Contohlah Amerika dalam hal..

Waktu tinggal di Jakarta, Saya ingat betapa Saya kewalahan setiap Saya beres- beres ruangan, bingung mau dikemanakan ini barang-barang yang Saya sudah bosan pakai, kesempitan, tidak perlu lagi dll.

Begitu pula waktu Saya bersiap-siap pindah ke Amerika di tahun 2005, banyak sekali barang-barang Saya yang masih bagus, tapi tidak bisa Saya bawa ke Amrik.

Saat itu kebetulan Saya punya kenalan yang bekerja sebagai sukarelawan di panti asuhan, dia bisa terima limpahan barang-barang Saya untuk kemudian dia bagi-bagikan ke tempat dia bekerja.

Tapi sebagian besar barang-barang tersebut berakhir di tempat sampah. 😦

Nelongso juga kalau di-ingat-ingat, bukan karena rakus, tapi karena merasa menyia-nyiakan barang dan tidak bisa memanfaatkannya lagi.

Hal yang sama bisa dialami sewaktu pindahan rumah, atau semata-mata ingin membeli perabot baru sementara perabot lama masih berfungsi.

Di Amerika, masalah seperti itu boleh dibilang mudah solusinya.

– Yang paling mudah, gelar jualan di garasi atau garage sale istilah bulenya. Bermodal stiker, spidol, uang kembalian, Anda bisa jual barang-barang Anda di halaman rumah. Uang masuk kantong sendiri, tidak perlau bayar komisi dll

– Kalau punya banyak waktu, buat akun di craiglist atau ebay , daftarkan barang-barang, beri harga dan siap dijual.

– Kalau tidak punya waktu dan tidak berminat mendapat uang tambahan,  tinggal sumbangkan ke toko-toko barang bekas seperti Salvation Army, Goodwill, Habitat for Humanity Restore. 

Dari baju, sepatu, alat-alat rumah tangga. pernak-pernik hingga mobil bisa anda sumbangkan di 2 tempat ini. Dan besar sumbangan Anda bisa digunakan untuk pemotongan pajak saat Anda mengisi pajak tahun berikutnya .

– Kalau Anda pikir barang-barang Anda masih ada ‘harganya’ dan layak jual, Anda bisa cari toko konsinyasi (consignment store) dimana Anda bisa mendapat porsi uang dari barang yang Anda titip jual di toko tersebut.

Tipe konsinyasi ada 2, yang sepanjang tahun atau yang musiman. Yang sepanjang tahun biasanya berwujud toko atau kios, sementara yang musiman wujudnya bisa berupa ‘farmers market’, pasar loak (flea market) atau bazaar musiman yang dikelola organisasi tertentu.

Tidak perlu malu atau sungkan untuk menjual atau menyumbangkan barang-barang di tempat ini.

Lebih baik barang-barang kita menjadi berguna untuk orang lain daripada dibuang jadi sampah tho?

O iya, Saya tidak tahu apakah toko-toko seperti ini ada di Indonesia, maklum sudah 7 tahunan tidak mudik.

Sebelum Saya hijrah, Saya tahu ada 1 toko barang bekas di Bandung yang menerapkan sistem konsinyasi, kalau tidak salah namanya Ba-be alias barang bekas.

Dan menurut Saya budaya menjual dan menyumbang barang seperti ini selayaknya kita contoh, tidak mubazir!

Sebelum migrasi ke Amerika, perlu bawa apa ya?

Tips ini terutama untuk teman-teman yang seperti Saya, yaitu yang notabene tidak pernah tinggal sendiri, tidak pernah ber-kos ria, tidak pernah masak, selalu wara wiri sendiri…

1. Siapkan ijazah universitas seakan-akan Anda mau sekolah lagi – supaya pas di negara baru, meskipun tadinya tidak terpikir mau kuliah lagi, tapi setidaknya kalau ternyata mau sekolah, semua sudah di siapkan. Bawa ijazah SMA juga.

2. Bekalilah koper dengan bumbu-bumbu khas Indonesia, meskipun bisa beli lewat belanja online, atau kalau dirimu beruntung bisa langsung beli di tempat baru, tidak ada salahnya buat bulan-bulan pertama

lengkuas

kunyit

gula jawa

asam jawa

kencur

cara membuat tempe atau tahun – terutama kalau dirimu senang makanan tersebut

kemiri

teh/kopi tubruk kalau suka

cobek – kalau dirimu hobi masak dan ngulek

3. Kalau Anda bisa menyetir mobil, usahakan bisa bersepeda, karena tidak semua kota di Amerika ada kendaraan umum dan anggaplah suami bukan tipe kelebihan uang, jadi belum langsung membelikan Anda mobil.

4. Kalau belum bisa menyetir mobil ya siap-siap belajar yak….lihat alasan di atas

5. Belajar masak kali ya?

6. Belajar kreatif : membuat hiasan, fotografi, nyulam, dll deh, siapa tahu loh bisa jadi sumber penambah uang jajan…

7. Kalau ada waktu sebelum berangkat ke Amerika, coba belajar : menjahit, montir mobil, pertukangan

8. Cek kota tempat Anda akan tinggal di Amerika, kalau akan tinggal di kota agak besar, coba deh cari sekolah/kursus lokal – community college istilahnya. Ambil kursus-kursus singkat untuk mengasah otak dan bekal di resume.

9. Setelah sampai, jangan lupa ajukan perubahan status, dari spouse visa menjadi permanent resident supaya bisa dapat ijin kerja, meskipun dirimu tidak terpikir untuk kerja

10. Kalau mampu, bilang suami untuk sisihkan uang untuk beli laptop untuk Anda sendiri, lalu pasang Skype deh, supaya bisa bertelponan dengan keluarga di Indonesia murah (asumsi Anda tipe pengirit seperti Saya)

11. Bagaimana cari teman sesama Indonesia? Ngidam makanan Indonesia? coba ke facebook, lalu cari grup Selera Indonesia Food

12. SELAMAT DATANG DI AMERIKA!

Kenapa sih Amerika?

Buat Saya jawabannya ya sederhana : Karena suami kebetulan orang Amerika yang tinggal di Amerika.

Jadi intinya kata ‘Amerika’ bisa diganti dengan kewarganegaraan dan negara manapun.

Terus terang Saya bukan ‘pengagum’ bule (baca : demennya sama bule). Mau bule mau pribumi ya sama-sama manusia:ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang ganteng, ada yang kurang ganteng, ada yang keren, ada yang penuh pesona, ada yang membuat hati deg-degan, ada yang  membuat kita mau kabur…

Saya juga bukan pengagum negara Amerika dalam arti Saya tidak menganggap semua yang ala Amerika itu selalu lebih baik, lebih okeh.

Saya sekarang di Amerika bukan karena Saya kabur dari keluarga di Indonesia atau bukan karena merasa di Indonesia hidup Saya sengsara dan merasa harus memperbaiki diri di luar negeri.

Sewaktu di Jakarta, Alhamdulillah Saya punya pekerjaan yang cukup bagus, 1 minggu sebelum berangkat Saya ditawari menjadi Manager di salah satu konsultan properti yang terpaksa Saya tolak karena Saya harus hijrah ke Amerika.

Sekarang Saya tinggal disini, Saya tidak merasa jadi lebih ‘tinggi’ dari teman-teman di Indonesia. Amerika sudah menjadi negara kedua Saya, dan hingga kini Saya masih berkewarganegaraan Indonesia.

Kalau ada yang tanya, ada rencana balik?

Terus terang menurut Saya pertanyaan itu agak-agak ‘aneh’, karena terus terang hal itu bukan ‘pilihan’ saat ini. Kenapa? karena keluarga Saya, yaitu, suami dan anak, mereka dua-duanya warga negara Amerika, dan inilah tempat tinggal kami.

Dari segi praktisnya, lebih mudah untuk Saya berganti kewarganegaraan daripada Saya harus menjadi sponsor suami dan anak di Indonesia, atau Suami harus mencari kerja di Indonesia.

Sewaktu Saya menikah dengan suami Saya, Saya mengerti konsekuensi pilihan Saya, walaupun jujur, berat rasanya jauh dari keluarga, dan suka nangis sendiri karena tidak ada dukungan dari kerabat di saat-saat susah, tapi semua harus Saya telan bulat-bulat, karena ini adalah bagian dari hidup Saya sekarang……

Katanya tinggal di Amerika, koq blognya bahasa Indonesia?

Hi..hi..hi.

Salah satu teman SMP di halaman Facebook Saya sempat protes kenapa koq Saya selalu menulis status dalam bahasa Inggris. Istilahnya ‘duh si Mpok kebule-bulean banget seh??’

Apa benar ya si Dayang sekarang sudah kebule-bulean?

Sibuk berbahasa Inggris, karena tinggal di Amerika dan sudah berbaur, beradaptasi menjadi ‘bule’ juga?

Alhamdulillah Saya dibesarkan oleh orang tua yang cukup ‘keras’ dalam masalah mencintai negeri dan budaya sendiri.

Alasan Saya berbahasa Inggris di halaman facebook adalah karena ada teman-teman (termasuk Suami) yang hanya bisa berbahasa Inggris dan Saya ingin mereka bisa membaca tulisan Saya.

Sebetulnya Saya termasuk orang yang ‘gemas’ kalau membaca tulisan rekan-rekan Indonesia yang campur aduk tidak karu-karuan , antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia tanpa memakai aturan menulis (yaitu menggunakan huruf miring untuk istilah asing yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia) yang benar.

Contoh : Kemarin kami pergi ke zoo, tidak lupa pakai sepatu sports, karena akan waiting for bus.

Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….

Apa benar ya berbahasa Indonesia itu susah? tidak keren? tidak populer?

Jadilah blog Saya ini dibuat hampir sepenuhnya dalam Bahasa Indonesia yang meskipun tidak terlalu baku, tapi tetap berpedoman pada EYD yang Saya masih ingat dari jaman sekolah dulu.

Menulis dengan bahasa Indonesia itu asik dan enak dibaca juga koq! (benar tidak?!)

Bertemu teman-teman dari Indonesia…….

Salah satu harapan dan kebahagiaan ‘pengungsi’ Indonesia di luar negeri adalah bertemu teman-teman sesama dari Indonesia.

Ya pastilah.

Senang dapat teman senasib.

Senang bisa ngerumpi dalam bahasa Indonesia dari A sampai Z, tidak perlu mikir tata bahasa, lidah tidak perlu melintir-melintir berbahasa Inggris.

Senang bisa bernostagia, meskipun dulu pas di Indonesia tidak pernah bertemu muka sama sekali.

Senang bisa makan masakan Indonesia gratis!! – ha-ha-ha..ini mah Saya banget!!! (maklum, tidak suka masak)

Senang bisa motret-motret, cengengesan seperti di tanah air.

Yet………….

Bisa kena gosip yang aneh-aneh. Hadweeeeeeeh!!!!!!!!

Contoh : Saya dan anak jalan-jalan di mal saat ada ‘summer clearance’ , ada banyak kegiatan, salah satunya lukisan di muka. Karena anak Saya ogah dilukis, jadilah Saya yang di lukis, pilih gambar kupu-kupu di pipi kanan, warna ungu.

Eh alah…ada salah satu anak Indonesia melihat Saya – mending negur, cuma lihat dari jauh- beberapa hari kemudian ada yang tanya ‘Day, kamu gak kenapa-napa kan? ada yang bilang kamu mukanya biru dipukul suami……’???!!!????!!!

Kalau salah ‘pergaulan’, bisa-bisa ‘kecemplung’ ke grup

‘Suamimu berapa gajinya?’ atau

‘ Kemarin Saya pergi ke toko ini, beli tas merek ini’,

‘Kasian deh si anu gak punya mobil’,

Eh, dia berobat ke klinik loh!,

‘Aku dong dibeliin mobil sama suamiku’

dan berbagai percakapan sekitar materi lainnya-

Wuih…belum lagi kalau tidak tahan, harus ikutan ‘bergengsi’ memakai barang-barang bermerek. (kan suaminya bule!!) wakakakak…………….

Peer Pressure – Tinggal di Amerika koq gak punya Iphone?

Ha. Ha. Ha.

Saya tidak punya Iphone, Ipad, Ipod, atau tablet jenis-jenis lainnya.

Telpon Saya cuma telpon lipat yang pra-bayar, yang setiap bulannya Saya cukup bayar $15 saja. Yang diolok-olok sama teman kerja sebagai ‘telpon Amish’ alias telpon ketinggalan jaman.

Aneh ya?

Jujur  saja, wong tidak mampu gitu loh dan tidak ada keperluan untuk memiliki barang-barang tersebut.

Saya punya laptop yang Saya kunjungi setiap hari setiap saat, ibarat pacar. Disini Saya cek email, cek rekening bank, cari kerja, cari resep, cari insiprasi , cari ini itulah…

Terus terang Saya tidak bisa ‘hidup’ tanpa laptop (dengan koneksi internet lah!), tapi kalau Iphone dsb, Saya sih ‘can live without’.

Telpon buat Saya ya alat komunikasi wae. Jadi dengan telpon jadul lipat dan telpon rumah, itu sudah lebih dari cukuplah.

Buat foto, Saya pilih kamera biasa.

Terus terang Saya koq ogah ya menjadi komunitas ‘I can’t live without my Iphone’ dimana orang-orang sibuk bermain dengan Iphone (atau telpon pintar lainnya) mereka, sampai-sampai kehilangan etiket sederhana.

Di meja makan, sibuk pencet sana pencet sini.

Di kendara lewat, sibuk pencet sana pencet sini, merasa tidak perlu menyapa sang petugas.

Di belakang kemudi, sami mawon, pencet sana pencet sini, tidak peduli dengan keselamatan pengendara lainnya.

Di tempat kerja sibuk kirim pesan teks ke sana ke mari, cek facebook, cek twitter – lah, etika bekerjanya dimana ya??

Lupa bawa telpon , ibarat kebakaran jenggot.

Dunia milik berdua, dirinya dan si telpon pintar.

Pernah Saya ketemu orang yang bekerja di Apple, dia mengatakan kalau ‘semua orang perlu Iphone’, lalu Saya tanya blak-blakan.

‘Coba kasih Saya 1 alasan yang Saya tidak bisa bantah kenapa Saya perlu Iphone?’

‘Berhubungan dengan teman-teman’

‘Tidak punya banyak teman, ada telpon rumah dan Skype cukup’

‘Cek cuaca?’

‘Pakai komputer kantor/rumah’

‘Cek rute?’

‘Cek komputer sebelum pergi dan pelajari rute jalan’

‘Nonton video?’

‘Ih, ogah deh layarnya kecil’

‘Denger musik?

‘Nah..jarang dengerkan musik’

dst …

Sampai akhirnya dia mengaku kalah…

Jadilah sampai detik ini Saya tidak memiliki telpon pintar, wong dah pinter gitu loh….ha…..ha….ha…

Mencari segenggam dolar di tangan….(ternyata tidak mudah)

Sewaktu Saya tinggal di Jakarta, wah, Saya mah termasuk ‘orang keren’ deh..(ha…ha…ha..nyombong dikit boleh dong..)

Kerja di gedung pencakar langit, di kawasan Segitiga Emas -Sudirman-Kuningan-Thamrin, berbincang-bincang dalam bahasa Inggris, wara-wiri dengan mobil sendiri, menghabiskan waktu di mal setelah pulang kerja atau di akhir pekan sih langganan.

Mencari pekerjaan? berbekal ijazah SI teknik dari universitas beken di Jakarta, Saya PD saja, tidak pernah merasa kesulitan atau kelelahan dalam mencari pekerjaan.

Terus terang kalau boleh memilih Saya mah ogah bekerja lagi. Sejak lulus kuliah 1997 hingga 2005, cukuplah kiranya Saya bekerja, maunya sih merawat anak saja dan well…belanja(in) uang suami….ha….ha….ha..

Tapi ternyata Tuhan mentakdirkan lain…

Tahun pertama Saya tinggal di Amrik, Saya cukup beruntung bisa langsung bekerja setelah hanya 6 bulan menganggur. Si bos tempat Saya kerja pertama kali pernah berkunjung ke Indonesia (Jogjakarta), jadilah dia merasa klop untuk mempekerjakan Saya.

Saya hanya bekerja selama 3 bulan dikarenakan Saya melahirkan anak pertama Saya.
Setelah anak berumur 1.5 tahunan lebih iseng-iseng melamar jadi pramuniaga di department store di kota setempat, ternyata di terima.

Terus terang waktu Saya bekerja ini Saya tidak mengandalkan pekerjaan Saya ini jadi tulang punggung keluarga, lebih buat ke uang ‘hura-hura’ istilahnya. Tapi waktu Suami kena pemecatan, pekerjaan ini amat sangat membantu situasi keluarga Kami.

Nah..waktu suami menganggur, Saya coba melamar ke sana ke mari. Astaga! Disitulah Saya baru menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan ‘kantoran’ untuk Saya.

Saya masih berusaha menutupi kenyataan dan menganggap kalau ini cuma masalah situasi tempat Saya berdomisili , termasuk kkota kecil dan kurang beragam. Tapi sewaktu Saya pindah ke Cleveland yang notabene kota (cukup) besar, berlembar-lembar surat lamaran Saya kirim ke berbagai perusahaan, hasilnya NIL.

Ijazah SI Sarjana Teknik Indonesia tidak berarti apa-apa disini.

Jam terbang Saya selama kerja di Jakarta seakan-akan menjadi NIL kembali.

Fakta kalau Saya bekerja di perusahaan Amrika (yang harusnya kudu ternama lah), tidak membantu apa-apa.

Ditambah lagi memang Saya bukan individu yang sangat pintar ya seperti kakak Saya, sepupu Saya dan teman-teman lain yang sempat mengenyam pendidikan di universitas di Amerika.

Status Saya disini sama dengan lulusan SMA-nya Amrik.

Sadis euy.

Terus terang agak sulit Saya menerima kenyataan ini.

Apa kata saudara dan teman-teman kalau tahu Saya hanya sanggup bekerja sebagai mbak-mbak pelayan toko???

Well.

Ini kesimpulan Saya :

1. Bekerja itu rejeki, selama tidak nyolong, tidak ngibulin orang, di dapat dengan jalan ‘halal’ (bukan dibawah tangan istilahnya) dijalani dan disyukurilah. Orang -orang di sekitar mau mencela..ya monggo..

2. Ternyata memiliki latar belakang pendidikan di Amrika sangat membantu untuk mendapat pekerjaan ‘kantoran’ di sini
meskipun itu ‘cuma’ community college.

3. Situ termasuk beruntung karena tidak perlu bekerja? ya syukur, tidak perlu membanding-bandingkan pekerjaan suami dengan pasangan lain.

Pulang dong. Pulang.

Kata ‘pulang’ buat Saya terus terang ibarat kecantol duri ikan di tenggorokan. Nyebelin.

Baru Saya sadari kalau ternyata persepsi sebagian besar teman-teman di Indonesia tentang imigran Indonesia di luar negeri, adalah ‘keharusan’ pulang kampung SETIAP TAHUN. TITIK.

Idealnya sih ya begitu ya. Siapa sih yang tidak mau mengunjungi keluarga di Indonesia setiap tahun? ramai-ramai berkumpul, ramai-ramai bercerita, bersilaturahmi. Bawa oleh-oleh dari Amerikah. ;-), nyetok bumbu-bumbu Indonesiah buat tahun berikutnya….

Tapi kenyataanyaaaaaaa……………..

Tidak SEMUDAH itu.

Contohnya Saya..yang sudah tidak pulang sejak Desember 2006.

Kenapa gitu tidak pulang-pulang? Sampai-sampai Saya di cerca habis-habisan sama salah satu kerabat sendiri. Diomongin inilah, itulah. Hadweeeeh, sampai sakit ini hati.

Ingat tidak kalau Amerika kena resesi di tahun 1998-99?

Keluarga Saya termasuk kena korban resesi.

Suami kena pemecatan. Satu tahun lebih dia menganggur berusaha mencari kerja.
Untunglah Saya bekerja, dan saat itu ada lowongan untuk kerja penuh waktu yang segera Saya lamar and Alhamdulillah diterima.

Anak segara kami daftarkan (dan diterima) di asuransi kesehatan pemerintah dan sekolah pra TK yang memang diperuntukkan bagi keluarga penghasilan bawah.

Meskipun suami dapat asuransi pengangguran setiap bulannya, itu hanya cukup untuk membayar angsuran rumah, untuk biaya hidup sehari-hari Kami mengandalkan gaji mingguan Saya.

Kami kebat kebit setiap bulannya memikirkan bagaimana membayar angsuran rumah.

Setelah berhasil mendapat pekerjaan baru di Cleveland, Ohio, setelah 1.5 tahun kontrak suami habis, kami kembali pindah ke rumah di Montana tanpa ada pekerjaan pasti (baca : kembali menjadi pengangguran dan ada tambahan biaya pindah yang tidak murah).

Baru 4 bulan di Montana, Alhamdulilah suami dapat pekerjaan di Plano, Texas, karena kita baru saja ‘settling’ diputuskan suami saja yang pergi ke TX, Saya dan anak tetap tinggal di MT, sampai akhir tahun atau pindah waktu anak liburan musim semi…baru juga kita senang sebentar…

Jeder!!!!!!!!!!!

Ketika Saya sedang siap-siap mengepak koper untuk mengunjungi suami di Plano, TX, suami menelpon dan memberitahu kalau dia di pecat lagi….duh gusti…..

Untunglah dalam waktu 2 bulan, suami dapat tawaran kerja di Louisville, Kentucky.

Masalah beres?

Not really

Dalam jangka waktu kurang dari satu tahun, kami berpindah 4 kali : Ohio ke Montana, Montana-Texas, Texas-Kentucky, Montana-Kentucky. Ongkos pindah itu rata -rata tidak kurang dari $1,000-$2,000 setiap kali kita pindah.

Belum lagi karena suami harus segera pergi ke negara bagian baru, dia dianggap mangkir dari kontrak apartemen di Texas, jadilah selama 2 bulanan kita harus memutar otak bagaimana caranya membayar : rumah di Montana, apartemen di Texas dan apartemen di Kentucky.

wuih…asli deg-degan Kami setiap bulannya…

Pulang? I wish.

Hidup di Amerika itu……….

Saya ini termasuk kategori anak manja, anak Mami-Papi istilahnya, maklum anak paling kecil (bukan karena anak perempuan satu-satunya loh, karena kakak Saya anak laki-laki satu-satunya juga di keluarga).

Hampir semua keingian Saya di kabulkan sama orang tua. Alhamdulillah orang tua Saya berkecukupan, bukan kaya, tapi cukup untuk membiayai kakak dan Saya. Sekolah dibayarkan, mobil dibelikan, kartu kredit dibebaskan (dan dibayarkan). Enak lah pokoknya. Hidup tinggal ongkang ongkang kaki istilahnya,tidak kenal susah.

Terus terang ya hidup Saya berubah cukup drastis setelah hijrah ke Amrik.

Si Anak manja ini lama-lama harus menghadapi hidup sendiri tanpa bantuan Ayah ibunya.

Salah satu hal yang membuat Saya geleng-geleng kepala sendiri adalah…..

‘Koq nekat banget sih Saya melahirkan cuma ditemani sama Suami tanpa ada anggota keluarga lain?’

Haiya!!!

Kalau banyak teman-teman Indonesia yang saat melahirkan bisa ‘mengimpor’ orang tua dari Indonesia atau ditunggui mertua atau sanak saudara..

Saya?
wis. Sama suami saja (dan dokter dan perawat sih…)

Pulang dari rumah sakit?
ya bertiga sama si bayi yang baru lahir.

baby sitter? nanny?
boro-boro. Nemu dari mane Mpok??

Entah kenapa ..Saya tidak terpikir untuk membawa ayah atau ibu ke Amrik buat menemani Saya saat melahirkan, bukan tidak mau, tapi karena realitanya tidak memungkinkan, alias tidak mampu alias tidak bisa bayar ongkos.

Ha…ha…ha..dan memang Saya merasa tidak mau merepotkan orang tua (dan orang lain). Sanak keluarga suami tinggal di negara bagian lain yang cukup jauh dari tempat kami tinggal, sementara orang tua suami dua-duanya sudah meninggal dunia.

Dan ternyata Saya bisa….

(meskipun jujur, sering ada rasa iri di hati kalau membaca cerita teman-teman yang bisa membawa orang tua mereka ke Amrik untuk berkunjung maupun tinggal bersama mereka…)

I wish I were that lucky.

Tinggal di Amerika = Orang Kaya?

Ah…ah..ah….

Geli Saya kalau mendengar komentar teman-teman di Indonesia yang tahu Saya sekarang tinggal di Amerika.

‘Wah, kamu tinggal di Amrik? Kaya dong ya?’

‘Wah suamimu bule? hebat euy? ‘ (apanya sih yang hebat? bule, pa’le, sama-sama manusia koq)

‘Kenapa sih koq gak pulang-pulang? Kan gajinya dolar, masa gak mampu beli tiket?’
(kalau gajinya Rupiah, yah, gak bisa dipakai untuk bayar belanja bulanan dong??!)

Jadi benar atau tidak sih kalau ada orang Indonesia (terutama wanita Indonesia) yang menikah dengan orang (baca : pria) Amerika itu selalu SAMA DENGAN tajir?

Baca blog aku yaaaaaaaaa…;-)