selingan

Posting Gak Makna Banget

Halo halo..aduh sudah lamaa ya tidak menulis..padahal banyak juga sikk ide-ide di kepala yang pengen aku tulis….

Sabar ya….

Semalam itu saya iseng-iseng jelajah IG…wuih..banyak orang-orang Indo ya..termasuk orang-orang Indo di Amrik yang beken atau punya pamor atau sekian ribu pengikut di akun sosial medianya…

Coba ah saya klik….

Ada postingan video -> bahasa Indonesia postingan itu apa ya?-…

Loh video si mbak lagi makan pakai tangan, lengkap dengan kunyahan ala Indonesiah….

Asli saya bingung

What did I just watch?

Video seseorang perempuan makan entah apa pakai tangan di Instagram.

Buat apa ya?

Maknanya?

Faedahnya? Manfaatnya?

Jadi gue pada dasarnya menghabiskan waktu gue untuk nonton video gak puguh ini

Halagh.

Ngerti sikkk… kita semua pengen nampang, pengen pamer, pengen tenar dan sejuta pengen lainnya…

Saya juga pengen nampang koq- kalau memang ada yang bisa di nampangin

Tapi……..

Boleh gak pengennya pake makna?

Pengen nampang pakai baju baru…boleh…mungkin bisa mengilhami yang melihat jadi beli baju yang sama…atau belajar maca in baju

Pengen nampang mobil baru….boleh..siapa tahu bikin pembaca jadi kerja lebih giat biar bisa beli mobil kayak kita…

Pengen nampang anak kita pinter sejagat raya? Boleh banget…namanya juga orang tua…memicu kepercayaan diri si anak kan bagus…

Gimana?

Boleh gak kita bikin gerakan Postingan Bermakna?

Postingan yang ada manfaatnya gitu……

Atau itu…terlalu tidak mungkin ya??!!

Telat

Saya itu orangnya telat-an, terutama telat mikir, telat dewasa juga.

Ingat waktu saya ultah jaman SMP sepupu-sepupu saya kasih hadiah saya pemulas bibir mini karena saya koq masih begajulan seperti anak laki, rambut jarang disisir, jarang pakai bedak muka…tomboi banget lah istilahnya.

Jaman kuliah, saya telat mikir musti lulus. Dipikir seperti jaman SMA gitu..tiap tahun pasti naik kelas…baru ngeh waktu lihat mahasiswa2 angkatan bawah koq sudah lulus duluan yak???

Jaman kerja, telat membangun karir…

Parah ya??!!

Ketelatan yang saya sekarang alami adalah telat mau tampak cantik – sebetulnya banyak lagi ketelatan-ketelatan saya lainnya..sekarang bahas yang ini dulu yaaa

Sementara teman-teman seangkatan sudah menjelma jadi bidadari semua…saya masih ‘inem’…ha..ha..haaa

Teman-teman sudah ngecat rambut, pasang alis, bulu mata palsu, suntik botox, micro peeling , giat jaga badan, saya baru betah-betahin manjangin rambut dan belajar bikin rambut berombak sexy..biar jadi lebih”cewe” …..

Ha…ha…ha…

Teman-teman selalu apik berjari lentik dan berwarna warni sesuai tren…saya masih bingung gimana cara perbaiki kuku terbelah….

Asli…saya behind banget masalah tampak anggun dan apik….

Teman-teman ada yang telat seperti saya gak ya??

Festival Derby 2

Masih bagian dari keriaan Kentucky Derby Festival, hari Sabtu tanggal 18 April 2018, saya diajak teman untuk nonton air show dan kembang api, kebetulan dia punya tiket extra…asikkk..rejeki nomplok!

Acara ini biasa disebut dengan Thunder Over Louisville.

Jam 2 saya dan anak di jemput teman saya dan suaminya, kita langsung cabut ke pusat kota dengan berbekal kursi lipat dan selimut.

Sampai di pusat kota, setelah parkir kami berempat berjalan kaki sekitar 4 blok ke lokasi Belvedere yang sudah dipesan khusus untuk pemegang tiket dari perusahaan ini.

Sampai di Belvedere, Kami diberi gelang untuk keluar masuk dan beberapa glowing sticks.

Setelah mengetek tempat menonton, Kami pergi ke lokasi makan yang juga disediakan dari perusahaan. Makanan ringan seperti hotdog, nachos, cotton candy, ice cream, soda, botol air mengalir tidak henti-henti.

Jam 3, air show dimulai, jam 4 pengunjung boleh mulai makan malam.

Acara kembang api dimulai setelah matahari terbenam, dan pengunjung mulai keluarkan glowing stick mereka

Sekitar jam 10, acara selesai.

Saya sendiri baru kali ini nonton acara Thunder Over Louisville dari awal hingga akhir.

Seru? Pasti. Yang jelas tahun ini, cuaca sangat mendukung, matahari bersinar cerah, tapi tidak kepanasan.

Cuma ni…pas pulangnya..haduh..mandeq dimana-mana.

Kami terjebak di kemacetan tidak kurang dari 2 jam, 1 jamnya habis di gedung garasi!!!

Mungkin besok-besok mending parkir jauhan kali yaaaa…….tapi harus rela jalan jauhan juga!ūüėĀ

Sudah Bergaya Amerika kah Saya?

Dulu waktu belum hijrah ke Amrik,¬†saya kebetulan kerja di perusahaan yang banyak berhubungan dengan orang-orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri, yang oleh rekan-rekan kerja, jahil kami kasih istilah ‘Tante Amerika’ lah….ha….ha…ha.

Ciri-cirinya¬†si Tante Amerika: ¬†kalau ngomong¬†selalu diselipin bahasa Inggris, dikit-dikit bilang ‘waktu¬†saya di Amerika’ , pakai¬†sepatu boots, rambut diwarna ,pokoke wis ‘bule’ lah. ūüėČ

saya ingat bagaimana¬†saya¬†sering terpana melihat gaya¬†si ibu yang ‘Amrik’ bangget.

Ndilalah…saya¬†sendiri hijrah ke negeri Paman sam. (dan¬†sudah resmi jadi warga negara Amerika pula). ¬†Lagi menelaah diri..apa¬†saya juga¬†sudah jadi Tante Amerika ya?

Coba di cek :

Makanan favorit :

Masih nasi putih, boleh dibilang¬†saya pecandu nasi, kalau tidak ketemu nasi lebih dari 3 hari, yang ada¬†saya deprived…..atau¬†sakau…ha….ha….ha..Paling panik kalau pas lagi ‘road trip‘,¬†sering kali untuk menghemat waktu, kami cukup makan cepat¬†saji, hamburger lagi, hamburger lagi. Hari pertama masih kuat, hari kedua, mulai panik, hari ketiga…..kelimpungan cari rumah makan cina buat beli nasi putih tok!!!

Rambut :

Hitam enggak, coklat mungkin tapi bukan gara-gara di cat, gara-gara gak diurus! ha…ha…ha. Ternyata¬†saya ini tidak betah duduk berlama-lama untuk dicat rambutnya. Haduuuh…pernah nyoba 3 kali….wis kapok!¬†selain¬†si warna tidak nempel, tidak betah nongkrong di¬†salon dan tidak betah untuk re-do lagi……

Cara Bicara :

Kalau ketemu teman-teman Indonesia, terus terang memang saya paksakan berbahasa Indonesia..bukan kenapa-kenapa..karena pengin tetap nulis di blog ini!!

Memang kadang terselip kata-kata dalam bahasa Inggris, tapi¬†sungguh bukan¬†sok bule..karena¬†sudah kebiasaan ngomong dalam bahasa Inggris,¬†sering lupa padanan bahasa Indonesianya….

Yang memang berubah….saya¬†sumpah¬†serapahnya¬†sudah ala Amrik! hi….hi..hi…

Cara Masak :

Meskipun masakan orang Indonesia itu bumbunya njelimet, tapi¬†saya tetap lebih rela masak makanan Indonesia….padahal orang¬†sini cukup pakai garam , merica,¬†sudah jadi deh itu masakan….

Warna Pakaian :

Kebanyakan orang Amerika itu riweh sama yang namanya memakai baju sesuai musim. Ibaratnya kita musti kayak bunglon, menyesuaikan warna pakaian dengan warna alam sekitar.

Warna putih konon tidak boleh dipakai setelah hari Buruh. Warna koneng (aka mustard) , warna merah anggur, identik dengan musim gugur.

Di musim dingin, ekspektasinya makai baju hitam, abu-abu. Cuma di musim¬†semi atau panas ‘boleh’ pakai baju bunga-bungan atau warna warna cerah.

yaaaaaaaah bosaaaaaan!!

Ternyata dalam soal memilih warna, saya masih sangat tropikal sekali.

Dulu¬†saya tidak ngeh¬†sering dikomentari ‘You like color‘ -ternyata ya , ya itu,¬†sebagian besar orang Amrik kurang ‘embrace‘ warna….tidak¬†seperti orang Indonesia yang¬†selalu cerah dalam berpakaian ūüėČ

Cara Berkendara :

Jelas lebih tertib…bukan kenapa-kenapa, bayar tiketnya mahaaaaaaaaaaal!! belum lagi urus asuransi. malas deh! ¬†Dulu¬†saya tergolong¬†suka ngebut di jalan tol,¬†sekarang mah mana berani…(meskipun kepingiiiiiiiiiiin banggett!!! ),

Cara Belanja :

Ini jelas saya Amrik banget! Yang pasti nunggu diskon! pakai kupon atau cari perbandingan harga yang lebih murah! Keluar masuk toko barang bekas, nyantai¬†saja. Harus bermerek? Tidak mampu..ha…ha….ha..

O iya..disini kan konsumen dibolehkan mengembalikan barang yang mereka beli, ini jelas jadi kebiasaan¬†saya…kik..kik..kik.¬†sering kali¬†saya beli barang, tidak mikir, cuma bawaan mau,¬†sampai di rumah..ya koq tidak¬†sreg ya…ya¬†sudah balikin¬†saja. Coba kalau di Indonesia…mana bisa????!!!

 

 

 

 

 

Mengintip Proyek Rumah Ramah Lingkungan

Hari Kamis tanggal 13 Oktober lalu, saya mendapat undangan ‘private viewing’ rumah yang dibangun oleh salah satu kenalan saya di sini.

2222.jpeg

Ini pengalaman pertama saya mengunjungi proyek rumah baru sebelum di pasarkan ke publik.

Saya tidak tahu juga apakah setiap perusahaan perumahan selalu mengadakan private viewing untuk proyek yang mereka kerjakan atau tidak, yang jelas di kota tempat saya tinggal memang setiap tahunnya ada acara Homearama, dimana pengunjung¬†membeli tiket untuk¬†melihat rumah-rumah baru di lingkungan perumahan tertentu, dari pameran rumah ini, pengunjung bisa mendapat ide untuk rumah yang akan mereka bangun, memilih kontraktor rumah ataupun langsung membeli rumah yang bersangkutan. Biasanya Homearama di selenggarakan di bulan Juli, sayangnya tahun ini saya kelewatan, padahal saya punya tiket gratis. ūüė¶ Mudah-mudahan tahun depan saya bisa datangi dan cerita disini ya!

Anyway,¬†waktu saya di beri undangan untuk melihat rumah baru ini, ya jelas saja saya senang! Maklum latar belakang pendidikan saya kan sarjana teknik sipil, dan saya sempat kerja lama di riset properti, dimana saya menyantroni berbagai macam proyek properti, termasuk proyek perumahan. Mengunjungi proyek rumah seperti nostalgia rasanya…ha…ha…ha..meskipun saya kurang suka dengan teknik sipil sendiri, tapi kalau subyeknya rumah dan material bangunan saya masih tertarik. (my soft spot istilahnya)

Yuk…kita lihat rumahnya……

Rumah ini lokasinya di lingkungan Norton Commons yang notabene lingkungan perumahan elit bagian timur kota Louisville, Kentucky.

Seperti kebanyakan rumah lainnya, rumah ini terdiri dari basement, lantai dasar, lantai satu dan lantai atap.

Di lantai dasar ada ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar utama, ruang cuci, dan toilet.

 

wp-1476920522610.jpg

Ruang TV/Keluarga/Tamu, Perhatikan meja kayu dan bangku kayu yang penampilannya tidak beraturan

 

wp-1476920502840.jpg

Tempat Tidur di Kamar Utama, saya naksir papan kepala, cukup $6,200 saja

 

Di lantai satu ada 2 kamar tidur, kamar mandi, teras, ruang kerja dan balkon.

wp-1476920482357.jpg1017161757a.jpg

wp-1476920491068.jpg

Pojokan Untuk Bekerja, semua material dari reclaimed wood

Di lantai atap, ruang terbuka.

wp-1476920474181.jpg

Lantai Atap

 

Yang membedakan proyek rumah ini dengan proyek rumah lainnya adalah, perusahaan di belakang proyek ini , yaitu UberGreen Spaces. Si pemilik UberGreen Space, Sy Safi ,boleh dibilang ahlinya membangun rumah yang bersertifikat ¬†‘hijau’ atau ramah lingkungan¬†dan efisien dalam penggunaan energi.

Proyek ini oleh Sy diberi nama Su Verde (Bahasa Italinya atau ‘About Green’ Bahasa Inggrisnya)

 

 

Tampak Muka Su Verde (Foto Kredit : Bret Knight)

 

 

Semua material yang digunakan dia pertimbangkan masak-masak fungsinya buat si pemilik rumah , dari mulai fondasi, dinding, jendela, lantai, atap, interior sampai kompor semuanya berkonsep hijau.

Sy juga semaksimal mungkin menggunakan barang-barang / artis-artis lokal untuk interior rumahnya sebagai wujud dia mendukung sesama pebisnis seperti dia.

Contoh : material lantai yang digunakan adalah kayu-kayu daur ulang (reclaimed wood) dari bangunan yang sudah tidak digunakan lagi. Pengunjung bisa lihat ‘cacat-cacat’ kayu di lantai yang memang sengaja dibiarkan apa adanya.

Untuk lantai-lantai kamar mandi, ada tambahan penghangat lantai, keren ya? jadi kalau pas musim dingin, setelah mandi tidak usah sengsara kedinginan kaki kita…ha…ha…ha..;-)

wp-1476920511569.jpg

Demikian juga bentangan kayu di ruang tamu, juga dari reclaimed wood ; yang uniknya lagi bentangan kayu ini mengalami proses pengawetan ramah lingkungan dengan cara pembakaran yang di kenal dengan teknik Shou Sugi Ban, sehingga warnanya menjadi hitam legam alami. Asli keren!

 

blackbeam

Kredit Foto : Bret Knight

 

 

blackbeam2

Ruang Tamu/TV dengan latar belakang si bentang kayu hitam yang membingkai ruang makan (Kredit Foto : Bret Knight)

Saya yang ada jadi banyak belajar tentang bahan-bahan bangunan tercanggih dan ramah lingkungan dari Sy.

 

Jelas banyak bengongnya…ha…ha..ha..wong saya sudah tidak berkecimpung di dunia sipil bertahun-tahun! Tapi seru juga, karena ya jadi tahu ternyata tersedia pilihan yang ramah lingkungan dan efisien di pasaran.

Yang saya senang dari rumah ini adalah lantai atapnya (roof top)

wp-1476920474181.jpg

Lantai Atap- buat tempat kongkow kongkow

rooftop

Kredit Foto : Bret Knight

dan pojokan (nook) yang nyaman dekat balkon lantai dua.

Kredit Foto : Bret Knight

 

Harganya? Konon rumah ini akan dipasarkan sekitar $1,000,0000 haaaaa…mahal yaaaaa…yang jelas saya bukan pembeli potensial rumah ini….ha….ha…ha..tapi for what it’s made of, I think it’s worth it.

O iya, kalau ada teman-teman pembaca yang kebetulan arsitek, atau teknik sipil atau juga senang dengan proyek-proyek seperti ini, bisa buka situs -situs dibawah ini untuk belajar lebih banyak tentang material-material terbaru :

http://www.proudgreenhome.com/videos/a-high-performance-thermal-envelope-starts-at-the-foundation/

http://www.proudgreenhome.com/videos/drywall-options-deliver-better-living-in-in-proud-green-home-of-louisville/

http://www.proudgreenhome.com/videos/sustainable-exterior-options-wrap-the-proud-green-home-of-louisville/

Untuk pembaca yang mau melihat foto-foto Su Verde lebih banyak lagi bisa buka link dibawah ini:

Foto Su Verde 1

Foto Su Verde 2

Foto Su Verde 3

 

Catatan :

Semua situs yang saya tautkan di tulisan saya ini sudah saya dapat ijin untuk membagi dari pihak Sy Safi sebagai pembangun proyek Su Verde. Harap tidak menggunakan tautan tanpa ijin tertulis dari pemilik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belanja Belanji ala Amrik

Belanja di Amrik itu buat saya lebih murah dibanding belanja di Indo. Waktu mudik tahun 2015 lalu, yang ada saya bingung pas belanja di toko-toko di Jakarta, Indonesia….koq tidak ada diskon yak??? Jadilah saya beli ini itu harga ‘retail’…Duh gak rela banget rasanya!

Kenapa gitu? di Amrik, ada pepatah ‘Never buy things full price‘ – karena konsumen tahu kalau barang-barang di toko PASTI akan ada promosi di kemudian hari, jadi kita ‘pantang’ yang namanya beli barang tanpa potongan

Saya sendiri, yang kebetulan juga kerja di toko pakaian, mengerti sekali pernyataan ini dan memang benar kalau nantinya, barang-barang yang baru datang (new arrival), pasti akan dikenakan promosi cepat atau lambat.

Di Amrik, sebagian besar hari libur kalender boleh dibilang identik dengan promosi : dimulai di bulan Januari, hari peringatan Martin Luther King, Februari :  hari Presiden dan Valentin, Maret hari Paskah, Mei: hari Ibu, Memorial, Juni hari Bapak; Juli hari Kemerdekaan, September : hari Buruh, October : Halloween, November : Thanksgiving, December : Natal.

Dari hari-hari tersebut, yang boleh dibilang hari potongan besar-besaran itu :

  • Hari Memorial : hari Senin terakhir di bulan Mei – kalau mau cari barang-barang musim dingin dengan hari paling murah
  • Hari Kemerdekaaan : 4 Juli – dimana toko-toko boleh dibilang harus menghabiskan produk-produk musim semi mereka
  • Hari Buruh : hari Senin pertama di bulan September – peralihan ke musim gugur, waktu terbaik untuk beli barang-barang musim panas, seperti baju renang, perabotan taman
  • Thanksgiving : buat yang merayakan Natal, pasti tahulah!
  • Setelah Natal : buat yang tidak merayakan natal, toko-toko biasanya mengadakan potongan besar-besaran karena musim ‘belanja’ boleh dibilang sudah berakhir

Selain menunggu hari-hari ‘besar’ di atas, kalau diperhatikan, hampir setiap saat, toko-toko di Amrik selalu saja pasang iklan potongan ini itu :

2016-07-19

Trus, gimana kita tahu dong, potongan mana yang paling OK?

Saya pribadi, kalau mau beli baju terkini, ya tunggu potongan, paling tidak 30%, beberapa toko seperti Ann Taylor, LOFT, The Limited malah berani kasih potongan hingga 50% untuk koleksi terbaru mereka.

Kalau anda tipe penyabar, ya tunggu saja sampai koleksi berikutnya datang, karena itu berarti koleksi sebelumnya harus di korting harga (clearance istilahnya).

Hati-hati juga dengan barang-barang clearance ini, tidak jamin harga selalu lebih murah….Dari pengamatan saya sih, harga barang-barang clerance benar-benar lebih murah kalau ada potongan lagi , extra 60% itu paling TOP deh.

Lagi-lagi saya yang biasa memperhatikan promosi toko-toko yang berbeda-beda, mending tunggu sampai potongan 60% deh.

Itu kalau toko-toko individu ya, kalau toko tipe tipe department store,¬†seperti Macy’s, Dillard, JC Penney, tunggu sampai mereka promosi dan selalu gunakan kupon yang bisa berlaku setelah harga promosi

Selain promosi, kupon, ya kita sebagai pembeli juga harus tahu harga ya.

Kira-kira, mau gak beli kalung seharga $60 misalnya?! Kalau saya sih ogah….ha…..ha…..ha..

Selamat belanja!

 

Saya Itu Tidak Cantik

Kemarin itu entah bagaimana, saya dan rekan kerja membahas tentang pernyataan saya bahwa ‘Saya itu tidak cantik’.

Menurut mereka, saya¬†itu ‘cantik’. “Suri, you are beautiful! You need to know that!

Sementara menurut saya, kalau saya ngaku-ngaku cantik , saya bisa dianggap ‘gelo’ (karena jelas-jelas fisik saya tidak memenuhi standar cantik secara umum)

Gini loh.

Definisi cantik buat saya itu adalah kulit mulus, rambut mengkilap (boleh lurus, boleh keriting), wajah proporsional, hidung bangir, bulu mata lentik, bibir merekah dsb. Seorang perempuan itu dikategorikan cantik itu dimana baik laki-laki maupun perempuan berdecak kagum karena terpesona melihat si subyek.

Perempuan cantik terbiasa di goda lelaki, dikirimi tulisan untuk berkenalan, dipuji setiap saat, diikuti pemuja dimanapun mereka berada.

Adalah kenyataan kalau saya bukanlah perempuan tipe itu. Saya tahu saya tidak cantik, karena saya boleh dibilang tidak pernah mengalami hal-hal seperti diatas.

Saya terbiasa ditolak lelaki untuk kencan kedua, dicuekin lelaki di pesta waktu dikenalkan, atau sama sekali tidak diingat meskipun pernah kenalan. ūüėČ

Oleh ibunda, saya dibesarkan bukan dengan segala pujian bahwa saya cantik seperti Cinderella atau Putri Salju. Ibu tidak pernah repot misalnya mengharuskan saya potong rambut di salon mentereng supaya rambut saya seperti rambut iklan sampo. Saya tidak pernah merasa panik kalau rambut salah potong misalnya, atau alis saya kurang sempurna seperti Brooke Shield, atau bibir saya kurang monyong seperti Angelina Jolie.

Tapi ibu mengajarkan saya untuk berpenampilan apik, bertutur bahasa santun, membuka wawasan pikiran seluas luasnya.

Saya mengerti kalau kecantikan fisik itu tidak abadi dan tidak bisa diandalkan dalam hidup. It’s not my forte.

Meskipun saya tahu saya tidak cantik, tapi bukan berarti saya tidak pernah merasa cantik. (feeling pretty)

Dan bukan berarti saya tidak mau mempercantik diri dengan perias muka.

Setiap perempuan pastilah punya kecantikan diri masing-masing.

Tidak semua perempuan dilahirkan cantik secara fisik, tapi semua perempuan punya kesempatan yang sama untuk merasa cantik di hati dan pembawaan diri.

Salah satu atasan saya sempat berkomentar seperti ini, waktu saya tanya apa wajah saya pasaran ?

You are that exotic Asian girl. You are not like the others. 

Mendengar komentarnya, saya mau tidak mau jadi tersenyum sendiri. ūüíěūüíüūüíě

image

Wajah asli ūüėáūüėá

0407160736

 

 

Bertemu Kembali Dengan Teman

Saya ini orangnya boleh dibilang pemalas sosial Рbukan anti, cuma malas. dan agak sulit berteman. Kalau ada acara hura-hura dari tempat kerja, saya jarang (atau boleh dibilang tidak pernah) datang.  Kenapa? Pada dasarnya saya cenderung pemalu (kurang PD gitu) dan kurang gaul lah istilahnya.  Kagok kalau harus ketemu orang-orang baru. Bingung mau ngobrol apa ya?

Tapi di sisi lain saya menyadari kalau ‘bertemu orang baru’ dan berteman itu penting buat ‘mental’ dan pergaulan, jadi sering kali saya harus paksakan diri untuk datang ke acara ngumpul dengan teman-teman, meskipun kedernya minta ampun.

Selain kuper, saya orangnya juga sentimental dan agak terlalu berpengharapan tinggi sama orang lain. Gara-gara pengalaman kurang mengenakkan hati, saya tambah menarik diri untuk ‘bergaul’. Bukan sekali dua kali saya semangat mau berkenalan/ketemuan dengan teman baru/lama, tapi di tanggapi dingin saja atau malah dicuekin. Jadilah saya agak-agak ‘patah hati’ dalam hal ‘bergaul’ ataupun bertemanan secara umum.

Justru karena pengalaman kurang mengenakkan yang saya alami, saya jadi amat menghargai usaha teman-teman yang menyisihkan waktu mereka untuk menyempatkan diri ketemuan dengan saya.

Di tahun 2009, kenalan saya waktu stres di kedutaan besar Amerika menunggu proses visa, menyempatkan mampir di kota saya waktu dia dan pasangan ber-road trip ria ke negara-negara bagian di sekitar negara bagian saya. Waktu itu saya tinggal di kota kecil di Montana; Montana sendiri negara bagian yang kurang ‘beken’ lah dan kurang menarik (kecuali kamu senang dengan alam), tapi tho, teman saya ini bela-belain mau ketemuan dengan saya. Dia sendiri tinggal di negara bagian Texas. Kebayang kan lumayan jauh deh!

Awal tahun 2012, kami hampir akan pindah ke negara bagian Texas, di situ saya sempat ketemuan teman waktu sama-sama di Ohio. Masih di tahun 2012, teman saya lainnya dari Ohio memasukkan Kentucky di dalam rute perjalanannya.

Hari Senin lalu, lagi-lagi teman waktu di Ohio menyempatkan diri untuk ketemu saya di perjalanan liburannya menyusuri Ohio dari utara ke selatan.

Senang? Banget!

Meskipun cuma 1-3 jam dan kondisi kadang kurang mendukung (suami barusan kehilangan kerja, saya tidak enak badan, atau hujan turun dengan derasnya saat kami ketemuan) tapi saya amat menghargai teman-teman saya ini bersedia mampir untuk ketemuan dengan saya.

Saat-saat senang seperti inilah yang membuat saya bersyukur akan pertemanan kami dan bisa mengacuhkan pengalaman pahit dengan teman lain.

Yang jelas saya jadi sadar kalau waktu, jarak ataupun frekuensi pertemuan tidak menjamin awetnya pertemanan kita. Seperti kata pepatah dari internet yang saya pinjam :BtjTSCxCIAI6__E

 

Terima kasih ya Dini, Vania, Rai dan Suli+Joe sudah repot-repot mau ketemuan! Mudah-mudahan kita bisa ketemuan lagi ya!

2015-12-31

 

 

Berfoto Dengan Santa

Heh?

Piye tho, wis tuwir gini masih demen fotoan sama Santa???

Dari segi kepercayaan, saya tidak ber-santa-santaan sejak kecil, dari segi budaya campuran saya tidak membesarkan anak saya bersanta-santaan – pertama memang karena segi kepercayaan, tapi sejujurnya dari segi keuangan juga tidak kuat euy (tiap tahun ngantri untuk berfoto dengan santa, membelikan hadiah dari ‘santa’ dsb)

Setelah anak saya agak gedean sedikit, saya agak melonggarkan dia berinteraksi dengan santa.

Kemarin waktu jalan-jalan di pusat kota Louisville, mau foto selfie dengan latar belakang Snoopy eh tahu-tahu ada Santa nongol, ya sudah, jadilah si kecil berfoto dengan Santa, dua kali malah – karena si Santa tiap kali nongol waktu kita mau berselfiean- masa ditolak?

Hari ini ditempat kerja, eh…ada Santa! ya jadilah si Santa di todong kami semua untuk berselfie ria. Dengar cerita si Santa, kalau dia melakoni peran Santa ini setiap tahun dan tidak dibayar! dan dia melakoni dibeberapa tempat, bayangkan dengan Santa di mal yang di bayar $2,000 per minggunya!

Meskipun saya tidak ‘peduli’ dengan keberadaan santa, tapi saya salut dengan si bapak, bersedia menyenangkan hati anak-anak tanpa pamrih!

Gimana dengan kita semua ya?  bisa tidak kita jadi santa tanpa pamrih?

 

 

 

Rindu Batik

Sebelum berimigrasi ke Amerika, saya suka sama batik, tapi cuma memakai batik di acara-acara tertentu saja : undangan perkawinan misalnya. Batik untuk sehari-hari dulu itu selain belum nge-tren, kesannya masih formal. Diantara tenun-tenun tradisional Indonesia, saya memang cenderung lebih dekat dengan batik (maklum ibu ada darah jawanya)Pindah ke Amrik, saya mulai misuh-misuh karena ingin menunjukan nasionalisme dan ‘pamer’ kecantikan budaya Indonesia. Memang dari Indonesia saya bawa 2 kain batik (yang sekarang sudah kekecilan deh), tapi ya itu, karena modelnya seperti kain kebaya kesannya masih formal dan tidak bisa dipakai sehari-hari.

Ingat sekali betapa girangnya saya waktu nemu satu rok batik di butik downtown, harganya kalau tidak salah $40, beli dan disayang-sayang, karena jarang sekali nemu batik saat itu. Lalu pas jalan-jalan ke Iowa di tahun 2008, ketemu rok batik tambalan (patched) di toko barang bekas, beli. Masih di Amrik, nemu motif batik atasan di ROSS, beli.

Pokoknya tiap kali ada ketemu batik, saya coba usahakan beli.

Di Indonesia sendiri batik tambah oke pamornya, semakin banyak orang-orang memakai batik sehari-hari, dan modelnya makin beragam, tambahlah gigit jari saya karena kepengen banget bergaya dengan batik, tapi tidak tersalurkan. (tahun 2005 gitu, belum ada Facebook kan??!!)

Beberapa tahun lalu, saya bertekad kalau sempat mudik lagi, mau beli batik sebanyak mungkin!

Memang waktu mudik Januari 2005 lalu saya dioleh-olehi teman-teman di Indo berbagai batik : taplak, rok, selendang, atasan, pernak pernik lainnya, namanya rindu, tetap saja saya ngiler setiap kali melihat batik.

Nah, berkat Facebook, kerinduan saya terhadap batik lumayan bisa terobati. Lewat FB, saya ketemu rekan-rekan dari Indonesia yang tinggal di Amerika yang berjualan barang-barang Indonesia (termasuk si batik!). Dari mulai kerabat sendiri lewat Pretty Batik Boutique, kenalan di Florida : Kedaton, sampai teman ketemu waktu pindah ke KY, Balinesian Ethnic Purses.

Jadilah sekarang koleksi batik saya sudah bertambah…ih senangnya bisa pakai batik di Amrik!

Yuk beli batik yukkkkkkkkkkkk

2015-09-041