Pulang dong. Pulang.

Kata ‘pulang’ buat Saya terus terang ibarat kecantol duri ikan di tenggorokan. Nyebelin.

Baru Saya sadari kalau ternyata persepsi sebagian besar teman-teman di Indonesia tentang imigran Indonesia di luar negeri, adalah ‘keharusan’ pulang kampung SETIAP TAHUN. TITIK.

Idealnya sih ya begitu ya. Siapa sih yang tidak mau mengunjungi keluarga di Indonesia setiap tahun? ramai-ramai berkumpul, ramai-ramai bercerita, bersilaturahmi. Bawa oleh-oleh dari Amerikah. ;-), nyetok bumbu-bumbu Indonesiah buat tahun berikutnya….

Tapi kenyataanyaaaaaaa……………..

Tidak SEMUDAH itu.

Contohnya Saya..yang sudah tidak pulang sejak Desember 2006.

Kenapa gitu tidak pulang-pulang? Sampai-sampai Saya di cerca habis-habisan sama salah satu kerabat sendiri. Diomongin inilah, itulah. Hadweeeeh, sampai sakit ini hati.

Ingat tidak kalau Amerika kena resesi di tahun 1998-99?

Keluarga Saya termasuk kena korban resesi.

Suami kena pemecatan. Satu tahun lebih dia menganggur berusaha mencari kerja.
Untunglah Saya bekerja, dan saat itu ada lowongan untuk kerja penuh waktu yang segera Saya lamar and Alhamdulillah diterima.

Anak segara kami daftarkan (dan diterima) di asuransi kesehatan pemerintah dan sekolah pra TK yang memang diperuntukkan bagi keluarga penghasilan bawah.

Meskipun suami dapat asuransi pengangguran setiap bulannya, itu hanya cukup untuk membayar angsuran rumah, untuk biaya hidup sehari-hari Kami mengandalkan gaji mingguan Saya.

Kami kebat kebit setiap bulannya memikirkan bagaimana membayar angsuran rumah.

Setelah berhasil mendapat pekerjaan baru di Cleveland, Ohio, setelah 1.5 tahun kontrak suami habis, kami kembali pindah ke rumah di Montana tanpa ada pekerjaan pasti (baca : kembali menjadi pengangguran dan ada tambahan biaya pindah yang tidak murah).

Baru 4 bulan di Montana, Alhamdulilah suami dapat pekerjaan di Plano, Texas, karena kita baru saja ‘settling’ diputuskan suami saja yang pergi ke TX, Saya dan anak tetap tinggal di MT, sampai akhir tahun atau pindah waktu anak liburan musim semi…baru juga kita senang sebentar…

Jeder!!!!!!!!!!!

Ketika Saya sedang siap-siap mengepak koper untuk mengunjungi suami di Plano, TX, suami menelpon dan memberitahu kalau dia di pecat lagi….duh gusti…..

Untunglah dalam waktu 2 bulan, suami dapat tawaran kerja di Louisville, Kentucky.

Masalah beres?

Not really…

Dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, kami berpindah 4 kali : Ohio ke Montana, Montana-Texas, Texas-Kentucky, Montana-Kentucky. Ongkos pindah itu rata -rata tidak kurang dari $1,000-$2,000 setiap kali kita pindah.

Belum lagi karena suami harus segera pergi ke negara bagian baru, dia dianggap mangkir dari kontrak apartemen di Texas, jadilah selama 2 bulanan kita harus memutar otak bagaimana caranya membayar : rumah di Montana, apartemen di Texas dan apartemen di Kentucky.

wuih…asli deg-degan Kami setiap bulannya…

Pulang? I wish.

Hidup di Amerika itu……….

Saya ini termasuk kategori anak manja, anak Mami-Papi istilahnya, maklum anak paling kecil (bukan karena anak perempuan satu-satunya loh, karena kakak Saya anak laki-laki satu-satunya juga di keluarga).

Hampir semua keingian Saya di kabulkan sama orang tua. Alhamdulillah orang tua Saya berkecukupan, bukan kaya, tapi cukup untuk membiayai kakak dan Saya. Sekolah dibayarkan, mobil dibelikan, kartu kredit dibebaskan (dan dibayarkan). Enak lah pokoknya. Hidup tinggal ongkang ongkang kaki istilahnya,tidak kenal susah.

Terus terang ya hidup Saya berubah cukup drastis setelah hijrah ke Amrik.

Si Anak manja ini lama-lama harus menghadapi hidup sendiri tanpa bantuan Ayah ibunya.

Salah satu hal yang membuat Saya geleng-geleng kepala sendiri adalah…..

‘Koq nekat banget sih Saya melahirkan cuma ditemani sama Suami tanpa ada anggota keluarga lain?’

Haiya!!!

Kalau banyak teman-teman Indonesia yang saat melahirkan bisa ‘mengimpor’ orang tua dari Indonesia atau ditunggui mertua atau sanak saudara..

Saya?
wis. Sama suami saja (dan dokter dan perawat sih…)

Pulang dari rumah sakit?
ya bertiga sama si bayi yang baru lahir.

baby sitter? nanny?
boro-boro. Nemu dari mane Mpok??

Entah kenapa ..Saya tidak terpikir untuk membawa ayah atau ibu ke Amrik buat menemani Saya saat melahirkan, bukan tidak mau, tapi karena realitanya tidak memungkinkan, alias tidak mampu alias tidak bisa bayar ongkos.

Ha…ha…ha..dan memang Saya merasa tidak mau merepotkan orang tua (dan orang lain). Sanak keluarga suami tinggal di negara bagian lain yang cukup jauh dari tempat kami tinggal, sementara orang tua suami dua-duanya sudah meninggal dunia.

Dan ternyata Saya bisa….

(meskipun jujur, sering ada rasa iri di hati kalau membaca cerita teman-teman yang bisa membawa orang tua mereka ke Amrik untuk berkunjung maupun tinggal bersama mereka…)

I wish I were that lucky.

Tinggal di Amerika = Orang Kaya?

Ah…ah..ah….

Geli Saya kalau mendengar komentar teman-teman di Indonesia yang tahu Saya sekarang tinggal di Amerika.

‘Wah, kamu tinggal di Amrik? Kaya dong ya?’

‘Wah suamimu bule? hebat euy? ‘ (apanya sih yang hebat? bule, pa’le, sama-sama manusia koq)

‘Kenapa sih koq gak pulang-pulang? Kan gajinya dolar, masa gak mampu beli tiket?’
(kalau gajinya Rupiah, yah, gak bisa dipakai untuk bayar belanja bulanan dong??!)

Jadi benar atau tidak sih kalau ada orang Indonesia (terutama wanita Indonesia) yang menikah dengan orang (baca : pria) Amerika itu selalu SAMA DENGAN tajir?

Baca blog aku yaaaaaaaaa…;-)

Kenalan

Yuk kenalan dulu.

Saya orang Indonesia yang kebetulan tinggal di Amerika, karena suami orang bule Amerika.

Saat ini Saya tinggal di kota Louisiville, di negara bagian Kentucky. Ini kota ketiga yang Saya tinggali sejak migrasi ke Amerika di tahun 2005.

Blog ini tentang suka duka Saya selama tinggal di Amerika dan sengaja Saya buat dalam bahasa Indonesia, karena memang untuk konsumsi orang Indonesia dan…ehm..Saya belum lupa koq berbahasa Indonesia.

Selamat Membaca!