Realita

Sudah Bergaya Amerika kah Saya?

Dulu waktu belum hijrah ke Amrik, saya kebetulan kerja di perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri, yang oleh rekan-rekan kerja, jahil kami kasih istilah ‘Tante Amerika’ lah….ha….ha…ha.

Ciri-cirinya si Tante Amerika:  kalau ngomong selalu diselipin bahasa Inggris, dikit-dikit bilang ‘waktu saya di Amerika’ , pakai sepatu boots, rambut diwarna ,pokoke wis ‘bule’ lah. 😉

saya ingat bagaimana saya sering terpana melihat gaya si ibu yang ‘Amrik’ bangget.

Ndilalah…saya sendiri hijrah ke negeri Paman sam. (dan sudah resmi jadi warga negara Amerika pula).  Lagi menelaah diri..apa saya juga sudah jadi Tante Amerika ya?

Coba di cek :

Makanan favorit :

Masih nasi putih, boleh dibilang saya pecandu nasi, kalau tidak ketemu nasi lebih dari 3 hari, yang ada saya deprived…..atau sakau…ha….ha….ha..Paling panik kalau pas lagi ‘road trip‘, sering kali untuk menghemat waktu, kami cukup makan cepat saji, hamburger lagi, hamburger lagi. Hari pertama masih kuat, hari kedua, mulai panik, hari ketiga…..kelimpungan cari rumah makan cina buat beli nasi putih tok!!!

Rambut :

Hitam enggak, coklat mungkin tapi bukan gara-gara di cat, gara-gara gak diurus! ha…ha…ha. Ternyata saya ini tidak betah duduk berlama-lama untuk dicat rambutnya. Haduuuh…pernah nyoba 3 kali….wis kapok! selain si warna tidak nempel, tidak betah nongkrong di salon dan tidak betah untuk re-do lagi……

Cara Bicara :

Kalau ketemu teman-teman Indonesia, terus terang memang saya paksakan berbahasa Indonesia..bukan kenapa-kenapa..karena pengin tetap nulis di blog ini!!

Memang kadang terselip kata-kata dalam bahasa Inggris, tapi sungguh bukan sok bule..karena sudah kebiasaan ngomong dalam bahasa Inggris, sering lupa padanan bahasa Indonesianya….

Yang memang berubah….saya sumpah serapahnya sudah ala Amrik! hi….hi..hi…

Cara Masak :

Meskipun masakan orang Indonesia itu bumbunya njelimet, tapi saya tetap lebih rela masak makanan Indonesia….padahal orang sini cukup pakai garam , merica, sudah jadi deh itu masakan….

Warna Pakaian :

Kebanyakan orang Amerika itu riweh sama yang namanya memakai baju sesuai musim. Ibaratnya kita musti kayak bunglon, menyesuaikan warna pakaian dengan warna alam sekitar.

Warna putih konon tidak boleh dipakai setelah hari Buruh. Warna koneng (aka mustard) , warna merah anggur, identik dengan musim gugur.

Di musim dingin, ekspektasinya makai baju hitam, abu-abu. Cuma di musim semi atau panas ‘boleh’ pakai baju bunga-bungan atau warna warna cerah.

yaaaaaaaah bosaaaaaan!!

Ternyata dalam soal memilih warna, saya masih sangat tropikal sekali.

Dulu saya tidak ngeh sering dikomentari ‘You like color‘ -ternyata ya , ya itu, sebagian besar orang Amrik kurang ‘embrace‘ warna….tidak seperti orang Indonesia yang selalu cerah dalam berpakaian 😉

Cara Berkendara :

Jelas lebih tertib…bukan kenapa-kenapa, bayar tiketnya mahaaaaaaaaaaal!! belum lagi urus asuransi. malas deh!  Dulu saya tergolong suka ngebut di jalan tol, sekarang mah mana berani…(meskipun kepingiiiiiiiiiiin banggett!!! ),

Cara Belanja :

Ini jelas saya Amrik banget! Yang pasti nunggu diskon! pakai kupon atau cari perbandingan harga yang lebih murah! Keluar masuk toko barang bekas, nyantai saja. Harus bermerek? Tidak mampu..ha…ha….ha..

O iya..disini kan konsumen dibolehkan mengembalikan barang yang mereka beli, ini jelas jadi kebiasaan saya…kik..kik..kik. sering kali saya beli barang, tidak mikir, cuma bawaan mau, sampai di rumah..ya koq tidak sreg ya…ya sudah balikin saja. Coba kalau di Indonesia…mana bisa????!!!

 

 

 

 

 

Akhir Pekan : Main di Holiday World

 

Hari Sabtu tanggal 2 Oktober lalu, kami sekeluarga menyempatkan diri pelisir ke ‘Dunia Fantasi’ versi Indiana, yaitu Holiday World.

Kebetulan memang anak lagi jeda sekolah – Fall Break istilahnya, dan dia sudah lama minta main ke tempat seperti ini, tapi sebelumnya kami tidak berani, karena si kecil takutnya belum bisa main di semua atraksi.

Tahun ini, sepertinya si anak (dan ibu, bapak) sudah siap mental dan fisik…ha…ha…ha jadilah kami sempatkan pergi.

Holiday World lokasinya di kota Santa Claus, Indiana, sekitar 1 jam dari tempat kami tinggal, Louisville, Kentucky. Kami pergi pagi-pagi, jam 9 sudah berangkat, untuk menghindari antrian dan kesulitan parkir. Kami juga beli tiket sambil di jalan, biar hemat waktu. Untuk bulan Oktober, harga tiket dewasa itu $34.99, dan tiket untuk si kecil $24.99.

Hari Sabtu taman ini buka jam 11, yang saya lupa, ternyata HW sudah masuk waktu bagian tengah, jadi lebih lambat satu jam dari kota saya.

Sampai di HW itu jam 10:30 am waktu setempat, gerbang sudah dibuka tapi atraksi masih ditutup, jadi kami ya jalan-jalan saja lihat ini itu. Sambil menunggu, si kecil sempat berfoto kocak sebagai body builder

1002161042.jpg

Jam 11 tepat, atraksi dibuka, saya maunya si kecil main yang ringan-ringan dulu lah..pemanasan istilahnya…jadilah dia naik perahu kano – yang mengingatkan saya waktu kita berdua mudik ke Jakarta tahun lalu, ada tempat main anak-anak di Grand Indo yang juga menyediakan atraksi yang sama.

1002161103_burst02_1477527522464.jpg

Dari naik kano, dilanjutkan dengan naik mobil kuno, yang ternyata tidak semudah yang kami kira…agak berat untuk menggenjot si mobil…yang ada anak saya ngos-ngosan..ha…ha..ha.

Setelah dua atraksi adem ayem ini , anak saya sudah tidak sabar lagi buat naik roller coaster. Di HW ada 4 roller coaster : Voyage, Raven, Legend dan Thunderbird.

Sementara saya belum siap mental, jadilah si bapak yang menemani si kecil naik roller coaster.

1002161111.jpg

 

Waktu yang dihabiskan untuk satu putaran roller coaster sih tidak lama ya, cuma waktu mereka berdua balik, suami saya yang ada puyeng kepala…….sementara si kecil lonjak lonjak kegirangan. (Wah, gawat saya pikir, masih ada 3 roller coaster lainnya…berarti saya dong yang harus menemani????)

Sambil memberanikan diri, kita main atraksi lainnya dulu sebelum ke roller coaster berikutnya.

Saya perhatikan hampir semua atraksi di HW sama seperti atraksi di Dufan. Ada perahu Kora-Kora, ada bangku ontang anting, rumah miring, arung jeram, Niagara-gara.

Di atraksi yang mirip dengan Niagara-gara (disini namanya Frightful Falls) saya masih juga menjerit waktu perahu terjun ke air….(bikin malu ya?)

wp-1477529638737.jpg

Waktu naik Kora-kora, saya juga masih terasa kedernya….ha….ha…ha..kirain tambah umur tambah berani..ternyata enggak!!!

 

Setelah berusaha menghindar selama mungkin untuk naik roller coaster lagi, akhirnya tiba juga giliran saya untuk menemani si kecil naik roller coaster. Roller coaster yang kami naiki kali ini namanya The Voyage, konon di pilih sebagai roller coaster terasik.

 

Aduuuuh…tobaaaaaaaaaaaaaatt…..remuk redam badan saya naik roller coaster ini!!!! Saya bahkan terasa hampir mau mun**** uggghhh!!! selesai naik roller coaster, paha saya terasa lebam tidak karuan. Kapok dewh!!! si kecil? cekikikan kegirangan!!

Ogah. Ogah. Ogah. Tidak mau lagi naik roller coaster. HUH!

Setelah The Voyage, si kecil tadinya mau naik Thunderbird, tapi koq ya waktu dia nyoba duduk, saya tidak PD membolehkan , habis koq ya, badan dia masih kekurusan buat si kursi, takut dia ‘melambung’…..(ya tidak mungkin sih, cuma namanya ortu, jadi ya khawatir saja)

Jadilah kita lewati si Thunderbird. Yang paling si kecil hobi naik itu atraksi yang mirip Ombang Ombing. Jadi dia masuk ke mesin berbentuk piring bundar yang nantinya di putar ke sana ke mari. Saya cukup melihat dari bangku penonton. Anak saya naik atraksi ini ada kali 10 kali bolak balik…euw..saya mah pusing wae.

 

Hari itu kita menghabiskan waktu sekitar 5 jam di HW.

Kita main di permainan jeram (Raging Rapids) – yang sayangnya kurang seru kalau saya (dan anak saya bilang), main berburu ayam turki (Gobbler Getaway),  main kursi seperti ontang anting (Hallow Swings), naik kereta api Holidog Express, main perahu ala Kora Kora (Mayflower), main di Frightful Falls, masuk Mummy Maze, remuk redam di Voyage, Raven, Legend, dan naik Turkey Whirl.

Dari segi udara yang tidak terlalu panas, dan keramaian dan antrian tidak terlalu panjang, boleh dibilang kita pilih waktu yang tepat. Cuma memang kita tidak bisa menikmati area taman berenang, Splashin Safari- yang satu lokasi dengan rides –yang saat kami berkunjung, sudah tutup karena habis musimnya.

Dari segi kebersihan HW amat bersih dan teratur, disini pengunjung juga bisa ambil minuman soda/ air gratis! (saat musim panas, dipelosok taman disediakan pemulas penahan matahari gratis)

Yang jelas kata suami saya, kalau suatu saat kita ke sini lagi, kayaknya kita musti bawa teman yang agak mudaan, karena saya dan suami sama-sama ngerasa sudah terlalu uzur untuk beroller coaster ria….;-)

Roller coater yang terakhir kami naiki itu Raven, coba deh lihat ekspresinya si kecil, girang-girang saja!

 

2016fatherdayetc

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belanja Belanji ala Amrik

Belanja di Amrik itu buat saya lebih murah dibanding belanja di Indo. Waktu mudik tahun 2015 lalu, yang ada saya bingung pas belanja di toko-toko di Jakarta, Indonesia….koq tidak ada diskon yak??? Jadilah saya beli ini itu harga ‘retail’…Duh gak rela banget rasanya!

Kenapa gitu? di Amrik, ada pepatah ‘Never buy things full price‘ – karena konsumen tahu kalau barang-barang di toko PASTI akan ada promosi di kemudian hari, jadi kita ‘pantang’ yang namanya beli barang tanpa potongan

Saya sendiri, yang kebetulan juga kerja di toko pakaian, mengerti sekali pernyataan ini dan memang benar kalau nantinya, barang-barang yang baru datang (new arrival), pasti akan dikenakan promosi cepat atau lambat.

Di Amrik, sebagian besar hari libur kalender boleh dibilang identik dengan promosi : dimulai di bulan Januari, hari peringatan Martin Luther King, Februari :  hari Presiden dan Valentin, Maret hari Paskah, Mei: hari Ibu, Memorial, Juni hari Bapak; Juli hari Kemerdekaan, September : hari Buruh, October : Halloween, November : Thanksgiving, December : Natal.

Dari hari-hari tersebut, yang boleh dibilang hari potongan besar-besaran itu :

  • Hari Memorial : hari Senin terakhir di bulan Mei – kalau mau cari barang-barang musim dingin dengan hari paling murah
  • Hari Kemerdekaaan : 4 Juli – dimana toko-toko boleh dibilang harus menghabiskan produk-produk musim semi mereka
  • Hari Buruh : hari Senin pertama di bulan September – peralihan ke musim gugur, waktu terbaik untuk beli barang-barang musim panas, seperti baju renang, perabotan taman
  • Thanksgiving : buat yang merayakan Natal, pasti tahulah!
  • Setelah Natal : buat yang tidak merayakan natal, toko-toko biasanya mengadakan potongan besar-besaran karena musim ‘belanja’ boleh dibilang sudah berakhir

Selain menunggu hari-hari ‘besar’ di atas, kalau diperhatikan, hampir setiap saat, toko-toko di Amrik selalu saja pasang iklan potongan ini itu :

2016-07-19

Trus, gimana kita tahu dong, potongan mana yang paling OK?

Saya pribadi, kalau mau beli baju terkini, ya tunggu potongan, paling tidak 30%, beberapa toko seperti Ann Taylor, LOFT, The Limited malah berani kasih potongan hingga 50% untuk koleksi terbaru mereka.

Kalau anda tipe penyabar, ya tunggu saja sampai koleksi berikutnya datang, karena itu berarti koleksi sebelumnya harus di korting harga (clearance istilahnya).

Hati-hati juga dengan barang-barang clearance ini, tidak jamin harga selalu lebih murah….Dari pengamatan saya sih, harga barang-barang clerance benar-benar lebih murah kalau ada potongan lagi , extra 60% itu paling TOP deh.

Lagi-lagi saya yang biasa memperhatikan promosi toko-toko yang berbeda-beda, mending tunggu sampai potongan 60% deh.

Itu kalau toko-toko individu ya, kalau toko tipe tipe department store, seperti Macy’s, Dillard, JC Penney, tunggu sampai mereka promosi dan selalu gunakan kupon yang bisa berlaku setelah harga promosi

Selain promosi, kupon, ya kita sebagai pembeli juga harus tahu harga ya.

Kira-kira, mau gak beli kalung seharga $60 misalnya?! Kalau saya sih ogah….ha…..ha…..ha..

Selamat belanja!

 

Kring Kring Kring Ada Sepeda

Sejak sebelum pindah ke Amrik, saya sudah senang bersepeda, meskipun bukan hobi seperti layaknya teman-teman di Indo saat ini – yaitu bersepeda ramai-ramai ke pelosok komplit dengan peralatan sepeda terkini – saya senang bersepeda di lingkungan tempat tinggal.

Malah waktu saya kelas 5 SD saya pernah jatuh dari sepeda dan tanggal dua gigi di depan dari kecelakaan itu.

Pindah ke Amrik, waktu masih berduaan saja dengan suami, langsung dibelikan sepeda gunung, dan diajak bersepeda ke trail di pegunungan. Itu pertama kalinya saya bersepeda di jalan setapak – bukan aspal. Senang-senang saja.

Bersepeda juga kami lakoni setelah kami punya anak, waktu anak kami masih cilik, kami beli trailer untuk si kecil dimana kami bisa bersepeda dengan dia di bonceng di trailernya. Transportasi sepeda ini saya gunakan cukup sering sehari-hari, secara kami cuma punya satu kendaraan – dan waktu itu saya tidak bekerja- kalau saya mau belanja kebutuhan sehari-hari cukup ngacir dengan sepeda.

Selain jalan-jalan di lingkungan, saya juga terbiasa bersepeda ke sekolah dengan anak saya. Dari mulai dia pra TK, sampai TK, kita biasa bersepeda bersama.

Kadang juga kita semua bersepeda ke pusat kota Bozeman di hari Minggu. Kota tempat kita tinggal itu juga bicycle friendly lah, di jalan ada jalur khusus sepeda, rak sepeda itu dimana-mana tersedia dan trail di penjuru kota itu hampir semuanya boleh dilewati pengendara sepeda.

Berabenya bersepeda ini kalau cuaca kurang mendukung – dan waktu kami tinggal di kota kecil di Bozeman, cuaca lebih sering tidak memungkinkan untuk ke sana ke mari dengan sepeda (Bozeman itu negara bagian Montana, di arah barat utara USA – secara umum kita alami musim dingin yang relatif lebih lama dan musim panas yang sebentar).

Pindah ke Kentucky, kita agak-agak jarang bersepeda, satu karena kita tinggal di apartemen, kedua karena kota tempat kita tinggal lebih besar skalanya dari Bozeman, lalu lintasnya kurang bicycle friendly, pengemudi mobil di sini agak-agak ngeri cara menyetirnya, ketiga karena kita ganti mobil dan belum punya rak sepeda di mobil yang baru ini.

Tapi minggu ini kami sudah mulai bisa bersepeda lagi! karena suami akhirnya beli rak sepeda untuk mobil kami.

0717161443a.jpg

Tadi kita ‘test drive‘ ke salah satu tempat jalan yang boleh untuk bersepeda juga. Catatan, di kota Louisiville, tidak semua taman kota, jalur pejalan kakinya boleh di lalui sepeda. Saat ini saya cuma tahu dua taman kota yang boleh untuk bersepeda, satu di Anchrage Trail dan satu lagi di Beckley Park.

Kita pilih trail yang pendek, Anchorage trail, ah..senangnya bisa bersepeda dengan aman lagi!

 

wp-1468800085411.jpg

 

Saya Itu Tidak Cantik

Kemarin itu entah bagaimana, saya dan rekan kerja membahas tentang pernyataan saya bahwa ‘Saya itu tidak cantik’.

Menurut mereka, saya itu ‘cantik’. “Suri, you are beautiful! You need to know that!

Sementara menurut saya, kalau saya ngaku-ngaku cantik , saya bisa dianggap ‘gelo’ (karena jelas-jelas fisik saya tidak memenuhi standar cantik secara umum)

Gini loh.

Definisi cantik buat saya itu adalah kulit mulus, rambut mengkilap (boleh lurus, boleh keriting), wajah proporsional, hidung bangir, bulu mata lentik, bibir merekah dsb. Seorang perempuan itu dikategorikan cantik itu dimana baik laki-laki maupun perempuan berdecak kagum karena terpesona melihat si subyek.

Perempuan cantik terbiasa di goda lelaki, dikirimi tulisan untuk berkenalan, dipuji setiap saat, diikuti pemuja dimanapun mereka berada.

Adalah kenyataan kalau saya bukanlah perempuan tipe itu. Saya tahu saya tidak cantik, karena saya boleh dibilang tidak pernah mengalami hal-hal seperti diatas.

Saya terbiasa ditolak lelaki untuk kencan kedua, dicuekin lelaki di pesta waktu dikenalkan, atau sama sekali tidak diingat meskipun pernah kenalan. 😉

Oleh ibunda, saya dibesarkan bukan dengan segala pujian bahwa saya cantik seperti Cinderella atau Putri Salju. Ibu tidak pernah repot misalnya mengharuskan saya potong rambut di salon mentereng supaya rambut saya seperti rambut iklan sampo. Saya tidak pernah merasa panik kalau rambut salah potong misalnya, atau alis saya kurang sempurna seperti Brooke Shield, atau bibir saya kurang monyong seperti Angelina Jolie.

Tapi ibu mengajarkan saya untuk berpenampilan apik, bertutur bahasa santun, membuka wawasan pikiran seluas luasnya.

Saya mengerti kalau kecantikan fisik itu tidak abadi dan tidak bisa diandalkan dalam hidup. It’s not my forte.

Meskipun saya tahu saya tidak cantik, tapi bukan berarti saya tidak pernah merasa cantik. (feeling pretty)

Dan bukan berarti saya tidak mau mempercantik diri dengan perias muka.

Setiap perempuan pastilah punya kecantikan diri masing-masing.

Tidak semua perempuan dilahirkan cantik secara fisik, tapi semua perempuan punya kesempatan yang sama untuk merasa cantik di hati dan pembawaan diri.

Salah satu atasan saya sempat berkomentar seperti ini, waktu saya tanya apa wajah saya pasaran ?

You are that exotic Asian girl. You are not like the others. 

Mendengar komentarnya, saya mau tidak mau jadi tersenyum sendiri. 💞💟💞

image

Wajah asli 😇😇

0407160736

 

 

Pelajaran Dari Al Anon

Halo.

Tulisan kali ini masih tentang perang saya dengan masalah alkohol di keluarga saya. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya cerita bagaimana reaksi saya saat pertama kali membaca literatur di pertemuan Al Anon.

Pembaca akan lihat beberapa foto dengan cuplikan kalimat-kalimat yang saya baca yang ‘mengena’ sekali dengan diri saya pribadi (semua kalimat-kalimat yang saya warnai artinya saya alami sendiri sebagai kerabat pecandu alkohol)

Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau saya yang bukan pecandu, malahan pihak yang lebih membutuhkan bantuan. Logikanya kan, si pecandu dong yang harus ditolong, mereka kan yang kecanduan, bukan saya???

Ternyata saya salah, yang saya tidak sadari adalah bagaimana kecanduan alkohol adalah penyakit yang memberikan dampak gangguan emosi ke pihak-pihak disekeliling si pecandu itu sendiri.

Kalau dipikir-pikir ya benar juga. Sementara si pecandu sih senang-senang saja minum setiap hari, lupa akan kesusahannya, kita yang tidak mabok, melihat kelakuan ybs jadi stres dan emosi.

wpid-wp-1444528807024.jpg

wpid-wp-1444529549018.jpg

Disitulah saya menyadari kalau saya boleh dibilang sudah ‘terjerumus’ ke kondisi yang tidak sehat. Apa-apa yang saya lakukan selama ini sebagai usaha saya untuk mencegah si pecandu untuk menghentikan kebiasaannya juga bisa saya baca di literatur yang saya dapatkan. Dan ternyata apa yang saya lakukan bukanlah langkah yang efektif, malah membuat si pecandu semakin kecanduan.

 wpid-wp-1444528891741.jpg wpid-wp-1444528857001.jpgwpid-wp-1444528937181.jpg

Kadang semakin saya membaca, saya semakin ‘ngeri’ karena saya menjadi sadar seberapa parahnya kondisi yang saya alami .

Langkah yang harus saya ambil selanjutnya adalah mengubah perilaku sendiri – aneh ya kalau dipikir pikir.

Tapi perlahan-lahan saya mulai mengerti tentang penyakit kecanduan ini.

Yang jelas, kecanduan alkohol adalah penyakit.

Alcoholism is an illness

Alcoholism is an illness

Seperti halnya penyakit-penyakit lain, penyakit kecanduan alkohol memerlukan mental yang kuat untuk orang-orang yang terkena dampaknya. Untuk ‘menyembuhkan’ penyakit ini, kita-kita yang terkena dampaknya haruslah yang menjadi pihak yang lebih ‘waras’ dan lebih kuat. Karena memang penyakit ini melelahkan emosi mereka yang berhubungan langsung dengan si pecandu.

wpid-wp-1444608664350.jpeg

Pertama kali saya baca literatur ini, saya protes dalam hati, karena banyak hal yang ditulis di literatur boleh dibilang ‘aneh’ karena seakan-akan kita ‘lepas tangan’ terhadap kondisi si pecandu.

wpid-wp-1444529038497.jpg

Contohnya

wpid-wp-1444529068378.jpg

Ini saya alami sendiri, dan sulit sekali buat saya untuk tidak turun tangan ‘membereskan’ masalah. But it is what it is.

Saya sebagai pihak bukan pecandu, harus berhenti ‘menolong’ pecandu dan membiarkan pecandu menghadapi konsekuensi tindakan mereka.

Kalau sebelumnya saya ‘percaya’ dengan apa-apa yang pecandu janjikan (contoh : iya, saya akan kurangi minum) , saya di sarankan untuk memilih jalan membuat kesepakatan.

wpid-wp-1444529684575.jpg

Yang jelas, saya harus mengakui kalau di keluarga saya, salah satu anggota keluarga kami menghadapi penyakit kecanduan alkohol. Dan kalau saya mau keadaan menjadi lebih baik, sayalah yang harus berubah terlebih dahulu dan saya harus cari bantuan.

wpid-wp-1444528958368.jpg

wpid-wp-1444608876810.jpeg

Para Al Anon selalu diingatan akan 3C tentang penyakit ini :

I can not Control the alcohol

I did not Cause the alcohol

I can not Cure the alcohol

wpid-wp-1444608881360.jpeg

Bergabung Dengan Al Anon

Dua tulisan saya sebelumnya saya bercerita kalau pasangan saya adalah pecandu alkohol. Sudah dua minggu ini saya bergabung di pertemuan Al-Anon, dimana saya bertemu muka dengan orang-orang yang mengalami masalah yang sama dengan saya : mereka hidup dengan pecandu alkohol, baik itu pasangan mereka, orang tua mereka, ataupun kerabat lainnya. (kakak, adik)

Dari membaca literatur yang disediakan di pertemuan, saya tercekat. Kenapa?

Karena saya seakan-akan membaca tentang diri saya sendiri, seakan-akan saya sedang bercermin.karena banyak sekali hal-hal yang di tulis di buku/pamflet saya rasakan / alami sendiri.

Ternyata saya tidak sendiri. Ternyata perasaan yang saya rasakan tidak ‘aneh’ , boleh dibilang lumrah dan ‘nyata’.

Langkah berikutnya yang harus saya lakoni adalah menjalani apa yang grup Al Anon sebut sebagai 12 Langkah (12 Steps):

12steps

Jujur, hingga saat ini , saya masih belum bisa menerapkan satu langkahpun dari 12 langkah diatas. Saya masih dalam kondisi marah, kecewa, frustrasi dan lelah baik fisik maupun mental.

Harapan saya adalah dengan datang ke pertemuan Al Anon, saya perlahan-lahan bisa menerapkan langkah-langkah diatas.

Saya satu-satunya ‘anggota’ Al Anon yang orang ‘asing’ alias bukan bule dan bukan pembicara bahasa Inggris asli dan bukan penganut agama Kristen. (diakhir pertemuan, selalu ditutup dengan doa, yang terkesan kristiani – saya sendiri tidak masalah, karena saya tahu kepada siapa saya mengucap doa, it is what it is)

Buat saya datang ke pertemuan ini adalah untuk ‘kesehatan mental’ saya pribadi, perjalanan saya untuk berlaku ‘waras’ dan legowo baru dimulai.

Lain kali saya akan cerita lebih banyak tentang hal-hal yang saya temukan saat membaca buku-buku Al Anon.

20151008_192221

Doakan saya selalu.

xoxo

Tantangan, Rintangan, Kendala, Masalah

! Apa2 susah! ini susah! Itu susah! kamu malah gaK pulang2! punya empati gak?’

Wuih sakit hati rasanya saat terngiang-ngiang cercaan diatas. Bukan rahasia lagi kalau asumsi sebagian besar teman-teman di tanah air, hidup kami – imigran Indonesia – di Amerika itu TIDAK PERNAH SUSAH.

Untuk sebagian besar orang, sulit untuk ‘percaya’ kalau kita-kita yang tinggal di Amerika juga mengalami kesulitan, menghadapi tantangan, masalah, kendala di hidup kita sehari-hari

‘Kamu kan tinggal di Amerika?!!’ – komentar seperti ini ‘lumrah’ di dengar, seakan-akan imigran Indonesia di Amerika pastinya kebal dengan masalah, rintangan, kendala dsb.

Kenyataannya seperti teman-teman yang tinggal di manapun di belahan dunia, kita-kita ya menghadapi masalah juga, dari masalah sepele :  bagaimana caranya berwara wiri sehari-hari sementara tidak ada mobil dan tidak ada transportasi umum, hingga masalah mencari perlindungan hukum.

Dan tidak sedikit, masalah yang dialami imigran lebih ‘berat’ dibanding mereka-mereka yang tinggal di negara asal.

Gimana gitu lebih beratnya?

Karena banyak dari kita-kita yang disini itu benar-benar soragan wae, tanpa sanak saudara dan tidak punya ‘bekal’ cukup (pendidikan, pengalaman kerja, ketrampilan, kemampuan berbahasa Inggris dan lain sebaginya).

Waktu kita bermigrasi ke Amerika, sebagian besar diawali dengan ‘mimpi indah’ :suami bule, asik sekarang tinggal di luar negeri.

Sebagian besar dari kita beruntung karena mimpi indah menjadi kenyataan yang indah juga, suami tajir, selalu dibawa jalan-jalan, dibelikan barang-barang mewah tanpa harus kerja, mau beli apa juga tinggal tunjuk, mudik setiap tahun tidak perlu ditanya, sebagian lagi mimpi indah menjadi mimpi kurang indah…..

Pengalaman saya sendiri sih relatif tidak heboh ya, meskipun banyak kurang indahnya juga….

Gimana gitu kurang indahnya?

Coba saya ceritakan sedikit ya…

Suami saya, kedua orangtuanya sudah meninggal dunia, dia punya  2 adik, tapi 1 sudah meninggal dunia juga.

So what?

Tadinya saya juga pikir begitu, baru ‘ngeh’ beratnya waktu sedang hamil, melahirkan dan bulan-bulan pertama setelah si kecil hari.

Kalau teman-teman lain banyak yang bisa minta bantuan ayah, ibu, mertua, kakak, adik untuk jagain waktu lahiran, waktu minggu-minggu pertama, saya ya kudu lakoni sendiri.

Pernah saya menggigil karena keletihan, tapi tetap harus terbangun karena si bayi ini rewel sementara suami belum pulang.

Contoh lainnya.

Kemarin di tempat kerja saya ditelpon sekolah anak, si kecil panas. Panik? Jelas. Yang jelas cuma saya dan suami yang bisa menjemput anak kami. Saya masih beruntung karena pekerjaan suami itu lebih fleksibel dan bisa dikerjakan dari rumah dan saya pekerja paruh waktu, jadwal kerja saya cenderung pendek, jadi salah satu dari kami bisa ngacir untuk menjemput anak kami. Tapi ini bukannya tanpa resiko, beberapa tempat kerja sangat ketat dalam urusan ketidakhadiran, kalau pekerja di anggap tidak produktif karena banyak ‘berhalangan’, perusahaan bisa dengan mudah mendepak pekerja yang bersangkutan.

Sekali lagi, beberapa teman-teman cukup beruntung karena bisa menjadi ibu rumah tangga penuh dan tidak harus bekerja, atau punya pasangan yang punya bisnis sendiri, jadi tidak terlalu riweh dalam urusan anak sakit di sekolah,  tapi tidak untuk keluarga kami.

Contoh lagi.

Di tahun 2009, suami saya kehilangan pekerjaan. Jantung saya serasa mau ‘berhenti’ waktu dia masuk rumah dengan pandangan suram dan memberitahukan saya berita tentang dia kehilangan pekerjaan.

Panik. Jelas. Bingung? Pasti.

Di pikiran saya waktu itu :

  1. Angsuran rumah bagaimana kami bisa bayar? bagaimana kalau rumah tidak terbayar? mau tinggal dimana kami?
  2. Anak kami masih umur 3 tahun, masih butuh ke dokter secara rutin, asuransi dari mana?

Hari itu juga, saya langsung menghadap ke HR tempat kerja dan Alhamdulillah sekali ada lowongan penuh waktu yang langsung Saya bisa lamar.

Hari berikutnya Saya langsung ke county office untuk mengajukan lamaran asuransi pemerintah untuk keluarga. Ditolak, karena dianggap kami masih memiliki 2 aset utama: mobil dan rumah, tapi untungnya asuransi untuk anak bisa kita dapatkan, karena untk asuransi anak, hanya dilihat dari penghasilan dan bukan dari aset, dan saat itu keluarga kami dianggap kategori kurang berada.

Selama 1 tahun lebih boleh dibilang Saya jadi tulang punggung keluarga, masih beruntung suami mendapat asuransi pekerja (unemployment insurance) yang jumlahnya pas dengan angsuran rumah kita, sementara hidup sehari-hari kami harus mengandalkan penghasilan mingguan dari pekerjaan saya (pramuniaga di department store)

Tidak bohong kalau saya harus jual perhiasan emas yang saya bawa dari Indonesia dan menjual barang-barang ini itu untuk menyambung hidup. Consignment store, craiglist jadi ‘teman akrab’ saya. Setiap ada tambahan waktu kerja, saya coba ambil supaya bayaran saya bisa berlebih.

Waktu itu saya tidak langsung memberi tahu orang tua di tanah air, baru setelah beberapa bulan, saya beritahu mereka.

Saya ingat sekali di hari-hari itu (dan hingga saat ini) saya selalu mengkhayal andai orang tua saya dekat, pasti mereka akan bantu kami……

(tidak sedikit keluarga Amerika lainnya mengalami hal yang mirip (kadang lebih parah) dengan yang saya alami, bisa dibaca di http://finance.yahoo.com/news/achieved-american-dream-awful-040000718.html)

Di tahun 2010 dan 2012, Saya dan suami sempat tinggal berlainan tempat karena kerja.

Pertama kali kita berpisah, kami hanya memiliki satu mobil, yang pastinya harus dibawa suami, jadilah saya mengandalkan sepeda dan trailer untuk transportasi saya dan si kecil. Tidak masalah, KECUALI waktu hujan turun dengan derasnya saat saya menjemput anak dari sekolah.

Basah kuyup.  Anak kami waktu itu baru berumur 3 tahun, saya ingat bagaimana saya memakaikan jaket hujan, kain terpal dan selimut untuk melindungi dia dari hujan. Jarak dari sekolah ke rumah yang cuma 1 kiloan, terasa jauh dan berat sekali karena harus ditempuh ditengah-tengah hujan yang amat derasnya. Terus terang waktu itu Saya cuma bisa menangis karena kasihan melihat anak kebasahan dan kedinginan dan saya merasa bersalah karena ‘membiarkan’dia kehujanan.

Kedua kali kita berpisah, kondisi kami sudah agak lebih baik dari sebelumnya. Suami mampu menyewa mobil baru untuk dia di tempat baru, sementara saya boleh memakai mobil lamanya.

Dilalah.

Setelah selesai mentor di sekolah anak, saya rencana menghabiskan waktu di pertokoan dekat sekolahnya sebelum waktunya menjemput si kecil lagi.

Di jalan, tiba-tiba mobil ngadat, mesin berhenti sama sekali, untung sudah dekat dengan tempat tujuan! Dengan nekat dan berharap dari sisa energi mesin mobil,  saya berhasil mengarahkan mobil ke arah tempat parkir. Belum sempat masuk ke parkiran, mobil berhenti total.

Nekat saya keluar dari mobil untuk coba mendorong mobil ke tempat yang lebih sepi, yah tidak kuat lah yaw! untung ada pengemudi lain yang melihat saya kesusahan dan dia tanpa sungkan-sungkan membantu saya mendorong mobil. Lalu sekarang bagaimana? saya harus menjemput anak saya? coba telpon salah satu kenalan, dia ternyata tidak ada di kota, ya sudah, jadilah saya jalan kaki ke sekolah si anak. (catatan : di kota tempat saya tinggal dulu itu, sarana taksi terbatas, waktu tunggu bisa 1 jam lebih)

Menghayal lagi…’ah…andai ayah ibu ada disini’.

Tapi untunglah kami dulu itu tinggal di kota kecil, jarak dari satu tempat ke rumah kami relatif dekat, cuma 1-3 mil, dan di lokasi pemukiman (bukan bisnis atau jalan raya);jadi berjalan kaki masih nyaman. Tidak terbayang kalau tempat tinggal kami agak di luar kota misalnya, yang tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Waktu musim dingin dan saat sekolah libur saya sempat kelabakan mencari tempat titipan anak. Karena saya kerja di ritel, saya diwajibkan kerja saat Black Friday, dengan sangat terpaksa saya merepotkan beberapa kenalan untuk bergantian menjaga anak saya. Saya harus berada di tempat kerja pagi-pagi sekali, untung tetangga ada yang berbaik hati menjaga si anak sementara saya bisa kerja dan istirahat secukupnya.

Hal-hal yang saya ceritakan disini termasuk sepele ya…saya termasuk cukup beruntunglah. Syukur kepada Sang Pengatur Alam.

Saya sendiri tahu banyak cerita-cerita ‘yang lebih pedih’ dari teman-teman imigran Indonesia disini : suami pengekang, suami pemabuk, suami menyeleweng, suami ogah kerja, tidak dinafkahi, di bohongi pacar, bercerai tanpa penghasilan, rebutan anak. masalah kesehatan dan sebagainya…..

Tapi kata ‘Mbak Kelly Clarkson :

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fighter

Read more: Kelly Clarkson – What Doesn’t Kill You Lyrics | MetroLyrics

Atau kata Mas ‘Passenger’

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go
And you let her go

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you’ll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you’ll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
‘Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
‘Cause you loved her too much
And you dived too deep

Well you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go
And you let her go
Well you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

‘Cause you only need the light when it’s burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you’ve been high when you’re feeling low
Only hate the road when you’re missin’ home
Only know you love her when you let her go

And you let her go

Catatan : lirik lagi diatas ceritanya lebih buat muda mudi pacaran sih ya…cuma ada beberapa bait yang pas sekali di hati …(terutama bait-bait yang saya tebalkan)

Aktifitas Untuk Anak Di Musim Panas (Summer Camp)

Terus terang setiap musim panas saya kebingungan, bingung cari kegiatan untuk anak semasa liburan sekolah, maklum saya dan suami dua-duanya kerja. Meskipun saya kerja paruh waktu, sehari sekitar 6 jam, si anak yang jelas belum (tidak) bisa ditinggal bengong  sendiri di rumah, terutama waktu dia masih relatif kecil.

Tahun-tahun pertama si kecil masuk usia sekolah, tidak bohong kalau boleh dibilang kita ‘bokek’ selama musim panas. Summer camp itu yang jelas tidak murah! Lumayan banyak memang pilihan, tapi yang sesuai kantong, waduh, boleh dibilang sedikit.

Kami pernah coba summer camp di lokasi sekolahan, summer camp di lokasi YMCA, summer camp di tempat anak berlatih bela diri.

Tahun pertama si kecil di summer camp (dia kelas 1 SD, naik kelas 2, umur 6 tahun), ybs masing menikmati, selain karena lokasinya di sekolah dia sendiri,pengasuh-pengasuhnya juga ramah-ramah dan berpendidikan dan  juga karena cukup banyak kegiatan di luar, seperti berenang di fasilitas YMCA, jalan-jalan ke taman air pancuran, jalan-jalan ke kebun binatang, jalan-jalan ke kolam berenang di luar kota dll.

Tahun kedua, dia mulai bosan, memang lokasinya berbeda dengan lokasi tahun pertama, jadi dia kurang familiar dengan rekan-rekan sebayanya.

Saya sendiri juga kurang puas dengan mutu pengajarnya, terkesan bloon, kurang perhatian dan cuma sibuk ber-selfie waktu saya lihat foto-foto yang di unggah di facebook.

Tahun ini boleh agak beda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Anak sudah lumayan cukup besar dan mandiri, dan tempat tinggal kami sangat dekat dengan tempat kerja saya, kita putuskan anak tidak partisipasi dalam summer camp setiap minggunya dan juga kita pilih summer camp dari institusi yang berbeda-beda.

Salah satu summer camp yang kita pilih tahun ini adalah summer camp yang diselenggarakan oleh boy scout si anak. Boleh dibilang ini summer camp yang paling ‘bermutu’ dan juga sepadan dengan harganya.

Anak-anak bermain di luar seharian, kegiatannya juga bermacam-macam, ada belajar memanah, belajar menembak dengan senjata berpeluru pelor (BB gun), belajar menurunkan bendera, dan lain-lainnya yang boleh dibilang sangat boyish ya namanya juga dari boyscout ya? 😉

Tidak ada yang namanya main komputer, atau terkukung di ruangan selama berjam-jam seperti yang saya lihat di camp yang pernah dia lakoni sebelumnya.

Setiap saya jemput si anak selalu ada yang dibicarakan dengan semangatnya. Senang melihat dia aktif dan berkumpul dengan sesama anak-anak laki sebayanya.

Sekedar berbagi, ini beberapa hal yang saya pertimbangkan sebelum memilih summer camp:

  1. Lokasi – saya selalu pilih lokasi yang dekat dengan rumah atau tempat kerja, pertimbangannya kalau ada masalah, saya atau suami akan mudah datang ke lokasi.
  2. Harga dibanding dengan kegiatan : kalau anggaran tidak terbatas, harga tidak jadi masalah ya. Tapi buat kami pribadi, kami cuma mampu untuk membayar camp sekitar $100-$200, untuk $200 yang jelas tidak mungkin kita lakoni setiap minggu
  3. Durasi camp ,kami harus pilih camp yang sesuai dengan jadwal kerja. Ada beberapa camp yang kami sangat tertarik, tapi sayangnya waktu camp (11 pagi hingga 4 sore), sulit untuk saya ataupun suami untuk mengantar & menjemput si kecil.
  4. Jadwal kegiatan sehari-hari : saya sungguh tidak puas dengan salah satu institusi penyelenggara camp, masa’ di jadwal kegiatan tercantum kunjungan ke lokasi X yang intinya cuma ruangan terbuka, atau cuma tercantum ‘nonton film’ (bukan di bioskop). Hal lain yang saya pelajari adalah meskipun penyelenggara camp sama dan harga camp sama, tapi di lokasi yang berbeda, jadwal jalan-jalan (field trip) akan sangat berbeda, karena si kepala camp di lokasi lah yang menentukan tujuan-tujuan field trip untuk lokasi mereka. Tahun kedua si kecil ikutan camp di lokasi sekolah, saya sempat bandingkan jadwal kegiatan di lokasi dia dan di lokasi lain. Waduh beda banget! untungnya lokasi yang kita pilih waktu itu menawarkan field trip yang lebih seru dibanding lokasi lainnya.
  5. Pengasuh camp : Paling males kalau ketemu pengasuh camp yang terlihat tidak ramah, tidak peduli dengan anak-anak. Pengalaman pribadi ketemu dengan pengasuh seperti ini, saya tidak sungkan sungkan mengutarakan keberatan/kejengkelan saya di survei yang mereka kirim di email.

Intinya ya kita sebagai orang tua harus pandai-pandai memilih camp, karena beberapa camp ada yang super komersil tapi kurang bermutu, ada camp yang terjangkau namun menawarkan aktifitas yang cukup beragam.

Kalau boleh milih sih ya..mending saya jadi ibu RT saja dan menghabiskan waktu dengan si kecil selama musim panas, apa boleh buat, saat ini belum memungkin kan.

Buat ibu-ibu yang tidak perlu repot memilih dan bisa menemani anak-anak selama musim liburan , bersyukurlah, enteng di kantong yang jelas.

Mudik 2015 : Oleh-Olehnya Mana??

Saya sempat disindir karena tidak membawa oleh-oleh untuk individu-individu tertentu. Mungkin saya dianggap sangat mampu untuk membawa oleh-oleh buat semua pihak atau mungkin saya di anggap BERKEWAJIBAN untuk membawa oleh-oleh untuk mereka. Saya kurang mengerti juga

Sebagai orang Indonesia,saya terbiasa dengan budaya oleh-oleh ini. Dari Amerika gitu loh, masa sih tidak bawa oleh-oleh waktu ke Indonesia?

Pada dasarnya saya ini orangnya kurang perhatian (kurang ngeh) dalam hal beroleh-oleh, atau masalah kado-kadoan. Tidak terbayang kalau saya merayakan hari natal dimana saya kudu memikirkan kado untuk banyak orang. Setiap kali ada acara tukar kado di kantor, saya keringat dingin.

Saya juga tidak seperti kenalan saya yang orangnya telaten memikirkan orang lain dan selalu punya oleh-oleh ekstra di tangan.

Selain karakter saya yang bingung berkado/beroleh-oleh, saya harus realistis dalam banyak hal, yaitu :

  1. masalah muat atau tidak si oleh-oleh di koper. Dalam mudik ini saya belum-belum sudah membeli koper baru yang tidak ada di anggaran. Terus terang saya tidak enak hati dengan misua sendiri yang membelikan koper buat saya

  2. masalah anggaran. Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, anggaran mudik saya in relatif ‘tipis’, yaitu $3,000 dan sudah termasuk pembelian tiket pesawat. Kecuali mereka yang nyinyir itu mau ikutan bayarin tagihan keluarga saya setelah saya balik ke Amerika, saya harus selalu memantau anggaran ini.

  3. siapa yang akan saya kasih oleh-oleh. Buat saya oleh-oleh itu BUKAN sekedar buah tangan, tapi oleh-oleh itu juga tanda terima kasih saya untuk mereka yang mau berepot-repot bertemu dengan saya. Yang bersedia menyisihkan waktu diantara kesibukan mereka sehari-hari untuk bertemu saya.  Yang terus terang dalam mudik kali ini, memang saya sesalkan ada beberapa teman-teman yang  saya tidak punya oleh-oleh untuk mereka. Maaf ya buat RIA, DI, YP, RN, saya tidak ada buah tangan untuk kalian 

Jadi ya kalau ada yang merasa harus di oleh-olehi oleh saya tapi tidak dapat oleh-oleh….well.……..

mirror1

nb.

Kalau saya tidak salah juga, oleh-oleh itu bukan keharusan kan ya?

Suami saya sendiri, tidak saya belikan apa-apa dari Indonesia, karena dia memang tidak minta, dan dia juga mengerti sekali kerepotan saya di mudik ini. Dia cuma bilang ‘I know there are things there that you love that you can not get here, go ahead buy them, don’t worry about me