dari orang tua/mertuanya’.

(Dalam hati Saya bilang ‘eh..ternyata Saya pemberani sekali ya??!! beribu-ribu mil jauh dari orang tua!)

Ibu-ibu Amerika banyak juga yang memilih menjadi ibu Rumah Tangga penuh dan tidak bekerja sama sekali.

Kota kecil di Amerika sama halnya dengan kota kecil di Indonesia. Tingkat pendidikan rendah, tingkat penghasilan rendah, anggota keluarga tinggi (alias banyak anak!!!).

Amerika seperti halnya Indonesia tidak semata-mata lebih super di segala bidang.

Tidak semua serba ‘wah’ dan canggih.

Seperti yang orang tua Saya ajarkan :

Contohlah yang baik, tinggalkan yang buruk….

 

 

Contohlah Amerika dalam hal : tidak ada pembatasan umur (dan beberapa hal lainnya) dalam bekerja (dan mencari pekerjaan)

Ingat tidak waktu di Indonesia, kalau kita membuat CV, selau dicantumkan tanggal lahir, status pernikahan, jenis kelamin, agama dan mencantumkan foto yang paling keren.  Entah siapa yang memulai, tapi koq ya sebagian besar dari kita tahunya ya begitu.

Kalau membaca lowongan pekerjaan sudah biasa melihat iklan seperti ini

ImageImage

 

Apa yang salah gitu dalam iklan lowongan kerja di atas? Perasaan biasa-biasa saja deh, tidak ada yang aneh, atau melanggar aturan. 

Atau sewaktu kita diwawancara, tidak jarang ditanya “Sudah menikah?” atau “Ada rencana untuk menikah?” atau “Ada rencana untuk hamil”?

Jarang dari kita ada yang bingung dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Nah, waktu Saya mulai mencari kerja di Amerika, tahun 2005, masih dong memakai versi Indonesia, wong cuma itu koq yang Saya tahu. Jadilah setelah Saya merangkai kata-kata di resume, Saya berikan ke suami untuk di cek.

Lalu dia bilang ‘Tidak perlu cantumkan tanggal lahir’

Aku “Heh? Masa sih? Yang benar? Apa HR tidak perlu tahu?’

Suami ‘Ya tidaklah, yang penting kamu mau kerja’

Lalu ditambahkan ‘Tidak perlu cantukam GPA’

Asli Saya BINGUNG! tapi ya terpaksa Saya nurut-nurut saja, secara waktu itu belum tahu apa-apa.

Lalu Saya bilang lagi “Harus buat foto ni buat di resume”

Jawab Suami ‘Tidak perlu foto, begini sudah cukup.”

Tambahlah bingung si Neng ini, cuma tidak bisa protes, karena kan memang Saya tidak tahu tho bagaimana mencari kerja di Amerika.

Bermodal kertas dua halaman, tanpa umur, foto Saya beranikan kirim surat lamaran, waktu itu Alhamdulillah Saya dapat pekerjaan.

Dari tempat kerja, mulailah Saya membaca aturan-aturan perburuhan disini, salah satunya yang paling TOP dalam artinya dijunjung tinggi adalah: Equal Employment Opportunity atau terjemahan bebasnya Persamaan Kesempatan Bekerja yang intinya perusahaan DILARANG mendiskriminasikan calon pekerja berdasarkan 12 hal dibawah ini:

  1. Umur – nah loh
  2. Kondisi fisik
  3. Kehamilan
  4. Agama
  5. Jenis Kelamin – dan seterusnya (duh baca di linknya deh)

Yang terus terang setelah Saya pikir-pikir Saya setuju sekali dengan aturan ini.

Coba saja dipikir-pikir, kalau Amerika menerapkan sistem seperti di Indonesia, bagaimana dong nasib Saya dalam mencari pekerjaan? Umur sudah kepala 4, semua lowongan menetapkan maksimal umur 30 tahun. Pedih kan?

Meskipun dalam kenyataannya, pekerja muda secara umum punya energi lebih banyak, tapi bukan berarti itu harus jadi hambatan bagi pekerja yang sudah tidak muda lagi kan?

Intinya begini, kalau seorang individu, berapapun umurnya, agamanya, jenis kelaminnya, statusnya, kalau memang individu tersebut merasa masih mampu bekerja dan bersaing dengan yang lain, ya kenapa tidak?

Kalau mau coba kita telaah iklan lowongan diatas, lihat yang pertama dulu deh :

Baris pertama : Pria, maksimal 27 tahun

-> kenapa harus pria gitu? apakah menurut perusahaan ybs tidak ada perempuan yang sanggup menjalankan pekerjaan ini?

-> maksimal 27 tahun? apa yang salah dengan umur 28 tahun? 35 tahun? 40 tahun? apa berarti si ybs dianggap sudah terlalu uzur?

Baris ketiga : IPK minimal 2.75

-> meskipun bisa dimengerti – yah kalau IPnya dibawah 2, artinya kurang pintar dong? – tapi kita tidak berhak untuk menilai, si individu dianggap harus jujur dalam menilai kemampuan sendiri

Iklan kedua? wah kacau…ibaratnya kalau si pengiklan itu berdomisili di Amerika, ybs sudah dituntut banyak orang deh karena iklan yang dipasang, karena dianggap mendiskriminasikan !

tinggi badan? memang kalau pendek tidak bisa bekerja ya? kasihan amat??!

belum menikah? kalau hidup bersama boleh dong? atau apa karena sudah menikah jadi tidak boleh kerja gitu?

Lucu juga kalau dipikir-pikir, Saya sendiri tidak menyangka kalau pola berpikir Saya menjadi berubah setelah tinggal di Amerika, tapi dalam hal ini Saya koq cenderung pilih versi Amrik ya…..