Realita

‘Teman-teman’ Kita di Amerika Saat Susah Menimpa

Tinggal di Amrik dan bersuami bule tidak selalu seperti dongeng Cinderella.
Tidak sedikit cerita sedih wanita Indonesia di luar negeri, yang terkatung-katung, yang ditinggal, yang mengalami kekerasan rumah tangga, dan sebagainya

Untuk itu kita harus selalu jaga diri dan tahu kemana harus ‘pergi’ atau melapor saat keadaan yang tidak diinginkan terjadi.

Ini saya mau berbagi pengetahun sedikit tentang tempat-tempat ataupun layanan masyarakat umum untuk kita :

  • Sebagai warga negara Indonesia, perwakilan kita di negara Amrik adalah kedutaan besar Indonesia.  Di Amerika, karena negara besar, selain kedutaan, Republik Indonesia juga memiliki konsulat jendral di beberapa negara bagian.
    Fungsi kedubes/konjen ini adalah perwakilan negara Indonesia untuk melayani warga negara Indonesia yang tinggal di negara asing. Dari masalah urusan lapor diri, urus paspor, urus visa sampai ke masalah pelik yang menyangkut perlindungan diri kita.Jadikanlah kedubes/konjen Republic Indonesia sebagai ‘teman’ kita.screenshot_20180113-193321402598832.png

    Di Amrik, Republik Indonesia punya 1 kedutaan besar, yaitu di Washington DC, dan beberapa lokasi konsulat jendral:

    • Indonesian Consulate in San Francisco, United States

      1111 Columbus Avenue
      San Francisco , CA 94133

      Phone (1415) 4749571

      Email consulate@indonesiasanfrancisco.net
      Web Site http://www.kjrisfo.net
      Web Site http://indonesia-sanfrancisco.net

    • Indonesian Consulate in Hawaii, United States

      1001 Bishop Street, ASB Tower, Suite 2970
      Honolulu , HI 96813

      Phone (1808) 5313017

    • Indonesian Consulate in New York, United States

      325 East 38th Street
      New York, NY 94133

      Contact Hasan Kleib
      Phone (1 212) 9728333

      Email ptri@indonesiamissionny.org
      Web Site http://www.indonesiamissionny.org

    • Indonesian Consulate in Los Angeles, United States

      3457 Wilshire Boulevard
      Los Angeles, CA 90010

      Phone (1213) 3835126

      Email kjri@kjrila.net
      Web Site http://www.kjrila.net

    • Indonesian Consulate in Houston, United States

      10900 Richmond Avenue
      Houston, TX

      Phone (1713) 7851691

      Email kjrihouston@prodigy.net
      Web Site http://www.indonesiahouston.net/Formulir_Visa2.pdf

    • Consulate General of Indonesia in Chicago, United States

      211 West Wacker Drive
      Chicago, Illinois 60606

      Contact Mr. Daulat H Pasaribu
      Phone (+1) (312) 9201880

      Email generalinfo@indonesiachicago.org
      Web Site http://www.indonesiachicago.org

  • Suicide Hotline – tidak perlu mengernyitkan dahi dengar kata bunuh diri. This a real thing.  Kalau anda lagi benar-benar putus asa, kepingin nangis, mau curhat tidak bisa, tidak tahu kemana, terpikir mau mengakhiri hidup, cari nomor hotline ini, gratis, bisa ngobrol sepuasnya selama-lamanya sampai kita tenang. Tidak perlu malu, gengsi.
  • Perlindungan Kekerasan Rumah Tangga
    Dulu waktu saya tinggal di kota kecil, pas lagi jalan keliling keliling kota, tidak sengaja lihat rumah kantor kecil bertuliskan Women Center.  Bersyukur sekali saya koq lihat rumah kantor itu, karena ternyata saya membutuhkannya.Kekerasan rumah tangga itu bisa terjadi ke diri kita.  Abuse atau perlakuan semena-mena pasangan itu tidak semata-mata harus fisik loh ya, ini termasuk perlakuan lewat perkataan maupun tindakan non fisik, misalnya tiba-tiba menutup tabungan bersama kita dan suami tanpa bilang-bilang, tidak lagi mau memberikan uang, mengata-ngatai kita ‘jelek’ lah, tidak berguna lah dan sebagainya.Sebagai perempuan kita harus sadar hak kita sebagai pasangan, tidak usah sungkan-sungkan lari atau lapor ke tempat ini .

    Cari di mesin pencari ‘domestic abuse’ di setiap kota pasti ada fasilitas ini.
    Banyak tempat-tempat yang bahkan menyediakan shelter – tempat tinggal sementara untuk kita yang melapor. Shelter ini lokasinya rahasia, jadi si penyiksa tidak akan bisa menemukan kita, bahkan polisipun tidak akan memberitahukan lokasi kita kesiapapun meskipun kita mengijinkan.

    Jangan takut, kamu tidak sendiri!

  • Al Anon
    Saya pernah tulis sebelumnya, ini adalah ajang pertemuan mereka-mereka yang hidupnya dipengaruhi oleh pecandu alkohol. Karena sifatnya yang ‘tidak beridentitas, setiap anggota boleh dibilang berjanji akan tutup mulut tidak akan memberitahu siapapun tentang keberadaan kita di pertemuan

 

  • Tidak punya tempat tinggal?
    Setiap kota di negara bagian setahu saya ada fasililtas non profit yang bisa menolong . Waktu saya tinggal di Bozeman, Montana, saya merasa tertolong sekali dengan adanya HRDC (link https://www.thehrdc.org/)Anak saya bisa ikut pra TK, gratis karena suami kehilangan pekerjaannya (dan boleh dibilang kita hidup di bawah garis kemiskinan)
  • Food Stamp atau voucher makanan
    Nah food stamp ini atau dikenal dengan SNAP adalah fasilitas dari pemerintah (layanan-layanan diatas yang saya tulis, itu fasilitas dari organisasi-organisasi non profit)Saya, syukur Alhamdulillah belum pernah (dan mudah-mudahan tidak pernah) memakai fasilitas SNAP. Tapi kalau memang kita perlu, ya tidak ada salahnya koq untuk ambil fasilitas ini.Untuk informasi lebih lengkapnya baca disini : https://www.fns.usda.gov/snap/eligibility


    screenshot_20180113-2004182118780721.png

    Untuk masalah makanan bisa juga hubungi ‘Feeding America’

    screenshot_20180113-2003111148859087.png

  • County Clerk
    Selalu cek dimana lokasi kantor county clerk, dari sini kita bisa diarahkan ke layanan masyarakat lain yang mungkin kita perlukan : seperti layanan hukum.Kalau ada masalah hukum dan kita butuh pengacara, tapi kita tidak mampu, pemerintah setempat punya layanan hukum gratis untuk kita.   Istilahnya legal aid atau bantuan hukum.
  • Google
    Gunakan telpon pintar kita untuk mencari hal-hal penting juga, jangan cuma untuk postingan di  media sosial.’Google’ ibarat ‘Tuhan’ kecil lah, karena apa-apa,  ini itu, sebagian besar bisa ditemukan lewat meng-Google.Tempat-tempat yang saya tuliskan diatas sangat mudah ditemukan lewat pencarian di Google.

    Hidup di Amerika bisa sangat menantang, melelahkan dan membuat putus asa,
    jangan kehilangan harapan, semua ada jalan keluarnya!

 

 

Advertisements

Menelpon 9-1-1

Sebagian besar pembaca tahu lha apa 911 itu.

Di Amrik, 911 adalah nomor telpon yang kita putar saat keadaan darurat – bisa keadaan darurat pada diri sendiri , bisa keadaan darurat yang kita saksikan terjadi pada orang lain.

Saya pernah menelpon 911, 4 kali selama saya tinggal di US sejak tahun 2005.

Pertama kali menelpon 911 itu musim panas tahun 2006, anak saya baru umur 6 bulanan. Si mpok ceritanya lagi masak – masak sesuatu (lupa) yang pakai minyak banyak lah pokoke – bukan tumisan.

Ditinggal lah itu penggorengan di atas panci, sambil saya main dengan anak. Tiba-tiba tut…tut..tut..alarm berbunyi, kaget saya…astaga..apa ya????

Dari lantai ruang makan , saya melihat ke arah  dapur , ada asap mengepul,  hati ini langsung anjlok.

Oh Tuhan, apa yang terjadi??!!!

Lari ke dapur, astaga….ternyata panci yang saya tinggal dengan minyak didalamnya terbakar …..saya sudah matikan kompor, tapi karena kompornya tipe kompor listrik, jadi sisa ‘panas’ masih terasa dan itu cukup untuk membakar si minyak!!!

Bagaimana mematikan api?? saking paniknya saya tidak bisa mikir!!

Yang ada saya langsung gendong anak saya, ambil telpon dan lari ke teras belakang.

Halo 911

Tolong! ada kebakaran di rumah saya….

pendek kata, akhirnya pemadam kebakaran datang – sebelumnya untung ada tetangga yang baik hati lari ke rumah saya memadamkan api dengan alat pemadam kebakaran.

Kedua kali saya menelpon 911 di bulan Desember 2009.

Kali ini karena saya takut kekerasan rumah tangga terjadi, karena suami pulang mabuk, saya telpon polisi. Sebenarnya saya tidak sempat berbicara,  karena telpon sudah direbut suami, tapi sudah tersambung ternyata, polisi tetap datang memeriksa keadaan saya.

Ketiga dan keempat kali saya menelpon 911, di tahun 2012 dari balkon apartemen saya.

Kali ini saya menelpon untuk orang lain, kami mendengar suara benturan keras, waktu lari ke balkon, ternyata ada tabrakan mobil di perempatan apartemen kami.

Ada kira-kira 10 menit, kita menunggu polisi , koq tidak datang-datang? Saya tanya kemana polisi? apa kita telpon?

Tadinya suami bilang ‘pasti sudah ada yang lapor’, tapi saya ngotot tetap menelpon…

Untung saja saya ngeyel, karena ternyata setelah sekian lama, belum ada laporan ke 911 tentang kecelakaan ini!! geblek kan???

Keempat kalinya kejadian serupa, kecelakaan di tempat yang sama! kali ini begitu mendengar suara ccciiiiitttttttt……dan gubrak, saya langsung ambil telpon dan lari ke teras, melihat kecelakaan (sudah tahu , dari kejadian pertama), sambil menelpon 911.

Buat saya 911 itu penyelamat sekali.

Umumnya ini yang operator tanyakan saat kita menelpon

911. Apa kondisi darurat anda.

Dari situ katakan apa yang terjadi : kecelakaan, kebakaran, masalah kesehatan – orang pingsan, jatuh, tertembak, dan sebagainya.

Sebutkan nama anda, nomor telpon anda dan lokasi anda – ini penting karena operator harus menyambung telpon kita ke petugas lokal, baik itu polisi, pemadam kebakaran atau ambulans.

Sering kali kita panik pasti – saya paniklah jelas, tapi biasanya si operator juga terlatih untuk menenangkan penelpon supaya bisa mendapat informasi yang jelas.

Yang harus kita ingat adalah menelpon 911 adalah untuk keadaan darurat saja – definisi keadaan darurat disini adalah hal-hal yang mengancam hidup kita.

Jadi jangan menelpon 911 buat pesan cheeseburger ya atau hal-hal konyol seperti dibawah ini….

 

 

 

 

Celoteh di Awal Tahun 2018

Halo Tahun 2018!

Ah tahun baru euy…biasanya orang-orang repot bikin resolusi. Saya pilih nulis saja ah.

Beberapa waktu lalu ada pembaca blog aku yang komentar “ penuh perjuangan juga ya MBA, WNI cewe nikah ma WNAmerika cowo”

Baca komentar itu saya jadi ‘geli’ sendiri..andaikan perjuangan kita cuma dimasalah imigrasi saja……kenyataannya perjuangan perempuan WNI menikah dengan WN Amrik itu bukan semata di masalah imigrasi loh.

Nah di tulisan kali ini saya mau blak-blakan buka-bukaan tantangan , perjuangan menikah dengan WN Amrik

  1. Menikah itu sendiri bukan hal yang sederhana, jangankan menikah dengan bangsa lain, menikah dengan bangsa sendiri pun pasti ada bentrokan.  Saya sendiri agak ‘telmi’  alias telat mikir tentang apa itu pernikahan.  Waktu menikah saya boleh dibilang tidak ‘ngerti’ apa sih artinya menikah itu? Untunglah saya menikah di umur yang sudah lumayan tinggi, tidak terpikir deh kalau saya menikah muda…

    Kalau anda menikah berarti ada kemungkinan bercerai.

    idih koq gitu sih? masa nikah trus langsung mikirin bercerai.

    Bukan begitu, ini kenyataan koq. Selalu siapkan diri untuk menghadapi hal yang (ter) buruk……

    Tidak usah malu, tidak usah gengsi, shit happens.

    Itu bagian dari hidup koq. Jangan putus asa. Jangan malu minta pertolongan orang lain ya.

  2. Kendala bahasa : memang sebagian besar orang Indonesia bisa berbahasa Inggris dan kenyataan kalau si bule mau nikah dengan kita, si bule sudah ‘ngerti’ apa yang kita omongin? gitu? Well…….Kendala bahasa bukan cuma masalah tata bahasa, kosa kata, struktur atau pelajaran bahasa lainnya ; kendala bahasa disini lebih ke cara kita mengekspresikan diri sehari-hari.

    Saya pribadi bahasa Inggrisnya tidak bego-bego amat, tetap di mata suami, dia banyak ‘tidak mengerti’ apa yang saya katakan.

    Bukan cuma di mata suami saja loh, namanya kita tinggal di Amrik, ya berarti kita harus bercakap-cakap dengan masyarakat umum kan? Salah mengerti, atau di pandang rendah itu salah satu hal yang kita akan hadapi.

  3. Kendala makanan : menikah dengan bule, makanan yang disajikan artinya akan beda dengan makanan yang kita terbiasa. Sebagian besar dari kita mudah beradaptasi , bisa suaminya yang mulai suka masakan Indo atau perempuannya yang jadi fasih memasak meatloaf, chicken pot pie (dan pie-pie lainnya) broccoli cheddar soup, you name it, the Indonesian wife will cook it.  Idealnya begitu, tapi tidak semua kasus sama. Saya contohnya, paling tidak suka masak (dan tidak ‘ngeh’ kalau menikah itu berarti harus SELALU masak buat pasangan?), janjinya pasangan karena saya kerja penuh waktu kita akan bergantian masak. Cuma koq yang dia masak cuma terbatas : spaghetti with marinara sauce, hamburger, chili, fried chicken as in KFC not as in Ayam Suharti, Plain Steak, mac and cheese (with or without tuna), canned bake beans with hot dogs.Bosen gila! Jadi ya saya yang lebih sering memasak supaya lebih ada variasi. Mudah-mudahan kalian pada senang masak ya? (#sayatidaksukamasak)

    Belum lagi masalah jenis makanan yang kita pantang (terutama untuk Muslim).

    Beberapa dari pasangan sangat menghormati pantangan kita, dan ikutan tidak makan, tapi tidak jarang ada pasangan yang tetap mengkonsumsi si ekor keriting seperti biasa baik itu diluar rumah maupun di dalam rumah.

    Kalau kamu tipe yang santai ya tidak masalah, tapi hal kecil seperti bisa jadi beban loh….

  4. Kendala Budaya : yang paling gampang deh, merayakan natal. Di Indonesia kita terbiasa ‘tahu’ kalau tidak semua orang merayakan natal dan kalau kita termasuk yang tidak merayakan natal ya kita tenang-tenang saja, tidak harus kan?Di sini, kecuali suami kita tipe ‘sangat’ memahami perbedaan, boleh dibilang jadinya kita ‘diharuskan’ ikutan merayakan natal.  Mungkin hal kecil sih ya, tapi buat saya terus terang agak melelahkan, karena saya merasa pe-er pressure sekali . Saya lebih suka suasana di Indonesia deh, saya merasa ‘bebas’ tidak bernatalan, tidak ada ‘paksaan’ atau dipertanyakan.

    Contoh lainnya minum alkohol, suami saya ternyata pecandu alkohol, ini menyiksa sekali loh, karena saya yang menganggap alkohol itu barang terlarang, sekarang harus melihat pasangan setiap malam minum.

  5. Kendala Keuangan : tidak semua dari kita dapat suami bule tajir tho? atau jadi Sugar Daddy; idealnya suami adalah sumber penghasilan keluarga. IDEALNYA. Dan jangan salah, banyak juga pria bule yang menganut faham kalau istri tugasnya di rumah, tidak perlu kerja.Terus terang buat saya, karena merasa ‘sendiri’ tanpa keluarga, saya terpacu untuk jadi mandiri dan tidak semata-mata mengantungkan diri dari penghasilan suami.

    Tahun-tahun pertama tinggal di Amrik memang saya tidak kerja , lebih banyak di rumah, beradaptasi dan merawat si anak, tapi kemudian saya KEJEDUG kenyataan waktu suami kehilangan kerja.

    Detik itu juga saya langsung teringat nasehat ibu saya : sebagai perempuan harus punya penghasilan sendiri dan tabungan sendiri……

    Disitulah saya merasa bersyukur sekali kalau saya bisa berpenghasilan – meskipun tidak besar- ta[i cukup bisa menolong keluarga saya bertahan hidup selama setahun lebih hingga suami mendapat pekerjaan baru.

    Belum lagi masalah kebiasaan pasangan membelanjakan uang. Ini juga bisa bikin berabe.

    Saya tipenya yang ogah minta duit, jadi ya saya pilih kerja sik.  Dan juga ya untuk itu, untuk menjaga diri saya sendiri, memastikan kalau ada hal-hal yang tidak diharapkan , saya bisa menghidupi diri sendiri.

  6. Kendala Pertemanan: support system istilah bulenya. Kalau di Indo kita ada orang tua, ada sanak keluarga, ada sohib sejak SD, sejak SMP, sejak SMA,’sejak kuliah…..Kesel sama pacar, curhat sama sohib, telpon-telponan, kabur ke rumah ortu, ke rumah oom, ke rumah teman.  Enak. (saya pernah koq kabur dan ngaso di rumah teman, jadi ya saya tahu laaah)

    Pindah ke Amrik, kita balik ke nol lagi.

    Mencari teman, gampang-gampang susah sih, bukannya tidak mungkin kita dapat sohib baru disini, bisa sesama orang Indo, bisa orang bule juga. Tapi ya itu , kita juga musti pinter-pinter bersosialisasi.

    Tidak selalu kita akan tinggal di kota yang banyak orang Indonesianya, mungkin salah satu dari kita tinggal di kota cilik mintik…yang semuanya bule dan manula, sosialisasi jadi tantangan kan?

    Ternyata setelah saya perhatikan saya agak-agak anti sosial..ha..ha..ha.

    Dan kalau kita jadi tidak ada support systemnya, ya bukan berarti dunia kiamat ya! Ya kita tetap akan survive lah – Insha ALLAH, cuma road will be bit rougher.

    Kesimpulannya?

    Menikah dengan bule tidak selalu indah, gemerlap, happy ending, pasang foto ciuman di Facebook, pasang status berbahasa Inggris , pasang foto-foto jalan-jalan dengan mas bulenya di media sosial

    Menikah dengan bule artinya banyak beradaptasi – setiap saat boleh dibilang-, otak dipicu untuk terus belajar, karena harus mikir dalam bahasa Indonesia, tapi ngomong dalam bahasa Inggris, kemandirian kita akan lebih di uji.

    Jadi…jangan lihat buku dari sampulnya yaaaaa!!!!

 

 

 

 

Seminggu Sudah Berpuasa

Hari ini genap sudah seminggu lamanya umat Islam mulai berpuasa di bulan Ramadan 2017. Kebetulan saya termasuk salah satu yang berpuasa.

Gimana hasilnya? lumayanlah…masih sanggup…

Godaan? Jelas ada. Capek. Ngantuk. Pasti.

Di sisi lain, takjub juga akan kekuatan tubuh sendiri yang ternyata sanggup tidak makan dan minum selama lebih dari 12 jam…….

Iseng-iseng mau mengkaji gimana puasa saya selama minggu pertama :

Hari Sabtu (27 Mei) – pagi-pagi kerja dari jam 9 sampai jam 12, cuci mata di toko-toko lainnya, balik ke rumah jam 2 an, lumayan, setengah hari sudah terbuang….

Hari Minggu (28 Mei) lupa..ngapain ya?? istirahat saja kayaknya sih…o iya…pas jam 8 an gitu, lagi lihat-lihat Instagram..tiba-tiba koq pengen siomay…nemu resep di Youtube…eh koq gampang ya…jadilah ngacir ke Kroger supermarket buat beli daging ayam giling dan udang buat siomay…..Eng ing eng…hari ini pertama kalinya saya buat siomay!

Hari Senin (29 Mei) -hari libur Memorial Day di Amrik – ternyata kuat bersepeda ria sama anak dan suami…pendek sih rutenya, tapi hari pas lumayan panas…gleg…haus bisa ditahan juga kalau niat….

Hari Selasa (30 Mei)- hari pertama kerja pas puasa, waduh ngantuknya minta ampun, pekerjaan jadi agak sembrono! Duh malu deh! langsung dalam hati janji tidak mau sembrono lagi besok besok. Malamnya iseng bikin sate padang karena ada sisa lidah sapi dari semur yang dibuat sebelumnya…eh ternyata saya bisa bikin sate padang!!

Hari Rabu, (31 Mei)-hari ini saya kerja dari rumah, karena harus ke dokter ini itu… entah bagaimana setelah di dokter THT hidung saya disemprot obat bius lokal, maksudnya untuk si dokter swap tenggorokan saya, tapi yang ada dari jam 9 sampai jam 4 saya non stop bersin-bersin dan ingusan. Asli sengsara. Waktu ambil obat yang disarankan dokter, hampir mau buka – karena capek sekali bersin tidak berhenti-henti…lah..obatnya ternyata bikin ngantuk! padahal saya masih harus kerja jam 6 hingga jam 9 hari itu..ya sudah tidak jadi minum obat, eh Alhamdulillah ingusannya berhenti.

Hari Kamis (1 Juni) ditabrak pas lagi mau ketemuan teman 😦

Hari Jumat (2 Juni) – sehabis sahur, mandi, langsung berangkat ke tempat kerja, untungnya memang saya jam kerjanya bisa mulai jam 6:30 pagi. Eh ternyata kerjaan segudang, yang ada baru pulang jam 5! phew! Sampai rumah, istirahat bentar…hadduuh…koq malas masak ya?? jadilah cuma bikin mie rebus, pakai kangkung dan daging suwir ala Korea. O iya…sempat pergi ke Walmart, nemu es krim rasa mangga – iih enak juga!! rasa mangganya ketara !

Hari Sabtu (3 Juni) – kerja dari jam 9-12! balik ke rumah, bobo …trus jalan-jalan ke taman Charlestown …hua…….pilih trail pendek – cuma 0.9 mil..cuma tanjakannya ajegileeeeeeee….ini kaki rasanya ogah diangkat!! ha…ha…ha…susah deh out of shape! Ini foto-foto dibawah masih bisa cengengesan karena diambil sebelum jalan di tanjakan yang bikin ngos-ngosan…;-)

Waktu balik ke mobil..hua..langsung pasang AC…buat menghilangkan haus! kik..kik..kik..

(more…)

Imigran Ilegal

Ugh. Topik sensitif deh.

Dari mana ya saya mau mulai.

Jujur, bukan sekali dua kali saya mendapat email dari pembaca yang minta bantuan supaya bisa masuk ke Amerika ‘dengan cara apapun, yang penting saya bisa masuk di Amrik.

Di pesawat dari Jakarta ke Seattle tahun 2005,  ngobrol dengan anak Indo, jelas-jelas dia bilang ‘Saya pakai visa turis ni, Oom saya mau nampung saya sementara, tapi nanti saya mau menetap, tidak mau pulang’

Terus terang saya bingung dan malas menjawab pertanyaan ‘Bagaimana ya Mbak -caranya saya supaya bisa masuk ke Amerika, ilegal juga tidak apa-apa?’

Malas karena saya pribadi tidak suka ‘menghalalkan segala cara’ dalam urusan apapun.

Yang ada saya selalu harus menolak kalau ada yang minta ‘tolong’ tipe seperti ini.

Bingung karena saya tidak merasa Indonesia itu kondisinya amat sangat tidak mengenakkan sehingga penduduknya HARUS keluar dari Indonesia. Dan Amerika tidak selalu menjanjikan mimpi-mimpi indah gitu loh.

Saya tidak mengerti ‘keharusan’ pindah ke Amerika sehingga ibarat penyelundup, rela lompat dari kapal misalnya, atau memalsukan paspor…dan entah cara apalagi yang dicoba ….

Buat saya koq rasanya itu tidak menghormati negara yang akan ditinggali ya?

Ada memang beberapa kondisi ekstrim yang membuat seseorang rela melakukan hal apapun untuk pindah ke negara lain tanpa dokumen-dokumen resmi. Perang misalnya. Kelaparan. Bencana alam.

Atau memang situasi yang membuat status jadi berubah dari legal menjadi ilegal. Ditinggal tunangan, tidak punya uang buat balik ke tanah air, misalnya.

Hal-hal seperti itu saya masih bisa mengerti lah.

Tapi kalau semata-mata “bagaimana ya mbak caranya saya bisa tinggal di Amerika. Yang penting di Amerika”

Ya JANGAN LAH.

Bukan saya sok patuh hukum dan tidak pernah melanggar hukum ya…cuma saya sebagai imigran juga ‘kena getahnya’ loh dengan keberadaan imigran ilegal.

Sering kita (imigran) ya jadinya disamaratakan : semuanya ilegal. Semuanya tidak bayar pajak. Semuanya nyolong pekerjaan buat orang pribumi.  Semuanya tidak bisa bahasa Inggris, semuanya tidak berpendidikan.  Sama saja seperti menyamaratakan si A agamanya X artinya B.

Kesal juga kan?!

Mau tinggal di Amrik?

Belajar bahasa Inggris! Jangan terus beralasan bahasa Inggris saya belepotan. Basi ah.

Belajar punya keahlian tertentu : montir, mekanik,  tukang kayu (carpenter), penjahit (seamstress), dandanin orang, memasak (culinary, chef).

Coba ikutan lotere Green Card.

Dan…mmm..jangan lagi tanya saya Bagaimana cara masuk ke Amrik secara ilegal ya!

 

 

 

 

 

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

Saya adalah seorang imigran

Setelah lahir dan besar di Jakarta, untuk ukuran Jakarta,  Indonesia ya saya penduduk super lokal. Bukan cuma lokal orang Indonesia aka pribumi tapi juga lokal Jakarta.

Ada lah rasa ‘belagu’, karena saya anak Ibukota gitu loh.

Pindah lah si 100% pribumi dan 100% anak ibukota ini ke Amerika.

Dari situ status saya ya berubah menjadi seorang imigran. Tidak bohong kalau saya merasa ‘turun kelas’….

Tapi sebetulnya yaaa…berstatus imigran ya tidak ada yang salah, atau tidak bernotasi buruk ya.

Memang faktanya koq saya berimigrasi ke Amerika, ya jadinya saya seorang imigran.

Apa arti jadi seorang imigran bagi saya?

Saya punya kampung halaman.  Hi..hi…hi…kata mudik sekarang menjadi bahasa percakapan sehari-hari.

Saya belajar budaya dan sejarah negara baru saya. Ih, sumpah, saya paling malas belajar sejarah. Cuma koq ya rasanya tidak ‘sopan’ kalau saya buta sekali tentang sejarah negara yang saya adopsi jadi negara saya.

Saya merasa (merasa loh yaaaaaa…ini opini bukan fakta!!!- catat!) saya harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan sesuai – terutama yang berkaitan dengan pekerjaan.  Benar atau tidak , saya tidak tahu. Tapi yang jelas saya sehari-harinya constantly berusaha amat sangat patuh dengan aturan pekerjaan (dulu waktu jadi pribumi sih saya biasa saja) .

Entah apa karena saya merasa ‘orang luar’ jadi saya harus bangun kepercayaan dulu?  Mbuh…

Saya jadi suka memperhatikan sesama imigran lainnya, merasa ada ‘koneksi’ gitu – padahal ya belum tentu…kik..kik…kik..

Tapi benar loh, saya senang jadi imigran, karena saya jadi ingin tahu tentang ras lainnya, kenalan-kenalan saya jadi lebih ‘ramai’ : dari Bosnia, Jepang, India, Pakistan, Iran, Iraq, Mesir, Turki, Palestina, Malaysia, Thailan, Ukrania, Rusia, Bulgaria, Korea, Nepal, Maroko dan seterusnya….

Mana saya tahu gitu kalau wanita-wanita Bosnia cuantik nya minta ampun! seperti boneka! atau ngobrol langsung dengan penganut agama Sikh atau diundang ke pura Hindu orang India.

Melihat sesama imigran berprestasi terus terang saya ikut bangga! Mereka adalah bukti kalau imigran bukan warga negara kelas 2.

Arti Tinggal di Amerika Buat Saya

NOL

Saya harus mulai dari NOL lagi.

Pendidikan : NOL (well, sederajat dengan lulusan SMA Amrik lah).

Pengalaman kerja : NOL.

Teman-teman : NOL

Sanak Keluarga Indo : NOL

Materi : NOL – uang suami ya saya tidak masukkan ya..secara saya kan dulu kerja gitu loh.

Tidak seperti kerabat-kerabat dan banyak teman-teman saya yang sungguh pintar  dan berkarir tinggi waktu di Jakarta, saya ini pas-pasan dan kurang ‘hoki’.

Latar pendidikan saya memang sarjana teknik sipil tapi wis saya tidak mengerti satu pun ilmu sipil yang saya pelajari. Jadi ya tidak bisa dipakai.

Universitas tempat saya lulus di Jakarta sih memang keren, tapi di Amrik ya tidak ada bunyinya.

Pengalaman kerja, mungkin bisa di daya gunakan, tapi waktu saya pertama hijrah tidak terpikir sejauh itu.

Jadilah waktu akhirnya saya mulai coba cari kerja, saya baru sadar kalau saya harus mulai dari NOL lagi.

Waduh…pedih juga lah hati ini setelah berpuluh puluh lamaran kerja tidak ada yang balik.

Atau waktu basah kuyup kehujanan tidak punya mobil tidak ada teman yang bisa di mintai tolong.

Melahirkan dan merawat anak, dijalani berduaan saja dengan suami. Sungguh super iri melihat teman-teman yang ada ibu atau bapaknya datang waktu anak-anak lahiran.

 Ya sudah, daripada mewek, mulailah saya kerja apa saja. Mulailah saya coba berteman. Mulailah saya mengumpulkan uang sendiri.

Terus terang saya salut sekali dengan teman-teman imigran Indonesia yang melanjutkan sekolah lagi di Amrik (mereka hijrah ke sini bukan untuk melanjutkan kuliah ya).

Saya pernah coba sekolah lagi..hadewweh..ini otak sudah karatan..yang ada malessss…..- parah kan?! jangan dicontoh ya!!

Intinya dari tulisan saya ini….

Jangan putus asa kalau apa-apa yang sudah kita rintis, eh…ternyata tidak ada artinya di tempat lain….

Kalau ada kesempatan sekolah, atau ambil kursus ya…monggo deh dilakoni…

Jangan malu untuk kerja di tempat kurang ‘mentereng’, yang penting kita tidak nyolong, tidak jualan yang terlarang, hasil kerja kita lama-lama bisa jadi bukit juga lah…

Hidup dari NOL lagi….kadang memang sesuatu yang harus kita lakoni….

Icip -Icip Truk Makanan

Sekitar pertengahan bulan Maret lalu, saya pindah posisi di perusahaan. Dari bekerja di kantor cabang, saya pilih bekerja di operasional.

Salah satu konsekuensi dari pergantian posisi adalah saya sekarang balik kerja ‘kantoran’ alias kerja di gedung tinggi di pusat kota Louisville, Kentucky.

Kerja kantoran bukan hal yang baru buat saya. Jaman waktu saya masih muda belia di Indonesia, saya selalu kerja di perusahaan yang kantornya berlokasi di pusat kota Jakarta (kawasan segitiga emas istilahnya).

Dulu itu yang mananya kerja di ‘segitiga emas’ artinya makan siang bareng-bareng di Amigos (agak minggir got sedikit) atau kalau setelah gajian, lumayan sanggup makan di food court – atau kantin lah di gedung tempat bekerja.

Di Amrik gimana dong? ada gitu amigos?

Ha!

The closest thing to Amigos is……………food truck!

Yup. Truk makanan boleh dibilang ya makanan kaki limanya Amrik.

Saya belum ngeh tentang truk makanan di hari pertama saya kerja di kantor – maklum, stres karena baru pindah kan.

Baru hari kedua saya perhatikan dari jendela…eh…ada truk makanan parkir!

Nah sejak itu saya sibuk memperhatikan berbagai jenis truk makanan yang parkir disisi gedung saya.

Wuidih…tiap hari truk makanan yang parkir di gedung saya itu selalu berbeda. Minimal ada 2 truk makanan yang ngetem, paling banyak 3.

Si truk makanan ini biasanya ngetem di gedung-gedung yang banyak penyewanya lah – termasuk gedung tempat saya kerja. Intinya si truk ini selalu wara wiri, pindah tempat dari hari yang satu ke hari yang lain. Kalau kamu mau cari truk makanan tertentu, kamu bisa cari dimanan si truk ngendon hari itu lewat app “Where the food trucks at

Jenis-jenis makanan yang disajikan di truk makanan ini juga berbeda-beda. Ini yang pernah saya lihat mampir di gedung saya:

  1. Dakshin – makanan India
  2. Travelling Kitchen – taco Korea
  3. Boss Hogs BBQ – apapun panggang – babi, sapi, ayam
  4. Boo Boo Smoke Shack – idem
  5. LouSushi – sushi lah!
  6. Germany#1Food – sandwich Jerman katanya
  7. Black Rock Grille- hamburger
  8. Smok’N Cantina – taco Mexico
  9. Asian Modern Nomad – masakan Asia (mi goreng, nasi goreng gitu deh)

img_2017-03-21_20-45-33.jpg

wp-1491607196876.jpg

Yang saya sudah pernah cicipi itu Dakshin dan Travelling Kitchen.

Dakhsin sendiri ada restorannya di kota Louisville, tapi koq makanan dari truknya agak mengecewakan yak…hambar gitu..cuma pedas doang.

Hari ini saya nyoba Travelling Kitchen lumayan oke, konon taco bulgoginya yang beken, cuma karena saya minggu itu sudah makan bulgogi, jadi saya pesan taco ikan..lumayan! (cuma kurang nasi!! ha…ha..ha..perut Indonesia susah di’tenangkan’ cuma pakai taco)

 

0407171227.jpg

Pengennya sih saya coba semua makanan dari truk makanan yang berbeda-beda ya….cuma kantong ini gak kuat euy! Rata-rata harga makanannya $10, kalo setiap hari makan , habis $50! hi..hi..hi..mending buat beli baju atau sepatu deh! ha..ha….ha..

Mungkin nantinya saya berhasil nyoba semua truk makanan, tapi satu minggu sekali saja ya….;-)

O iya…yang enak ni ya…di pusat kota di Amrik banyak ruangan terbuka yang memang sengaja dibuat untuk pekerja-pekerja kantoran untuk ngaso,  baik untuk istirahat ataupun ya makan.  Di gedung saya, juga disediakan ruangan terbuka, cuma berhubung cuaca masih dingin dan berangin, tidak banyak pekerja yang memanfaatkan ruangan terbuka ini.

Ini saya foto dari lantai enam, tempat saya bekerja, kebetulan shrubnya lagi pas berbunga..cantik ya!

0407171316b.jpg

 

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan : Washington DC : Teater Ford, Panda dan Washington Monumen

Sabtu,  11 Maret 2017

Hari terakhir di DC!

Rencana kita hari ini adalah pergi ke teater Ford – teater dimana Presiden Abraham Lincoln di bunuh, mampir ke Bonbin untuk melihat panda, melewati Embassy Row – jalan dimana kedutaan-kedutaan besar negara asing – termasuk negara Indonesia  berlokasi dan memilih salah satu dari sekian banyak museum di pusat kota DC sebagai pilihan pribadi tanpa harus ikutan grup.

Rombongan sampai di lokasi teater sekitar jam 9: an, karena ada waktu cukup banyak , jadi ya kita jalan-jalan saja sekitar lokasi teater sampai tiba waktunya untuk masuk ke teater.

fordteaterentrance

Teater tempat Lincoln terbunuh ini ukurannya boleh dibilang mini, cuma ada 2 balkon VIP, Lincoln duduk di sebelah kanan.

FordTeater

Sempat merinding juga terbayang kejadian 15 April 1865. Dari teater, kita ke seberang jalan , dimana ada museum tentang kejadian penembakan Lincoln dan rumah tempat Lincoln meninggal dunia.:(

Keterangan foto :

  • kiri atas :Kamar tempat Lincoln meninggal dunia
  • kiri bawah : Museum tentang peristiwa penembakan Lincoln
  • Pintu dimana pembunuh Lincoln masuk ke balkon teater
  • pistol pembunuh Lincoln
  • Ilustrasi saat Lincoln dirawat
  • Keterangan tentang pistol pembunuh Lincoln

lincolnmuseum

Selesai dari teater, rombongan mampir di monumen Franklin D. Roosevelt, monumen Martin Luther King dan monumen Washington – yang mengingatkan saya seperti Monas di Jakarta.

FDR

 

Dari pusat kota, kita lanjutkan perjalanan ke bonbin nasional untuk melihat panda!!

Saya dan anak fan berat panda, beruang hitam putih yang gemesin! Rasanya baru ini saya beneran pergi melihat panda di bonbin….jelas, gemesin seperti yang saya lihat di media. Saking gemesnya, saya luluh hati membelikan anak boneka panda (kami sudah punya 3 boneka panda di rumah gitu loh).

panda

 

Selesai melihat si panda, kita balik ke pusat kota DC sambil melewati Embassy Row – kalau di Jakarta ibarat daerah Menteng kali ya. Konon bangunan kedutaan Indonesia cukup mencolok (unik), jadi mudah di kenali. Sayang saya tidak ada foto yang jernih, tapi ada videonya dibawah ini. Senang juga melihat bendera negara Indonesia berkibar 🙂

Kembali di pusat kota DC, kita punya beberapa pilihan, mau ke National Museum of American History,  Indian American History, atau Air and Space Museum. Anak dan suami pilih ke Air & Space Museum.

Di museum ini kita sempat nonton film pendek di planetarium tentang Dark Universe, main simulator pesawat dan makan siang di arena makan.

Berakhirnya acara bebas ini, berarti berakhir pula wisata sejarah kita di DC.

Terus terang cuapeek sekali rasanya, tapi tidak nyesal, karena saya belajar banyak tentang sejarah Amerika dari wisata kali ini.

Apakah akan kembali ke DC?

Mungkin juga. Karena masih banyak sekali yang bisa dilihat di DC yang tidak kesampain disinggahi. Yang jelas bukan mau lihat Cherry Blossom alias Sakura ya…karena di Jakarta dulu, di rumah ortu ada pohon Sakura.

Sampai jumpa lagi DC!

 

 

 

 

 

Tabrak Lari

Kalau dengar kata Amerika, sebagian besar dari kita merasa semua-muanya pasti lebih OKEH dibanding negara sendiri, bukan tidak mungkin kita anggap Amrik itu negara hampir tanpa cacat kali ya.

Teratur. Nyaman. Tidak ada polusi. Tertib. Mewah. Serba ada dan lain lain.

Kenyataannya Amrik, sama saja seperti negara-negara lainnya, sama seperti negara berkembang, terutama dalam hal : TABRAK LARI.

Saya pribadi pernah mengalaminya, 2 kali. Alhamdulillah tidak serius ya, tapi tetap saja jengkel, apalagi kalau akibat tabrakan mobil harus masuk bengkel.

Pertama kali saya mengalami tabrak lari itu tahun 2010, waktu masih tinggal di Bozeman, MT.

Saya baru balik dari mengunjungi suami di Texas, waktu tiba di Bozeman itu salju berat. Saya dijemput oleh teman saya dan di drop di rumah. Mobil terparkir di driveway tertutup salju.

Keesokan harinya saya kerja, karena pagi-pagi saya bersihkan salju secepat mungkin. Sampai di tempat kerja ya saya parkir seperti biasa.

Selesai kerja, sekitar jam 3 an, menuju ke mobil, deg, jantung saya berhenti. Bagian depan kiri depan mobil ringsek. Meskipun kerusakan tidak seberapa, tapi perasaan ini campur aduk antara kaget dan marah.

Koq tega banget ya orang nabrak mobil terparkir, terus tidak pakai basa basi cuek saja?

Ongkos perbaikan itu sekitar $800! Dengan asuransi, kami harus merogoh kantong sendiri $500. Kondisi kami saat itu tidak terlalu baik, suami baru saja kerja di tempat baru selama 3 bulan eh ternyata ada restrukturisasi, departemen dia ditutup, jadilah dia kehilangan pekerjaan, ditambah kami baru saja pindah dari Ohio dan sudah harus pindah lagi ke Kentucky.  $500 buat kami itu tidak sedikit. 😦

Alhamdulillah kami banyak mendapat donasi dari masyarakat kota Bozeman – saya tulis pengalaman saya di ‘surat untuk redaksi’ di koran setempat, eh malah di wawancara jadi masuk koran segala, dan orang-orang menyumbang!

Kejadian kedua, saya alami minggu ini, lagi-lagi waktu parkir di tempat kerja!!

Sebeeeeeeeeeeeeeeeeel banget!!!

Kali ini memang kerusakan tidak seberapa, hanya baret di pintu, tapi tetap saja hati mangkel.

0307171801.jpg

Saya ngerti sekali kalau mungkin si penabrak tidak punya asuransi untuk menutup ongkos kerusakan – terutama kasus pertama yang saya alami,  tapi ya bukan berarti lari dari tanggung jawab kan?? jangan jadi pengecut gitu dong!

Tidak mampu vs. Tidak bertanggung jawab tidak ada hubungannya kan?!

Apa salahnya sih menulis memo ‘Maaf Bu/Pak, saya tidak sengaja membaret mobilnya. Saya harus pergi, ini nomor telpon saya untuk Ibu/Bapak hubungi’

Gitu loh!

Mudah-mudahan teman-teman tidak ada yang seperti ini ya!

Masalahnya bukan besar atau kecil kerusakan ya…masalahnya kalau kita berbuat salah, mbok ya berani bertanggung jawab!

Kalau kata Ibu/Bapakku : Berani berbuat, berani bertanggung jawab!

Yuk, mari kita semua jadi orang yang bertanggung jawab!!

(tu kan ternyata orang-orang Amrik tidak semuanya patuh aturan!)